Rabu, 02 November 2022

KONG KAUW HWEE

 


Seperti yang disebutkan pada tulisan kami yang terdahulu, memasuki abad ke-19 kristenisasi mulai digalakkan oleh Pemerintah Kolonial, sejalan dengan misi penjajahan itu sendiri. Program ini pun mulai menyasar komunitas Tionghoa terutama pada masyarakat perkotaan; padahal orang Tionghoa telah memiliki kepercayaan dan agama yang dibawa oleh leluhur mereka. Para misionaris Kristen dan Katolik dengan segala cara berupaya menyebarkan agama yang mereka bawa dari Eropa, dan aparat pemerintahan pun mendukung upaya para zending, dengan menjalankan politik diskriminatif.

 

Seperti yang dijelaskan dalam tulisan kami sebelumnya, sejak VOC dan Kerajaan Belanda menguasai Nusantara mereka telah menciptakan tatanan sosial berdasarkan pada struktur rasial dan sosial yang kaku; dengan para elit Belanda berada di puncak hierarki dan di bawahnya ada golongan Timur Asing dan Bumiputera. Belakangan menurut Algemene Bepalingen van Wetgeving yang diperbaharui pada tahun 1848, terutama berkaitan dengan pasal 6-10, ditegaskan bahwa rakyat Hindia Belanda dibagi menjadi dua golongan yaitu Eropa dan Bumiputera. Mereka yang tidak mau berpindah agama dan memeluk agama Kristen, dimasukkan ke dalam golongan Bumiputera yang beragama Islam. Sebaliknya orang yang berasal dari Timur Asing atau Bumiputera yang telah memeluk agama Kristen, disetarakan kedudukannya sama dengan golongan Eropa. Jadi agama dijadikan ukuran untuk menentukan golongan seseorang. Walaupun di tahun 1854 Pemerintah Kolonial mengeluarkan Regerings Reglement, yang mana dalam pasal 109 agama tidak lagi menjadi ukuran, kebijakan diskriminatif itu masih membekas hingga zaman kita ini. Masih tersisa anggapan semu pada sementara orang Tionghoa, bahwa setelah mereka berpindah keyakinan menjadi penganut agama Kristen, status sosial mereka pun menjadi terangkat.

 

Justru dengan adanya kebijakan yang diskriminatif itu muncul perlawanan dari beberapa tokoh Tionghoa, untuk menggali kembali agama dan ajaran leluhur mereka. Selama ini mereka hanya mengikuti tradisi dengan melakukan persembahyangan di meja abu keluarga atau melakukan puja bakti di bio mengikuti penanggalan lunar. Jadi mereka hanya mengikuti ritual keagamaan secara turun-temurun, tanpa mengetahui makna dibalik upacara-upacara tersebut. Jika membandingkan dengan ibadah yang diajarkan oleh para misionaris kristiani, ritual saat mereka bersembahyang amatlah berbeda. Jadi ada desakan untuk mempelajari ajaran agama orang Tionghoa untuk memahami makna di balik ritual-ritual yang biasa mereka lakukan; serta menurut pengertian mereka semua ajaran leluhur itu berasal dari doktrin yang diajarkan oleh Konghucu (atau Kǒng Zǐ).

 

Kristenisasi pada abad ke-19 bukan hanya terjadi di Hindia Belanda, tetapi juga melanda Tiongkok. Saat itu Tiongkok di bawah Dinasti Qīng kedatangan bangsa-bangsa Barat, yang sedang melakukan ekspansi guna memperluas wilayah jajahan mereka. Dua tokoh yang mempelopori kebangkitan ajaran Khonghucu adalah Zéng Guó Fān dan Kāng Yǒu Wéi. Tentu saja tidak mungkin menceritakan peran mereka secara lengkap dalam tulisan kita kali ini. Zéng Guó Fān (曾国藩, 26-Nov-1811 - 12-Mar-1872) menjadi terkenal karena dia membesarkan dan mengorganisir Tentara Xiang untuk membantu militer Qīng dalam menekan Pemberontakan Taiping dan memulihkan stabilitas kekaisaran. Bersama dengan tokoh-tokoh terkemuka lainnya pada masanya, Zéng memprakarsai Restorasi Tongzhi, sebuah upaya untuk menahan kemunduran Dinasti Qing. Zéng memiliki keterampilan administratif serta mempunyai kepribadian mulia dalam mempraktikkan Konfusianisme. Kāng Yǒu Wéi (康有為, 19-Mar-1858 - 31-Mar-1927) adalah seorang pemikir dan pembaharu politik terkemuka di Tiongkok pada akhir dinasti Qīng. Kedekatan dan pengaruhnya yang besar terhadap Kaisar Guangxu, menjadikannya seorang tokoh reformasi dalam kebangkitan Tiongkok yang modern, pencetus identitas Ketionghoaan, dan pelopor kebangkitan Konfusianisme. Selain terkenal di Tiongkok, Kāng juga populer di kalangan diaspora Tionghoa di mancanegara.

 

Jika dirunut menurut sejarah perkembangan agama Konghucu di Tanah Air, kita tidak boleh melupakan peran Kelenteng Boen Bio (terletak di Jalan Kapasan No. 131), yang merupakan "benteng terakhir pertahanan" agama Konghucu di Surabaya. Awalnya kelenteng ini bernama Boen Thjiang Soe (atau Wén Chāng Cí, 文昌祠), yang dibangun pada tahun 1883. Orang Belanda menyebutnya "Gredja Boen Bio" atau Gredja Khonghoetjoe (de kerk van Confucius). Kuil yang megah untuk ukuran zaman itu sangat disayangkan jika berlokasi di dalam kampung. Kemudian pada 1903, setelah Kāng Yǒu Wéi berkunjung ke Surabaya, dia mengusulkan untuk memindahkannya ke tepi jalan besar. Setelah mendapat sumbangan tanah seluas sekitar 500 meter persegi dari Mayor The Toan Ing, pengurus lalu memulai pembangunan dan relokasi. Biayanya ditutup dari sumbangan uang hasil denda, yang diperoleh para saudagar Tionghoa setelah memenangkan perkara HVA (Handels Vereeniging Amsterdam) di pengadilan. Pemugaran kembali akhirnya selesai tahun 1906.

 

Orang-orang Tionghoa yang terpanggil untuk membenahi agama dan kepercayaannya, terutama berasal dari kalangan cendekiawan, mulai mencari buku-buku yang berasal dari Nabi Kǒng Zǐ. Tersebutlah seorang perintis Sastra Melayu Tionghoa merangkap penulis yang bernama Lie Kim Hok atau Lǐ Jīn Fú (李金福, 1-Nov-1853 - 6-Mei-1912), pada  tahun 1897 memulai penerbitan sebuah buku mengenai kehidupan Nabi Kǒng Zǐ. Buku tersebut berbahasa Melayu, ditulis dengan memanfaatkan sumber-sumber dari kepustakaan Eropa, bukan dari bahasa Mandarin! Lie adalah seorang peranakan yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah zending, yang misi utamanya adalah mengkristenkan rakyat Hindia Belanda. Pada masa itu amat jarang seorang Tionghoa bisa masuk ke sekolah belanda. Lie Kim Hok termasuk siswa yang cerdas, dan dia memiliki hubungan yang akrab dengan para gurunya, seperti C. Albers dan D.J. van der Linden. Lie Kim Hok bahkan pernah bekerja pada percetakan zending yang khusus menerbitkan buku-buku Kristen. Tapi Lie Kim Hok tidak pernah menjadi Kristen, bahkan kelak tercatat sebagai pembela agama Khonghucu yang pertama dari serangan pendeta Kristen. Buku yang dikarang Lie adalah Hikajat Khonghoetjoe, G. Kolff & Co, Batavia, 1897 (92 halaman dalam 1 jilid).

 

Pada awal tahun 1900, Sukabumische Snelpers Drukkerij di Sukabumi telah menerbitkan terjemahan bahasa Melayu dari kitab Thay Hak (Dà Xué, 大學) atau "Ajaran Besar" dan Tiong Yong (Zhōng Yōng, 中庸) atau "Tengah Sempurna", yang di kerjakan oleh Tan Ging Tiong dengan dibantu oleh Yoe Tjai Siang. Dalam kata pengantar tertanggal 24 Februari 1900 yang terdapat dalam kedua kitab terjemahan itu, Tan Ging Tiong menulis sebagai berikut : "Pada tanggal 24 Desember 1899 kami telah menemui Tuan Liem Boen Keng di Singapura. Dalam pertemuan itu, tuan Liem Boen Keng yang telah mendirikan Kong Kauw Hwee (Perhimpunan Agama Konghucu) di Singapura dan Malaka, mengatakan bahwa hingga kini belum ada seorang pun yang sanggup menerjemahkan kitab Thay Hak dan Tiong Yong ke dalam bahasa Melayu dengan sempurna. Karena itu Tuan Liem mengharap jika terjemahan kami sudah selesai dicetak, dia berharap agar dia dikirimkan satu eksemplar untuk dapat diperiksa oleh perkumpulan Kong Kauw Hwee yang didirikannya."

 

Di Ambon, Njio Tjoen Ean (15-Jul-1860 - 15-Agu-1925) mengikuti jejak ayahnya Njio Tjang Tjoan sebagai Kapiten Tionghoa (1856-1891). Meskipun berpendidikan Belanda, Tjoen Ean sangat berminat terhadap kebudayaan dan filsafat Tionghoa. Dari sini, dia mulai menerjemahkan buku-buku Tionghoa ke Bahasa Melayu. Buku-buku klasik Tionghoa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu, dilakukan hampir bersamaan waktu dengan kegiatan serupa di Batavia oleh Lie Kim Hok. Apa yang dilakukannya di Ambon, ternyata tiga tahun lebih dulu ketimbang yang dirintis oleh Tan Ging Tiong dan Joe Tjai Siang di Jawa.  Atas dasar itulah, dia disebut sebagai penerjemah pertama karya-karya klasik Khonghucu ke dalam Bahasa Melayu. Pada tahun 1897 Njio menerbitkan Soe Sie (Sì Shū, 四書) atau "Empat Kitab". Setelah terbitnya Thay Hak, Tiong Yong, dan Soe Sie, maka sebagian Kanon Konfusius dalam bahasa Melayu telah terbentuk.

 

Dalam artikel yang lalu, penulis menyebutkan bahwa komunitas Tionghoa Peranakan berasal dari perantau lelaki muda Tionghoa yang berasal dari Tiongkok Daratan, yang kemudian mengawini perempuan bumiputera dan kemudian keturunan mereka dinamakan 'peranakan'. Seperti yang mungkin para pembaca ketahui, sebelum abad ke-19 kita mengenal istilah 'perbudakan'. Perbudakan yang paling terkenal di zaman modern terjadi ketika orang kulit putih mendatangkan pekerja-pekerja kulit hitam dari Benua Afrika, untuk mengeksplorasi Dunia Baru atau Benua Amerika. Perbudakan bukan saja terjadi di Dunia Baru, tetapi juga pernah terjadi di Batavia. Batavia yang merupakan pintu utama bangsa Tionghoa masuk ke Jawa, di zaman itu pernah menjadi pusat perbudakan. Budak-budak didatangkan dari pelbagai penjuru Nusantara terutama dari Bali dan Sulawesi. Budak-budak dari suku bangsa Bali, Bugis, Ambon, Timor, baik laki-laki maupun perempuan, biasa dilelang di 'Pasar Budak', layaknya pedagang biasa melelang kuda. Banyak di antara budak-budak perempuan itu dibeli oleh saudagar Tionghoa dan sebagian dari mereka dijadikan gundik atau isteri muda.

 

Saudagar Tionghoa ini jelas memiliki status yang lebih tinggi daripada gundiknya. Para saudagar ini hidup berkecukupan, namun pada paruh kedua abad ke-19 pendidikan bukanlah hal yang menjadi perhatian mereka. Kepala keluarga peranakan ini jika mereka sadar akan pentingnya pendidikan, maka anak laki-lakinya akan diberikan pelajaran bahasa Mandarin, dengan jalan memanggil seorang guru-les guna memberikan pelajaran privat. Nasib anak perempuan mereka malah tidak diperhatikan sama sekali, karena mereka berpikir para gadis ini kelak akan dijadikan isteri orang dan hanya akan berkutat di urusan rumah tangga saja. Lalu soal kebiasaan yang diturunkan kepada pasangan peranakan itu pun, tidak sepenuhnya anak-anak diajarkan adat istiadat dan kesopanan ala Tionghoa Totok. Di bawah asuhan ibunya yang berasal dari komunitas bumiputera, mereka pun mendidik anak-anaknya dengan cara-cara dan sopan santun layaknya orang bumiputera. Jadi anak-anak peranakan bahkan sampai ke cucu dan cicit mereka mengadopsi budaya campuran Tionghoa-Bumiputera.

 

Dari sudut pandang orang Tionghoa Totok mereka melihat satu budaya gado-gado. Kwee Tek Hoay dalam tulisannya, Hikajat THHK, dalam Moestika Romans 1933, menulis dalam upacara kematian pun tidak sedikit adat kebiasaan bumiputera yang masuk dalam tradisi kebiasaan para Tionghoa Peranakan itu. Contohnya diletakkannya bunga kamboja di atas peti mati, pula saat peti mati sudah ada di dalam lubang lalu diadakan acara membelah sebutir buah kelapa, serta diteruskan dengan memutuskan sepotong rotan di pinggir lubang makam. Selanjutnya selain melakukan upacara sembahyang yang biasa dilakukan berdasarkan peredaran musim menurut Kalender Tionghoa, peranakan Tionghoa di Jawa juga melakukan sembahyang sedekah pada hari Maulud Nabi Muhammad dan hari-hari lainnya, yang menjadi kebiasaan umat beragama Islam. Bahkan seringkali upacara sembahyang ini justru merupakan itikad dan niat dari nyonya rumah yang merupakan seorang perempuan peranakan, yang sejak kecil melakukan hal itu berdasarkan ajaran ibu atau neneknya yang merupakan perempuan bumiputera.

 

Yoe Tjai Siang bersama Tan Ging Tiong, yang membantu penyusunan buku Thay Hak dan Tiong Yong, dalam kata pengantar yang tertanggal 15 Januari 1900, menganjurkan agar tokoh Tionghoa Peranakan di Jawa juga mendirikan satu perkumpulan yang bertujuan mempelajari agama Khonghucu. Anjuran ini dapat dilihat dalam catatannya sebagai berikut : " … Maka untuk dapat memperdalam agama Khonghucu sebaiknya didirikan sebuah organisasi lengkap dengan para pengurusnya. Semua orang yang ingin bergabung dalam organisasi ini harus dipandang sebagai orang yang sungguh-sungguh mempunyai keinginan untuk belajar." Para tokoh Tionghoa yang cukup terpelajar mulai menyadari bahwa kekacauan budaya yang terjadi selama ini adalah karena lemahnya agama yang dianut oleh komunitas Tionghoa Peranakan itu sendiri. Mereka merasa perlu adanya satu agama atau satu pelajaran moral yang kokoh – seperti yang ada dalam agama Islam atau Kristen - agar dapat digunakan sebagai pedoman hidup dan pelatihan batin sekaligus.

 

Selanjutnya dalam waktu yang tidak terlalu lama, gerakan reformasi yang dilakukan oleh Kāng Yǒu Wéi di Tiongkok, mulai terdengar sampai ke Hindia Belanda. Beberapa orang Tionghoa Peranakan yang cukup terpelajar dan berwawasan luas mulai memikirkan untuk melakukan reformasi di kalangan komunitas Tionghoa itu sendiri. Bahkan ada beberapa di antara mereka yang berpikiran radikal, yang bercita-cita ingin memurnikan adat istiadat Tionghoa dari anasir-anasir yang keliru. Pemurnian adat dan agama ini berpedoman pada ajaran Nabi Besar Kǒng Zǐ. Akhirnya satu kelompok intelektual dan tokoh Tionghoa Peranakan di Batavia yang beranggotakan Phoa Keng Hek, Lie Hin Liam, Lie Kim Hok, Khoe A Fan, Khouw Kim An, Khoe Siauw Eng, Khouw Lam Tjiang dan lain-lain sebanyak 20 orang, sepakat membentuk satu perkumpulan sosial yang dinamakan 'Tiong Hoa Hwee Kwan', disingkat 'THHK', atau 'Roemah Perkumpulan Tionghoa'. Organisasi ini didirikan tanggal 17 Maret 1900, dan diakui sah melalui surat penetapan Gubernur Jendral tertanggal 3 Juni 1900.

 

Phoa Keng Hek atau Pān Jǐng Hè (潘景赫, 21-Sep-1857 - 19-Jul-1937) adalah pebisnis dan ditunjuk sebagai presiden pertama THHK. Phoa memiliki tingkat intelektual yang tinggi dan bisa bergaul secara luas di kalangan orang Eropa. Beliau juga punya kapasitas untuk mendapatkan segala informasi yang dibutuhkan dalam membentuk satu organisasi modern, guna melakukan reformasi. Belakangan Phoa turut andil dalam melakukan debat intelektual dengan Pendeta L. Tiemersma guna membela kelurusan doktrin Rú Jiào terhadap serangan ajaran Kristen. Dia menjabat presiden sejak THHK didirikan hingga tahun 1923. Phoa tercatat pula sebagai penerima Ridder van Oranye Nassau Orde.

 

Setelah THHK didirikan, para pengurusnya berupaya menampung Tionghoa Peranakan dari berbagai suku untuk ikut ambil bagian. Mereka menekankan bahwa tujuan pendirian THHK ini sangat berbeda jauh dengan segala macam kongsi rahasia, yang menampung tukang berkelahi yang sudah ada di Batavia pada masa itu. Tetapi niat baik itu tidak diindahkan, hingga kedatangan Kāng Yǒu Wéi pada tahun 1903. Ketika datang di Batavia, tokoh karismatik dari Tiongkok ini mampu mengundang begitu banyak orang sehingga gedung THHK dan lapangannya tidak mampu menampung pengunjung yang membludak. Orang banyak berdesak-desakan untuk melihat sendiri tokoh yang dikagumi ini. Ajaib! Setelah pertemuan akbar itu usai, hasilnya sungguh di luar dugaan. Sejak itu di antara pelbagai perkumpulan Tionghoa di Batavia tidak pernah terdengar saling bermusuhan, apalagi sampai berkelahi (Kwee Tek Hoay, Hikajat THHK, Moestika Romans, 1933).

 

Setelah berdirinya THHK, barulah komunitas Tionghoa di Hindia Belanda yang masih menganut agama dan adat istiadat Tionghoa mendapatkan pencerahan kembali, dan bersamaan dengan itu dimulailah satu periode zaman baru dalam sejarahnya. Beberapa tahun kemudian muncul perkumpulan lainnya seperti Kong Kauw Hwee, Siang Hwee, Shiong Thi Hui, Chung Hsioh, Hoa Chiao, Tsing Nien Hui dan lain sebagainya, yang mana mereka bergerak dalam lingkup keagamaan, ekonomi, sosial, pendidikan dan lain-lain. Khusus untuk Kong Kauw Hwee yakni Perkumpulan Agama Konghucu, inilah yang kelak akan melahirkan Kong Kauw Tjong Hwee (atau Kǒng Jiào Zǒng Huì, 孔教總會) pada tahun 1923. Belakangan Kong Kauw Tjong Hwee berubah menjadi 'Matakin' atau 'Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia'.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/221102

 


Rabu, 12 Oktober 2022

KWEE TEK HOAY DAN TRIDHARMA (Bagian Kedua dari Dua Tulisan)



Pada tulisan yang lalu kita telah membahas sekilas kehidupan Kwee Tek Hoay dan siapa orang tuanya. Tulisan kali ini mencoba menggambarkan tantangan yang dihadapi oleh komunitas Tionghoa sampai terbentuknya Tridharma, oleh Sang Pendiri Kwee Tek Hoay.

 

Kejadian besar apa yang terjadi pada permulaan abad ke-20 di Hindia Belanda dan negara lainnya? Coba kita lihat kutipan berikut ini: "Sejak 1910, saya menjabat sebagai majoor der Chineezen. Saya telah mencurahkan bakat dan kemampuan saya yang terbatas ini untuk kepentingan masyarakat. Sebagai seorang pejabat, saya mewakili warga sebangsa saya di luar negeri (maksudnya di luar Tiongkok Daratan yakni di Hindia Belanda, penulis), dan selama ini saya telah memenuhi tugas saya dengan pengabdian yang tinggi. Ketika saya dipromosikan di Kantor ini, kerusuhan sosial menggoyang dunia. Di negara leluhur kami terjadi revolusi yang menggulingkan rezim otokratis, dan di Jawa generasi muda memberontak melawan tatanan lama. Konfrontasi antara tua dan muda memiliki dampak yang sangat besar pada masyarakat. Namun dengan segala kerendahan hati, saya berani mengatakan bahwa saya, dengan bantuan staf saya, telah berhasil menjaga keamanan dan ketertiban; sehingga semua warga kami dapat hidup dengan damai."

 

Fragmen ini diambil dari panel-panel Kong Koan yang pernah menghiasi dinding bangunan Dewan Tionghoa di Batavia. Sekarang panel kayu bertuliskan huruf kanji ini dapat ditemukan di Institut Sinologi Universitas Leiden. Fragmen di atas diambil dari sebuah panel kayu yang bertuliskan tahun 1918 atas perintah mayor Tionghoa terakhir di Batavia, Khouw Kim An (2-Jun-1875 - 6-Sep-1945). Ketika Khouw diangkat sebagai perwira Tionghoa, dia melihat bahwa dunia sedang berubah. Pada awal abad itu, cengkeraman Imperium Belanda atas Nusantara semakin intensif. Pada tahun 1911 Kekaisaran Qīng digulingkan oleh kelompok anti-kekaisaran, dan peristiwa itu sekaligus mengakhiri pemerintahan dinasti yang telah berlangsung selama ribuan tahun di Tiongkok. Di Hindia Belanda lahir gerakan-gerakan yang dipelopori kaum bumiputera dan tokoh Tionghoa, yang menantang tatanan mapan yang telah berlangsung selama tiga-ratus tahun. Kita yang mempelajari sejarah Nusantara pasti ingat Pergerakan Boedi Oetomo yang muncul pada tahun 1908. Di tengah perkembangan penting ini, Dewan Tionghoa (Kong Koan) Batavia berjuang untuk bertahan, sebagai lembaga utama kepemimpinan komunitas bagi penduduk Tionghoa di kota pesisir Jawa Barat ini.

 

Sebelumnya telah disebutkan bahwa komunitas Tionghoa adalah kelompok Timur Asing terbesar di Hindia Belanda, dan setelah tahun 1911 ada lebih banyak orang Tionghoa yang datang ke Nusantara. Apalagi setelah dibukanya perkebunan karet dan tembakau, imigran dari Tiongkok Daratan mulai mendatangi daerah di luar Jawa. Para pendatang atau perantau ini biasanya adalah lelaki muda dan kelompok imigran ini tidak membawa perempuan. Setelah para perantau ini berhasil dan mampu menafkahi dirinya sendiri, mereka mulai mencari pasangan. Jadi mereka mengawini perempuan bumiputera, dan anak-anak mereka dinamakan 'peranakan'. Di Malaysia dan Singapura kaum peranakan ini disebut babah dan nyonya. Golongan peranakan ini telah beradaptasi dengan bahasa dan budaya masyarakat Nusantara, dan mereka telah kehilangan kemampuannya untuk berbicara dan menulis dalam bahasa leluhurnya. Sebaliknya para imigran yang baru datang ini disebut totok atau sebagian orang menyebutnya singkeh, adalah orang kelahiran Tiongkok Daratan yang masih melestarikan bahasa dan budaya negara leluhurnya. Jika dua kelompok ini disatukan, mereka belum tentu akur. Peranakan mengejek kaum totok sebagai golongan kolot, tidak tahu adat kesopanan, dan miskin. Sebaliknya komunitas totok menganggap bahwa peranakan itu tidak berdarah murni dan telah kehilangan nasionalismenya terhadap tanah leluhur. Jadi komunitas Tionghoa di Hindia Belanda bukanlah masyarakat homogen, apalagi di kalangan peranakan sendiri ada sebutan tentang cina betawi, cina benteng, cina jawa, dan cina medan.

 

Kita yang belajar Sejarah Nusantara mungkin pernah mendengar tentang Tanam Paksa (atau Cultuurstelsel) yang menimbulkan penderitaan hebat bagi rakyat bumiputera. Ungkapan dan tulisan tentang kesengsaraaan rakyat di Hindia itu digaungkan oleh Pieter Brooshooft, wartawan koran 'De Locomotief', dan politikus Conrad Theodore van Deventer; belakangan mampu membuka mata pimpinan Kerajaan Belanda untuk lebih memperhatikan rakyat bumiputera yang terbelakang. Ratu Wilhelmina yang saat itu baru naik tahta, pada 17 September 1901 menegaskan dalam sidang Parlemen Belanda, bahwa Kerajaan mempunyai utang budi (een eerschuld) dan panggilan moral untuk memulai Politik Etis. Panggilan moral tersebut kelak diwujudkan dalam (1) membangun dan memperbaiki irigasi dan bendungan untuk keperluan pertanian, (2) melakukan transmigrasi dari Jawa ke daerah lain, dan (3) memperluas jangkauan bidang pengajaran dan pendidikan.

 

Butir ketiga perwujudan Politik Etis ini adalah yang terpenting, karena kebijakan ini memberikan pendidikan yang lebih luas kepada rakyat Hindia Belanda yang sebagian besar buta huruf. Sebelum tahun 1900 bukan tidak ada pendidikan atau sekolah, tetapi sekolah hanya ada dalam jumlah terbatas dan bukan berbentuk sekolah formal. Seperti misalnya pada tahun 1860 pemerintah kolonial mendirikan Hoogere Burger School atau HBS Koning Willem III (Kawedri), sebuah sekolah menengah di Batavia.

 

Seperti dikatakan oleh Khouw Kim An tentang dunia yang sedang berubah, komunitas Tionghoa di Batavia mendirikan Tiong Hoa Hwee Kwan atau Zhōng Huá Huì Guǎn (中华会馆) selanjutnya disingkat THHK, atau 'Roemah Perkumpulan Tionghoa'. Organisasi ini didirikan tanggal 17 Maret 1900 oleh beberapa tokoh peranakan Tionghoa di Batavia. Tujuan utama para pendirinya tidak lain mendorong orang Tionghoa yang bermukim di Hindia Belanda untuk mengenal identitasnya, agar mereka bisa bersatu sebagai satu kelompok masyarakat yang dihormati oleh penjajah Belanda. Proses pengenalan kebudayaan atau pencarian identitas yang ditempuh oleh para pendiri THHK dilakukan lewat penyebarluasan ajaran Konghucu. Kegiatan utama THHK adalah mendirikan sekolah berbahasa Mandarin. Yang paling terkenal adalah THHK Batavia yang bernama Bahoa dan THHK Tegal yang diberi sebutan Zehoa. Sekolah THHK merupakan sekolah swasta modern pertama kala itu. Berdirinya sekolah ini merupakan reaksi masyarakat Tionghoa di Batavia terhadap pemerintah Belanda yang tidak pernah memberikan akses pendidikan kepada anak-anak Tionghoa. Akibat perkembangan yang pesat dari sekolah THHK, pemerintah kolonial khawatir anak-anak akan tersedot ke sekolah ini, hingga pada 1908 mereka segera mendirikan Hollandsch Chineesche School (HCS). HCS tidak lain sekolah berbahasa Belanda bagi anak Tionghoa. Sekolah ini serupa dengan Hollandsch Inlandsche School atau HIS (sekolah setingkat SD sekarang), untuk anak-anak bangsawan dan pejabat bumiputera yang berdiri sejak tahun 1902.

 

Belakangan terjadi rivalitas antara sekolah yang didirikan oleh THHK dengan HCS. Polemik juga terjadi di media massa. Kwee Tek Hoay juga terlibat dalam pertarungan gagasan tentang sekolah mana yang sebaiknya didirikan. Kwee menulis sebagai berikut: "Antara bangsa Tionghoa peranakan jang soedah bebrapa toeroenan tinggal disini dan selamanya ingin tinggal tetap di Hindia, apalagi antara orang-orang yang mampoe, kebanyakan jang lebih soeka ambil peladjaran bahasa Olanda. Tapi boeat orang Tionghoa totok jang masih berhoeboeng rapat dengan Tiongkok, apalagi orang Khe dan Kongfoe jang sring kirim anak-anaknja boeat dididik di Tiongkok, pelajaran bahasa dan hoeroef Tionghoa ada penting sekali. Laen dari itoe ada banyak sekali orang Tionghoa jang soeka peladjaran dalem bahasa Inggris ataoe Inggris dan Tjeng Im (yakni bahasa Mandarin, penulis), sedang dalem golongan orang-orang jang miskin, ada jang merasa poeas kaloe anaknja dapat peladjaran Melajoe dengan hoeroef Olanda, jang memang ada paling terpake dan paling bergoena di ini Hindia" ("Kita poenja haloean tentang onderijs ", Panorama 18, 16 April 1927, hal. 22).

 

Para imigran Tionghoa dan kaum peranakan memelihara keyakinan dan praktik keagamaan mereka ke Hindia. Dewa adalah bagian penting dari sistem kepercayaan mereka, dan para perantau membawa relik keagamaan dalam wujud patung dewa pelindung dan abu leluhur. Selanjutnya patung dewa pelindung itu ditempatkan di kuil yang dibangun di lingkungan Pecinan. Penjajah Belanda tidak memiliki pemahaman terhadap keyakinan dan praktik keagamaan yang dianut oleh orang-orang Tionghoa di Batavia. Dewan Gereja Batavia selalu menentang dan melancarkan protes keras terhadap upaya pendirian tempat peribadatan komunitas Tionghoa, yang dikenal dengan nama kelenteng atau bio. Patut diketahui oleh Anda para pembaca, memasuki abad ke-19, misi zending atau pekabaran-injil di tanah jajahan semakin gencar digalakkan pemerintah kolonial. Sebagai salah satu program kolonialisasi, para wakil gereja melakukan misi penyebaran ajaran Kristen di tengah masyarakat. Namun bukan perkara mudah menjalankannya. Para zending mendapat hambatan besar dari kelompok muslim. M. Natsir dalam bukunya, Islam dan Kristen di Indonesia, menulis tidak ada satu agama yang amat menyusahkan para zending dan misionaris dalam pekerjaan mereka menyebarkan agama Kristen, kecuali saat menghadapi komunitas Islam. Bahkan isu kristenisasi masih menjadi momok yang menghinggapi mayoritas kelompok muslim hingga hari ini, yang kadang kala diungkapkan lewat penolakan pendirian rumah ibadah agama lain.

 

Dewan Gereja Batavia menganggap kuil orang Tionghoa sebagai penyembah berhala, dipengaruhi iblis, penuh takhyul, dan sesat. Bahkan pertunjukan barongsai dan pementasan wayang-potehi yang disebut sebagai opera-jalanan, juga tak luput dari protes dan pembubaran. Hal inilah yang menyebabkan beberapa kuil yang didirikan komunitas Tionghoa di Batavia dihancurkan sesaat setelah didirikan, dan baru sekitar tahun 1650 mereka berhasil mendirikan Kuil Kim Tek Ie (sekarang Vihara Dharma Bakti) di daerah Petak Sembilan, Glodok;  kemungkinan karena Kong Koan telah memiliki posisi tawar yang lebih baik. Jadi meski Gubernur Jenderal tetap menerima protes dari Dewan Gereja Batavia, bahkan sempat dilaporkan langsung ke negeri Belanda, tapi Kuil Kim Tek Ie tetap berdiri. Selama abad ke-17 hingga awal abad ke-19 setidaknya ada tujuh kuil yang dibangun; di antaranya Kelenteng Kim Tek Ie, Kelenteng Tiao Kak Sie, Klenteng Tay Kak Sie, Klenteng Tien Kok Sie, Boen Tek Bio, Klenteng Ban Tek Ie dan Tjoe Tak Bio (lihat: Chia, Jack Meng-Tat, Monks in Motion: Buddhism and Modernity Across the South China Sea, New York: Oxford University Press, 2020).

 

Mungkin ada yang bertanya, apakah ada kegiatan agama Buddha? Seperti yang kita ketahui agama Buddha telah punah dari Nusantara setelah runtuhnya kerajaan Majapahit, dan hanya diketahui dan dipraktikkan oleh sekelompok kecil penganutnya. Jangankan agama Buddha, agama-agama lokal lainya pun tidak diakui. Berdasarkan Volkstelling (artinya: Catatan Sensus) yang dilakukan oleh Pemerintah Kolonial pada tahun 1930, pemerintah hanya mengakui agama Islam, Kristen, dan Katolik, serta jumlah pemeluknya dicatat. Namun, ada satu kategori yang dicap sebagai geen goddienst ('non-agama'). Kategori ini mengacu pada semua agama yang dianggap tidak mendasarkan kepercayaannya pada Tuhan yang satu. Lalu karena di Negeri Belanda pernah terjadi pertentangan yang hebat antara penganut Kristen dan penganut Katolik, maka di semua negeri yang termasuk jajahan Belanda, agama Kristen dan Katolik dipisahkan menjadi dua agama yang berbeda; perbedaan tersebut masih tetap diberlakukan setelah Indonesia merdeka.

 

Namun di akhir abad ke-19, ada gerakan spiritual yang bernama Theosophical Society. Lembaga ini secara resmi dibentuk di New York City, Amerika Serikat, pada 17 November 1875 oleh Helena Petrovna Blavatsky, Kolonel Henry Steel Olcott, William Quan Judge, dan 16 orang lainnya. Pada 3 April 1905 di Chennai (Madras) diumumkan tiga tujuan pendiriannya, yakni: (1) membentuk inti persaudaraan universal umat manusia tanpa membedakan ras, keyakinan, jenis kelamin, kasta, atau warna kulit; (2) mendorong studi perbandingan agama, filsafat, dan ilmu pengetahuan; dan (3) menyelidiki hukum alam yang tidak dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan dan meneliti kekuatan-laten dalam diri manusia. Theosophical Society juga menggali ajaran-ajaran Okultisme, Hinduisme, dan Buddhisme.

 

Mungkin sudah waktunya agama Buddha berkembang kembali di Nusantara, seperti yang pernah diramalkan oleh Sabdo Palon dan Nayagenggong; yang akan terjadi 500 tahun setelah runtuhnya Majapahit, seperti disebutkan dalam Serat Darmagandhul. Menurut Iskandar Nugraha dalam tulisannya Teosofi, Nationalism and Elite Modern Indonesia, Depok: Komunitas Bamboo, 2011, Gerakan Teosofi berdiri di Semarang pada tahun 1901 di Semarang. Dimulai oleh seorang Belanda, A.P. Asperen Van de Velde, dia memulainya dengan membagikan brosur dengan tujuan mengundang orang untuk bergabung dengan gerakan tersebut. Pada mulanya anggotanya hanya berjumlah tujuh orang, namun setelah itu gerakan ini menyebar hingga ke kota-kota lain, seperti Soerabaja (1903), Djogdjakarta (1904), dan Soerakarta (1905). Van Asperen, atas usahanya dalam mempromosikan gerakan tersebut, dianugerahi gelar De Geestelijke Vader der Lodge atau 'Bapak Spiritual Pondok'. Lambat laun Masyarakat Teosofi mendapatkan pijakan kuat di Indonesia. Pengikutnya tidak hanya terbatas pada orang Belanda dan kulit putih, tetapi juga diikuti oleh orang-orang dari kalangan bumiputera dan peranakan Tionghoa yang tinggal di Jawa. Organisasi ini tumbuh dengan mantap dan mendapat respon positif dari masyarakat. Menurut biografi yang ditulis oleh Ibu Visakha Gunadharma, Kwee Tek Hoay menekuni teosofi dengan mengikuti pertemuan-pertemuan yang diadakan secara berkala selama 25 tahun. Karena ketekunan dan pengabdiannya dia mendapatkan penghargaan The Star of the East dari pimpinan Masyarakat Teosofi Cabang Buitenzorg.

 

Selain pendalaman ajaran teosofi, berkembang pula tulisan-tulisan yang kebanyakan berupa terjemahan kebijaksanaan dan ajaran mulia dari India dan Dunia Timur lainnya. Tersebutlah Tan Khoen Swie (1883-1953) seorang penulis dan penerbit buku di Kediri pada paruh pertama abad ke-20. Tan berjasa dalam menyebarluaskan hasil karya sastra Jawa modern. Tan juga membuka toko buku dan percetakan sendiri sekitar tahun 1915, serta menerbitkan karya-karya Theosofi, Buddhisme, Konfusianisme, dan Taoisme. Penerbitan buku ini kelak dilanjutkan oleh Kwee Tek Hoay. Kwee setelah sukses berniaga, menginvestasikan kelebihan uangnya untuk membangun usaha penerbitan dan percetakan. Bahkan dia menerbitkan medianya sendiri seperti majalah mingguan Panorama (1926-1932), bulanan Moestika Panorama (1930-1932), mingguan Moestika Dharma (1932-1934), dan bulanan Sam Kauw Gwat Po (1934-1947). Orang banyak pun sudah mulai mengenal ajaran luhur dan agama dari Timur lewat terbitan majalah dan buku-bukunya.

 

Jika pada mulanya Theosophical Society mempelajari berbagai macam agama dari India dan Okultisme, selanjutnya organisasi ini menyediakan saluran untuk mempromosikan Buddhisme, lewat para intelektualnya di pulau Jawa, baik dari kalangan orang Eropa, bumiputera, maupun peranakan Tionghoa. Sebagai tindak lanjutnya, kelompok ini memfokuskan pada dua agenda, yaitu (1) resakralisasi situs-situs keagamaan dan (2) studi serta penyebaran agama Buddha. Dengan diwakili oleh Mangelaar Meertens, diupayakan menghidupkan kembali penggunaan candi-candi Buddha sebagai pusat praktik Buddhis, dengan perayaan Waisak yang dibuka untuk publik, pertama kali diselenggarakan di Borobudur pada tahun 1927. Sedangkan untuk agenda kedua, mereka mengadakan serangkaian ceramah tentang agama Buddha di berbagai pondok mereka. Salah satu contohnya adalah kursus mingguan tentang Buddhisme yang diberikan oleh Mej. Jochems di markas Teosofi di Batavia pada tahun 1920. Upaya ini kelak melahirkan berdirinya Java Buddhist Association (JBA) (lihat: Yulianti, The Making of Buddhism in Modern Indonesia: South and Southeast Asian Networks and Agencies, 1900–1959, Ph.D. dissertation, Leiden University, The Netherlands, 2020).

 

JBA atau 'Persatuan Buddhis Jawa' perlu diceritakan sedikit. Didirikan Juli 1929, organisasi ini berafiliasi erat dengan Misi Buddhis Internasional yang berbasis di Thaton, Burma. Sesuai dengan namanya, tujuan utama perkumpulan ini adalah penyebaran agama Buddha di Indonesia. Organisasi ini diketuai oleh E.E. Power dan Willem Josias van Dienst. Van Dienst sendiri menerbitkan buletin dan buku yang berjudul: Mahayana Boeddhisme Als Moderne Wereldbeschouwing, yang isinya membahas dua perspektif ajaran Buddhisme (Mahayana dan Theravada). Van Dienst sedang berusaha untuk menyatukan Buddhisme Mahayana dan Theravada dengan menjalin hubungan baik dengan umat Buddha Tionghoa di Batavia. Van Dienst mengunjungi pula Kepala Klenteng Kwan Im Tong di Prinsenlaan di Batavia. Sang Kepala, Pdt. Lin Feng Fei, menerima Van Dienst bersama hweesio (rohaniwan Mahayana) lainnya. Upaya ini kelak menandai perubahan kebijakan kelenteng, yang tidak saja berfungsi sebagai rumah ibadah, tetapi juga bertindak sebagai agen agar kelenteng turut memberi pelajaran agama Buddha.

 

Kita kembali pada THHK yang pada awalnya didirikan dengan tujuan untuk mempromosikan budaya Tionghoa di kalangan komunitas Tionghoa di Nusantara. Baru pada tahun 1920-an, Konfusianisme dinyatakan sebagai satu-satunya pondasi agama Tionghoa. Cara pandang ini melahirkan berdirinya Kong Kauw Hwee pada tahun 1923.

 

Situasi tetap demikian sampai Kwee Tek Hoay mengemukakan interpretasi agama Tionghoa. Menyimpang dari batasan yang digunakan untuk istilah itu oleh THHK dan Kong Kauw Hwee, Kwee tidak membatasi agama Tionghoa pada Konfusianisme saja, melainkan sebagai keseluruhan dari tiga agama: Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme. Inilah yang dinamakan Sam Kauw Hwee. Seperti yang dijelaskannya dalam nomor perdana Moestika Dharma: "Jang dinamakan 'Agama Tionghoa' ada termasoek tiga agama jang pada djeman Tjhingtiauw telah diakoe sah sebagi agama negri oleh pemerentah di Tiongkok, jaitoe Khong Kauw, Hoed Kauw, dan To Kauw. Sebetoelnja kapertjajaan orang Tionghoa kabanjakan ada ratjikan atawa gaboengan dari itoe tiga matjem agama, hingga tiada banjak terdapet Confucianists, Buddhists, atau Taoists jang tjoemah tetap pegang satoe agama sadja." (Diterjemahkan dari Kwee Tek Hoay, The Origins of the Modern Chinese Movement in Indonesia, Ed. Lea E. Williams, Ithaca, 1969, hal. 8).

 

Adalah menarik untuk membicarakan pergulatan ide di antara Kong Kauw Hwee dengan Sam Kauw Hwee. Sam Kauw Hwee ini yang kemudian dikenal masyarakat sebagai 'Tridharma'. Kami akan menyajikannya pada artikel yang berikutnya.

 

Keyakinan Kwee Tek Hoay terhadap agamanya, Sam Kauw Hwee atau Tridharma tidak tergoyahkan hingga akhir hidupnya. Dia mempraktikkan ketiga ajaran agama itu dalam kehidupan sehari-harinya. Di rumahnya ada sebuah meja abu leluhur, tempat dia selalu menyalakan hio dan lilin saat bersembahyang. Dia memiliki pula seperangkat peralatan ciam si yang digunakannya untuk meramal peruntungan seseorang. Kwee Tek Hoay ternyata seorang yang senang meramal, dan umumnya ramalannya selalu tepat. Alkisah, pada suatu hari dia bermaksud mengetahui peruntungannya untuk dua hal krusial yang akan dihadapinya. Pertanyaan pertama, apakah dia harus pindah. Kedua, apakah dia dapat menyelamatkan sesuatu yang paling berharga. Untuk pertanyaan pertama, jawabannya Kwee harus pindah. Untuk pertanyaan kedua, jawabannya adalah tidak dapat. Terbukti kelak ramalan lewat ciam si itu tepat. Kwee ngotot tidak mau pindah dari kediamannya saat itu di Tjitjoeroeg, untuk mengungsi ke Batavia. Dan yang kedua dia tidak dapat menyelamatkan nyawanya. Kwee meninggal dunia di Tjitjoeroeg pada tanggal 4 Juli 1951.

 

(Tamat)

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/221012


Rabu, 05 Oktober 2022

KWEE TEK HOAY DAN TRIDHARMA (Bagian Pertama dari Dua Tulisan)


 

Dalam tulisan kali ini penulis akan bercerita mengenai Kwee Tek Hoay. Siapakah gerangan beliau ini? Beberapa di antara Anda mungkin telah pernah mendengar namanya. Ya, Kwee Tek Hoay atau dieja juga sebagai Guō Dé Huái (郭德懷, 31 Juli 1886 - 4 Juli 1951) adalah Bapak Tridharma Indonesia. Bagi saya sebagai generasi baby boomers (kelahiran 1946-1964), Kwee Tek Hoay itu seangkatan dengan kakek saya, sedangkan bagi generasi anak-anak saya – yakni generasi millennials (kelahiran 1981-1996) – beliau itu orang yang seumur dengan kakek-buyut mereka. Dengan membaca sejarah perjalanan hidup Kwee Tek Hoay, kita sebetulnya sedang bernostalgia bersama kakek atau kekek-buyut kita, dalam menghadapi tantangan hidup di zaman itu.

 

Penulis akan menuturkan dahulu siapa itu ayah dan ibu Kwee Tek Hoay. Kwee Tek Hoay adalah putera bungsu Kwee Tjiam Hong dan Tan An Nio, dan dia masih memiliki satu kakak laki-laki sebagai anak tertua keluarga itu dan dua orang kakak perempuan. Kwee Tjiam Hong, sang ayah, berasal dari Tiongkok, Propinsi Fujian Dusun Lam An. Seperti orang-orang Tionghoa perantauan lainnya, mereka secara berkelompok meninggalkan tanah leluhur untuk mencari peruntungan baru di Tanah Jawa. Dikisahkan selama perjalanan dari kampung halamannya hingga ke perantauan, Kwee Tjiam Hong membawa sebuah patung yang merupakan replika tokoh yang bernama Kwee Seng Ong, yang konon selama hidupnya dipuja oleh rakyat daerah Tiongkok Selatan. Kwee Seng Ong disebut juga 郭神王 atau Guō Shén Wáng, yang bermakna bahwa dia itu seorang raja sekaligus orang suci. Setelah Kwee Seng Ong wafat, dia dipuja sebagai dewa di kuil-kuil yang banyak terdapat di Tiongkok Selatan. Tidak diketahui dengan pasti pada zaman kapan Kwee Seng Ong hidup, namun jika menilik marganya, Kwee Seng Ong juga merupakan leluhur dari Kwee Tjiam Hong.

 

Tentu Anda pembaca bertanya-tanya mengapa Kwee Tjiam Hong membawa-bawa patung dewa pelindung dalam perantauannya itu? Perjalanan dari Tiongkok Selatan menuju Tanah Jawa dengan kapal layar pada masa itu bukanlah pengembaraan tamasya, layaknya orang kaya menggunakan kapal pesiar yang nyaman dan menyenangkan, seperti yang  sering kita tonton di layar kaca. Ini adalah perjalanan laut yang memakan waktu berminggu-minggu dengan taruhan nyawa. Kapal layar yang ringkih sering diterjang badai ganas di tengah samudera yang tak-bertepi, yang bisa menenggelamkan wahana itu dalam sekejap. Belum lagi ancaman bajak laut di tengah lautan, yang mana mereka tidak segan-segan merampok atau membunuh para korbannya. Saat menghadapi datangnya marabahaya, para perantau hanya bisa pasrah bersimpuh di hadapan patung dewa, lalu mereka mempersembahkan dupa dan membakar kertas-uang, dengan mulut mereka berkomat-kamit melantunkan doa agar diberikan keselamatan.

 

Penulis mengambil kisah hidup Kwee Tek Hoay ini dari tulisan karya Visakha Gunadharma, yakni puteri beliau satu-satunya, dalam buku: 100 Tahun Kwee Tek Hoay, Dari Penjaja Tekstil sampai ke Pendekar Pena, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta, 1989. Dari tulisan Ibu Visakha itu tidak ada keterangan kapan Kwee Tjiam Hong tiba di Tanah Jawa. Tetapi dengan menghitung tahun kelahiran Kwee Tek Hoay, diperkirakan Tjiam Hong datang ke Hindia Belanda antara tahun 1860-1865. Adalah menarik untuk mengetahui apa yang terjadi di Daratan Tiongkok pada masa itu. Ternyata di sana sedang terjadi huru-hara, yakni berlangsungnya Pemberontakan atau Revolusi Taiping, antara penguasa Dinasti Qīng (清) yang kaisarnya orang Manchu dengan 'Kerajaan Surgawi Taiping Han' yang dipimpin oleh etnis Hakka. Pemberontakan kemudian berkobar menjadi perang saudara, berlangsung dari tahun 1850 hingga 1864, dengan korban jiwa lebih dari 20 juta orang. Ini merupakan perang saudara yang paling berdarah dalam sejarah dunia. Meskipun di Tianjing (sekarang Nanjing) tentara pemberontak berhasil dikalahkan, Kekaisaran Qīng mulai melemah dan kehilangan pengaruhnya. Seperti yang biasa terjadi sejak zaman baheula hingga sekarang, peperangan besar di satu negeri menimbulkan kesengsaraan dan migrasi besar-besaran rakyatnya. Banyak warga mengungsi ke negara lain, untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Demikian juga yang terjadi pada masyarakat Fujian pada zaman itu.

 

Setelah berhasil menginjakkan kakinya di Tanah Jawa, Kwee Tjiam Hong menetap di Bogor. Pekerjaan sehari-harinya adalah pedagang obat-obatan herbal cina, yang dibawa secara rutin dari pedagang-pedagang yang mengimpor komoditi itu dari Tiongkok. Bersama dengan teman-temannya dia membuka toko obat cina dan ada pula dari mereka yang berprofesi sebagai sinshe atau tabib cina. Pada masa itu Bogor atau Buitenzorg masuk ke dalam Ommelanden yakni wilayah yang terdiri dari Batavia-Stad, Tangerang, Meester-Cornelis (Jatinegara), Krawang, dan Buitenzorg (sekarang setara dengan 'Jabodetabek'). Di samping Ommelanden, wilayah penting lain Hindia Belanda adalah Semarang dan Soerabaja. Sedangkan daerah di luar Jawa dan Madura disatukan sebagai Buitengewesten.

 

Sejak Belanda memasuki Nusantara, dimulai dari berkuasanya VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie, 1602-1799), yang kemudian dilanjutkan dengan Kerajaan Belanda (1799-1942), mereka mulai menciptakan tatanan sosial berdasarkan pada struktur rasial dan sosial yang kaku; dengan para elit Belanda berada di puncak hierarki dan bertempat tinggal terpisah, namun tetap berhubungan dengan penduduk pribumi atau bumiputera yang dijajah oleh mereka. Di samping itu ada golongan Timur Asing (Vreemde Oosterlingen) yang terdiri dari bangsa Tionghoa, Arab, Moor (dipanggil sebagai 'Keling'), dan Bengalis. Golongan Timur Asing mempunyai hak dan status yang lebih tinggi daripada penduduk bumiputera, dan biasanya tinggal dalam lingkungan kampung tersendiri, yang terpisah dari penduduk bumiputera. Kampung tersendiri ini berkembang menjadi Pecinan (Chineesche Kamp), Kampung Arab, Kampung Keling, dan sebagainya. Dari kalangan Timur Asing ini, golongan Tionghoa yang paling banyak mendapat perhatian karena peran sosial politik mereka yang khas dan jumlah mereka yang besar. Sebagai contohnya, berdasarkan sensus yang diadakan pada tahun 1895, Pemerintah Hindia Belanda mencatat penduduk Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo (sekarang Kalimantan Selatan dan Timur) berturut-turut terdiri dari: 598 orang kulit putih (0,07%), 4.525 orang Tionghoa (0,56%), 1.534 orang Arab (0.19%), 116 orang Timur Asing lainnya (0,01%), dan 803.013 orang Bumiputera (99,16%) (Sumber: Wikipedia). Mengapa pemerintah kolonial membagi-bagi wilayah pemukiman berdasarkan etnis dan kebangsaan? Karena akan mudah bagi mereka untuk mengawasinya, juga sesuai dengan tujuan politik devide et impera.

Guna menjalankan pemerintahan pada komunitas Timur Asing, Pemerintah Kolonial menunjuk orang dan kemudian membentuk badan, yang bertugas menjembatani elit kekuasan dengan rakyatnya. Pada abad ke-18 hingga abad ke-20 didirikan 'Dewan Tionghoa', lebih dikenal sebagai Kong Koan, yang memainkan peran penting dalam pemerintahan dan kegiatan sosial pada komunitas Tionghoa di Batavia, Semarang, dan Soerabaja. Organisasi etnis semi-otonom ini bekerja sama dengan Pemerintah Kolonial dalam mengelola komunitas Tionghoa, terutama dalam mengumpulkan pajak, menjalankan aturan pemerintah, dan menyelesaikan perselisihan. Dewan terdiri dari anggota-anggota yang dipilih dan ditunjuk dengan cermat oleh gubernur jenderal. Petinggi atau perwira diberi gelar kuasi-militer – seperti luitenant, kapitein, dan majoor. Secara kolektif mereka dikenal sebagai perwira Tionghoa. Mereka dibantu oleh kepala lingkungan, sekretaris, juru tulis, dan kurir. Hanya orang Tionghoa kaya dari elit lokal yang memenuhi syarat untuk jabatan perwira. Oleh karena itu, keanggotaan dalam Dewan menjamin otoritas, pengaruh, dan juga prestise. Posisi yang lebih rendah seperti kepala lingkungan atau wijkmeester, sekretaris, atau juru tulis pun menarik, karena Dewan Tionghoa secara luas dianggap sebagai organisasi bergengsi.

 

Tak lama setelah Jan Pieterszoon Coen menetapkan Batavia sebagai markas Firma Hindia Timur Belanda atau VOC pada tahun 1619, Gubernur Jenderal menunjuk seorang saudagar kaya Tionghoa sebagai kepala desa pertama. Dia adalah Souw Beng Kong (1580-1644) dengan pangkat kapitein der Chineezen, yang bertanggung jawab atas komunitas kecil Tionghoa di kota yang baru ditaklukkan itu. Dari jajaran perwira Tionghoa di zaman kolonial ada beberapa yang terkenal. Di antaranya adalah Oei Tiong Ham (19-Nov-1866 - 6-Jun-1924), yang dijuluki sebagai 'Sang Raja Gula' dari Semarang dengan pangkat majoor-titulair der Chinezen; juga ada Tjong A Fie (1860-1921), seorang pengusaha dan bankir besar dari Medan yang pada tahun 1911 diangkat sebagai kapitein der Chineezen. Para perwira Tionghoa karena kekayaan dan jabatan mereka dikenal oleh orang zaman itu sebagai Tjabang Atas, yang setara dengan golongan bangsawan Tionghoa. Para perwira itu memilih menantu dari kalangan Tjabang Atas pula, dengan maksud mengamankan kekayaan dan pangkat mereka. Politik kolonial yang mengisolasi golongan Tionghoa dan Timur Asing dengan warga bumiputera, dan kebijakan pilih kasih inilah; yang sebenarnya menyuburkan kecemburuan dan antipati komunitas bumiputera terhadap komunitas Tionghoa, bahkan sentimen negatif ini berlangsung hingga hari ini.

 

Kita kembali kepada Kwee Tjiam Hong, yang mulai berniaga obat-obatan herbal. Selain itu Tjiam Hong yang rajin dan mempunyai naluri bisnis yang baik mulai membuka usaha lain, seperti toko tekstil dan bergerak pula di bidang ekspedisi. Selain didukung oleh semangat kerja keras dan keuletan, para pengusaha Tionghoa pada masa itu terkenal dengan semangat gotong royongnya di antara sesama pedagang perantauan. Kwee Tjiam Hong membentuk sebuah Kongsi yang anggota-anggotanya terdiri dari teman-teman dekatnya. Kwee Tjiam Hong juga termasuk orang yang dermawan; dia secara berkala mengirim uang ke sanak saudaranya yang masih tinggal Di Tiongkok. Dia juga membantu pendirian sebuah kuil di dusun kelahirannya dan membantu korban bencana banjir. Beberapa tahun setelah usahanya berjalan lancar, Tjiam Hong yang masih berstatus perjaka muda mulai berpikir untuk berkeluarga. Pilihannya jatuh pada Tan Ay Nio, puteri satu keluarga besar dan terpandang di Bogor. Tan Ay Nio ini berbeda latar belakang dengan suaminya. Jika Kwee Tjiam Hong merupakan seorang Totok yang sehari-harinya berbicara bahasa Hokkian dan masih membiarkan kuncir di rambutnya tumbuh panjang sebagai kesetiaan pada kekaisaran Tiongkok, Tan Ay Nio adalah seorang Tionghoa Peranakan yang sudah tiga generasi menetap di Hindia Belanda, dan dia lebih banyak berbahasa Melayu walaupun dia juga paham bahasa Hokkian. Nyonya Kwee Tjiam Hong ini pun sehari-hari memakai pakaian tradisional baju kurung gaya Melayu. Pasangan suami isteri ini meskipun memiliki latar belakang yang berbeda, namun keduanya akur dalam membina rumah tangga.

 

Kwee Tek Hoay dilahirkan di Bogor pada 31 Juli 1886 sebagai anak bungsu, dan walaupun dia anak paling bontot dia tidak dimanjakan oleh kedua orang tuanya. Dia lebih dekat dengan ibunya dan mereka berdua bercakap-cakap dalam bahasa Melayu. Dia jarang bertemu dengan ayahnya karena Kwee Tjiam Hong seharian sibuk mengurus bisnisnya. Sejak kecil Kwee Tek Hoay sering diajak ayahnya pergi beribadah ke kelenteng setiap Ce It dan Cap Go atau saat bulan mati dan bulan purnama. Menginjak usia delapan tahun atau pada tahun 1894, dia dimasukkan ke sekolah Tionghoa dengan pengantar bahasa Hokkian. Konon kabarnya sekolah itu berada di dalam sebuah ruangan di rumah-abu leluhur, tempat ayahnya sering berkumpul dengan anggota kongsi lainnya. Menurut referensi yang penulis dapatkan, sebelum pergantian abad menuju tahun 1900 belum ada sekolah formal di Hindia Belanda. Jadi sekolah yang diikuti oleh Kwee Tek Hoay kecil adalah sekolah informal yang pada masa itu dinamakan Gie Oh. Karena sekolah itu memakai bahasa pengantar Hokkian, Kwee Tek Hoay kecil tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh gurunya, sehingga dia kerap membolos. Kita tidak tahu apakah Kwee Tek Hoay sempat masuk sekolah formal setelah dia menginjak usia belasan tahun, walaupun anak ini sebenarnya memiliki kemampuan belajar yang tinggi. Tetapi yang jelas Kwee kecil mampu membaca dan menulis huruf Latin, menguasai dengan baik bahasa Melayu, dan bisa berhitung; satu keterampilan yang dimiliki oleh anak yang berpendidikan sekolah rakyat menurut ukuran zaman itu.

 

Di sini kita bisa melihat sosok seorang ayah yang keras dan memegang teguh tradisi Tiongkok Kuno dan menganjurkan anak-anaknya untuk belajar bahasa Hokkian saja. Namun justru si bungsu membangkang dan memberontak terhadap perintah ayahnya. Diam-diam si bungsu Kwee membaca buku-buku Melayu dengan diam-diam, misalnya dengan menyembunyikan dirinya di dalam sebuah peti besar. Salah satu kesenangannya di masa kanak-kanak dan remajanya adalah membaca buku, sampai ia dijuluki si kutu buku. Meskipun tidak menempuh ilmu di bangku sekolah formal, Kwee Tek Hoay mengambil les privat tata buku, bahasa Belanda, dan bahasa Inggris. Tidak ada penjelasan sampai di mana kemampuannya dalam berbahasa Hokkian dan menulis aksara Mandarin. Dia juga senang mengarang sejak masih bersekolah, lalu di masa remajanya dia mengembangkan bakatnya di bidang jurnalistik. Kedua orang tuanya tidak mengetahui bakatnya dalam bidang tulis-menulis, karena sepengetahuan mereka dia cukup rajin membantu mereka berjualan di toko, dan dia pun sudah pandai berdagang.

 

Setelah Kwee Tek Hoay menginjak usia 19 tahun, ayah dan ibunya mulai memikirkan untuk mengawinkan putera bungsunya ini. Ibunya menaruh minat pada keluarga Tan Kie Lam yang berpangkat kapitein Tionghoa di Bogor. Tan Kie Lam memiliki seorang cucu perempuan yang bernama Oei Hiang Nio. Pada waktu itu Nyonya Kwee Tjiam Hong cukup dikenal di Buitenzorg sebagai pedagang wanita yang jujur dan berhormat. Di antara Nyonya Kwee dan Tan Kie Lam sudah saling mengenal, dan hal itu memudahkan baginya melamar Oei Hiang Nio untuk dijadikan menantunya. Jadi dalam mengatur perjodohan itu tidak diperlukan lagi mak comblang. Kwee Tek Hoay setuju saja dinikahkan dengan seorang perempuan peranakan namun dengan dua syarat. Pertama, dia harus melihat dulu wajah calon isterinya sebelum kedua orang tuanya melamar. Kedua, dia meminta gadis yang akan dinikahinya tidak buta huruf. Sebenarnya Kwee Tek Hoay telah mengenal Kapitein Tan Kie Lam dengan baik. Kwee Tek Hoay pernah bertukar pikiran dengan tokoh terhormat itu dan turut membantu kegiatan sosial komunitas Tionghoa di Buitenzorg. Perlu Pembaca ketahui pada masa itu anak gadis keluarga terhormat biasanya dipingit, dan mereka tidak diizinkan bebas bergaul dengan kaum pria. Mereka dikawinkan setelah kedua orang tua calon mempelai menyatakan persetujuannya. Jadi dalam kebanyakan kasus para gadis baru dipertemukan dengan calon suaminya pada saat acara lamaran berlangsung, bahkan ada pasangan yang baru bertemu saat akan dinikahkan. Tentu saja ini kondisi yang tidak menguntungkan bagi para wanita lajang karena mereka seolah-olah membeli kucing dalam karung; jika lelaki yang melamarnya berkenan di hatinya mereka beruntung, sebaliknya, mereka lebih banyak kecewa dan hanya bisa pasrah. Kwee Tek Hoay yang nakal, setelah mengetahui bahwa dia bakal dijodohkan dengan Oei Hiang Nio, dia mulai mencari tahu kemudian memata-matai calon tunangannya itu. Dia akhirnya mengetahui bahwa Oei Hiang Nio secara berkala berkunjung ke sebuah gereja Kristen, dan dia berkali-kali secara diam-diam menantinya di depan gereja untuk memandang wajah calon isterinya. Barulah setelah mereka menikah, Kwee Tek Hoay mengakui perbuatannya kepada isterinya; he he he! Keduanya menikah pada bulan Februari 1906, dua-belas hari sebelum Tahun Baru Imlek.

 

Setelah menikah Kwee Tek Hoay tetap meneruskan pekerjaan utamanya yakni berdagang. Belakangan dia memiliki sebuah toko serba ada yang dinamakan 'Toko KTH'. Dia melatih isterinya berdagang dan mengurus keuangan toko tersebut. Dalam hal ini tampak suaminya lebih senang jika isterinya membantu mendampinginya dalam berniaga, ketimbang hanya memasak dan mengurus rumah tangga. Oei Hiang Nio pun menjadi sesosok ibu yang cukup sibuk, karena dia harus membagi waktunya untuk membantu kegiatan toko dan mengurus rumah tangga. Kelak ketika Kwee Tek Hoay mapan berprofesi sebagai penulis, Oei Hiang Nio pun bertugas membaca dan memberikan saran atas tulisan suaminya sebelum dipublikasikan. Banyak orang – termasuk anaknya sendiri – mengatakan bahwa Kwee Tek Hoay sungguh beruntung mempunyai isteri seperti Oei Hiang Nio. Sebagai anak yang banyak dipengaruhi oleh budaya Tionghoa Totok dari ayahnya, Kwee Tek Hoay justru bersikap moderat dan dia sering menggandeng isterinya ke pertemuan atau menghadiri jamuan makan, sesuatu hal yang sebenarnya masih dianggap kurang wajar menurut tradisi masa itu. Ternyata Kwee Tek Hoay sudah lebih maju dari orang sezamannya, yang umumnya memperlakukan isteri mereka untuk tinggal di rumah saja.

 

(Bersambung)

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/221005

 



Rabu, 21 September 2022

TOBAT



Dalam sebuah grup Facebook yang saya ikuti, terkadang ada anggota grup yang mengajukan pertanyaan, dengan harapan agar anggota grup lainnya dapat menanggapi; bahkan si penanya bersyukur jika ada di antara mereka dapat memberikan jawaban yang tepat. Ini dia pertanyaan yang diajukan oleh seorang anggota dalam grup Buddhisme, Konghucu, dan Taoisme. "Saya telah berbuat kesalahan yang serius. Bagaimana caranya saya dapat bertobat, dengan membuat pengakuan di tempat ibadah, di hadapan rokhaniwan yang bertugas di sana?"

 

Di bawah postingan itu sudah muncul beberapa tanggapan dan jawaban dari beberapa anggota grup yang lain. Ada seseorang yang menjawab: "Hal itu tidak perlu dilakukan." Yang lain menanggapi: "Boleh dilakukan di depan patung Buddha atau rupang Dewa, namun cukup diutarakan dalam hati saja." Ada juga yang mengutarakan pendapatnya: "Tradisi itu hanya ada di lingkup agama tetangga. Tapi membuat pengakuan dosa tidak lazim dilakukan di lingkungan kepercayaan kita."

 

Sebelum kita membicarakan 'tobat' ini lebih jauh, kita telisik dulu apa makna di balik kata ini. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia 'tobat' berarti (1) sadar dan menyesal akan dosa (yakni atas perbuatan yang salah dan jahat) serta berniat memperbaiki perbuatan dan tingkah laku itu; (2) kembali kepada agama atau ajaran yang benar. Kata 'tobat' sendiri berasal dari bahasa Arab taubat, yang berakar dari kata ta-ba yang bermakna 'kembali' atau 'pulang'. Dalam bahasa Inggris tobat dinamakan repent. Jadi pertobatan adalah tindakan meninjau kembali perbuatan-perbuatan yang pernah dilakukannya, diikuti penyesalan-penyesalan terhadap kesalahan atau penyimpangan itu, disertai komitmen untuk memperbaikinya di masa depan,

 

Salah satu contoh pertobatan yang paling terkenal bisa pembaca lihat pada sebuah buku yang berjudul Confessiones (artinya 'Pengakuan'), sebuah otobiografi yang ditulis oleh Santo Agustinus dari Hippo. Buku ini aslinya dalam bahasa Latin, dan ditulis pada kurun waktu antara tahun 397 sampai 400 M. Isinya menceritakan masa muda Santo Agustinus yang penuh dosa, lalu pertobatannya menjadi seorang Kristen. Otobiografi ini belakangan menjadi sebuah buku klasik dalam teologi Nasrani dan pula diakui sebagai satu sastra dunia. Jadi Anda pembaca yang berminat atas karya sastra ini bisa mencarinya di internet dalam terjemahan bahasa Inggrisnya: The Confessions of St. Augustine).

 

Pengakuan atas segala khilaf dan kesalahan yang telah diperbuat oleh seseorang, yang disusul oleh tekad untuk menghindarinya di masa depan, memang tidak dilakukan atau dipertunjukkan dalam ritual-ibadah Buddhisme, Ruisme, dan Taoisme. Namun bukan berarti tidak ada pertobatan dalam ketiga ajaran tersebut. Kisah tentang perjalanan hidup seorang umat awam yang awalnya diisi dengan perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji, yang kemudian diakuinya sebagai kesalahan atau ketidakpatutan, lalu ada niat dan upaya yang keras untuk memperbaikinya; bisa kita simak dan pelajari dari kepustakaan ajaran-ajaran tersebut. Berikut ini penulis pilih satu kisah nyata yang berasal dari Buddhisme Theravada.

 

Kejadian ini terjadi ketika Buddha kita masih hidup, yakni pada tahun kedua-puluh setelah pencerahannya. Saat itu Sang Guru sedang bermukim di Sāvatthī, seorang penjahat telah muncul dalam wilayah kekuasaan Raja Pasenadi dari Kosala. Penjahat itu memiliki julukan 'Angulimāla', yang bermakna 'Si Kalung-Jari'. Dia adalah seorang pembunuh, dengan tangan yang berlumuran darah, penebar kekerasan dan teror, serta beringas terhadap semua makhluk. Desa-desa, kota-kota, dan beberapa wilayah, telah dihancurkan olehnya. Dia membunuh orang dengan membabi-buta, dan alih-alih merampas harta benda korbannya, dia hanya mengambil jari-telunjuk orang yang diincarnya untuk kemudian dijadikan kalung yang akan dikenakannya di lehernya.

 

Siang itu setelah menyantap makan siangnya Yang Terberkahi setelah mengenakan jubah luarnya dan membawa mangkuk-sedekahnya, pergi ke jalan tempat Angulimāla berada. Para penggembala, petani, dan orang-orang yang berlalu lalang melihat Yang Terberkahi melintas, mereka memberitahukannya, "jangan mengambil jalan ini, bhikkhu. Di sebelah sana ada penjahat yang bernama Angulimāla. Rombongan orang berjumlah sepuluh, dua-puluh, tiga-puluh, bahkan hingga empat-puluh orang pun masih jatuh ke tangan Angulimāla. Walaupun diperingatkan, Yang Terberkahi tetap berlalu dengan berdiam diri. Setelah maju melangkah untuk kedua kalinya kejadiannya berulang, dan Sang Guru tetap melanjutkan perjalanannya. Demikian juga kejadiannya berulang hingga ketiga kalinya.

 

Melihat ada seorang petapa datang dari kejauhan, sang penjahat berpikir, "sungguh mengherankan. Orang-orang bahkan dalam kelompok empat-puluh pun masih tidak bisa lolos dari tanganku. Namun sekarang rahib itu datang sendirian tanpa ada orang yang mendampinginya. Mungkin sudah nasibnya, hidup petapa itu akan berakhir hari ini. Mengapa aku tidak merenggut nyawa si rahib malang ini?"

 

Sambil memegang pedang dan tamengnya serta merentangkan busur panah dan menyiapkan sarung anak panahnya, Angulimāla mengejar Yang Terberkahi. Kemudian Sang Guru menyalurkan kemampuan adibiasa-nya sedemikian, sehingga walaupun Angulimāla berlari sekencang apa pun, dia tidak dapat mengejar orang yang diincarnya. Padahal Sang Guru berjalan dengan melangkah seperti biasa. Angulimāla pun berpikir, "sungguh mengagumkan! Sebelumnya aku mampu mengejar gajah yang tercepat dan menangkapnya. Atau aku bisa mengejar kuda, kereta, atau rusa, dan aku bisa menyusulnya. Tetapi sekarang meskipun aku berlari secepat yang aku bisa, aku tidak mampu mendekati si rahib yang berjalan dengan melangkah seperti biasa."

 

Angulimāla pun berhenti dan berteriak kepada Yang Terberkahi: "Berhenti, Rahib! Berhenti, Rahib!" Sang Guru menjawab: "Aku telah berhenti, Angulimāla. Engkau juga berhentilah." Sang pembunuh kejam kebingungan, lalu dia bertanya, "bagaimana jadinya engkau telah berhenti, dan aku justru belum?" Sang Guru menjawab, "Angulimāla, aku telah berhenti untuk selamanya. Aku menghindari kekerasan terhadap makhluk hidup. Tetapi engkau tidak memiliki pengendalian terhadap segala yang hidup. Itulah mengapa aku telah berhenti, dan engkau belum."

 

Angulimāla pun sadar, Sang Guru jauh-jauh datang ke rimba belantara itu guna menyelamatkannya. Pikirnya: "Oh, telah begitu lama, kutunggu seorang bijaksana yang dapat kumuliakan. Sesungguhnya sejak lama aku ingin melepaskan segala kejahatan ini." Setelah memutuskan apa yang akan diperbuatnya ke depan, sang penjahat keji itu pun mengambil pedang dan senjata lainnya. Lalu dia melemparkannya ke celah jurang yang dalam. Sekarang sang penjahat tertunduk dan bersimpuh-sujud di kaki Yang Terberkahi. Selanjutnya dia memohon untuk ditahbiskan sebagai siswanya. "Marilah, bhikkhu," jawab Yang Terberkahi: "Dhamma telah dibabarkan dengan sempurna. Jalani kehidupan suci hingga berakhirnya penderitaan secara tuntas."

 

Penulis tidak ingin berpanjang-panjang meneruskan kisah Angulimāla selanjutnya setelah menjalani hidup kebhikkhuan, hingga akhirnya dia mencapai tingkat kesucian tertinggi. Kisah ini menggambarkan bagaimana seorang penjahat dan teroris yang bengis, kemudian berbalik seratus-delapan-puluh derajat, dengan bertobat secara total setelah menjadi murid Buddha. Kisah hidupnya menjadi contoh terkemuka dalam hal pertobatan dan memperlihatkan kehebatan Sang Buddha sebagai seorang guru.

 

Tekad Angulimāla untuk meninggalkan cara hidupnya yang lama, yang menuju kepada kesesatan dan kehancuran, tentu tidak sama dengan pertobatan yang dijalankan oleh orang kebanyakan. Kita sering mendengar cerita di masyarakat, bagaimana seorang mantan narapidana setelah menjalani hukuman di lembaga pemasyarakatan, lalu berkeinginan untuk bertobat. Namun banyak di antara mereka yang cuma berjanji, yang dengan berlalunya waktu lupa akan ikrar yang pernah dia ucapkan, kemudian mengulangi kembali kesalahan yang diperbuatnya pada masa kehidupannya yang lalu. Kasus serupa itu banyak terjadi dalam penyalahgunaan psikotropika. Setelah tertangkap basah dan dihukum bui, sang narapidana bahkan bersumpah tidak akan menyentuh barang haram itu lagi. Bilangnya dia telah insyaf dan bertobat, tetapi memang lidah tak bertulang. Selang beberapa lama kemudian dia mulai ketagihan lagi mengkonsumsi narkotika. Jadi apa pantas orang seperti ini dikatakan telah bertobat?

 

Meskipun pertobatan dalam agama yang berasal dari India dan Tiongkok tidak ditekankan dalam ritual keagamaan, tetapi dalam lingkup terbatas pertobatan itu tetap dilakukan. Seperti pepatah yang menyebutkan: to err is human atau "berbuat salah itu manusiawi", selama orang itu belum mencapai pencerahan, dia akan tetap terbelenggu oleh kekotoran batin. Di negara-negara yang penduduknya menganut Buddhisme Theravada, komunitas bhikkhu-nya pada saat bulan purnama di bulan Ashvin, mengadakan perayaan sebagai peringatan berakhirnya masa Vassa yang telah berlangsung selama tiga bulan. Pada kesempatan itu yang dinamakan sebagai Pavāranā, setiap bhikkhu harus hadir menghadap Sangha, dengan kewajiban mengakui penyimpangan dan kesalahannya yang telah dilakukannya selama tiga bulan masa Vassa.

 

Dalam Buddhisme Mahāyāna, salah satu syair pertobatan yang paling umum digunakan untuk refleksi adalah Syair Pertobatan Samantabhadra yang diambil dari Bab 40 Sutra Hiasan Bunga atau 華嚴經 (Huá yán jīng), yang merupakan bagian dari Avataṃsaka Sūtra. Isi dari 懺 悔 (Chàn huǐ) atau 'Pertobatan' itu diungkapkan dalam puisi berikut ini:

 

往 昔 所 造 诸 恶 業 (Wǎng xī suǒ zào zhū è yè),

Semua karma buruk yang telah kulakukan sejak dulu kala,

皆 由 無 始 贪 嗔 癡: (Jiē yóu wú shǐ tān chēn chī);

Yang berasal dari lobha (keserakahan), dosa (kebencian), dan moha (ketidaktahuan) yang tak-berawal;

丛 身 语 意 之 所 生 (Cóng shēn yǔ yì zhī suǒ sheng),

Yang tersalurkan lewat tubuh-jasmani, ucapan, dan pikiran,

一 切 罪 障 皆 懺 悔 (Yī qiè zuì zhàng jiē chàn huǐ).

Atas semua tindakan buruk ini, aku menyatakan penyesalan dan bertobat.

 

Di samping menyadari, menyesal, dan bertobat, seyogianya diikuti tekad kuat untuk memperbaiki diri sendiri. Dalam khazanah ajaran Taoisme, dikenal ajaran Xiū Dào (修道). Xiū (修) dalam kamus bahasa Mandarin bermakna memperbaiki atau merevisi diri – secara fisik, mental, dan karakter – menuju Dào (Sang Jalan), sehingga tercapai keselarasan yang abadi-sempurna. Xiū dào bukanlah upaya tunggal, melainkan proses perbaikan terus menerus; proses menyucikan batin dari kurang-bersih menjadi bersih, atau usaha yang berkelanjutan membuang kejahatan dan penyimpangan, sekaligus kembali ke Jalan yang benar.

 

Begitu pentingnya Dào atau Sang Jalan ini, seperti diutarakan pada butir 8 Kitab Tài shàng gǎn yīng piān (太 上 感 应 篇) yang berbunyi: " 是 道 则 进 (Shì dào zé jìn), 非 道 则 退 (Fēidào zé tuì)", yang artinya: "Jika itu adalah Dào, masukilah. Jika itu bukan Dào, tinggalkanlah." Nasihat itu mengajarkan bahwa untuk merevisi diri harus berpedoman pada ajaran Dào. Walaupun sesungguhnya kita tahu bahwa :

 

知 道 易 (Zhīdào yì), 信 道 难 (Xìndào nán)

Mengenal Dào itu gampang, tetapi percaya kepada Dào itu sulit.

知 道 易 (Zhīdào yì), 行 道 更 难 (Xíngdào gèng nán)!

Giliran sudah percaya Dào, tetapi melaksanakan Dào ternyata lebih susah lagi!

 

Namun kita harus tetap teguh dalam keyakinan bahwa seseorang kalau ingin hidup sejahtera, panjang umur, dan selamat dari segala marabahaya, maka harus selalu berpedoman pada kalimat:

依 ‘道 而 行 (Yī ‘dào’ ér xíng);

Selalu melakukan perbuatan sesuai dengan Sang Jalan

断 恶 向 善 (Duàn è xiàng shàn).

Selalu menjauhi kejahatan dan senantiasa berusaha menggapai kebajikan.

 

Harus bisa berkeyakinan sampai:

宁 守 善 而 死 (Níng shǒu shàn ér sǐ);

Lebih baik mati gara-gara mempertahankan kebajikan,

不 为 恶 而 生 (Bù wéi è ér sheng).

Daripada hidup dengan berbuat kejahatan.

 

Kutipan-kutipan terakhir itu sebenarnya ingin menegaskan bahwa xiū dào atau merevisi diri adalah pertobatan yang sesungguhnya, yang lebih sesuai diikuti oleh orang-orang yang mengikuti kepercayaan dari India dan Tiongkok, atau agama dan kepercayaan dari Timur.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220921