Kamis, 18 November 2021

BANJIR BESAR


 

Sebagai siswa sekolah yang mengenyam pendidikan dasar dan menengah di sekolah swasta Katolik, penulis mengenal dan bahkan hafal kisah-kisah yang terdapat dalam Kitab Suci Perjanjian Lama dan Baru. Salah satu cerita yang mengesankan dan tidak terlupakan terjadi sewaktu kami duduk di kelas tiga atau empat sekolah dasar, yakni Kisah Nabi Nuh. Sebagai bocah ingusan generasi kami mudah mencerna dan mengingat narasi-narasi dengan tokoh-tokoh dunia yang menakjubkan, terutama yang pernah terjadi di zaman kuno atau jauh di masa silam.

 

Bagaimana kisah Nabi Nuh ini? Demikianlah pada masa itu orang berasal dari satu komunitas. Mereka menjalani kehidupan yang sederhana. Mereka bercocok tanam dan berburu hewan. Hari, bulan, dan tahun pun berganti. Sekarang mereka yang merasa kuat mulai menindas golongan yang lemah. Yang tertekan ini hidup dalam kesusahan, dan kedudukan mereka tidak lebih dari budak. Pada saat itu mungkin empat ribu tahun yang lalu, Nabi Nuh hidup di tanah yang dibatasi oleh Sungai Tigris dan Eufrat.

 

Demikianlah Nuh mengetahui bahwa sebagian besar rakyat menjalani kehidupan yang penuh dengan kebusukan dan mereka telah jauh melenceng dari kebenaran. Pada satu hari orang-orang mendengar Nuh berkata, "Wahai, kalian. Aku telah diutus oleh Tuhan. Kalian sudah berbuat jahat dan melanggar perintahNya. Dia telah banyak memberikan karunianya kepada kalian, namun kini kalian mengikuti hawa nafsu kalian dan tidak mentaati apa yang telah digariskannya.  Bertobatlah!" Orang banyak memprotesnya, "mengapa si tukang kayu ini (Nuh) menyalahkan kita? Apa hak dia mengatasnamakan Tuhan?"

 

Bukannya menuruti kata-kata Nuh, mereka justru memusuhinya dan berkali-kali ingin mencelakakannya. Ternyata orang yang menentang Nuh lebih banyak daripada orang yang mentaatinya. Sampai akhirnya Tuhan Allah mengutus malaikatnya dan meminta Nuh untuk membuat satu bahtera yang berukuran besar. Ukuran bahtera itu panjang 450 kaki, lebar 75 kaki, dan tinggi 45 kaki, dan sampan besar itu tidak dilengkapi dengan layar, dayung, atau pun kemudi. Bahtera pun dibangun tiga tingkat, dengan lantai dasar, lantai tengah, dan lantai atas. Walaupun Nuh memiliki keahlian sebagai tukang kayu, tetap dibutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membangun perahu besar itu, karena tidak banyak orang yang mau membantu dan menuruti kemauannya.

 

Demikianlah hingga mendekati hari yang dijanjikan. Tuhan meminta Nuh untuk mengisi bahtera itu sampai terisi penuh. Apa saja yang dimuat ke dalamnya? Ya, makanan dan perlengkapan untuk hidup bagi Nuh dan para pengikutnya. Kemudian benih tumbuh-tumbuhan, dan lalu segala macam hewan, sepasang demi sepasang dinaikkan ke dalam bahtera. Orang-orang yang tidak percaya kepada Tuhan, mengejek Nuh dan bahteranya. Namun, tidak berapa lama kemudian langit menjadi gelap, angin dingin datang menyergap, kilat menyambar-nyambar, disertai guntur yang memekakkan telinga. Hujan pun mulai turun, mulanya sedikit, tetapi lambat laun hujan deras datang bagai dicurahkan dari langit. Bukan saja air hujan yang turun ke bumi, tetapi sungai pun mengamuk, danau bergolak, mata air mengucurkan tirta murninya tanpa henti, dan ketinggian air samudera pun naik terus. Hujan yang amat dahsyat berlangsung selama 40 hari dan 40 malam, bahkan puncak pegunungan tertinggi pun turut disapu air bah.

 

Tidak ada orang atau makhluk hidup lainnya yang selamat dari banjir besar tersebut, kecuali yang berada di dalam bahtera Nabi Nuh. Bahtera itu terombang-ambing mengikuti gelombang dan arus air. Akhirnya, air mulai surut, dan bahtera itu berhenti di Pegunungan Ararat, yakni di daerah Turki saat ini. Nuh mengambil seekor burung gagak, yang dilepaskannya dari bahtera, dan kemudian seekor merpati. Dua kali dia mencobanya pada burung merpati dan dua kali itu pula merpati kembali kepadanya dengan tangan hampa. Baru pada penerbangan ketiga, burung itu kembali dengan cabang zaitun di paruhnya, menunjukkan bahwa air telah surut cukup jauh, dan pepohonan telah menumbuhkan daun baru. Turun dari bahtera, Nuh membangun sebuah mezbah bagi Tuhan, mezbah pertama yang disebutkan dalam Alkitab, dan memberikan persembahan. Dan ketika Tuhan mencium bau anggur yang menyenangkan, Tuhan berkata dalam hatinya, "Aku tidak akan pernah lagi mengutuk tanah karena manusia. Aku juga tidak akan pernah lagi menghancurkan setiap makhluk hidup seperti yang telah Aku lakukan sebelumnya. Selama bumi masih ada, waktu menabur dan menuai, dingin dan panas, musim panas dan musim dingin, siang dan malam, tidak akan pernah berhenti."

 

Cerita tentang terjadinya banjir besar yang meluluhlantakkan peradaban manusia bukan hanya bersumber dari Alkitab saja. Berikut ini penulis menceritakan kembali kisah serupa yang berasal dari India. Menurut Matsyapurana dan Shatapatha Brahmana (I-8, 1-6), ada seorang Menteri dari Raja Dravida, yang bernama Manu. Sang Menteri adalah orang yang konsisten mencari kebenaran. Karena Manu benar-benar jujur, ia awalnya dikenal sebagai Satyavrata (artinya: "Satu dengan sumpah kebenaran"). Dikisahkan sekali waktu ketika Manu sedang mencuci tangannya di sebuah sungai, seekor ikan kecil masuk ke tangannya. Sang Ikan memohon kepada Manu agar dia diselamatkan jiwanya. Dengan welas-asih yang dimilikinya, Manu membawa ikan itu pulang dan dia menyimpannya di dalam sebuah stoples. Manu tidak mengetahui bahwa ikan kecil itu sesungguhnya sesosok Avatar, yakni penjelmaan dari Dewa Vishnu.

 

Sang ikan yang dipelihara di kediaman Manu itu terus tumbuh semakin besar, sampai Manu memasukkannya ke dalam kendi. Tidak berselang lama, dia harus mencari wadah yang lebih lapang karena si ikan terus membesar. Kali ini tidak ada jalan lain,  Manu menempatkannya di dalam sumur. Ketika sumur itu juga terbukti tidak cukup untuk ikan yang terus tumbuh, dia memindahkannya ke  sebuah waduk, yang panjangnya dua yojana (sekitar 25 km) dan lebarnya satu yojana. Ketika ikan itu tumbuh lebih jauh lagi, Manu harus membawanya ke sungai yang besar. Dan bahkan ketika sungai itu terbukti tidak mencukupi, dia akhirnya menempatkan sang ikan di lautan.

 

Saat itulah Sang Avatar memberi tahu Manu tentang ancaman banjir besar yang akan segera melanda bumi. Dia minta agar Manu membangun sebuah perahu besar yang dapat menampung keluarganya, berbagai benih, dan hewan untuk mengisi kembali bumi. Hal itu diperlukan karena setelah banjir reda, lautan akan surut dan daratan perlu diisi kembali dengan tetumbuhan, hewan, dan manusia. Selama banjir besar, Manu mengikat perahu ke tanduk ikan yang pernah diipeliharanya sejak kecil. Perahunya terdampar setelah banjir surut dan ternyata Manu mendarat di sebuah puncak gunung. Dia kemudian turun dari gunung dan mengadakan upacara kurban dan sesembahan sebagai rasa syukur atas penyelamatannya. Konon semua orang di bumi saat ini adalah keturunan dari Manu.

 

Cerita banjir besar yang melanda bumi bukan saja terdapat dalam Alkitab dan Kitab Veda saja. Mitos Sumeria menceritakan bagaimana Dewa Enki memperingatkan Raja Shuruppak, atas keputusan para dewata untuk membinasakan umat manusia dengan air bah. Peradaban Babilonia mengenal Epos Gilgames, mengisahkan bagaimana Sang Pahlawan (Gilgames) diminta oleh Dewa Ea untuk membangun sebuah kapal, yang akan digunakan untuk menyelamatkannya kaumnya dari bencana banjir besar. Legenda Yunani menceritakan air bah Deukalion yang menenggelamkan Athena dan Atlantis. Semua kisah tentang air bah memiliki tema yang serupa, yakni satu banjir besar dalam skala global pernah terjadi di bumi. Musibah itu terjadi karena manusia banyak melakukan perbuatan yang jahat dan tercela, dan sebagai hukumannya Yang Maha Kuasa atau Dewa Penguasa mendatangkan bencana besar. Setelah air bah reda, dunia dan manusia dimuliakan kembali.

 

Kisah-kisah tentang banjir besar di atas menceritakan bahwa bencana dahsyat tersebut terjadi di zaman lampau yang tidak disebutkan tahunnya, atau kita sebut berlangsung di waktu-mitis. Kita sekarang akan meninjau musibah air bah yang benar-benar berlangsung di zaman prasejarah di daerah lain. "Seperti air mendidih yang tak ada habisnya, banjir membawa kehancuran. Tak mengenal batas dan meluap, melebihi bukit dan gunung. Air naik dan naik terus hingga mengancam langit. Pastilah orang-orang yang berada di sana sedang mengerang dan menderita!" Demikianlah ungkapan kegundahan Kaisar Yáo (堯), yang mengangkat tangannya tinggi-tinggi, putus asa menghadapi kekejaman alam. Peristiwa itu berlangsung menjelang akhir milenium ketiga sebelum Masehi, dan selama dua generasi kekacauan telah menjadi musibah langganan. Semua sungai diantaranya Sungai Kuning dan Sungai Yangtze telah meluapkan air hingga jauh dari tepiannya, merusak daratan dan kehidupan manusia, dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Air bah itu diabadikan sebagai “Banjir Besar” dalam legenda Tiongkok.

 

Sampai akhirnya ketika penerus Yao menunjuk seorang pria bernama Yu, guna memecahkan masalah klasik itu.  Yu Agung (大禹 dà yǔ) – atau "大禹治水 Dà Yǔ Zhì Shuǐ atau Yu Agung  yang mengendalikan air" – adalah sosok yang tidak meninggalkan catatan sejarah, sehingga tidak dapat ditelusuri sebagai tokoh yang benar-benar ada. Tetapi warisan yang ditinggalkannya, yaitu sistem pengerukan, tanggul, dan pembagian air di hilir, menjadikan kisah keberhasilannya mampu memberikan kemanfaatan dan kemaslahatan hingga ribuan tahun sesudah kematiannya. Ini menyiratkan bahwa peradaban Tiongkok sesungguhnya ditopang dengan memanfaatkan kekuatan air.

 

Siapa Yu Agung? Anda tidak akan pernah mendapatkan jawaban yang pasti, meskipun namanya pertama kali disebutkan pada masa Dinasti Zhou, dan dia hidup dari tahun 2123 sampai 2025 seb. M. Catatan kehidupannya sendiri ditulis setidaknya 2.000 tahun kemudian, yaitu pada masa pemerintahan Dinasti Han. Puluhan kota di Tiongkok mengklaim sebagai tempat kelahirannya. Satu-satunya peninggalan yang mengidentifikasikan dirinya adalah "musi", sejenis cangkul tradisional dan alat kuno untuk pengendalian banjir. Sejarawan Agung dari masa Dinasti Han, Sīmǎ Qiān atau 司马迁, yakin bahwa kakek buyut Yu adalah Kaisar Kuning yang termasyhur itu.

 

Menurut beberapa penutur, ayah Yu sendiri, Gun, telah berupaya untuk mengendalikan banjir yang acapkali melanda wilayah kekaisaran itu, tetapi dia gagal total. Kaisar Shun, seorang pria yang berbudi luhur, memerintahkan Yu untuk melanjutkan proyek ayahnya. Yu bertekad untuk belajar dari kesalahan ayahnya , "Untuk mengalirkan sembilan sungai ke empat lautan, saya memperdalam saluran dan kanal, dan menghubungkannya dengan sungai," Melalui sistem kanal, Yu membagi sungai, mengurangi kekuatan arusnya yang tidak terkendali, dan menyiapkan saluran irigasi yang memungkinkan dibangunnya pemukiman permanen di tepi sungai yang subur di Tiongkok. Dia juga ditugaskan membangun infrastruktur bangunan air, areal pertanian, dan sarana transportasi sungai.

 

Beginilah kehidupan Yu selama 13 tahun berikutnya. "Dengan pakaian compang-camping dan pola makan yang buruk, dia mengabdikan diri sepenuhnya pada pekerjaannya, siang dan malam, sampai gubuk yang ditempatinya pun runtuh ke dalam parit ... . Di satu sisi dia menggunakan garis penanda, dan di sisi lain dia memanfaatkan kompas," tulis Sima Qian. "Selama 13 tahun dia bekerja keras melintasi negeri, tidak pernah kembali ke rumah dan istrinya. Dia melewati pintu depan rumahnya tanpa menyinggahinya tiga kali selama dekade itu, tetapi tidak pernah masuk, bahkan ketika putranya yang masih kecil melihat dia untuk pertama kalinya dan memanggil nama ayahnya. Dia bukan pengawas yang menyendiri, tetapi membantu anak buahnya menggali lumpur dari tanggulnya, hari demi hari, tahun demi tahun."

 

Upaya Yu membuat Sungai Kuning tidak banjir lagi akan terbukti kelak, paling tidak selama lebih dari satu milenium. Kaisar Shun sangat terkesan dengan dedikasi dan kebajikan Yu sehingga dia menyerahkan ahli waris takhtanya kepada Yu. Reputasinya sebagai penguasa yang bijaksana dan berbudi luhur, kelak dijadikan suri tauladan oleh Nabi Kong Zi. Ketokohannya dijadikan panutan bagi kaisar Han dan kaisar yang selanjutnya. Sang Guru pun berkata, “Pada diri Yu saya tidak dapat menemukan letak kesalahannya,” sembari memuji karena Yu secara teratur berkorban kepada leluhur, mengenakan pakaian kasar, dan menyantap makanan sederhana. Setelah 10 tahun memerintah dia jatuh sakit sewaktu mengadakan tur ke daerah timur, tepatnya di sebelah selatan Shaoxing modern. Kota ini sendiri memiliki kuil kuno untuk menghormati Yu Agung, yang dikunjungi oleh para kaisar di setiap dinasti, untuk memberi penghormatan kepada sang pahlawan penakluk-banjir.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/211117

 


Kamis, 04 November 2021

AIR SUCI DAN AIR BIASA

 



Tersebutlah kisah seorang umat yang biasa bersembahyang di sebuah kelenteng, merasa depresi karena penyakit asma yang dideritanya nyaris membuatnya putus asa. Jika penyakit itu sudah kumat, menarik napas saja terasa berat dan dada tersayat nyeri. Entah sudah berapa banyak dokter yang dikunjunginya, namun kerap penyakitnya kambuh kembali. Pengobatan alternatif pun sudah dijalani sesuai dengan anjuran kerabat dan sahabatnya, namun hasilnya tetap saja tidak memuaskan.

 

Satu hari kebetulan setelah selesai bersembahyang di bio atau kelenteng yang biasa dia kunjungi, dia bertemu dengan Suhu (biarawan) yang sebenarnya sudah lama tinggal di rumah ibadah tersebut. Keduanya lalu terlibat dalam pembicaraan yang serius. Lelaki itu menceritakan sekilas kehidupannya dan dia banyak mengeluhkan tentang penyakitnya, yang sudah kronis dan merongrong aktivitasnya sehari-hari. Sang Suhu mendengarkan keluh-kesahnya dengan sabar, lalu dia pergi ke altar utama, mengambil sebuah botol berisi air, dan menyerahkannya kepada lelaki umat awam itu. "Air apa yang ada di dalam botol ini, Suhu?" kata lelaki itu. "Botol ini berisi air minum yang berasal dari sumur di bio ini dan sudah cukup lama diletakkan di altar. Air di botol ini sudah diberkahi oleh Kongco." Lebih lanjut Suhu menyarankan, air itu sebaiknya diminum dua atau tiga kali sehari. Cara pemakaiannya, cukup diambil satu dua tetes dari botol itu, kemudian dicampur dengan segelas air minum di rumah.

 

Lelaki umat awam itu kemudian menuruti nasihat sang Suhu, dan dia minum air yang telah diberkati oleh Kongco tiga kali sehari, sesuai dengan anjuran yang telah disampaikan. Setelah dia minum air pemberian Suhu secara teratur, anehnya gejala penyakitnya berangsur-angsur semakin jarang kambuh, dan dia merasakan tubuhnya semakin nyaman. Lewat beberapa minggu air di dalam botol itu semakin berkurang, dan dia pun kembali ke bio, menemui Suhu dan meminta air kembali. Demikianlah sampai dia menghabiskan tiga botol air dari Kongco, dan setelah itu tidak pernah terdengar dia mengeluhkan penyakitnya itu lagi.

 

Anda para pembaca pasti memiliki komentar masing-masing saat mendengar cerita di atas. Sebagian percaya bahwa memang air yang diberikan Suhu itu memiliki khasiat atau mukjizat yang bisa menyembuhkan penyakit. Sebagian lagi menganggap cerita yang dipaparkan di atas cuma sekedar omong kosong atau bullshit, atau skeptis bahwa kisah itu benar-benar terjadi. Jika memang air itu sungguh-sungguh berkhasiat muncul lagi spekulasi, apa yang membuatnya menjadi obat yang mujarab, antara lain: (1) air sumur yang berasal dari lahan kelenteng itu bisa menyembuhkan penyakit, (2) air itu berkhasiat karena diletakkan di altar utama dan langsung mendapat berkah dari Kongco, (3) air itu manjur dalam menyembuhkan penyakit, karena senantiasa disembahyangi oleh Suhu dan atau didoakan oleh umat kelenteng.

 

Kita tidak akan berdebat atau menebak mana diantara kemungkinan di atas yang paling mendekati kebenaran. Kita hendak menyelidiki seberapa kuat pikiran manusia yang jika diarahkan, akan mampu mengubah kualitas air. Penulis mau mengajak Anda sekalian untuk melakukan sendiri eksperimen yang sederhana, mudah, dan murah berikut ini.

 

Untuk melakukan sendiri eksperimen ini Anda cukup menyediakan tiga kemasan air mineral yang bisa dibeli dengan mudah di toko seperti Indomaret atau Alfamart. Agar mudah ditangani dan dipindahkan pilihlah kemasan galon-mini yang berisi lima liter air. Jika sulit mendapatkan kemasan galon-mini, Anda bisa menukarnya dengan sembilan buah kemasan botol plastik berkapasitas @ satu-setengah liter. Tiga buah kemasan galon-mini atau sembilan botol itu harus dari merek yang sama dan tanggal produksinya juga sama. Dengan demikian ketiga paket kemasan air mineral itu identik karena masuk dalam batch produksi yang sama. Selanjutnya untuk memudahkan identifikasi, kemasan wadah itu diberi tempelan stiker-berwarna, masing-masing warna hijau, merah, dan kuning (jika memakai botol 1,5 liter ada tiga yang hijau, tiga yang merah, dan seterusnya). Kemudian letakanlah tiga paket air kemasan itu di kamar atau ruangan tertutup yang berbeda-beda. Misalnya satu di kamar tidur, satu di ruang tamu, dan satu lagi di dapur.

 

Begitu dipilih penempatannya, masing-masing paket kemasan air mineral ini harus berada di tempat semula, tidak boleh dipindah-pindahkan hingga eksperimen kita berakhir. Mudah bukan? Kemudian kita akan melakukan ritual, yang merupakan bagian paling penting dari percobaan ini. Pada paket kemasan air warna hijau kita akan menyampaikan kata-kata positif, sedangkan pada paket kemasan air warna merah kita akan mengekspresikan kata-kata negatif. Dalam melakukannya Anda boleh membisikkan kata-kata itu ke dekat galon atau botol tersebut, bisa juga mengatakannya dengan suara lantang, atau jika perlu sedikit berteriak. Lakukanlah narasi kata-kata itu paling tidak tiga kali sehari. Tapi jangan sampai keliru! Hanya kata-kata positif untuk si hijau dan kata-kata negatif untuk si merah.

 

Apa itu kata positif dan mana kata negatif? Contoh rangkaian kata positif: "Wahai Air! Bagaimana kabarmu hari ini? Rupamu bening, bersih, dan cerah! Kamu membuat hatiku gembira! Parasmu elok dan jiwamu murni! Aku cinta kamu! Memandangmu hatiku pun damai! Terima kasih Air!" Berikut ini contoh untaian kata negatif: "Dasar Air sialan! Kamu bodoh! Engkau membuatku jijik! Kamu memuakkan! Engkau jahat! Enyahlah dari hadapanku! Gara-gara kamu aku jadi susah! Cepat minggat!" Tentu ada diantara Anda yang bertanya, apa yang harus kita lakukan pada paket kemasan air dengan stiker kuning? Paket kemasan yang ketiga ini tidak diapa-apakan. Kata anak sekarang: dicuekin. Jadi Anda biarkan saja di tempatnya. Anggaplah dia tidak ada.

 

Demikianlah Anda lakukan ritual pengucapan rangkaian kata positif dan negatif pada paket kemasan air berstiker hijau dan merah secara teratur setiap hari selama satu bulan. Sekarang sudah genap tiga-puluh hari sejak kita memulai eksperimen itu. Kita akan melihat hasilnya. Pertama kita buka dulu paket kemasan air dengan stiker kuning. Setelah dicicipi ternyata rasa airnya tidak enak dan baunya sedikit apek. Ternyata tidak adanya perhatian membuat kualitas air menjadi menurun atau membuatnya basi. Kemudian kita buka segel tutup wadah untuk kemasan merah. Setelah dicoba dan dirasakan, mutu airnya tidak berbeda jauh dengan yang pertama. Sekali lagi, rasanya sedikit payau dan baunya tidak enak. Terakhir kita buka paket kemasan air yang berwarna hijau. Hasilnya? Ternyata aroma airnya segar, mirip seperti kita meminum air-pegunungan, dan rasa airnya juga enak. Kayak ada manis-manisnya.

 

Mungkin ada diantara Anda yang mencibir bahwa percobaan di atas terlalu mengada-ada, dan tidak mungkin sejumlah massa air bisa berubah rasa dan aromanya setelah dibisikkan, didoakan, atau disumpahi dengan kata-kata tertentu. Masaru Emoto, seorang ilmuwan Jepang, pernah melakukan sejumlah percobaan terhadap air. Emoto melakukan eksperimen yang mirip dengan contoh kita di atas, tetapi dia melangkah lebih jauh. Tetesan air dari botol-botol ini kemudian ditempatkan pada satu irisan-bidang dan dibekukan untuk membentuk kepingan es seperti kepingan salju. Temuannya sangat mencengangkan. Kristal yang terbentuk dari air dengan kata-kata positif ternyata lebih geometris dan estetis, sedangkan kristal yang berasal dari air dengan pesan negatif memiliki bentuk kacau dan tidak seragam.

 

Siapa itu Emoto? Masaru Emoto (22-Jul-1943 - 17-Okt-2014) pada tahun 2008 menerbitkan temuannya di Journal of Scientific Exploration, setelah melakukan penelitian intensif terhadap struktur molekul air selama bertahun-tahun. Lebih dari dua ribu foto kristal air terdapat di dalam buku yang dikarangnya: Message from water (Pesan dari Air). Emoto mengatakan bahwa air adalah "cetak biru terhadap realitas kita" dan bahwa "energi" dan "getaran" yang emosional dapat mengubah struktur fisiknya. Eksperimen kristal airnya dilakukan dengan menempatkan air di dalam gelas, kemudian dia memaparkan kata, gambar, atau musik. Selanjutnya dia membekukan sampel air tersebut, dan memeriksa sifat estetika kristal es dengan bantuan fotografi mikroskopis. Dia mengklaim bahwa air yang terkena ucapan dan pikiran positif menciptakan kristal es yang "menyenangkan" secara visual, serta niat dan tindakan negatif menghasilkan formasi es yang "jelek".

 

Dalam bukunya yang lain, The Hidden Message in Water, Prof. Masaru Emoto pernah mencoba segelas air diperdengarkan dengan musik yang keras dan sedih (Heavy Metal dan "Farewell Song" dari Chopin), dan hasilnya molekul air sama sekali tidak membentuk kristal. Selanjutnya segelas air yang lain dari sumber yang sama diperdengarkan musik yang lembut dan indah karya Beethoven dan Mozart, dan ternyata molekul air membentuk kristal yang cantik. Kesimpulannya, partikel kristal air terlihat menjadi “indah” dan “mengagumkan” apabila mendapat reaksi positif di sekitarnya, misalnya diliputi oleh kegembiraan dan kebahagiaan. Namun partikel kristal air terlihat menjadi “buruk” dan “tidak sedap dipandang mata” apabila mendapat efek negatif disekitarnya, seperti dipaparkan dengan kesedihan dan bencana. Dalam bukunya, Prof. Emoto juga menegaskan ada kemungkinan seseorang dapat sembuh setelah meminum air yang sudah didoakan, karena air itu membawa pesan dari orang yang mendoakannya.

 

Kita kembali kepada air yang manjur, berkhasiat, mujarab, bertuah, atau apa pun sebutannya. Air itu dinamakan air suci, yang berbeda dengan air kebanyakan. Air suci membawa manfaat, kegunaan, dan kemaslahatan bagi mereka yang yakin dan percaya. Bagi mereka tidaklah penting alasan atau penyebab yang membuat air itu menjadi air suci. Umat berbagai agama juga yakin dan percaya air yang diambil dari situs yang sakral layak dikategorikan sebagai air suci. Umat Islam percaya air Zamzam yang diambil dari sumur di kawasan Masjidil Haram dianggap sebagai air suci. Banyak peziarah yang melaksanakan ibadah Haji dan Umrah membawa pulang air Zamzam sebagai oleh-oleh. Air Lourdes dipercaya merupakan air suci bagi umat Katolik. Air ini berasal dari mata air di pegunungan Pyrenees, Perancis Selatan. Setiap tahun dari Maret hingga Oktober banyak peziarah datang ke sini, untuk mendapatkan berkah dan penyembuhan. Air suci bukan hanya berkhasiat untuk penyembuhan penyakit, tetapi juga manjur sebagai pelepas dahaga, memberikan berkah bagi mereka yang menyimpannya, mampu menangkal pengaruh buruk, bahkan dapat membersihkan dosa bagi yang menggunakannya.

 

Umat Buddha sendiri memiliki situs sakral sendiri yang kerap dikunjungi dan diambil airnya untuk kepentingan upacara agung. Lokasi itu adalah Umbul Jumprit, satu kawasan mata air di lereng Gunung Sindoro di sebelah barat Kota Temanggung. Sejak zaman Majapahit Umbul Jumprit telah menjadi tempat pertapaan bagi para penganut Shiwa-Buddha. Sejak tahun 1987 mata air tersebut dijadikan tempat mengambil air suci untuk ritual perayaan Waisak Nasional di Candi Borobudur.

 

Berbincang-bincang tentang air suci, sebuah vihara kuno yang dinamakan Wat Toom, terkenal dengan rupang Buddha kuno, yang oleh masyarakat diklaim sebagai sumber air suci yang misterius. Wat yang terletak di Ayutthaya Thailand ini telah lama termasyhur di kalangan penduduk, yang datang untuk melakukan pujabakti di hadapan rupang Luang Phor Thong Suk Samrit, sebuah patung Buddha dari perunggu dengan mudra bhumisparsha (bumi menjadi saksi). Bagian yang istimewa dari patung Buddha ini terletak pada bagian atas kepalanya, yang dapat dibuka dan terdapat rongga di dalamnya yang mengeluarkan air setiap saat. Menurut Wichai Sanguanpath, seorang petugas vihara, air tersebut merembes 'seolah-olah itu adalah keringat'. "Airnya tidak pernah mengering," kata Wichai. Pada hari uposatha setiap bulannya, serta hari-hari penting lainnya dalam kalender Buddhis, dilakukan pujabakti untuk membuka bagian atas kepala rupang Buddha, dan air yang sudah terkumpul di dalamnya diambil. Air suci tersebut kemudian dicampur dengan air bersih dalam sebuah wadah besar serta dibagikan kepada para pengunjung dan umat setempat. Banyak orang mengambil air suci tersebut dalam wadah yang telah mereka persiapkan untuk dibawa pulang. Masyarakat setempat percaya bahwa air suci dari patung Luang Phor Thong Suk dapat menyembuhkan penyakit dan membawa keberuntungan (Bangkok Post, Senin 1-Apr-2019).

Dalam pujabakti yang dilakukan di vihara dan dipimpin oleh rahib Buddhis, umumnya seksi acara telah menyiapkan air upacara yang ditempatkan pada sebuah patha atau mangkuk-bhikkhu. Selama upacara patha berisi air itu diletakkan di altar, dan sepanjang acara pujabakti air itu telah menerima getaran-getaran positif lewat pemanjatan paritta suci. Pada penghujung upacara, Bhante atau Ayya akan membawa patha itu berkeliling hingga mencapai barisan umat yang duduk di baris belakang. Dengan bantuan sebuah sapu kecil sejumput air diambil, lalu seluruh umat yang hadir dikepret secara bergiliran dengan air suci itu. Percikan air membasahi wajah dan pakaian penulis, tapi hati ini senang karena sudah lengkap mengikuti pujabakti dan menerima air suci yang penuh berkah.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/211103

 


Kamis, 07 Oktober 2021

PAṬĀCĀRĀ



Kisah ini terjadi ketika Buddha kita masih hidup. Kosala adalah salah satu dari enam-belas negeri di Jambudvipa, tepatnya di dataran Indo-Gangga yakni zona utara anak benua India. Rajanya Pasenadi (atau Prasenajit) merupakan sosok penguasa yang disegani, dan ia memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Pusat pemerintahan Kosala terletak di Sāvatthī (atau Shravasti). Sāvatthī adalah satu kota besar, yang sekarang terletak di timur laut Negara Bagian Uttar Pradesh. Sebagian kotanya terletak di bantaran Sungai Aciravatī (sekarang Sungai Rapti). Sāvatthī memiliki lokasi yang strategis dan mudah dicapai dari kota-kota besar lainnya, karena berada di persimpangan jalan raya menuju timur, selatan, dan barat. Dari Rājagaha di timur jalan ini tembus ke Sāvatthī dengan persinggahan di Vesalī, sedangkan menuju ke selatan kita akan sampai di Sāketa dan terus hingga ke Kosambī. Kosala sendiri adalah negeri yang makmur dengan bijih-bijihan dan hasil pertanian yang melimpah, juga menjadi sentra pengrajin yang menghasilkan barang-barang yang bermutu. Menurut Buddhghosa, komentator yang menyusun risalah Tipiṭaka, Sāvatthī dihuni oleh 57 ribu keluarga pada masa itu.

 

Pada masa itu di Sāvatthī hiduplah seorang saudagar yang sangat kaya. Ia memiliki seorang puteri dan seorang putera. Puterinya sangat cantik dan rupawan dan diberi nama Paṭācārā. Jika Anda terlahir sebagai seorang anak perempuan di masa itu, tidak banyak pilihan yang dapat dilakukan, walaupun Anda dilahirkan dalam satu keluarga kaya dan terpandang. Dalam tatanan masyarakat yang mendambakan dan mengagungkan kelahiran bayi laki-laki, kelahiran bayi perempuan dianggap sebagai ketidakberuntungan bagi ayah dan ibunya. Anak laki-laki setelah cukup umurnya, yakni setelah ia berusia lima hingga delapan tahun, wajib mengikuti brahmacharya ashrama atau pendidikan intensif di tempat seorang guru. Sebaliknya anak perempuan hanya diasuh oleh ibunya atau kerabat wanitanya di dekat tempat tinggalnya, agar kelak mereka terampil mengurus rumah tangganya.

 

Setelah Paṭācārā berusia enam belas tahun atau setelah akil balig, orang tuanya mengurungnya di lantai atas sebuah rumah besar, tempat dia dikelilingi oleh para penjaga guna mencegahnya berhubungan dengan laki-laki. Ayah adalah sosok yang dominan dalam menentukan nasib puterinya. Ia akan mencari dan memilihkan seorang pemuda dari kasta dan keluarga terpandang, yang memiliki latar belakang yang sepadan dengan kedudukannya. Ia juga berhak menentukan besarnya mas kawin yang akan diminta dari keluarga calon menantunya. Sikap otoriter orang tua dalam menentukan jodoh puterinya tentu tidak hanya terjadi di India Kuno. Anda para pembaca tentu masih ingat novel Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli dengan tokohnya Siti Nurbaya, yang ditulis kira-kira seratus tahun yang lalu.

 

Paṭācārā boleh dipingit untuk menghindari bertemu lelaki yang tidak direstui orang tuanya, Paṭācārā boleh dikurung dalam istana keluarganya, tetapi segala pembatasan itu tidak menghalangi dirinya bertemu dengan sang pujaan hatinya. Secara diam-diam sang gadis terlibat dalam percintaan dengan seorang pembantu di rumah orang tuanya. Tibalah saatnya hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan dia dengan seorang pria muda dengan status sosial yang sama. Paṭācārā menjadi panik dan ia memutuskan untuk segera bertindak.

 

Dia tidak ingin berpisah dengan kekasihnya, apalagi menikah dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Setelah berunding dengan kekasihnya, Paṭācārā memutuskan untuk kawin lari. Keduanya berencana pada hari yang ditentukan, mereka akan bertemu di sebuah pasar yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Paṭācārā berteman akrab dengan seorang inang pengasuhnya, yang kebetulan memiliki postur tubuh yang hampir sama dengannya. Ia sudah terbiasa bersenda gurau dengan pengasuhnya dan Paṭācārā bebas memasuki kamar tidurnya. Paṭācārā diam-diam mengambil sepotong sari, gaun-luar yang umum dipakai oleh wanita India, milik pengasuhnya dan menyimpannya. Ia pun segera bersiap-siap. Malam sebelum kepergiannya dikeluarkannya seluruh perhiasan pemberian kedua orang tuanya – gelang, kalung, anting-anting, cincin, uang emas dan perak – lalu semuanya dibungkusnya dengan hati-hati dan diikatkan ke bagian dalam tubuhnya. Setelah itu ia bersolek seadanya dengan meniru gaya berdandan pengasuhnya. Dikenakannya sari curian itu dan tidak lupa ia menata bantal dan selimut di pembaringannya, agar tampak seolah-olah ia sedang tidur. Kemudian di pagi buta itu Paṭācārā menyelinap ke luar dengan menyamar sebagai gadis pelayan. Beberapa penjaga laki-laki yang masih mengantuk membiarkan saja, yang membuat dia minggat dengan mudah dari rumah yang mereka jaga.

 

Keesokan paginya para pelayan dan inang pengasuhnya terheran-heran, majikan mereka tidur dengan pulasnya dan tidak bangun-bangun. Hingga lewat waktu makan siang dia masih terlelap. Dua atau tiga orang dari mereka memberanikan diri untuk menghampiri dan membangunkannya. Namun alangkah terkejutnya mereka mendapati tuan puteri sudah lenyap dari sana. Dalam sekejap terjadi kegemparan, dan semua penghuni rumah sibuk mencari majikan mereka yang telah raib entah kemana. Sang Saudagar baru dilaporkan perihal kehilangan puterinya sore harinya, dan selidik punya selidik salah seorang pelayan laki-laki di rumah itu pun ikut lenyap. Sang Saudagar pun murka atas ketidakbecusan para pembantunya dan pengkhianatan salah seorang pegawainya. Esoknya dan beberapa hari kemudian dengan dibantu para punggawa istana, mereka semua sibuk mencari Paṭācārā ke seantero kotaraja, namun gadis muda dan pembantu lelakinya tetap hilang bak ditelan bumi.

 

Kita kembali kepada Paṭācārā. Setelah bertemu dengan kekasihnya di sebuah pasar di Sāvatthī, mereka mencari tumpangan karavan milik pedagang besar yang berniaga lintas-negara. Segera setelah mereka naik wahana tersebut, kereta pun berangkat dan tidak berapa lama mereka telah melewati gerbang penjagaan kotaraja. Mereka baru turun dari kereta setelah mencapai sebuah dusun yang letaknya jauh dari Sāvatthī. Paṭācārā terhenyak kelelahan dan masih merasakan ketegangan atas pelarian dirinya. Pupus sudah impian seorang gadis cilik, yang dulu mengharapkan untuk menjadi ratu-sehari dengan pasangan tercinta, disertai pesta pora meriah yang dihadiri oleh khalayak ramai. Sebaliknya ia sekarang hanya bisa menikah dengan mengucap ikrar setia sehidup-semati di hadapan dewata, disaksikan bumi yang luas dan di bawah hamparan langit. Dengan menjual sebagian perhiasannya, pasangan muda itu pun membangun gubuk seadanya dan menyewa sebidang tanah garapan di dusun itu. Sang suami sehari-hari bercocok tanam di ladangnya, sedangkan isterinya bekerja keras melakukan semua pekerjaan kasar, sesuatu yang sebelumnya dilakukan oleh para pelayan orang tuanya.

 

Waktu pun berjalan dengan cepatnya, sampai satu waktu Paṭācārā mengandung anak pertamanya. Sesuai dengan norma yang berlaku di India Kuno, walaupun seorang isteri sudah bermukim di rumah suaminya sejak mereka berumah tangga, tetapi ia biasanya pulang ke rumah orang tuanya ketika akan melakukan persalinan. Paṭācārā memohon kepada suaminya: "Wahai kakanda, anak kita akan segera lahir. Inilah saatnya kita pulang ke rumah orang tuaku." Mendengar permintaan itu sang suami menolaknya mentah-mentah, karena dia khawatir akan dianiaya atau dibunuh oleh mertuanya. Paṭācārā melanjutkan: "Sebuas-buasnya harimau, tidak akan dia memangsa anak atau keturunannya sendiri. Mereka pasti akan memaafkan kita, dan keduanya akan menerima saat cucunya lahir."  Paṭācārā ngotot ingin pulang sementara suaminya bersikeras tidak akan pergi. Karena tidak diizinkan, keesokan harinya Paṭācārā memutuskan untuk pergi sendirian, ketika suaminya sedang bekerja. Suaminya pun menyusul setelah ia mendengar kepergian isterinya dari tetangga mereka. Di tengah perjalanan keduanya bertemu. Sebelum mereka bisa mencapai Sāvatthī, rasa sakit persalinan dimulai dan Paṭācārā melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat. Karena dia tidak punya alasan lagi untuk pergi ke rumah orang tuanya, mereka pun berbalik.

 

Beberapa waktu kemudian Paṭācārā hamil untuk kedua kalinya, dan kejadian serupa berulang kembali, tetapi kali ini dia pergi dengan menggendong anaknya. Ketika suaminya berhasil kembali menyusulnya, dia kembali menolak untuk menurutinya. Saat itu mereka telah menempuh setengah perjalanan ke Sāvatthī. Sungguh di luar dugaan sekonyong-konyong muncul badai yang menakutkan di luar musim, disertai guntur dan kilat yang menyambar-nyambar dan hujan yang turun tak henti-hentinya. Saat itu pun Paṭācārā merasakan kelahiran anak keduanya sudah semakin dekat. Dia meminta suaminya untuk mencarikan tempat berteduh. Sang suami pergi mencari kayu dan dedaunan untuk membangun naungan sementara. Sewaktu dia menebang pohon, beberapa anakan ular berbisa yang bersembunyi di sarang semut, ke luar dan memagutnya. Racunnya seperti lava cair dan sang suami naas itu tewas seketika. Paṭācārā sangat mengharapkan bantuan tetapi harapannya sia-sia belaka. Kemudian dia melahirkan anak laki-laki keduanya. Sepanjang malam kedua anak itu ketakutan oleh dahsyatnya badai, menangis sekuat-kuatnya, tapi satu-satunya perlindungan yang bisa ditawarkan ibu mereka hanyalah berlindung di balik tubuhnya.

 

Keesokan paginya Paṭācārā menyangga dan mengamankan bayi yang baru lahir di depan perutnya, lalu sambil menuntun si sulung, mereka melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu memutar ke jalan setapak yang mereka lalui kemarin. Ketika dia berbalik di tikungan jalan, tampak jasad suaminya telah terbujur kaku laksana sebatang papan. Seketika dia dan anak sulungnya menangis meraung-raung memeluk orang yang sudah tidak bernyawa itu. Paṭācārā terisak-isak dan dengan terbata-bata berbisik, "semua ini salahku sendiri." Dengan susah payah keduanya menggali sebuah lubang, menyeret jenazah orang yang mereka cintai, dan menutupinya dengan tanah dan ranting-ranting.

 

Selang beberapa waktu ketiganya tiba di tepi Sungai Aciravatī. Hujan lebat semalaman menjadikan aliran air menderu dengan buasnya setinggi pinggang. Merasa terlalu lemah untuk menyeberang dengan kedua anak, Paṭācārā meninggalkan si sulung di bantaran sungai serta membawa bayinya ke seberang dan meletakkannya di tanah kering Kemudian dia berbalik untuk membawa anak satunya lagi. Saat dia berada di tengah sungai, seekor burung nasar yang sedang mencari mangsa melihat bayi yang masih merah tergeletak begitu saja. Mengira itu sebongkah daging, burung jahanam itu segera menukik, mencengkeram dengan cakarnya yang kuat, lalu membawa terbang mangsanya. Paṭācārā hanya bisa menyaksikan kejadian memilukan itu tanpa daya dan ia pun berteriak-teriak. Si sulung yang melihat ibunya berhenti di tengah sungai mendengar jeritannya, berpikir sang ibu memanggilnya. Ia pun segera melangkah ke dalam air, namun sungai yang sedang bergolak menelan tubuh mungilnya tanpa ampun. Menyaksikan anaknya ditelan arus air tanpa dia mampu berbuat sesuatu, Paṭācārā meraung-raung seperti orang gila.


Paṭācārā meratap, mengenang sikap keras kepalanya, menyesali kebodohannya;

Suami, bayi, dan sang putera tewas susul-menyusul.

Apa daya, bajak telah terdorong ke bencah,

Dan nasi pun sudah menjadi bubur.

 

Ya, Paṭācārā menjelma menjadi wanita setengah gila. Sepanjang jalan dia meracau, menyebut, dan memanggil nama suami dan puteranya, serta menjerit-jerit saat teringat nasib bayinya yang malang. Langkah kaki perempuan itu akhirnya menuntunnya mendekati rumah orang tuanya. Seorang lelaki setengah baya masih mengenali sang gadis muda, yang beberapa tahun silam menghilang secara tiba-tiba dari Sāvatthī. Ditatapnya wanita muda yang lusuh dan berpakaian compang-camping itu, lalu dengan ragu-ragu ia menyapa, "wahai nyonya. Benarkah engkau Paṭācārā?" Yang ditanya menjawab, "benar, Paman. Aku hendak pulang ke rumah orang tuaku. Bisakah engkau menunjukkan jalan ke sana?" Lelaki itu hanya diam dan enggan menanggapi permintaan itu. Paṭācārā menjadi tidak sabar dan mendesak terus, "apa yang terjadi dengan mereka, Paman. Katakanlah." Setelah beberapa saat, lelaki itu berkata: "Malam sebelumnya, setelah amukan badai yang mengerikan, rumah mereka runtuh, lalu kedapatan suami-isteri dan puteranya telah meninggal dunia. Baru saja kami mengkremasikan jasad ketiganya. Engkau bisa melihatnya pada tumpukan kayu bakar yang masih menyala di sana."

 

Tak perlu disuruh lagi, Paṭācārā berlari menuju tempat pembakaran mayat. Di sana dia menangis sejadi-jadinya dan meratap: "Wahai Dewata nan Agung. Sampai hati Dikau membiarkan hambamu merana. Suami dan kedua anakku telah direnggut dari hidupku, serta kini ayah, ibu, dan saudaraku juga sudah tiada. Perbuatan keji dan jahat macam apa yang telah aku lakukan di kehidupanku yang lalu?"

 

Tidak kuat menahan kesengsaraan itu lebih lama, Paṭācārā menjadi gila. Dia mengembara ke mana pun kakinya melangkah, dengan tidak lagi memperhatikan penampilannya. Dia hampir telanjang! Mereka yang menaruh rasa kasihan memberinya makan-minum, tetapi masih ada pula yang tidak punya nurani, yang mana mereka mengata-ngatai dan melemparinya dengan tanah dan batu. Pada satu pagi sampailah Paṭācārā ke Taman Jeta, sebuah kebun luas dan permai, tempat bermukimnya ribuan rahib Buddhis. Beberapa jemaat mengenalinya dan berteriak, "jangan biarkan perempuan gila itu menemui Guru." Tetapi Sang Buddha Mahatahu berkata, "biarkan anakku datang kepadaku."

 

Seorang lelaki setengah baya memberikan jubahnya kepada Paṭācārā sambil berpesan, "kenakanlah gaun ini, saudari." Paṭācārā bersimpuh di hadapan Sang Guru dan dia menceritakan kisahnya yang tragis itu. Sang Buddha bersabda: "Wahai Paṭācārā. Bukan sekali ini saja engkau kehilangan mereka semua. Dalam pengelanaanmu mengarungi samudera kehidupan dan kematian, entah sudah berapa banyak engkau kehilangan suami, anak, ayah, ibu, dan saudara. Selama itu pula engkau berduka dan meneteskan air mata. Jika air matamu bisa ditampung dalam satu bejana besar, maka banyaknya air matamu akan jauh melebihi air di empat samudera besar. Paṭācārā, sadarlah." Ajaib! Kata-kata itu sanggup membuat Paṭācārā eling. Pikirannya terbuka dan dia pun segera mendapatkan mata-dharma.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/211006


Kamis, 23 September 2021

KEHIDUPAN ZAMAN DAHULU DAN SEKARANG


 
Terkadang kita suka membandingkan kehidupan kita sekarang dengan kehidupan kita pada masa silam. Ternyata waktu telah berlari sedemikian kencangnya, pun perubahan berlangsung sebegitu cepatnya. Jika kita meneropong kembali ke keadaan masa lalu, bukanlah maksudnya kita ingin kembali ke zaman yang telah berlalu, tetapi kita membandingkannya untuk merenungkan sisi baik dan buruknya. Apa yang baik kita pertahankan dan mana yang buruk kita buang jauh-jauh.
 
Penulis berasal dari generasi baby boomers atau diindonesiakan sebagai generasi "ledakan kelahiran", yakni mereka yang lahir setelah Perang Dunia kedua, atau diantara tahun 1946 hingga 1964. Penulis dibesarkan dalam keluarga kelas menengah di sebuah kota kecil. Penggambaran dalam tulisan ini menceritakan apa saja yang telah berubah dalam rentang lima puluh tahun terakhir ini.
 
Penulis ingin memulainya dengan menceritakan latar belakang keluarga. Kami bersaudara lima orang, jadi mirip dengan yang terjadi pada banyak keluarga pada masa itu. Bukan hal yang aneh jika ada cukup banyak keluarga yang memiliki lebih dari lima orang anak. Demikian pula yang terjadi dengan generasi ayah dan ibu kami, yang membuat kami memiliki saudara sepupu yang cukup banyak. Dengan bersaudara lima orang dan memiliki beda usia hingga belasan tahun, anak sulung bisa turut membantu orang tuanya membesarkan si bungsu. Sekarang kita lihat berapa jumlah anak yang dimiliki oleh para baby boomers. Mereka umumnya hanya memiliki satu atau dua orang anak, dan paling banyak tiga orang saja.
 
Mengapa para baby boomers enggan memiliki banyak anak? Generasi penulis tidak sama dengan generasi sebelumnya. Kami tidak ingin punya banyak anak karena membesarkan anak memerlukan biaya yang cukup besar. Memberi mereka makan mungkin kami mampu, tetapi perlu perjuangan untuk membekalkan mereka pendidikan yang baik. Ini alasan yang cukup mengherankan. Generasi terdahulu memiliki banyak anak dan mereka optimistis masa depan anak-anak mereka akan baik-baik saja, tetapi generasi kami tidak seperti itu. Ini adalah paradoks zaman kita. Dahulu hanya ayah kami yang bekerja dengan ibu yang banyak diam di rumah dan mengurus rumah tangga, tetapi keduanya mampu membesarkan banyak anak. Sekarang kami suami-isteri membanting tulang sepanjang hari, tetapi membesarkan dua orang anak saja sudah setengah mati.
 
Pada pasangan baby boomers yang kedua-duanya bekerja di luar rumah, waktu kebersamaan dengan anak-anak mereka terbatas. Ayah dan ibu sering harus berangkat pagi-pagi ke tempat kerja dan baru kembali setelah malam tiba. Bukan hal yang ganjil anak-anak baru bertemu dengan kedua orangtuanya pada akhir pekan. Generasi kami selalu disambut ibu sewaktu kami pulang sekolah dan kami bersantap siang bersama-sama. Di malam hari seluruh anggota keluarga beserta ayah menikmati makan malam bersama. Jadi hubungan kekeluargaan lebih guyub di masa silam dibandingkan dengan yang terjadi pada generasi sekarang.
 
Walaupun banyak waktu yang kami curahkan guna menuntut ilmu, pada masa itu pun kami mesti membantu orang tua menyelesaikan pekerjaan di rumah. Turut membersihkan rumah, menyediakan air mandi, menyapu halaman, membantu pekerjaan di dapur, dan banyak lagi, Pada masa itu tidak semua keluarga mampu membeli perlengkapan modern seperti lemari es, kompor gas, mesin cuci, pompa air, setrika-listrik, televisi, dan barang elektronik lainnya. Jika kita membandingkannya dengan keadaan sekarang, barang-barang yang disebutkan di atas relatif masih terjangkau oleh banyak keluarga dan ketersediaannya di pasar cukup banyak.
 
Dengan adanya piranti modern pekerjaan di rumah maupun di tempat kerja bisa dilakukan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih bagus kualitasnya. Kita bisa memanfaatkan kelebihan waktunya untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih produktif. Waktu senggang pun menjadi lebih lama dan hidup kita semakin dipermudah. Tetapi apakah kehidupan modern menjanjikan segalanya menjadi lebih nyaman? Karena semua kebutuhan manusia ditopang oleh ekonomi produksi yang memaksimalkan keuntungan, orang cenderung mengeksploitasi sumber daya alam habis-habisan demi mengejar kenyamanan hidup. Sebagai contohnya, kira-kira lima puluh tahun yang lalu masyarakat menggunakan bahan kemasan berupa daun pisang, kertas, atau karton untuk membungkus barang. Jika hendak membeli makanan-jadi, mereka telah menyiapkan dari rumah wadah yang berbentuk rantang-bersusun. Lama kelamaan aneka kemasan berbahan plastik menggantikan kemasan tradisional, yang penggunaannya makin masif dari hari ke hari. Dewasa ini semua negara kewalahan menangani limbah kemasan plastik, yang tidak terkendali, bahkan hingga mengotori palung samudera. Ternyata melulu mengejar kepraktisan, justru menciptakan masalah baru yang serius.
 
Salah satu ciri modernitas adalah mobilitas manusia dan barang meningkat secara drastis. Dekade 60-an ketika penulis masih duduk di bangku sekolah dasar, kami pulang-pergi ke sekolah cukup berjalan kaki. Ada beberapa rekan yang rumahnya cukup jauh memanfaatkan sepeda ke sekolah, dan hanya segelintir yang diantar-jemput dengan kendaraan bermotor. Sekarang di Jakarta siswa-siswa sekolah dasar dan menengah terutama di sekolah favorit, para muridnya di diantar-jemput dengan mobil, sehingga membuat keruwetan dan kemacetan lalu lintas pada saat masuk dan pulang sekolah. Pemanjaan ini justru membuat para siswa kurang bergerak jika dibandingkan dengan orang dari generasi sebelumnya; serta masyarakat perkotaan cenderung malas berjalan kaki, sehingga mencetuskan problem kesehatan. Di sisi lain banyak kemajuan terjadi terutama pada dua puluh tahun terakhir ini berkaitan dengan mobilitas orang. Sekarang sarana transportasi jauh lebih baik dibandingkan masa lalu, dan bepergian dengan pesawat ke mancanegara pun lebih terjangkau untuk sebagian masyarakat kita.
 
Sekarang kita melirik sebentar ke dunia pendidikan. Sewaktu penulis masih duduk di sekolah rakyat, kalau tidak salah di kelas 2 atau 3, ada mata pelajaran menulis-halus. Siswa harus menyiapkan buku tulis, tangkai dan mata-pena, serta sebotol tinta cair. Memang ini perangkat jadul yang akan ditertawakan oleh anak zaman sekarang. Mencelupkan mata-pena haruslah hati-hati agar tinta tidak beloboran, yang akan mengotori dan merusak kerja keras kita. Entahlah penulis tidak tahu, apakah siswa SD masih diajari keterampilan ini. Di sisi lain, pada saat pandemi masih berlangsung, penulis dibuat takjub melihat para siswa sekolah dasar dan menengah melakukan pembelajaran jarak jauh. Dengan hanya berbekal sebuah telepon-pintar di rumah, mereka dengan patuh mengikuti instruksi gurunya mengerjakan PR. Sungguh satu metode belajar-mengajar yang tak-terbayangkan ketika penulis masih bocah dulu. Dengan adanya internet dunia pendidikanlah yang mendapatkan manfaat terbesar. Sebagai contohnya, dengan adanya kanal youtube di jagad-maya, pelajaran keterampilan tertentu dengan mudah dipelajari oleh siapa pun di berbagai belahan dunia ini.
 
Sekarang bagaimana kondisi kesehatan masyarakat pada waktu itu? Dulu di era 50-an atau 60-an relatif hanya penyakit influenza atau penyakit infeksi yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Penyakit yang cukup sering diderita hanya sekedar masuk angin, yang cukup diobati dengan kerokan dan tubuh dibaluri minyak gosok. Penyakit yang cukup serius pada saat itu adalah mati badan sebelah (sekarang dinamakan stroke) atau terkena angin duduk (serangan jantung). Kedua penyakit yang disebutkan terakhir biasanya berakibat fatal dan penderita langsung meninggal dunia. Demikian juga jika terjadi gagal ginjal, pasien sulit ditolong karena fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Lain dengan kondisi sekarang, penderita masih bisa melakukan cuci darah secara berkala. Dewasa ini pelayanan kesehatan dan tenaga medis sudah lebih banyak dan fasilitasnya sudah modern. Lalu apakah orang sakit lebih mudah mendapatkan bantuan? Nyatanya tidak. Sekali terkena penyakit serius, biaya pengobatannya bisa mahal sekali. Beruntunglah jika pasien memiliki asuransi kesehatan. Sekarang memang ada asuransi kesehatan yang diinisiasi oleh Pemerintah, tetapi cakupan pertanggungannya belum dirasa memuaskan oleh sebagian kalangan masyarakat.
 
Membicarakan kehidupan modern tentulah tidak afdol jika tidak melihat perkembangan budaya di masyarakat kita. Dari masa kemerdekaan hingga tahun 1965 masyarakat Indonesia boleh dikatakan tertutup. Tetapi sejak masa Orde Baru kita mulai membuka diri sedikit demi sedikit. Semenjak itu pula pengaruh budaya asing mulai memasuki dan mempengaruhi kehidupan kita. Contoh yang paling kentara terjadi di dunia kuliner nasional. Sampai masa penulis memasuki sekolah menengah atas, menu makanan sehari-hari yang ditemui paling banter masakan tradisional dan daerah, chinese food, dan kuliner-belanda peninggalan zaman kolonial yang dimasak ibu di rumah. Satu hari menjelang pertengahan dekade 80-an, seorang rekan kerja mengundang penulis untuk makan siang di sebuah restoran cepat-saji yang berasal dari Amerika. Hidangan khas di sini adalah ayam goreng dimakan bersama kentang goreng dan seporsi nasi putih. Sungguh mati, baru kali itu penulis makan kentang goreng putih berbentuk balok yang dicocol dengan sambal botol dan saus tomat. Ayam gorengnya berukuran besar berbalut tepung, sangat lezat karena terasa renyah di luar dan lembut-berair di dalamnya. Selesai makan masih disediakan minuman dingin bersoda, yang membuat santap siang itu terasa nikmat dan nendang. Kemudian secara berangsur-angsur restoran cepat saji mulai membanjiri area niaga dan pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Bukan saja makanan yang berasal dari Amerika, tetapi ada juga yang didatangkan dari Jepang, Korea, dan negara-negara lainnya. Inilah trend yang dinamakan globalisasi, yakni proses mendunianya satu hal sehingga batas antar negara menjadi hilang. Apakah globalisasi itu baik bagi kita? Tentu ada segi baiknya dan sisi buruknya. Kita ambil hal buruknya, seperti pada hidangan ayam goreng tadi. Ternyata santapan itu memiliki kandungan karbohidrat dan lemak tinggi serta miskin serat. Jika terlalu sering dikonsumsi bisa menimbulkan kegemukan. Justru hidangan tradisional kita seperti nasi merah, sayur asem, lalapan, sambal, dan lauk tahu-tempe memiliki kandungan gizi yang seimbang. Inilah yang dinamakan kearifan lokal!
 
Selanjutnya bagaimana dengan kehidupan beragama sekarang ini dibandingkan setengah abad yang lalu? Tentu saja ini berkaitan dengan kehidupan beragama umat Buddha dan Konghucu. Dengan latar belakang keluarga minoritas Tionghoa, penulis dibesarkan dalam suasana tradisi leluhur. Hingga lulus sekolah menengah atas penulis hanya mengikuti upacara persembahyangan yang dilakukan secara berkala, tanpa memiliki pengertian tentang makna dibalik ritual keagamaan itu. Barulah setelah duduk di perguruan tinggi, penulis berkesempatan mempelajari agama Buddha lewat mata kuliah dasar umum, serta mencarinya sendiri dari buku-buku di perpustakaan. Jika boleh membandingkan perkembangan agama Buddha dan Tridharma dalam rentang waktu 45 tahun ini, keadaan sekarang sudah jauh lebih maju dibandingkan masa itu. Rumah ibadah semakin banyak dan tersebar, jumlah pemuka agama dan dharmaduta naik secara signifikan, umat yang menghadiri upacara keagamaan bertambah bahkan membludak pada hari raya keagamaan, guru agama yang memiliki pendidikan akademis di bidangnya sudah banyak walaupun tetap belum mencukupi, kelas dharma dan retret meditasi sudah diprogram dan dilaksanakan secara terstruktur, serta masih banyak lagi. Tetapi pertanyaannya, apakah kehidupan religius kita lebih baik sekarang dibandingkan setengah abad yang lalu? Dari pengalaman penulis selama ini, banyak anak muda dari kalangan kita justru acuh tak acuh terhadap aktivitas keagamaan. Semoga pandangan subyektif ini tidak sepenuhnya benar.
 
Demikianlah sedikit pemaparan mengenal perbedaan hidup sekarang dan hidup tempo dulu. Sekecil apa pun, banyak kearifan yang telah ditunjukkan oleh generasi terdahulu dan nenek moyang kita. Namun modernisasi, globalisasi, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah merambah kehidupan kita secara menyeluruh. Ini adalah satu keniscayaan. Bagi mereka yang masih menginginkan kehidupan masa silam tentu tidak bisa menjalaninya di daerah perkotaan. Mungkin mereka bisa merasakannya jika memilih untuk hidup di daerah terpencil. Bagaimana pun itu adalah mimpi segelintir orang yang masih menginginkan romantisme masa silam. Apa pun pilihan mereka kita harus mengapresiasinya,
 
 
sdjn/dharmaprimapustaka/210922
 

Jumat, 10 September 2021

KEN AROK DAN KEN DEDES


 

Mereka yang pernah belajar Sejarah Nusantara di bangku sekolah pasti mengenal riwayat Kerajaan Majapahit, yang pada masa jayanya pernah menguasai sebagian wilayah yang kelak menjadi cikal bakal Indonesia. Tetapi apakah Anda tahu bahwa raja atau ratu Majapahit memiliki leluhur dari dinasti sebelumnya? Ya benar, Dinasti Tumapel (atau Singasari) yang merupakan pendahulunya akan menurunkan penguasa Dinasti Majapahit. Agama rakyat pada masa itu adalah Sinkretisme Hindu-Buddha, dengan penekanan pada pemujaan terhadap Shiva dan banyak dipengaruhi oleh ajaran Buddha-Tantrayana.

 

Dinasti Tumapel didirikan oleh Ken Arok atau Ranggah Rajasa, mungkin juga pernah didengar oleh Anda sekalian. Riwayat hidup Ken Arok atau Ken Angrok didapat dari Serat Pararaton, satu kepustakaan berbahasa Jawa Kawi, dan diperkirakan ditulis antara tahun 1481 hingga 1600. Tidak diketahui siapa penulis Pararaton, tetapi dari sub-judul kitab ini yang bertuliskan "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok" (artinya "Kitab Raja-raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok"), penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok mendominasi naskah kuno ini. Atas jasa Jan Laurens Brandes, naskah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda pada 1897, dengan judul Pararaton (Ken Arok) Het Boek Der Koningen van Tumapel en van Madjapahit, Uitgegeven en Toegelicht.

 

Kitab Pararaton dibuka dengan menceritakan tokoh kita ini dalam satu kehidupannya yang lampau. Dikisahkan bagaimana orang ini berlaku tidak baik sampai ia bertemu dengan seorang petapa yang bernama Pu Tapawangkeng. Tokoh kita ini bertekad untuk dilahirkan-kembali menjadi orang yang terkemuka kelak. Demi mencapai cita-citanya ia rela dijadikan kurban persembahan (yadnya) sang petapa, kepada Yamadipati atau dewa penjaga pintu dunia bawah.

 

Demikianlah ketika tekad itu sudah saatnya membuahkan pahala, Batara Brahma mencari seorang perempuan muda yang subur. Di desa Pangkur ada sepasang pengantin baru, dengan yang lelaki bernama Gajah Para dan yang perempuan dipanggil Ken Endok (sebutan "Gajah", "Lembu", atau "Kebo" pada zaman itu adalah panggilan kehormatan, bahwa orang itu berasal dari strata atas atau kaum bangsawan). Batara Brahma yang tak-terlihat melakukan perkawinan dengan Ken Endok, dan berpesan pada perempuan itu bahwa anak yang akan dilahirkan kelak adalah puteranya. Segera setelah kejadian gaib itu suami isteri itu bercerai, dan Gajah Para pulang ke Campara. Belum sampai lima hari kemudian ia telah meninggal. Berkomentarlah orang banyak: "Alangkah panasnya anak yang berada di dalam kandungan itu. Belum sampai lima hari ayahnya telah meninggal dunia."

 

Setelah usia kandungannya cukup, Ken Endok melahirkan seorang bayi laki-laki yang dinamakan Ken Arok. Tidak mampu memelihara anak karena miskin, bayi yang masih merah itu dibuang oleh ibunya ke kuburan. Adalah seorang pencuri, yang bernama Lembong, yang kebetulan melewati kuburan itu. Dia melihat seberkas cahaya dan memdengar suara anak kecil menangis. maka didekatimya tempat itu, dan didapatinya bayi itu. Lalu bayi lelaki itu digendong, dibawanya pulang, dan diangkat sebagai anaknya sendiri.

 

Karena diangkat anak oleh Lembong, Ken Arok pun sejak kecil tumbuh menjadi berandalan. Sesudah tumbuh besar Ken Arok meninggalkan Lembong dan ia diangkat anak oleh Bango Samparan, seorang penjudi di Karuman, setelah sang penjudi mendapat wangsit dari para dewa. Pada saat menemukan Ken Arok, Bango Samparan sudah bangkrut karena kalah terus, tetapi nasib berubah seratus delapan puluh derajat sejak ia membawa anak angkatnya ke tempat perjudian. Sekarang seluruh harta kekayaannya telah kembali dan ia bertambah sayang kepada Ken Arok. Belakangan Ken Arok belajar baca-tulis bahasa Jawa Kuno dan juga tentang candra-sangkala di padepokan seorang pandita di Sagenggang. Tidak itu saja, Ken Arok sempat dipungut anak oleh Pu Palot, seorang pandai emas, yang menurunkan ilmunya kepada anak angkatnya.

 

Karena wataknya yang tidak baik, Ken Arok sering berseteru dengan penduduk setempat ketika ia melakukan pengembaraan. Dalam Pararaton disebutkan dua sampai tiga kali dia diselamatkan dari bahaya yang mengancam nyawanya. Seperti yang terjadi di Gunung Kryar Lejar, tempat para dewa berkumpul dan Batara Guru mengatakan bahwa Ken Arok adalah puteranya, dan dia telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan kekuasaan di Jawa.

 

Jauh di Jambudvipa atau di Tanah India ada seorang brahmana yang dipanggil Danghyang Lohgawe, yang biasa memuja Dewa Vishnu. Pada satu kesempatan dalam penerawangannya, ia mendengar bisikan: "Wahai brahmana, hentikanlah pemujaan kepada arca dewa. Aku tak ada di sini, aku menjelma jadi manusia di Tanah Jawa. Adalah anak yang bertangan panjang, lututnya besar, telapak tangan kanannya bergambar roda, yang kiri bergambar kerang, yang bernama Ken Arok. Carilah dia di tempat perjudian. Singkat cerita sampailah Sang Brahmana di Desa Taloka dan di sana pada satu tempat orang mencari peruntungan, nampak seseorang yang mirip dalam petunjuk yang diberikan oleh dewa. Lalu berkatalah Lohgawe, "agaknya engkaulah Ken Arok, seperti yang muncul dalam penerawangan saya." Ken Arok menjawab, "benar, Tuan. ananda bernama Ken Arok." Dipeluklah pemuda itu oleh Sang Brahmana. "Saya angkat engkau sebagai anakku, saya bantu dalam kesukaran, saya pelihara kemana pun engkau pergi."

 

Selanjutnya Ken Arok dan ayah angkatnya pergi dari Taloka ke Tumapel, sebuah wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Daha. Sesampainya di sana keduanya berkesempatan untuk bertemu dengan Akuwu dari Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Sang Brahmana disambut dengan baik oleh Sang Akuwu dan diminta agar ayah dan anak angkat tinggal di Tumapel, serta permintaan agar Ken Arok dapat menghamba kepada Sang Akuwu juga diterima dengan senang hati. Mulai hari itu Ken Arok menjadi pengawal Tunggul Ametung dan mengabdikan diri cukup lama.

 

Tersebutlah ada seorang pandita bernama Pu Purwa yang memeluk agama Buddha Mahayana di Desa Panawijen, dan di sebidang lahan pertanian di sana ia membangun sebuah tempat pertapaan. Sebelum menjadi pandita ia memiliki seorang puteri, dan anak gadis ini sekarang sudah dewasa bernama Ken Dedes. Anak ini sangat cantik, tidak ada yang bisa menandinginya, sehingga ia terkenal dari timur Gunung Kawi hingga ke Tumapel. Terdengarlah kabar tentang keistimewaan gadis itu, lalu Tunggul Ametung berkunjung ke Panawijen, dan sangat tertariklah sang akuwu kepadanya. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu. Namun sang akuwu tidak kuasa menahan diri, Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi. Ketika Pu Purwa pulang ia murka mendapati puterinya telah dilarikan orang dan ia pun mengutuk: "Hai orang yang melarikan anakku, semoga tidak mengenyam kenikmatan, matilah dia dibunuh dengan keris ... Sedangkan anakku yang telah mempelajari ilmu untuk menerangi dunia, harapanku semoga dia selamat dan besar kebahagiaannya."

 

Sesampainya di Tumapel, Ken Dedes langsung diperisteri oleh Tunggul Ametung. Semakin besarlah kasih sang akuwu ketika mendapati tanda-tanda isterinya telah hamil. Pada suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan Baboji. Setibanya di taman Ken Dedes turun dari kereta, kebetulan dengan perkenan dewa, kain Ken Dedes tersingkap, sehingga auratnya yang bersinar terlihat oleh Ken Arok yang sedang bertugas mengawalnya. Melihat kecantikannya yang luar biasa, jatuh cintalah Ken Arok, hingga tak tahu harus berbuat apa.

 

Sepulangnya dari sana Ken Arok menemui ayah angkatnya dan bertanya, "Bapak, adalah seorang wanita yang pusatnya mengeluarkan cahaya. Apakah itu penanda baik atau buruk?" "Anakku, jika ada wanita seperti itu, namanya Stri Nariçwari, wanita paling utama. Meskipun orang hina yang mengambil dia sebagai isterinya, maka orang itu akan jadi raja besar. Siapakah dia, anakku?" "Dia adalah isteri dari Akuwu Tumapel. Saya akan membunuhnya dengan keris, pasti matilah dia, jika Bapak mengizinkan." Ayahnya menjawab, "memang Tunggul Ametung akan mati olehmu. Tetapi saya tidak baik jika mengizinkan kehendakmu, bukan perbuatan brahmana, tetapi sekehendakmulah."

 

Gagal mendapat restu dari ayah angkatnya, Ken Arok mengunjungi ayah angkatnya yang lain Bango Samparan di Karuman, dan meminta pendapatnya. Bango Samparan berkata, "saya menyetujui jika engkau mau membunuh sang akuwu dengan keris. Tetapi, anakku, dia itu sakti, mungkin tidak akan terluka ditusuk oleh sembarang keris. Adalah seorang teman saya pandai besi di Lulumbang, bernama Pu Gandring. Keris buatannya sangat ampuh, tak ada orang yang dapat menangkalnya." Setelah mendapat nasihat itu, pergilah Ken Arok ke pandai besi itu. Setelah menemui Pu Gandring, Ken Arok berkata, "buatkanlah saya sebilah keris, hendaknya selesai dalam lima bulan, karena akan segera saya pakai." Si pandai besi menjawab, "janganlah lima bulan kalau ingin baik, sebaiknya satu tahun agar tempaannya bagus." Ken Arok berpesan, "terserah bagaimana tempaannya, asal selesai dalam lima bulan."

 

Demikianlah Ken Arok lama menunggu di Tumapel. Setelah genap lima bulan, teringatlah akan barang pesanannya, dan pergilah ia ke Lulumbang. Ternyata sesampainya di sana keris pesanannya masih ditempa oleh Pu Gandring. Marahlah Ken Arok, direbutnyalah senjata itu dari tangan si pandai besi, dan ditusukkan ke ulu hatinya. Selagi meregang nyawa Pu Gandring mengutuk bahwa Ken Arok dan anak cucunya akan mati terbunuh oleh keris itu pula. Setelah itu matilah Pu Gandring dan jelas Ken Arok sangat menyesali perbuatannya. Selanjutnya Ken Arok kembali ke Tumapel berbekal keris barunya. Tersebutlah Kebo Hidjo, pengawal kesayangan Tunggul Ametung juga sahabat baik Ken Arok, orang yang suka pamer. Melihat sahabatnya mengenakan keris baru, hatinya terpincut, dan keris itu langsung dipinjamnya dan diselipkan di pinggangnya. Kemana pun ia pergi Kebo Hidjo selalu membawa barang itu, dan orang Tumapel tahu bahwa ia memiliki keris baru. Kemudian keris itu dicuri secara diam-diam oleh Ken Arok, lalu pada satu malam dia mengendap-endap ke kamar tidur sang akuwu, ketika semua orang telah terlelap. Atas pertolongan para dewa, Ken Arok menghampiri Tunggul Ametung yang sedang tidur, lalu ditusuknya sang akuwu tepat di jantungnya oleh keris buatan Pu Gandring. Matilah seketika Tunggul Ametung dan keris itu dibiarkan pada lukanya.

 

Keesokan paginya gemparlah orang-orang Tumapel mendapatkan bahwa sang akuwu telah tewas oleh sebilah keris. Semua orang tahu bahwa keris itu kepunyaan Kebo Hidjo. Lalu Kebo Hidjo ditangkap oleh sanak keluarga dari Tunggul Ametung, dihukum mati dengan ditusuk pula oleh keris Pu Gandring. Selanjutnya dewa-dewa mengatur agar Ken Arok dapat kawin dengan Ken Dedes, dan tidak ada orang Tumapel yang berani menentangnya. Ketika mereka kawin, Ken Dedes sedang hamil anak dari Tunggul Ametung. Kelak setelah kelahirannya, anaknya diberi nama Anusapati.

 

Kitab Pararaton juga  menceritakan keberhasilan Ken Arok menggulingkan Raja Daha yakni Kertajaya pada 1222, dan memerdekakan Tumapel menjadi kerajaan besar yang baru. Ken Arok sendiri kemudian bergelar Sri Amarwabhumi. Kisah kita berlanjut kepada Anusapati, putera Tunggul Ametung. Tidak henti-hentinya ia bertanya kepada pengasuhnya dan ibunya, Ken Dedes. "Apa sebabnya ayahanda ketika melihat kepadaku, berbeda tampaknya dengan saudara-saudara yang lain, apalagi dengan putera-putera ibu muda?" Memang sudah tiba saatnya Sri Amarwabhumi mangkat. "Kalau engkau ingin tahu dan mempercayainya, ayahmu adalah Tunggul Ametung. Waktu itu ibu sedang hamil ketika Sri Amarwabhumi mengambilnya." Anusapati tercengang, "oh, jadi Sri Amarwabhumi bukan ayahku. Bagaimana ibu, cara kematian ayah?" "Sang Amarwabhumi yang membunuhnya. Terdiamlah Ken Dedes, merasa bersalah mengatakan hal yang sebenarnya kepada anaknya. Setelah anaknya merayunya, diberikanlah keris Pu Gandring kepadanya. Maka seperti yang diramalkan oleh sang pandai besi, nasib Ken Arok pun berakhir tragis di tangan putera tirinya. Selanjutnya Anusapati naik tahta meneruskan Dinasti Tumapel. Penulis tidak akan berpanjang-panjang melanjutkan kisah ini.

 

Lalu pelajaran apa yang kita dapatkan dari kisah Ken Arok dan Ken Dedes ini? Bahwasanya untuk menjadi orang besar bukanlah didapat dari untung-untungan dan nasib baik belaka. Diperlukan tekad kuat atau Adhiṭṭhāna yang dirintis dari kehidupan sebelumnya. Selanjutnya keistimewaan merupakan syarat mutlak yang didambakan masyarakat Jawa, yang harus ada dalam diri seorang pemimpin atau leluhurnya. Filsafat Jawa meyakini seorang raja atau permaisuri adalah pilihan Dewa. Pilihan itu ada dalam diri Ken Arok dan Ken Dedes. Marka dan penanda-lahir seperti gambar roda pada telapak tangan serta aurat yang bersinar, sebenarnya mengambil inspirasi marka dan tanda manusia agung seperti yang dimiliki seorang Calon Buddha dan tujuh pusakanya. Dan terakhir hukum tabur-tuai berlaku bagi si pembuat kejahatan: "Barang siapa menabur angin, dia sendiri yang akan menuai badai."

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210908