Rabu, 18 Mei 2022

GUAN GONG




Tiongkok menjelang akhir abad kedua setelah Masehi. Kekaisaran Tiongkok yang fenomenal di bawah Dinasti Han sedang mendekati masa surutnya. Setelah berjaya selama hampir empat ratus tahun, periode panjang itu kerap dikenang sebagai masa keemasan bagi peradaban Tiongkok. Kelompok etnis mayoritas Tionghoa modern menamakan diri mereka sebagai 'Orang Han' atau 'Bangsa Han', bahasa resmi mereka disebut 'Bahasa Han', dan tulisan mereka dinamakan pula 'Aksara Han'. Dimulai dari pemerintahan Kaisar Líng (atau 漢靈帝, Hàn Líng Dì, 168-189 M), kemunduran mesin birokrasi imperium tersebut semakin nyata. Urusan negara banyak diserahkan kepada pimpinan orang kasim, di antaranya kepada Zhào Zhōng (趙忠) dan Zhāng Ràng (張讓), sedangkan Sang Kaisar sendiri lebih sibuk mengurusi selir-selirnya dan mengikuti parade militer.

 

Dengan berkuasanya dewan orang kasim yang terkenal korup, mereka juga menentang pembentukan partisan atau kelompok birokrasi yang terdiri dari orang-orang terpelajar. Pada tahun 184 M terjadi Pemberontakan Serban Kuning dan Pemberontakan Lima Takar Padi, yang dipelopori oleh kelompok keagamaan Daois. Masa itu ditandai pula oleh munculnya para Jūnfá (军阀) atau panglima perang (atau warlord, Inggr.). Seorang panglima perang dapat berkuasa karena memiliki banyak tentara pribadi, yang mana para tentara ini memiliki kesetiaan kepada atasannya. Seorang panglima juga harus mempunyai kepribadian yang kuat, berani, serta juga bakat untuk memimpin. Para serdadu ini biasanya direkrut dari pemuda-pemuda setempat, yang karena terbentur pada situasi buruk saat itu, terpaksa penduduk dusun yang malang itu memilih hidup sebagai tentara. Selain itu adalah lazim bagi seorang panglima perang, setelah dia mengalahkan musuhnya dan memiliki banyak tawanan, dia akan memasukkan orang taklukkan itu ke dalam korps tentara mereka.

 

Seorang panglima perang yang berkuasa dapat menarik pajak di daerah yang dikuasainya. Dengan begitu dia bisa menambah pundi-pundi kekayaannya, serta uang pajak itu digunakan pula untuk membiayai tentara-tentaranya. Panglima perang adalah produk dari melemahnya pemerintah pusat dan sentralisasi suatu negara. Panglima perang umumnya mengabaikan keberadaan pemerintah pusat, bahkan ada yang bersaing dengan pemerintah pusat.

 

Tokoh kita kali ini bernama Guān Yǔ atau 關羽,yang berasal dari Jiě Xiàn (解縣) atau Kadipaten Xie. Nama kehormatan aslinya adalah Cháng Shēng (長生). Tidak diketahui secara pasti kapan Guān Yǔ dilahirkan, tetapi berdasarkan perkiraan dia kelahiran tahun 160 atau 164. Guān Yǔ sangat rajin belajar dan dia tertarik pada buku sejarah kuno Zuo Zhuan, serta setelah mempelajarinya beberapa lama dia mampu melafalkan baris-baris dalam kitab itu dengan lancar. Dia melarikan diri dari kampung halamannya untuk alasan yang tidak diketahui dan pergi untuk mengabdikan diri ke seorang panglima perang di Kadipaten Zhuō.

 

Guān Yǔ dikenal sebagai sosok pria yang besar tubuhnya dan kuat, yang membuatnya berbakat menjadi petarung dan prajurit handal. Tidak ada lukisan-diri atau deskripsi tentang penampilan fisik Guān Yǔ dalam catatan sejarah, namun Sānguózhì (atau 三國志 yakni 'Catatan Tiga Kerajaan', sebagai dokumen resmi Sejarah Tiongkok yang ditulis oleh 陳壽 / Chén Shòu) mencatat bahwa Zhūgé Liàng pernah menyebut Guān Yǔ memiliki "jenggot tak tertandingi", bagaikan serumpun buah anggur. Secara tradisional, Guān Yǔ digambarkan sebagai prajurit berwajah merah dengan janggut panjang dan lebat. Gagasan tentang wajah merahnya mungkin berasal dari deskripsi dirinya dalam Bab 1 dari novel sejarah abad ke-14 'Romansa Tiga Kerajaan' (Sānguó Yǎnyì atau 三國演義), pada frasa berikut ini: "Xuande melihat ke arah pria itu, yang memiliki wajah dengan tinggi sembilan chi, dan memiliki janggut panjang dua chi. Wajahnya berwarna zao gelap, dengan bibir yang merah dan montok. Matanya seperti burung-api merah tua, dan alisnya mirip ulat sutra yang sedang berbaring. Dia memiliki penampilan yang bermartabat dan terlihat sangat anggun." Wajah yang berwarna merah mungkin dipinjam dari penampilan opera Tiongkok Kuno, yang mana wajah merah mewakili kesetiaan dan kebenaran. Dalam ilustrasi novel terkenal itu Guān Yǔ secara tradisional digambarkan mengenakan jubah hijau di luar baju zirahnya. Konon, senjata Guān Yǔ yang sangat diandalkannya adalah guan dao bernama 'Pedang Bulan Sabit Naga Hijau' dan dikatakan memiliki berat 82 kati (sekitar 49,2 kg).

 

Kisah pertemuan antara Guān Yǔ dengan dua orang yang kelak menjadi saudara angkatnya diceritakan pada Bab 1 'Romansa Tiga Kerajaan', yang bercerita tentang kisah perebutan kekuasaan oleh Sepuluh Orang Kasim dan Pemberontakan Serban Kuning, yang selanjutnya mengacaukan Kekaisaran Han. Ketika pemberontak Serban Kuning menyerbu Provinsi Yōu Zhōu (幽州), Gubernur setempat memasang pemberitahuan wajib-militer di wilayahnya. Melihat pemberitahuan itu, Liú Bèi atau 劉備 (28 tahun), keturunan jauh dari rumah penguasa kekaisaran, menghela nafas panjang. Dia kemudian dimarahi oleh Zhāng Fēi (張飛), yang bekerja sebagai penjual daging, karena tidak melayani negara. Liú Bèi kemudian berbagi aspirasi untuk menyelamatkan negara dan rakyat, dan Zhāng Fēi menyarankan agar mereka bersama-sama merekrut milisi sukarela untuk memerangi Pemberontakan Serban Kuning. Saat minum di sebuah kedai-arak, mereka bertemu Guān Yǔ, yang sedang dalam perjalanan untuk bergabung dengan milisi. Liú Bèi memberitahu rencana mereka dan ketiga pria itu pergi ke rumah Zhāng Fēi untuk berdiskusi.

 

Zhāng Fēi menyarankan mereka harus melakukan upacara pengorbanan ke langit dan bumi, serta mengambil sumpah sebagai saudara di bawah pohon persik yang mekar di tamannya, yang disetujui Liú Bèi dan Guān Yǔ. Sumpah itu begitu terkenal dan Penulis akan kembali menyitirnya: "Ketika menyebut nama Liú Bèi, Guān Yǔ, dan Zhāng Fēi; meskipun nama-marganya berbeda, namun kami telah bersatu sebagai saudara. Mulai hari ini kami akan bergabung untuk tujuan bersama: 'menyelamatkan yang bermasalah dan membantu yang terancam punah.' Di atas kami akan membalaskan dendam bangsa, dan di bawah kami akan memenangkan warga. Kami memang tidak dilahirkan pada hari yang sama, di bulan yang sama, atau pada tahun yang sama. Semoga para Dewa, Langit, dan Bumi membuktikan apa pun yang ada di hati kami. Jika kami harus melakukan sesuatu untuk mengkhianati persahabatan kami, semoga Surga dan orang-orang di Bumi bersama-sama akan membunuh kami." Setelah melakukan sumpah, Liú Bèi dinyatakan sebagai kakak tertua, diikuti oleh Guān Yǔ, dan Zhāng Fēi sebagai yang bungsu. Liú Bèi memerintahkan seorang pengrajin untuk menempa sepasang senjata; Guān Yǔ memperoleh 'Pedang Bulan Sabit Naga Hijau', dan Zhāng Fēi mendapatkan 'Tombak Ular'. Khusus untuk Zhāng Fēi, publik di Indonesia di masa lalu lebih mengenalnya dengan nama Tio Hoei, berdasarkan kisah yang diambil dari 'Romansa Tiga Kerajaan'. Segera setelah persiapan mereka rampung, ketiganya bergabung dengan milisi sukarelawan untuk membantu seorang kolonel, Zōu Jìng (鄒靖), seorang petinggi militer dari Kekaisaran Han Timur, yang ditugaskan untuk meredam pemberontakan itu.

 

Di atas telah dijelaskan bahwa Pemberontakan Serban Kuning mulai berkecamuk pada tahun 184, serta perpecahan di pusat pemerintahan makin menjadi-jadi antara faksi orang kasim melawan para partisan. Puncaknya terjadi pada tahun 189 dengan terjadinya kekacauan di kotaraja dan terbunuhnya Kaisar Líng. Pada saat itu ada seorang negarawan bernama Dǒng Zhuō (董卓) yang menguasai kota Luoyang. Dǒng Zhuō segera mengambil alih tahta dan mengangkat 'Kaisar Muda' (劉辯, Liú Biàn) sebagai penggantinya, dengan dirinya sendiri bertindak sebagai perdana menteri. Tidak sampai di situ, pada tahun 190 Dǒng Zhuō memberhentikan 'Kaisar Muda' dan digantikan oleh Kaisar Xiàn (漢獻帝, Hàn Xiàn Dì), yang merupakan kaisar boneka, dan serta merta dia sendiri berubah menjadi seorang diktator. 'Catatan Tiga Kerajaan' mencatat insiden ketika Dǒng Zhuō memimpin pasukannya ke Yáng Chéng (阳城), dia menyuruh anak buahnya memenggal semua penduduk laki-laki. Para serdadu merampok kota dan membawa pergi para perempuan, sapi, dan semua harta berharga; dengan mengklaim bahwa mereka telah menaklukan pasukan pemberontak. Kebejatan Dǒng Zhuō tidak sampai di situ, dia juga tidur dengan para wanita istana bahkan dengan sang permaisuri. Namun kekejamannya menimbulkan kemarahan rakyat di mana-mana. Para panglima perang di seluruh kekaisaran segera membentuk koalisi guna melawannya, seperti Yuán Shù (袁术), Cáo Cāo (曹操), Liú Bèi, dan Sūn Jiān (孫堅), sehingga Dǒng Zhuō terpaksa memindahkan ibukota ke Chang'an. Kekuasaan Dǒng Zhuō pun berakhir setelah dia dikhianati dan dibunuh oleh anak angkatnya sendiri, Lǚ Bù (呂布), pada tahun 192.

 

Keterampilan Guān Yǔ dalam bertarung dan berperang bisa dilihat pada saat dia dan kedua saudaranya bergabung dalam angkatan perang Gōngsūnzàn (公孫瓚),yang mana Gōng saat itu berada dalam satu koalisi yang menentang Dǒng Zhuō. Dǒng menempatkan petarung andalannya, Huá Xióng (華雄)untuk menjaga Sishu. Huá Xióng seakan tidak terkalahkan setelah membunuh empat perwira pasukan koalisi, yaitu Bao Zhong, Zu Mao, Yu Shen, dan Pan Feng. Saat itu tak ada pemimpin koalisi yang percaya saat Guān Yǔ menawarkan diri untuk menghabisi Huá, serta dia mempertaruhkan untuk memberikan kepalanya apabila upayanya gagal. Guān Yǔ kemudian beraksi seorang diri, menerobos pertahanan Huá Xióng, dan lewat pertarungan singkat berhasil memenggal kepala lawannya. Dia kembali dengan kepala Huá Xióng yang berada dalam genggaman tangannya, saat anggur merah yang dituang Cáo Cāo masih terasa hangat, padahal minuman itu baru dituang sebelum Guān Yǔ pergi.

 

Ketika Liú Bèi diangkat sebagai Menteri, Guān Yǔ dan Zhāng Fēi mendapatkan jabatan mayor dengan  masing-masing memimpin detasemen tentara di bawah Liú Bèi. Liú Bèi menyayangi mereka seolah-olah mereka adalah saudaranya sendiri, dan mereka bertiga berbagi kebersamaan ini sampai-sampai menempati kamar yang sama; tidur di tikar yang sama dan makan dari panci yang sama. Guān Yǔ dan Zhāng Fēi juga terus berjaga di samping Liú Bèi saat dia sedang menghadiri pertemuan. Mereka mengikutinya pula dalam petualangan militernya, dan melindunginya dari segala ancaman bahaya. Guān Yǔ terkenal karena kebaikannya terhadap anak buahnya yang mana mereka diperlakukan sebagai keluarganya sendiri, tetapi dia kurang menjaga tata krama ketika bertemu dengan para bangsawan.

 

Persekutuan antara panglima perang tidak berlangsung lama, karena mereka saling gontok-gontokan satu sama lain. Pada tahun 200, Cáo Cāo memimpin pasukannya untuk menyerang Liú Bèi, mengalahkannya dan merebut kembali Provinsi Xu. Liú Bèi melarikan diri ke Tiongkok Utara dan mencari perlindungan di bawah Yuán Shào (袁紹), seorang saingan Cáo Cāo, sementara Guān Yǔ ditangkap oleh pasukan Cáo Cāo dan dibawa kembali ke Xu. Cáo Cāo memperlakukan Guān Yǔ dengan hormat dan meminta Kaisar Xiàn untuk mengangkat Guān Yǔ sebagai Letnan Jenderal (偏將軍 atau Piān Jiāngjūn). Belakangan tahun itu, Yuán Shào mengirim jenderalnya Yán Liáng (顔良) untuk memimpin pasukan guna menyerang garnisun Cáo Cāo di Báimǎ (白馬) dekat Kabupaten Hua, sekarang Henan, yang dipertahankan oleh Liu Yan (劉延). Cáo Cāo mengirim Zhāng Liáo (張遼) dan Guān Yǔ untuk memimpin barisan depan guna menyerang musuh. Di tengah pertempuran, Guān Yǔ mengenali payung Yán Liáng sehingga dia menyerang jenderal musuhnya itu, memenggal kepalanya, dan membawa kepala itu. Anak buah Yán Liáng tidak bisa menghentikannya. Dengan kematian Yán Liáng, pengepungan terhadap Báimǎ dicabut. Atas rekomendasi Cáo Cāo, Kaisar Xiàn memberikan Guān Yǔ gelar bangsawan 'Marquis dari Dusun Hàn Shòu' (漢壽亭侯, Hàn Shòu Tíng Hóu).

 

Meskipun Cáo Cāo mengagumi karakter Guān Yǔ, dia juga merasakan bahwa Guān Yǔ tidak berniat untuk mengabdi di bawahnya untuk waktu yang lama. Dia berkata kepada Zhāng Liáo, "Mengapa kamu tidak menggunakan persahabatanmu dengan Guān Yǔ untuk mencari tahu apa yang dia inginkan?" Ketika Zhāng Liáo menanyainya, Guān Yǔ menjawab, "Saya sadar bahwa Tuan Cáo memperlakukan saya dengan sangat murah hati. Namun saya juga telah menerima banyak bantuan dari Jenderal Liú, dan saya telah bersumpah untuk mengikutinya sampai saya mati. Saya tidak dapat melanggar sumpah saya. Saya akan pergi pada akhirnya, jadi mungkin Anda bisa membantu saya menyampaikan pesan saya kepada Tuan Cáo." Zhāng Liáo melakukannya, dan Cáo Cāo bahkan lebih terkesan terhadap Guān Yǔ.

 

Nasib malang menimpa Guān Yǔ di penghujung tahun 219. Saat itu Guān Yǔ mundur dari Fancheng karena pasukan Sūn Quán (孫權) telah menduduki Jiangling dan menangkap pengawal keluarga Guān Yǔ. Sebagian besar tentara Guān Yǔ telah kehilangan semangat juang, dan mereka melakukan desersi dengan kembali ke Provinsi Jing untuk bersatu kembali dengan keluarga mereka. Guān Yǔ tahu bahwa dia telah diisolasi sehingga dia mengungsi ke Distrik Zhāng Xiān (漳鄉), tempat anak buahnya yang tersisa meninggalkannya dan menyerah kepada musuh. Guān Yǔ, bersama puteranya Guān Píng (關平) ditangkap hidup-hidup oleh musuh dalam sebuah penyergapan. Guān Yǔ dan Guān Píng kemudian dieksekusi oleh pasukan Sūn Quán di Lín Jǔ (臨沮), sekarang Nanzhang, Hubei. Kematian Guān Yǔ diperkirakan terjadi pada Januari atau Februari 220.

 

 

Kehidupan Guān Yǔ diagungkan dan prestasinya dimuliakan sedemikian rupa setelah kematiannya, sehingga ia didewakan pada zaman Dinasti Sui. Melalui cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, yang berpuncak pada novel sejarah abad ke-14 'Romansa Tiga Kerajaan'; suri tauladan dan kualitas moralnya mendapat perhatian besar, menjadikan Guān Yǔ salah satu paradigma kesetiaan dan kebenaran paling populer di Asia Timur. Sosok ini masih dipuja oleh banyak orang Tionghoa baik di Tiongkok Daratan maupun di manca negara, hingga saat ini. Dalam agama orang Tionghoa, Guān Yǔ dimuliakan dan dipanggil sebagai 'Kaisar Guān' (關帝; Guān Dì), menyiratkan status kedewaannya, serta 'Tuan Guān' atau Guān Gōng (關公) atau istilah Hokkian-nya 'Kwan Kong'. Sedangkan gelar Tao-nya adalah 'Kaisar Suci Tuan Guan' (關聖帝君, Guān Shèng Dì Jūn). Dalam aliran Buddha Mahāyāna, sosok Guān Yǔ dikenal pula dengan sebutan 'Bodhisattva Saṅgharama'.

 

Di Indonesia kuil yang mendedikasikan dirinya untuk dijadikan pemujaan Guān Gōng adalah Kelenteng Kwan Sing Bio, artinya 'Rumah Pemujaan Dewa Kwan Kong'. Seperti namanya kelenteng ini memang dipersembahkan bagi Guān Gōng, dewa pelindung utama yang sosoknya digambarkan sebagai panglima perang zaman Dinasti Han. Setiap tahun, tepatnya tanggal 24 bulan keenam pada penanggalan Tionghoa, banyak peziarah yang datang ke Tuban untuk memperingati ulang tahunnya. Kelenteng Kwan Sing Bio berada di pinggir Jalan Raya Pantura, tepatnya di Jalan Martadinata No.1, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kelenteng ini merupakan satu-satunya bio yang menghadap langsung ke arah laut.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220518


 

Rabu, 04 Mei 2022

TIGA PENAMPAKAN



Siang hari di musim gugur adalah saat yang menyenangkan dengan cuacanya yang cerah, karena hawa udara tidak terlalu dingin, pun tidak kelewat panas. Pepohonan meranggaskan daun-daunnya yang tadinya berwarna kuning-jingga, kemudian mendadak mengubah sisanya menjadi merah-merona, menyala-nyala bagaikan bara api. Berharap untuk mendapatkan buahnya, mereka membiarkan tudung hijaunya berguguran. Dalam puncak mekarnya, pohon-pohon akan membuat hati siapa pun yang menyaksikannya bersenandung riang, seraya menghembuskan aroma wanginya ke empat penjuru. Namun eloknya siang hari itu tak mampu meneduhkan hati Śuddhodana, sang penguasa Shakya, yang sedang gundah gulana memikirkan takdir sang penerus tahtanya. Masih terbayang dalam ingatannya peristiwa beberapa belas tahun lalu, saat para brahmana-peramal mengemukakan peneropongan mereka, ikhwal masa depan sang putera mahkota.

 

Saat sang pewaris tahta yang baru berumur lima hari ditunjukkan kepada mereka, tujuh ahli nujum itu tanpa ragu berkata, "Sang Putera Mahkota adalah seorang Chakravartīn, sesosok calon Raja Diraja, yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun. Namun jika dia tidak menjadi Penguasa Dunia dan meninggalkan istananya, dia akan menjadi seorang Buddha, yang akan menyelamatkan para dewa dan manusia." Bahkan Sang Petapa Asita, seorang suciwan sepuh yang mampu menguping pembicaraan para dewata, telah memberi tahu bahwa putera mahkota tidak lain Sang Manusia Agung yang telah lahir di lingkungan keluarga penguasa Shakya. Ketika Śuddhodana menanyai kelompok tujuh brahmana itu, dengan cara apa pangeran sampai meninggalkan istananya; mereka pun menjawab, "peristiwa itu akan terjadi jika Pangeran Mahkota melihat orang tua, orang sakit, sesosok jenazah, dan seorang petapa suci." Peristiwa itu dikenal dengan sebutan "empat pertanda" atau "empat penampakan".

 

Sekarang Siddhārtha, sang putera mahkota, telah mencapai masa akil-balig dan tahun depan dia akan berusia enam-belas tahun. Ayahnya memerintahkan para bawahannya untuk membangun istana yang khusus diperuntukkan bagi putera kesayangannya. Tiga bangunan megah yang masing-masing memiliki sembilan lantai dibangun; satu paviliun sejuk untuk digunakan pada musim panas, kediaman kedap-air yang cocok ditinggali pada musim hujan, dan kastil hangat yang nyaman dihuni ketika berlangsungnya musim dingin. Istana-istana ini dibangun di atas lanskap yang permai, dengan taman dan kebun bunga dan buah yang terawat dengan apiknya. Tiga buah kolam buatan pun begitu sedap dipandang mata, lengkap dengan lotus dan teratai seukuran roda dengan bunganya yang berwarna merah, biru, dan putih. Semuanya terjaga dan terawat dengan baik, sehingga tidak ada nyamuk, lalat, serangga pengganggu, atau ular yang dapat masuk ke dalamnya. Kawanan burung datang ke istana dari pegunungan Himalaya, sang raja pegunungan. Ada pattragupta, beo, mynas, cuckoo, angsa liar, burung gajahan, merak, flamingo, burung bulbul, burung pegar, dan banyak lainnya. Burung-burung itu memiliki sayap yang elok dalam berbagai warna dan mereka bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Mereka bertengger di beranda, menara, pintu masuk, paviliun, dan teras atas kediaman agung Raja Śuddhodana.

 

Di tiga istana ini semua perbekalan seperti beras-nasi, beras-ketan, bulir gandum, milet, barley, sorghum, mentega, ghee, minyak wijen, madu, gula mentah, dan air tebu tidak pernah habis dan tampak penuh meskipun digunakan secara melimpah. Di dalam kamar-kamar tersedia jubah atas, jubah bawah, gaun, saree, selendang, serban, sabuk pinggang, sandal, dan sepatu; semuanya indah dan berkualitas baik. Di dalam kamar penyimpanan pusaka penuh dengan barang kerajinan dan karya seni yang luar biasa. Belum lagi khazanah yang dipenuhi berbagai barang berharga, seperti emas, perak, permata, mutiara, beril, kerang, kristal, dan koral; yang jika dibuka tutupnya akan menunjukkan kesempurnaan dan kelimpahannya yang tanpa cela. Di ruang-hiburan tersedia piranti musik, seperti gendang besar, gendang tanah-liat, seruling, kecapi, pipa-buluh, kecapi tiga senar, genta, dan simbal; yang jika dimainkan dengan benar mampu mengeluarkan musik yang merdu. Dan ini yang paling penting, aura murni dan tak bernoda, yang jauh lebih cemerlang daripada cahaya matahari dan bulan, muncul dalam komplek istana dan mampu memberikan kesenangan jiwa dan raga bagi semua penghuninya.

 

Pada tahun itu juga Siddhārtha dinikahkan dengan Yasodhara yang cantik rupawan, yang masih merupakan saudara sepupunya, puteri dari Raja Suppabuddha dan Permaisuri Amita. Pesta perkawinan keduanya bertepatan pula dengan ulang tahun ke-delapan-puluh-enam era pemerintahan kakeknya dari pihak ayah. Pada kesempatan itu sang putera mahkota dikuduskan, dengan cara menuangkan air yang diberkati ke atas kepalanya.

 

Setelah ketiga istana itu rampung dan sang putera menikah, kegundahan Śuddhodana pun berkurang. Dia pun memerintahkan agar gadis-gadis penghibur, yang pandai bernyanyi dan terampil memainkan alat musik serta mereka yang piawai dalam sendratari, selalu hadir di hadapan sang pangeran. Mereka semua ditantang untuk tampil mempesona dalam setiap momen, dengan tarian dan musik yang tiada henti. Siddhārtha muncul di tengah mereka dengan ketampanan dan martabat sesosok dewa, dikelilingi oleh rombongan besar para dewi. Selaras dengan pergantian musim, dia berpindah dari satu istana ke istana lain, bergerak seolah-olah dalam lingkaran kesenangan dan hiburan yang selalu diperbaharui. Raja Śuddhodana, yang sangat ingin melihat puteranya menjadi raja-dunia, yang kekuasaannya akan meluas hingga ke empat pulau besar dan dua ribu pulau yang lebih kecil; memberikan perintah yang paling tegas bahwa tidak satu pun dari empat pertanda itu, yang boleh dilihat oleh sang pangeran mahkota. Penjaga-penjaga ditempatkan di segala arah pada jarak setiap seratus kaki, dibebankan hanya dengan satu tingkat kewaspadaan, yaitu menjaga agar tidak terlihat oleh Siddhārtha munculnya penampakan fatal ini.

 

Dikurung dalam tiga istananya yang megah, apakah sang pangeran hidup bahagia? Kehidupan dalam istana memang nyaman dan terlindung-penuh. Pangeran kita pun tumbuh menjadi pribadi yang suka merenung. Mungkinkah pangeran selalu diusik oleh bayangan gelap yang berasal dari kehidupan sebelum yang sekarang ini?  Apakah dia curiga dunia di luar lingkungan istana tidak sebahagia, tidak seelok, tidak sebagus dunia yang diciptakan secara buatan khusus untuk dirinya?  Atau apakah dia memiliki pengetahuan bawah-sadar bahwa kehidupannya akan diabdikan untuk sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang dilakoninya sekarang, serta adakah misi yang lebih agung yang sesuai dengan kata hatinya yang perlu diembannya? Para kerabat Raja Śuddhodana mengeluh kepada Raja tentang perilaku sang putera mahkota. Mereka mempertanyakan apakah Siddhārtha mampu mengambil-alih tahta ketika tiba waktunya kelak. Sadar akan celaan ini, Śuddhodana memanggil puteranya, yang kepadanya dia sampaikan keluhan yang ditujukan kepadanya oleh kerabatnya. Tanpa menunjukkan emosi apa pun, pangeran mahkota itu menjawab, "Biarlah diumumkan melalui suara genderang di seluruh negeri, bahwa satu minggu dari sekarang aku akan menunjukkan kepada para kerabatku di hadapan para guru dan pakar terbaik. Silahkan dilakukan penilaian secara obyektif, apakah aku sepenuhnya fasih dalam delapan-belas seni beladiri, kemampuan berperang, dan penguasaan ilmu pengetahuan." Pada hari yang ditentukan, dia menunjukkan kepada mereka semuanya betapa cekatannya dia memperagakan seni beladiri, betapa terampilnya dia memainkan berbagai jenis senjata, serta betapa luas wawasan pengetahuannya. Mereka pun puas, dan keraguan serta kecemasan mereka atas dirinya sepenuhnya sirna.

 

 

Kita tinggalkan dulu Siddhārtha, dan kita menuju Tuṣita, satu istana kahyangan yang dikenal sebagai "Surga Kesukacitaan". Di sana para kerabat Siddhārtha dalam kehidupan sebelumnya sedang berbincang-bincang. Mari kita dengarkan pembicaraan mereka. "Saudara-saudaraku, dulu sewaktu Svetaketu baru saja wafat dan meninggalkan kita, kita pernah berjanji: 'Siapa di antara kita yang memiliki keberanian untuk melayani Bodhisattva terus-menerus dan tanpa henti, saat dia melakukan perjalanan ke rahim ibunya? Siapa yang akan melayaninya saat dia berada di dalam kandungan, saat dia lahir, saat dia tumbuh dan bermain sebagai anak kecil? Siapa yang akan melayaninya ketika dia berada di istananya, ketika dia dihibur oleh para gadis yang pandai bermain musik, menyanyi, dan menari? Siapa yang akan melayaninya ketika dia meninggalkan rumahnya dan melatih tapa-brata? Siapa yang akan melayaninya saat dia melanjutkan ke takhta pencerahan, menjinakkan siluman, mencapai pencerahan sempurna? Siapa yang akan melayaninya saat dia memutar Roda-Dharma? Siapa yang akan melayaninya menjelang dia menuju ke Parinirvāṇa yang agung?' "

 

"Sekarang Svetaketu sudah mendekati usia yang ketiga-puluh dan belum ada tanda-tanda dia akan melakukan pelepasan-agung untuk melakukan pencaharian guna mencapai pencerahan." Sesosok dewa lain berkomentar, "bagaimana mungkin Svetaketu bisa meninggalkan istananya, jikalau ayahnya menjaganya sedemikian ketatnya?" Dewa yang lain menanggapi, "Svetaketu baru akan tergerak melakukan pelepasan-agung setelah dia melihat empat penampakan." Dewa yang pertama kali bicara lalu berkata, "oleh karena itu kita harus campur tangan agar Bodhisattva dapat segera melanjutkan misinya ke tahap selanjutnya."

 

 

Hingga tibalah saatnya Sang Pangeran Mahkota dan isterinya melakukan kunjungan ke kotaraja. Seluruh kotaraja telah didekorasi dengan indah, dengan taman-kota dihiasi dengan kanopi-kain dalam berbagai warna, serta payung, bendera, dan umbul-umbul. Jalan yang akan dilalui sang pangeran telah disapu bersih, disemprot dengan air wangi, dan ditaburi kelopak bunga segar. Pembakar dupa mengeluarkan asap harumnya, dan di sepanjang jalan jambangan bunga ditempatkan, serta pohon pisang raja ditanam. Jalan itu dinaungi oleh kanopi sutra dalam berbagai warna, dan dihiasi jaring-jaring lonceng permata kecil serta karangan bunga dan jumbai dekoratif. Empat divisi tentara juga telah mengambil posisi di sepanjang rute, dan anggota rombongan sibuk mendandani permaisuri pangeran muda. Di tengah semua kesibukan ini, rombongan pangeran ke luar melalui gerbang-timur kota dalam perjalanannya ke taman. Sesosok dewa dari Surga Tuṣita yang telah turun ke bumi, menggunakan kemampuan magisnya dengan menyalin-rupa menjadi sesosok manusia. Beginilah penampakannya :

 

Seorang kakek, tua-renta, dengan tubuh yang sangat kurus,

Satu wajah yang dipenuhi oleh kisut dan keriput;

Serta sepasang mata yang hampir buta,

Mulutnya tak dapat menahan angin karena gigi-giginya sudah tanggal.

Punggungnya bengkok seperti kasau-pelana, dan otot-ototnya pun kaku.

Lemah dan lunglai, digunakannya tongkat agar dirinya tidak jatuh,

Sekujur tubuhnya gemetar kesakitan;

Dan vitalitasnya telah lama hilang.

 

Penampakan dewa dalam bentuk manusia hanya bisa dilihat oleh sang pangeran dan ajudan atau kusirnya. Orang-orang lain di luar keduanya terlena dalam urusan mereka masing-masing. Siddhārtha dalam keheranannya berkata kepada kusirnya Channa, makhluk apa gerangan yang muncul di hadapannya. Channa menjawabnya dengan menyebut, itulah 'orang tua'. "Apakah ia dilahirkan dalam keadaan seperti itu?", demikian tanya sang pangeran. "Tidak, Tuanku. Dia dulunya muda dan gagah seperti Paduka." "Masih bisakah kita temukan orang tua lain yang seperti dia?", tanya sang pangeran dengan raut wajah yang semakin bingung. "Amat banyak, Yang Mulia." "Dan bagaimana ia bisa tiba pada kondisi yang menyedihkan itu?" "Kondisi itu berasal dari hakikat kehidupan, bahwasanya  semua manusia bertumbuh-kembang sampai menjadi tua dan lemah, bila manusia itu tidak mati muda" "Jadi aku juga akan menjadi tua juga, Channa?" "Paduka sendiri juga tidak terkecuali. Begitulah kenyataannya, Yang Mulia." Penampakan singkat itu membuat sang pangeran begitu berduka dan dia minta diantar pulang. Hilang juga rasa senangnya meskipun semua yang ada di lingkungannya tampak begitu indah bagi orang lain.

 

Śuddhodana merasa heran mengapa rombongan kerajaan melakukan perjalanan ke kota dalam tempo yang singkat. Para peserta lain yang menyertai rombongan itu pun tidak mengetahui, apa alasan pangeran memperpendek lawatannya itu. Barulah setelah mendengar pengakuan Channa, sang raja pun maklum, tetapi dia pun kebingungan karena tidak ada orang lain yang menyaksikan pertanda yang pertama ini.

 

Waktu pun berjalan terus dan selang beberapa lama kemudian, ketika Siddhārtha sedang menuju taman-kota melalui gerbang selatan dengan disertai dengan rombongan besar, kejadian serupa berulang kembali. Sesosok dewa Tuṣita menyamar sebagai manusia. Beginilah penampakannya :

 

Laki-laki setengah baya itu terbaring lemah di tepi jalan,

Dia terbatuk-batuk dengan dahak dan air liurnya ke luar dari mulutnya;

Napasnya tersengal-sengal dan kedua matanya berputar-putar,

Sambil memegang dadanya yang nyeri, dia pun merintih-rintih.

Pada wajah dan tubuhnya tampak bercak-bercak ungu,

Kulit badannya pun menghitam di beberapa tempat;

Tak ada lagi orang yang peduli padanya,

Dan orang malang itu semakin menderita dalam kubangan kotorannya sendiri.

 

Sang pangeran dikenal sebagai orang yang welas-asih, dengan cepat menghampiri orang itu, mengangkatnya, meletakkan kepalanya di atas pangkuannya, dan dengan suara menghibur dia bertanya, "mengapa engkau seperti ini, wahai sahabat." Orang sakit itu sudah tidak dapat menjawab dan dia menangis tersedu-sedu. "Channa, katakanlah, mengapa orang ini? Adakah yang salah dengan napasnya? Mengapa dia tidak bicara?" "Oh, Tuanku, jangan menyentuh orang itu lebih lama lagi. Orang itu sakit dan darahnya beracun. Dia diserang demam sampar dan seluruh badannya terasa terbakar. Oleh karena itulah dia merintih-rintih dan tidak lagi dapat bicara lagi." "Tetapi masih adakah orang lain yang seperti dia?" "Ada, dan Paduka mungkin orangnya kalau Tuanku memegangnya seperti itu. Mohon dengan sangat agar Paduka meletakkannya kembali di tanah, dan jangan menyentuhnya lagi karena sampar itu sangat menular." "Channa, masih banyakkah hal-hal buruk seperti ini selain penyakit sampar?" "Sesungguhnya, Paduka, ada puluhan penyakit lainnya yang sama hebatnya seperti sakit sampar." "Apakah semua orang dapat diserang penyakit? Apakah penyakit datang secara mendadak?" "Betul, Tuanku, semua orang di dunia ini dapat terserang penyakit. Tidak ada orang yang dapat mencegahnya, dan itu dapat terjadi setiap saat." Mendengar penjelasan ini, pangeran pun menjadi semakin sedih dan dia pun segera pulang ke istananya.

 

Śuddhodana, semakin terganggu dengan berita yang disampaikan kepadanya. "Apa? Bagaimana bisa pangeran melihat pertanda buruk itu sekali lagi? Raja kemudian melipatgandakan kesenangan dan kenikmatan untuk puteranya, dan dia juga menambahkan jumlah penjaga yang harus mengawasinya.

 

Waktu pun berjalan terus dan selang beberapa lama kemudian, ketika Siddhārtha sedang menuju taman-kota melalui gerbang barat dengan disertai dengan rombongan besar, kejadian serupa berulang kembali. Sekelompok dewa Tuṣita menyamar sebagai sekumpulan orang. Beginilah penampakan mereka :

 

Sesosok tubuh tak berdaya diusung di atas tandu,

Dengan badan yang kurus kering dan dibungkus kain kafan;

Tubuh yang sudah kaku itu pun tak mampu bergerak lagi,

Orang-orang yang mengiringinya tenggelam dalam sedu sedan.

Di bantaran sungai rombongan itu berhenti,

Mereka semua menyiapkan tumpukan kayu bakar;

Jenazah pun diletakkan di atasnya, dan api pun segera disulut,

Si mati tetap diam walaupun si jago merah melahapnya hingga musnah.

 

Dalam keterkejutannya Siddhārtha berteriak ketakutan. "Channa! Mengapa orang itu terbaring di sana dan membiarkan orang lain membakar dirinya?" "Dia sudah tidak tahu apa-apa lagi, Tuanku. Orang itu sudah mati." "Mati! Channa! Apakah ini yang dinamakan mati? Dan apakah aku suatu waktu akan mati juga?" "Betul, Paduka, semua makhluk hidup pada suatu waktu akan mati. Tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya. Dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang tua, isteri, atau anak-anaknya. Dia harus meninggalkan harta miliknya, rumahnya, teman-temannya, dan kerabatnya. Setelah mati dia akan melanjutkan hidupnya ke dunia berikutnya, tempat dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka semua." Pangeran heran dan kaget sekali, sehingga tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dia berpikir bahwa sangat mengerikan keadaan yang disebut 'mati' itu, yang mesti dialami oleh setiap orang, tak peduli ia seorang raja atau anak dari seorang raja.

 

Sekali lagi Channa melaporkan kejadian ini kepada Śuddhodana, yang langsung membuatnya terhenyak lemas di kursinya. Para peramal istana dipanggil kembali untuk mengetahui takdir Siddhārtha. Mereka semua mengatakan: "Pangeran muda akan pergi melalui 'Gerbang Keberuntungan'." Jadi sang raja memasang panel pintu besar di 'Gerbang Keberuntungan'. Begitu besarnya sehingga dibutuhkan lima ratus orang untuk membuka atau menutupnya.

 

Sekeliling tembok-pembatas kotaraja dibangun semakin tinggi,

Parit pembatas-kota pun telah diperlebar:

Demikian juga lebih banyak pengawas ditempatkan di menara,

Di gerbang-kota sudah bersiaga pasukan berbaju zirah.

 

Semua warga Kapilavastu khawatir dan berjaga siang-malam,

Kota dilingkupi kebisingan besar, para tentara berpatroli di mana-mana;

"Semoga sang pangeran tercinta tidak akan pergi,

Jika pemegang silsilah Shakya pergi, kerajaan ini akan hancur!"

 

Para gadis-penghibur dipanggil dan perintah pun diterbitkan,

"Keluarkan kebisaan kalian disertai segenap naluri kewanitaan;

Buatlah sang pangeran gembira agar dia melupakan penderitaan duniawi,

Awasi dan ciptakan pula penghalang agar Sang Manusia Agung tidak jadi pergi!"

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220504

 

 

Rabu, 20 April 2022

KORUPSI


 

Anda yang sering mendengar dan melihat berita di televisi atau media lainnya, pasti sering mendapatkan kabar tentang kasus korupsi yang menimpa para pejabat negara. Tidak asing lagi di telinga kita bahwa kepala daerah anu ditangkap oleh KPK (Komite Pemberantasan Korupsi), karena kedapatan menerima uang tunai dari seorang pemberi suap. Atau sering kita baca pula, seorang mantan pejabat divonis sekian tahun penjara, karena terbukti melakukan tindakan korupsi yang merugikan negara sebesar puluhan milyar rupiah.

 

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan korupsi itu? Korupsi diambil dari kata Latin corruptio sebagai kata benda, yang berasal dari kata kerja corrumpere yang bermakna membusuk, menggoyahkan, memutarbalikkan, menyogok, mencuri. Jadi korupsi kurang lebih berarti pembusukan, penggoyahan, pemutarbalikan, penyogokan, atau pencurian. Korupsi dikenal pula sebagai "rasuah", berkonotasi negatif, kriminal, dan merupakan tindak kejahatan.

 

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi diartikan perbuatan melawan hukum sekaligus penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana. Tujuannya adalah memperkaya diri sendiri atau orang lain, dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Tentu saja korupsi bisa terjadi dalam lingkup lembaga swasta, dan tidak selalu berakhir pada tuntutan hukum. Supaya lebih mudah bagi kita untuk memahaminya, korupsi itu tidak lain penyalahgunaan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada seseorang, untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Sejak Masa Reformasi korupsi lebih populer disebut KKN atau Korupsi-Kolusi-Nepotisme. Kolusi adalah kerja sama atau pemufakatan antar penyelenggara negara yang melawan hukum, sedangkan nepotisme tidak lain tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh penyelenggara negara untuk kepentingan keluarga atau kroninya di atas kepentingan umum.

 

Sejak runtuhnya rezim Orde Baru, mahasiswa dan kaum reformis telah menyadari, bahwa Indonesia terpuruk lantaran para pejabat negara melakukan praktik KKN. Namun setelah pergantian rezim, dan pimpinan pemerintahan berganti beberapa kali, setiap kali dilakukan berbagai upaya agar penyakit KKN bisa dibasmi hingga tuntas. Namun lewat dua dekade kemudian, upaya itu belum menghasilkan perubahan yang signifikan.

 

Dengan berbagai bonus geografis, yang kemudian ditunjang dengan sumber daya alam yang melimpah, penduduk dan luas wilayah yang sungguh besar, sudah seharusnya Indonesia tumbuh menjadi negara yang maju. Namun apa daya, jangankan maju; beranjak untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik saja, dirasa masih sangat sulit. Pengamat politik dan pertahanan, Salim Said, mengungkapkan alasan mengapa Indonesia tak menjadi negara maju dibanding negara-negara lain di dunia.

 

Dalam ceramahnya di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam 6-Oktober-2017, pakar politik dan pertahanan itu mengemukakan pendapatnya. Indonesia tidak bisa maju lantaran mentalitas pejabatnya yang rendah. Kata Salim, para pejabatnya banyak yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena 'makan duit negara'. "Nah, sekarang di Indonesia, semua pejabat pemerintah, anggota parlemen, dan para pemangku kekuasaan yudikatif itu disumpah secara agama. Tetapi kemudian melanggar sumpah, karena tidak takut pada Tuhan," kata Salim. Karenanya, kata Salim, Indonesia tidak akan bisa menjadi negara maju, selama Tuhan tak lagi ditakuti oleh para pejabat di negeri ini.

"Jadi, negeri ini tidak maju karena tidak ada apa pun yang ditakuti. Dosen dan penulis itu lalu beralih dengan membandingkan Indonesia dan negara lainnya, seperti Korea Selatan (Korsel), Taiwan, hingga Israel. "Mengapa sekarang orang Indonesia banyak membeli telepon dan kulkas dari Korsel. Kenapa Korsel maju dan kita tidak maju? Orang Korsel takut sama Korea Utara, jadi dia harus unggul," kata Salim. "Taiwan, pulau kecil, takut kalau dicaplok Tiongkok. Makanya banyak produk yang kita beli berasal dari Taiwan. Israel, Yahudi di tengah lautan Arab, kalau tidak hebat di-kremus dia," tambahnya. "Korea Selatan, Taiwan, Singapura semuanya maju karena ada yang mereka takuti. Taiwan takut sama Tiongkok Daratan, Korea Selatan takut sama Korea Utara, Singapura takut karena dia mayoritas masyarakat Tionghoa di tengah lautan Melayu. Israel takut karena berada di tengah negara-negara Arab. Keadaannya lain dengan Indonesia. Di sini kondisinya berbeda; jangankan KPK, Tuhan pun tidak ditakuti," kata Salim, yang disambut tawa terbahak-bahak dari para peserta diskusi.

Semua orang yang jadi pegawai negeri – termasuk semua pejabat negara – wajib mengucapkan sumpah atau janji sebelum mereka memangku sebuah jabatan. Namun setelah mereka mendapatkan jabatan itu, sebagian dari mereka melanggar sumpah atau janji dengan melakukan korupsi dan perbuatan tercela lainnya. Dari penulusuran mereka yang bersalah dan dihukum, ternyata tidak hanya orang yang beragama X atau Y saja yang melakukan korupsi, melainkan orang-orang dari semua agama pernah melakukannya. Jadi, apakah kita setuju dengan sinyalemen di atas bahwa pejabat-pejabat di Indonesia – tidak peduli apa agamanya – benar-benar tidak takut kepada Tuhan?

 

Lalu apa yang dimaksud dengan takut terhadap Tuhan? Menurut ajaran Islam, takut atau khasyyah kepada Allah SWT artinya dia berupaya untuk menaati semua yang diperintahkan, serta menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah SWT, dengan berpedoman pada Al Qur'an dan sabda Nabi Muhammad SAW. Menurut ajaran Kristen, orang yang takut akan Tuhan tahu mana dosa mana tidak, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. Orang yang takut akan Tuhan tidak mau berbuat dosa dan Alkitab memberi tahu semuanya. Melakukan korupsi sama dengan mencuri alias mendapatkan harta dengan cara yang tidak halal, juga dikategorikan masuk dalam perbuatan dosa.

 

Bagaimana dengan pandangan agama Buddha tentang takut terhadap Tuhan? Jika korupsi sama dengan mencuri atau mengambil barang (baca : uang) yang tidak diberikan kepadanya, ini jelas tindakan yang melanggar sila kedua. Dalam pengertian Buddhis dikenal istilah yang dinamakan Ottappa, yang bermakna "takut melakukan perbuatan jahat". Lebih jauh Ottappa sebenarnya adalah sikap batin yang enggan melakukan perbuatan salah, keliru, atau tidak bermanfaat; dengan kata lain tidak berani melanggar sila.

 

Pengertian Ottappa sering disandingkan dengan pasangannya, yakni Hiri yang bermakna "malu berbuat jahat". Jadi Hiri dan Ottappa itu sama dengan malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat. Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar penulis yakin, Anda para pembaca sekalian pasti sudah paham makna kedua istilah Pali di atas. Coba saja kalau misalnya saya ini seorang pejabat negara yang tertangkap-tangan melakukan korupsi. Pasti teman-teman sekantor begitu mengetahuinya akan mengatakan, "oh, tidak nyangka ya. Atasan kita ternyata korupsi, padahal selama ini kita mengenal Bapak kita orangnya jujur dan lurus-lurus saja." Belum lagi begitu tertangkap saya harus mengenakan rompi oranye dengan kedua tangan diborgol. Selanjutnya saya digiring ke mobil-tahanan dan muka saya disorot kamera televisi. Seketika itu juga nama saya disiarkan oleh media massa dan mendadak saya jadi terkenal. Tapi buat apa terkenal kalau itu karena keburukannya! Jika saya kemudian dinyatakan bersalah mungkin setelah bebas dari hukuman saya akan mengisolasi diri, tidak berani ke luar rumah untuk menampakkan diri. Inilah yang namanya malu melakukan kejahatan.

 

Jika saya sebagai pejabat didakwa melakukan korupsi maka dimulailah proses hukum yang membuat saya tidak nyaman. Ruang kantor dan rumah saya digeledah. Selama berjam-jam dan berhari-hari saya dihujani puluhan pertanyaan oleh penyidik. Saya harus menjawabnya dengan hati-hati. Salah jawab bisa membuat hukuman menjadi lebih berat. Saya juga harus menyewa pengacara yang bayarannya sangat menguras kantong itu. Selanjutnya harus menjalani persidangan yang bertele-tele dan melelahkan. Tibalah harinya saya mendengarkan putusan hakim, yang mana saya divonis sekian tahun penjara. Belum lagi hukuman lainnya, yakni harta benda saya disita untuk membayar kerugian negara, dan saya pun dimiskinkan. Kemudian saya menjadi penghuni hotel-prodeo. Meskipun kita bisa tinggal di sana secara gratis, tetapi hati ini sengsara karena kita dikurung bak ayam peliharaan. Tidak cukup itu saja guys! Dengan dijebloskan ke penjara kita sedang menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh manusia. Padahal menurut hukum karma, pasti perbuatan buruk akan membuahkan penderitaan. Entah itu berupa kita kelak menjadi orang yang tidak berkecukupan, sering kehilangan barang, atau terlahir-kembali di alam rendah.

 

Jadi jelas kita berusaha untuk tidak melakukan korupsi, karena kita takut akan akibat perbuatan terkutuk itu. Dengan memiliki Hiri dan Ottappa, bukan berarti kita tertekan karena selalu ketakutan. Takut di sini bermakna positif, meskipun orang salah menterjemahkannya sebagai sikap pengecut. Penulis akan memberi contoh lain. Misalnya kita takut terhadap polisi lalu-lintas. Kita takut jika tidak mengenakan helm atau memakai sabuk pengaman saat mengendarai kendaraan. Takut terhadap kehadiran polisi atau takut ditilang itu adalah hal yang positif bukan negatif, karena ada dasarnya. Coba jika Anda tidak mengenakan helm atau memakai sabuk pengaman, walaupun pada saat itu tidak ada polisi yang berjaga, tiba-tiba Anda mengalami kecelakaan fatal. Dengan tetap mengenakan helm atau sabuk pengaman, Anda mungkin hanya menderita cidera ringan, dan Anda tidak jadi mati.

 

Bisa kita bayangkan jika setiap orang tidak memiliki rasa malu dan takut, dunia ini akan menjadi kacau balau. Seandainya setiap pejabat negara takut kepada Tuhan, maka korupsi akan lenyap dari Bumi Pertiwi ini. Lembaga seperti KPK tidak diperlukan lagi, dan Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang maju. Semoga demikian.

 

Sebagai penutup, penulis akan menceritakan kembali sebuah kisah nyata tentang orang berintegritas, yang melakukan kebajikan yang buahnya dinikmati oleh keturunannya. Anda mungkin pernah membacanya, dan kami menganggap kisah ini masih relevan untuk tulisan kita kali ini.

 

Menjelang akhir hayatnya, Tom Smith, seorang pensiunan pegawai negeri di satu Kementerian, masih sempat berpesan kepada puteri semata-wayangnya. Dia menasehati keturunannya agar mengikuti jejaknya dalam meniti karier. Tahun-tahun yang panjang dihabiskan dalam kerja yang tulus dan jujur di Kantor Pemerintahan hingga dia pensiun dari sana. Semuanya dibekali oleh keyakinan agar mereka sekeluarga memiliki ketenangan batin selama hidup. Dia sendiri hanya bisa hidup sewajarnya dengan membesarkan anaknya hingga dewasa. Isterinya sudah mendahuluinya beberapa tahun sebelumnya.

 

Puterinya, Sarah Smith, mengungkapkan ketidaksetujuannya meskipun hanya diucapkan dalam hati: "Ayah, aku kecewa, karena ayah tidak meninggalkan kami warisan yang memadai. Para orang tua lain, yang ayah katakan sebagai koruptor dan pencuri dana masyarakat bisa mewariskan simpanan deposito yang cukup besar jumlahnya di Bank, atau meninggalkan sebuah rumah tinggal untuk keturunannya. Aku anakmu satu-satunya hanya bisa tinggal di sebuah apartemen sewa. Maafkan aku, ayah. Aku tidak akan mengikuti jejak hidupmu." Tom Smith mungkin kecewa di saat dia hendak menutup mata.

 

Beberapa bulan kemudian, Sarah melamar posisi di sebuah korporasi besar. Saat dia diwawancarai, ketua panitia penerimaan pegawai bertanya, "apa nama lengkap Anda?" Dia menjawab, "Sarah Smith." "Apa nama ayah Anda?" Dia menjawab, "Tom Smith." "Apa yang dia kerjakan sekarang?" Sarah pun menjelaskan, "ayahku telah tiada. Dulu dia bekerja di Kantor Kementerian, yang ditugaskan untuk perekrutan pegawai negeri dan dia banyak menangani pekerjaan kesekretariatan. Dia kerap diminta sarannya dalam menerima pegawai baru oleh atasannya."

 

Air muka sang pewawancara berubah, dan sikapnya berubah menjadi baik. "Apakah Anda adalah puteri dari Tom Smith yang bekerja di Kementerian Anu?" Sarah menjawab, "benar." "Anda pasti tidak tahu. Tuan Smith ini yang bertanggung jawab sehingga aku bisa duduk di sini sekarang. Dia yang menandatangani surat penunjukanku tanpa meminta imbal jasa apa pun, pula tanpa bertanya lebih lanjut. Dia hanya melihat daftar riwayat pekerjaanku yang sebelumnya beserta referensinya, lalu dia menyatakan persetujuannya. Hari ini aku bisa duduk di sini itu juga berkat dia."

 

"Nona muda, dengan pertimbangan itu Anda diterima. Kembalilah esok pagi dan bawalah dokumen lain yang diperlukan." "Luar biasa," kata Sarah dalam hatinya, "tidak ada pertanyaan lagi, tidak ada pula wawancara lanjutan, dan aku diterima begitu saja." Sekonyong-konyong hatinya teriris pedih, "ya Tuhan! Ayahku dulu bersusah payah mencari uang hingga dia tidak bisa menabung. Dia bukan orang kaya. Dia berpulang dengan tidak meninggalkan harta, tetapi kekayaannya masih tersisa. Dan inilah warisannya. Aku mendapatkan pekerjaan itu berkat nama baiknya." Penyesalan pun muncul belakangan.


Setelah bertahun-tahun bekerja dengan giat dan jujur, Sarah Smith menjadi Corporate Affairs Manager korporasi tersebut dengan dua mobil dan sopirnya. Apartmen dua lantai disediakan merangkap kantor pribadinya, dan gaji besar di luar tunjangan, ditambah fasilitas lainnya. Setelah beberapa tahun waktu berlalu, pimpinan perusahaan datang dari Amerika mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri dan mencari penggantinya. Orang dengan kepribadian dan integritas tinggi yang dicari. Para konsultan korporasi menominasikan Sarah Smith, dan dalam selang waktu tidak berapa lama Sarah sudah menduduki jabatan puncak.

 

Dalam sebuah wawancara, Sarah Smith ditanya rahasia kesuksesannya. Dengan air mata berlinang, dia menjawab, "ayahku telah membuka jalan bagiku." "Lalu mengapa Anda menangis?" Dia menjawab, "pada saat kematiannya aku diam-diam menghina ayah, karena menjadi orang jujur dan berintegritas tinggi. Aku menyesali perbuatanku itu, dan justru setelah itu aku meniru teladan yang dia berikan. Semoga dalam kuburnya dia mau memaafkan diriku ini."

Demikianlah wahai para pembaca. Kisah Sara Smith ini menutup tulisan ini. Kita belajar bagaimana Tom Smith bekerja keras membangun sebuah nama baik seumur hidupnya. Buahnya tidak dipetik dengan cepat, tetapi justru belakangan dinikmati oleh keturunannya. Semoga kisah ini memberikan inspirasi kepada kita untuk turut meneladaninya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220420 



Rabu, 06 April 2022

BIMBISĀRA



Asia Selatan yang sekarang ini menjadi negara India, Pakistan, dan Bangladesh, akan kita lihat keadaan dan situasinya pada abad keenam sebelum Masehi. Abad ke-6 sampai abad ke-5 merupakan titik balik utama dalam sejarah India Kuno. Dilihat dari sisi siapa yang berkuasa, ada enam-belas negeri atau dinamakan pula 16 Mahājanapada. Sebagian dari negeri ini ada yang berbentuk kerajaan dan ada pula yang berupa republik oligarki. Mengapa dinamakan titik balik? Pada masa ini nama tokoh-tokoh penting mulai dicatat setelah sebelumnya peran mereka diabaikan secara pribadi, serta penulisan sejarah memiliki pijakan yang pasti, tidak seperti yang terjadi pada zaman sebelumnya. Pada masa sebelumnya penulisan sejarah bercampur dengan mitos, yang belum teruji kebenarannya.

 

Dengan kemunculan enam-belas Mahājanapada tersebut, India mengalami perubahan besar-besaran, setelah sebelumnya negeri akbar ini memiliki "Peradaban Lembah Sungai Indus" yang termasyhur itu. Sejalan dengan arus zaman, terjadi pula urbanisasi periode kedua – yakni perpindahan orang dari desa ke kota –, serta munculnya kota-kota besar di India. Dari segi kepercayaan, ortodoksi kaum Brahmana yang memegang teguh tradisi Veda sebagai pedoman dasar kehidupan mereka, mulai terkikis dengan lahirnya gerakan Sramana. Pemikiran dan gagasan yang baru ini, terutama dengan lahirnya Buddhisme dan Jainisme, mulai menggerus pengaruh Brahmanisme yang selama lebih dari dua milenia telah berurat-akar dalam masyarakat India Kuno.

 

Di antara enam belas negeri itu, kali ini kita akan melihat salah satu negeri, yang ke depannya akan memberikan kontribusi bagi munculnya kekaisaran agung di India pada zaman selanjutnya. Negeri yang dimaksud adalah Magadha, yang berbentuk kerajaan. Jika mengacu pada peta masa kini, Magadha kurang lebih mencakup distrik modern Patna dan Gaya di selatan Negara Bagian Bihar, dan sebagian Bengal di timur. Kotaraja Pataliputra di utara dibatasi oleh sungai Gangga, di timur oleh sungai Champa, di selatan oleh pegunungan Vindhya, dan di barat oleh sungai Sona. Kotaraja yang paling awal adalah Girivraja atau Rājagaha atau Rājagṛha, sekarang menjadi Rajgir modern di distrik Nalanda, Negara Bagian Bihar.

 

Penguasa Kerajaan Magadha adalah Dinasti Haryanka. Generasi keduanya dipegang oleh seorang raja yang bernama Bhāttiya atau dipanggil Mahāpaduma. Lewat perkawinannya dengan permaisuri Bimbī, lahirlah putera pertamanya yang diberi nama Bimbisāra (adalah lazim seorang anak lelaki mengambil nama ibu kandungnya di India). Tokoh kita kali ini, Bimbisāra lahir pada 558 seb.M., dan dia juga dikenal dengan nama Shrenika. Di usianya yang ke-lima-belas dia sudah mewarisi tahta ayahnya, berarti dia sudah menjadi raja pada tahun 543.

 

Selama masa kecilnya, Bimbisāra menyaksikan ayahnya melakukan peperangan melawan penguasa negeri tetangganya yakni Anga. Anga adalah sebuah mahājanapada yang letaknya di sebelah timur, dengan lokasi yang strategis karena memiliki akses langsung ke Teluk Benggala. Raja Anga pada waktu itu adalah Brahmadatta, ternyata sangat liat dan tidak dapat dikalahkan oleh Bhāttiya. Ketika Bimbisāra naik tahta pemuda yang baru beranjak dewasa ini telah menjadi seorang jenderal yang cakap dan terlatih untuk bertempur di medan perang India Kuno. Setelah melakukan persiapan yang cukup, hal pertama yang dia lakukan adalah melanjutkan cita-cita ayahnya yang belum tercapai. Ternyata di bawah kendali Bimbisāra pasukan Magadha menundukkan bala tentara Anga dengan mudah. Selain menundukkan penguasa negeri jirannya sebagai prestasi awal yang membanggakan, konon Bimbisāra juga membangun kota Rājagaha di awal masa pemerintahannya. Rājagaha merupakan tempat perlindungan yang nyaman karena di semua sisi ditutupi oleh lima bukit yang sekaligus menciptakan benteng alami, dan kelak oleh Ajatashatru – putera Bimbisāra – celah yang tersisa dapat ditutup dengan dinding batu.

 

Kesuksesan dan prestasi yang dicapai oleh Bimbisāra bukan semata-mata karena dia merupakan seorang raja yang berkuasa, melainkan juga karena insting, kecerdasan-bawaan, dan perilakunya yang luhur. Dalam kitab Sutta Nipāta diceritakan bagaimana Bimbisāra berkenalan dengan Sang Buddha (563 - 483 seb.M.). Pada saat itu Buddha yang masih berstatus sebagai Petapa Gotama dan ia baru saja melakukan Pelepasan Agung atau meninggalkan istananya (Petapa Gotama meninggalkan istananya ketika berusia 29 tahun). Diketahui Sang Buddha lebih tua lima tahun dari Bimbisāra. Jadi peristiwa itu berlangsung pada tahun 534 seb.M., yakni sembilan tahun setelah Bimbisāra memegang tampuk kepemimpinan Kerajaan Magadha. Dikisahkan Petapa Gotama saat itu sedang meminta-minta dan mengumpulkan sedekah makanan di Rājagaha, dan setelah selesai dia lewat di depan jendela istana sang raja. Terkesima, namun cukup dengan melihat ciri-ciri fisik seorang manusia agung, Bimbisāra segera mengirim utusan untuk mengejarnya. Mengetahui, bahwa sang petapa sedang beristirahat setelah makan siang di Bukit Pandava di luar kota Rājagaha, Bimbisāra mengikutinya dan setelah keduanya berbincang-bincang sang raja menawarkan satu jabatan tinggi di kerajaannya. Dia bahkan meminta agar sang petapa mau memerintah bersama-sama, yakni disertai tawaran agar Gotama menjadi penguasa negeri Anga. Namun permintaan itu ditolak secara halus oleh sang petapa, karena dia justru meninggalkan hidup sebagai perumah-tangga dengan maksud mencapai pencerahan. Tetapi Petapa Gotama berjanji dan bersedia kembali ke Rājagaha setelah cita-citanya tercapai.

 

Enam tahun kemudian setelah Petapa Gotama menjadi Buddha, dia ingat akan janjinya untuk menemui Bimbisāra di Rājagaha. Dengan ditemani oleh dua-belas nahuta perumah tangga, Bimbisāra pergi ke Supatittha Cetiya di dekat kotaraja untuk memberikan penghormatan kepadanya. Sang Buddha kemudian membabarkan ajarannya kepada mereka semua. Setelah wejangan Dharma itu usai, sebelas nahuta dengan Bimbisāra sebagai pimpinan mereka, mencapai pencerahan. Sang Raja memperoleh tingkat kesucian yang pertama. Dengan diperolehnya mata-dharma, sang raja mengakui bahwa semenjak masih kanak-kanak dia mempunyai lima cita-cita; yaitu: (1) jika sekali waktu dia dapat dinobatkan sebagai raja, (2) jika dalam kurun waktu hidupnya dia bisa bertemu dengan seorang Arahant yang tercerahkan sempurna, (3) jika dia bisa menghormati Yang Terberkahi, (4) jika Yang Terberkahi berkenan mengajarkan dia Dharma, dan (5) jika dia bisa memahami Dharma Yang Terberkahi. Bimbisāra pun dengan tulus bersedia menjadi pengikut awam Sang Buddha.

 

Pada hari berikutnya Sang Buddha dan rombongan besar para bhikkhu menerima keramahan Bimbisāra. Sakka – Raja para Dewa – yang menyamar sebagai seorang pemuda, mendahului mereka ke istana sambil menyanyikan lagu-lagu kemuliaan untuk Sang Buddha. Di akhir acara jamuan-makan, Bimbisāra menuangkan air dari tempayan emas ke tangan Sang Buddha, serta mempersembahkan Hutan Bambu atau Veluvana, untuk digunakan oleh Sang Buddha dan para pengikutnya.

 

Tidak saja berhubungan baik dengan Buddhisme, Bimbisāra juga dekat dan menyokong Jainisme. Mahavira, atau dikenal pula sebagai Vardhamana (599 - 527 seb.M.) – pendiri Jainisme – atau dalam teks Buddhis lebih dikenal sebagai Nigaṇṭha Nātaputta konon pernah bertemu dengan Bimbisāra. Kitab suci Jain menyebut Bimbisāra sebagai Shrenika, dan dia sering mengunjungi para petapa Jain untuk berdiskusi. Selain itu Bimbisāra juga mendukung para petapa lainnya dalam mengembangkan ajaran mereka, tidak terkecuali kaum brahmana, sehingga dia mampu mengembangkan toleransi yang begitu tinggi. Memang zaman itu merupakan masa keemasan bagi bertumbuhkembangnya ajaran agama dan filsafat di India.

 

Setelah mencaplok Anga, Bimbisāra mengalihkan perhatiannya pada kerajaan atau republik lainnya di anak benua itu. Dia merupakan seorang ahli strategi dan jenderal militer yang ulung. Untuk memperkuat kerajaannya, dia menyadari keterbatasan pasukannya melawan penguasa yang lebih besar. Guna menjaga keselamatan negerinya Bimbisāra mendapatkan jalan keluarnya, yakni dengan membentuk aliansi-perkawinan dengan para pemimpin negeri jiran.  Bimbisāra kemudian meminang Puteri Kosaladevī, anak perempuan dari Sanjaya Mahākosala, yang juga merupakan saudara kandung dari Pasenadi (atau Prasenajit). Nah Pasenadi ini sepeninggal ayahnya, lalu dinobatkan sebagai Raja Kosala, sebuah negeri yang luas dan maju yang letaknya berbatasan dengan Magadha. Pada hari pernikahannya, Bimbisāra menerima bagian dari mas kawinnya, sebuah kota suci di Kāsi,

 

Tidak cukup dengan mengambil seorang perempuan, Bimbisāra kemudian menikahi Puteri Chellana sebagai isteri kedua. Chellana adalah seorang Puteri Licchavi dari Vaishali (atau Vesālī), dan merupakan anak perempuan dari Raja Chetaka, pemimpin Konfederasi Vrijji atau Vajji yang kuat. Menurut Indologis Hermann Jacobi, Trishala – ibunda dari Mahavira – adalah saudara perempuan dari Chetaka. Dengan demikian Chellana dan Mahavira merupakan saudara sepupu. Jadi tidak mengherankan Chellana menjadi seorang penganut Jain yang soleh. Selanjutnya Bimbisāra juga mengambil Puteri Khemā (atau Kshema), seorang Puteri yang amat jelita, anak dari kepala Wangsa Madra dari Punjab, menjadi isterinya yang ketiga. Dikisahkan dalam literatur Buddhis, Khemā pada awalnya bahkan tidak mau mengunjungi Sang Buddha. Namun sekali waktu dia terpikat oleh cerita Bimbisāra tentang keindahan Veluvana. Belakangan Khemā meninggalkan kehidupan berkeluarga dan menjadi seorang bhikkhuni. Selanjutnya dia menjadi salah satu siswi Sang Buddha yang terkemuka.

 

Setelah mengamankan negerinya dari kemungkinan diserang atau diinvasi kekuatan luar, Magadha pun menjadi negeri yang stabil dan kuat di bawah kendali Bimbisāra. Negeri ini adalah salah satu mahājanapada yang paling menonjol dan makmur. Selain Rājagaha kota besar lainnya adalah Pataliputra, yang terletak di pertemuan sungai-sungai besar seperti Gangga, Putra, Punpun, dan Gandak. Dataran aluvial di wilayah ini dan kedekatannya dengan daerah kaya tembaga dan besi di Bihar serta Jharkhand, membantu rakyat Magadha menambang logam berharga ini. Penambangan ini mendukung pembuatan perkakas dan senjata yang berkualitas, serta mendukung ekonomi agraris bagi sebagian besar rakyatnya. Ditambah lagi dataran Gangga yang subur selalu memberikan hasil panen yang berlimpah, serta hutan di sekitarnya menyediakan kayu dan hewan buruan untuk dieksploitasi. Lokasi Magadha di pusat jalan raya perdagangan pada masa itu berkontribusi pula terhadap kekayaannya. Belum lagi penguasaannya pada Negeri Anga, memberikan Magadha akses ke rute laut, sehingga memperluas aktivitas perdagangan mereka hingga ke luar wilayah India

 

Jika kita menilai apa saja yang telah dicapai oleh Bimbisāra, mungkin bisa disebutkan bahwa dia berhasil memperluas wilayah kekuasaannya, menciptakan kestabilan politik dan keamanan selama masa pemerintahannya, membawa kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyatnya, serta memberikan dukungan moril dan material bagi berkembangnya agama orang India. Sebenarnya warisan yang tidak kalah pentingnya adalah manajemen pemerintahan dan sistem administrasi yang diterapkan di seluruh kerajaan. Bimbisāra membentuk rantai komando yang jelas, yang memastikan pemungutan pajak yang efisien dan pengawasan para pejabat di bawahnya. Magadha memiliki sekitar 80.000 dusun yang masing-masing dipimpin oleh seorang kepala-desa. Bimbisāra juga mengangkat pejabat yang berkompeten di bidang keuangan, urusan sipil, militer, dan pengadilan. Pejabat yang malas dan tidak becus segera diganti. Bimbisāra juga memiliki menteri-menteri dan pejabat tinggi yang ahli di bidangnya dan dapat dipercaya. Kelak sistem pemerintahan ini ditiru oleh Dinasti yang menguasai seluruh wilayah India, di antaranya Dinasti Maurya dan Dinasti Gupta.

 

Bimbisara dengan segala kecerdasan, insting, dan kebajikan luar biasa yang dimilikinya, ternyata kecolongan juga. Saking terlalu percaya kepada putera mahkotanya, Ajatashatru, dia secara sukarela menyerahkan tahtanya. Padahal jauh sebelumnya, bahkan sebelum anaknya lahir, para cenayang istana telah meramalkan bahwa sang putera yang masih dalam kandungan akan menjadi musuh besar ayahnya sendiri. Setelah menjadi raja Ajatashatru malahan memenjarakan ayahnya sendiri. Semua itu dilakukan atas hasutan Devadatta, saudara sepupu Sang Buddha yang jahat. Riwayat Bimbisāra ternyata berakhir tragis; dia meninggal dunia dalam tahanan puteranya sendiri pada tahun 491 seb.M. pada usia 67 tahun.


 

sdjn/dharmaprimapustaka/220406


Rabu, 23 Maret 2022

Legenda Miao Shan


 

Di masa lalu ada seorang raja yang bernama Miào-zhuāng wáng atau  妙庄王, yang berkuasa di Negeri Xing Lin, kira-kira pada akhir masa kekuasaan Dinasti Zhou pada abad ke-3 seb.M. Permaisurinya bernama Pao Ying. Dari perkawinan itu sang raja dikaruniai tiga orang puteri. Yang pertama bernama Miao Shu, yang kedua dipanggil Miao Yin, dan yang bungsu dinamakan Miào Shàn atau 妙善.

 

Pada malam saat sang puteri bungsu mulai dikandung oleh ibunya, sang permaisuri dalam tidurnya bermimpi, bahwa secara ganjil dia berhasil menelan sang rembulan. Ketika waktunya tiba bagi sang bayi untuk dilahirkan, bumi pun bergetar dengan lembutnya, bunga-bunga di seantero negeri bermekaran di saat yang berbarengan, dan kembang-kembang surgawi berjatuhan dari angkasa, menciptakan aroma harum semerbak di mana-mana. Orang-orang di negeri itu tercengang menyaksikan keajaiban yang terjadi dalam seketika. Saat bayi itu lahir ke dunia tubuhnya nampak bersih dan segar, walaupun dia belum sempat dimandikan. Sekujur badannya dilingkupi oleh awan-awan yang berwarna-warni. Orang-orang pintar dan bijaksana setelah menafsirkan tanda-tanda yang dibawa oleh sang bayi mengatakan, bahwa sang puteri tidak lain merupakan wujud-inkarnasi dari orang suci. Meskipun ayahnya menyaksikan anaknya yang baru lahir ini luar biasa, namun temperamen dan watak sang raja yang buruk, membuat dia enggan untuk mengakuinya.

 

Sang puteri bungsu pun hidup dalam keadaan berkecukupan dan berkemewahan di dalam istana ayahnya. Dia bertumbuh kembang dan beranjak dewasa laksana puteri raja yang cantik rupawan dan dimanjakan oleh kehidupan duniawi. Namun tidak seperti kebanyakan anak raja, sang puteri bungsu hanya mau mengenakan busana yang sederhana, dan dia pun hanya menyantap makanannya satu kali sehari. Sang puteri pun dikenal oleh rakyatnya sebagai wanita yang lembut, halus, dan penyayang. Di lingkungan istana dia dikenal sebagai "gadis berhati emas." Karena terbawa oleh aura dan perilakunya yang baik dan penyayang, para inang-pengasuhnya pun ikut terpengaruh. Semuanya memiliki moralitas yang tinggi dan sedikit demi sedikit mereka berlatih melepaskan diri dari berbagai keinginan duniawi.

 

Ketika sang puteri sudah melewati masa akil-balig, ayahnya sang raja bermaksud mencarikan seorang suami bagi Miao Shan. Namun secara halus dia menolak untuk dicarikan pasangan hidup, seraya berkata: "Kekayaan dan kehormatan tidak akan berlangsung untuk selamanya. Kemuliaan dan kemegahan ibarat gelembung sabun, terbentuk seketika dan kemudian lenyap. Segala kebesaran duniawi hanyalah ilusi belaka. Bahkan jika Yang Mulia memaksaku untuk melakukan pekerjaan kasar, aku tidak akan pernah berpaling dari tekadku untuk tetap menapaki kehidupan suci."

 

Ketika raja dan permaisuri memanggil Miao Shan keduanya mencoba untuk membujuknya, namun dia berkata: "Aku akan mematuhi perintah Yang Mulia jika hal itu dapat mencegah tiga kemalangan. Sang raja bertanya, "apa yang dimaksud dengan tiga kemalangan itu?" Miao Shan menyebutkan: "Yang pertama adalah kasus seperti ini: saat laki-laki masih berusia muda, wajahnya bundar seelok bulan-pualam, yang membuat langit malam menjadi cerah. Tetapi ketika lelaki itu beranjak menua, rambut mereka berubah menjadi putih, dan wajah mereka pun berkeriput dan berkerut-kerut. Sewaktu mereka bergerak atau beristirahat, dipandang dari segi mana pun, mereka lebih buruk ketimbang ketika mereka masih muda. Yang kedua adalah hal berikut ini: anggota tubuh seorang pria mungkin prima, bertenaga, dan bersemangat. Dia mungkin bergerak dengan lincah, seolah-olah dia sedang terbang di angkasa. Namun ketika tiba-tiba penyakit datang menghampirinya, dia hanya bisa berbaring di tempat tidurnya tanpa bisa mendapatkan kesenangan sedikit pun dalam hidup ini. Yang ketiga adalah kasus seperti ini: seorang pria memiliki banyak kerabat, mungkin dikelilingi oleh orang-orang terdekat dan tersayangnya, tetapi tiba-tiba suatu hari semuanya berakhir, dengan tibanya hari kematiannya. Meskipun ayahnya atau anaknya adalah kerabat dekatnya, dia tidak dapat meminta satu dari mereka untuk menggantikannya atau mewakilkannya menghadapi kematian. Jika Yang Mulia dapat mencegah tiga kemalangan ini, maka Paduka akan memenangkan persetujuanku untuk menikah. Jika tidak, aku lebih memilih pensiun untuk mengejar kehidupan religius. Ketika seseorang memperoleh pemahaman penuh tentang batin asali, semua kemalangan atas kemauannya sendiri tidak akan ada lagi.”

 

Mendengar kata-kata itu sang raja amat murka. Dia memaksa Miao Shan untuk bekerja di kebun serta mengurangi jatah makanan dan minumannya. Bahkan kedua kakak perempuannya membujuk dan merayunya agar dia berubah pikiran, tetapi Miao Shan memegang teguh pendiriannya dan tidak mau berkompromi barang sedikit pun juga. Ketika sang permaisuri secara pribadi mendekati dan menegurnya, Miao Shan berkata: "Dalam semua keterikatan dan kemelekatan emosional, di antara sesama saudara dan kerabat di dunia ini, tidak dikenal istilah pelepasan spiritual. Jika saudara atau pun kerabat dekat bersatu dalam hidup ini, suatu saat mereka pasti akan terpisah dan tercerai-berai pula. Bebaskanlah pikiran Ibunda dari beban ini. Beruntunglah, Yang Mulia masih memiliki dua anak perempuan, yang akan merawat Paduka di hari tua. Tidak usahlah mengkhawatirkan Miao Shan."

 

Sang permaisuri dan kedua saudara perempuan Miao Shan meminta sang raja untuk membebaskannya, agar dia bisa mengikuti keinginannya, namun sang raja menolak mentah-mentah. Raja bermaksud membuang puteri bungsunya ke sebuah biara di negeri itu. Dia memanggil para biarawati di Biara "Burung Pipit Putih", lalu dia memerintahkan agar Miao Shan diperlakukan secara keras dan kasar selama dia tinggal di kuil itu. Upaya itu dimaksudkan agar sang puteri akan berubah pikiran. Para biarawati diintimidasi agar Miao Shan setiap hari ditugaskan untuk menangani pekerjaan berat, seperti mengambil kayu dan air di hutan, bekerja dengan alu dan lesung, serta mengelola kebun dapur. Seolah tahu bahwa Miao Shan sengaja dibuat susah dalam menjalani hidupnya, alam pun tidak tinggal diam. Belum berapa lama dia tinggal di biara itu, tanaman sayur tumbuh dengan subur di pekarangan kuil, bahkan tumbuhan itu hidup selama musim dingin. Sebuah mata air tiba-tiba muncul dan mengalirkan air jernihnya di samping dapur biara.

 

Waktu pun berlalu dengan cepatnya namun Miao Shan masih tetap teguh menjalani hidupnya sesuai dengan aspirasinya. Ketika ayahnya mendengar kabar tentang keajaiban sayuran dan mata air, maka dipicu oleh kedengkian dan kebencian terhadap puteri bungsunya, dia menjadi sangat gusar. Dia lalu mengirimkan bala tentara serta memerintahkan mereka agar membawa kepala puterinya, sekaligus pula menghabisi para biarawati. Sungguh penguasa yang kejam, yang hendak menghukum orang-orang yang tidak bersalah! Saat pasukan itu mendekati kuil, sekonyong-konyong gumpalan awan dan kabut yang misterius tiba-tiba muncul, yang membuat semua yang ada di sana menjadi gelap. Ketika awan dan kabut itu lenyap dan pasukan itu menyerbu kuil, Miao Shan adalah satu-satunya orang yang tidak dapat mereka temukan. Kemana Miao Shan pergi? Dia ternyata telah diungsikan oleh sesosok roh ke sebuah tebing. Roh itu kemudian berkata: "Tanah di sini terlalu tandus untuk menopang kehidupan." Dia pun memindahkan Miao Shan hingga tiga kali, sebelum mereka mencapai Gunung Harum atau Xiāng Shān. Miao Shan selanjutnya memilih bertempat tinggal di sana, makan dari apa yang didapatnya di pepohonan, dan minum dari sungai jernih yang mengalir di gunung itu. Selama sembilan tahun Miao Shan bertapa di Gunung Harum untuk melatih berbagai keutamaan.

 

Waktu terus berlalu, dan raja lalim itu kini mendapat musibah. Dia terjangkit penyakit kuning yang membuat seluruh tubuhnya rusak dan bernanah, dan dia tidak bisa lagi tidur atau makan. Tidak ada tabib yang bisa menyembuhkannya. Ketika sang raja hampir mati seorang rahib datang menemuinya, mengatakan bahwa dia mampu menyembuhkannya hingga tuntas. Namun untuk bisa melakukannya sang rahib membutuhkan organ-lengan dan organ-mata dari seseorang yang telah bebas dari kemarahan. Raja menganggap syarat yang diminta mustahil untuk dipenuhi. Tetapi sang rahib berkata: “Di Gunung Harum, di daerah barat-daya dari wilayah yang dikuasai oleh Yang Mulia, ada seorang dewi welas-asih yang sedang mengembangkan praktik keagamaannya. Jika Paduka mengirim seorang utusan untuk menyampaikan permintaan kepadanya, Yang Mulia dapat mengandalkannya untuk mendapatkan bahan bagi pembuatan ramuan berharga itu.”

 

Sang raja tidak punya pilihan selain memerintahkan pasukan istana untuk pergi dan menyampaikan pesannya. Sesampainya di sana Miao Shan berkata: "Ayahku tidak menunjukkan rasa hormatnya pada Tiga Harta Karun, dan dia menganiaya Doktrin Sejati yang tertindas, tambahan lagi dia mengeksekusi para biarawati yang tidak bersalah. Ini menuntut pembalasan." Kemudian dia dengan senang hati memotong matanya dan lengannya, lalu menyerahkannya kepada utusan itu. Dia memberikan instruksi untuk disampaikan kepada sang raja, agar sang penguasa kembali kepada ajaran yang baik, dan tidak lagi tertipu oleh doktrin palsu. Ketika dua bagian-tubuh yang diminta itu diserahkan kepadanya, sang rahib kemudian mengolahnya menjadi ramuan obat. Sang raja meminumnya dan ajaib!!  Sedikit demi sedikit penyakit yang dideritanya berangsur-angsur lenyap. Dengan murah hati dia menghadiahi tabib-rahib itu emas dan perak. Tetapi rahib itu malah berkata: "Mengapa Paduka berterima kasih kepadaku? Yang Mulia seharusnya berterima kasih kepada orang yang menyediakan organ-lengan dan organ-mata itu." Setelah mengucapkan kata-kata itu sang rahib pergi begitu saja. Raja tersadar bahwa dia baru saja diselamatkan oleh pertolongan dewata. Selanjutnya dia memerintahkan seorang penunjuk jalan, agar membawanya beserta sang permaisuri dan dua puterinya ke Gunung Harum, untuk berterima kasih kepada sang dewi welas-asih itu.

 

Mereka akhirnya bertemu, dan sebelum kata-kata diucapkan, sang permaisuri sudah mengenalinya. Orang yang mereka cari tidak lain adalah Miao Shan. Mereka semua terperanjat, dan air mata membanjiri pipi empat orang itu. Miao Shan berkata: "Apakah Yang Mulia masih mengingat Miao Shan? Mengenang cinta ayahku, aku telah membalasnya dengan lengan dan mataku sendiri." Mendengar kata-katanya, raja dan permaisuri bermaksud memeluknya, dan keduanya menangis tersedu-sedu. Baru saja Permaisuri hendak menjamah wajah puteri bungsunya, namun alamak! Sebelum dia bisa melakukannya, awan keberuntungan segera menyelimuti Gunung Harum, musik surgawi terdengar dari atas langit, bumi berguncang, dan bunga-bunga menghujani mereka. Dan kemudian manifestasi suci dari Sang Dewi dengan Seribu Lengan dan Seribu Mata terungkap dengan jelas, dan dia melayang dengan anggunnya di tengah angkasa. Suara-suara yang menyuarakan welas-asih kembali bergema mengguncang gunung dan lembah. Lalu selang sekejap kemudian, Sang Dewi Welas-asih perlahan-lahan meninggalkan tempat itu. Raja, permaisuri, dan dua saudara perempuan dalam dukacita mereka berlutut dan menyembah sang dewi yang berangsur-angsur lenyap. Selanjutnya mereka membangun sebuah tempat pemujaan untuk mengenang jasa sang dewi welas-asih. Sebagai penghormatan kepada Miao Shan mereka semua mengikuti ajaran luhurnya, yang dijadikan panutan oleh sang puteri bungsu semasa hidupnya.

 

Legenda Puteri Miao Shan di atas menarik minat masyarakat sejak Zaman Kuno. “Gulungan Mestika Gunung Harum” atau "Xiāngshān bǎo juàn atau 香山寶卷", menceritakan bagaimana Puteri Miao Shan yang dipercaya orang sebagai manifestasi dari Bodhisattva Guanyin. Cerita Gulungan Mestika Gunung Harum bermuasal dari Biara Xiangshan (atau Xiāng Shānsì) atau 香山寺 di Rǔ zhōu ( 汝州). Kuil itu adalah tempat pemujaan Guanyin, dan kepala biara yang bernama Huái zhòu atau 懷晝 memberikan tulisan kisah Puteri Miao Shan pada pejabat kota Ruzhou yang bernama Jiǎngzhīqí atau 蔣之奇 (1031-1104), pada masa pemerintahan Dinasti Song Utara (960-1127). Dari situlah Legenda Guanyin sebagai puteri Miao Shan meluas dan menyebar hingga dikenal sampai sekarang. Jika kita merunut kisah itu sejak akhir masa pemerintahan Dinasti Zhou, sampai akhirnya dituliskan dalam manuskrip berbentuk gulungan kertas, diperlukan waktu sekitar 1.400 tahun. Tidak heran jika Anda membacanya dari sumber lain terdapat berbagai variasi dalam jalan ceritanya, walaupun kisah Miao Shan sebagai dewi welas-asih tetaplah serupa.

 

Jika benar bahwa Miao Shan adalah puteri seorang raja lokal di Tiongkok pada abad ke-3 seb.M., jelas pada masa ini agama Buddha belum masuk ke Tiongkok. Dengan demikian kepercayaan dan pemujaan terhadap dewi welas-asih jelas berasal dari agama asli orang Tionghoa itu sendiri. Di lain pihak narasi Guanyin sebagai sesosok bodhisattva, mencapai puncak popularitasnya di Asia Timur antara abad kedua-belas sampai abad kesembilan-belas. Pada saat itu muncul kepercayaan bahwa inkarnasi terakhir Sang Bodhisattva tidak lain Puteri Miao Shan. Hari lahir tanggal 19 bulan kedua, hari mendapatkan Sang Jalan tanggal 19 bulan keenam, dan hari memperoleh Kesempurnaan tanggal 19 bulan kesembilan, semuanya mengacu pada kalender Tionghoa, dirayakan oleh pengikutnya setiap tahun. Boleh dikatakan Guanyin merupakan sosok bodhisattva yang paling dikenal.

 

Membaca legenda Miao Shan, penulis pribadi memiliki pandangan tersendiri. Bukan saja sekali, tetapi dua sampai tiga kali Miao Shan menolak untuk menikah. Padahal sang raja tidak memiliki anak laki-laki dan dia memiliki kepentingan agar keturunannya kelak bisa meneruskan tahtanya. Miao Shan berdiri teguh melawan ayahnya dan lebih radikal lagi dia melawan konvensi, jadi Miao Shan ini seorang pemberontak. Apalagi sang puteri dibesarkan dalam kentalnya budaya berbakti terhadap orang tua dan leluhur, tradisi mana yang lebih dikenal sebagai 孝 atau Xiào atau hàu. Adalah hal yang melegakan pada akhirnya, bahwa Miao Shan benar dan menang. Dalam budaya patriarkhal yang kuat seperti yang dianut dalam masyarakat Tionghoa, adanya Guanyin sebagai sosok dewi welas asih yang dipuja secara luas tentu merupakan hal yang luar biasa.

 

Di penghujung hidupnya pada gunung yang disucikan, Miao Shan selama sembilan tahun bermeditasi, melantunkan mantram, memasuki keadaan mistik secara mendalam. Dia mengasah batin dan tubuhnya, mengembangkan kejernihan pikirannya, menumbuhkan kesadarannya atas saling-kebergantungannya dengan alam semesta, serta memupuk welas-asih tanpa dasar untuk semua makhluk. Seperti yang diceritakan dalam legenda itu, akhirnya dia menjelma menjadi Sang Avalokitesvara berlengan seribu, bermata seribu, bodhisattva yang maha welas-asih. Mendengar bahwa sang raja sangat menderita, dia cukup menawarkan sebuah lengan dan sebuah matanya untuk menyembuhkannya. Dan mengapa lengan dan mata? Sementara Miao Shan, dalam tubuh fisiknya, hanya memiliki dua lengan dan dua mata. Di sinilah misteri ini terungkap, bahwa bukan Miao Shan sebagai manusia fana yang melakukannya, melainkan Sang Bodhisattva Avalokitesvara yang menyerahkan salah satu dari seribu lengan dan seribu mata yang dimilikinya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220323