Rabu, 21 April 2021

JADI BHIKKHU




Waktu itu hari Minggu sekitar pukul sebelas siang bertempat di sebuah vihara di Bogor, dan pujabakti untuk umum baru saja usai. Penulis dan beberapa sahabat lama berbincang-bincang melepas rasa kangen setelah bertahun-tahun kami tidak saling berjumpa. Pembicaraan akhirnya menjurus pada apa yang mesti kami kerjakan di sisa usia ini. Maklumlah kami sudah tidak muda lagi, dan rata-rata telah berusia di atas kepala lima atau enam.

 

Salah satu sahabat perumah tangga yang berusia lebih dari enam puluh tahun, yang isterinya telah meninggal dunia, mengemukakan aspirasinya untuk memasuki hidup kebhikkhuan. Ada sahabat lainnya yang juga berminat mengikuti jejak kawannya, tetapi ia khawatir tidak diizinkan oleh keluarganya. Penulis lalu teringat, pernah membaca di sebuah majalah-dinding yang terdapat di sebuah vihara, bahwa untuk mengikuti penahbisan samanera – yakni calon bhikkhu (bukan bhikkhu) – peserta harus memenuhi beberapa persyaratan. Salah satu persyaratan antara lain umur calon samanera paling tua adalah lima puluh tahun. Setelah penulis kemukakan, bahwa di Sangha anu berlaku persyaratan tersebut, sahabat yang pertama tadi langsung mengungkapkan kekecewaannya. "Mengapa ada persyaratan seperti itu?" tanyanya agak sewot. "Bukankah di zaman Sang Buddha, umur berapa pun orang itu, jika ia bertekad dengan tulus, selalu diterima oleh Beliau untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu?" Penulis lalu menenangkan sang sahabat itu, namun merasa tidak berwenang untuk menjelaskan perihal batasan umur tersebut. "Jika you ingin tahu mengapa ada persyaratan batas usia, sebaiknya ditanyakan langsung saja kepada Sangha yang bersangkutan.

 

Memasuki hidup-kebhikhuan atau menjadi biarawan bagi seorang laki-laki, dilihat dari pandangan agama Buddha, adalah satu pilihan hidup yang mulia. Dalam tradisi Thailand, seorang pria Buddhis terbiasa menjalani kehidupan kebhikhuan ketika usianya mencapai dua puluh tahun, guna membalas jasa terhadap kebajikan orang tua mereka. Hidup-membiara ini dijalankan oleh para pria muda tersebut untuk beberapa hari, dua minggu, sebulan, tiga bulan, bahkan sebagian dari mereka menjalaninya untuk kurun waktu yang lebih lama.

 

Seperti yang kita ketahui masyarakat Buddhis dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni golongan biarawan dan umat awam (disebut juga perumah tangga). Golongan biarawan terdiri dari bhikkhu, bhikkhuni, samanera, dan samaneri. Perumah tangga bisa memasuki kehidupan kebhikkhuan, jika ia memenuhi persyaratan dan menjalani upacara penahbisan; sebaliknya biarawan atau biarawati dapat menjadi umat awam dengan melepaskan jubahnya. Setelah kita menyimak kasus teman penulis di atas sekarang muncul pertanyaan, kapan idealnya seseorang memasuki kehidupan-membiara. Apakah sebaiknya dilakukan menjelang masa kedewasaan yakni sekitar usia dua-puluh tahunan, atau ketika seseorang itu sudah matang dalam menjalani kehidupan, atau setelah ia berusia lanjut?

 

Sekarang coba kita simak dulu petikan yang kami ambil dari kitab Vinaya Pitaka, yang bercerita tentang delapan permohonan Visākhā kepada Sang Buddha. Visākhā adalah seorang hartawan ternama di negeri Kosala, yang menjadi penyokong utama pada saat Sang Buddha mencapai usia paruh baya. Sekali waktu Visākhā memohon agar diberikan kesempatan berdana kepada komunitas bhikkhu dan bhikkhuni di Sāvatthī. Pemberian yang akan diberikan berupa (1) jas hujan untuk para bhikkhu, (2) makanan untuk bhikkhu tamu, (3) makanan untuk bhikkhu yang akan pergi mengembara, (4) makanan untuk bhikkhu yang sedang sakit, (5) makanan untuk bhikkhu yang merawat rekannya yang sedang sakit, (6) obat-obatan, (7) bubur nasi untuk sarapan pagi, dan (8) jubah-mandi untuk Sangha Bhikkhuni. Delapan permintaan itu kemudian disetujui oleh Sang Buddha dan sejak itu para penyokong yang lain pun berlomba-lomba untuk berdana delapan macam pemberian tersebut, yang pada akhirnya memberikan kesejahteraan yang lebih baik untuk Sangha Bhikkhu maupun Sangha Bhikkhuni.

 

Berikut ini diberikan dialog antara Visākhā dengan Sang Buddha khusus untuk permohonan yang kedelapan:  "Sekarang, Yang Mulia, para bhikkhuni mandi telanjang pada tempat mandi yang sama di Sungai AciravatI, sebagaimana yang sering digunakan oleh para pelacur. Mereka acapkali mencandai para bhikkhuni, dengan berkata: 'Mengapa kalian mempraktikkan kehidupan suci ketika kalian masih muda, wahai para rahib? Bukankah kesenangan-inderawi seharusnya dinikmati? Kalian dapat menjalani kehidupan suci ketika kalian sudah tua. Dengan demikian kalian akan mendapat manfaat dari keduanya.' Ketika para pelacur mencandai mereka seperti itu, para bhikkhuni menjadi mati kutu. Ketelanjangan bagi wanita itu tidak sepatutnya, Yang Mulia, itu menjijikkan dan memalukan. Inilah manfaat yang aku lihat-kedepan dalam keinginanku, untuk menyediakan jubah-mandi bagi para bhikkhuni, selama aku masih hidup." (Vin. Mv. 8:15)

 

Dari petikan di atas kita dapat melihat bahwa pada zaman itu sudah ada pendapat, bahwa orang sebaiknya menjalani kehidupan-membiara setelah ia lanjut usia, dengan pertimbangan masa mudanya bisa dilewati dengan bersenang-senang. Kita akan mencoba melihat pandangan hidup orang India mengenai empat tingkatan kehidupan manusia. Angka empat bagi orang India merupakan angka bagus, seperti ada Empat Veda yang berarti terdapat empat kitab suci, ada Empat Varna yang bermakna manusia bisa digolongkan menjadi empat varna atau empat kasta. Empat tingkatan hidup atau empat siklus kehidupan manusia dinamakan Catur Asrama (Dewanagari: चतुराश्रम;  caturāśrama); yang mana catur itu artinya empat dan asrama berarti tingkatan atau jenjang kehidupan.

 

Sistem Empat Asrama merupakan satu konsep dharma dalam ajaran Hindu. Sistem ini juga berfungsi membentuk teori moralitas dalam filsafat India. Empat asrama ini berhubungan pula dengan Puruṣārtha (Sanskerta: पुरुषार्थ) yang secara harfiah berarti "obyek pengejaran manusia". Puruṣārtha juga merupakan konsep kunci dalam ajaran Hinduisme, serta mengacu pada sasaran yang lazim dituju oleh umat manusia. Ada empat puruṣārtha, yakni dharma (kebenaran, nilai-nilai moral), artha (kesejahteraan, nilai-nilai ekonomis), kama (kesenangan, cinta, nilai-nilai psikologis), dan moksha (kebebasan, nilai-nilai spiritual). Dengan demikian sasaran dari masing-masing periode kehidupan tidak lain pengembangan dan pencapaian individual. Ajaran Empat Asrama ini tertera pada Ashrama Upanishad dan Vaikhanasa Dharmasutra dalam naskah klasik, serta tercantum pula dalam Dharmashastra yang ditulis belakangan.

 

Asrama pertama dalam sistem empat asrama itu adalah Brahmacari, yakni masa hidup awal yang ditujukan untuk mencari ilmu pengetahuan. Masa Brahmacari mirip dengan apa yang kita alami saat kita menginjakkan kaki di bangku sekolah, mulai dari tingkat PAUD, sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi. Dalam masa menuntut ilmu ini para peserta wajib menguasai keterampilan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta mempelajari naskah-naskah agama. Selain itu juga diberikan pendidikan kejuruan yang berguna bagi mereka di masa depan. Dulu peserta Brahmacari wajib melakukan upacara Upanayana pada permulaan masa studi serta diakhiri dengan pengakuan dan pemberian Samawartana  atau pemberian ijazah. Brahmacari ini berlangsung hingga seseorang berusia 25 tahun.

 

Selama mereka menuntut ilmu para siswa harus taat terhadap segala peraturan yang diberlakukan, bahkan pada zaman kuno mereka harus tinggal di pedepokan milik sang guru. Pada masa itu tradisi ini dinamakan gurukula-shishya, dengan kula artinya rumah dan shishya maknanya murid, jadi gurukula-shishya memiliki pengertian bahwa murid tinggal serumah dengan gurunya. Di samping menuntut ilmu, para murid juga melakukan tugas-tugas rumah tangga, sehingga kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan dengan lancar. Pada zaman modern para Brahmacari harus menetap di asrama untuk memudahkan pengawasan, pula dimaksudkan agar mereka lebih berkonsentrasi dalam menerima pelajaran. Selama menjadi Brahmacari mereka wajib mengendalikan nafsu keduniawian, terutama nafsu seksual. Segala daya upaya dan pikirannya benar- benar ditujukan untuk mempelajari ilmu pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan pada tahap kehidupan selanjutnya.

 

Tahap kehidupan selanjutnya adalah Grihasta, yang secara harfiah berarti "berada atau dilingkupi oleh rumah atau keluarga". Pada tahap ini seseorang memasuki kehidupan perkawinan, dengan tugas merawat rumah tangga, membesarkan keluarga, mendidik anak-anaknya, serta memimpin satu keluarga dan menjalani kehidupan sosial secara dharma.

 

Menurut naskah-naskah kuno dari abad pertengahan, tahap Grihasta adalah yang paling penting dari empat tahap kehidupan yang ada, karena sebagai manusia ia tidak melulu mengejar kehidupan yang bajik tetapi juga memproduksi makanan dan kekayaan. Dengan adanya makanan dan kekayaan yang berlimpah ia bisa menyokong tiga tahap kehidupan lainnya, serta mempunyai keturunan yang akan menjamin keberlangsungan umat manusia. Menurut filsafat India, tahap perumah tangga ditandai pula dengan keterikatan fisik, seksual, emosional, dan sosial yang paling tinggi; juga saat berlangsungnya pengerahan tenaga yang intens terhadap pekerjaan dan pengumpulan kekayaan. Tahap Grihasta ini berlangsung dari umur 25 hingga 48 tahun.

 

Selain mengejar pengumpulan kekayaan dan materi, seorang lelaki dan seorang perempuan yang memasuki tahap Grihasta setelah melangsungkan upacara perkawinan secara Hindu, mereka akan membangun rumah tangga, berkeluarga, mencari kekayaan, membesarkan anak, dan menikmati kehidupan duniawi; mereka juga mengembangkan kehidupan spiritual. Kehidupan spiritual tidak lain memberikan donasi kepada orang-orang yang membutuhkan, serta menyelenggarakan lima kurban besar (panch yajna). Yajna itu meliputi : (1) Brahma yajna, yaitu studi Veda, meditasi, dan doa; (2) Deva yajna, yakni persembahan ghee atau mentega murni dalam api; (3) Pitri yajna, yaitu perawatan orang tua dan kaum lansia; (4) Bhuta yajna, yakni pelayanan terhadap orang miskin, penyandang disabilitas, dan hewan; dan (5) Atithi yajna, yaitu penghormatan terhadap tamu dan orang bijak atau orang suci.

 

Tahapan hidup berikutnya adalah Vanaprastha, yang secara harfiah bermakna "pensiun ke hutan" atau dapat diartikan "orang yang telah meninggalkan hidup keduniawian". Vanaprastha sebetulnya tidak lain masa peralihan dari tahap perumah tangga yang masih intens mengejar artha dan kama menuju tahap kehidupan yang menyasar pada moksha. Vanaprastha berlangsung antara usia 48 sampai 72 tahun.

 

Memasuki tahap transisi Vanaprastha umumnya orang telah memiliki cucu. Dan sebagai pencari nafkah, sang perumah tangga sudah mulai mengalihkan tanggung jawab usahanya ke generasi yang lebih muda. Mereka juga mulai memfokuskan diri pada aktivitas sosial dan pencarian spiritual. Dari pandangan sebagian orang, Vanaprastha dalam praktiknya bukan bermakna si perumah tangga benar-benar meninggalkan segalanya dan langsung pergi mengembara ke hutan, tetapi lebih merupakan satu pedoman atau metafora. Ia masih tinggal dalam komunitas keluarga besarnya, namun lebih banyak bertindak sebagai penasihat. Dengan begitu ia menjadi tokoh panutan yang disegani oleh kelompoknya.

 

Tahap keempat atau tahap terakhir dalam sistem empat asrama adalah Sannyasa, yang secara literal berarti "penyucian dari segala hal". Sannyasa bisa ditemukan pengertiannya pada kitab Samhita, Aranyaka, dan Brahmana. Sannyasa sebetulnya adalah kehidupan membiara, kehidupan pelepasan, atau kehidupan petapaan. Mereka yang telah memasuki tahap terakhir ini tidak lagi memiliki ketertarikan terhadap kehidupan duniawi, namun lebih memilih untuk mengejar kehidupan yang damai, penuh cinta kasih kepada semua makhluk, dan menyukai kesederhanaan. Ia hanya berfokus pada pencapaian moksha atau pembebasan. Tahap ini bisa dimulai secara teoritis pada umur 72+ atau kurang dari itu.

 

Seseorang yang memasuki kehidupan ini dikenal sebagai "Sannyasi" untuk laki-laki dan "Sannyasini" untuk perempuan. Dalam tradisi Monastisisme mereka dinamakan pula "Sadhu" dan "Sadhvi", sedangkan dalam tradisi Buddhisme disebut sebagai bhikkhu dan bhikkhuni.

 

Dalam memahami empat asrama itu, Anda jangan sampai terjebak dalam pemahaman bahwa setiap orang akan memulai kehidupannya dari tahap pertama, lalu melangkah ke tahap kedua, kemudian ke tahap ketiga, dan terakhir menuju tahap keempat. Seseorang yang mulai dari Brahmacari selanjutnya boleh mengabaikan tahap Grihasta, dan langsung menuju tahap Vanaprastha dan tidak lama berselang memasuki tahap Sannyasa.

 

Jika Anda bukan penganut agama Hindu, tidak ada salahnya kita mengambil pelajaran tentang empat asrama ini. Banyak nilai-nilai mulia yang bisa diterapkan dalam kehidupan kita. Dari tahap Brahmacari orang dituntut untuk sepenuhnya fokus dalam menuntut ilmu dan tidak tergoda untuk menikah di usia muda. Sewaktu berkiprah dalam masa Grihasta, walaupun ia sibuk bekerja dan berkarier, tetapi kewajiban untuk memberikan donasi sesuai dengan tuntutan agama jangan sampai dilupakan. Sewaktu menginjak tahap Sannyasa, orang dididik untuk mempersiapkan masa tua dengan sebaik-baiknya, yakni dengan mendelegasikan usaha mencari nafkah kepada kerabat sendiri sebagai penerusnya. Dan saat menghadapi masa tua, inilah saatnya kita melepas apa pun yang kita miliki, dengan menjalani hidup secara ugahari dan hanya memfokuskan diri pada urusan-urusan spiritual.

 

Kita kembali kepada teman penulis yang beraspirasi menjalani kehidupan kebhikkhuan. Menjadi bhikkhu atau biarawan di usia lanjut ternyata sesuai dengan model yang diajarkan oleh sistem empat asrama itu. Begitu memasuki usia pensiun, teman tadi menganggap inilah kesempatan emas guna mengembangkan diri sepenuhnya. Jika diri ini sudah benar-benar siap, menjadi biarawan adalah pilihan yang paling ideal. Jika tidak bisa dihabiskan sebagai bhikkhu, karena ada syarat administratif – yakni batasan usia – dengan masih menyandang jabatan perumah tangga ia bisa menghabiskan waktunya dengan lebih banyak tinggal di lingkungan rumah ibadah. Dengan lebih banyak waktu dihabiskan di rumah ibadah, ada peluang untuk terlibat dalam kegiatan sosial; seperti membantu kegiatan bakti-sosial, mempersiapkan penyelenggaraan upacara keagamaan, membacakan paritta atau keng untuk orang sakit dan orang yang telah meninggal, dan lain sebagainya. Berlatih meditasi secara intensif dalam program retret untuk kurun waktu yang cukup panjang dengan bimbingan ahli meditasi yang piawai, adalah aktivitas yang bisa ia lakukan untuk menyalurkan aspirasinya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210421

  

Rabu, 07 April 2021

HOK TEK CENG SIN DAN AGAMA ORANG TIONGHOA



Anda yang pernah berkunjung ke kelenteng untuk bersembahyang atau sekedar melihat-lihat keadaan di sana, mungkin pernah mendengar sosok dewa yang paling banyak dipuja oleh masyarakat. Sosok dewa ini tidak lain dewa bumi. Sesungguhnya ada dua sosok dewa yang berbeda, dengan yang pertama dinamakan Fu De Zheng Shen atau Hok Tek Ceng Sin, dan yang kedua adalah Tu Di Gong atau Tho Ti Kong. Yang membedakan keduanya, Hok Tek Ceng Sin merupakan satu tokoh dewa yang arcanya diletakkan pada altar yang sama tingginya dengan dewa-dewa lain, sedangkan Tho Ti Kong merujuk pada dewa lokal atau dewa setempat dan altarnya diposisikan dekat dengan tanah. Dengan demikian ada banyak Tho Ti Kong, yang masing-masing berkuasa di wilayah kekuasaannya; seperti ada Tho Ti Kong Bogor, Tho Ti Kong Sukabumi, Tho Ti Kong Tangerang, dan lain sebagainya.

 

Hok Tek Ceng Sin yang banyak dipuja di banyak kelenteng, sebetulnya siapa dia gerangan? Cerita asal-usulnya cukup banyak dan beragam, namun versi yang lebih banyak dipercaya orang berasal dari sebuah kisah di zaman Dinasti Zhou. Alkisah pada tahun 1134 seb.M. pada pemerintahan Kaisar Zhou Wu Wang, tepatnya pada tanggal 2 bulan kedua menurut penanggalan Tionghoa lahir seorang anak laki-laki yang bernama Zhang Fu De atau Ceng Hok Tek. Sejak masih kanak-kanak telah bisa dilihat bahwa Hok Tek adalah seorang anak yang pintar dan berwatak mulia, dan sejak usia dini ia telah mempelajari sastra Tionghoa kuno dan menerima pendidikan formal yang baik. Menginjak usia 36 tahun, Hok Tek dipercaya memangku jabatan menteri urusan perpajakan. Ia terkenal sebagai seorang pejabat negara yang bijaksana juga memiliki kualitas kebajikan tertentu. Bagi rakyat yang kekurangan ia tidak menarik pajak yang berlebihan, sehingga rakyat tidak terbebani. Bahkan ia sering memberikan bagian hartanya untuk menolong rakyat miskin. Ia sangat dicintai rakyatnya dan setelah mengabdi cukup lama kepada negerinya, ia wafat pada usia 102 tahun.

 

Setelah wafatnya Ceng Hok Tek, Kaisar yang berkuasa menunjuk seorang penerusnya yang bernama Wei Chao. Bertentangan seratus delapan puluh derajat dengan pendahulunya, Wei Chao adalah seorang yang serakah, kejam, serta berwatak buruk, Dalam menarik pajak, ia tidak pandang bulu dan tidak mengenal belas kasihan. Demi menuruti ambisi yang akan membuat atasannya memberikan pangkat dan imbal jasa yang besar, Wei Chao bertindak sewenang-wenang. Semua orang dikenai pajak yang tinggi dan memberatkan, dan jika mereka tidak mampu membayar akan dikenakan hukuman berat, sehingga masyarakat sangat menderita. Akhirnya karena penderitaan hidup yang tak tertahankan, banyak penduduk yang pergi meninggalkan kampung halaman mereka, dan membuat sawah-ladang di tempat asal mereka menjadi terbengkalai. Dalam kesengsaraan dan ketertindasan mereka, rakyat mengingat tokoh bijaksana seperti Ceng Hok Tek yang telah meninggal dunia.

 

Ada sebuah keluarga yang hidupnya sehari-hari sudah kekurangan, kini semakin terpuruk setelah menteri yang baru ini berkuasa. Keluarga ini mengenang kebaikan Ceng Hok Tek dan mereka memimpikan ia kembali untuk memimpin negeri mereka. Keluarga tersebut mengambil empat buah batu bata guna membentuk sebuah kuil mini untuk menghormatinya; dengan tiga bata untuk dinding dan yang satu lagi untuk atap, lalu menuliskan aksara  "Ceng Hok Tek" di dalamnya. Mereka juga meletakkan sebuah tempayan mungil yang telah pecah untuk tempat membakar dupa. Setiap hari mereka bersembahyang di depan tempat pemujaan itu, dan dalam doanya mereka mengharapkan pertolongan Ceng Hok Tek. Wei Chao yang belakangan mengetahui ulah keluarga petani miskin itu, tertawa terbahak-bahak dan mengejek mereka. Mungkin penguasa langit menjadi murka melihat kelakuan Wei Chao yang sudah keterlaluan dan menjadi iba hati kepada keluarga miskin tadi, yang membuat sang penguasa bertindak. Selang tempo tidak berapa lama kemudian, keluarga miskin tersebut menjadi kaya. Seketika itu para tetangga mereka dan penduduk di sekitarnya menjadi gempar, mendengar nasib keluarga papa yang mendadak menjadi orang kaya. Mereka pun turut mempraktikkan pemujaan terhadap arwah Ceng Hok Tek. Konon kabarnya nama Ceng Hok Tek begitu bertuah jika dimintakan pertolongan oleh mereka yang hatinya bersih dan tulus. Petani yang sungguh-sungguh bersujud dan memohon di hadapan Ceng Hok Tek mendapatkan hasil panen yang banyak, orang yang pekerjaannya memelihara ternak mendapatkan hewannya cepat besar dan beranak-pinak, serta pedagang yang menjual barang dagangan ternyata cepat laris dan mendapat laba yang besar. Kata penganutnya, itu semua karena jasa Ceng Hok Tek yang baik dan murah hati. Nama besar Ceng Hok Tek menyebar ke seluruh negeri dan orang banyak pun mulai melakukan pemujaan terhadapnya.

 

Seperti yang terjadi bukan saja di Tiongkok Kuno, melainkan juga di bagian dunia yang lain, Ceng Hok Tek boleh saja meninggal, tetapi jiwanya atau rohnya tetap hidup dalam kepercayaan orang atau pengikutnya. Ceng Hok Tek kini telah menjelma menjadi Hok Tek Ceng Sin atau Fu De Zheng Shen (福德正神 atau Fúdé zhèngshén, pinyin). Kata 神 (shén atau “sin”, Hokian) bermakna "dewa". Dari kata "Shen" muncul istilah baru: "Shenisme" atau 神教 (pinyin: Shénjiào), yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama dengan "pendewaan". Shenisme adalah label yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan tradisi sistem kepercayaan yang berlangsung di masa Tiongkok Kuno, berupa pemujaan terhadap Shen. Istilah "Shenisme" pertama kali digunakan oleh Allan J.A. Elliot pada tahun 1955.

 

Lebih lanjut dalam bahasa Mandarin ada tiga istilah yang berkaitan, yang akan memperjelas makna Shenisme di atas. Anda mesti membedakan diantara  神 shén, 帝 dì, dan 仙 xiān. Walaupun penggunaan dua istilah yang pertama kadang kala kabur, namun jika kita melihatnya dalam konteks kebudayaan Barat, ada perbedaan pengertian diantara "dewa" atau "god" dengan "deitas" atau "deity". Shen menunjuk pada Surga material, sedangkan di  ditujukan pada sumber semesta. Di digambarkan sebagai inti buah yang jatuh, lalu menghasilkan buah yang lain. Buah-buah yang lain ini adalah shen. Jadi di tingkatannya lebih tinggi daripada shen. Istilah yang ketiga 仙 xiān adalah orang yang telah mencapai "yang kekal" (the immortal, Ingg.) atau dalam bahasa kita mengacu pada gagasan "pahlawan". Konsep "yang kekal" ini nantinya diadopsi oleh agama Tao. Dengan demikian pada contoh kita di atas, Ceng Hok Tek telah menjelma menjadi sesosok shen sekaligus pula sesosok xian.

 

Shenisme telah menjadi sistem kepercayaan di Tiongkok sejak zaman kuno hingga saat ini. Contoh shen yang kita ambil di atas berasal dari masa Dinasti Zhou, dan pada zaman itu Buddha Gautama, Guru Kong, dan Nabi Lao Zi semuanya belum lahir. Shenisme ini menjadi pondasi yang membentuk agama orang Tionghoa atau disebut Chinese folk religion. Dari tiga ajaran, Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme, Shenisme ini paling dekat dengan ajaran Taoisme. Di Tiongkok sendiri diperkirakan 30% dari penduduknya menganut Shenisme dan Taoisme, dan di seluruh dunia kedua ajaran ini diperkirakan memiliki penganut hingga 454 juta orang atau 6.6% dari penduduk dunia. Jumlah ini mendekati jumlah penganut agama Buddha di dunia,

 

Sebagai shen atau dewa Fu De Zheng Shen digambarkan sebagai seorang pria tua yang tersenyum ramah, berambut serta berjanggut panjang berwana putih, dan sering kali digambarkan atau dipatungkan dalam posisi duduk. Dikenang sebagai pejabat teladan semasa hidupnya, ia merupakan pelindung masyarakat serta dianggap sebagai dewa bumi. Hok Tek Ceng Sin sendiri secara harfiah berarti Dewa Bumi atas Kemakmuran dan Jasa. Belakangan seorang penasihat agung kaisar bernama Ie In memberikan makna baru yang berkaitan dengan pesta panen raya di Tiongkok pada istilah Fu De Zheng Shen, yang berarti memperoleh rejeki (Hok / Fu) dalam kebajikan (Tek / De) dengan tetap menegakkan (Ceng / Zheng) nilai-nilai rohani (Sin / Shen). Makna atau istilah ini kemudian menjadi populer dan mengakibatkan munculnya pergeseran peran, yaitu Fu De Zheng Shen kemudian menjadi dewa rejeki. Yang banyak melakukan pemujaan biasanya kalangan pedagang dan tempat pemujaan pun berpindah ke dekat pusat perniagaan atau pasar. Setelah agama Buddha Mahayana masuk ke Tiongkok, tokoh Hok Tek Ceng Sin  mendapat sebutan baru, yakni Amurva Bhumi Bodhisattva. Bahkan setelah itu muncul tradisi pembacaan mantra Amurva Bhumi sewaktu umat melaksanakan persembahyangan.

 

Tempat ibadah agama orang Tionghoa dapat dibedakan menjadi "miao" (庙), atau dalam istilah Hokian menjadi "bio", disebut juga "rumah dewata" dan "ci" (祠) atau "aula leluhur", dan keduanya sering dipertukarkan. Dalam bahasa Indonesia baik miao maupun ci lazim disebut kuil. Bio, belakangan  dinamakan pula kelenteng, sering dikatakan sebagai rumah ibadah agama Konghucu, padahal ini jelas keliru. Untuk umat Konghucu di Indonesia dikenal istilah "litang", sedangkan bio itu sendiri sebenarnya adalah tempat pemujaan Shen atau dewa. Kuil agama orang Tionghoa berbeda dengan kuil penganut Tao 观 atau guan juga disebut 道观 atau daoguan dan vihara Buddhis 寺 atau si, yang mana bio dikelola oleh kepala kuil dengan dibantu oleh beberapa anggota yang merupakan komunitas penganut kepercayaan tersebut. Di dalam bio hanya ada sedikit orang yang menjadi biarawan, dan bahkan sebagian rumah ibadah ini tidak memilikinya. Bio biasanya berukuran kecil, tetapi penampilan di luar maupun di dalamnya amat berwarna-warni, serta atap dan tiangnya kerap dihiasi dengan patung dan relief berbentuk naga dan hewan mitologis lainnya.

 

Setelah kita membahas riwayat Hok Tek Ceng Sin, shenisme atau pendewaan dalam konteks agama orang Tionghoa, serta rumah ibadahnya, kini kita akan meninjau budaya pemujaan Hok Tek Ceng Sin yang masih berlangsung hingga sekarang ini. Untuk itu penulis akan mengambil contoh satu kuil yang terletak di kota Bogor, yang bernama Hok Tek Bio (福德庙). Mungkin ada diantara Anda yang pernah mendengar atau bahkan pernah berkunjung ke sana. Hok Tek Bio terletak di jantung kota Bogor di samping gedung perbelanjaan yang menjulang tinggi. Letaknya tidak sampai seratus meter diukur dari depan pintu gerbang utama Kebun Raya Bogor yang tersohor itu.

 

Konon rumah ibadah ini mulai dibangun pada tahun 1672, yang berarti sudah berusia hampir tiga setengah abad. Jika ini benar cikal bakal bio ini sudah muncul sebelum pembangunan Istana Bogor yang terletak di dalam Kebun Raya (Istana Bogor dibangun pada 1744). Memasuki bio kita dapat melihat sebuah rumah ibadah dengan gaya arsitektur Tiongkok klasik, dengan warna bangunan dominan merah dan kuning. Atapnya menyerupai busur dan di atas wuwungan ditambahkan hiasan hewan mitologis, dan di pilarnya dilingkari relief naga yang elok. Di depan bio masih tersedia halaman lapang yang berfungsi sebagai alun-alun. Dalam perjalanannya dari sejak didirikan entah sudah berapa kali rumah ibadah ini mengalami renovasi, dan kita menemui kesulitan melihat perkembangan bangunan ini karena tidak ada catatan tertulisnya. Namun keotentikan bangunan ini tidak banyak berubah sejak permulaan abad ke-20, yang membuat pemerintah menetapkan Hok Tek Bio sebagai cagar budaya sejak tahun 2002. Pada masa Orde Baru rumah ibadah ini pernah diganti namanya menjadi Vihara Dhanagun, namun sekarang ini orang boleh menyebutnya lagi sebagai Hok Tek Bio.

 

Sesuai dengan namanya, pada altar utama bio ini terdapat arca Hok Tek Ceng Sin yang ditata dalam ornamen kuil yang elok. Pengunjung yang ingin melakukan persembahyangan biasanya membeli lilin merah, sejumlah dupa-batang atau hio, dan kertas-uang. Mereka berdoa dulu di depan gerbang dan memberikan persembahan kepada langit, dan dilanjutkan dengan menyalakan lilin dan mempersembahkannya di depan altar utama. Selanjutnya sambil memegang dupa-batang yang sudah dinyalakan mereka berdoa mulai dari altar utama, lalu diteruskan ke altar yang lain, dan setiap doa selesai mereka menancapkan dupa-batang ke guci-abu yang telah disediakan. Persembahyangan dinyatakan selesai setelah mereka membakar kertas-uang di halaman depan. Umat yang datang berharap mendapatkan rejeki dari Hok Tek Ceng Sin. Pedagang memohon agar usaha mereka lancar dan semakin maju, karyawan meminta pekerjaannya dimudahkan dan mereka cepat naik jabatan, serta masyarakat umum mengharapkan kesejahteraan dan keselamatan dalam menjalani hidup sehari-hari. Bio ini memiliki umat dan pendukung yang banyak, bahkan sebagian dari mereka datang dari luar kota untuk bersembahyang di sana. Sepanjang sejarahnya rumah ibadah ini disokong oleh masyarakat etnis Tionghoa, yang kebanyakan diantara mereka adalah kaum pedagang di kota Bogor. Oleh karena itu lokasi bio ini bersebelahan dengan pasar utama, dan sejak era kolonial salah satu sisi rumah ibadah ini dilewati oleh Handelstraat alias Jalan Perniagaan.

 

Selain altar utama di dalam bio disediakan pula altar pemujaan bagi  Tee Cong Ong Po Sat (Dizang Pusa) atau Bodhisattva Kshitigarbha dan Kwan Im Po Sat (Guanyin Pusa) atau Avalokitesvara. Dengan begitu bio ini mendukung pula persembahyangan terhadap para Bodhisattva, yang umum dilakukan oleh umat Buddha Mahayana. Ada pula altar pemujaan Houw Ciang Kun (Hu Jiang-jun) atau Dewa Harimau, yang dipercaya sebagai sosok Harimau Sakti yang merupakan pengawal pribadi Hok Tek Ceng Sin dan ia mampu mengusir roh jahat. Selain dewa-dewa yang berasal dan Tiongkok, Hok Tek Bio Bogor mengakomodasikan pula altar pemujaan Eyang Raden Surya Kencana dan Mbah Bogor. Seperti tokoh yang lain, keduanya diperlakukan sebagai dewa dan orang melakukan persembahyangan di depan altar keduanya. Lalu siapa gerangan Eyang Surya Kencana dan Mbah Bogor itu? Raden Surya Kencana itu putera Aria Wiratanudatar, pendiri Kota Cianjur. Selanjutnya ia memiliki putera yang bernama Prabu Siliwangi. Eyang Surya Kencana adalah karuhun atau nenek moyang orang Sunda yang sangat dihormati. Sedangkan Mbah Bogor susah dilacak siapa dia sebenarnya, dan sebagian orang mengaitkannya dengan Mbah Dalem Bogor, tokoh Sunda sesepuh Bogor yang memiliki petilasan di Jalan Batutulis kota Bogor.
 

Andre Ginting (2017), seorang peneliti, pernah mengemukakan pendapatnya: "Observasi langsung mengungkapkan kejadian unik di kuil ini, yang mana tokoh-tokoh keramat setempat diabadikan oleh para pemuja Shenisme. Mereka adalah Raden Surya Kencana dan Mbah Bogor. Mereka dihormati sebagai dewa. Praktik keagamaan ini bisa dianggap sebagai 'Sinisasi', yang secara harfiah bermakna mendekatkan diri pada cita-cita agama orang Tionghoa." Dengan demikian terjadi pragmatisme agama orang Tionghoa yang mampu mengakomodir tokoh-tokoh masyarakat yang dihormati dan menjadikan mereka sebagai suciwan yang patut disembah layaknya dewa. Dan memang benar pendapat orang pribumi di Nusantara sejak dulu kala, bahwa agama orang Tionghoa itu agama yang paling toleran yang pernah mereka temukan,

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210407


Rabu, 24 Maret 2021

KEBAHAGIAAN



Mungkin Anda pernah mendengar sebuah lagu Barat, yang meskipun telah diperkenalkan untuk pertama kalinya 65 tahun yang silam, tetapi masih tetap populer hingga hari ini. Lirik lagu itu berbunyi: "When I was just a little girl I asked my mother, what will I be. Will I be pretty. Will I be rich", yang jika diindonesiakan akan berbunyi, "Ketika aku masih gadis cilik aku bertanya kepada ibuku. Akankah aku cantik nanti, akankah aku kaya-raya kelak."

 

Untunglah ibunya seorang yang bijaksana. Ia menjawab kegundahan puteri kesayangannya dengan kata-kata: "Here's what she said to me. Que sera, sera. Whatever will be, will be. The future's not ours to see. Que sera, sera. What will be, will be." Terjemahannya: "Inilah jawaban ibuku. Que sera, sera. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Masa depan tidak mampu kita lihat. Que sera, sera. Apa yang akan terjadi, terjadilah."

 

Que sera adalah petikan dalam bahasa Spanyol yang berarti "Apa yang akan terjadi", sedangkan sera kurang lebih bermakna "terjadilah". Jadi kedua frasa itu dialihbahasakan secara kata per kata dan akhirnya diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris: "apa yang akan terjadi, terjadilah." Lagu itu dipopulerkan oleh Almarhumah Doris Day pada 1956. Syair lagu itu dilanjutkan dengan pertanyaan kedua kepada calon suaminya, apakah keduanya dalam perkawinan mereka kelak akan dihiasi dengan pelangi-kehidupan, dan pertanyaan ketiga justru diajukan oleh putera si gadis kecil tadi, berupa pertanyaan yang persis sama ketika ia mengajukannya dulu kepada ibunya.

 

Apa yang bisa kita pelajari dari lirik lagu itu? Anak kecil itu, si gadis ingusan, dalam benaknya sudah memiliki harapan dan cita-cita. Semoga setelah dewasa nanti ia bisa menjadi seorang wanita cantik dan kaya. Pendidikan dan lingkungan memberikan andil bahwa nilai-nilai itu layak untuk dikejar dan diwujudkan. Kalau sudah cantik apalagi kaya tentu yang lain akan menyusul, bukankah demikian? Popularitas, ketenaran, nama baik, kehormatan, dan mungkin juga kekuasaan, akan lebih mudah diraih, dibandingkan oleh mereka yang tidak cantik juga tidak kaya.

 

Bicara tentang harapan dan cita-cita, menarik untuk mengkajinya lebih jauh. Seorang remaja pria yang duduk di kelas terakhir Sekolah Lanjutan Tingkat Atas ditanya oleh seorang psikolog, perihal apa yang sedang dan akan dilakukan oleh dia, dan berikut ini berlangsung rangkaian tanya-jawab sebagai berikut. "Mengapa engkau bersekolah di sini?" tanya sang psikolog. "Supaya saya lulus pada ujian akhir." "Jika engkau dinyatakan lulus pada ujian akhir, untuk apa kelulusan itu?" "Setelah lulus, saya bisa kuliah dan menjadi mahasiswa di jurusan yang saya sukai." "Lalu apa tujuanmu kuliah di sana?" "Tujuan saya kuliah supaya saya bisa mendapatkan gelar sarjana." "Kemudian setelah menjadi sarjana, apa tujuan berikutnya?" "Dengan gelar sarjana di tangan, saya akan lebih mudah mendapat pekerjaan yang saya idam-idamkan." "Dan setelah engkau mendapat pekerjaan idaman, apa lagi yang engkau akan kerjakan." Si remaja mulai kebingungan, namun ia menjawab, "Saya akan bekerja lebih keras lagi untuk mencapai posisi manajer atau bahkan jika mungkin sampai tingkat direksi." "Ya, katakanlah engkau bisa menduduki jabatan direktur, lalu untuk apa jabatan direktur itu?" Sampai dengan pertanyaan ini si remaja itu mati kutu dan tidak bisa menjawab pertanyaan terakhir itu.

 

Bermula pada dalil bahwa segala sesuatu memiliki satu tujuan, filsuf besar Aristoteles mengemukakan, bahwa tujuan terakhir bagi manusia adalah sesuatu yang kita inginkan demi dirinya sendiri dan bukan demi hal lain. Kembali kepada pertanyaan remaja pria itu. "Aku ingin mendapatkan pekerjaan, kalau bisa menjadi seorang manajer atau direktur di satu perusahaan." "Mengapa engkau membutuhkan semuanya itu?" Jawaban yang tepat adalah: "Semua yang akan kulakukan itu bertujuan untuk membuat aku bahagia." "Mengapa engkau ingin bahagia?" Pada titik ini si remaja pria itu menyadari bahwa tidak diperlukan pertanyaan lanjutan. "Engkau ingin bahagia demi kebahagiaan itu sendiri, dan bukan demi hal lain." Dalam Buku Kesatu Aristoteles yang berjudul Etika, sang filsuf memikirkan jawaban atas pertanyaan yang paling menantang bagi umat manusia. Aristoteles mengemukakan bahwa segala sesuatu memiliki tujuan atau sasaran, dan tujuan itu adalah mencapai kebaikan. "Kebaikan Utama" bagi umat manusia adalah tujuan dimana semua tindakan manusia dilakukan. Aristoteles percaya bahwa Kebaikan Utama bagi umat manusia adalah Eudaimonia yang sering diterjemahkan sebagai "Kebahagiaan."

 

Sewaktu orang bertanya apa itu kebahagiaan, pertanyaan yang sama juga telah diajukan oleh manusia selama ribuan tahun. Kebahagiaan adalah cita-cita yang selalu dikejar oleh manusia semasa hidupnya. Ada banyak rumusan tentang kebahagiaan, dan setiap agama memiliki teorinya sendiri-sendiri. Menurut ajaran Hindu yang dimuat dalam Advaita Vedanta, tujuan hidup manusia tidak lain mencapai kebahagiaan. Kebahagiaan yang paling tinggi dicapai saat Atman (yakni diri kita) telah menyatu dengan Brahman. Menurut ajaran Konfusius, seperti yang dikatakan oleh Mencius, kegembiraan yang luar biasa dicapai ketika seseorang merayakan praktik kebajikan agung. Menurut Taoisme, kebahagiaan itu tidak lain mencintai kehidupan dengan menjaga kesehatan tubuh dan mental, agar bersesuaian dengan alam, selalu puas, tenang, dan sadar-diri. "Hidup sesuai dengan Tao dan menjadi yang-kekal" merupakan kepercayaan utamanya. Kebahagiaan merupakan topik utama ajaran Buddhisme. Kebahagiaan adalah bebas dari segala penderitaan, dan dengan bantuan Jalan Mulia Beruas Delapan akan membawa seorang praktisi pada Nibbāna atau Nirvāna. Kita tidak akan membahas kebahagiaan dalam konteks ajaran agama-agama besar itu dalam tulisan ini.

 

Kita kembali kepada si gadis ingusan dan remaja pria di atas. Si gadis cilik yang beraspirasi mencapai kebahagiaan, dengan menjadi wanita dewasa yang cantik dan kaya. Remaja pria yang juga bercita-cita di masa depan guna mewujudkan realisasi-diri, dengan menjadi manajer atau direktur. Dari dua contoh ini kita mendapatkan gambaran bahwa kebahagiaan itu akan diraih di masa depan, bukan sekarang. Bukan hanya dua orang itu, bahkan banyak dari kita yang menganut keyakinan semacam itu. Betapa dulu sewaktu kita masih kanak-kanak atau remaja kita memiliki mimpi, bahwa jika kita telah dewasa kita akan bahagia. Namun setelah kita dewasa, bahkan setelah berkeluarga dan memiliki pekerjaan yang baik, kebahagiaan itu belum datang juga, dan kita masih berharap bahwa nanti sewaktu kita sudah setengah baya atau telah memasuki usia lanjut kita akan bahagia. Sungguh celaka, bahwasanya banyak dari kita yang sudah memasuki usia tua dan mendapatkan kenyataan, diri kita pun belum juga bahagia! Apakah kita pantas berpikir bahwa nanti setelah kita mati baru kita akan bahagia?

 

Kisah berikut mungkin pernah Anda baca di media sosial, yaitu percakapan seorang nelayan dengan seorang usahawan kaya raya. Di satu siang di tepi pantai seorang usahawan kaya menjumpai seorang nelayan yang sedang bermalas-malasan di samping perahunya. Dengan enaknya si nelayan tidur-tiduran menikmati sebatang rokok sambil mulutnya mendendangkan sebuah lagu dangdut. "Mengapa engkau tidak melaut dan menangkap ikan? Bukankah hari masih terang?" Sang nelayan menjawab, "Aku sudah berangkat melaut sebelum subuh, dan menjelang tengah hari aku telah kembali. Ikan hasil tangkapanku langsung dibeli oleh pengepul, dan uang yang aku kumpulkan sudah lebih dari cukup untuk membiayai kebutuhan kami sekeluarga. Bahkan aku masih sempat menjemput anak-anak pulang dari sekolah, menikmati santap tengah hari, dan tidur-siang barang sejenak. Nanti malam aku bisa minum-minum di kedai kopi bersama teman-temanku sambil bernyanyi karaoke."

 

Sang usahawan menggeleng-gelengkan kepalanya dan ia berkomentar, "Engkau masih muda, Bung, dan engkau masih cukup kuat. Saat tengah hari bolong begini engkau malah santai dan tidur-tiduran. Bukankah sebaiknya engkau melaut dan menangkap ikan lebih banyak lagi?" "Untuk apa?" sang nelayan bertanya. "Dengan menangkap ikan lebih banyak, engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak lagi. Dan dengan uang itu engkau bisa membeli motor-tempel, yang mana perahumu bisa melaut lebih jauh dari pantai, serta di sana engkau bisa mendapatkan tangkapan lebih banyak lagi." Si nelayan belum mudeng dan ia bertanya lebih lanjut, "Lalu setelah itu?" "Engkau dapat mengumpulkan uang lebih banyak lagi. Dengarlah baik-baik, aku dulu juga membangun usahaku dari nol sampai menjadi seorang hartawan. Dengan uang yang engkau peroleh semakin banyak, engkau dapat membeli kapal motor yang lebih besar dilengkapi dengan pukat nilon. Selanjutnya engkau akan mempekerjakan lebih banyak anak buah, sehingga tangkapanmu lebih banyak, alhasil uangmu pun semakin banyak. Nah, lama kelamaan dengan uang yang semakin banyak, engkau dapat membeli kapal ikan lagi, dua buah, tiga buah, bahkan lebih dari itu. Setelah itu engkau dirikan pabrik pengolahan ikan dilengkapi dengan cold storage, dan mempekerjakan karyawan lebih banyak lagi untuk memproses hasil tangkapanmu. Bahkan produk ikanmu bisa dijadikan komoditi ekspor."

 

"Selanjutnya aku mesti berbuat apa?" potong si nelayan. "Sekarang engkau menjadi bos besar yang memiliki uang banyak. Engkau bisa beristirahat dan menikmati hidup," jawab sang usahawan puas setelah selesai memberikan kuliahnya. "Lalu berapa lama aku bisa menjadi bos besar yang kaya-raya, dan pekerjaan apa lagi yang masih harus kujalani saat itu?" tanya si nelayan penuh rasa ingin tahu. Sang usahawan menjawab, "Jika engkau rajin dan tekun, paling tidak dua-puluh hingga tiga-puluh tahun lagi engkau bisa menjadi seorang usahawan perikanan yang mumpuni. Engkau masuk kantor setiap hari cukup sampai tengah hari, guna memastikan semua anak buahmu menjalankan perusahaanmu dengan benar. Siang hari engkau sudah bisa bertemu dengan keluargamu di rumah, bersenda gurau dengan mereka, menyantap makan siang dan pergi tidur. Malamnya engkau bisa bernyanyi di pusat-karaoke dan bersenang-senang hingga tengah malam," sang usahawan menjawab dengan sunggingan senyum kemenangan. "Kalau itu tujuan, yang Tuan sebutkan, bukankah aku sudah mendapatkan semua kenikmatan itu sekarang. Tidak perlu aku menunggu hingga dua-puluh atau tiga-puluh tahun lagi." Sang usahawan pun kaget dan terperangah serta di dalam hatinya ia membenarkan pernyataan sang nelayan itu.

 

Cerita di atas memberikan pencerahan kepada kita bahwa kebahagiaan itu harus ditumbuhkan untuk dinikmati sekarang. Bukan besok, bulan depan, tahun depan, atau jauh di masa yang akan datang. Jika saja sang nelayan harus menunggu selama dua-puluh hingga tiga-puluh tahun lagi, hilang juga waktu berharganya sekarang untuk memperhatikan anak-anaknya ketika mereka masih kecil. Dua puluh lima tahun kemudian, mereka semua sudah dewasa dan hilang juga kebersamaan dengan anak-anak yang dicintainya. Kemudian yang lebih penting lagi, apa mungkin rentang waktu puluhan tahun bisa menjamin sang nelayan yang berpikiran sederhana untuk menjadi usahawan yang kaya-raya? Bukankah kita sudah tahu jawabannya dari awal tulisan ini, Que sera, sera. Apa pun yang akan terjadi, terjadilah. Tidak ada yang bisa memastikannya.

 

Jika kita bertanya konsep kebahagiaan menurut teori "keinginan" versus "kebutuhan", kita dapat membaginya menjadi tiga pandangan. Yang pertama berangkat dari Sensualisme. Kebahagiaan tidak lain diperoleh dengan mengejar kenikmatan inderawi, yang menjurus pada tuntutan agar "keinginan" lebih besar daripada "kebutuhan." Di sini keinginan-keinginan perlu dituruti dan dipuaskan, dan paham ini berujung pada hedonisme. Yang kedua berangkat dari paham Asketisme yang membawa pada tuntutan agar "keinginan" lebih kecil daripada "kebutuhan." Jadi kebahagiaan itu dicari dengan menolak kenikmatan dan orang cenderung menjalani hidup kepetapaan.

 

Pandangan ketiga pasti Anda bisa menebaknya. Betul, pandangan ini merupakan jalan tengah dari kedua pandangan di atas yang memang sah menurut perspektif orang awam, bukan dianut oleh mereka yang telah meninggalkan keduniawian. Di sini berlaku bahwa "keinginan" diatur agar sama besar dengan "kebutuhan." Pandangan ini merupakan rasionalisasi untuk menyeimbangkan diantara "yang diminta" dengan "yang didapatkan". Berarti masing-masing individu harus selalu bersikap menerima antara yang ia peroleh dengan yang ia inginkan. Jika sampai ada keinginan untuk mendapatkan lebih, keinginan itu harus diperkecil sehingga tetap seimbang dengan apa yang telah diperoleh. Inilah satu keadaan, yang orang awam menyebutnya sebagai berpuas-diri atau bersyukur. Jika seseorang merasa puas-diri atau bersyukur, maka dipastikan ia akan bahagia.

 

Setelah kita mengupas konsep kebahagiaan menurut keinginan yang dilawankan dengan kebutuhan, marilah kita simpulkan pembahasan tentang kebahagiaan. Jadi kebahagiaan itu bukanlah soal kaya atau miskin, melainkan satu sikap mental menerima keadaan diri sendiri sebagai mana adanya. Kebahagiaan itu terpancar dengan dilandasi sikap berpuas-diri atau bersyukur. Kebahagiaan bukan diraih nanti di masa depan yang jauh, tetapi kebahagiaan ditumbuhkan sekarang dan terus-menerus. Dan terakhir kebahagiaan itu bukanlah nasib, tetapi kebahagiaan itu adalah pilihan. Anda harus memilih mau bahagia atau tidak, semuanya terserah Anda.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210324

 

Rabu, 10 Maret 2021

SINGA

 

SINGA

 



 

Singa, hewan besar perkasa yang dijuluki si raja rimba, siapa yang tidak kenal? Sejak anak-anak balita kita memasuki PAUD atau Pendidikan Anak Usia Dini, mereka telah diperkenalkan oleh gurunya pada hewan besar yang mirip kucing ini. Namun benarkah singa itu si raja rimba?

 

Untuk melihat tempat tinggal hewan besar ini kita perlu meninjau ke habitat singa yang terbesar di dunia, yang terletak di Afrika timur. Habitat ini bernama Ekosistem Serengeti yang membentang di Tanzania bagian utara dan memanjang ke barat daya Kenya, serta mencakup wilayah seluas 30.000 kilometer persegi. Bagian Serengeti yang masuk ke wilayah Kenya dinamakan Maasai Mara. Serengeti adalah sebuah dataran yang sangat luas dengan sebagian besar berupa padang rumput dan padang sabana, dan sebagian lagi berupa rawa, sungai dan hutan di sepanjang bantarannya, bukit kecil, dan hutan akasia. Atraksi yang paling menarik sepanjang tahun di Serengeti adalah migrasi besar-besaran mamalia besar herbivora, yang bergerak dalam jumlah ratusan ribu ekor mengikuti musim hujan untuk mencari pakan rumput dan dedaunan yang segar. Singa yang jumlahnya bisa mencapai ribuan – populasi terbesar di dunia – mendiami Serengeti. Singa adalah predator puncak di dataran luas ini, dan singa tidak pernah hidup di lingkungan hutan-hujan atau rimba belantara seperti anggapan kita selama ini.

 

Singa dengan nama Latin panthera leo hanya hidup di benua Afrika dan sebagian kecil lainnya yakni singa-asia masih hidup dalam jumlah terbatas di Cagar Alam Gir di Gujarat, India. Singa jantan mudah dibedakan dengan singa betina, dengan adanya surai atau rambut lebat yang tumbuh di sekitar kepala dan lehernya. Inilah ciri unik yang mudah dilihat, serta tidak bisa didapatkan pada spesies kucing besar lainnya. Singa jantan dewasa panjang tubuh rata-ratanya 3 meter dan berat 200 kg (betina 2,5 m, 150 kg) melebihi ukuran macan tutul atau citah, dan dalam perkelahian antar kucing besar singa umumnya unggul. Namun kelemahannya, singa tidak bisa memanjat pohon dan ia takut air.

 

Berbeda dengan harimau yang hidup soliter, singa umumnya hidup dalam kawanan. Satu kawanan biasanya terdiri dari dua jantan dewasa dan beberapa betina dewasa disertai dengan anak-anaknya. Jumlah kawanan biasa rata-rata beranggotakan lima belas ekor singa. Namun pernah ditemukan kawanan super yang beranggotakan hingga tiga puluh ekor singa. Singa bisa berlari cepat tetapi tidak bisa dilakukan dalam tempo yang lama, karena ia mudah lelah terutama di saat cuaca panas. Perburuan mangsanya dilakukan ketika hari menjelang gelap dan mereka lebih aktif pada malam hari. Singa umumnya menghabiskan tiga jam sehari untuk berburu, satu jam untuk makan, dan selebihnya dimanfaatkan untuk tidur dan bermalas-malasan.

 

Dalam menangkap mangsanya para singa betina melakukannya secara efektif dengan cara mengepungnya. Korban biasanya adalah hewan yang terpisah dari kelompoknya, yang sedang tersesat atau terluka, yang mudah disergap oleh singa-singa betina. Hewan yang menjadi mangsanya adalah mamalia besar dengan berat 50 sampai 500 kg, dan korban dibunuh dengan cara dicekik atau diputuskan saluran napasnya. Singa jantan jarang melakukan perburuan, dan hanya sesekali membantu untuk menjatuhkan dan melumpuhkan mangsa besar seperti kerbau. Setelah hewan korbannya terbunuh, para singa betina menyerahkan karkas hewan buruannya kepada singa jantan agar menyantapnya terlebih dahulu. Perilaku ini mirip dengan yang terjadi pada sebagian bangsa manusia. Lalu bagian mana yang biasanya disukai untuk disantap terlebih dahulu? Singa jantan umumnya memilih bagian isi perut atau jeroan sebagai makanan favoritnya. Bagian karkas ini memang lezat dan memiliki kandungan air yang banyak. Setelah jantan selesai makan barulah para betina mendapatkan gilirannya. Namun terkadang ketika suasana hatinya sedang galau, singa jantan mengangkangi makanannya sendiri dan tidak mengizinkan anggota lainnya untuk ikut menikmatinya. Kalau situasinya sudah seperti ini, para singa betina tidak kehilangan akal. Mereka lalu mengajak anak-anak singa yang masih imut-imut untuk ikut makan. Singa jantan sangat sayang pada anaknya sendiri dan membiarkan mereka ikut makan. He he he!

 

Jika singa jantan menyerahkan tugas mencari makan kepada betinanya, lalu apa pekerjaan mereka? Singa jantan berdua atau bertiga melakukan patroli di wilayah kekuasaannya. Mereka menandai teritorinya lewat lengkingan atau auman suaranya, menggesekkan tubuhnya pada pepohonan, dan membuang kotorannya. Sesekali singa jantan terlibat perkelahian dengan jantan asing lainnya yang ingin menyusup. Jantan penyusup yang biasanya terdiri dari dua jantan pengembara ini sangat berbahaya bagi kelangsungan kawanan ini. Mereka akan mengambil alih kekuasaan dan membunuh anak-anak singa. Tujuannya agar singa-singa betina berhenti menyusui dan memasuki masa birahi kembali, sehingga bisa dikawini oleh para jantan penyusup ini.

 

Pada saat musim kawin sepasang singa melakukan kopulasi selama kurang lebih 20 detik dan dalam sehari mereka bisa berhubungan badan sampai 50 kali. Tujuannya agar pembuahan bisa berhasil dan selama masa kawin ini keduanya akan kehilangan nafsu makan. Setelah singa betina bunting, ia akan melahirkan anaknya dalam waktu 110 hari. Anak yang dilahirkan sebanyak satu hingga enam ekor. Induk yang akan melahirkan biasanya mengasingkan diri dari kawanannya. Agar anaknya bisa bertahan dan selamat dari pemangsa, induknya bisa beberapa kali memindahkan lokasi sarangnya. Caranya dengan menggendong anaknya pada tengkuknya, agar pemangsa tidak mengendus bau anaknya. Perilaku induk singa memindahkan anaknya persis sama seperti kelakuan kucing beranak di rumah kita. Induk singa menyusui anaknya hingga 10 bulan, dan mereka tidak keberatan menyusui bayi singa yang bukan anak kandungnya. Jadi dalam satu kawanan para singa betina akan mengatur, agar masa kehamilan mereka bisa berlangsung secara berbarengan.

 

Singa dapat hidup di alam bebas selama 14 tahun, dan jika dipelihara di kebun binatang bisa mencapai 20 tahun. Tentu saja masih banyak cerita kehidupan singa di habitatnya yang menarik untuk diketahui, namun kita akan beralih ke topik lain, yakni bagaimana singa berpengaruh pada kebudayaan Tiongkok.

 

Seperti yang kita baca tentang keberadaan kucing besar di dunia, macan tutul bisa ditemukan di daratan Tiongkok, namun singa adalah satwa asing di negeri ini. Penguasa di Iran dan Afganistan pada ratusan tahun yang lalu menghadiahkan singa hidup kepada Kaisar Tiongkok untuk dipelihara di lingkungan istana. Hadiah ini dipersembahkan sebagai balas jasa atas dibukanya akses perdagangan internasional melalui Jalan Sutera yang legendaris itu. Setelah orang Tionghoa melihat keberadaan hewan perkasa ini, timbul imajinasi mereka bahwa kekuatan singa menyamai sang naga, hewan mitologis yang telah berjaya semenjak Tiongkok mengenal peradaban.

 

Alkisah di satu dusun, satu makhluk aneh dan mengerikan tiba-tiba muncul dan ia mulai memangsa orang dan hewan buas lainnya. Makhluk mengerikan itu dinamakan nien (yang jika dilafalkan mirip dengan kata Mandarin lainnya yang berarti "tahun"), begitu lincah dan ganas, bahkan banteng dan harimau tidak dapat bertahan menghadapinya. Dalam keputusasaan mereka, orang dusun lalu memanggil singa untuk membantu mereka. Segera setelah melihat makhluk yang mengerikan itu, singa langsung menyergap dan menerkamnya, yang membuat nien tersebut lari tunggang langgang dan berteriak-teriak, "awas kalian! Aku akan datang lagi lain kali dan aku akan menuntut balas."

 

Setahun kemudian nien yang sama datang lagi ke tempat tinggal mereka untuk membalas dendam. Singa yang diminta pertolongannya saat itu sedang sibuk dengan tugas barunya, yakni menjaga pintu gerbang istana kaisar sehingga ia tidak dapat memberikan bantuan. Penduduk dusun tidak kehilangan akal. Mereka dengan tergesa-gesa mengambil batang bambu, memotong dan menghaluskannya, membentuk sebuah kerangka kepala hewan, menutupinya dengan sehelai kain, dan melukis wajah garang singa jantan di permukaan kain. Dua orang lelaki merangkak ke bawah kain panjang itu, seorang di depan menggerakkan kepalanya dan seorang lagi mengikutinya mewakili tubuh bagian belakang dan ekor singa. Mereka berdua lalu menggerakkan kepala dan tubuh bagian belakang, lalu disertai dengan tiruan lolongan dan auman singa, keduanya merangsek maju menghadapi makhluk mengerikan itu. Berhadapan dengan makhluk singa-singaan ini nien terkejut dan ia kembali melarikan diri. Penduduk dusun pun bersyukur dan mereka semua selamat.

 

Gerakan dua penari di bawah selubung topeng singa ini menggambarkan keberanian, stabilitas, dan keunggulan; dikenal sebagai tarian singa atau lion dance , dan di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan atraksi barongsai. Tarian singa yang biasanya dilakukan pada masa peringatan Tahun Baru Imlek, dimaksudkan untuk mengusir hantu dan iblis jahat seperti halnya nien, yang juga takut jika mendengar suara keras. Selama tarian berlangsung, mimik wajah dan gerakan tubuh sang singa, mewakili hewan perkasa ini yang sedang bertarung melawan makhluk jahat. Selama pertunjukan berlangsung, bunyi dentuman tambur mengikuti gerak singa, sedangkan gong dan simbal mengikuti irama tambur. Tarian singa bermula dan berakhir di kuil, tempat singa memberikan penghormatan kepada kuil dan para dewata juga ke aula tempat para leluhur disembahyangi. Prosesi tarian singa ini berlanjut ke jalan raya tempat tinggal penduduk, serta mampu memberikan kegembiraan dan kesukacitaan kepada mereka semua.

 

Berbicara mengenai keagungan singa kita pasti teringat pada Kaisar Asoka, yang berjasa mengembangkan agama Buddha hingga ke mancanegara. Pada masa pemerintahannya Asoka mendirikan prasasti dan monumen berupa tiang batu yang megah dan indah. Pada satu monumen yang berada di Sarnath, tempat Sang Buddha untuk pertama kali memutar Roda Dharma, ada satu tiang batu yang masih terawat dengan baik. Bagian atas atau hulu tiang terdapat patung empat ekor singa-asia yang berdiri saling membelakangi. Di bawah kaki singa ini digambarkan sebuah dharma-cakra atau roda-dharma yang sedang berputar. Patung yang dibentuk dan diukir secara indah ini dibuat sekitar tahun 250 seb.M. Tugu batunya masih berdiri di tempat asalnya, tetapi hulu tiang telah dipindahkan untuk dipelihara dan dipamerkan di Museum Sarnath, negeri bagian Uttar Pradesh, India.

 

Empat singa yang saling membelakangi dimaknai sebagai empat nilai yang sama pentingnya. Singa banyak dipergunakan sebagai lambang Buddha, seperti yang terdapat pada stupa-stupa di Sanchi. Sedangkan angka empat merujuk pada Empat Kesunyataan Mulia. Istilah "Shakyasimha" atau "Sakyasenge" dalam bahasa Tibet, mengacu pada kata Sanskerta "simha" yang berarti singa. Singa dianggap sebagai raja dari semua binatang. Jadi Shakyasimha adalah "Singa dari Klan Sakya" alias Sang Buddha itu sendiri. Selain Buddha sendiri, Padmasambhava dalam kepercayaan Tibet dianggap sebagai Buddha kedua dan ia dipanggil juga sebagai Shakyasimha. Kembali pada peninggalan berharga empat singa pada hulu tiang Asoka, komite yang mempersiapkan kemerdekaan India membuat gambar dua dimensi, sehingga hanya tampak tiga singa (singa yang di belakang tidak terlihat). Gambar tiga ekor singa-asia ini kemudian dijadikan Lambang Negara India sejak tanggal 26 Januari 1950. Di bawah lambang itu tertulis "Satyameva Jayate" dalam aksara Dewanagari yang bermakna 'Hanya Kebenaran yang Berjaya'. Lambang negara India ini setara dengan yang kita miliki: Garuda Pancasila dengan Bhinneka Tunggal Ika.

 

Dalam salah satu risalahnya, Bhikkhu Nanamoli mengungkapkan "Auman Singa" dalam The Lion's Roar : "Diantara kawanan hewan yang menjelajah alam liar, entah itu di hutan, di bukit, atau di lapangan luas, singa secara universal dikenal sebagai sang pemimpin. Pengejawantahan kekuatan yang berasal dari dalam, bahwa ia adalah yang paling agung dalam sikap dan perilaku, yang terkuat, terunggul dari segi kecepatan, paling berani, dan pemegang kekuasaan. Ekspresi supremasi singa terdapat pada aumannya. Auman yang mampu membungkam tangisan, lolongan, jeritan, lenguhan, gonggongan, dan geraman hewan lain yang lebih rendah. Ketika singa keluar dari sarangnya dan menyuarakan aumannya, semua hewan lain pun bungkam dan mau tidak mau mereka semua turut mendengarkannya. Pada momen seperti itu tidak ada satu pun dari mereka yang mampu membuka mulutnya lagi, apalagi datang ke tempat terbuka untuk menantang raungan tak-tertandingi dari sang singa yang berwajah emas."

 

Dalam beberapa Sutta pada Kanon Pali, terkadang ditemukan citra kehidupan hewan yang terdapat di belantara India yang memiliki keanekaragaman satwa-satwa yang mengagumkan. Dalam berbagai perumpamaan, Sang Buddha merujuk pada dirinya sendiri, yang mana ia memilih singa yang agung untuk mewakili dirinya. Dalam ranah spiritual, auman singa jantan menggambarkan proklamasi Dhamma yang berani dan menggelegar. Seperti contohnya dalam kitab Majjhima Nikāya, ada dua Sutta yakni pada No. 11 dan 12 yang menggunakan metafora auman singa. No. 11 dinamakan "Wejangan Pendek tentang Auman Singa" dan No. 12 diberi judul "Wejangan Panjang tentang Auman Singa". Anda yang berminat untuk membaca dan mempelajarinya lebih jauh, bisa merujuknya langsung pada kitab suci yang dimaksud di atas.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210310

 

Rabu, 24 Februari 2021

DICELA?, MENGAPA HARUS RISAU?

 

DICELA?, MENGAPA HARUS  RISAU?

 

 



Kejadian ini dialami oleh penulis sendiri. Tentu berlangsung jauh sebelum ada pandemi Covid-19, yang memporakporandakan kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. Seorang kawan baik dari isteri penulis mengundang kami ke resepsi pernikahan anaknya yang dilangsungkan pada satu akhir pekan di Jakarta. Kawan yang mengundang kami sudah lama dikenal sebagai orang berada, seorang pengusaha yang telah lama berkecimpung di bisnis pertambangan.

 

Resepsi perkawinan diselenggarakan di sebuah ballroom hotel berbintang lima di kawasan Jakarta Pusat. Memasuki lokasi perhelatan, para tamu disambut oleh belasan gadis muda cantik yang mengenakan gaun pesta model-kemben berwarna merah-muda. Bersolek dengan menambahkan pupur di pipi, ditambah dengan alis dan bulu mata yang lentik, serta bibir dengan gincu nan merah merona, mereka bak bidadari yang turun dari kahyangan. Mereka dengan cekatan melayani para undangan, mempersilahkan agar buku-tamu diisi, dan tak lupa menerima angpao yang segera dimasukkan ke dalam kotak.

 

Begitu masuk ke ruangan resepsi yang lapang dan berhawa sejuk, barisan kerabat kedua mempelai berpakaian jas dan gaun pesta menyambut kedatangan kami untuk bersalaman. Kami semua terpesona melihat keasrian dan mewahnya dekorasi aula, baik itu panggung pelaminan, lorong setapak bagi prosesi kedua pengantin, maupun tatanan meja dan pondok tempat meletakkan berbagai hidangan. Seluruh dekorasi ditata dengan apik dan nyaris sempurna, dengan memakai ratusan bunga-petik asli yang masih segar dan bukan tersusun dari bunga-bunga plastik. Sebuah layar-LED raksasa terpasang di dinding dan kamera-mobile yang digerakkan di ketinggian, mampu merekam episode penting selama jalannya acara.

 

Para hadirin langsung berdiri dan bertepuk tangan ketika kedua mempelai melakukan prosesi memasuki aula resepsi menuju pelaminan. Tampak dua sejoli bak raja-sehari dengan wajah berseri-seri menebar senyum kepada para hadirin. Yang laki-laki berwajah tampan memakai setelan lengkap dengan jas berwarna gelap, sedangkan yang perempuan begitu rupawan dengan gaun pengantin berwarna putih dengan rok yang menjuntai menyapu lantai. Setelah ritual potong kue pengantin, bersulang minuman, ucapan terima kasih dari keluarga, dan doa syukur usai, pesta pun dimulai. Suasana menjadi semakin meriah, ketika seorang biduan wanita ternama beserta awak band mulai mendendangkan lagu-lagu Barat, Mandarin, dan Indonesia populer.

 

Sebagian undangan bergegas menuju pelaminan guna menghaturkan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan orang tua mereka, sedangkan hadirin yang lain langsung menyerbu dan menyantap hidangan yang telah disediakan. Bukan main berlimpahnya makanan dan minuman yang disediakan oleh pengantin baru dan keluarganya itu untuk menjamu tamunya yang hampir berjumlah seribu orang. Mulai dari salad bar dan aneka sup, hidangan prasmanan, hingga buah-buahan dan hidangan-penutup; yang semuanya merupakan menu pilihan yang diolah dari bahan-bahan terbaik. Makanan dan minuman yang disediakan di berbagai pondok-saji pun tidak biasa ditemukan di acara resepsi kebanyakan. Ada udang-karang besar yang ditumis lengkap dengan kentang dan sayuran, iga sapi panggang impor, pie ikan salmon dengan sausnya, nasi hainam dengan bebek-peking, dan konter minuman keras. Rasanya? tidak usah ditanya, pokoknya semuanya maknyuz!

 

Para pembaca, itulah gambaran umum yang sekarang ini terjadi pada perhelatan kaum kaya sewaktu mereka menikahkan anak-anak mereka. Dalam tempo yang hanya berlangsung dua hingga tiga jam, semua kenikmatan duniawi seolah disuguhkan untuk memanjakan para tamu undangan. Para tamu dan tuan rumah yang semuanya berbusana necis dan wangi, suasana pesta dalam lingkungan yang mewah dan menawan, hiburan musik yang mewartakan kesukacitaan, dan pelbagai hidangan yang lezat dan istimewa. Tentu saja pesta mewah semacam itu menyesuaikan dengan kondisi zamannya. Dulu orang tua kita bercerita perhelatan perkawinan orang besar di zaman kolonial, paling tidak berlangsung selama tiga hari tiga malam.

 

Menarik untuk menyimak apa kesan para tamu undangan beberapa hari setelah perhelatan akbar itu usai. Sebagian besar memuji dan berterima kasih kepada keluarga pengantin. Namun ada segelintir dari mereka yang nyinyir atau berkomentar sinis. "Dasar orang kaya!", "Sok pamer!", dan sejumlah komentar negatif lainnya. Alih-alih bermudita-cita atau turut berbahagia terhadap kesuksesan keluarga yang mengundang, malah iri hati yang diungkapkan. "Mestinya pestanya diselenggarakan dengan sederhana!" komentar yang lain. Aneh juga mendengar orang yang memiliki jalan pikiran seperti itu. Orang kaya dan terpandang menyelenggarakan perhelatan yang sederhana dan biasa-biasa saja, tentu akan menjadi bahan olok-olokan dan gunjingan para kolega dan kerabatnya. Orang kaya yang berpura-pura miskin mungkin hanya ada di layar kaca Sinetron Indonesia atau Drama Korea.

 

Pernah juga penulis menghadiri resepsi perkawinan di tempat lain. Pada saat itu tetangga di kompleks tempat kami tinggal menyampaikan undangan pernikahan puteranya. Kami datang ke tempat pesta yang kebetulan diadakan di sebuah balai-pertemuan pada sebuah kompleks Kementerian. Kebetulan si bapak mempelai pria berdinas di Kementerian tersebut. Resepsi pernikahan berjalan lancar seperti lazimnya dan dihadiri kurang lebih tiga ratus lima puluh undangan. Ruang pesta berupa aula yang biasa dipakai untuk penyelenggaraan seminar, dan di sana ada panggung pelaminan yang didekor seadanya. Di tengah ruangan ada dua deret meja-panjang, tempat penyelenggara meletakkan pelbagai hidangan, dan di pojok masih ada sebuah meja besar tempat menaruh buah-buahan dingin.

 

Para tamu setelah menyampaikan ucapan selamat langsung menikmati hidangan prasmanan dan mengambil buah-potong yang disediakan. Setelah bersilaturahmi dengan para undangan yang kami kenal, dan mengambil foto bersama kedua mempelai, kami pun pulang. Nah, Anda pingin tahu komentar para tamu? Ya, sebagian besar oke-oke saja, tetapi ada juga yang tidak puas. "Payah, masa makan di kondangan cuma segitu. Tidak ada pondok-makanan sama sekali?" Kita yang sudah diundang untuk berbagi kebahagiaan – bukan untuk berwisata kuliner – hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Bukankah tidak setiap orang mampu menyelenggarakan perhelatan dengan hidangan yang serba lengkap dan bervariasi?

 

Pengalaman lain didapat sewaktu kami menghadiri upacara perkawinan puteri seorang sahabat, yang dilangsungkan di sebuah vihara. Setelah rentetan upacara telah berlangsung menurut urut-urutan yang telah ditetapkan, pada bagian penghujung upacara, romo pandita yang bertugas memimpin upacara memberikan petuah-petuah kepada kedua mempelai. Petuah berupa wejangan bahwa perkawinan bukan saja merupakan keterikatan hukum antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, melainkan satu ikatan-sakral antara suami dan isteri berdasarkan ajaran agama Buddha. Romo pandita juga menasehati agar kedua insan yang baru menikah ini dapat membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia. Dalam ajaran Islam keluarga ideal ini, populer disebut sebagai "keluarga sakinah". Kita juga di lingkungan Buddhis punya istilah sendiri, yakni "keluarga hitta-sukhaya".

 

Demikianlah upacara perkawinan sahabat kami telah selesai dilangsungkan di vihara, dan resepsi perkawinan baru diadakan dua minggu kemudian. Kebahagiaan memancar dari wajah kedua pengantin baru dan keluarganya. Hanya karena ada halangan, pihak pengantin laki-laki hanya mengirimkan saksi sebagai pengganti kehadiran orang tuanya. Keduanya sejak hari itu sudah sah sebagai suami-isteri, hanya tinggal menunggu resepsi pernikahan, namun rumor iseng beredar di luaran. Gosip mengatakan: "Kayaknya orang tua mempelai pria tidak menyetujui perkawinan mereka!"  Memang desas-desus itu begitu kejam menghakimi seseorang, tanpa mau menyelidiki fakta di baliknya. Kami yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya hanya bisa mengelus dada. Faktanya, orang tua mempelai pria yang tinggal di luar pulau berhalangan hadir, semata-mata karena alasan kesehatan.

 

Demikianlah pembaca yang budiman. Dari ketiga contoh kasus di atas kita dapat melihat, betapa pun orang sudah begitu baik dan sempurna menyelenggarakan acara perkawinan, masih saja ada orang yang mengkritik dan mencela mereka. Sekarang bagaimana kejadiannya kalau seseorang tahu-tahu sudah menikah, tetapi temannya tidak diundang?

 

Beberapa belas tahun yang lalu sewaktu surat kabar masih berjaya dan banyak pembacanya, iklan-keluarga lazim ditempatkan di lembar tersendiri. Iklan-keluarga biasanya berupa berita duka cita dan ada kalanya memuat iklan "kawin-tamasya". Dengan "kawin-tamasya" sepasang pengantin yang baru berumah tangga mengumumkan kepada khalayak yang mereka kenal, bahwasanya mereka telah menikah. Jadi artinya perkawinan secara agama atau adat telah dilangsungkan, namun ritual itu hanya disaksikan oleh keluarga terdekat saja. Tidak ada keramaian atau pesta untuk merayakannya. Alasan utama mereka tidak menggelar resepsi tidak lain menghindari keluarnya biaya yang tidak sedikit. Dengan demikian dana yang sedianya ditujukan untuk mengadakan perhelatan dialihkan menjadi dana untuk bertamasya, baik untuk berbulan-madu di dalam negeri atau pun di luar negeri.

 

Sekarang di zaman yang dikuasai oleh media sosial, tidak perlu kita memasang iklan "kawin-tamasya" tentunya. Kita cukup mengabarkan pernikahan kita kepada teman-teman kita dengan mengubah status di akun media sosial yang kita miliki. Praktis dan tidak mengeluarkan biaya sepeser pun, bukankah begitu? Begitu status lajang Anda berubah menjadi "telah menikah", maka dapat dipastikan ucapan selamat akan membanjiri akun media sosial Anda. Namun seperti yang bisa diduga, masih ada orang di luar sana yang tetap nyinyir. Bahkan ada yang berkomentar: "Keduanya tidak mengundang kita, mungkin malu karena mempelai wanitanya sudah hamil duluan!" Tanggapan miring itu membuat kita menggumam, "Astagfirullah!", tapi Anda sadar beginilah kita melakoni hidup di dunia ini.

 

Ada kisah menarik yang patut kita simak untuk melengkapi cerita di atas itu, yang berasal dari masa ketika Buddha kita hidup. Alkisah seorang pengikut awam Beliau yang bernama Atula sekali waktu bersama dengan sekumpulan sahabatnya bermaksud menambah wawasan pengetahuan mereka tentang Dhamma. Di satu lokasi petapaan mereka menemui seorang bhikkhu senior yang bernama Bhikkhu Revata. Sang bhikkhu senior adalah siswa yang memiliki kepakaran dalam bidang meditasi, dan ia sehari-hari menghabiskan waktunya hanya untuk bermeditasi di tempat tinggalnya. Begitu mereka menemuinya Atula dan para sahabatnya langsung menanyakan satu subyek perihal ajaran Sang Guru. Namun sang bhikkhu yang ditanya hanya berdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah melakukan penghormatan mereka pun undur diri dari sana.

 

Kecewa mendapatkan kenyataan ini, Atula dan para sahabatnya lalu menjumpai Yang Mulia Sariputta, siswa kepala Sang Buddha, bhikkhu yang paling pintar dalam hal penguasaan materi Dhamma. Sang bhikkhu kepala menerima mereka dengan gembira, dan selanjutnya ia membabarkan ajaran secara rinci dan panjang-lebar. Setelah pembabaran usai mereka pun lalu berpamitan. Mendengarkan pembabaran ajaran sambil terkantuk-kantuk mereka pun mencela, karena ajaran yang diberikan terlalu panjang dan bertele-tele.

 

Selanjutnya mereka menemui Bhikkhu Ananda, bhikkhu pengawal dan asisten pribadi Sang Guru. Yang Mulia Ananda menjawab pertanyaan yang sama itu dengan jawaban yang ringkas namun padat. Setelah mereka pamit pada sang bhikkhu, Atula dan para sahabatnya masih tetap kecewa dan mereka menyebut ajaran yang baru disampaikan itu terlalu ringkas dan tidak lengkap. Selanjutnya mereka menghadap Sang Guru dan menceritakan kejadian yang baru mereka alami.

 

Sang Guru menerima keluhan mereka, dan ia bersabda: "Wahai Atula, hal ini telah ada sejak zaman dahulu, bukan hanya terjadi pada masa sekarang. Mereka mencela orang yang duduk diam, mereka mencela orang yang banyak bicara, dan mereka juga mencela orang yang sedikit bicara.Tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak dicela." Dicela dan dipuji adalah dua sisi mata uang yang pasti dialami setiap manusia dalam hidupnya.

 

Jadi demikianlah kenyataannya, dicela dan dipuji menurut ajaran agama Buddha adalah dua dari delapan kondisi duniawi, yang pasti dialami seseorang. Jika keduanya tidak bisa dihindari, adalah bijak jika kita melatih diri dengan mengembangkan ketenangseimbangan, seperti yang ditorehkan oleh untaian kata di bawah ini:

 

"Dicela dan dicaci-maki tidak bakal menjadi kotoran;

Dipuji dan diagung-agungkan tak akan menjelma menjadi rembulan;

Tak usahlah meradang ketika kita menerima celaan;

Tak perlu pula melambung saat kita menuai pujian,"

 

Sewaktu kita menerima pujian kita dapat menerimanya dengan hati berbunga-bunga, tetapi saat kita dicela kita cenderung menjadi kecil hati. Namun saat kita dicela, seyogianya kita dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari kelemahan yang ada di dalam diri kita sendiri, yang selama ini tidak kita sadari. Sebagai penutup buah pena ini, penulis meminta Anda untuk merenungkan kutipan berikut ini, yang merupakan satu petuah dari Nabi Lao Zi: "Kata yang jujur tidaklah indah, kata yang indah tidaklah jujur."

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210224