Rabu, 07 April 2021

HOK TEK CENG SIN DAN AGAMA ORANG TIONGHOA



Anda yang pernah berkunjung ke kelenteng untuk bersembahyang atau sekedar melihat-lihat keadaan di sana, mungkin pernah mendengar sosok dewa yang paling banyak dipuja oleh masyarakat. Sosok dewa ini tidak lain dewa bumi. Sesungguhnya ada dua sosok dewa yang berbeda, dengan yang pertama dinamakan Fu De Zheng Shen atau Hok Tek Ceng Sin, dan yang kedua adalah Tu Di Gong atau Tho Ti Kong. Yang membedakan keduanya, Hok Tek Ceng Sin merupakan satu tokoh dewa yang arcanya diletakkan pada altar yang sama tingginya dengan dewa-dewa lain, sedangkan Tho Ti Kong merujuk pada dewa lokal atau dewa setempat dan altarnya diposisikan dekat dengan tanah. Dengan demikian ada banyak Tho Ti Kong, yang masing-masing berkuasa di wilayah kekuasaannya; seperti ada Tho Ti Kong Bogor, Tho Ti Kong Sukabumi, Tho Ti Kong Tangerang, dan lain sebagainya.

 

Hok Tek Ceng Sin yang banyak dipuja di banyak kelenteng, sebetulnya siapa dia gerangan? Cerita asal-usulnya cukup banyak dan beragam, namun versi yang lebih banyak dipercaya orang berasal dari sebuah kisah di zaman Dinasti Zhou. Alkisah pada tahun 1134 seb.M. pada pemerintahan Kaisar Zhou Wu Wang, tepatnya pada tanggal 2 bulan kedua menurut penanggalan Tionghoa lahir seorang anak laki-laki yang bernama Zhang Fu De atau Ceng Hok Tek. Sejak masih kanak-kanak telah bisa dilihat bahwa Hok Tek adalah seorang anak yang pintar dan berwatak mulia, dan sejak usia dini ia telah mempelajari sastra Tionghoa kuno dan menerima pendidikan formal yang baik. Menginjak usia 36 tahun, Hok Tek dipercaya memangku jabatan menteri urusan perpajakan. Ia terkenal sebagai seorang pejabat negara yang bijaksana juga memiliki kualitas kebajikan tertentu. Bagi rakyat yang kekurangan ia tidak menarik pajak yang berlebihan, sehingga rakyat tidak terbebani. Bahkan ia sering memberikan bagian hartanya untuk menolong rakyat miskin. Ia sangat dicintai rakyatnya dan setelah mengabdi cukup lama kepada negerinya, ia wafat pada usia 102 tahun.

 

Setelah wafatnya Ceng Hok Tek, Kaisar yang berkuasa menunjuk seorang penerusnya yang bernama Wei Chao. Bertentangan seratus delapan puluh derajat dengan pendahulunya, Wei Chao adalah seorang yang serakah, kejam, serta berwatak buruk, Dalam menarik pajak, ia tidak pandang bulu dan tidak mengenal belas kasihan. Demi menuruti ambisi yang akan membuat atasannya memberikan pangkat dan imbal jasa yang besar, Wei Chao bertindak sewenang-wenang. Semua orang dikenai pajak yang tinggi dan memberatkan, dan jika mereka tidak mampu membayar akan dikenakan hukuman berat, sehingga masyarakat sangat menderita. Akhirnya karena penderitaan hidup yang tak tertahankan, banyak penduduk yang pergi meninggalkan kampung halaman mereka, dan membuat sawah-ladang di tempat asal mereka menjadi terbengkalai. Dalam kesengsaraan dan ketertindasan mereka, rakyat mengingat tokoh bijaksana seperti Ceng Hok Tek yang telah meninggal dunia.

 

Ada sebuah keluarga yang hidupnya sehari-hari sudah kekurangan, kini semakin terpuruk setelah menteri yang baru ini berkuasa. Keluarga ini mengenang kebaikan Ceng Hok Tek dan mereka memimpikan ia kembali untuk memimpin negeri mereka. Keluarga tersebut mengambil empat buah batu bata guna membentuk sebuah kuil mini untuk menghormatinya; dengan tiga bata untuk dinding dan yang satu lagi untuk atap, lalu menuliskan aksara  "Ceng Hok Tek" di dalamnya. Mereka juga meletakkan sebuah tempayan mungil yang telah pecah untuk tempat membakar dupa. Setiap hari mereka bersembahyang di depan tempat pemujaan itu, dan dalam doanya mereka mengharapkan pertolongan Ceng Hok Tek. Wei Chao yang belakangan mengetahui ulah keluarga petani miskin itu, tertawa terbahak-bahak dan mengejek mereka. Mungkin penguasa langit menjadi murka melihat kelakuan Wei Chao yang sudah keterlaluan dan menjadi iba hati kepada keluarga miskin tadi, yang membuat sang penguasa bertindak. Selang tempo tidak berapa lama kemudian, keluarga miskin tersebut menjadi kaya. Seketika itu para tetangga mereka dan penduduk di sekitarnya menjadi gempar, mendengar nasib keluarga papa yang mendadak menjadi orang kaya. Mereka pun turut mempraktikkan pemujaan terhadap arwah Ceng Hok Tek. Konon kabarnya nama Ceng Hok Tek begitu bertuah jika dimintakan pertolongan oleh mereka yang hatinya bersih dan tulus. Petani yang sungguh-sungguh bersujud dan memohon di hadapan Ceng Hok Tek mendapatkan hasil panen yang banyak, orang yang pekerjaannya memelihara ternak mendapatkan hewannya cepat besar dan beranak-pinak, serta pedagang yang menjual barang dagangan ternyata cepat laris dan mendapat laba yang besar. Kata penganutnya, itu semua karena jasa Ceng Hok Tek yang baik dan murah hati. Nama besar Ceng Hok Tek menyebar ke seluruh negeri dan orang banyak pun mulai melakukan pemujaan terhadapnya.

 

Seperti yang terjadi bukan saja di Tiongkok Kuno, melainkan juga di bagian dunia yang lain, Ceng Hok Tek boleh saja meninggal, tetapi jiwanya atau rohnya tetap hidup dalam kepercayaan orang atau pengikutnya. Ceng Hok Tek kini telah menjelma menjadi Hok Tek Ceng Sin atau Fu De Zheng Shen (福德正神 atau Fúdé zhèngshén, pinyin). Kata  (shén atau “sin”, Hokian) bermakna "dewa". Dari kata "Shen" muncul istilah baru: "Shenisme" atau 神教 (pinyin: Shénjiào), yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama dengan "pendewaan". Shenisme adalah label yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan tradisi sistem kepercayaan yang berlangsung di masa Tiongkok Kuno, berupa pemujaan terhadap Shen. Istilah "Shenisme" pertama kali digunakan oleh Allan J.A. Elliot pada tahun 1955.

 

Lebih lanjut dalam bahasa Mandarin ada tiga istilah yang berkaitan, yang akan memperjelas makna Shenisme di atas. Anda mesti membedakan diantara   shén,  dì, dan  xiān. Walaupun penggunaan dua istilah yang pertama kadang kala kabur, namun jika kita melihatnya dalam konteks kebudayaan Barat, ada perbedaan pengertian diantara "dewa" atau "god" dengan "deitas" atau "deity". Shen menunjuk pada Surga material, sedangkan di  ditujukan pada sumber semesta. Di digambarkan sebagai inti buah yang jatuh, lalu menghasilkan buah yang lain. Buah-buah yang lain ini adalah shen. Jadi di tingkatannya lebih tinggi daripada shen. Istilah yang ketiga  xiān adalah orang yang telah mencapai "yang kekal" (the immortal, Ingg.) atau dalam bahasa kita mengacu pada gagasan "pahlawan". Konsep "yang kekal" ini nantinya diadopsi oleh agama Tao. Dengan demikian pada contoh kita di atas, Ceng Hok Tek telah menjelma menjadi sesosok shen sekaligus pula sesosok xian.

 

Shenisme telah menjadi sistem kepercayaan di Tiongkok sejak zaman kuno hingga saat ini. Contoh shen yang kita ambil di atas berasal dari masa Dinasti Zhou, dan pada zaman itu Buddha Gautama, Guru Kong, dan Nabi Lao Zi semuanya belum lahir. Shenisme ini menjadi pondasi yang membentuk agama orang Tionghoa atau disebut Chinese folk religion. Dari tiga ajaran, Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme, Shenisme ini paling dekat dengan ajaran Taoisme. Di Tiongkok sendiri diperkirakan 30% dari penduduknya menganut Shenisme dan Taoisme, dan di seluruh dunia kedua ajaran ini diperkirakan memiliki penganut hingga 454 juta orang atau 6.6% dari penduduk dunia. Jumlah ini mendekati jumlah penganut agama Buddha di dunia,

 

Sebagai shen atau dewa Fu De Zheng Shen digambarkan sebagai seorang pria tua yang tersenyum ramah, berambut serta berjanggut panjang berwana putih, dan sering kali digambarkan atau dipatungkan dalam posisi duduk. Dikenang sebagai pejabat teladan semasa hidupnya, ia merupakan pelindung masyarakat serta dianggap sebagai dewa bumi. Hok Tek Ceng Sin sendiri secara harfiah berarti Dewa Bumi atas Kemakmuran dan Jasa. Belakangan seorang penasihat agung kaisar bernama Ie In memberikan makna baru yang berkaitan dengan pesta panen raya di Tiongkok pada istilah Fu De Zheng Shen, yang berarti memperoleh rejeki (Hok / Fu) dalam kebajikan (Tek / De) dengan tetap menegakkan (Ceng / Zheng) nilai-nilai rohani (Sin / Shen). Makna atau istilah ini kemudian menjadi populer dan mengakibatkan munculnya pergeseran peran, yaitu Fu De Zheng Shen kemudian menjadi dewa rejeki. Yang banyak melakukan pemujaan biasanya kalangan pedagang dan tempat pemujaan pun berpindah ke dekat pusat perniagaan atau pasar. Setelah agama Buddha Mahayana masuk ke Tiongkok, tokoh Hok Tek Ceng Sin  mendapat sebutan baru, yakni Amurva Bhumi Bodhisattva. Bahkan setelah itu muncul tradisi pembacaan mantra Amurva Bhumi sewaktu umat melaksanakan persembahyangan.

 

Tempat ibadah agama orang Tionghoa dapat dibedakan menjadi "miao" (), atau dalam istilah Hokian menjadi "bio", disebut juga "rumah dewata" dan "ci" () atau "aula leluhur", dan keduanya sering dipertukarkan. Dalam bahasa Indonesia baik miao maupun ci lazim disebut kuil. Bio, belakangan  dinamakan pula kelenteng, sering dikatakan sebagai rumah ibadah agama Konghucu, padahal ini jelas keliru. Untuk umat Konghucu di Indonesia dikenal istilah "litang", sedangkan bio itu sendiri sebenarnya adalah tempat pemujaan Shen atau dewa. Kuil agama orang Tionghoa berbeda dengan kuil penganut Tao  atau guan juga disebut 道观 atau daoguan dan vihara Buddhis  atau si, yang mana bio dikelola oleh kepala kuil dengan dibantu oleh beberapa anggota yang merupakan komunitas penganut kepercayaan tersebut. Di dalam bio hanya ada sedikit orang yang menjadi biarawan, dan bahkan sebagian rumah ibadah ini tidak memilikinya. Bio biasanya berukuran kecil, tetapi penampilan di luar maupun di dalamnya amat berwarna-warni, serta atap dan tiangnya kerap dihiasi dengan patung dan relief berbentuk naga dan hewan mitologis lainnya.

 

Setelah kita membahas riwayat Hok Tek Ceng Sin, shenisme atau pendewaan dalam konteks agama orang Tionghoa, serta rumah ibadahnya, kini kita akan meninjau budaya pemujaan Hok Tek Ceng Sin yang masih berlangsung hingga sekarang ini. Untuk itu penulis akan mengambil contoh satu kuil yang terletak di kota Bogor, yang bernama Hok Tek Bio (福德庙). Mungkin ada diantara Anda yang pernah mendengar atau bahkan pernah berkunjung ke sana. Hok Tek Bio terletak di jantung kota Bogor di samping gedung perbelanjaan yang menjulang tinggi. Letaknya tidak sampai seratus meter diukur dari depan pintu gerbang utama Kebun Raya Bogor yang tersohor itu.

 

Konon rumah ibadah ini mulai dibangun pada tahun 1672, yang berarti sudah berusia hampir tiga setengah abad. Jika ini benar cikal bakal bio ini sudah muncul sebelum pembangunan Istana Bogor yang terletak di dalam Kebun Raya (Istana Bogor dibangun pada 1744). Memasuki bio kita dapat melihat sebuah rumah ibadah dengan gaya arsitektur Tiongkok klasik, dengan warna bangunan dominan merah dan kuning. Atapnya menyerupai busur dan di atas wuwungan ditambahkan hiasan hewan mitologis, dan di pilarnya dilingkari relief naga yang elok. Di depan bio masih tersedia halaman lapang yang berfungsi sebagai alun-alun. Dalam perjalanannya dari sejak didirikan entah sudah berapa kali rumah ibadah ini mengalami renovasi, dan kita menemui kesulitan melihat perkembangan bangunan ini karena tidak ada catatan tertulisnya. Namun keotentikan bangunan ini tidak banyak berubah sejak permulaan abad ke-20, yang membuat pemerintah menetapkan Hok Tek Bio sebagai cagar budaya sejak tahun 2002. Pada masa Orde Baru rumah ibadah ini pernah diganti namanya menjadi Vihara Dhanagun, namun sekarang ini orang boleh menyebutnya lagi sebagai Hok Tek Bio.

 

Sesuai dengan namanya, pada altar utama bio ini terdapat arca Hok Tek Ceng Sin yang ditata dalam ornamen kuil yang elok. Pengunjung yang ingin melakukan persembahyangan biasanya membeli lilin merah, sejumlah dupa-batang atau hio, dan kertas-uang. Mereka berdoa dulu di depan gerbang dan memberikan persembahan kepada langit, dan dilanjutkan dengan menyalakan lilin dan mempersembahkannya di depan altar utama. Selanjutnya sambil memegang dupa-batang yang sudah dinyalakan mereka berdoa mulai dari altar utama, lalu diteruskan ke altar yang lain, dan setiap doa selesai mereka menancapkan dupa-batang ke guci-abu yang telah disediakan. Persembahyangan dinyatakan selesai setelah mereka membakar kertas-uang di halaman depan. Umat yang datang berharap mendapatkan rejeki dari Hok Tek Ceng Sin. Pedagang memohon agar usaha mereka lancar dan semakin maju, karyawan meminta pekerjaannya dimudahkan dan mereka cepat naik jabatan, serta masyarakat umum mengharapkan kesejahteraan dan keselamatan dalam menjalani hidup sehari-hari. Bio ini memiliki umat dan pendukung yang banyak, bahkan sebagian dari mereka datang dari luar kota untuk bersembahyang di sana. Sepanjang sejarahnya rumah ibadah ini disokong oleh masyarakat etnis Tionghoa, yang kebanyakan diantara mereka adalah kaum pedagang di kota Bogor. Oleh karena itu lokasi bio ini bersebelahan dengan pasar utama, dan sejak era kolonial salah satu sisi rumah ibadah ini dilewati oleh Handelstraat alias Jalan Perniagaan.

 

Selain altar utama di dalam bio disediakan pula altar pemujaan bagi  Tee Cong Ong Po Sat (Dizang Pusa) atau Bodhisattva Kshitigarbha dan Kwan Im Po Sat (Guanyin Pusa) atau Avalokitesvara. Dengan begitu bio ini mendukung pula persembahyangan terhadap para Bodhisattva, yang umum dilakukan oleh umat Buddha Mahayana. Ada pula altar pemujaan Houw Ciang Kun (Hu Jiang-jun) atau Dewa Harimau, yang dipercaya sebagai sosok Harimau Sakti yang merupakan pengawal pribadi Hok Tek Ceng Sin dan ia mampu mengusir roh jahat. Selain dewa-dewa yang berasal dan Tiongkok, Hok Tek Bio Bogor mengakomodasikan pula altar pemujaan Eyang Raden Surya Kencana dan Mbah Bogor. Seperti tokoh yang lain, keduanya diperlakukan sebagai dewa dan orang melakukan persembahyangan di depan altar keduanya. Lalu siapa gerangan Eyang Surya Kencana dan Mbah Bogor itu? Raden Surya Kencana itu putera Aria Wiratanudatar, pendiri Kota Cianjur. Selanjutnya ia memiliki putera yang bernama Prabu Siliwangi. Eyang Surya Kencana adalah karuhun atau nenek moyang orang Sunda yang sangat dihormati. Sedangkan Mbah Bogor susah dilacak siapa dia sebenarnya, dan sebagian orang mengaitkannya dengan Mbah Dalem Bogor, tokoh Sunda sesepuh Bogor yang memiliki petilasan di Jalan Batutulis kota Bogor.
 

Andre Ginting (2017), seorang peneliti, pernah mengemukakan pendapatnya: "Observasi langsung mengungkapkan kejadian unik di kuil ini, yang mana tokoh-tokoh keramat setempat diabadikan oleh para pemuja Shenisme. Mereka adalah Raden Surya Kencana dan Mbah Bogor. Mereka dihormati sebagai dewa. Praktik keagamaan ini bisa dianggap sebagai 'Sinisasi', yang secara harfiah bermakna mendekatkan diri pada cita-cita agama orang Tionghoa." Dengan demikian terjadi pragmatisme agama orang Tionghoa yang mampu mengakomodir tokoh-tokoh masyarakat yang dihormati dan menjadikan mereka sebagai suciwan yang patut disembah layaknya dewa. Dan memang benar pendapat orang pribumi di Nusantara sejak dulu kala, bahwa agama orang Tionghoa itu agama yang paling toleran yang pernah mereka temukan,

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210407


Tidak ada komentar:

Posting Komentar