Rabu, 02 Juni 2021

DUPA



Anāthapiṇḍika, seorang umat awam yang belakangan dikenal sebagai penyokong utama Sang Buddha, sekali waktu berpesan kepada puteranya, "Seorang Buddha telah lahir di dunia ini dan orang banyak pergi berbondong-bondong mengunjunginya. Mereka ingin menghormatinya sambil membawa bunga dan dupa. Mengapa engkau malahan acuh tak acuh dengan tidak mempedulikan anjuran ayahmu?"

 

Teguran yang diberikan oleh sang hartawan yang mungkin terbilang orang paling kaya, seorang crazy rich menurut istilah yang populer saat ini, tentu bukanlah ungkapan kosong yang ke luar dari mulutnya begitu saja. Anāthapiṇḍika menghadiahkan Sangha Bhikkhu sebuah kompleks vihara yang besar dan lengkap di kota kelahirannya Sāvatthī. Kompleks vihara itu dinamakan Taman Jeta, dikenal sebelumnya sebagai taman nan permai, yang kemudian direnovasi dan dilengkapi dengan berbagai sarana yang bisa menunjang kehidupan kepetapaan secara masal.

 

Anāthapiṇḍika sendiri dikenal amat dermawan dan murah hati. Jika Sang Buddha sedang bermukim di Taman Jeta, dia menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana dua kali sehari. Dan setiap kali berkunjung ada saja barang yang dibawanya, yang semuanya itu dipersembahkan kepada Sang Buddha dan bhikkhu-bhikkhu lainnya.

 

Bukan hanya Anāthapiṇḍika, umat awam lainnya yang telah lama mengenal Sang Buddha atau pun mereka yang baru berkunjung ke sana, biasanya tidak datang dengan tangan kosong. Kebiasaan bertandang ke rumah orang dengan membawa satu barang persembahan, yang mungkin akan diterima dengan rasa syukur oleh tuan rumah, bukan hanya terjadi di zaman kuno saja. Katakanlah kita berkunjung ke rumah saudara, famili, atau kerabat kita, adalah lebih afdol jika kita membawa barang yang bisa bermanfaat untuk orang yang kita kunjungi. Persembahan itu seyogianya dilandasi oleh keinginan berbagi kepada sesama dan didasari pada ketulusan hati kita.

 

Sang Buddha sendiri tidak selalu tinggal di Sāvatthī, seperti yang kita ketahui dari kisah hidupnya, Beliau mengembara ke banyak negeri di India. Ketiadaan Sang Buddha di Taman Jeta membuat Anāthapiṇḍika merasa kehilangan peluang untuk menyatakan rasa bakti kepada gurunya. Pada satu hari dia menyatakan kepada Y.M. Ānanda, perihal keinginannya untuk membuat sebuah obyek pemujaan yang dapat mewakili keberadaan gurunya. Setelah keinginannya disampaikan kepada Sang Buddha; Yang Tercerahkan memberikan beberapa pilihan obyek pemujaan, antara lain sisa perabuan jenazahnya, barang yang pernah dipakai oleh beliau, dan tempat suci berkaitan dengan episode terpenting dalam kehidupan sang guru. Dari pilihan yang diberikan, yang paling cocok untuk dijadikan monumen-peringatan adalah pohon Bodhi, yang pernah berjasa melindungi Sang Bodhisattva hingga dia mencapai Pencerahan Agung. Dengan bantuan Y.M. Moggallāna, satu anakan-pohon Bodhi yang berasal dari pohon induk di Uruvela diambil dan dibawa untuk ditanam di Taman Jeta oleh Anāthapiṇḍika sendiri. Anakan-pohon itu tumbuh subur dan selanjutnya dijadikan sebagai obyek pengabdian bagi umat yang saleh.

 

Pohon itu kemudian dijadikan monumen suci yang dihormati umat. Jika Sang Guru tidak berada di tempat, barang persembahan seperti dupa dan bunga-bunga diletakkan di bawah pohon itu. Tentu menjadi pertanyaan bagi Anda sekalian, mengapa harus dupa dan bunga yang dibawa umat? Selain makanan, obat-obatan, dan sesekali kain untuk para bhikkhu, tidak terdapat barang yang pantas untuk dihadiahkan kepada tokoh atau guru spiritual yang dihormati oleh mereka, sesuai dengan adab kesopanan zaman itu. Bunga-bunga beraneka jenis yang dipilih dan dirangkai sedemikian elok, bukan saja pantas dijadikan hadiah bagi seseorang yang dihormati pada zaman kuno, tetapi tradisi itu juga berlanjut hingga ke masa kini yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan penemuan baru yang tidak ada habis-habisnya. Kita semua tahu ungkapan rasa syukur dan terima kasih diwujudkan dalam bentuk rangkaian-bunga. Ulang tahun dan perkawinan lazim memanfaatkan bunga; ada orang yang meninggal dipakai bunga untuk mengungkapkan dukacita; pasangan yang sedang jatuh cinta menggunakan bunga untuk mengungkapkan perasaan mereka. Jika bunga dimanfaatkan sebagai benda persembahan, bagaimana halnya dengan dupa?

 

Persembahan dupa berasal dari kebiasaan manusia zaman kuno yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi ini. Mempersembahkan dupa kemudian membakarnya mungkin merupakan ungkapan penghormatan dan pemujaan yang paling penting, yang dapat kita gambarkan. Penghormatan dan pemujaan kepada siapa? Kepada para Dewa dan Dewi, sebelumnya juga merupakan ungkapan pengabdian terhadap otoritas dan kesucian sosok penguasa alam. Mempersembahkan dupa pada masa itu juga bukan pekerjaan yang mudah, karena dibutuhkan persiapan yang memadai. Dupa yang digunakan masih berupa potongan, serpihan, atau bubuk yang berasal dari tanaman tertentu; serta tidak bisa terbakar dengan mudah. Agar bisa terbakar dan menghasilkan asap dan aroma yang wangi, dupa jenis ini dibakar di atas bara api. Jadi sebuah tempat pembakaran yakni sebuah anglo atau tungku kecil mutlak disediakan terlebih dahulu. Anglo ini biasanya terbuat dari tembikar atau logam. Lalu membuat api di zaman kuno juga bukan perkara mudah. Batu-api digesek, dipuntir, atau dipukulkan sehingga tercipta percikan api kecil, yang diumpankan pada serat-kapuk atau sejumput bulu yang mudah terbakar. Begitu api kecil menyala, daun-daun kering diumpankan lagi sehingga api mulai berkobar, lalu ranting-ranting kering ditambahkan sampai menjadi arang. Nah, setelah arang membara dengan stabil baru ditambahkan dupa di atasnya.

 

Membakar dupa memiliki pula dimensi keyakinan yang lain bagi mereka yang melakukannya. Dengan bantuan api ada nilai penyucian simbolik yang rumit, yang biasa dilakukan oleh praktik kepercayaan domestik. Menurut kepercayaan Veda di India, Yajñá yang bermakna kurban, atau persembahan, atau pemujaan, dilangsungkan melalui satu upacara di depan api suci, yang biasanya disertai pula dengan pembacaan mantra. Adapun yang menjadi barang persembahan antara lain ghee, susu, bijih-bijihan, dan penganan. Dalam tradisi orang Tionghoa, persembahan kertas-uang dan replika barang kebutuhan sehari-hari yang terbuat dari kertas, yang mana lazimnya persembahan ini dituntaskan dengan membakarnya pada akhir upacara.

 

Berbakti, bersembahyang, serta memuja dewa dan dewi adalah tradisi manusia yang sudah berlangsung sejak zaman prasejarah di berbagai belahan bumi. Ratusan tahun sebelum abad pertama Masehi, politheisme yang dianut oleh bangsa-bangsa di Eropa, menyerupai apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain di Dunia Timur. Ketika mereka bersembahyang kepada para dewa yang mereka yakini, orang-orang Viking misalnya memberikan persembahan berupa roti, daging, bawang, susu, madu, dan bir. Seorang kaisar Romawi bernama Numa, yang berkuasa pada masa awal kekaisaran yang terkenal karena kesalehannya, menetapkan apa saja yang pantas dipersembahkan kepada para dewata. Diantara persembahan yang disarankan antara lain roti, kue kurban yang disiapkan secara khusus dan dimaniskan dengan madu, anggur, susu, bunga, dan rempah-rempah lokal. Sebagai pelengkap orang melakukan persembahan dupa, dengan cara meletakkannya di atas arang yang terbakar, seperti yang biasa dilakukan untuk membakar dupa di dunia kuno.

 

Sekarang apa itu dupa yang dikenal sejak ribuan tahun yang lalu? Dupa wangi itu berasal dari frankincense dan myrrh. Frankincense menurut kamus bahasa Indonesia adalah "kemenyan", yang diperoleh dari getah tanaman Boswellia. Sedangkan myrrh diterjemahkan sebagai "mur", yang mirip dengan bunyi aslinya, berasal dari getah pohon Commiphora. Mur sudah dikenal sejak masa yang lebih tua, yakni dipergunakan untuk membalsem jenazah para firaun di zaman Mesir Kuno. Pohon boswellia dan commiphora merupakan tumbuhan yang bisa berkembang di ekosistem tandus di benua Afrika bagian timur dan Semenanjung Arab. Jejak kedua produk wewangian itu melekat erat pada kota kuno Petra di Yordania, dan referensi kota ini disebutkan pula dalam Alkitab. Sekarang bagaimana ceritanya, kemenyan dan mur bisa didapatkan di Eropa pada masa itu? Menurut Mclaughlin, Kekaisaran Romawi atau Imperium Romanum sejak mulai berkuasa, telah melakukan perdagangan lewat laut dengan para saudagar dari Semenanjung Arab (Rome and the Distant East: Trade Routes to the Ancient Lands of Arabia, India and China, Continuum Books), dan mereka membeli komoditi wewangian ini dari mereka.

 

Bagaimana mendapatkan kemenyan dari pohon boswellia? Tidak semua dari 550 spesies Burseraceae yang ada dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan produk wewangian ini.  Hanya ada enam jenis yang bisa diambil getahnya pada pohon-pohon yang terdapat di Ethiopia. Untuk mengambil getahnya, bagian batang pohon ini dilukai, sama halnya dengan metode menyadap pohon karet. Setelah batang pohon terluka, pohon akan mengeluarkan getahnya, dan lama-kelamaan getah ini akan mengkristal. Kristal yang terjadi bisa dipanen lima-belas hari kemudian dan produk ini sekarang dinamakan sebagai resin. Resin yang berbentuk butiran ini kemudian disortir menurut mutunya, dengan kelas-A sebagai kemenyan yang terbaik, dengan kandungan ketidakmurnian yang paling sedikit. Pohon-pohon kemenyan ini sekarang dalam kondisi mengkhawatirkan. Pohon yang sudah tua mengalami eksploitasi-berlebihan dan anakan pohon susah didapatkan, karena spesies ini sulit untuk dibudidayakan.

 

Tidak hanya kemenyan dan mur yang bisa dijadikan dupa. Di daerah Ghat di India dan di kepulauan Nusa Tenggara banyak ditemukan pohon Cendana. Kayunya bisa dijadikan mebel yang keharumannya bisa bertahan hingga puluhan tahun, dan bagian kayu lainnya dimanfaatkan sebagai bahan dupa. Dengan semakin berkembangnya pengetahuan tentang cara mengolah produk wewangian, semakin banyak bahan yang dapat dicampur dalam pembuatan dupa. Selain cendana, digunakan pula kayu dan kulit-kayu aromatik lainnya, biji-bijian, akar, dan bunga. Rempah-rempah pun ikut dimanfaatkan seperti kapulaga, kayu manis, jahe, jintan, daun salam, rosemary, thyme, kunyit, dan lain-lain. Produk wewangian yang dihasilkan pun semakin besar hingga mencapai miliaran dolar per tahunnya. Sekarang bahan baku aromatik ini bukan saja memasok industri pembuatan dupa, tetapi juga industri minyak-wangi atau parfum, dan industri farmasi.

 

Lambat laun terjadi perkembangan dalam pembuatan dupa. Seperti yang disebutkan di atas, dupa zaman kuno berbentuk serpihan, butiran, atau bubuk yang harus dibakar di atas bara api. Agar dupa bisa menyala sendiri maka bahan utamanya mesti dicampur dengan serbuk kayu yang mudah terbakar, serta adonannya dicampur dengan resin yang berasal dari damar supaya bisa dicetak. Bahan utama terdiri dari beberapa bahan yang digiling dan dicampur, sehingga membentuk masala atau bubuk bahan dasar. Dupa di India dinamakan dhoop atau agarbatti, bisa diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang dibentuk kerucut agar mudah disulut ujungnya dan diletakkan di atas altar; atau dibentuk memanjang dengan batang bambu, dan kita mengenalnya sebagai hio.

 

Sepanjang yang diketahui, pengetahuan tertua tentang dupa bisa dirunut dari Kitab Veda, khususnya, Atharva-Veda dan Rg-Veda, yang menetapkan dan mendorong metode pembuatan dupa yang seragam. Sedangkan pembuatan dupa yang terorganisir kemungkinan besar diciptakan oleh para brahmana, dengan berpegang pada sistem medis Ayurveda. Sekitar abad ke-3 M, sekelompok bhikshu Buddha yang mengembara sampai jauh ke Tiongkok, membawa contoh dupa dari India dan memperkenalkan cara pembuatannya. Sejak saat itu dupa atau hio mulai digunakan dalam upacara keagamaan, bukan saja untuk upacara agama Buddha tetapi juga untuk persembahyangan agama orang Tionghoa. Kayu cendana dan rempah-rempah untuk bahan dupa masih didatangkan dari India dan negara-negara lain.

 

Di Indonesia, penggunaan dupa untuk upacara keagamaan diyakini sudah mulai diperkenalkan sejak masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan Sumatera. Sedangkan dupa dalam bentuk hio diperkenalkan oleh migran Tionghoa yang datang ke Kepulauan Indonesia. Setelah menetap di Nusantara mereka mendirikan bio, dan sejak adanya rumah ibadah itu penggunaan hio menjadi semakin marak. Sekarang ini industri pembuatan hio di Tanah Air dikuasai oleh pabrikan yang sudah bergelut di industri ini sejak puluhan tahun yang lalu. Namun ada penguasa yang memproduksi hio secara musiman contohnya yang dilakukan di Tangerang, guna mengisi pasokan dupa menjelang sembahyang Tahun Baru Imlek atau Ceng Beng. Salah satu ciri yang membedakan hio buatan masa kini dengan hio zaman baheula, tidak lain harga jualnya yang semakin murah. Hal ini disebabkan hio zaman kita lebih banyak menggunakan bahan aromatik sintetis atau kimiawi, ketimbang bahan aromatik alami.

 

Penggunaan hio di rumah ibadah yang berlebihan kerap dikeluhkan, karena asap yang dikeluarkan mengandung gas yang bersifat karsinogenik, yang bisa memicu penyakit kanker. Anda yang terbiasa mengadakan pujabakti di rumah, sambil membaca paritta atau keng, atau berlatih meditasi tidak perlu khawatir. Pastikan cetiya atau ruang ibadah di tempat Anda memiliki ventilasi yang baik. Bakarlah dupa secukupnya saja, atau cukup satu buah atau satu batang saja. Pilihlah dupa yang berkualitas baik dan sudah dikenal mereknya meskipun harganya lebih mahal. Bagi yang suka menggunakan produk India, pilihlah Chandan Dhoop yang kandungan cendananya lebih banyak. Pemasangan dupa juga disarankan karena asapnya mampu mengusir nyamuk dan keharumannya mampu meningkatkan konsentrasi.

 

Tulisan ini kami tutup dengan menjawab pernyataan orang awam, yang menyebutkan penggunaan hio adalah keharusan dalam memanjatkan doa dan pengharapan, agar didengar oleh para dewa dan dewi. Menurut Carmelo Cannarella, peneliti kontemporer yang menekuni kepercayaan Dewa-dewa Romawi, menulis perihal praktik sembahyang dengan membakar dupa: "Asap dupa yang membumbung ke langit pada dasarnya adalah suatu peninggian, suatu tindakan transendensi, satu momen keterhubungan diantara matra Manusia dengan dimensi Dewa Surgawi: terkoneksinya Bumi dan Langit. Dalam esensinya, perbuatan membakar dupa dengan dihasilkannya tiang kecil asap-wangi, secara material menggambarkan sebuah "poros" yang mampu merealisasikan satu pergerakan ke atas. Spiral asap dupa ini mewakili satu pernyataan pendakian langsung ke surga, sama halnya dengan menaiki tangga-spiral. Dengan demikian spiral asap ini secara simbolis merupakan satu lorong yang menghubungkan hierarki berbagai alam kehidupan, atau mewakili derajat Eksistensi Semesta."

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210602


Kamis, 20 Mei 2021

KELAHIRAN SANG MANUSIA AGUNG

 

 


Hari menjelang senja namun suasana masih terang benderang dan sepasang suami-isteri, Suddodhana dan Mahā Māyā, nampak sumringah ketika mereka berdua sedang bersantai di beranda belakang istana. Māyā yang sedang hamil besar ditemani suaminya tampak amat berbahagia, mengingat sebentar lagi mereka akan mendapatkan seorang keturunan, yang kelak akan menjadi pewaris tahta dan meneruskan kejayaan bangsa dan negeri mereka. "Kakanda," kata Māyā kepada suaminya, "aku merasa kelahiran bayi kita sudah semakin dekat. Izinkanlah daku pulang ke rumah Ibunda untuk melahirkan anak kita di sana." "Apakah engkau perlu pulang sejauh itu, hanya untuk melahirkan anak kita?" tanya suaminya. "Adat istiadat kami turun-temurun menitahkan para ibu, untuk melahirkan anak pertamanya di rumah orang tuanya," jawab isterinya.

 

Melihat suaminya terdiam Māyā menambahkan, "Sesuai dengan tradisi, aku telah memohon kepada para Dewa : Vișņu, Prajāpati, Sinivālī, Sarasvatī, dan Aśvinī, untuk turut merawat perkembangan garbha (janin), agar anak kita tumbuh dengan baik. Dan sekarang usia sang janin telah mendekati sepuluh bulan. Ibuku, sang ibu suri, memahami bagaimana merapalkan doa, agar perempuan yang akan melakukan persalinan dapat dengan lancar menginduksi kontraksi dalam rahimnya. 'Laksana angin mengerutkan tanaman teratai di setiap sisinya pada sebuah kolam', dengan cara yang sama rahimnya akan dirangsang, sehingga jarāyu (selaput janin) akan keluar dengan mudah. Sedemikian sehingga sang janin yang telah beristirahat selama berbulan-bulan dalam rahim ibunya, kini dapat melihat dunia luar tanpa cidera. Sang jabang-bayi yang kelak akan serupa dengan ayah dan ibunya."

 

Māyā kemudian menambahkan, "selama proses persalinan sang calon ibu membutuhkan pendampingan para perempuan lainnya. Mereka akan memberikan nasihat bijaknya, mempertunjukkan kasih-sayangnya, dan meredakan segala bentuk kekhawatirannya. Tugas dari para wanita yang mendampingi ini juga memberikan perintah kepada sang calon ibu bagaimana dia harus memposisikan tubuhnya selagi melakukan persalinan; apakah dia harus duduk, berbaring, berjongkok, yang seiring dan sejalan dengan keluarnya sang bayi dari rahimnya. Mereka akan merapalkan mantra-mantra yang akan membawa kesehatan dan kesejahteraan bagi si jabang-bayi dan ibunya. Mereka akan memandikan si jabang-bayi, membersihkan mulut dan tenggorokannya, menutupi ubun-ubunnya 'dengan kasa yang telah dilembabkan dengan minyak', memotong tali-pusar dan mengikatnya di pusar si bayi. Selanjutnya para perempuan itu akan membimbingku, bagaimana menyusui sang jabang-bayi dengan benar. Dalam Sushruta Samhita disebutkan, 'Semoga empat samudera bumi berkontribusi pada pengeluaran susu di payudaramu, agar meningkatkan kekuatan tubuh si jabang-bayi. Wahai, dikau dengan wajahmu nan jelita. Semoga anak ini, yang dibesarkan dengan susu dikau, mencapai umur panjang; selayaknya dewa-dewa yang diciptakan abadi berkat minuman ambrosia yang mereka konsumsi'."

 

"Baiklah jika demikian," Suddodhana menjawab, "besok pagi adalah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan ke Rāmagramā." "Benar, kakanda. Bepergian di bulan Vaishakha ini akan sangat menyenangkan. Udaranya hangat sepanjang hari, dan di malam hari bulan yang hampir bundar-sempurna akan menerangi waktu istirahat kami," jawab Māyā. Suddodhana, sang penguasa Shakya, segera memanggil sang patih, orang kepercayaannya. Ia memerintahkan, "Paman Patih, Permaisuri akan berangkat ke rumah orang tuanya besok pagi. Segera engkau siapkan tandu-kerajaan dan para prajurit yang akan mengusungnya. Siapkan pula pasukan berkuda untuk mengawalnya, dan jangan lupa prosesi ini harus menyertakan pula gajah istana. Beritahukan rakyat kita yang tinggal di sepanjang jalan raya, untuk menyambut iring-iringan kerajaan ini, serta perintahkan mereka agar memasang pula umbul-umbul di sisi jalan."

 

Kita tinggalkan dulu Suddodhana yang tengah menyiapkan kepergian isterinya. Selang lebih tiga hari setelah peristiwa itu, di Puncak-puncak Meru yang sejuk ada sekumpulan dewata yang sedang berkumpul. Mereka semua adalah Kawanan Tiga Puluh Dewa. Dengan berpakaian cerah dan anggun, mereka mengibarkan bendera-bendera dan panji-panji kebesaran. Diantara para dewa itu, ada yang sedang memainkan sitar dan kecapi, sedangkan yang lainnya bernyanyi-nyanyi dan menari-nari. Setelah itu mereka memekik dan bertepuk tangan. Demi mendengar suara ribut-ribut itu sang raja dewa, Sakka, tiba-tiba muncul di hadapan mereka, karena dirinya terganggu mendengar nyanyian dan teriakan yang gegap gempita. Dengan penuh hormat ia menyapa mereka dan bertanya: "Mengapa Kawanan Tiga Puluh Dewa ini begitu bergirang hati? Mengapa mereka membawa keluar bendera-bendera dan panji-panji kebesaran sambil melambai-lambaikannya? Tidak pernah ada peringatan seperti ini sebelumnya. Bahkan setelah usainya pertempuran dengan para raksasa, yang mana para dewa menang dan para raksasa kalah. Peristiwa ajaib apa lagi yang kalian dengar, hingga menggirangkan hati kalian semua?"

 

Sakka melanjutkan, "aku memohon, jangan tinggalkan aku dalam kebingungan, tuan-tuan yang baik." Kawanan Tiga Puluh Dewa itu pun menjawab: "Satu peristiwa yang luar biasa baru saja terjadi. Empat Raja Dewa, yang berkuasa di empat mata penjuru angin, sekonyong-konyong turun dari Gunung Sumeru ke Negeri Shakya di Tanah Lumbinī. Dhatarattha, Sang Penguasa Surga Timur yang mengenakan jubah putih-keperakan beserta pengiringnya para gandhabba, sambil membawa perisai mutiaranya. Virūḍhaka, Sang Penguasa Surga Selatan, diikuti oleh anak-buahnya para kumbhanda, memakai gaun biru lengkap dengan perisai safirnya. Virūpakkha, Sang Penguasa Surga Barat yang mengenakan jubah merah beserta pengiringnya para nāga, sambil membawa perisai koralnya. Vessarana, Sang Penguasa Surga Utara, diikuti oleh anak buahnya para yakkha, memakai gaun kuning lengkap dengan perisai emasnya. Ketika Sang Manusia Agung keluar dari rahim ibunya, ia tidak menyentuh bumi. Empat Raja Dewa itu menerimanya dan kemudian meletakkannya di samping ibunya, dengan berkata: "Bergembiralah, oh Ratu Agung. Seorang bayi laki-laki yang memiliki kekuasaan besar telah dilahirkan untuk Paduka."

 

Sakka, Sang Raja Dewa, dengan rasa penasaran bertanya lebih lanjut, "Wahai Kawanan Tiga Puluh Dewa, jelaskan padaku siapa itu gerangan Sang Manusia Agung?" Mereka serempak menjawab: Dia adalah Makhluk Yang Akan Tercerahkan, sebuah Permata Yang Tak-ternilai, yang telah lahir di dunia manusia untuk kesejahteraan dan kebaikan. Karena itu kami luar biasa girang. Makhluk Yang Tiada Duanya, sang Kepribadian Agung. Raja semua manusia, dan Yang Paling Terkemuka diantara umat manusia. Dia akan memutar Roda Dharma di Taman bermukimnya Yang Melihat dari Zaman Lampau. Dengan auman singa, di kerajaan para hewan buas."

 

Demikianlah, tidak sesuai dengan rencana semula, Sang Permaisuri telah melahirkan bayi mereka di Taman Lumbinī, sebuah kebun nan permai, belum sampai setengah-jarak antara Kapilavastu dengan Rāmagramā. Rombongan kerajaan pun kembali pulang disertai kebahagiaan yang luar biasa. Kabar mengenai kelahiran sang pewaris tahta beserta mukjizat-mukjizat yang menyertainya, telah menyebar dengan cepat ke seantero negeri Shakya, dan rakyat pun merayakan peristiwa ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Suddhodana pun tercengang-cengang dan tak habis pikir mendengar kisah kelahiran puteranya yang luar biasa itu. Alam pun seolah-olah ingin mengungkapkan kegembiraannya, dengan membuat bunga-bunga bermekaran di pohonnya, hingga harumnya kembang memenuhi atmosfer negeri Shakya.

 

Di kaki pegunungan Himalaya pada satu padepokan sederhana, hiduplah Sang Petapa Asita, seorang suciwan sepuh berambut abu-abu. Sang petapa yang telinganya telah lama tertutup untuk hal-hal duniawi, baru saja menangkap suara surgawi, bahwasanya Sang Manusia Agung telah lahir di lingkungan keluarga penguasa Shakya. Sang petapa sepuh, yang sesungguhnya masih kenalan Suddhodana dan Permaisuri, tergopoh-gopoh berangkat ke istana untuk menyaksikan sendiri sang bayi yang baru lahir. Melihat kedatangan sang petapa sepuh, Raja memberi hormat dan Permaisuri menyambutnya pula dengan ramah. Setelah sang petapa menanyakan keberadaan si bayi, kegembiraan yang bergelora membanjiri hati Asita. Memandang cemerlangnya si bayi, selayaknya sebuah cahaya nan murni. Melihat si bayi, laksana perhiasan emas di atas kain brokat. Dengan payung putih menaungi di atas kepalanya, sang petapa menimang sang bayi dengan penuh sukacita dan kebahagiaan. Segera setelah diterimanya si Raja Shakya Kecil, kemahirannya dalam menafsirkan marka dan tanda di tubuh bayi, diungkapkan dengan keyakinan hatinya tanpa ragu: "Diantara bangsa berkaki-dua, si bayi ini tidak ada duanya."

 

Kemudian ia teringat, memandang ke dalam dirinya sendiri. Dalam duka yang amat dalam, air mata keluar membanjir dari kedua matanya. Para ningrat Shakya melihatnya menangis, serta merta bertanya: "Adakah marabahaya yang kelak akan menimpa pangeran kami?" Namun kepada mereka yang gelisah ia cukup menjawab: "Selagi aku melihat ke depan, tak ada malapetaka yang akan menyentuh sang pangeran. Tidak juga ada marabahaya yang menantinya. Ingatlah bahwa dia bukan golongan kelas dua, karena dia akan mencapai puncak pengetahuan nan sejati. Dia pula Yang Mencapai Kesucian yang tiada taranya. Serta karena welas-asihnya pada orang banyak, ia akan memutar Roda Dharma dan menyebarkan kehidupan suci. Namun sedikit lagi waktu hidupku tersisa hari ini. Dan aku akan mati tidak lama lagi, jadi aku tidak akan mendengar Sang Pahlawan tanpa tanding mengajarkan Dharma yang Sejati. Itulah hal yang menyedihkanku, kehilangan itu membuatku merana."

 

Sebelum meninggalkan istana, sang petapa sepuh menyampaikan pesan kepada sang permaisuri. "Rahimmu engkau dedikasikan sepenuhnya untuk bayi ini, wahai Permaisuri yang mulia! Dikau, yang menjadi kesayangan para dewa dan manusia, terlalu sakral untuk terkena dukacita duniawi. Dan kehidupan di sini sesungguhnya duka. Maka dari itu dalam tujuh hari, dikau akan menuju akhir kesengsaraan." Tidak ada yang memperhatikan untaian kalimat terakhir ini, karena keluarga besar istana terhanyut oleh kesukacitaan yang meluap-luap, setelah mendengar penerawangan sang petapa sepuh.

 

Hari kelima sejak kelahiran sang bayi, Raja Suddhodana menyelenggarakan Upacara Nāmakaraṇa Saṁskāra, yakni pemberian nama kepada bayi yang baru lahir. Istana menyeleksi dan mengundang seratus-delapan orang brahmana terkemuka. Nama orang harus dimulai dengan huruf-mati atau huruf-semi-mati diikuti dengan huruf-hidup, dan membentuk satu suku-kata. Nama diri bisa terdiri dari dua, empat, atau enam suku kata. Setelah para brahmana berembuk dengan keluarga, dipilihlah nama diri "Savārthasiddh" yang bermakna, "Yang Maha Sejahtera," dan kemudian disingkat sebagai "Siddhārtha."

 

Dari semua brahmana yang hadir di istana, delapan orang diantaranya mahir dalam meneropong masa depan seseorang. Kedelapan brahmana itu adalah Rāma, Dhaja, Lakkhaṇa, Mantī, Yañña, Subhoja, Sudatta, dan Kondañña. Raja bertanya kepada para brahmana peramal: "Wahai kalian para bijak. Dengan penglihatan kedewaan kalian, seperti apakah perjalanan kerajaanku di bawah tampuk sang putera-mahkota kelak? Akankah dia akan membawa negeri ini pada kejayaan dan kegemilangan?" Setelah mendengar pertanyaan dan permintaan Sang Raja Junjungan mereka, delapan brahmana bijak itu duduk bersilang-kaki, memejamkan mata mereka, dan dalam selang waktu tidak berapa lama kemudian mereka semua berdiri dan dengan takzim menghadap Sang Raja. Ketujuh orang brahmana serempak mengacungkan dua jari ke atas, namun Kondañña, sang brahmana yang paling muda usianya, hanya mengacungkan satu jarinya.

 

Raja bertanya kepada kelompok tujuh brahmana, "Apa maksud kalian dengan menunjukkan dua jari?" Brahmana yang paling tua dari tujuh orang itu maju ke muka mewakili kawan-kawannya. "Sang Putera Mahkota adalah seorang Chakravartīn, Raja Diraja, yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun. Dia memiliki tujuh macam harta yang tak-ternilai. Chakra-ratna roda-dewata, Permata Mulia, Aswa-ratna kuda yang membanggakan, Hasti-ratna sang gajah seputih-salju, Menteri yang cakap dan terampil, Jenderal perkasa yang tak-terkalahkan, dan Isti-ratna sang isteri dengan berkah yang tak-ternilai. Namun jika dia tidak menjadi Penguasa Dunia dan meninggalkan istananya, dia akan menjadi seorang Buddha, yang akan menyelamatkan para dewa dan manusia." Giliran Kondañña yang ditanya; ia serta merta menjawabnya dengan penuh keyakinan, bahwa pangeran kecil kelak akan menjadi seorang Buddha. Kemudian Raja kembali menanyai kelompok tujuh brahmana itu, dengan cara apa pangeran sampai meninggalkan istananya. Mereka pun menjawab, "peristiwa itu akan terjadi jika Pangeran Mahkota melihat orang tua, orang sakit, sesosok jenazah, dan seorang petapa suci. Suddhodana pun memahami takdir yang akan dilakoni oleh sang penerus tahta, dan ia pun telah memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya dan kerajaannya.

 

Setelah upacara pemberian nama puteranya usai, Suddhodana memanggil orang kepercayaannya. "Paman Patih, baru saja kita dengar penujuman yang dilakukan oleh para brahmana itu. Bagaimana sekarang menurut pendapatmu?" "Keluarga kerajaan pasti sepakat bahwasanya Sang Putera Mahkota akan membawa kebesaran dan kejayaan pada Negeri Shakya ini. Seperti Chakra (roda) yang menggelinding ke sana kemari dan menggilas apa saja yang ditemuinya, demikian pula Raja kita nanti akan menaklukkan dan menguasai negeri-negeri di sekitarnya seperti Gandhara, Kashi, Kamboja, Kosala, Magadha, Malla, dan Vajji. Demikian pula kota-raja mereka seperti Campā, Rājagaha, Sāvatthī, Sāketa, Kosambī, dan Benares, yang akan menyerukan puji-pujian kepada Sang Chakravartīn. Bahkan seluruh Jambudvipa ini akan bersatu dan berpadu di bawah kekuasaan penguasa dari Kapilavastu." Suddhodana mengomentari, "Benar, Paman Patih. Tugas kita sekarang tidak lain menjaga, agar Sang Putera Mahkota tidak sampai menyaksikan empat penampakan seperti yang dikatakan oleh para brahmana itu."

 

Dua hari berselang, hari masih pagi namun kepanikan dan kegemparan melanda istana Suddhodana. Para wanita dan dayang-dayang istana menangis dan meratap, lalu mereka melaporkan kejadian yang memilukan kepada sang penguasa. "Paduka Yang Mulia, Junjungan kami Permaisuri nan Mulia tidur sejak kemarin malam dan ia tidak bangun-bangun lagi!" Suddhodana bergegas ke kamar peraduan isterinya dan mendapatkan Māyā yang sedang tidur dengan wajah yang masih tersenyum. Tabib-tabib istana segera dipanggil dan semua akhirnya menyimpulkan bahwasanya Sang Permaisuri nan Mulia telah mangkat. Pajāpatī, adik kandung Māyā sekaligus masih merupakan isteri dari Suddhodana, menyeruak masuk dan memohon kepada suaminya, "izinkanlah daku untuk menyusui dan merawat pangeran kecil ini, duhai Junjunganku." Suddhodana tersadar dan ia pun langsung memberikan restunya.

 

Suddhodana terguncang dan bersedih. Ia lantas teringat kata-kata terakhir yang diucapkan oleh si Bijak Asita. Ramalannya terbukti tepat. Ia pun bimbang dan gundah gulana, akankah terwujud penujuman para brahmana itu mengenai takdir Sang Pangeran Mahkota?

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210519

 

Minggu, 09 Mei 2021

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

 



Sejak zaman purbakala ribuan tahun yang lampau manusia yang mendiami bumi ini kerap bertanya-tanya, bagaimana bumi dan alam semesta ini tercipta. Dari pengalaman mereka dunia ini begitu teratur, ada siang ada malam yang datang silih berganti dengan kepastian yang mengagumkan. Setiap pagi matahari terbit di timur dan di sore hari ia tenggelam di barat, serta siang dan malam menciptakan suasana alam yang sangat berbeda. Belum lagi musim-musim yang datang silih berganti sepanjang tahun, dan kejadian itu pun berlangsung secara ajeg dari tahun yang satu ke tahun yang berikutnya, serta kepastian itu berlangsung sepanjang masa hidup mereka. Orang-orang yang kritis akan bertanya, apakah keadaan bumi kita yang menakjubkan itu telah berlangsung sejak dulu kala? Atau barangkali baru terjadi setelah bumi dan alam semesta itu tercipta?

 

Nenek moyang kita yang sudah lama bertanya-tanya perihal permulaan dunia dan alam semesta, sedikit demi sedikit mendapatkan jawaban lewat cerita-cerita orang sezamannya yang begitu memikat dan mampu memuaskan rasa ingin tahu mereka. Cerita-cerita itu menggambarkan penciptaan alam semesta dan dunia, termasuk pula kisah manusia pertama yang mendiami dunia ini. Mitos penciptaan yang dikenal sebagai kosmogoni, mengekspresikan pemahaman leluhur kita tentang keberadaan umat manusia di dunia dan di alam semesta ini. Mitologi tentang penciptaan ini ternyata ditemukan di beberapa bangsa dan kebudayaan kuno, yang berasal dari zaman yang berbeda-beda. Sebagian kisah tentang penciptaan dunia dan alam semesta hanya dikisahkan lewat cerita lisan yang disampaikan secara turun-temurun, sedangkan sebagian lagi ditulis dalam naskah-naskah suci mereka dan terawetkan hingga masa kini. Salah satu kisah penciptaan alam semesta yang ditemukan secara kebetulan terjadi pada 1846, yakni tentang Enuma Elis. Mite yang bersumber dari kebudayaan Babilonia atau Mesopotamia ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1100 seb.M., diperoleh dari inskripsi yang tercetak di atas beberapa buah tablet tanah liat. Enuma Elis berisi epik yang mengisahkan kemenangan Marduk, yang kemudian menjadi pimpinan para dewa, atas rivalnya Tiamat, dan peristiwa tersebut sekaligus menjadi awal penciptaan dunia.

 

Dalam tulisan ini kita tidak ingin membanding-bandingkan antara satu mitos penciptaan dunia dan alam semesta yang berasal dari bangsa dan kebudayaan yang berbeda-beda, tetapi kita akan mengambil satu contoh yakni mitos penciptaan alam semesta yang berasal dari Tiongkok. Kemudian kita akan melihat sekilas kosmogoni dari pandangan sains. Tulisan ini akan ditutup dengan pertanyaan, apakah alam semesta kita ini akan berlangsung terus seperti saat ini atau akan berakhir pada satu titik tertentu.

 

Jika kita meneliti literatur Tiongkok Kuno ada kisah tentang sesosok makhluk bernama Pán Gǔ. Ia adalah leluhur yang paling awal dari segala sesuatu, tokoh yang membuka langit (atau surga) dan bumi dengan sekuat kemampuannya. Namun tragisnya, pada akhir hidupnya, ia harus mengorbankan nyawanya sendiri guna menjadi bagian dari alam semesta itu sendiri. Pan Gu (Pinyin: Pán Gǔ Shì; 盘古氏) bermakna "Pán" itu "cangkang telur", dan "Gǔ" berarti "mengamankan" atau "padat"; jadi secara harfiah Pan Gu tidak lain cangkang telur yang telah memadat atau mendekati saat menetasnya.

 

Selama ribuan tahun legenda Pán Gǔ yang secara menakjubkan membentuk alam semesta, disebarluaskan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Tokoh ini senantiasa dikenang sebagai satu diantara mutiara dalam cerita rakyat Tiongkok. Narasi tentang Pan Gu sendiri memiliki banyak versi, tetapi pesan yang ingin disampaikan oleh yang empunya cerita tetaplah sama. Pada zaman dahulu kala, sebelum ada apa pun di alam semesta ini, ada entitas berbentuk telur yang berukuran sangat besar. Di dalam telur purba raksasa ini, dua kekuatan yang saling berlawanan, yang oleh orang Tionghoa dikenal sebagai Yin dan Yang belumlah ada alias masih bercampur-baur dalam keadaan kacau. Serta di luar telur raksasa tidak dapat ditemukan apa pun jua, semuanya benar-benar hampa dan gelap.

 

Sekarang apa itu Yin dan Yang?  Prinsip Yin dan Yang berbunyi: semua yang ada itu merupakan pertentangan atau perlawanan yang saling tidak terpisahkan. Sebagai contohnya antara lain: wanita-pria, gelap-terang, dan tua-muda. Dua kutub yang berlawanan Yin dan Yang saling tarik-menarik, saling melengkapi satu sama lain. Dalam pemahaman kita selama ini Yin adalah kutub negatif, sedangkan Yang tidak lain kutub positif. Kutub yang satu tidak lebih unggul dibandingkan kutub yang lain. Jika terjadi penambahan tenaga pada kutub yang satu, hal ini akan menambah kekuatan pula pada kutub yang lain; sehingga keseimbangan diantara kedua kutub tetap terjaga guna mencapai keharmonisan. Berikut ini disebutkan contoh Yin: feminin, hitam, gelap, utara, air (transformasi), pasif, bulan, bumi, dingin, tua, bilangan genap, lembah, miskin, lunak.

 

Konon selama delapan-belas ribu tahun, Pán Gǔ mendekam di dalam cangkang telurnya dan di sana ia tertidur sekaligus tumbuh menjadi besar. Sampailah pada satu hari yang ditunggu-tunggu, Pán Gǔ terbangun dari lelap panjangnya, dan dia mulai membuka matanya. Tetapi yang dilihatnya hanya kegelapan dan kehampaan belaka. Dia memasang kedua telinganya baik-baik tetapi yang didapat hanya keheningan yang tidak menyenangkan. Pán Gǔ menemukan lingkungannya suram dan ditandai oleh khaos atau kekacaubalauan.

 

Pán Gǔ saat terbangun dan sadar, sedang berada di tengah-tengah telur. Dalam kebingungannya ia menyulap untuk menciptakan sebuah palu ajaib di tangan kanannya dan sebuah pahat magis di tangan kirinya. Selanjutnya Pán Gǔ mulai bekerja, membagi telur raksasa itu menjadi dua bagian, dengan bantuan palu dan pahatnya. Akhirnya telur besar itu terbelah dua dengan diiringi suara retakan bergemuruh. Perlahan- lahan Yin dan Yang mulai berpisah. Semua yang gelap dan berat tenggelam serta mulai membentuk bumi. Dan sisanya yang terang dan jernih melayang-layang, serta sedikit demi sedikit membentuk langit atau surga.

 

Setelah telur raksasa terbelah menjadi dua Pán Gǔ gembira dengan hasil kerjanya, namun di sisi lain dia khawatir bahwa kedua bagian telur itu bakal bersatu kembali. Lalu dia mendapat akal, dengan berdiri diantara dua bagian telur itu, guna menjaga mereka tetap terpisah. Dengan begitu kepalanya mendorong langit agar bagian itu semakin membumbung ke atas, sementara telapak kakinya menekan bumi ke bawah agar semakin menjauh ke bawah. Hari demi hari berlalu dan tubuh Pán Gǔ tumbuh semakin lama semakin besar.  Setiap hari lewat, langit naik sepuluh kaki lebih jauh di atasnya, dan bersamaan dengan itu bumi menebal sepuluh kaki di bawahnya, serta Pan Gu sendiri berkembang dua-puluh kaki hanya demi mengimbangi hamparan yang tumbuh, dan juga untuk memaksanya bertahan.

 

Hari pun berlanjut hingga lewat delapan-belas ribu tahun berikutnya, dan jarak antara kedua belah telur raksasa sekarang telah mencapai tiga-puluh ribu mil. Setelah dia yakin sepenuhnya bahwa kedua potongan telur raksasa itu tidak akan bersatu kembali, Pán Gǔ yang kelelahan itu pun menghentikan usaha kerasnya. Tubuh raksasanya tumbang menghantam bumi dan Pán Gǔ pun tewas. Dengan kematian Pán Gǔ bukan berarti alam semesta berhenti berkembang, namun transformasi ajaib terjadi yang akan membentuk wajah langit dan bumi selanjutnya. Napas terakhirnya berubah menjadi angin dan awan, dan suaranya menjadi gemuruh halilintar. Salah satu matanya kemudian menjadi matahari dan mata lainnya berubah menjadi bulan. Rambut dan jenggotnya menjadi jutaan bintang Bima Sakti yang berkerlap-kerlip di langit malam. Anggota tubuhnya menjelma menjadi lima pegunungan yang paling besar di Tiongkok. Darahnya berubah wujud menjadi aliran sungai dan lautan. Daging tubuhnya menjadi lahan pertanian yang subur, tulang-tulangnya berubah menjadi permata dan mineral yang berharga; gigi dan kukunya menjadi logam berkilau.  Bulu dan kulitnya bersenyawa menjadi vegetasi tumbuh-tumbuhan yang subur. Keringat yang semula keluar dari tubuhnya sekarang jatuh sebagai air hujan yang menyuburkan bumi. Dan akhirnya makhluk-makhluk kecil yang selama ini hidup di tubuh Pán Gǔ pun menjadi hewan dan manusia yang tersebar memenuhi permukaan bumi.

 

Pán Gǔ sebagai tokoh mitologi kerap digambarkan sebagai seorang pria bertubuh kerdil yang mengenakan kulit beruang, atau hanya memakai celemek daun. Dia memiliki dua tanduk di kepalanya. Di tangan kanannya dia memegang palu dan di tangan kirinya pahat, yakni dua alat yang dia gunakan dalam menjalankan tugas besarnya. Penggambaran lain memperlihatkan Pán Gǔ ditemani oleh empat makhluk gaib, yakni kuda bertanduk-satu atau unicorn, burung-api atau phoenix, kura-kura, dan naga. Visualisasi Pán Gǔ lainnya menunjukkan dia sedang memegang matahari di satu tangan dan bulan di tangan lainnya.

 

Pán Gǔ sebagai tokoh legenda yang menciptakan langit dan bumi, dianggap sesosok dewa oleh para pemujanya. Bertempat di Provinsi Guangdong pada 1809 dibangun Kuil Raja Pan Gu dengan altar pemujaan utama Dewa Pán Gǔ. Letak kuil ini di sebelah utara Kota Shiling, barat laut Distrik Huadu, pada kaki Gunung Raja Pan Gu.

 

Kita sudah mengetahui penciptaan alam semesta dari cerita kuno Tiongkok. Sekarang kita akan melihat apa yang dikatakan oleh sains tentang asal-usul alam semesta. Ilmu pengetahuan tidak menyebutkan apa yang ada sebelum alam semesta kita ini tercipta, seperti yang akan penulis jelaskan nanti. Padahal menurut pemikiran Yunani, sebelum alam semesta ini tercipta, yang ada hanyalah khaos atau kekacaubalauan semata. Setelah khaos berakhir, barulah terjadi keteraturan dan terciptalah kosmos. Dengan demikian ada kesesuaian antara mitologi Tiongkok dengan mitologi Yunani.

 

Dalam perjalanan ilmu astronomi dan kosmologi selama seratus tahun terakhir ini, kebanyakan ahli setuju bahwa alam semesta dimulai oleh sebuah Dentuman Besar (dinamakan juga big bang) yang terjadi kurang lebih 12,7 milyar tahun yang lalu. Teori ini menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari bakal-materi-dan-energi yang super-super masif dan sangat-sangat panas, yang membesar dengan menyebarkan segala isinya. Pengembangan alam semesta sehingga makin membesar, terjadi saat bermulanya dentuman besar dan berlangsung hingga sekarang ini. Menurut perhitungan, pada satu-per-sepuluh-ribu detik sejak ledakan besar terjadi, muncullah partikel-partikel kecil yang akan membangun atom, seperti proton, elektron, dan netron. Namun untuk membentuk inti atom yang sangat kecil diperlukan waktu tiga menit. Pada saat itu temperaturnya mencapai tujuh-puluh kali suhu matahari kita. Kemudian masih diperlukan waktu selama lima-ratus-ribu tahun untuk mendinginkannya, dan membuat atom berfungsi secara sempurna. Dengan terbentuknya atom disusul dengan molekul, dimulailah pembentukan materi dasar yang kelak membentuk alam semesta.

 

Molekul yang paling banyak tercipta adalah hidrogen, yakni unsur yang paling ringan. Molekul-molekul hidrogen membentuk awan hidrogen yang disebut nebula. Nebula yang sangat panas ini berangsur-angsur membentuk bintang, dan salah satunya adalah matahari kita. Berbarengan dengan terbentuknya bintang lahir pula planet-planet di sekitarnya, sehingga sistem bintang-planet ini dinamakan tata-surya. Kumpulan tata-surya ini berkumpul kembali dalam konstelasi yang lebih besar yang dinamakan galaksi (galaksi disebut juga: "pulau alam semesta"). Galaksi yang kita diami dinamakan "Bimasakti" atau "Jalan Susu". Sesungguhnya tidak terhitung banyaknya galaksi di alam semesta ini, sehingga sukar sekali membayangkan betapa luas dan besarnya jagat raya kita ini.

 

Sekarang kita coba membandingkan legenda tentang Pan Gu dengan terciptanya alam semesta menurut sains. Dalam mite Tiongkok itu, pembentukan jagat raya bermula dari keberadaan "telur-kosmik" raksasa, yang tumbuh dalam khaos. Sedangkan teori penciptaan menyebutkan bahwa alam semesta bermula dari bakal-materi-dan-energi, yang berada di satu titik. Kemudian konsep tentang khaos yang menjadi kondisi awal juga diambil oleh para ilmuwan, dengan gagasan bahwa jagat raya senantiasa mengembang, serta ide bahwa alam semesta itu telah sedemikian tuanya. Demikian pula dengan gagasan bahwa begitu kosmos itu terbentuk, terjadi pula prinsip dualitas atau Yin dan Yang. Sedangkan pada teori kosmologi, proton dan elektron baru tercipta selang beberapa saat setelah dentuman besar. Setelah kita membandingkan antara legenda dan ilmu pengetahuan terdapat persamaan. Apakah ini kebetulan belaka? Walahualam.

 

Teori Dentuman Besar kini makin diterima keabsahannya, karena bukti pengamatan dan studi yang didasarkan pada ilmu fisika dan astronomi mendukung kebenaran teori tersebut. Dengan demikian terbukti bahwa jagat raya kita sekarang dalam keadaan mengembang. Apakah alam semesta ini akan mengembang terus-menerus di masa yang akan datang? Sebagian ilmuwan memprediksi bahwa suatu saat pemuaian akan berhenti, dari alam semesta akan menyusut. Jika ini benar terjadi, jagat raya akan semakin mengecil, serta pada saatnya akan terjadi *Remukan Besar*. Remukan Besar akan disusul segera dengan Dentuman Besar yang berikutnya, dan alam semesta akan mulai tumbuh lagi dari nol dan proses yang sama akan berulang kembali. Jika ini benar, maka kita akan mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi sebelum big bang yang lampau. Namun sekali lagi jagat raya yang diperkirakan akan menyusut di masa depan itu hanyalah prediksi, karena tidak ada bukti hal itu akan terjadi.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210505

 


Rabu, 21 April 2021

JADI BHIKKHU




Waktu itu hari Minggu sekitar pukul sebelas siang bertempat di sebuah vihara di Bogor, dan pujabakti untuk umum baru saja usai. Penulis dan beberapa sahabat lama berbincang-bincang melepas rasa kangen setelah bertahun-tahun kami tidak saling berjumpa. Pembicaraan akhirnya menjurus pada apa yang mesti kami kerjakan di sisa usia ini. Maklumlah kami sudah tidak muda lagi, dan rata-rata telah berusia di atas kepala lima atau enam.

 

Salah satu sahabat perumah tangga yang berusia lebih dari enam puluh tahun, yang isterinya telah meninggal dunia, mengemukakan aspirasinya untuk memasuki hidup kebhikkhuan. Ada sahabat lainnya yang juga berminat mengikuti jejak kawannya, tetapi ia khawatir tidak diizinkan oleh keluarganya. Penulis lalu teringat, pernah membaca di sebuah majalah-dinding yang terdapat di sebuah vihara, bahwa untuk mengikuti penahbisan samanera – yakni calon bhikkhu (bukan bhikkhu) – peserta harus memenuhi beberapa persyaratan. Salah satu persyaratan antara lain umur calon samanera paling tua adalah lima puluh tahun. Setelah penulis kemukakan, bahwa di Sangha anu berlaku persyaratan tersebut, sahabat yang pertama tadi langsung mengungkapkan kekecewaannya. "Mengapa ada persyaratan seperti itu?" tanyanya agak sewot. "Bukankah di zaman Sang Buddha, umur berapa pun orang itu, jika ia bertekad dengan tulus, selalu diterima oleh Beliau untuk ditahbiskan menjadi seorang bhikkhu?" Penulis lalu menenangkan sang sahabat itu, namun merasa tidak berwenang untuk menjelaskan perihal batasan umur tersebut. "Jika you ingin tahu mengapa ada persyaratan batas usia, sebaiknya ditanyakan langsung saja kepada Sangha yang bersangkutan.

 

Memasuki hidup-kebhikhuan atau menjadi biarawan bagi seorang laki-laki, dilihat dari pandangan agama Buddha, adalah satu pilihan hidup yang mulia. Dalam tradisi Thailand, seorang pria Buddhis terbiasa menjalani kehidupan kebhikhuan ketika usianya mencapai dua puluh tahun, guna membalas jasa terhadap kebajikan orang tua mereka. Hidup-membiara ini dijalankan oleh para pria muda tersebut untuk beberapa hari, dua minggu, sebulan, tiga bulan, bahkan sebagian dari mereka menjalaninya untuk kurun waktu yang lebih lama.

 

Seperti yang kita ketahui masyarakat Buddhis dapat dibagi menjadi dua golongan, yakni golongan biarawan dan umat awam (disebut juga perumah tangga). Golongan biarawan terdiri dari bhikkhu, bhikkhuni, samanera, dan samaneri. Perumah tangga bisa memasuki kehidupan kebhikkhuan, jika ia memenuhi persyaratan dan menjalani upacara penahbisan; sebaliknya biarawan atau biarawati dapat menjadi umat awam dengan melepaskan jubahnya. Setelah kita menyimak kasus teman penulis di atas sekarang muncul pertanyaan, kapan idealnya seseorang memasuki kehidupan-membiara. Apakah sebaiknya dilakukan menjelang masa kedewasaan yakni sekitar usia dua-puluh tahunan, atau ketika seseorang itu sudah matang dalam menjalani kehidupan, atau setelah ia berusia lanjut?

 

Sekarang coba kita simak dulu petikan yang kami ambil dari kitab Vinaya Pitaka, yang bercerita tentang delapan permohonan Visākhā kepada Sang Buddha. Visākhā adalah seorang hartawan ternama di negeri Kosala, yang menjadi penyokong utama pada saat Sang Buddha mencapai usia paruh baya. Sekali waktu Visākhā memohon agar diberikan kesempatan berdana kepada komunitas bhikkhu dan bhikkhuni di Sāvatthī. Pemberian yang akan diberikan berupa (1) jas hujan untuk para bhikkhu, (2) makanan untuk bhikkhu tamu, (3) makanan untuk bhikkhu yang akan pergi mengembara, (4) makanan untuk bhikkhu yang sedang sakit, (5) makanan untuk bhikkhu yang merawat rekannya yang sedang sakit, (6) obat-obatan, (7) bubur nasi untuk sarapan pagi, dan (8) jubah-mandi untuk Sangha Bhikkhuni. Delapan permintaan itu kemudian disetujui oleh Sang Buddha dan sejak itu para penyokong yang lain pun berlomba-lomba untuk berdana delapan macam pemberian tersebut, yang pada akhirnya memberikan kesejahteraan yang lebih baik untuk Sangha Bhikkhu maupun Sangha Bhikkhuni.

 

Berikut ini diberikan dialog antara Visākhā dengan Sang Buddha khusus untuk permohonan yang kedelapan:  "Sekarang, Yang Mulia, para bhikkhuni mandi telanjang pada tempat mandi yang sama di Sungai AciravatI, sebagaimana yang sering digunakan oleh para pelacur. Mereka acapkali mencandai para bhikkhuni, dengan berkata: 'Mengapa kalian mempraktikkan kehidupan suci ketika kalian masih muda, wahai para rahib? Bukankah kesenangan-inderawi seharusnya dinikmati? Kalian dapat menjalani kehidupan suci ketika kalian sudah tua. Dengan demikian kalian akan mendapat manfaat dari keduanya.' Ketika para pelacur mencandai mereka seperti itu, para bhikkhuni menjadi mati kutu. Ketelanjangan bagi wanita itu tidak sepatutnya, Yang Mulia, itu menjijikkan dan memalukan. Inilah manfaat yang aku lihat-kedepan dalam keinginanku, untuk menyediakan jubah-mandi bagi para bhikkhuni, selama aku masih hidup." (Vin. Mv. 8:15)

 

Dari petikan di atas kita dapat melihat bahwa pada zaman itu sudah ada pendapat, bahwa orang sebaiknya menjalani kehidupan-membiara setelah ia lanjut usia, dengan pertimbangan masa mudanya bisa dilewati dengan bersenang-senang. Kita akan mencoba melihat pandangan hidup orang India mengenai empat tingkatan kehidupan manusia. Angka empat bagi orang India merupakan angka bagus, seperti ada Empat Veda yang berarti terdapat empat kitab suci, ada Empat Varna yang bermakna manusia bisa digolongkan menjadi empat varna atau empat kasta. Empat tingkatan hidup atau empat siklus kehidupan manusia dinamakan Catur Asrama (Dewanagari: चतुराश्रम;  caturāśrama); yang mana catur itu artinya empat dan asrama berarti tingkatan atau jenjang kehidupan.

 

Sistem Empat Asrama merupakan satu konsep dharma dalam ajaran Hindu. Sistem ini juga berfungsi membentuk teori moralitas dalam filsafat India. Empat asrama ini berhubungan pula dengan Puruṣārtha (Sanskerta: पुरुषार्थ) yang secara harfiah berarti "obyek pengejaran manusia". Puruṣārtha juga merupakan konsep kunci dalam ajaran Hinduisme, serta mengacu pada sasaran yang lazim dituju oleh umat manusia. Ada empat puruṣārtha, yakni dharma (kebenaran, nilai-nilai moral), artha (kesejahteraan, nilai-nilai ekonomis), kama (kesenangan, cinta, nilai-nilai psikologis), dan moksha (kebebasan, nilai-nilai spiritual). Dengan demikian sasaran dari masing-masing periode kehidupan tidak lain pengembangan dan pencapaian individual. Ajaran Empat Asrama ini tertera pada Ashrama Upanishad dan Vaikhanasa Dharmasutra dalam naskah klasik, serta tercantum pula dalam Dharmashastra yang ditulis belakangan.

 

Asrama pertama dalam sistem empat asrama itu adalah Brahmacari, yakni masa hidup awal yang ditujukan untuk mencari ilmu pengetahuan. Masa Brahmacari mirip dengan apa yang kita alami saat kita menginjakkan kaki di bangku sekolah, mulai dari tingkat PAUD, sekolah dasar, sekolah menengah, dan perguruan tinggi. Dalam masa menuntut ilmu ini para peserta wajib menguasai keterampilan dasar seperti membaca, menulis, berhitung, serta mempelajari naskah-naskah agama. Selain itu juga diberikan pendidikan kejuruan yang berguna bagi mereka di masa depan. Dulu peserta Brahmacari wajib melakukan upacara Upanayana pada permulaan masa studi serta diakhiri dengan pengakuan dan pemberian Samawartana  atau pemberian ijazah. Brahmacari ini berlangsung hingga seseorang berusia 25 tahun.

 

Selama mereka menuntut ilmu para siswa harus taat terhadap segala peraturan yang diberlakukan, bahkan pada zaman kuno mereka harus tinggal di pedepokan milik sang guru. Pada masa itu tradisi ini dinamakan gurukula-shishya, dengan kula artinya rumah dan shishya maknanya murid, jadi gurukula-shishya memiliki pengertian bahwa murid tinggal serumah dengan gurunya. Di samping menuntut ilmu, para murid juga melakukan tugas-tugas rumah tangga, sehingga kegiatan belajar-mengajar dapat berjalan dengan lancar. Pada zaman modern para Brahmacari harus menetap di asrama untuk memudahkan pengawasan, pula dimaksudkan agar mereka lebih berkonsentrasi dalam menerima pelajaran. Selama menjadi Brahmacari mereka wajib mengendalikan nafsu keduniawian, terutama nafsu seksual. Segala daya upaya dan pikirannya benar- benar ditujukan untuk mempelajari ilmu pengetahuan serta keterampilan yang dibutuhkan pada tahap kehidupan selanjutnya.

 

Tahap kehidupan selanjutnya adalah Grihasta, yang secara harfiah berarti "berada atau dilingkupi oleh rumah atau keluarga". Pada tahap ini seseorang memasuki kehidupan perkawinan, dengan tugas merawat rumah tangga, membesarkan keluarga, mendidik anak-anaknya, serta memimpin satu keluarga dan menjalani kehidupan sosial secara dharma.

 

Menurut naskah-naskah kuno dari abad pertengahan, tahap Grihasta adalah yang paling penting dari empat tahap kehidupan yang ada, karena sebagai manusia ia tidak melulu mengejar kehidupan yang bajik tetapi juga memproduksi makanan dan kekayaan. Dengan adanya makanan dan kekayaan yang berlimpah ia bisa menyokong tiga tahap kehidupan lainnya, serta mempunyai keturunan yang akan menjamin keberlangsungan umat manusia. Menurut filsafat India, tahap perumah tangga ditandai pula dengan keterikatan fisik, seksual, emosional, dan sosial yang paling tinggi; juga saat berlangsungnya pengerahan tenaga yang intens terhadap pekerjaan dan pengumpulan kekayaan. Tahap Grihasta ini berlangsung dari umur 25 hingga 48 tahun.

 

Selain mengejar pengumpulan kekayaan dan materi, seorang lelaki dan seorang perempuan yang memasuki tahap Grihasta setelah melangsungkan upacara perkawinan secara Hindu, mereka akan membangun rumah tangga, berkeluarga, mencari kekayaan, membesarkan anak, dan menikmati kehidupan duniawi; mereka juga mengembangkan kehidupan spiritual. Kehidupan spiritual tidak lain memberikan donasi kepada orang-orang yang membutuhkan, serta menyelenggarakan lima kurban besar (panch yajna). Yajna itu meliputi : (1) Brahma yajna, yaitu studi Veda, meditasi, dan doa; (2) Deva yajna, yakni persembahan ghee atau mentega murni dalam api; (3) Pitri yajna, yaitu perawatan orang tua dan kaum lansia; (4) Bhuta yajna, yakni pelayanan terhadap orang miskin, penyandang disabilitas, dan hewan; dan (5) Atithi yajna, yaitu penghormatan terhadap tamu dan orang bijak atau orang suci.

 

Tahapan hidup berikutnya adalah Vanaprastha, yang secara harfiah bermakna "pensiun ke hutan" atau dapat diartikan "orang yang telah meninggalkan hidup keduniawian". Vanaprastha sebetulnya tidak lain masa peralihan dari tahap perumah tangga yang masih intens mengejar artha dan kama menuju tahap kehidupan yang menyasar pada moksha. Vanaprastha berlangsung antara usia 48 sampai 72 tahun.

 

Memasuki tahap transisi Vanaprastha umumnya orang telah memiliki cucu. Dan sebagai pencari nafkah, sang perumah tangga sudah mulai mengalihkan tanggung jawab usahanya ke generasi yang lebih muda. Mereka juga mulai memfokuskan diri pada aktivitas sosial dan pencarian spiritual. Dari pandangan sebagian orang, Vanaprastha dalam praktiknya bukan bermakna si perumah tangga benar-benar meninggalkan segalanya dan langsung pergi mengembara ke hutan, tetapi lebih merupakan satu pedoman atau metafora. Ia masih tinggal dalam komunitas keluarga besarnya, namun lebih banyak bertindak sebagai penasihat. Dengan begitu ia menjadi tokoh panutan yang disegani oleh kelompoknya.

 

Tahap keempat atau tahap terakhir dalam sistem empat asrama adalah Sannyasa, yang secara literal berarti "penyucian dari segala hal". Sannyasa bisa ditemukan pengertiannya pada kitab Samhita, Aranyaka, dan Brahmana. Sannyasa sebetulnya adalah kehidupan membiara, kehidupan pelepasan, atau kehidupan petapaan. Mereka yang telah memasuki tahap terakhir ini tidak lagi memiliki ketertarikan terhadap kehidupan duniawi, namun lebih memilih untuk mengejar kehidupan yang damai, penuh cinta kasih kepada semua makhluk, dan menyukai kesederhanaan. Ia hanya berfokus pada pencapaian moksha atau pembebasan. Tahap ini bisa dimulai secara teoritis pada umur 72+ atau kurang dari itu.

 

Seseorang yang memasuki kehidupan ini dikenal sebagai "Sannyasi" untuk laki-laki dan "Sannyasini" untuk perempuan. Dalam tradisi Monastisisme mereka dinamakan pula "Sadhu" dan "Sadhvi", sedangkan dalam tradisi Buddhisme disebut sebagai bhikkhu dan bhikkhuni.

 

Dalam memahami empat asrama itu, Anda jangan sampai terjebak dalam pemahaman bahwa setiap orang akan memulai kehidupannya dari tahap pertama, lalu melangkah ke tahap kedua, kemudian ke tahap ketiga, dan terakhir menuju tahap keempat. Seseorang yang mulai dari Brahmacari selanjutnya boleh mengabaikan tahap Grihasta, dan langsung menuju tahap Vanaprastha dan tidak lama berselang memasuki tahap Sannyasa.

 

Jika Anda bukan penganut agama Hindu, tidak ada salahnya kita mengambil pelajaran tentang empat asrama ini. Banyak nilai-nilai mulia yang bisa diterapkan dalam kehidupan kita. Dari tahap Brahmacari orang dituntut untuk sepenuhnya fokus dalam menuntut ilmu dan tidak tergoda untuk menikah di usia muda. Sewaktu berkiprah dalam masa Grihasta, walaupun ia sibuk bekerja dan berkarier, tetapi kewajiban untuk memberikan donasi sesuai dengan tuntutan agama jangan sampai dilupakan. Sewaktu menginjak tahap Sannyasa, orang dididik untuk mempersiapkan masa tua dengan sebaik-baiknya, yakni dengan mendelegasikan usaha mencari nafkah kepada kerabat sendiri sebagai penerusnya. Dan saat menghadapi masa tua, inilah saatnya kita melepas apa pun yang kita miliki, dengan menjalani hidup secara ugahari dan hanya memfokuskan diri pada urusan-urusan spiritual.

 

Kita kembali kepada teman penulis yang beraspirasi menjalani kehidupan kebhikkhuan. Menjadi bhikkhu atau biarawan di usia lanjut ternyata sesuai dengan model yang diajarkan oleh sistem empat asrama itu. Begitu memasuki usia pensiun, teman tadi menganggap inilah kesempatan emas guna mengembangkan diri sepenuhnya. Jika diri ini sudah benar-benar siap, menjadi biarawan adalah pilihan yang paling ideal. Jika tidak bisa dihabiskan sebagai bhikkhu, karena ada syarat administratif – yakni batasan usia – dengan masih menyandang jabatan perumah tangga ia bisa menghabiskan waktunya dengan lebih banyak tinggal di lingkungan rumah ibadah. Dengan lebih banyak waktu dihabiskan di rumah ibadah, ada peluang untuk terlibat dalam kegiatan sosial; seperti membantu kegiatan bakti-sosial, mempersiapkan penyelenggaraan upacara keagamaan, membacakan paritta atau keng untuk orang sakit dan orang yang telah meninggal, dan lain sebagainya. Berlatih meditasi secara intensif dalam program retret untuk kurun waktu yang cukup panjang dengan bimbingan ahli meditasi yang piawai, adalah aktivitas yang bisa ia lakukan untuk menyalurkan aspirasinya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210421

  

Rabu, 07 April 2021

HOK TEK CENG SIN DAN AGAMA ORANG TIONGHOA



Anda yang pernah berkunjung ke kelenteng untuk bersembahyang atau sekedar melihat-lihat keadaan di sana, mungkin pernah mendengar sosok dewa yang paling banyak dipuja oleh masyarakat. Sosok dewa ini tidak lain dewa bumi. Sesungguhnya ada dua sosok dewa yang berbeda, dengan yang pertama dinamakan Fu De Zheng Shen atau Hok Tek Ceng Sin, dan yang kedua adalah Tu Di Gong atau Tho Ti Kong. Yang membedakan keduanya, Hok Tek Ceng Sin merupakan satu tokoh dewa yang arcanya diletakkan pada altar yang sama tingginya dengan dewa-dewa lain, sedangkan Tho Ti Kong merujuk pada dewa lokal atau dewa setempat dan altarnya diposisikan dekat dengan tanah. Dengan demikian ada banyak Tho Ti Kong, yang masing-masing berkuasa di wilayah kekuasaannya; seperti ada Tho Ti Kong Bogor, Tho Ti Kong Sukabumi, Tho Ti Kong Tangerang, dan lain sebagainya.

 

Hok Tek Ceng Sin yang banyak dipuja di banyak kelenteng, sebetulnya siapa dia gerangan? Cerita asal-usulnya cukup banyak dan beragam, namun versi yang lebih banyak dipercaya orang berasal dari sebuah kisah di zaman Dinasti Zhou. Alkisah pada tahun 1134 seb.M. pada pemerintahan Kaisar Zhou Wu Wang, tepatnya pada tanggal 2 bulan kedua menurut penanggalan Tionghoa lahir seorang anak laki-laki yang bernama Zhang Fu De atau Ceng Hok Tek. Sejak masih kanak-kanak telah bisa dilihat bahwa Hok Tek adalah seorang anak yang pintar dan berwatak mulia, dan sejak usia dini ia telah mempelajari sastra Tionghoa kuno dan menerima pendidikan formal yang baik. Menginjak usia 36 tahun, Hok Tek dipercaya memangku jabatan menteri urusan perpajakan. Ia terkenal sebagai seorang pejabat negara yang bijaksana juga memiliki kualitas kebajikan tertentu. Bagi rakyat yang kekurangan ia tidak menarik pajak yang berlebihan, sehingga rakyat tidak terbebani. Bahkan ia sering memberikan bagian hartanya untuk menolong rakyat miskin. Ia sangat dicintai rakyatnya dan setelah mengabdi cukup lama kepada negerinya, ia wafat pada usia 102 tahun.

 

Setelah wafatnya Ceng Hok Tek, Kaisar yang berkuasa menunjuk seorang penerusnya yang bernama Wei Chao. Bertentangan seratus delapan puluh derajat dengan pendahulunya, Wei Chao adalah seorang yang serakah, kejam, serta berwatak buruk, Dalam menarik pajak, ia tidak pandang bulu dan tidak mengenal belas kasihan. Demi menuruti ambisi yang akan membuat atasannya memberikan pangkat dan imbal jasa yang besar, Wei Chao bertindak sewenang-wenang. Semua orang dikenai pajak yang tinggi dan memberatkan, dan jika mereka tidak mampu membayar akan dikenakan hukuman berat, sehingga masyarakat sangat menderita. Akhirnya karena penderitaan hidup yang tak tertahankan, banyak penduduk yang pergi meninggalkan kampung halaman mereka, dan membuat sawah-ladang di tempat asal mereka menjadi terbengkalai. Dalam kesengsaraan dan ketertindasan mereka, rakyat mengingat tokoh bijaksana seperti Ceng Hok Tek yang telah meninggal dunia.

 

Ada sebuah keluarga yang hidupnya sehari-hari sudah kekurangan, kini semakin terpuruk setelah menteri yang baru ini berkuasa. Keluarga ini mengenang kebaikan Ceng Hok Tek dan mereka memimpikan ia kembali untuk memimpin negeri mereka. Keluarga tersebut mengambil empat buah batu bata guna membentuk sebuah kuil mini untuk menghormatinya; dengan tiga bata untuk dinding dan yang satu lagi untuk atap, lalu menuliskan aksara  "Ceng Hok Tek" di dalamnya. Mereka juga meletakkan sebuah tempayan mungil yang telah pecah untuk tempat membakar dupa. Setiap hari mereka bersembahyang di depan tempat pemujaan itu, dan dalam doanya mereka mengharapkan pertolongan Ceng Hok Tek. Wei Chao yang belakangan mengetahui ulah keluarga petani miskin itu, tertawa terbahak-bahak dan mengejek mereka. Mungkin penguasa langit menjadi murka melihat kelakuan Wei Chao yang sudah keterlaluan dan menjadi iba hati kepada keluarga miskin tadi, yang membuat sang penguasa bertindak. Selang tempo tidak berapa lama kemudian, keluarga miskin tersebut menjadi kaya. Seketika itu para tetangga mereka dan penduduk di sekitarnya menjadi gempar, mendengar nasib keluarga papa yang mendadak menjadi orang kaya. Mereka pun turut mempraktikkan pemujaan terhadap arwah Ceng Hok Tek. Konon kabarnya nama Ceng Hok Tek begitu bertuah jika dimintakan pertolongan oleh mereka yang hatinya bersih dan tulus. Petani yang sungguh-sungguh bersujud dan memohon di hadapan Ceng Hok Tek mendapatkan hasil panen yang banyak, orang yang pekerjaannya memelihara ternak mendapatkan hewannya cepat besar dan beranak-pinak, serta pedagang yang menjual barang dagangan ternyata cepat laris dan mendapat laba yang besar. Kata penganutnya, itu semua karena jasa Ceng Hok Tek yang baik dan murah hati. Nama besar Ceng Hok Tek menyebar ke seluruh negeri dan orang banyak pun mulai melakukan pemujaan terhadapnya.

 

Seperti yang terjadi bukan saja di Tiongkok Kuno, melainkan juga di bagian dunia yang lain, Ceng Hok Tek boleh saja meninggal, tetapi jiwanya atau rohnya tetap hidup dalam kepercayaan orang atau pengikutnya. Ceng Hok Tek kini telah menjelma menjadi Hok Tek Ceng Sin atau Fu De Zheng Shen (福德正神 atau Fúdé zhèngshén, pinyin). Kata 神 (shén atau “sin”, Hokian) bermakna "dewa". Dari kata "Shen" muncul istilah baru: "Shenisme" atau 神教 (pinyin: Shénjiào), yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sama dengan "pendewaan". Shenisme adalah label yang digunakan untuk menggambarkan kumpulan tradisi sistem kepercayaan yang berlangsung di masa Tiongkok Kuno, berupa pemujaan terhadap Shen. Istilah "Shenisme" pertama kali digunakan oleh Allan J.A. Elliot pada tahun 1955.

 

Lebih lanjut dalam bahasa Mandarin ada tiga istilah yang berkaitan, yang akan memperjelas makna Shenisme di atas. Anda mesti membedakan diantara  神 shén, 帝 dì, dan 仙 xiān. Walaupun penggunaan dua istilah yang pertama kadang kala kabur, namun jika kita melihatnya dalam konteks kebudayaan Barat, ada perbedaan pengertian diantara "dewa" atau "god" dengan "deitas" atau "deity". Shen menunjuk pada Surga material, sedangkan di  ditujukan pada sumber semesta. Di digambarkan sebagai inti buah yang jatuh, lalu menghasilkan buah yang lain. Buah-buah yang lain ini adalah shen. Jadi di tingkatannya lebih tinggi daripada shen. Istilah yang ketiga 仙 xiān adalah orang yang telah mencapai "yang kekal" (the immortal, Ingg.) atau dalam bahasa kita mengacu pada gagasan "pahlawan". Konsep "yang kekal" ini nantinya diadopsi oleh agama Tao. Dengan demikian pada contoh kita di atas, Ceng Hok Tek telah menjelma menjadi sesosok shen sekaligus pula sesosok xian.

 

Shenisme telah menjadi sistem kepercayaan di Tiongkok sejak zaman kuno hingga saat ini. Contoh shen yang kita ambil di atas berasal dari masa Dinasti Zhou, dan pada zaman itu Buddha Gautama, Guru Kong, dan Nabi Lao Zi semuanya belum lahir. Shenisme ini menjadi pondasi yang membentuk agama orang Tionghoa atau disebut Chinese folk religion. Dari tiga ajaran, Buddhisme, Taoisme, dan Konfusianisme, Shenisme ini paling dekat dengan ajaran Taoisme. Di Tiongkok sendiri diperkirakan 30% dari penduduknya menganut Shenisme dan Taoisme, dan di seluruh dunia kedua ajaran ini diperkirakan memiliki penganut hingga 454 juta orang atau 6.6% dari penduduk dunia. Jumlah ini mendekati jumlah penganut agama Buddha di dunia,

 

Sebagai shen atau dewa Fu De Zheng Shen digambarkan sebagai seorang pria tua yang tersenyum ramah, berambut serta berjanggut panjang berwana putih, dan sering kali digambarkan atau dipatungkan dalam posisi duduk. Dikenang sebagai pejabat teladan semasa hidupnya, ia merupakan pelindung masyarakat serta dianggap sebagai dewa bumi. Hok Tek Ceng Sin sendiri secara harfiah berarti Dewa Bumi atas Kemakmuran dan Jasa. Belakangan seorang penasihat agung kaisar bernama Ie In memberikan makna baru yang berkaitan dengan pesta panen raya di Tiongkok pada istilah Fu De Zheng Shen, yang berarti memperoleh rejeki (Hok / Fu) dalam kebajikan (Tek / De) dengan tetap menegakkan (Ceng / Zheng) nilai-nilai rohani (Sin / Shen). Makna atau istilah ini kemudian menjadi populer dan mengakibatkan munculnya pergeseran peran, yaitu Fu De Zheng Shen kemudian menjadi dewa rejeki. Yang banyak melakukan pemujaan biasanya kalangan pedagang dan tempat pemujaan pun berpindah ke dekat pusat perniagaan atau pasar. Setelah agama Buddha Mahayana masuk ke Tiongkok, tokoh Hok Tek Ceng Sin  mendapat sebutan baru, yakni Amurva Bhumi Bodhisattva. Bahkan setelah itu muncul tradisi pembacaan mantra Amurva Bhumi sewaktu umat melaksanakan persembahyangan.

 

Tempat ibadah agama orang Tionghoa dapat dibedakan menjadi "miao" (庙), atau dalam istilah Hokian menjadi "bio", disebut juga "rumah dewata" dan "ci" (祠) atau "aula leluhur", dan keduanya sering dipertukarkan. Dalam bahasa Indonesia baik miao maupun ci lazim disebut kuil. Bio, belakangan  dinamakan pula kelenteng, sering dikatakan sebagai rumah ibadah agama Konghucu, padahal ini jelas keliru. Untuk umat Konghucu di Indonesia dikenal istilah "litang", sedangkan bio itu sendiri sebenarnya adalah tempat pemujaan Shen atau dewa. Kuil agama orang Tionghoa berbeda dengan kuil penganut Tao 观 atau guan juga disebut 道观 atau daoguan dan vihara Buddhis 寺 atau si, yang mana bio dikelola oleh kepala kuil dengan dibantu oleh beberapa anggota yang merupakan komunitas penganut kepercayaan tersebut. Di dalam bio hanya ada sedikit orang yang menjadi biarawan, dan bahkan sebagian rumah ibadah ini tidak memilikinya. Bio biasanya berukuran kecil, tetapi penampilan di luar maupun di dalamnya amat berwarna-warni, serta atap dan tiangnya kerap dihiasi dengan patung dan relief berbentuk naga dan hewan mitologis lainnya.

 

Setelah kita membahas riwayat Hok Tek Ceng Sin, shenisme atau pendewaan dalam konteks agama orang Tionghoa, serta rumah ibadahnya, kini kita akan meninjau budaya pemujaan Hok Tek Ceng Sin yang masih berlangsung hingga sekarang ini. Untuk itu penulis akan mengambil contoh satu kuil yang terletak di kota Bogor, yang bernama Hok Tek Bio (福德庙). Mungkin ada diantara Anda yang pernah mendengar atau bahkan pernah berkunjung ke sana. Hok Tek Bio terletak di jantung kota Bogor di samping gedung perbelanjaan yang menjulang tinggi. Letaknya tidak sampai seratus meter diukur dari depan pintu gerbang utama Kebun Raya Bogor yang tersohor itu.

 

Konon rumah ibadah ini mulai dibangun pada tahun 1672, yang berarti sudah berusia hampir tiga setengah abad. Jika ini benar cikal bakal bio ini sudah muncul sebelum pembangunan Istana Bogor yang terletak di dalam Kebun Raya (Istana Bogor dibangun pada 1744). Memasuki bio kita dapat melihat sebuah rumah ibadah dengan gaya arsitektur Tiongkok klasik, dengan warna bangunan dominan merah dan kuning. Atapnya menyerupai busur dan di atas wuwungan ditambahkan hiasan hewan mitologis, dan di pilarnya dilingkari relief naga yang elok. Di depan bio masih tersedia halaman lapang yang berfungsi sebagai alun-alun. Dalam perjalanannya dari sejak didirikan entah sudah berapa kali rumah ibadah ini mengalami renovasi, dan kita menemui kesulitan melihat perkembangan bangunan ini karena tidak ada catatan tertulisnya. Namun keotentikan bangunan ini tidak banyak berubah sejak permulaan abad ke-20, yang membuat pemerintah menetapkan Hok Tek Bio sebagai cagar budaya sejak tahun 2002. Pada masa Orde Baru rumah ibadah ini pernah diganti namanya menjadi Vihara Dhanagun, namun sekarang ini orang boleh menyebutnya lagi sebagai Hok Tek Bio.

 

Sesuai dengan namanya, pada altar utama bio ini terdapat arca Hok Tek Ceng Sin yang ditata dalam ornamen kuil yang elok. Pengunjung yang ingin melakukan persembahyangan biasanya membeli lilin merah, sejumlah dupa-batang atau hio, dan kertas-uang. Mereka berdoa dulu di depan gerbang dan memberikan persembahan kepada langit, dan dilanjutkan dengan menyalakan lilin dan mempersembahkannya di depan altar utama. Selanjutnya sambil memegang dupa-batang yang sudah dinyalakan mereka berdoa mulai dari altar utama, lalu diteruskan ke altar yang lain, dan setiap doa selesai mereka menancapkan dupa-batang ke guci-abu yang telah disediakan. Persembahyangan dinyatakan selesai setelah mereka membakar kertas-uang di halaman depan. Umat yang datang berharap mendapatkan rejeki dari Hok Tek Ceng Sin. Pedagang memohon agar usaha mereka lancar dan semakin maju, karyawan meminta pekerjaannya dimudahkan dan mereka cepat naik jabatan, serta masyarakat umum mengharapkan kesejahteraan dan keselamatan dalam menjalani hidup sehari-hari. Bio ini memiliki umat dan pendukung yang banyak, bahkan sebagian dari mereka datang dari luar kota untuk bersembahyang di sana. Sepanjang sejarahnya rumah ibadah ini disokong oleh masyarakat etnis Tionghoa, yang kebanyakan diantara mereka adalah kaum pedagang di kota Bogor. Oleh karena itu lokasi bio ini bersebelahan dengan pasar utama, dan sejak era kolonial salah satu sisi rumah ibadah ini dilewati oleh Handelstraat alias Jalan Perniagaan.

 

Selain altar utama di dalam bio disediakan pula altar pemujaan bagi  Tee Cong Ong Po Sat (Dizang Pusa) atau Bodhisattva Kshitigarbha dan Kwan Im Po Sat (Guanyin Pusa) atau Avalokitesvara. Dengan begitu bio ini mendukung pula persembahyangan terhadap para Bodhisattva, yang umum dilakukan oleh umat Buddha Mahayana. Ada pula altar pemujaan Houw Ciang Kun (Hu Jiang-jun) atau Dewa Harimau, yang dipercaya sebagai sosok Harimau Sakti yang merupakan pengawal pribadi Hok Tek Ceng Sin dan ia mampu mengusir roh jahat. Selain dewa-dewa yang berasal dan Tiongkok, Hok Tek Bio Bogor mengakomodasikan pula altar pemujaan Eyang Raden Surya Kencana dan Mbah Bogor. Seperti tokoh yang lain, keduanya diperlakukan sebagai dewa dan orang melakukan persembahyangan di depan altar keduanya. Lalu siapa gerangan Eyang Surya Kencana dan Mbah Bogor itu? Raden Surya Kencana itu putera Aria Wiratanudatar, pendiri Kota Cianjur. Selanjutnya ia memiliki putera yang bernama Prabu Siliwangi. Eyang Surya Kencana adalah karuhun atau nenek moyang orang Sunda yang sangat dihormati. Sedangkan Mbah Bogor susah dilacak siapa dia sebenarnya, dan sebagian orang mengaitkannya dengan Mbah Dalem Bogor, tokoh Sunda sesepuh Bogor yang memiliki petilasan di Jalan Batutulis kota Bogor.
 

Andre Ginting (2017), seorang peneliti, pernah mengemukakan pendapatnya: "Observasi langsung mengungkapkan kejadian unik di kuil ini, yang mana tokoh-tokoh keramat setempat diabadikan oleh para pemuja Shenisme. Mereka adalah Raden Surya Kencana dan Mbah Bogor. Mereka dihormati sebagai dewa. Praktik keagamaan ini bisa dianggap sebagai 'Sinisasi', yang secara harfiah bermakna mendekatkan diri pada cita-cita agama orang Tionghoa." Dengan demikian terjadi pragmatisme agama orang Tionghoa yang mampu mengakomodir tokoh-tokoh masyarakat yang dihormati dan menjadikan mereka sebagai suciwan yang patut disembah layaknya dewa. Dan memang benar pendapat orang pribumi di Nusantara sejak dulu kala, bahwa agama orang Tionghoa itu agama yang paling toleran yang pernah mereka temukan,

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210407