Rabu, 06 April 2022

BIMBISĀRA



Asia Selatan yang sekarang ini menjadi negara India, Pakistan, dan Bangladesh, akan kita lihat keadaan dan situasinya pada abad keenam sebelum Masehi. Abad ke-6 sampai abad ke-5 merupakan titik balik utama dalam sejarah India Kuno. Dilihat dari sisi siapa yang berkuasa, ada enam-belas negeri atau dinamakan pula 16 Mahājanapada. Sebagian dari negeri ini ada yang berbentuk kerajaan dan ada pula yang berupa republik oligarki. Mengapa dinamakan titik balik? Pada masa ini nama tokoh-tokoh penting mulai dicatat setelah sebelumnya peran mereka diabaikan secara pribadi, serta penulisan sejarah memiliki pijakan yang pasti, tidak seperti yang terjadi pada zaman sebelumnya. Pada masa sebelumnya penulisan sejarah bercampur dengan mitos, yang belum teruji kebenarannya.

 

Dengan kemunculan enam-belas Mahājanapada tersebut, India mengalami perubahan besar-besaran, setelah sebelumnya negeri akbar ini memiliki "Peradaban Lembah Sungai Indus" yang termasyhur itu. Sejalan dengan arus zaman, terjadi pula urbanisasi periode kedua – yakni perpindahan orang dari desa ke kota –, serta munculnya kota-kota besar di India. Dari segi kepercayaan, ortodoksi kaum Brahmana yang memegang teguh tradisi Veda sebagai pedoman dasar kehidupan mereka, mulai terkikis dengan lahirnya gerakan Sramana. Pemikiran dan gagasan yang baru ini, terutama dengan lahirnya Buddhisme dan Jainisme, mulai menggerus pengaruh Brahmanisme yang selama lebih dari dua milenia telah berurat-akar dalam masyarakat India Kuno.

 

Di antara enam belas negeri itu, kali ini kita akan melihat salah satu negeri, yang ke depannya akan memberikan kontribusi bagi munculnya kekaisaran agung di India pada zaman selanjutnya. Negeri yang dimaksud adalah Magadha, yang berbentuk kerajaan. Jika mengacu pada peta masa kini, Magadha kurang lebih mencakup distrik modern Patna dan Gaya di selatan Negara Bagian Bihar, dan sebagian Bengal di timur. Kotaraja Pataliputra di utara dibatasi oleh sungai Gangga, di timur oleh sungai Champa, di selatan oleh pegunungan Vindhya, dan di barat oleh sungai Sona. Kotaraja yang paling awal adalah Girivraja atau Rājagaha atau Rājagṛha, sekarang menjadi Rajgir modern di distrik Nalanda, Negara Bagian Bihar.

 

Penguasa Kerajaan Magadha adalah Dinasti Haryanka. Generasi keduanya dipegang oleh seorang raja yang bernama Bhāttiya atau dipanggil Mahāpaduma. Lewat perkawinannya dengan permaisuri Bimbī, lahirlah putera pertamanya yang diberi nama Bimbisāra (adalah lazim seorang anak lelaki mengambil nama ibu kandungnya di India). Tokoh kita kali ini, Bimbisāra lahir pada 558 seb.M., dan dia juga dikenal dengan nama Shrenika. Di usianya yang ke-lima-belas dia sudah mewarisi tahta ayahnya, berarti dia sudah menjadi raja pada tahun 543.

 

Selama masa kecilnya, Bimbisāra menyaksikan ayahnya melakukan peperangan melawan penguasa negeri tetangganya yakni Anga. Anga adalah sebuah mahājanapada yang letaknya di sebelah timur, dengan lokasi yang strategis karena memiliki akses langsung ke Teluk Benggala. Raja Anga pada waktu itu adalah Brahmadatta, ternyata sangat liat dan tidak dapat dikalahkan oleh Bhāttiya. Ketika Bimbisāra naik tahta pemuda yang baru beranjak dewasa ini telah menjadi seorang jenderal yang cakap dan terlatih untuk bertempur di medan perang India Kuno. Setelah melakukan persiapan yang cukup, hal pertama yang dia lakukan adalah melanjutkan cita-cita ayahnya yang belum tercapai. Ternyata di bawah kendali Bimbisāra pasukan Magadha menundukkan bala tentara Anga dengan mudah. Selain menundukkan penguasa negeri jirannya sebagai prestasi awal yang membanggakan, konon Bimbisāra juga membangun kota Rājagaha di awal masa pemerintahannya. Rājagaha merupakan tempat perlindungan yang nyaman karena di semua sisi ditutupi oleh lima bukit yang sekaligus menciptakan benteng alami, dan kelak oleh Ajatashatru – putera Bimbisāra – celah yang tersisa dapat ditutup dengan dinding batu.

 

Kesuksesan dan prestasi yang dicapai oleh Bimbisāra bukan semata-mata karena dia merupakan seorang raja yang berkuasa, melainkan juga karena insting, kecerdasan-bawaan, dan perilakunya yang luhur. Dalam kitab Sutta Nipāta diceritakan bagaimana Bimbisāra berkenalan dengan Sang Buddha (563 - 483 seb.M.). Pada saat itu Buddha yang masih berstatus sebagai Petapa Gotama dan ia baru saja melakukan Pelepasan Agung atau meninggalkan istananya (Petapa Gotama meninggalkan istananya ketika berusia 29 tahun). Diketahui Sang Buddha lebih tua lima tahun dari Bimbisāra. Jadi peristiwa itu berlangsung pada tahun 534 seb.M., yakni sembilan tahun setelah Bimbisāra memegang tampuk kepemimpinan Kerajaan Magadha. Dikisahkan Petapa Gotama saat itu sedang meminta-minta dan mengumpulkan sedekah makanan di Rājagaha, dan setelah selesai dia lewat di depan jendela istana sang raja. Terkesima, namun cukup dengan melihat ciri-ciri fisik seorang manusia agung, Bimbisāra segera mengirim utusan untuk mengejarnya. Mengetahui, bahwa sang petapa sedang beristirahat setelah makan siang di Bukit Pandava di luar kota Rājagaha, Bimbisāra mengikutinya dan setelah keduanya berbincang-bincang sang raja menawarkan satu jabatan tinggi di kerajaannya. Dia bahkan meminta agar sang petapa mau memerintah bersama-sama, yakni disertai tawaran agar Gotama menjadi penguasa negeri Anga. Namun permintaan itu ditolak secara halus oleh sang petapa, karena dia justru meninggalkan hidup sebagai perumah-tangga dengan maksud mencapai pencerahan. Tetapi Petapa Gotama berjanji dan bersedia kembali ke Rājagaha setelah cita-citanya tercapai.

 

Enam tahun kemudian setelah Petapa Gotama menjadi Buddha, dia ingat akan janjinya untuk menemui Bimbisāra di Rājagaha. Dengan ditemani oleh dua-belas nahuta perumah tangga, Bimbisāra pergi ke Supatittha Cetiya di dekat kotaraja untuk memberikan penghormatan kepadanya. Sang Buddha kemudian membabarkan ajarannya kepada mereka semua. Setelah wejangan Dharma itu usai, sebelas nahuta dengan Bimbisāra sebagai pimpinan mereka, mencapai pencerahan. Sang Raja memperoleh tingkat kesucian yang pertama. Dengan diperolehnya mata-dharma, sang raja mengakui bahwa semenjak masih kanak-kanak dia mempunyai lima cita-cita; yaitu: (1) jika sekali waktu dia dapat dinobatkan sebagai raja, (2) jika dalam kurun waktu hidupnya dia bisa bertemu dengan seorang Arahant yang tercerahkan sempurna, (3) jika dia bisa menghormati Yang Terberkahi, (4) jika Yang Terberkahi berkenan mengajarkan dia Dharma, dan (5) jika dia bisa memahami Dharma Yang Terberkahi. Bimbisāra pun dengan tulus bersedia menjadi pengikut awam Sang Buddha.

 

Pada hari berikutnya Sang Buddha dan rombongan besar para bhikkhu menerima keramahan Bimbisāra. Sakka – Raja para Dewa – yang menyamar sebagai seorang pemuda, mendahului mereka ke istana sambil menyanyikan lagu-lagu kemuliaan untuk Sang Buddha. Di akhir acara jamuan-makan, Bimbisāra menuangkan air dari tempayan emas ke tangan Sang Buddha, serta mempersembahkan Hutan Bambu atau Veluvana, untuk digunakan oleh Sang Buddha dan para pengikutnya.

 

Tidak saja berhubungan baik dengan Buddhisme, Bimbisāra juga dekat dan menyokong Jainisme. Mahavira, atau dikenal pula sebagai Vardhamana (599 - 527 seb.M.) – pendiri Jainisme – atau dalam teks Buddhis lebih dikenal sebagai Nigaṇṭha Nātaputta konon pernah bertemu dengan Bimbisāra. Kitab suci Jain menyebut Bimbisāra sebagai Shrenika, dan dia sering mengunjungi para petapa Jain untuk berdiskusi. Selain itu Bimbisāra juga mendukung para petapa lainnya dalam mengembangkan ajaran mereka, tidak terkecuali kaum brahmana, sehingga dia mampu mengembangkan toleransi yang begitu tinggi. Memang zaman itu merupakan masa keemasan bagi bertumbuhkembangnya ajaran agama dan filsafat di India.

 

Setelah mencaplok Anga, Bimbisāra mengalihkan perhatiannya pada kerajaan atau republik lainnya di anak benua itu. Dia merupakan seorang ahli strategi dan jenderal militer yang ulung. Untuk memperkuat kerajaannya, dia menyadari keterbatasan pasukannya melawan penguasa yang lebih besar. Guna menjaga keselamatan negerinya Bimbisāra mendapatkan jalan keluarnya, yakni dengan membentuk aliansi-perkawinan dengan para pemimpin negeri jiran.  Bimbisāra kemudian meminang Puteri Kosaladevī, anak perempuan dari Sanjaya Mahākosala, yang juga merupakan saudara kandung dari Pasenadi (atau Prasenajit). Nah Pasenadi ini sepeninggal ayahnya, lalu dinobatkan sebagai Raja Kosala, sebuah negeri yang luas dan maju yang letaknya berbatasan dengan Magadha. Pada hari pernikahannya, Bimbisāra menerima bagian dari mas kawinnya, sebuah kota suci di Kāsi,

 

Tidak cukup dengan mengambil seorang perempuan, Bimbisāra kemudian menikahi Puteri Chellana sebagai isteri kedua. Chellana adalah seorang Puteri Licchavi dari Vaishali (atau Vesālī), dan merupakan anak perempuan dari Raja Chetaka, pemimpin Konfederasi Vrijji atau Vajji yang kuat. Menurut Indologis Hermann Jacobi, Trishala – ibunda dari Mahavira – adalah saudara perempuan dari Chetaka. Dengan demikian Chellana dan Mahavira merupakan saudara sepupu. Jadi tidak mengherankan Chellana menjadi seorang penganut Jain yang soleh. Selanjutnya Bimbisāra juga mengambil Puteri Khemā (atau Kshema), seorang Puteri yang amat jelita, anak dari kepala Wangsa Madra dari Punjab, menjadi isterinya yang ketiga. Dikisahkan dalam literatur Buddhis, Khemā pada awalnya bahkan tidak mau mengunjungi Sang Buddha. Namun sekali waktu dia terpikat oleh cerita Bimbisāra tentang keindahan Veluvana. Belakangan Khemā meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi seorang bhikkhuni. Selanjutnya dia menjadi salah satu siswi Sang Buddha yang terkemuka.

 

Setelah mengamankan negerinya dari kemungkinan diserang atau diinvasi kekuatan luar, Magadha pun menjadi negeri yang stabil dan kuat di bawah kendali Bimbisāra. Negeri ini adalah salah satu mahājanapada yang paling menonjol dan makmur. Selain Rājagaha kota besar lainnya adalah Pataliputra, yang terletak di pertemuan sungai-sungai besar seperti Gangga, Putra, Punpun, dan Gandak. Dataran aluvial di wilayah ini dan kedekatannya dengan daerah kaya tembaga dan besi di Bihar serta Jharkhand, membantu rakyat Magadha menambang logam berharga ini. Penambangan ini mendukung pembuatan perkakas dan senjata yang berkualitas, serta mendukung ekonomi agraris bagi sebagian besar rakyatnya. Ditambah lagi dataran Gangga yang subur selalu memberikan hasil panen yang berlimpah, serta hutan di sekitarnya menyediakan kayu dan hewan buruan untuk dieksploitasi. Lokasi Magadha di pusat jalan raya perdagangan pada masa itu berkontribusi pula terhadap kekayaannya. Belum lagi penguasaannya pada Negeri Anga, memberikan Magadha akses ke rute laut, sehingga memperluas aktivitas perdagangan mereka hingga ke luar wilayah India

 

Jika kita menilai apa saja yang telah dicapai oleh Bimbisāra, mungkin bisa disebutkan bahwa dia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, menciptakan kestabilan politik dan keamanan selama masa pemerintahannya, membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya, serta memberikan dukungan moril dan material bagi berkembangnya agama orang India. Sebenarnya warisan yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen pemerintahan dan sistem administrasi yang diterapkan di seluruh kerajaan. Bimbisāra membentuk rantai komando yang jelas, yang memastikan pemungutan pajak yang efisien dan pengawasan para pejabat di bawahnya. Magadha memiliki sekitar 80.000 dusun yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala-desa. Bimbisāra juga mengangkat pejabat yang berkompeten di bidang keuangan, urusan sipil, militer, dan pengadilan. Pejabat yang malas dan tidak becus segera diganti. Bimbisāra juga memiliki menteri-menteri dan pejabat tinggi yang ahli di bidangnya dan dapat dipercaya. Kelak sistem pemerintahan ini ditiru oleh Dinasti yang menguasai seluruh wilayah India, di antaranya Dinasti Maurya dan Dinasti Gupta.

 

Bimbisara dengan segala kecerdasan, insting, dan kebajikan luar biasa yang dimilikinya, ternyata kecolongan juga. Saking terlalu percaya kepada putera mahkotanya, Ajatashatru, dia secara sukarela menyerahkan tahtanya. Padahal jauh sebelumnya, bahkan sebelum anaknya lahir, para cenayang istana telah meramalkan bahwa sang putera yang masih dalam kandungan akan menjadi musuh besar ayahnya sendiri. Setelah menjadi raja Ajatashatru malahan memenjarakan ayahnya sendiri. Semua itu dilakukan atas hasutan Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha yang jahat. Riwayat Bimbisāra ternyata berakhir tragis; dia meninggal dunia dalam tahanan puteranya sendiri pada tahun 491 seb.M. pada usia 67 tahun.


 

sdjn/dharmaprimapustaka/220406


Rabu, 23 Maret 2022

Legenda Miao Shan


 

Di masa lalu ada seorang raja yang bernama Miào-zhuāng wáng atau  妙庄王, yang berkuasa di Negeri Xing Lin, kira-kira pada akhir masa kekuasaan Dinasti Zhou pada abad ke-3 seb.M. Permaisurinya bernama Pao Ying. Dari perkawinan itu sang raja dikaruniai tiga orang puteri. Yang pertama bernama Miao Shu, yang kedua dipanggil Miao Yin, dan yang bungsu dinamakan Miào Shàn atau 妙善.

 

Pada malam saat sang puteri bungsu mulai dikandung oleh ibunya, sang permaisuri dalam tidurnya bermimpi, bahwa secara ganjil dia berhasil menelan sang rembulan. Ketika waktunya tiba bagi sang bayi untuk dilahirkan, bumi pun bergetar dengan lembutnya, bunga-bunga di seantero negeri bermekaran di saat yang berbarengan, dan kembang-kembang surgawi berjatuhan dari angkasa, menciptakan aroma harum semerbak di mana-mana. Orang-orang di negeri itu tercengang menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam seketika. Saat bayi itu lahir ke dunia tubuhnya nampak bersih dan segar, walaupun dia belum sempat dimandikan. Sekujur badannya dilingkupi oleh awan-awan yang berwarna-warni. Orang-orang pintar dan bijaksana setelah menafsirkan tanda-tanda yang dibawa oleh sang bayi mengatakan, bahwa sang puteri tidak lain merupakan wujud-inkarnasi dari orang suci. Meskipun ayahnya menyaksikan anaknya yang baru lahir ini luar biasa, namun temperamen dan watak sang raja yang buruk, membuat dia enggan untuk mengakuinya.

 

Sang puteri bungsu pun hidup dalam keadaan berkecukupan dan berkemewahan di dalam istana ayahnya. Dia bertumbuh kembang dan beranjak dewasa laksana puteri raja yang cantik rupawan dan dimanjakan oleh kehidupan duniawi. Namun tidak seperti kebanyakan anak raja, sang puteri bungsu hanya mau mengenakan busana yang sederhana, dan dia pun hanya menyantap makanannya satu kali sehari. Sang puteri pun dikenal oleh rakyatnya sebagai wanita yang lembut, halus, dan penyayang. Di lingkungan istana dia dikenal sebagai "gadis berhati emas." Karena terbawa oleh aura dan perilakunya yang baik dan penyayang, para inang-pengasuhnya pun ikut terpengaruh. Semuanya memiliki moralitas yang tinggi dan sedikit demi sedikit mereka berlatih melepaskan diri dari berbagai keinginan duniawi.

 

Ketika sang puteri sudah melewati masa akil-balig, ayahnya sang raja bermaksud mencarikan seorang suami bagi Miao Shan. Namun secara halus dia menolak untuk dicarikan pasangan hidup, seraya berkata: "Kekayaan dan kehormatan tidak akan berlangsung untuk selamanya. Kemuliaan dan kemegahan ibarat gelembung sabun, terbentuk seketika dan kemudian lenyap. Segala kebesaran duniawi hanyalah ilusi belaka. Bahkan jika Yang Mulia memaksaku untuk melakukan pekerjaan kasar, aku tidak akan pernah berpaling dari tekadku untuk tetap menapaki kehidupan suci."

 

Ketika raja dan permaisuri memanggil Miao Shan keduanya mencoba untuk membujuknya, namun dia berkata: "Aku akan mematuhi perintah Yang Mulia jika hal itu dapat mencegah tiga kemalangan. Sang raja bertanya, "apa yang dimaksud dengan tiga kemalangan itu?" Miao Shan menyebutkan: "Yang pertama adalah kasus seperti ini: saat laki-laki masih berusia muda, wajahnya bundar seelok bulan-pualam, yang membuat langit malam menjadi cerah. Tetapi ketika lelaki itu beranjak menua, rambut mereka berubah menjadi putih, dan wajah mereka pun berkeriput dan berkerut-kerut. Sewaktu mereka bergerak atau beristirahat, dipandang dari segi mana pun, mereka lebih buruk ketimbang ketika mereka masih muda. Yang kedua adalah hal berikut ini: anggota tubuh seorang pria mungkin prima, bertenaga, dan bersemangat. Dia mungkin bergerak dengan lincah, seolah-olah dia sedang terbang di angkasa. Namun ketika tiba-tiba penyakit datang menghampirinya, dia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya tanpa bisa mendapatkan kesenangan sedikit pun dalam hidup ini. Yang ketiga adalah kasus seperti ini: seorang pria memiliki banyak kerabat, mungkin dikelilingi oleh orang-orang terdekat dan tersayangnya, tetapi tiba-tiba suatu hari semuanya berakhir, dengan tibanya hari kematiannya. Meskipun ayahnya atau anaknya adalah kerabat dekatnya, dia tidak dapat meminta satu dari mereka untuk menggantikannya atau mewakilkannya menghadapi kematian. Jika Yang Mulia dapat mencegah tiga kemalangan ini, maka Paduka akan memenangkan persetujuanku untuk menikah. Jika tidak, aku lebih memilih pensiun untuk mengejar kehidupan religius. Ketika seseorang memperoleh pemahaman penuh tentang batin asali, semua kemalangan atas kemauannya sendiri tidak akan ada lagi.”

 

Mendengar kata-kata itu sang raja amat murka. Dia memaksa Miao Shan untuk bekerja di kebun serta mengurangi jatah makanan dan minumannya. Bahkan kedua kakak perempuannya membujuk dan merayunya agar dia berubah pikiran, tetapi Miao Shan memegang teguh pendiriannya dan tidak mau berkompromi barang sedikit pun juga. Ketika sang permaisuri secara pribadi mendekati dan menegurnya, Miao Shan berkata: "Dalam semua keterikatan dan kemelekatan emosional, di antara sesama saudara dan kerabat di dunia ini, tidak dikenal istilah pelepasan spiritual. Jika saudara atau pun kerabat dekat bersatu dalam hidup ini, suatu saat mereka pasti akan terpisah dan tercerai-berai pula. Bebaskanlah pikiran Ibunda dari beban ini. Beruntunglah, Yang Mulia masih memiliki dua anak perempuan, yang akan merawat Paduka di hari tua. Tidak usahlah mengkhawatirkan Miao Shan."

 

Sang permaisuri dan kedua saudara perempuan Miao Shan meminta sang raja untuk membebaskannya, agar dia bisa mengikuti keinginannya, namun sang raja menolak mentah-mentah. Raja bermaksud membuang puteri bungsunya ke sebuah biara di negeri itu. Dia memanggil para biarawati di Biara "Burung Pipit Putih", lalu dia memerintahkan agar Miao Shan diperlakukan secara keras dan kasar selama dia tinggal di kuil itu. Upaya itu dimaksudkan agar sang puteri akan berubah pikiran. Para biarawati diintimidasi agar Miao Shan setiap hari ditugaskan untuk menangani pekerjaan berat, seperti mengambil kayu dan air di hutan, bekerja dengan alu dan lesung, serta mengelola kebun dapur. Seolah tahu bahwa Miao Shan sengaja dibuat susah dalam menjalani hidupnya, alam pun tidak tinggal diam. Belum berapa lama dia tinggal di biara itu, tanaman sayur tumbuh dengan subur di pekarangan kuil, bahkan tumbuhan itu hidup selama musim dingin. Sebuah mata air tiba-tiba muncul dan mengalirkan air jernihnya di samping dapur biara.

 

Waktu pun berlalu dengan cepatnya namun Miao Shan masih tetap teguh menjalani hidupnya sesuai dengan aspirasinya. Ketika ayahnya mendengar kabar tentang keajaiban sayuran dan mata air, maka dipicu oleh kedengkian dan kebencian terhadap puteri bungsunya, dia menjadi sangat gusar. Dia lalu mengirimkan bala tentara serta memerintahkan mereka agar membawa kepala puterinya, sekaligus pula menghabisi para biarawati. Sungguh penguasa yang kejam, yang hendak menghukum orang-orang yang tidak bersalah! Saat pasukan itu mendekati kuil, sekonyong-konyong gumpalan awan dan kabut yang misterius tiba-tiba muncul, yang membuat semua yang ada di sana menjadi gelap. Ketika awan dan kabut itu lenyap dan pasukan itu menyerbu kuil, Miao Shan adalah satu-satunya orang yang tidak dapat mereka temukan. Kemana Miao Shan pergi? Dia ternyata telah diungsikan oleh sesosok roh ke sebuah tebing. Roh itu kemudian berkata: "Tanah di sini terlalu tandus untuk menopang kehidupan." Dia pun memindahkan Miao Shan hingga tiga kali, sebelum mereka mencapai Gunung Harum atau Xiāng Shān. Miao Shan selanjutnya memilih bertempat tinggal di sana, makan dari apa yang didapatnya di pepohonan, dan minum dari sungai jernih yang mengalir di gunung itu. Selama sembilan tahun Miao Shan bertapa di Gunung Harum untuk melatih berbagai keutamaan.

 

Waktu terus berlalu, dan raja lalim itu kini mendapat musibah. Dia terjangkit penyakit kuning yang membuat seluruh tubuhnya rusak dan bernanah, dan dia tidak bisa lagi tidur atau makan. Tidak ada tabib yang bisa menyembuhkannya. Ketika sang raja hampir mati seorang rahib datang menemuinya, mengatakan bahwa dia mampu menyembuhkannya hingga tuntas. Namun untuk bisa melakukannya sang rahib membutuhkan organ-lengan dan organ-mata dari seseorang yang telah bebas dari kemarahan. Raja menganggap syarat yang diminta mustahil untuk dipenuhi. Tetapi sang rahib berkata: “Di Gunung Harum, di daerah barat-daya dari wilayah yang dikuasai oleh Yang Mulia, ada seorang dewi welas-asih yang sedang mengembangkan praktik keagamaannya. Jika Paduka mengirim seorang utusan untuk menyampaikan permintaan kepadanya, Yang Mulia dapat mengandalkannya untuk mendapatkan bahan bagi pembuatan ramuan berharga itu.”

 

Sang raja tidak punya pilihan selain memerintahkan pasukan istana untuk pergi dan menyampaikan pesannya. Sesampainya di sana Miao Shan berkata: "Ayahku tidak menunjukkan rasa hormatnya pada Tiga Harta Karun, dan dia menganiaya Doktrin Sejati yang tertindas, tambahan lagi dia mengeksekusi para biarawati yang tidak bersalah. Ini menuntut pembalasan." Kemudian dia dengan senang hati memotong matanya dan lengannya, lalu menyerahkannya kepada utusan itu. Dia memberikan instruksi untuk disampaikan kepada sang raja, agar sang penguasa kembali kepada ajaran yang baik, dan tidak lagi tertipu oleh doktrin palsu. Ketika dua bagian-tubuh yang diminta itu diserahkan kepadanya, sang rahib kemudian mengolahnya menjadi ramuan obat. Sang raja meminumnya dan ajaib!!  Sedikit demi sedikit penyakit yang dideritanya berangsur-angsur lenyap. Dengan murah hati dia menghadiahi tabib-rahib itu emas dan perak. Tetapi rahib itu malah berkata: "Mengapa Paduka berterima kasih kepadaku? Yang Mulia seharusnya berterima kasih kepada orang yang menyediakan organ-lengan dan organ-mata itu." Setelah mengucapkan kata-kata itu sang rahib pergi begitu saja. Raja tersadar bahwa dia baru saja diselamatkan oleh pertolongan dewata. Selanjutnya dia memerintahkan seorang penunjuk jalan, agar membawanya beserta sang permaisuri dan dua puterinya ke Gunung Harum, untuk berterima kasih kepada sang dewi welas-asih itu.

 

Mereka akhirnya bertemu, dan sebelum kata-kata diucapkan, sang permaisuri sudah mengenalinya. Orang yang mereka cari tidak lain adalah Miao Shan. Mereka semua terperanjat, dan air mata membanjiri pipi empat orang itu. Miao Shan berkata: "Apakah Yang Mulia masih mengingat Miao Shan? Mengenang cinta ayahku, aku telah membalasnya dengan lengan dan mataku sendiri." Mendengar kata-katanya, raja dan permaisuri bermaksud memeluknya, dan keduanya menangis tersedu-sedu. Baru saja Permaisuri hendak menjamah wajah puteri bungsunya, namun alamak! Sebelum dia bisa melakukannya, awan keberuntungan segera menyelimuti Gunung Harum, musik surgawi terdengar dari atas langit, bumi berguncang, dan bunga-bunga menghujani mereka. Dan kemudian manifestasi suci dari Sang Dewi dengan Seribu Lengan dan Seribu Mata terungkap dengan jelas, dan dia melayang dengan anggunnya di tengah angkasa. Suara-suara yang menyuarakan welas-asih kembali bergema mengguncang gunung dan lembah. Lalu selang sekejap kemudian, Sang Dewi Welas-asih perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Raja, permaisuri, dan dua saudara perempuan dalam dukacita mereka berlutut dan menyembah sang dewi yang berangsur-angsur lenyap. Selanjutnya mereka membangun sebuah tempat pemujaan untuk mengenang jasa sang dewi welas-asih. Sebagai penghormatan kepada Miao Shan mereka semua mengikuti ajaran luhurnya, yang dijadikan panutan oleh sang puteri bungsu semasa hidupnya.

 

Legenda Puteri Miao Shan di atas menarik minat masyarakat sejak Zaman Kuno. “Gulungan Mestika Gunung Harum” atau "Xiāngshān bǎo juàn atau 香山寶卷", menceritakan bagaimana Puteri Miao Shan yang dipercaya orang sebagai manifestasi dari Bodhisattva Guanyin. Cerita Gulungan Mestika Gunung Harum bermuasal dari Biara Xiangshan (atau Xiāng Shānsì) atau 香山寺 di Rǔ zhōu ( 汝州). Kuil itu adalah tempat pemujaan Guanyin, dan kepala biara yang bernama Huái zhòu atau 懷晝 memberikan tulisan kisah Puteri Miao Shan pada pejabat kota Ruzhou yang bernama Jiǎngzhīqí atau 蔣之奇 (1031-1104), pada masa pemerintahan Dinasti Song Utara (960-1127). Dari situlah Legenda Guanyin sebagai puteri Miao Shan meluas dan menyebar hingga dikenal sampai sekarang. Jika kita merunut kisah itu sejak akhir masa pemerintahan Dinasti Zhou, sampai akhirnya dituliskan dalam manuskrip berbentuk gulungan kertas, diperlukan waktu sekitar 1.400 tahun. Tidak heran jika Anda membacanya dari sumber lain terdapat berbagai variasi dalam jalan ceritanya, walaupun kisah Miao Shan sebagai dewi welas-asih tetaplah serupa.

 

Jika benar bahwa Miao Shan adalah puteri seorang raja lokal di Tiongkok pada abad ke-3 seb.M., jelas pada masa ini agama Buddha belum masuk ke Tiongkok. Dengan demikian kepercayaan dan pemujaan terhadap dewi welas-asih jelas berasal dari agama asli orang Tionghoa itu sendiri. Di lain pihak narasi Guanyin sebagai sesosok bodhisattva, mencapai puncak popularitasnya di Asia Timur antara abad kedua-belas sampai abad kesembilan-belas. Pada saat itu muncul kepercayaan bahwa inkarnasi terakhir Sang Bodhisattva tidak lain Puteri Miao Shan. Hari lahir tanggal 19 bulan kedua, hari mendapatkan Sang Jalan tanggal 19 bulan keenam, dan hari memperoleh Kesempurnaan tanggal 19 bulan kesembilan, semuanya mengacu pada kalender Tionghoa, dirayakan oleh pengikutnya setiap tahun. Boleh dikatakan Guanyin merupakan sosok bodhisattva yang paling dikenal.

 

Membaca legenda Miao Shan, penulis pribadi memiliki pandangan tersendiri. Bukan saja sekali, tetapi dua sampai tiga kali Miao Shan menolak untuk menikah. Padahal sang raja tidak memiliki anak laki-laki dan dia memiliki kepentingan agar keturunannya kelak bisa meneruskan tahtanya. Miao Shan berdiri teguh melawan ayahnya dan lebih radikal lagi dia melawan konvensi, jadi Miao Shan ini seorang pemberontak. Apalagi sang puteri dibesarkan dalam kentalnya budaya berbakti terhadap orang tua dan leluhur, tradisi mana yang lebih dikenal sebagai 孝 atau Xiào atau hàu. Adalah hal yang melegakan pada akhirnya, bahwa Miao Shan benar dan menang. Dalam budaya patriarkhal yang kuat seperti yang dianut dalam masyarakat Tionghoa, adanya Guanyin sebagai sosok dewi welas asih yang dipuja secara luas tentu merupakan hal yang luar biasa.

 

Di penghujung hidupnya pada gunung yang disucikan, Miao Shan selama sembilan tahun bermeditasi, melantunkan mantram, memasuki keadaan mistik secara mendalam. Dia mengasah batin dan tubuhnya, mengembangkan kejernihan pikirannya, menumbuhkan kesadarannya atas saling-kebergantungannya dengan alam semesta, serta memupuk welas-asih tanpa dasar untuk semua makhluk. Seperti yang diceritakan dalam legenda itu, akhirnya dia menjelma menjadi Sang Avalokitesvara berlengan seribu, bermata seribu, bodhisattva yang maha welas-asih. Mendengar bahwa sang raja sangat menderita, dia cukup menawarkan sebuah lengan dan sebuah matanya untuk menyembuhkannya. Dan mengapa lengan dan mata? Sementara Miao Shan, dalam tubuh fisiknya, hanya memiliki dua lengan dan dua mata. Di sinilah misteri ini terungkap, bahwa bukan Miao Shan sebagai manusia fana yang melakukannya, melainkan Sang Bodhisattva Avalokitesvara yang menyerahkan salah satu dari seribu lengan dan seribu mata yang dimilikinya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220323 

 


Rabu, 09 Maret 2022

ABSURDITAS



Pada satu ketika, Sang Buddha sedang berdiam di kota Anupiya yang merupakan tempat bermukimnya suku Mallia. Pada saat yang sama banyak pangeran Sakya yang terkemuka telah meninggalkan kehidupan-berumah menuju kehidupan tanpa-rumah di bawah naungan Yang Terberkahi. Tetapi ada dua orang kakak beradik, Mahānāma dan Anuruddha, putera Sakya yang masih menjalani kehidupan sebagai keluarga raja. Anuruddha tumbuh dewasa dalam keadaan yang menyenangkan. Dia memiliki tiga istana, satu untuk musim panas, satu untuk musim hujan, dan satu untuk musim dingin. Selama empat bulan ia akan dihibur di dalam istana musim hujan oleh para penghibur yang tidak ada seorang lelaki pun diantara mereka, serta selama waktu itu ia tidak pernah beranjak ke istana yang letaknya lebih rendah.

 

Hal ini terjadi pada Mahānāma: "Sekarang banyak pangeran Sakya yang terkemuka telah meninggalkan kehidupan-berumah menuju kehidupan tanpa-rumah di bawah naungan Yang Terberkahi. Adalah baik jika aku pergi menuju kehidupan tanpa-rumah, atau barangkali Anuruddha?"

 

Kemudian ia pergi menemui Anuruddha dan menceritakan apa yang selama ini dipikirkannya. Anuruddha berkata: "Tetapi aku tumbuh dewasa dalam keadaan yang menyenangkan. Aku tidak dapat pergi meninggalkan kehidupan-berumah menuju kehidupan tanpa-rumah. Engkau saja yang sebaiknya pergi ke kehidupan tanpa-rumah."

 

"Ayolah, Anuruddha, aku akan mengajarkanmu kehidupan seorang perumah tangga. Sekarang sawah harus dibajak. Lalu bibit harus ditaburkan. Setelah itu air harus dialirkan ke dalamnya. Kemudian sawah harus dikeringkan. Selanjutnya sawah harus disiangi, lalu tanaman harus dipotong. Setelah itu tanaman harus dikumpulkan, lalu tanaman harus ditumpuk. Selanjutnya tanaman itu harus dirangket, lalu jeraminya disingkirkan. Kemudian gabah harus ditampi. Lalu gabah harus diayak, dan kemudian disimpan di luar. Sekarang ketika semuanya selesai dikerjakan, pekerjaan yang sama harus pula diulang untuk tahun depan, serta untuk tahun yang sesudahnya. Pekerjaan itu tidak akan pernah selesai. Tidak ada akhir dari pekerjaan itu."

 

"Lalu kapankah ada akhir dari pekerjaan itu? Kapan kita punya waktu luang untuk memuaskan lima untaian keinginan-keinginan inderawi yang kita bisa penuhi dan lengkapi dengannya?"

 

"Saudaraku sayang Anuruddha, pekerjaan itu tidak akan pernah selesai. Tidak ada akhir dari pekerjaan itu. Ayah kita dan kakek kita keduanya meninggal selagi mereka melakukan pekerjaan yang masih belum selesai. Jadi sekarang giliran bagimu untuk belajar tentang kehidupan berumah tangga. Aku akan pergi dari kehidupan-berumah ke kehidupan tanpa-rumah."

 

Dialog kakak beradik itu sengaja penulis ambil untuk kita renungkan lebih jauh. Kita petik kalimat di atas : "Sekarang ketika semuanya selesai dikerjakan, pekerjaan yang sama harus pula diulang untuk tahun depan, serta untuk tahun yang sesudahnya. Pekerjaan itu tidak akan pernah selesai. Tidak ada akhir dari pekerjaan itu." Apa itu pekerjaan yang tidak akan pernah selesai? Dalam contoh di atas pekerjaan itu adalah bertani, bercocok tanam, dengan menumbuhkan padi di sawah. Mulai dari membajak sawah sampai didapatkan gabah yang akan disimpan dalam lumbung, inilah yang dinamakan satu siklus bertani-padi, yang akan diulang pada musim atau tahun berikutnya. Kita bisa mengatakan kepada Pak Tani atau Bu Tani, seperti yang dikatakan oleh Mahānāma kepada saudaranya, bahwa pekerjaan itu tidak akan pernah selesai. Tetapi bukankah sebagian besar dari kita juga melakukan hal yang sama di kehidupan modern ini? Para karyawan mulai berangkat pagi hari ke kantor atau pabrik atau unit usaha, lalu di sana mereka disibukkan dengan berbagai pekerjaan yang itu-itu saja, hingga sore hari mereka pulang ke rumah dan beristirahat. Lalu esok hari pekerjaan itu diulangi kembali, dari hari Senin sampai Jumat atau Sabtu. Minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun; dan pekerjaan itu tidak pernah berakhir. Ayah kita dan kakek kita keduanya meninggal selagi mereka melakukan pekerjaan yang masih belum selesai.

 

Penulis ingin mengajak para pembaca untuk memahami dan mendalami gagasan yang dikemukakan oleh Mahānāma di atas. Adalah Albert Camus (7-Nov-1913 – 4-Jan-1960), seorang filsuf, penulis, dan wartawan berkebangsaan Perancis, yang mencetuskan filsafat absurdisme. Albert Camus (dibaca : albɛʁ kamy) sendiri mendapat hadiah Nobel Kesusastraan pada tahun 1957 atas karya-karya tulisnya yang luar biasa. Salah satu bukunya yang akan kita bahas adalah Le Mythe de Sisyphe (1942), atau diindonesiakan sebagai Mitos Sisifus. Siapa gerangan Sisifus itu?

 

Sisifus adalah seorang tokoh dalam mitologi Yunani Kuno, seorang putera Raja Korintus atau Dewa Angin. Diceritakan bahwa Sisifus tidak lain seorang tokoh licik, tamak, dan jahat, yang menciptakan hal-hal yang mengerikan bagi rakyatnya. Tidak sampai di situ saja, Sisifus berkali-kali membangkang terhadap perintah para dewa, serta membuat dosa yang paling besar dengan membocorkan rahasia Dewa Zeus, raja para dewa. Mempertimbangkan bahwa Sisifus terlalu keji untuk disebut sebagai manusia, Dewa Zeus mencampakkan Sisifus dari bumi ini dan melemparkannya ke dunia bawah. Di kerak neraka Sisifus ditugaskan untuk mendorong sebuah batu besar menuju ke atas puncak bukit. Setelah sempat merasakan kelegaan dan kemenangan – karena batu besar itu telah sampai di puncak bukit – batu besar yang goyah di tempat barunya lalu menggelinding ke bawah. Sisifus pun turun kembali ke dasar neraka, mengulangi pekerjaannya mendorong batu besar yang serupa dengan yang sebelumnya, dan setelah sampai di puncak bukit, batu besar itu pun menggelinding kembali ke bawah.

 

Karena dikutuk oleh para dewa dan menuruti obsesinya sendiri, Sisifus bukan hanya mengulang pekerjaan yang tampaknya sia-sia itu dua atau tiga kali, tetapi selamanya. Mengerikan mendengar kisah Sisifus ini sesungguhnya, atau Anda para pembaca punya pendapat yang lain?

 

Sesungguhnya tiada hukuman yang lebih mengerikan daripada suatu "pekerjaan yang sia-sia dan tanpa harapan" (le travail inutile et sans espoir), demikianlah ujar Albert Camus dalam bukunya. Mendorong batu ke atas puncak bukit lalu menyaksikan batu yang sama kembali ke tempatnya semula, serta hal itu dilakukan berulang-ulang tanpa henti, inilah yang dinamakan sebagai "absurd". Dalam bahasa Indonesia pengertian "absurd" antara lain : konyol, yang bukan-bukan, tidak masuk akal, mustahil, lucu, menggelikan.

 

Lalu siapa itu Sisifus? Sisifus adalah kita-kita ini, termasuk saya. Penulis ingat masa sekolah atau saat menuntut ilmu. Bangun pagi-pagi, siap-siap sekolah atau kuliah sampai siang bahkan sore hari, belajar di rumah dan mengerjakan PR hingga malam hari. Selebihnya bermain dan bersosialisasi dengan teman-teman atau sekedar melepas lelah. Meskipun terkadang ada jeda libur panjang, tetapi kewajiban bersekolah tetap dilakukan paling sedikit tujuh-belas tahun lamanya. Setelah lulus kuliah dilanjutkan dengan mencari nafkah seperti yang diceritakan di atas. Jadi sejak masih balita kita sudah mendorong batu kita masing-masing, dan mengulanginya terus-menerus. Oleh karena itu kita sesungguhnya menanggung kutukan Sisifus selama kita hidup.

 

Sesuatu yang tidak dapat disangkal kita punya tujuan yang jelas, entah dalam jangka pendek atau jangka panjang, dan kita akan berjuang untuk mencapainya. Inilah yang dimaksud dengan mendorong batu besar ke puncak bukit. Kemudian setelah kita berhasil sampai di puncak, apa yang akan kita kerjakan? Meraih satu tujuan atau sasaran bukanlah satu akhir, walaupun kita merasa lega untuk sementara dan merasakan kemenangan. Setelah itu kita tidak akan berpangku tangan, karena sifat manusia yang tidak kenal puas. Kita akan memasang target yang lebih tinggi dan tujuan yang lebih jauh lagi. Jadi kita harus turun lagi ke dasar dan mulai mendorong batu yang lain lagi. Lalu setelah giliran batu ini selesai, apakah kita akan berdiam diri? Pasti tidak, dan kita akan mendorong batu yang lain lagi. Lagi dan lagi, hingga kita mati. Inilah yang namanya absurditas.

 

Manusia adalah Sisifus yang memiliki sendiri masing-masing batunya dan memiliki hasrat untuk mendorongnya ke puncak, sampai dia melihat sendiri bahwa batunya menggelinding ke bawah. Lalu mengapa masih ada hasrat untuk mendorongnya kembali ke puncak? Camus menjawab inilah ketidakbermaknaan hidup. Kesadaran bahwa hidup adalah sebuah perjalanan yang harus ditempuh, dan bahwa hidup sejatinya berjalan begitu adanya. Banyak orang menganggap absurdisme Camus terkesan sedih, tanpa harapan, tak-bermakna, dan pesimistis. Namun Camus menolak anggapan itu dengan menyatakan bahwa Sisifus itu sebetulnya bahagia. "Perjuangan menuju puncak itu sendiri, sudah cukup mengisi hati manusia. Orang harus membayangkan Sisifus itu bahagia." (La lutte elle-même vers les sommets suffit à remplir un coeur d’homme; il faut imaginer Sisyphe heureux.)  Jadi Sisifus senang mendorong batu. Memang dalam kenyataannya banyak orang di dunia ini senang mengejar pencapaian duniawi.

 

Mendorong batu adalah hobi Sisifus karena dia senang melakukannya, apakah berarti Sisifus berbahagia? Namun bagi beberapa dari kita pasti merasa lelah terjebak dalam kutukan yang tak-berkesudahan ini. Bukankah tumbuhan atau hewan hidup monoton dengan melakukan kegiatan berulangnya untuk bertumbuh-kembang, bertahan hidup, berkembang biak, dan melestarikan spesiesnya? Absurdisme Sisifus itulah cerminan sebenarnya hidup kita. Kutukan untuk selalu terobsesi mencapai sasaran yang tidak berkesudahan menjangkiti kita semua, dan mendorong batu terus-menerus adalah bentuk penyiksaan yang mengerikan, serta itulah hidup yang kita jalani.

 

“Bagi kebanyakan orang yang berpikir sekarang, tidak ada lagi pertanyaan untuk mendamaikan teologi dengan kenyataan. Namun, tidak banyak yang memiliki keberanian untuk menghadapi fakta dan mengatakan, dengan kaum Eksistensialis, bahwa 'alam semesta itu absurd, karena tidak ada alasan untuk keberadaannya – tidak ada Tuhan yang menciptakannya untuk menyatakan kemuliaanNya atau berfungsi sebagai tempat tinggal – tempat untuk makhluknya – dan karena tidak ada sesuatu pun di dalamnya yang memiliki fungsi khusus untuk dipenuhi. Manusia tidak memiliki takdir atau posisi istimewa, dan bahkan kesadaran, yang ia miliki tentang dirinya sendiri, tidak dapat menyelamatkannya dari absurditas universal semua makhluk ciptaan.' " (Jean-Paul Sartre: A Literary and Political Study, by Philip Thody, 1960)

 

 

Sebelum menutup tulisan ini Penulis ingin menyitir sebuah lagu yang dinyanyikan oleh Andy Lau. Judul lagu yang populer dan liriknya enak didengar berjudul 今生要回家 atau Jīnshēng yào huí jiā. Dalam bahasa Indonesia diterjemahkan sebagai : "Aku ingin pulang dalam hidup ini." Selanjutnya dengan lirik yang sama persis, syair lagu ini diubah menjadi "Sukacita Melafal Amituofo", yang isinya :

 

"Anak-anakku tidak patuh,

Stres menghadapi pekerjaan;

Tidak terhindar kita dari saling-mengelabui dan saling-curiga,

Tidak jelas pula mana yang benar dan yang salah.

 

Marilah menyedu seteko teh,

Lepaskanlah segala beban pikiran;

Dengarkan wejangan guru dengan saksama,

Berhasil dan gagal, untung dan rugi, biarkan saja apa adanya.

 

Buddha Amitabha memanggilku,

Kehidupan manusia singkat dan penuh derita;

Janganlah engkau menyia-nyiakan waktu.

 

Segala sesuatu yang tidak-kekal dan berubah-ubah,

Mesti diikhlaskan dan dilepaskan:

Hati yang suci memekarkan Bunga Teratai,

Ternyata mencerahkan diri sendiri juga mencerahkan orang lain.

 

Tumimbal lahir sungguh mengerikan,

Pada masa kehidupan ini mesti pulang ke Alam Sukhavati;

Mari bersama melafal Amituofo,

Kampung halamanku yang bahagia indah sempurna."

 

 

Jika hidup ini tidak memuaskan, jika hidup ini absurd; mengapa tidak kita ikuti nasihat Mahānāma kepada Anuruddha, untuk pergi meninggalkan hidup-berumah ke kehidupan tanpa-rumah? Lalu bukankah Buddha Amitabha telah memanggil agar kita segera pulang? Kemana? Ya, ke Surga Sukhavati, kampung halaman kita yang bahagia, indah, dan sempurna.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220309 


Rabu, 23 Februari 2022

JAYAPRANA DAN LAYONSARI


 

Pada zaman dahulu kala di sebelah utara Pulau Bali ada sebuah kerajaan kecil yang dinamakan Kerajaan Wanekeling Kalianget. Di sana hiduplah satu keluarga sederhana, terdiri dari suami istri serta tiga anaknya, dua laki-laki dan satu perempuan. Ketika wabah penyakit menyerang kerajaan itu banyak orang tewas, baik dari kalangan kerajaan maupun rakyat jelata. Keluarga itu pun tidak luput dari keganasan wabah, dengan empat orang meninggal dalam tempo singkat dan hanya menyisakan satu orang yang selamat, yakni I Nyoman Jayaprana, si anak bungsu.

 

Raja Kalianget juga merasakan duka yang mendalam atas banyaknya warga yang meninggal, sehingga Raja memutuskan untuk mengunjungi rakyatnya. Sewaktu menjenguk mereka yang tertimba musibah, pandangan Raja tertuju pada Jayaprana yang tengah menangisi kematian kedua orang tua dan kedua saudaranya. Raja merasa iba dan setelah dibujuk olehnya, Jayaprana pun dibawanya pulang ke istana. Karena hidup sebatang kara, Jayaprana memohon agar dapat mengabdikan dirinya pada kerajaan, yang mana permintaan itu disetujui oleh Sang Raja. Meski sudah bekerja di istana, Jayaprana tetap tinggal di rumah peninggalan orang tuanya. Dia seorang abdi yang baik dan sangat rajin. Pagi-pagi sekali dia sudah berangkat ke istana untuk menjalankan tugas-tugasnya, sehingga tidak mengherankan jika dia menjadi abdi kesayangan sang raja.

 

Jayaprana tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan. Dirinya pun menjadi idola dayang-dayang istana. Suatu ketika, Raja Kalianget pun menitahkan Jayaprana untuk memilih seorang di antaranya untuk dijadikan istri. Namun, rupanya Jayaprana lebih memilih untuk mencari calon istri dari luar istana. "Ampun, Baginda. Hamba bukan bermaksud menolak titah Baginda. Hamba ingin menikah, tapi bukan dengan dayang-dayang istana. Jika diperkenankan, izinkanlah hamba mencari calon istri di luar istana ini," kata Jayaprana. "Baiklah Jayaprana, jika itu yang menjadi keinginanmu. Aku pun tidak akan menghalangimu engkau memilih calon istri yang sesuai dengan pilihan hatimu," jawab Raja Kalianget.

Satu hari ketika Jayaprana berjalan-jalan ke pasar di dekat istana, dia melihat para gadis berlalu-lalang di sana. Sekonyong-konyong matanya terpukau pada seorang gadis jelita, yang sedang membantu orang tuanya menjual bunga. Gadis itu mengenakan pakaian yang sederhana dan dia sedang sibuk melayani para pembeli. Dia memiliki paras cantik serta senyum yang manis mempesona. Keelokan gadis itu benar-benar memikat hati Jayaprana. Pandangannya terus diarahkan kepadanya, sementara si gadis cantik yang merasa terus diperhatikan tiba-tiba mengalihkan pandangannya kepada Jayaprana. Sepasang mata pun beradu-pandang seakan saling menyapa dan saling bicara. Walaupun tak ada kata-kata yang terungkap, keduanya berbicara dengan bahasa cinta. Maka ketika Jayaprana melemparkan senyum kepada gadis itu, sang dara pun membalas dengan senyuman manis. Dalam kisaran waktu yang pendek itu, gayung bersambut dan kata pun berjawab. Sang gadis merasa jengah, dan setelah meminta izin dari orang tuanya, dia pun menghilang dari pandangan Jayaprana.

 

Jayaprana segera mencari informasi perihal gadis itu kepada orang-orang di sekitarnya. Gadis itu ternyata bernama Ni Komang Layonsari, puteri Jero Bendesa dari Banjar Sekar. Jayaprana selanjutnya melaporkan kepada Sang Raja bahwa dia telah mendapatkan tambatan hatinya. Mendengar kabar itu, Raja Kalianget pun segera menulis sepucuk surat kepada Jero Bendesa. "Besok pagi-pagi kamu antar surat ini ke rumah orang tua gadis itu," titah Sang Raja. Setelah Jero Bendesa menerima surat lamaran itu, dia kemudian bertanya kepada puterinya. "Bagaimana puteriku, apakah kamu bersedia menikah dengan Jayaprana?" Layonsari hanya tersenyum malu-malu. Walaupun tak terucap sepatah kata dari mulut sang gadis pujaan, namun Jayaprana memahami cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

 

Setelah itu, Jayaprana memohon diri kembali ke istana untuk menyampaikan berita gembira itu kepada Raja Kalianget. Setelah meminta nasihat dari pandita dan penasihatnya, Raja mengumumkan pada segenap hadirin bahwa pada hari Selasa-Legi Wuku Kuningan, sang raja akan menyelenggarakan upacara perkawinan Jayaprana dengan Layonsari. Raja pun memerintahkan kepada segenap perbekel, agar mereka menyiapkan perlengkapan pernikahan yakni untuk upacara dan dekorasinya. Menjelang hari perkawinan semua persiapan sudah selesai dikerjakan secara gotong royong. Di depan gerbang sudah berdiri angkul-angkul yang siap menerima kedatangan tamu, disertai dua buah penjor di kiri-kanannya. Setiap tiang bangunan sudah diselimuti oleh kain-poleng, dan sepasang tedung (payung) yang terbuat dari kain yang elok pun sudah terpasang di kiri kanan pelaminan. Gebogan yang merupakan sesaji berisi aneka buah-buahan pun sudah disiapkan sebagai pelengkap upacara.

 

Saat hari pesta perkawinan itu tiba, Jayaprana bersama para punggawa istana, abdi dalem, dan warga sedesanya menuju ke rumah Jero Bendesa untuk menjemput mempelai perempuan. Setelah melalui berbagai macam upacara di rumah itu, kedua pengantin kemudian diangkut ke istana dengan menggunakan joli. Ketika rombongan pengantin itu tiba di depan istana, kedua mempelai turun dari atas joli untuk memohon doa restu dari Raja Kalianget. Saat kedua mempelai memberi hormat di hadapannya, sang raja hanya membisu. Ia terpana dan terperanjat melihat kecantikan Layonsari.

 

Setelah pesta perkawinan usai dan hingga beberapa lama kemudian, Sri Baginda Paduka Wanekeling Kalianget, lebih banyak berdiam diri dan tidak ingin menerima orang yang ada di sekitarnya. Dia merasa serba salah, makan pun tak enak, tidur pun tak nyenyak. Masih terbayang dengan jelas di hadapannya pasangan Jayaprana dan Layonsari. Yang laki-laki sangat gagah dan tampan dan yang perempuan begitu molek dan amat jelita. "Sungguh keduanya merupakan perwujudan Dewa Semarajaya dan Dewi Semararatih yang baru turun dari kahyangan ke bumi. Betapa bodoh dan teledornya aku! Sang bidadari dari Banjar Sekar, yang hanya sepelemparan batu dari istanaku, selama ini luput dari pengamatanku." Ya, tanpa bisa disembunyikan lagi ternyata sang raja sudah jatuh cinta kepada Layonsari. Demikianlah ketika rasa iri dan dengki sang raja berkelebat sehingga mengaburkan hati dan pikirannya, disusul keinginannya untuk memiliki isteri dari abdinya sendiri!

 

Kemudian sang raja memanggil orang-orang kepercayaannya untuk berembuk. Rasa cintanya pada Layonsari mengalahkan akal sehatnya, padahal sebelumnya dia dikenal sebagai tokoh yang bijaksana. Tanpa malu-malu lagi dia berkata, "jika Layonsari tidak segera menjadi permaisuriku, maka aku akan menjadi gila." Patih yang bernama I Saunggaling memberikan saran, agar raja menitahkan Jayaprana pergi ke Celuk Terima untuk menyelidiki insiden perahu yang hancur, dan kasus orang-orang Bajo yang berburu hewan di Kawasan Pengulan. Rencana ini sebetulnya merupakan siasat untuk menghabisi nyawa Jayaprana, tanpa sepengetahuan orang lain termasuk Layonsari.

 

Setelah mempersiapkan rencana jahat itu hingga matang, beberapa hari kemudian sang raja memanggil Jayaprana agar menghadap ke paseban. Jayaprana pun segera menghadap raja yang teramat dihormatinya. "Ampun, Baginda. Ada apa gerangan hamba diminta untuk menghadap?" tanya Jayaprana. "Ada tugas penting untukmu. Besok pagi engkau didampingi oleh Patih Saunggaling dan sepasukan prajurit, harus berangkat ke Celuk Terima untuk menyelidiki perahu yang kandas, serta mengatasi kekacauan-kekacauan yang terjadi di sana," titah sang raja.

 

Tanpa merasa curiga sedikit pun, sesampainya di rumah Jayaprana menceritakan perintah yang diberikan oleh sang raja. Mendengar kabar itu, Layonsari dengan penuh rasa khawatir berkata kepada suaminya,  "Memang sri baginda raja telah memerintahkan, kakanda harus berangkat untuk menumpas gerombolan pengacau di wilayah yang jauh, namun hati kecilku berkata lain. Adinda tadi malam bermimpi rumah kita dihanyutkan oleh banjir besar dan kita berdua terbawa air bah. Bisakah kakanda Jayaprana membatalkan saja keberangkatan ke Celuk Terima? Bukankah mimpi itu pertanda bahwa kita berdua akan terkena marabahaya?" Sambil sesenggukan menahan tangisnya Layonsari menambahkan: "Tadi sore adinda melihat dan mendengar burung gagak tua berkaok-kaok dekat rumah kita; dan anjing melolong bagaikan melihat ada sesuatu yang seram dimana-mana. Mungkinkah anak buah Dewa Yama sedang mengintai sasarannya. Akankah mereka mencabut nyawa kita berdua?"

 

Jayaprana tersenyum membesarkan hati istrinya Layonsari, "Adinda, kanda tidak takut pada kematian. Kehidupan ini selalu diikuti oleh kematian. Hidup dan mati pun berada di tangan Sang Hyang Widhi Wasa. Seandainya kakanda gugur dalam menjalankan tugas negara, percayalah sukma kita berdua akan bersatu kembali di kehidupan yang akan datang."

 

Pagi harinya Jayaprana pun berangkat ke Celuk Terima, meninggalkan istrinya yang sedang bersedih. Sepanjang perjalanan Jayaprana merasakan firasat yang tidak beres, perasaannya mengatakan bahwa dia akan dibinasakan tapi dia malahan bersikap acuh tak acuh. Sesampainya di tengah hutan Patih Saunggaling dengan sedih dan berat hati menyerahkan sepucuk surat dari sang raja kepada Jayaprana. Surat itu bertuliskan: "Hai engkau Jayaprana; Manusia tidak tahu membalas budi; Berjalanlah engkau ke hutan; Aku menyuruh membunuh engkau; Dosamu sangat besar; Kau melampaui tingkah raja; Istrimu sungguh milik orang besar; Kuambil kujadikan istri raja; Serahkanlah jiwamu sekarang; Janganlah engkau melawan; Layonsari jangan kau kenang; Kuperistri hingga akhir zaman."

 

Jayaprana menangis sesenggukan membaca surat tersebut, lalu dia berkata, "lakukanlah Patih, jika ini memang titah Raja. Hamba siap dicabut nyawanya demi kepentingannya. Dahulu Raja yang merawat dan membesarkan hamba; kini dia pula yang ingin mencabut nyawa hamba." Setelah itu Patih Saunggaling mencabut keris yang berada di pinggangnya, menghunus senjata itu, dan menusukkannya ke ulu hati Jayaprana. Jayaprana pun tewas dengan tubuh bersimbah darah.

 

Jayaprana boleh mati berkalang tanah, tetapi alam pun menangisi kepergiannya. Jasadnya mengeluarkan aroma harum semerbak, dan pohon-pohon di hutan itu pun menggugurkan bunga-bunganya seolah-olah menyatakan rasa dukacita mereka. Para prajurit yang ikut dalam rombongan itu terpana menyaksikan Jayaprana, sahabat setia mereka telah tewas mengenaskan dengan sebuah keris tertancap di tubuhnya. Setelah itu Patih Saunggaling memerintahkan mereka untuk menguburkan jenazah Jayaprana di tempat itu juga. Kemudian di tengah situasi yang mencekam itu, mereka semua diperintahkan untuk kembali ke istana. Mereka berpandangan satu sama lain namun tidak berani berkata sepatah pun; bukankah kepergian mereka semula itu hendak menumpas pemberontakan?

 

Rombongan itu pun segera meninggalkan tempat itu dengan hati sedih dan diliputi rasa penasaran. Ada apa gerangan di balik pembunuhan Jayaprana oleh pimpinan mereka sendiri? Mereka sadar ada kejahatan yang hendak ditutup-tutupi. Seperti yang dikatakan oleh Hyang Buddha, 'Jika manusia berbuat jahat, maka benda langit pun akan melenceng dari orbitnya.' Alam pun murka. Tidak berapa jauh dari tempat itu, seekor harimau putih menerkam Patih Saunggaling dan meninggalkan tubuhnya yang sudah tercabik-cabik. Sang patih pun tewas mengenaskan. Selama kepulangan rombongan itu ada saja kejadian yang menghambat perjalanan mereka. Dua orang mati dipagut ular berbisa, sebagian lagi hanyut terbawa arus sungai, beberapa orang keracunan makanan, dan sebagian lagi tersesat tidak kembali lagi. Dari dua-puluh-empat orang yang turut serta dalam rombongan semula, hanya tersisa tujuh orang yang berhasil selamat.

 

Rombongan yang tersisa pun bergegas ke istana. Namun sebelum sampai ke sana satu di antara mereka kesurupan. Dalam keadaan setengah sadar, orang ini membuka kisah duka Jayaprana. Warga pun gempar mendengar kisah pembunuhan ini, sekaligus mengutuk kebejatan yang dilakukan oleh sang penguasa negeri. Berita duka itu pun sampai ke telinga Layonsari, dan dia pun menangis sejadi-jadinya. Apa yang pernah dikhawatirkan ternyata benar-benar terjadi. Alangkah malangnya sang pengantin baru ini!

 

Setelah menerima kabar tentang kematian Jayaprana dan Saunggaling, keesokan harinya, Raja Kalianget memerintahkan agar Layonsari diundang ke istana. Di hadapan isteri abdinya itu, dia berpura-pura sedih atas kematian Jayaprana. Setelah itu raja mencoba merayu agar Layonsari bersedia menjadi permaisurinya. Namun, Layonsari menolaknya dengan kata-kata halus, "maafkan hamba, Baginda. Hamba belum bisa melupakan suami hamba," jawab Layonsari. Mendengar penolakan itu, raja jahat itu menjadi murka. Dia langsung meraih dan menarik lengan perempuan muda itu agar ikut bersamanya. Layonsari berteriak-teriak dan meronta-ronta dalam dekapan orang yang sangat dibencinya itu. Pada saat yang kritis itulah, Layonsari mencabut keris yang terselip di pinggang sang raja. "Lebih baik hamba mati daripada harus menikah dengan orang yang telah membunuh suamiku,” ucap Layonsari seraya menikam dirinya sendiri dengan keris itu.

 

Raja Kalianget buru-buru mencegah perempuan itu berlaku nekat seperti itu, namun terlambat. Tubuh Layonsari telah tergeletak di lantai bersimbah darah. Melihat Layonsari tengah meregang nyawa, sang raja pun :

 

Tersinggung, cintanya pada seorang gadis desa ditolak mentah-mentah,

Jatuh harga dirinya, dihina perempuan jelata.

Sesal tanpa bisa dicegah, pusaka berharga pun lenyap dalam sekejap;

Kecewa setelah seluruh upaya jahatnya kandas sia-sia.

 

Belum lama sang raja pernah mengungkapkan, "jika Layonsari tidak segera menjadi permaisuriku, maka aku akan menjadi gila." Sungguh ucapan itu seperti doa, dan doanya langsung dikabulkan oleh dewata. Ya Sang Paduka Wanekeling Kalianget benar-benar menjadi gila!! Seketika itu juga dicabutnya keris pusaka yang masih menancap di tubuh Layonsari. Lalu dengan senjata terhunus orang-orang di sekitarnya ditusuk oleh keris bertuah itu satu-per-satu. Dalam sekejap istana pun menjadi ladang pembantaian. Tubuh-tubuh para punggawa dan abdi-istana yang tak-berdosa bergelimpangan tanpa daya memenuhi balairung istana. Dan sang angkara-murka baru usai, setelah sang raja yang gelap mata itu menusukkan kerisnya ke tubuhnya sendiri.

 

Setelah peristiwa tragis itu, warga kerajaan membawa jasad Layonsari untuk ditempatkan di sebelah jasad Jayaprana, agar sepasang kekasih ini dapat selalu bersama. Di tempat kematian Jayaprana kemudian dibangun sebuah monumen tanda cinta mereka, lengkap dengan patung Jayaprana dan Layonsari, serta sebuah tempat pemujaan. Celuk Terima kini ramai dikunjungi dan diziarahi oleh mereka yang merindukan cinta sejati

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220223 

 



Rabu, 09 Februari 2022

ANAGĀRIKA DHARMAPĀLA DAN KEBANGKITAN BUDDHISME DI CEYLON



"Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan." Kutipan preambul Undang-Undang Dasar 1945 itu didasarkan pada kisah hidup para founding father atau pendiri republik kita. Kisah tentang penjajahan lebih banyak menggambarkan betapa kelam dan pahitnya satu bangsa yang terjajah, tanpa memandang penduduk mana yang mengalaminya dan pada zaman kapan penjajahan itu terjadi.

 

Di tenggara anak benua India terdapat pulau permai yang sejak zaman kuno disebut Sailan atau Ceylon. Peradaban negeri pulau ini dikenal sejak abad ke-6 seb.M. sejak Kerajaan Tambapanni berkuasa, dan berdasarkan catatan sejarah penguasa pertama Ceylon adalah Pandukabhaya dari Kerajaan Anuradhapura pada abad ke-4 seb.M. Agama Buddha diperkenalkan oleh Arahant Mahinda (putera dari Kaisar Ashoka) pada abad ke-3 seb.M. Intervensi asing pernah terjadi ketika orang Tamil dari India Selatan menginvasi Ceylon pada abad ketiga. Kemudian Portugis menaklukkan sebagian besar pulau itu pada akhir abad ke-16. Sedikit lebih dari satu abad kemudian, giliran Belanda mengalahkan Portugis di Eropa dan negeri kincir angin ini ganti menduduki Ceylon. Selanjutnya Belanda ditaklukkan oleh Imperium Britania dan Ceylon dijadikan koloni mahkotanya pada 1798, serta seluruh pulau dikuasai Inggris tahun 1815, sekaligus menandai berakhirnya garis kuno raja-raja Sinhala yang selama hampir 2.500 tahun menguasai Ceylon. Imperialis Inggris kemudian mendirikan perkebunan karet, teh, dan kopi; juga memperkenalkan sekolah misionaris dan perguruan tinggi kepada rakyat Ceylon.

 

Prospek warga asli Sinhala (Penulis memakai istilah "Sinhala" untuk merujuk pada etnis, budaya, dan bahasa mayoritas orang Ceylon), serta masyarakat minoritas Tamil di pertengahan abad ke-19 untuk maju memang gelap. Kondisi warga asli Ceylon sendiri bercirikan masyarakat feodal setelah berabad-abad dipimpin oleh beberapa kerajaan. Masyarakatnya hanya menyisihkan segelintir golongan ningrat dan pengusaha, serta mayoritas sisanya rakyat jelata. Mereka kebanyakan tidak berpendidikan dan menganut agama Buddha dan Hindu. Gelombang invasi Portugis, Belanda, dan Inggris yang berturut-turut telah menyapu banyak budaya tradisional negara itu. Para misionaris telah turun ke Mutiara Samudera Hindia itu seperti awan belalang. Sekolah-sekolah Kristen dari setiap denominasi yang mungkin telah dibuka, di mana anak laki-laki dan perempuan Buddhis dan Hindu dijejali dengan teks-teks Alkitab dan diajarkan untuk malu terhadap agama mereka, budaya mereka, bahasa mereka, ras mereka, dan warna kulit mereka.

 

Di seluruh wilayah di bawah pendudukan Belanda, warga pribumi telah dipaksa untuk menyatakan diri mereka sebagai orang Barat dengan nama kebarat-baratan atau kekristenan, dan selama periode pemerintahan Inggris hukum ini diberlakukan selama tujuh puluh tahun, yang baru disudahi pada tahun 1884. Pada saat itu mayoritas dari mereka malu atau takut untuk menyatakan diri mereka Buddhis, dan hanya di desa-desa di pedalaman, Dhamma Sang Bhagavā masih menyisakan popularitas dan kejayaan dari zaman silam. Meskipun demikian di sini pun mereka tidak bebas dari serangan para katekis, yang siap merekrut antek-antek penjajah dengan upah dua-puluh rupee sebulan, yang siap berkampanye mengolok-olok serta menghina budaya dan agama nenek moyang mereka. Anggota Sangha, dengan beberapa pengecualian, secara intelektual dan spiritual hampir mati, disiplin monastik lemah, dan praktik meditasi telah diabaikan dan dilupakan orang. Bagi mereka dari ras Sinhala yang benar-benar mencintai Buddha, Dhamma, dan Sangha, serta kenangan manis selama lebih dari dua-puluh abad yang gemilang; mereka sepertinya ditakdirkan untuk "dibuang seperti sampah ke dalam kehampaan dan disapu ke perairan biru Laut Arab" oleh legiun penjajah yang militan. Akankah harkat dan harga diri mereka bisa terangkat ke posisi, yang bahkan lebih tinggi daripada posisi mereka sekarang?

 

Di antara beberapa keluarga kaya yang masih berdiri teguh dan tanpa rasa takut menganut kepercayaan leluhur mereka adalah keluarga Hewavitarne dari Matara di Ceylon Selatan. Hewavitarne Dingiri Appuhamy, anggota pertama dari keluarga ini termasuk dalam kelas goigama atau kultivator yang agung dan dihormati. Dia memiliki dua putera, dan keduanya menunjukkan pengabdian yang sama pada Dhamma seperti ayah mereka. Salah satu dari mereka menjadi seorang bhikkhu yang dikenal sebagai Hittatiye Atthadassi Thera dan yang kedua adalah Don Carolis Hewavitarne. Sang adik bermigrasi ke Kolombo dan mendirikan bisnis manufaktur furnitur di daerah Pettah. Di sana dia menikahi Mallikā Dharmagunawardene, anak perempuan Andris Perera, saudagar terkaya di Ceylon saat itu.

 

Setiap pagi sebelum matahari terbit, pengantin muda yang baru melepaskan masa remajanya, akan mempersembahkan sebaki bunga vihara berkelopak-lima yang harum bersama dengan lampu minyak-kelapa dan dupa, di kaki patung Buddha di cetiya keluarga. Keduanya berdoa kepada para dewa agar Mallikā bisa melahirkan seorang putera yang akan menyalakan kembali pelita-Dhamma di tanah yang gelap. Mallikā, sangat menginginkan seorang putera, dan ketika mereka tahu bahwa seorang anak akan lahir bagi mereka, kegembiraan mereka pun meluap-luap. Saat waktunya semakin dekat, para bhikkhu diundang ke rumah, dan pada malam bulan purnama selama tiga bulan berturut-turut, atmosfer tempat tinggal mereka dipenuhi dengan getaran teks-teks suci Pali, yang didaraskan dari senja hingga fajar. Kemudian, pada malam 17 September 1864, di distrik Pettah, Kolombo, tempat budaya dan agama nasional telah jatuh ke tingkat kemerosotan terendah, lahirlah seorang anak laki-laki yang diberi nama David Hewavitarne muda.

 

David, demikian panggilannya, tumbuh dalam suasana kesalehan tradisional Sinhala. Setiap hari, pagi dan sore, ia akan berlutut di cetiya bersama ayah dan ibunya, berlindung pada Sang Tiga Permata dan berjanji untuk menjalankan Lima Sila, seraya melantunkan syair-syair pemujaan yang pernah dilakukan pula oleh jutaan leluhurnya selama abad-abad yang telah lewat. Penerapan praktis Dhamma juga tidak dilupakan, karena dengan manis dan masuk akal ibunya akan menunjukkan kepadanya setiap pelanggaran sila, dan dengan lembut menegurnya agar mematuhi semuanya dengan cermat. Kehidupan seperti itulah yang ditanamkan kepada David cilik, yang mungkin diragukan kelayakannya untuk membesarkan anak-anak Buddhis dalam suasana tradisional. Tanpa pelatihan agama awal itu, David Hewavitarne muda mungkin telah tumbuh dengan mengenakan topi dan celana panjang, berbicara bahasa Inggris kepada keluarganya dan bahasa Sinhala kepada para pelayannya, seperti ribuan orang sezamannya.

 

Setelah David berumur lima tahun dia dimasukkan ke Sekolah Sinhala, tempat dia mempelajari bahasa dan budaya leluhurnya. Bahkan ketika berumur sembilan tahun ayahnya mengantarkan ke penahbisan praktik brahmacarya yang mengajarkan para siswanya mengikuti hidup kepetapaan. David muda juga dikirim ke sekolah misionaris untuk pendidikan dasar dan menengah, yaitu ke Sekolah Anglikan Saint Benedictus dan kemudian Kolese Saint Thomas. Masuk institusi ini nilai-nilai Kekristenan ditekankan dan pelajaran agama serta kehadiran di gereja diharuskan. David yang sejak kanak-kanak dididik seperti pribumi Sinhala sekarang harus menuntut ilmu di sekolah yang diasuh oleh kaum penjajah, dampaknya tentu bisa diterka akan seperti apa. Anda mungkin pernah membaca cerita tentang Mahatma Gandhi sebagai seorang mahasiswa yang dipandang rendah oleh salah satu dosennya, Profesor Peters dari College of London. Sang profesor yang merasa dirinya superior memandang mahasiswanya dengan hina dan malahan menyindirnya sebagai "babi". Di Kolose sekolah menengah itu pemimpinnya adalah Warden Miller, yang terkenal keras dan disiplin. Sekali waktu David yang sudah remaja meminta izin untuk pulang ke rumah guna beribadah memperingati hari Waisak di rumahnya. Tercengang atas permintaan siswanya yang kurus kering itu, Miller melarangnya dan Institusi sekolah itu tidak mengakui perayaan keagamaan kafir seperti itu. Sang pemberontak David tidak mematuhi larangannya dan dengan membawa payung serta bukunya dia pun membolos. Keesokan harinya David pun mendapat hukuman caci maki dan beberapa pukulan rotan di kakinya di hadapan teman sekelasnya. Tetapi si pemberontak itu tidak kapok, karena di tahun berikutnya dia mengulangi pembangkangan itu.

 

Setiap hari dalam perjalanannya ke Kolese David biasa melewati Kuil Kotahena. Kepala biaranya adalah Megettuvatte Guṇānanda, orator dan pendebat terbesar Ceylon di zaman modern. Pada Sabtu malam, selama dekade 70-an hingga awal 80-an di abad ke-19, tempat itu akan dipenuhi umat. Pada saat itu orator yang kharismatik itu akan menyerang doktrin penciptaan sambil menguji nalar orang Ceylon, lalu lain kali kritiknya mengarah pada kepercayaan jiwa individu yang kekal, dan dogma-dogma yang diajarkan oleh para misionaris. Merasa kuping mereka panas, para misionaris bertekad membungkam antagonis yang begitu tangguh itu, sekali dan untuk selamanya. Akhirnya pada tahun 1873 diadakan pertemuan publik besar-besaran di Pānadura, sebuah lokasi dekat Kolombo, dan Guṇānanda ditantang untuk bertemu dalam debat terbuka. Sendirian tetapi tidak gentar, ia menghadapi kesatuan kekuatan ortodoksi Kristen, dan begitu mengesankan kefasihannya, begitu kuat argumen dan alasannya, sehingga Debat Pānadura, yang semula dimaksudkan untuk mendiskreditkan penganut Buddhis, malah membunyikan lonceng kematian pengaruh Nasrani di negeri Ceylon. Dampaknya, tidak pernah lagi dogmatisme Katolik atau Protestan berani bersilangan dengan kebijaksanaan Buddhis. Anda para pembaca yang berminat mengetahui isi perdebatan itu dapat mencarinya di internet dengan kata kunci: "Panadura Debate".

 

Pada bulan Maret 1878 kerusuhan terjadi ketika prosesi Buddhis yang sedang melakukan arak-arakan keagamaan melewati Gereja St. Lucia di Kotahena. Prosesi damai itu tiba-tiba diserang secara brutal oleh massa yang datang dari gereja tersebut. Ayah David yang marah tidak lagi mengizinkan anaknya belajar di sekolah Anglikan, meskipun David belum lulus. Anehnya pada saat ke luar dari sekolahnya, Warden Miller memberinya sertifikat yang sangat baik; mungkin dia kagum atas kejujuran anak didiknya itu. Beberapa bulan berikutnya David menghabiskan waktunya dengan penuh semangat melahap buku-buku di Perpustakaan Pettah, tempat dia menjadi anggotanya. Meskipun David putus sekolah, anak ini sudah nampak kejeniusannya. Dia mampu menghafal separuh isi Alkitab, menguasai bahasa Inggris dengan sangat baik, dan pandai menulis. Minat studinya pun sangat luas meliputi etika, filsafat, psikologi, biografi, dan sejarah.

 

Seperti yang disebutkan sebelumnya, kakek David dari pihak ibu, Andris Perera jauh sebelumnya telah menyumbangkan sebidang tanah di Maligakanda, yang di atasnya kelak didirikan Vidyodaya Pirivena atau perguruan tinggi monastik Buddhis pertama di Ceylon, dan membawa seorang bhikkhu dari desa terpencil Hikkaduwa untuk menjadi rektornya. Bhikkhu kepala yang sangat terpelajar ini kelak menjadi orang terkenal di Ceylon dengan nama Hikkaduwa Siri Sumaṅgala Mahā Nāyaka Thera. Di bawah asuhan Siri Sumaṅgala dan Guṇānanda, David pun memperluas cakrawala pengetahuannya. Berlawanan dengan keinginan ayahnya namun sejalan dengan aspirasi ibunya, David tidak berniat meneruskan usaha dagang keluarganya. Menjelang usia kedewasaannya dia sangat terkesan dengan gaya hidup kedua gurunya itu. Tidak ingin menikah tapi juga tidak berminat untuk menjadi biarawan. David pun mengambil ketetapan untuk tetap berselibat, melaksanakan delapan sila dalam kesehariannya, memakai jubah layaknya seorang bhikkhu tetapi dia tidak mencukur rambutnya. Orang kemudian mengenalnya sebagai Anagārika Dharmapāla, dengan "Dharmapāla" diartikan sebagai "Pengawal Dharma."

 

Dampak dari perdebatan bersejarah di Pānadura ternyata lebih besar daripada yang pernah dibayangkan oleh Guṇānanda, dan pastilah sangat mengejutkan dan menyenangkan bagi umat Buddha di Ceylon. Beberapa tahun kemudian, dia menerima surat dari seorang kolonel Amerika dan seorang wanita bangsawan Rusia yang menyatakan kepuasan atas kemenangannya, dan memperkenalkan dia dengan pembentukan Theosophical Society di New York pada tahun 1875. Dengan surat itu datang pula dua bundel besar makalah berjudul Isis Unveiled. Guṇānanda segera mengadakan korespondensi reguler dengan dua simpatisan asing tersebut, serta dia mulai menerjemahkan surat-surat mereka, kemudian menerbitkan makalah itu kembali ke dalam bahasa Sinhala.

 

David Hewavitarne termasuk di antara mereka yang melompat kegirangan setelah mendengar sokongan yang tak terduga ini, dan pada tahun 1879 penantiannya terpuaskan setelah mendengar kabar gembira dari gurunya. Pendiri Theosophical Society telah tiba di Mumbai dan bahwa mereka akan segera datang ke Ceylon untuk membantu kebangkitan Buddhisme. Mei 1880, kedua pendiri akhirnya tiba di Ceylon dari India. Setelah berabad-abad penganiayaan dan penindasan Barat, umat Buddha di Ceylon hampir tidak percaya bahwa Kolonel Olcott orang Amerika yang bermartabat itu, dengan janggut abu-abu, dahi yang tinggi, hidung bengkok, dan mata biru yang cerdas, serta Mme. Blavatsky, Wanita Rusia dengan jari-jarinya yang bercincin, pipi besar, dan tatapan yang menghipnotis. Merupakan hal yang luar biasa ada anggota ras kulit putih yang berkuasa, datang ke Ceylon bukan untuk menyerang Dhamma, seperti yang telah dilakukan ribuan misionaris, tetapi untuk membela dan mendukung mereka. Bahwa mereka datang bukan sebagai musuh atau penakluk, tetapi sebagai sahabat dan saudara. Puncaknya pada 21 Mei yang tak terlupakan itu, ribuan umat Buddha berbondong-bondong dari desa-desa sekitar ke Galle, dan melihat keduanya berlutut di depan Siri Sumaṅgala. Mereka mendengar keduanya mengucapkan ikrar Tiga Perlindungan dan Lima Sila, hal yang belum pernah dilakukan orang Barat sebelumnya.

 

Penindasan terhadap warga terjajah pun berangsur-angsur pudar, setelah Kol. Olcott membuat representasi kepada Sekretaris Negara untuk Koloni di London, hukum bahwa penduduk lokal menjadi orang Kristen dibatalkan pada tahun 1884. David pun giat membantu Olcott membuka banyak sekolah Buddhis di Ceylon. David dengan keahliannya sebagai penulis dan wartawan menjadi penerjemah untuk buku panduan Buddhis yang ditulis oleh Olcott. Keduanya pun mencari dana untuk membiayai kebangkitan atau kelahiran agama Buddha di Ceylon. Tentu menarik untuk mencari tahu apa itu Thesophical Society, misi dan sumbangsihnya untuk rakyat Ceylon. David yang kelak dikenal sebagai Anagārika Dharmapāla masih berkiprah membangkitkan kembali Buddhisme di tanah asalnya yakni di India, dan kemudian memperkenalkannya ke dunia barat. Kita akan membahas Theosophical Society ini serta kiprah Sang Pengawal Dharma ini dalam artikel yang akan datang.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220209