Kamis, 07 Oktober 2021

PAṬĀCĀRĀ



Kisah ini terjadi ketika Buddha kita masih hidup. Kosala adalah salah satu dari enam-belas negeri di Jambudvipa, tepatnya di dataran Indo-Gangga yakni zona utara anak benua India. Rajanya Pasenadi (atau Prasenajit) merupakan sosok penguasa yang disegani, dan ia memiliki angkatan bersenjata yang kuat. Pusat pemerintahan Kosala terletak di Sāvatthī (atau Shravasti). Sāvatthī adalah satu kota besar, yang sekarang terletak di timur laut Negara Bagian Uttar Pradesh. Sebagian kotanya terletak di bantaran Sungai Aciravatī (sekarang Sungai Rapti). Sāvatthī memiliki lokasi yang strategis dan mudah dicapai dari kota-kota besar lainnya, karena berada di persimpangan jalan raya menuju timur, selatan, dan barat. Dari Rājagaha di timur jalan ini tembus ke Sāvatthī dengan persinggahan di Vesalī, sedangkan menuju ke selatan kita akan sampai di Sāketa dan terus hingga ke Kosambī. Kosala sendiri adalah negeri yang makmur dengan bijih-bijihan dan hasil pertanian yang melimpah, juga menjadi sentra pengrajin yang menghasilkan barang-barang yang bermutu. Menurut Buddhghosa, komentator yang menyusun risalah Tipiṭaka, Sāvatthī dihuni oleh 57 ribu keluarga pada masa itu.

 

Pada masa itu di Sāvatthī hiduplah seorang saudagar yang sangat kaya. Ia memiliki seorang puteri dan seorang putera. Puterinya sangat cantik dan rupawan dan diberi nama Paṭācārā. Jika Anda terlahir sebagai seorang anak perempuan di masa itu, tidak banyak pilihan yang dapat dilakukan, walaupun Anda dilahirkan dalam satu keluarga kaya dan terpandang. Dalam tatanan masyarakat yang mendambakan dan mengagungkan kelahiran bayi laki-laki, kelahiran bayi perempuan dianggap sebagai ketidakberuntungan bagi ayah dan ibunya. Anak laki-laki setelah cukup umurnya, yakni setelah ia berusia lima hingga delapan tahun, wajib mengikuti brahmacharya ashrama atau pendidikan intensif di tempat seorang guru. Sebaliknya anak perempuan hanya diasuh oleh ibunya atau kerabat wanitanya di dekat tempat tinggalnya, agar kelak mereka terampil mengurus rumah tangganya.

 

Setelah Paṭācārā berusia enam belas tahun atau setelah akil balig, orang tuanya mengurungnya di lantai atas sebuah rumah besar, tempat dia dikelilingi oleh para penjaga guna mencegahnya berhubungan dengan laki-laki. Ayah adalah sosok yang dominan dalam menentukan nasib puterinya. Ia akan mencari dan memilihkan seorang pemuda dari kasta dan keluarga terpandang, yang memiliki latar belakang yang sepadan dengan kedudukannya. Ia juga berhak menentukan besarnya mas kawin yang akan diminta dari keluarga calon menantunya. Sikap otoriter orang tua dalam menentukan jodoh puterinya tentu tidak hanya terjadi di India Kuno. Anda para pembaca tentu masih ingat novel Kasih Tak Sampai karya Marah Rusli dengan tokohnya Siti Nurbaya, yang ditulis kira-kira seratus tahun yang lalu.

 

Paṭācārā boleh dipingit untuk menghindari bertemu lelaki yang tidak direstui orang tuanya, Paṭācārā boleh dikurung dalam istana keluarganya, tetapi segala pembatasan itu tidak menghalangi dirinya bertemu dengan sang pujaan hatinya. Secara diam-diam sang gadis terlibat dalam percintaan dengan seorang pembantu di rumah orang tuanya. Tibalah saatnya hingga kedua orang tuanya memutuskan untuk menikahkan dia dengan seorang pria muda dengan status sosial yang sama. Paṭācārā menjadi panik dan ia memutuskan untuk segera bertindak.

 

Dia tidak ingin berpisah dengan kekasihnya, apalagi menikah dengan orang asing yang tidak dikenalnya. Setelah berunding dengan kekasihnya, Paṭācārā memutuskan untuk kawin lari. Keduanya berencana pada hari yang ditentukan, mereka akan bertemu di sebuah pasar yang letaknya tidak begitu jauh dari tempat tinggalnya. Paṭācārā berteman akrab dengan seorang inang pengasuhnya, yang kebetulan memiliki postur tubuh yang hampir sama dengannya. Ia sudah terbiasa bersenda gurau dengan pengasuhnya dan Paṭācārā bebas memasuki kamar tidurnya. Paṭācārā diam-diam mengambil sepotong sari, gaun-luar yang umum dipakai oleh wanita India, milik pengasuhnya dan menyimpannya. Ia pun segera bersiap-siap. Malam sebelum kepergiannya dikeluarkannya seluruh perhiasan pemberian kedua orang tuanya – gelang, kalung, anting-anting, cincin, uang emas dan perak – lalu semuanya dibungkusnya dengan hati-hati dan diikatkan ke bagian dalam tubuhnya. Setelah itu ia bersolek seadanya dengan meniru gaya berdandan pengasuhnya. Dikenakannya sari curian itu dan tidak lupa ia menata bantal dan selimut di pembaringannya, agar tampak seolah-olah ia sedang tidur. Kemudian di pagi buta itu Paṭācārā menyelinap ke luar dengan menyamar sebagai gadis pelayan. Beberapa penjaga laki-laki yang masih mengantuk membiarkan saja, yang membuat dia minggat dengan mudah dari rumah yang mereka jaga.

 

Keesokan paginya para pelayan dan inang pengasuhnya terheran-heran, majikan mereka tidur dengan pulasnya dan tidak bangun-bangun. Hingga lewat waktu makan siang dia masih terlelap. Dua atau tiga orang dari mereka memberanikan diri untuk menghampiri dan membangunkannya. Namun alangkah terkejutnya mereka mendapati tuan puteri sudah lenyap dari sana. Dalam sekejap terjadi kegemparan, dan semua penghuni rumah sibuk mencari majikan mereka yang telah raib entah kemana. Sang Saudagar baru dilaporkan perihal kehilangan puterinya sore harinya, dan selidik punya selidik salah seorang pelayan laki-laki di rumah itu pun ikut lenyap. Sang Saudagar pun murka atas ketidakbecusan para pembantunya dan pengkhianatan salah seorang pegawainya. Esoknya dan beberapa hari kemudian dengan dibantu para punggawa istana, mereka semua sibuk mencari Paṭācārā ke seantero kotaraja, namun gadis muda dan pembantu lelakinya tetap hilang bak ditelan bumi.

 

Kita kembali kepada Paṭācārā. Setelah bertemu dengan kekasihnya di sebuah pasar di Sāvatthī, mereka mencari tumpangan karavan milik pedagang besar yang berniaga lintas-negara. Segera setelah mereka naik wahana tersebut, kereta pun berangkat dan tidak berapa lama mereka telah melewati gerbang penjagaan kotaraja. Mereka baru turun dari kereta setelah mencapai sebuah dusun yang letaknya jauh dari Sāvatthī. Paṭācārā terhenyak kelelahan dan masih merasakan ketegangan atas pelarian dirinya. Pupus sudah impian seorang gadis cilik, yang dulu mengharapkan untuk menjadi ratu-sehari dengan pasangan tercinta, disertai pesta pora meriah yang dihadiri oleh khalayak ramai. Sebaliknya ia sekarang hanya bisa menikah dengan mengucap ikrar setia sehidup-semati di hadapan dewata, disaksikan bumi yang luas dan di bawah hamparan langit. Dengan menjual sebagian perhiasannya, pasangan muda itu pun membangun gubuk seadanya dan menyewa sebidang tanah garapan di dusun itu. Sang suami sehari-hari bercocok tanam di ladangnya, sedangkan isterinya bekerja keras melakukan semua pekerjaan kasar, sesuatu yang sebelumnya dilakukan oleh para pelayan orang tuanya.

 

Waktu pun berjalan dengan cepatnya, sampai satu waktu Paṭācārā mengandung anak pertamanya. Sesuai dengan norma yang berlaku di India Kuno, walaupun seorang isteri sudah bermukim di rumah suaminya sejak mereka berumah tangga, tetapi ia biasanya pulang ke rumah orang tuanya ketika akan melakukan persalinan. Paṭācārā memohon kepada suaminya: "Wahai kakanda, anak kita akan segera lahir. Inilah saatnya kita pulang ke rumah orang tuaku." Mendengar permintaan itu sang suami menolaknya mentah-mentah, karena dia khawatir akan dianiaya atau dibunuh oleh mertuanya. Paṭācārā melanjutkan: "Sebuas-buasnya harimau, tidak akan dia memangsa anak atau keturunannya sendiri. Mereka pasti akan memaafkan kita, dan keduanya akan menerima saat cucunya lahir."  Paṭācārā ngotot ingin pulang sementara suaminya bersikeras tidak akan pergi. Karena tidak diizinkan, keesokan harinya Paṭācārā memutuskan untuk pergi sendirian, ketika suaminya sedang bekerja. Suaminya pun menyusul setelah ia mendengar kepergian isterinya dari tetangga mereka. Di tengah perjalanan keduanya bertemu. Sebelum mereka bisa mencapai Sāvatthī, rasa sakit persalinan dimulai dan Paṭācārā melahirkan seorang bayi laki-laki dengan selamat. Karena dia tidak punya alasan lagi untuk pergi ke rumah orang tuanya, mereka pun berbalik.

 

Beberapa waktu kemudian Paṭācārā hamil untuk kedua kalinya, dan kejadian serupa berulang kembali, tetapi kali ini dia pergi dengan menggendong anaknya. Ketika suaminya berhasil kembali menyusulnya, dia kembali menolak untuk menurutinya. Saat itu mereka telah menempuh setengah perjalanan ke Sāvatthī. Sungguh di luar dugaan sekonyong-konyong muncul badai yang menakutkan di luar musim, disertai guntur dan kilat yang menyambar-nyambar dan hujan yang turun tak henti-hentinya. Saat itu pun Paṭācārā merasakan kelahiran anak keduanya sudah semakin dekat. Dia meminta suaminya untuk mencarikan tempat berteduh. Sang suami pergi mencari kayu dan dedaunan untuk membangun naungan sementara. Sewaktu dia menebang pohon, beberapa anakan ular berbisa yang bersembunyi di sarang semut, ke luar dan memagutnya. Racunnya seperti lava cair dan sang suami naas itu tewas seketika. Paṭācārā sangat mengharapkan bantuan tetapi harapannya sia-sia belaka. Kemudian dia melahirkan anak laki-laki keduanya. Sepanjang malam kedua anak itu ketakutan oleh dahsyatnya badai, menangis sekuat-kuatnya, tapi satu-satunya perlindungan yang bisa ditawarkan ibu mereka hanyalah berlindung di balik tubuhnya.

 

Keesokan paginya Paṭācārā menyangga dan mengamankan bayi yang baru lahir di depan perutnya, lalu sambil menuntun si sulung, mereka melanjutkan perjalanan dengan terlebih dahulu memutar ke jalan setapak yang mereka lalui kemarin. Ketika dia berbalik di tikungan jalan, tampak jasad suaminya telah terbujur kaku laksana sebatang papan. Seketika dia dan anak sulungnya menangis meraung-raung memeluk orang yang sudah tidak bernyawa itu. Paṭācārā terisak-isak dan dengan terbata-bata berbisik, "semua ini salahku sendiri." Dengan susah payah keduanya menggali sebuah lubang, menyeret jenazah orang yang mereka cintai, dan menutupinya dengan tanah dan ranting-ranting.

 

Selang beberapa waktu ketiganya tiba di tepi Sungai Aciravatī. Hujan lebat semalaman menjadikan aliran air menderu dengan buasnya setinggi pinggang. Merasa terlalu lemah untuk menyeberang dengan kedua anak, Paṭācārā meninggalkan si sulung di bantaran sungai serta membawa bayinya ke seberang dan meletakkannya di tanah kering Kemudian dia berbalik untuk membawa anak satunya lagi. Saat dia berada di tengah sungai, seekor burung nasar yang sedang mencari mangsa melihat bayi yang masih merah tergeletak begitu saja. Mengira itu sebongkah daging, burung jahanam itu segera menukik, mencengkeram dengan cakarnya yang kuat, lalu membawa terbang mangsanya. Paṭācārā hanya bisa menyaksikan kejadian memilukan itu tanpa daya dan ia pun berteriak-teriak. Si sulung yang melihat ibunya berhenti di tengah sungai mendengar jeritannya, berpikir sang ibu memanggilnya. Ia pun segera melangkah ke dalam air, namun sungai yang sedang bergolak menelan tubuh mungilnya tanpa ampun. Menyaksikan anaknya ditelan arus air tanpa dia mampu berbuat sesuatu, Paṭācārā meraung-raung seperti orang gila.


Paṭācārā meratap, mengenang sikap keras kepalanya, menyesali kebodohannya;

Suami, bayi, dan sang putera tewas susul-menyusul.

Apa daya, bajak telah terdorong ke bencah,

Dan nasi pun sudah menjadi bubur.

 

Ya, Paṭācārā menjelma menjadi wanita setengah gila. Sepanjang jalan dia meracau, menyebut, dan memanggil nama suami dan puteranya, serta menjerit-jerit saat teringat nasib bayinya yang malang. Langkah kaki perempuan itu akhirnya menuntunnya mendekati rumah orang tuanya. Seorang lelaki setengah baya masih mengenali sang gadis muda, yang beberapa tahun silam menghilang secara tiba-tiba dari Sāvatthī. Ditatapnya wanita muda yang lusuh dan berpakaian compang-camping itu, lalu dengan ragu-ragu ia menyapa, "wahai nyonya. Benarkah engkau Paṭācārā?" Yang ditanya menjawab, "benar, Paman. Aku hendak pulang ke rumah orang tuaku. Bisakah engkau menunjukkan jalan ke sana?" Lelaki itu hanya diam dan enggan menanggapi permintaan itu. Paṭācārā menjadi tidak sabar dan mendesak terus, "apa yang terjadi dengan mereka, Paman. Katakanlah." Setelah beberapa saat, lelaki itu berkata: "Malam sebelumnya, setelah amukan badai yang mengerikan, rumah mereka runtuh, lalu kedapatan suami-isteri dan puteranya telah meninggal dunia. Baru saja kami mengkremasikan jasad ketiganya. Engkau bisa melihatnya pada tumpukan kayu bakar yang masih menyala di sana."

 

Tak perlu disuruh lagi, Paṭācārā berlari menuju tempat pembakaran mayat. Di sana dia menangis sejadi-jadinya dan meratap: "Wahai Dewata nan Agung. Sampai hati Dikau membiarkan hambamu merana. Suami dan kedua anakku telah direnggut dari hidupku, serta kini ayah, ibu, dan saudaraku juga sudah tiada. Perbuatan keji dan jahat macam apa yang telah aku lakukan di kehidupanku yang lalu?"

 

Tidak kuat menahan kesengsaraan itu lebih lama, Paṭācārā menjadi gila. Dia mengembara ke mana pun kakinya melangkah, dengan tidak lagi memperhatikan penampilannya. Dia hampir telanjang! Mereka yang menaruh rasa kasihan memberinya makan-minum, tetapi masih ada pula yang tidak punya nurani, yang mana mereka mengata-ngatai dan melemparinya dengan tanah dan batu. Pada satu pagi sampailah Paṭācārā ke Taman Jeta, sebuah kebun luas dan permai, tempat bermukimnya ribuan rahib Buddhis. Beberapa jemaat mengenalinya dan berteriak, "jangan biarkan perempuan gila itu menemui Guru." Tetapi Sang Buddha Mahatahu berkata, "biarkan anakku datang kepadaku."

 

Seorang lelaki setengah baya memberikan jubahnya kepada Paṭācārā sambil berpesan, "kenakanlah gaun ini, saudari." Paṭācārā bersimpuh di hadapan Sang Guru dan dia menceritakan kisahnya yang tragis itu. Sang Buddha bersabda: "Wahai Paṭācārā. Bukan sekali ini saja engkau kehilangan mereka semua. Dalam pengelanaanmu mengarungi samudera kehidupan dan kematian, entah sudah berapa banyak engkau kehilangan suami, anak, ayah, ibu, dan saudara. Selama itu pula engkau berduka dan meneteskan air mata. Jika air matamu bisa ditampung dalam satu bejana besar, maka banyaknya air matamu akan jauh melebihi air di empat samudera besar. Paṭācārā, sadarlah." Ajaib! Kata-kata itu sanggup membuat Paṭācārā eling. Pikirannya terbuka dan dia pun segera mendapatkan mata-dharma.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/211006


Kamis, 23 September 2021

KEHIDUPAN ZAMAN DAHULU DAN SEKARANG


 
Terkadang kita suka membandingkan kehidupan kita sekarang dengan kehidupan kita pada masa silam. Ternyata waktu telah berlari sedemikian kencangnya, pun perubahan berlangsung sebegitu cepatnya. Jika kita meneropong kembali ke keadaan masa lalu, bukanlah maksudnya kita ingin kembali ke zaman yang telah berlalu, tetapi kita membandingkannya untuk merenungkan sisi baik dan buruknya. Apa yang baik kita pertahankan dan mana yang buruk kita buang jauh-jauh.
 
Penulis berasal dari generasi baby boomers atau diindonesiakan sebagai generasi "ledakan kelahiran", yakni mereka yang lahir setelah Perang Dunia kedua, atau diantara tahun 1946 hingga 1964. Penulis dibesarkan dalam keluarga kelas menengah di sebuah kota kecil. Penggambaran dalam tulisan ini menceritakan apa saja yang telah berubah dalam rentang lima puluh tahun terakhir ini.
 
Penulis ingin memulainya dengan menceritakan latar belakang keluarga. Kami bersaudara lima orang, jadi mirip dengan yang terjadi pada banyak keluarga pada masa itu. Bukan hal yang aneh jika ada cukup banyak keluarga yang memiliki lebih dari lima orang anak. Demikian pula yang terjadi dengan generasi ayah dan ibu kami, yang membuat kami memiliki saudara sepupu yang cukup banyak. Dengan bersaudara lima orang dan memiliki beda usia hingga belasan tahun, anak sulung bisa turut membantu orang tuanya membesarkan si bungsu. Sekarang kita lihat berapa jumlah anak yang dimiliki oleh para baby boomers. Mereka umumnya hanya memiliki satu atau dua orang anak, dan paling banyak tiga orang saja.
 
Mengapa para baby boomers enggan memiliki banyak anak? Generasi penulis tidak sama dengan generasi sebelumnya. Kami tidak ingin punya banyak anak karena membesarkan anak memerlukan biaya yang cukup besar. Memberi mereka makan mungkin kami mampu, tetapi perlu perjuangan untuk membekalkan mereka pendidikan yang baik. Ini alasan yang cukup mengherankan. Generasi terdahulu memiliki banyak anak dan mereka optimistis masa depan anak-anak mereka akan baik-baik saja, tetapi generasi kami tidak seperti itu. Ini adalah paradoks zaman kita. Dahulu hanya ayah kami yang bekerja dengan ibu yang banyak diam di rumah dan mengurus rumah tangga, tetapi keduanya mampu membesarkan banyak anak. Sekarang kami suami-isteri membanting tulang sepanjang hari, tetapi membesarkan dua orang anak saja sudah setengah mati.
 
Pada pasangan baby boomers yang kedua-duanya bekerja di luar rumah, waktu kebersamaan dengan anak-anak mereka terbatas. Ayah dan ibu sering harus berangkat pagi-pagi ke tempat kerja dan baru kembali setelah malam tiba. Bukan hal yang ganjil anak-anak baru bertemu dengan kedua orangtuanya pada akhir pekan. Generasi kami selalu disambut ibu sewaktu kami pulang sekolah dan kami bersantap siang bersama-sama. Di malam hari seluruh anggota keluarga beserta ayah menikmati makan malam bersama. Jadi hubungan kekeluargaan lebih guyub di masa silam dibandingkan dengan yang terjadi pada generasi sekarang.
 
Walaupun banyak waktu yang kami curahkan guna menuntut ilmu, pada masa itu pun kami mesti membantu orang tua menyelesaikan pekerjaan di rumah. Turut membersihkan rumah, menyediakan air mandi, menyapu halaman, membantu pekerjaan di dapur, dan banyak lagi, Pada masa itu tidak semua keluarga mampu membeli perlengkapan modern seperti lemari es, kompor gas, mesin cuci, pompa air, setrika-listrik, televisi, dan barang elektronik lainnya. Jika kita membandingkannya dengan keadaan sekarang, barang-barang yang disebutkan di atas relatif masih terjangkau oleh banyak keluarga dan ketersediaannya di pasar cukup banyak.
 
Dengan adanya piranti modern pekerjaan di rumah maupun di tempat kerja bisa dilakukan lebih mudah, lebih cepat, dan lebih bagus kualitasnya. Kita bisa memanfaatkan kelebihan waktunya untuk mengerjakan hal-hal lain yang lebih produktif. Waktu senggang pun menjadi lebih lama dan hidup kita semakin dipermudah. Tetapi apakah kehidupan modern menjanjikan segalanya menjadi lebih nyaman? Karena semua kebutuhan manusia ditopang oleh ekonomi produksi yang memaksimalkan keuntungan, orang cenderung mengeksploitasi sumber daya alam habis-habisan demi mengejar kenyamanan hidup. Sebagai contohnya, kira-kira lima puluh tahun yang lalu masyarakat menggunakan bahan kemasan berupa daun pisang, kertas, atau karton untuk membungkus barang. Jika hendak membeli makanan-jadi, mereka telah menyiapkan dari rumah wadah yang berbentuk rantang-bersusun. Lama kelamaan aneka kemasan berbahan plastik menggantikan kemasan tradisional, yang penggunaannya makin masif dari hari ke hari. Dewasa ini semua negara kewalahan menangani limbah kemasan plastik, yang tidak terkendali, bahkan hingga mengotori palung samudera. Ternyata melulu mengejar kepraktisan, justru menciptakan masalah baru yang serius.
 
Salah satu ciri modernitas adalah mobilitas manusia dan barang meningkat secara drastis. Dekade 60-an ketika penulis masih duduk di bangku sekolah dasar, kami pulang-pergi ke sekolah cukup berjalan kaki. Ada beberapa rekan yang rumahnya cukup jauh memanfaatkan sepeda ke sekolah, dan hanya segelintir yang diantar-jemput dengan kendaraan bermotor. Sekarang di Jakarta siswa-siswa sekolah dasar dan menengah terutama di sekolah favorit, para muridnya di diantar-jemput dengan mobil, sehingga membuat keruwetan dan kemacetan lalu lintas pada saat masuk dan pulang sekolah. Pemanjaan ini justru membuat para siswa kurang bergerak jika dibandingkan dengan orang dari generasi sebelumnya; serta masyarakat perkotaan cenderung malas berjalan kaki, sehingga mencetuskan problem kesehatan. Di sisi lain banyak kemajuan terjadi terutama pada dua puluh tahun terakhir ini berkaitan dengan mobilitas orang. Sekarang sarana transportasi jauh lebih baik dibandingkan masa lalu, dan bepergian dengan pesawat ke mancanegara pun lebih terjangkau untuk sebagian masyarakat kita.
 
Sekarang kita melirik sebentar ke dunia pendidikan. Sewaktu penulis masih duduk di sekolah rakyat, kalau tidak salah di kelas 2 atau 3, ada mata pelajaran menulis-halus. Siswa harus menyiapkan buku tulis, tangkai dan mata-pena, serta sebotol tinta cair. Memang ini perangkat jadul yang akan ditertawakan oleh anak zaman sekarang. Mencelupkan mata-pena haruslah hati-hati agar tinta tidak beloboran, yang akan mengotori dan merusak kerja keras kita. Entahlah penulis tidak tahu, apakah siswa SD masih diajari keterampilan ini. Di sisi lain, pada saat pandemi masih berlangsung, penulis dibuat takjub melihat para siswa sekolah dasar dan menengah melakukan pembelajaran jarak jauh. Dengan hanya berbekal sebuah telepon-pintar di rumah, mereka dengan patuh mengikuti instruksi gurunya mengerjakan PR. Sungguh satu metode belajar-mengajar yang tak-terbayangkan ketika penulis masih bocah dulu. Dengan adanya internet dunia pendidikanlah yang mendapatkan manfaat terbesar. Sebagai contohnya, dengan adanya kanal youtube di jagad-maya, pelajaran keterampilan tertentu dengan mudah dipelajari oleh siapa pun di berbagai belahan dunia ini.
 
Sekarang bagaimana kondisi kesehatan masyarakat pada waktu itu? Dulu di era 50-an atau 60-an relatif hanya penyakit influenza atau penyakit infeksi yang banyak diderita oleh masyarakat Indonesia. Penyakit yang cukup sering diderita hanya sekedar masuk angin, yang cukup diobati dengan kerokan dan tubuh dibaluri minyak gosok. Penyakit yang cukup serius pada saat itu adalah mati badan sebelah (sekarang dinamakan stroke) atau terkena angin duduk (serangan jantung). Kedua penyakit yang disebutkan terakhir biasanya berakibat fatal dan penderita langsung meninggal dunia. Demikian juga jika terjadi gagal ginjal, pasien sulit ditolong karena fasilitas kesehatan yang masih terbatas. Lain dengan kondisi sekarang, penderita masih bisa melakukan cuci darah secara berkala. Dewasa ini pelayanan kesehatan dan tenaga medis sudah lebih banyak dan fasilitasnya sudah modern. Lalu apakah orang sakit lebih mudah mendapatkan bantuan? Nyatanya tidak. Sekali terkena penyakit serius, biaya pengobatannya bisa mahal sekali. Beruntunglah jika pasien memiliki asuransi kesehatan. Sekarang memang ada asuransi kesehatan yang diinisiasi oleh Pemerintah, tetapi cakupan pertanggungannya belum dirasa memuaskan oleh sebagian kalangan masyarakat.
 
Membicarakan kehidupan modern tentulah tidak afdol jika tidak melihat perkembangan budaya di masyarakat kita. Dari masa kemerdekaan hingga tahun 1965 masyarakat Indonesia boleh dikatakan tertutup. Tetapi sejak masa Orde Baru kita mulai membuka diri sedikit demi sedikit. Semenjak itu pula pengaruh budaya asing mulai memasuki dan mempengaruhi kehidupan kita. Contoh yang paling kentara terjadi di dunia kuliner nasional. Sampai masa penulis memasuki sekolah menengah atas, menu makanan sehari-hari yang ditemui paling banter masakan tradisional dan daerah, chinese food, dan kuliner-belanda peninggalan zaman kolonial yang dimasak ibu di rumah. Satu hari menjelang pertengahan dekade 80-an, seorang rekan kerja mengundang penulis untuk makan siang di sebuah restoran cepat-saji yang berasal dari Amerika. Hidangan khas di sini adalah ayam goreng dimakan bersama kentang goreng dan seporsi nasi putih. Sungguh mati, baru kali itu penulis makan kentang goreng putih berbentuk balok yang dicocol dengan sambal botol dan saus tomat. Ayam gorengnya berukuran besar berbalut tepung, sangat lezat karena terasa renyah di luar dan lembut-berair di dalamnya. Selesai makan masih disediakan minuman dingin bersoda, yang membuat santap siang itu terasa nikmat dan nendang. Kemudian secara berangsur-angsur restoran cepat saji mulai membanjiri area niaga dan pusat perbelanjaan di kota-kota besar. Bukan saja makanan yang berasal dari Amerika, tetapi ada juga yang didatangkan dari Jepang, Korea, dan negara-negara lainnya. Inilah trend yang dinamakan globalisasi, yakni proses mendunianya satu hal sehingga batas antar negara menjadi hilang. Apakah globalisasi itu baik bagi kita? Tentu ada segi baiknya dan sisi buruknya. Kita ambil hal buruknya, seperti pada hidangan ayam goreng tadi. Ternyata santapan itu memiliki kandungan karbohidrat dan lemak tinggi serta miskin serat. Jika terlalu sering dikonsumsi bisa menimbulkan kegemukan. Justru hidangan tradisional kita seperti nasi merah, sayur asem, lalapan, sambal, dan lauk tahu-tempe memiliki kandungan gizi yang seimbang. Inilah yang dinamakan kearifan lokal!
 
Selanjutnya bagaimana dengan kehidupan beragama sekarang ini dibandingkan setengah abad yang lalu? Tentu saja ini berkaitan dengan kehidupan beragama umat Buddha dan Konghucu. Dengan latar belakang keluarga minoritas Tionghoa, penulis dibesarkan dalam suasana tradisi leluhur. Hingga lulus sekolah menengah atas penulis hanya mengikuti upacara persembahyangan yang dilakukan secara berkala, tanpa memiliki pengertian tentang makna dibalik ritual keagamaan itu. Barulah setelah duduk di perguruan tinggi, penulis berkesempatan mempelajari agama Buddha lewat mata kuliah dasar umum, serta mencarinya sendiri dari buku-buku di perpustakaan. Jika boleh membandingkan perkembangan agama Buddha dan Tridharma dalam rentang waktu 45 tahun ini, keadaan sekarang sudah jauh lebih maju dibandingkan masa itu. Rumah ibadah semakin banyak dan tersebar, jumlah pemuka agama dan dharmaduta naik secara signifikan, umat yang menghadiri upacara keagamaan bertambah bahkan membludak pada hari raya keagamaan, guru agama yang memiliki pendidikan akademis di bidangnya sudah banyak walaupun tetap belum mencukupi, kelas dharma dan retret meditasi sudah diprogram dan dilaksanakan secara terstruktur, serta masih banyak lagi. Tetapi pertanyaannya, apakah kehidupan religius kita lebih baik sekarang dibandingkan setengah abad yang lalu? Dari pengalaman penulis selama ini, banyak anak muda dari kalangan kita justru acuh tak acuh terhadap aktivitas keagamaan. Semoga pandangan subyektif ini tidak sepenuhnya benar.
 
Demikianlah sedikit pemaparan mengenal perbedaan hidup sekarang dan hidup tempo dulu. Sekecil apa pun, banyak kearifan yang telah ditunjukkan oleh generasi terdahulu dan nenek moyang kita. Namun modernisasi, globalisasi, serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, telah merambah kehidupan kita secara menyeluruh. Ini adalah satu keniscayaan. Bagi mereka yang masih menginginkan kehidupan masa silam tentu tidak bisa menjalaninya di daerah perkotaan. Mungkin mereka bisa merasakannya jika memilih untuk hidup di daerah terpencil. Bagaimana pun itu adalah mimpi segelintir orang yang masih menginginkan romantisme masa silam. Apa pun pilihan mereka kita harus mengapresiasinya,
 
 
sdjn/dharmaprimapustaka/210922
 

Jumat, 10 September 2021

KEN AROK DAN KEN DEDES


 

Mereka yang pernah belajar Sejarah Nusantara di bangku sekolah pasti mengenal riwayat Kerajaan Majapahit, yang pada masa jayanya pernah menguasai sebagian wilayah yang kelak menjadi cikal bakal Indonesia. Tetapi apakah Anda tahu bahwa raja atau ratu Majapahit memiliki leluhur dari dinasti sebelumnya? Ya benar, Dinasti Tumapel (atau Singasari) yang merupakan pendahulunya akan menurunkan penguasa Dinasti Majapahit. Agama rakyat pada masa itu adalah Sinkretisme Hindu-Buddha, dengan penekanan pada pemujaan terhadap Shiva dan banyak dipengaruhi oleh ajaran Buddha-Tantrayana.

 

Dinasti Tumapel didirikan oleh Ken Arok atau Ranggah Rajasa, mungkin juga pernah didengar oleh Anda sekalian. Riwayat hidup Ken Arok atau Ken Angrok didapat dari Serat Pararaton, satu kepustakaan berbahasa Jawa Kawi, dan diperkirakan ditulis antara tahun 1481 hingga 1600. Tidak diketahui siapa penulis Pararaton, tetapi dari sub-judul kitab ini yang bertuliskan "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok" (artinya "Kitab Raja-raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok"), penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok mendominasi naskah kuno ini. Atas jasa Jan Laurens Brandes, naskah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda pada 1897, dengan judul Pararaton (Ken Arok) Het Boek Der Koningen van Tumapel en van Madjapahit, Uitgegeven en Toegelicht.

 

Kitab Pararaton dibuka dengan menceritakan tokoh kita ini dalam satu kehidupannya yang lampau. Dikisahkan bagaimana orang ini berlaku tidak baik sampai ia bertemu dengan seorang petapa yang bernama Pu Tapawangkeng. Tokoh kita ini bertekad untuk dilahirkan-kembali menjadi orang yang terkemuka kelak. Demi mencapai cita-citanya ia rela dijadikan kurban persembahan (yadnya) sang petapa, kepada Yamadipati atau dewa penjaga pintu dunia bawah.

 

Demikianlah ketika tekad itu sudah saatnya membuahkan pahala, Batara Brahma mencari seorang perempuan muda yang subur. Di desa Pangkur ada sepasang pengantin baru, dengan yang lelaki bernama Gajah Para dan yang perempuan dipanggil Ken Endok (sebutan "Gajah", "Lembu", atau "Kebo" pada zaman itu adalah panggilan kehormatan, bahwa orang itu berasal dari strata atas atau kaum bangsawan). Batara Brahma yang tak-terlihat melakukan perkawinan dengan Ken Endok, dan berpesan pada perempuan itu bahwa anak yang akan dilahirkan kelak adalah puteranya. Segera setelah kejadian gaib itu suami isteri itu bercerai, dan Gajah Para pulang ke Campara. Belum sampai lima hari kemudian ia telah meninggal. Berkomentarlah orang banyak: "Alangkah panasnya anak yang berada di dalam kandungan itu. Belum sampai lima hari ayahnya telah meninggal dunia."

 

Setelah usia kandungannya cukup, Ken Endok melahirkan seorang bayi laki-laki yang dinamakan Ken Arok. Tidak mampu memelihara anak karena miskin, bayi yang masih merah itu dibuang oleh ibunya ke kuburan. Adalah seorang pencuri, yang bernama Lembong, yang kebetulan melewati kuburan itu. Dia melihat seberkas cahaya dan memdengar suara anak kecil menangis. maka didekatimya tempat itu, dan didapatinya bayi itu. Lalu bayi lelaki itu digendong, dibawanya pulang, dan diangkat sebagai anaknya sendiri.

 

Karena diangkat anak oleh Lembong, Ken Arok pun sejak kecil tumbuh menjadi berandalan. Sesudah tumbuh besar Ken Arok meninggalkan Lembong dan ia diangkat anak oleh Bango Samparan, seorang penjudi di Karuman, setelah sang penjudi mendapat wangsit dari para dewa. Pada saat menemukan Ken Arok, Bango Samparan sudah bangkrut karena kalah terus, tetapi nasib berubah seratus delapan puluh derajat sejak ia membawa anak angkatnya ke tempat perjudian. Sekarang seluruh harta kekayaannya telah kembali dan ia bertambah sayang kepada Ken Arok. Belakangan Ken Arok belajar baca-tulis bahasa Jawa Kuno dan juga tentang candra-sangkala di padepokan seorang pandita di Sagenggang. Tidak itu saja, Ken Arok sempat dipungut anak oleh Pu Palot, seorang pandai emas, yang menurunkan ilmunya kepada anak angkatnya.

 

Karena wataknya yang tidak baik, Ken Arok sering berseteru dengan penduduk setempat ketika ia melakukan pengembaraan. Dalam Pararaton disebutkan dua sampai tiga kali dia diselamatkan dari bahaya yang mengancam nyawanya. Seperti yang terjadi di Gunung Kryar Lejar, tempat para dewa berkumpul dan Batara Guru mengatakan bahwa Ken Arok adalah puteranya, dan dia telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan kekuasaan di Jawa.

 

Jauh di Jambudvipa atau di Tanah India ada seorang brahmana yang dipanggil Danghyang Lohgawe, yang biasa memuja Dewa Vishnu. Pada satu kesempatan dalam penerawangannya, ia mendengar bisikan: "Wahai brahmana, hentikanlah pemujaan kepada arca dewa. Aku tak ada di sini, aku menjelma jadi manusia di Tanah Jawa. Adalah anak yang bertangan panjang, lututnya besar, telapak tangan kanannya bergambar roda, yang kiri bergambar kerang, yang bernama Ken Arok. Carilah dia di tempat perjudian. Singkat cerita sampailah Sang Brahmana di Desa Taloka dan di sana pada satu tempat orang mencari peruntungan, nampak seseorang yang mirip dalam petunjuk yang diberikan oleh dewa. Lalu berkatalah Lohgawe, "agaknya engkaulah Ken Arok, seperti yang muncul dalam penerawangan saya." Ken Arok menjawab, "benar, Tuan. ananda bernama Ken Arok." Dipeluklah pemuda itu oleh Sang Brahmana. "Saya angkat engkau sebagai anakku, saya bantu dalam kesukaran, saya pelihara kemana pun engkau pergi."

 

Selanjutnya Ken Arok dan ayah angkatnya pergi dari Taloka ke Tumapel, sebuah wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan Daha. Sesampainya di sana keduanya berkesempatan untuk bertemu dengan Akuwu dari Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Sang Brahmana disambut dengan baik oleh Sang Akuwu dan diminta agar ayah dan anak angkat tinggal di Tumapel, serta permintaan agar Ken Arok dapat menghamba kepada Sang Akuwu juga diterima dengan senang hati. Mulai hari itu Ken Arok menjadi pengawal Tunggul Ametung dan mengabdikan diri cukup lama.

 

Tersebutlah ada seorang pandita bernama Pu Purwa yang memeluk agama Buddha Mahayana di Desa Panawijen, dan di sebidang lahan pertanian di sana ia membangun sebuah tempat pertapaan. Sebelum menjadi pandita ia memiliki seorang puteri, dan anak gadis ini sekarang sudah dewasa bernama Ken Dedes. Anak ini sangat cantik, tidak ada yang bisa menandinginya, sehingga ia terkenal dari timur Gunung Kawi hingga ke Tumapel. Terdengarlah kabar tentang keistimewaan gadis itu, lalu Tunggul Ametung berkunjung ke Panawijen, dan sangat tertariklah sang akuwu kepadanya. Karena saat itu ayahnya sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya sabar menunggu. Namun sang akuwu tidak kuasa menahan diri, Ken Dedes pun dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi. Ketika Pu Purwa pulang ia murka mendapati puterinya telah dilarikan orang dan ia pun mengutuk: "Hai orang yang melarikan anakku, semoga tidak mengenyam kenikmatan, matilah dia dibunuh dengan keris ... Sedangkan anakku yang telah mempelajari ilmu untuk menerangi dunia, harapanku semoga dia selamat dan besar kebahagiaannya."

 

Sesampainya di Tumapel, Ken Dedes langsung diperisteri oleh Tunggul Ametung. Semakin besarlah kasih sang akuwu ketika mendapati tanda-tanda isterinya telah hamil. Pada suatu hari Tunggul Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan Baboji. Setibanya di taman Ken Dedes turun dari kereta, kebetulan dengan perkenan dewa, kain Ken Dedes tersingkap, sehingga auratnya yang bersinar terlihat oleh Ken Arok yang sedang bertugas mengawalnya. Melihat kecantikannya yang luar biasa, jatuh cintalah Ken Arok, hingga tak tahu harus berbuat apa.

 

Sepulangnya dari sana Ken Arok menemui ayah angkatnya dan bertanya, "Bapak, adalah seorang wanita yang pusatnya mengeluarkan cahaya. Apakah itu penanda baik atau buruk?" "Anakku, jika ada wanita seperti itu, namanya Stri Nariçwari, wanita paling utama. Meskipun orang hina yang mengambil dia sebagai isterinya, maka orang itu akan jadi raja besar. Siapakah dia, anakku?" "Dia adalah isteri dari Akuwu Tumapel. Saya akan membunuhnya dengan keris, pasti matilah dia, jika Bapak mengizinkan." Ayahnya menjawab, "memang Tunggul Ametung akan mati olehmu. Tetapi saya tidak baik jika mengizinkan kehendakmu, bukan perbuatan brahmana, tetapi sekehendakmulah."

 

Gagal mendapat restu dari ayah angkatnya, Ken Arok mengunjungi ayah angkatnya yang lain Bango Samparan di Karuman, dan meminta pendapatnya. Bango Samparan berkata, "saya menyetujui jika engkau mau membunuh sang akuwu dengan keris. Tetapi, anakku, dia itu sakti, mungkin tidak akan terluka ditusuk oleh sembarang keris. Adalah seorang teman saya pandai besi di Lulumbang, bernama Pu Gandring. Keris buatannya sangat ampuh, tak ada orang yang dapat menangkalnya." Setelah mendapat nasihat itu, pergilah Ken Arok ke pandai besi itu. Setelah menemui Pu Gandring, Ken Arok berkata, "buatkanlah saya sebilah keris, hendaknya selesai dalam lima bulan, karena akan segera saya pakai." Si pandai besi menjawab, "janganlah lima bulan kalau ingin baik, sebaiknya satu tahun agar tempaannya bagus." Ken Arok berpesan, "terserah bagaimana tempaannya, asal selesai dalam lima bulan."

 

Demikianlah Ken Arok lama menunggu di Tumapel. Setelah genap lima bulan, teringatlah akan barang pesanannya, dan pergilah ia ke Lulumbang. Ternyata sesampainya di sana keris pesanannya masih ditempa oleh Pu Gandring. Marahlah Ken Arok, direbutnyalah senjata itu dari tangan si pandai besi, dan ditusukkan ke ulu hatinya. Selagi meregang nyawa Pu Gandring mengutuk bahwa Ken Arok dan anak cucunya akan mati terbunuh oleh keris itu pula. Setelah itu matilah Pu Gandring dan jelas Ken Arok sangat menyesali perbuatannya. Selanjutnya Ken Arok kembali ke Tumapel berbekal keris barunya. Tersebutlah Kebo Hidjo, pengawal kesayangan Tunggul Ametung juga sahabat baik Ken Arok, orang yang suka pamer. Melihat sahabatnya mengenakan keris baru, hatinya terpincut, dan keris itu langsung dipinjamnya dan diselipkan di pinggangnya. Kemana pun ia pergi Kebo Hidjo selalu membawa barang itu, dan orang Tumapel tahu bahwa ia memiliki keris baru. Kemudian keris itu dicuri secara diam-diam oleh Ken Arok, lalu pada satu malam dia mengendap-endap ke kamar tidur sang akuwu, ketika semua orang telah terlelap. Atas pertolongan para dewa, Ken Arok menghampiri Tunggul Ametung yang sedang tidur, lalu ditusuknya sang akuwu tepat di jantungnya oleh keris buatan Pu Gandring. Matilah seketika Tunggul Ametung dan keris itu dibiarkan pada lukanya.

 

Keesokan paginya gemparlah orang-orang Tumapel mendapatkan bahwa sang akuwu telah tewas oleh sebilah keris. Semua orang tahu bahwa keris itu kepunyaan Kebo Hidjo. Lalu Kebo Hidjo ditangkap oleh sanak keluarga dari Tunggul Ametung, dihukum mati dengan ditusuk pula oleh keris Pu Gandring. Selanjutnya dewa-dewa mengatur agar Ken Arok dapat kawin dengan Ken Dedes, dan tidak ada orang Tumapel yang berani menentangnya. Ketika mereka kawin, Ken Dedes sedang hamil anak dari Tunggul Ametung. Kelak setelah kelahirannya, anaknya diberi nama Anusapati.

 

Kitab Pararaton juga  menceritakan keberhasilan Ken Arok menggulingkan Raja Daha yakni Kertajaya pada 1222, dan memerdekakan Tumapel menjadi kerajaan besar yang baru. Ken Arok sendiri kemudian bergelar Sri Amarwabhumi. Kisah kita berlanjut kepada Anusapati, putera Tunggul Ametung. Tidak henti-hentinya ia bertanya kepada pengasuhnya dan ibunya, Ken Dedes. "Apa sebabnya ayahanda ketika melihat kepadaku, berbeda tampaknya dengan saudara-saudara yang lain, apalagi dengan putera-putera ibu muda?" Memang sudah tiba saatnya Sri Amarwabhumi mangkat. "Kalau engkau ingin tahu dan mempercayainya, ayahmu adalah Tunggul Ametung. Waktu itu ibu sedang hamil ketika Sri Amarwabhumi mengambilnya." Anusapati tercengang, "oh, jadi Sri Amarwabhumi bukan ayahku. Bagaimana ibu, cara kematian ayah?" "Sang Amarwabhumi yang membunuhnya. Terdiamlah Ken Dedes, merasa bersalah mengatakan hal yang sebenarnya kepada anaknya. Setelah anaknya merayunya, diberikanlah keris Pu Gandring kepadanya. Maka seperti yang diramalkan oleh sang pandai besi, nasib Ken Arok pun berakhir tragis di tangan putera tirinya. Selanjutnya Anusapati naik tahta meneruskan Dinasti Tumapel. Penulis tidak akan berpanjang-panjang melanjutkan kisah ini.

 

Lalu pelajaran apa yang kita dapatkan dari kisah Ken Arok dan Ken Dedes ini? Bahwasanya untuk menjadi orang besar bukanlah didapat dari untung-untungan dan nasib baik belaka. Diperlukan tekad kuat atau Adhiṭṭhāna yang dirintis dari kehidupan sebelumnya. Selanjutnya keistimewaan merupakan syarat mutlak yang didambakan masyarakat Jawa, yang harus ada dalam diri seorang pemimpin atau leluhurnya. Filsafat Jawa meyakini seorang raja atau permaisuri adalah pilihan Dewa. Pilihan itu ada dalam diri Ken Arok dan Ken Dedes. Marka dan penanda-lahir seperti gambar roda pada telapak tangan serta aurat yang bersinar, sebenarnya mengambil inspirasi marka dan tanda manusia agung seperti yang dimiliki seorang Calon Buddha dan tujuh pusakanya. Dan terakhir hukum tabur-tuai berlaku bagi si pembuat kejahatan: "Barang siapa menabur angin, dia sendiri yang akan menuai badai."

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210908

 


Jumat, 13 Agustus 2021

PERI-BAIK DAN PERI-JAHAT


 


Pada suatu ketika di Negeri-Peri yang letaknya nun jauh di sana, hiduplah dua sosok peri, yang diberi nama Peri-Putih dan Peri-Hitam. Mereka berdua adalah dua bersaudara kakak beradik. Peri-Putih bertabiat baik dan selalu memikirkan apa yang bisa dilakukannya demi menolong orang lain. Sebaliknya Peri-Hitam adalah sosok yang usil, nakal, dan gemar membuat orang lain susah. Namanya juga saudara, mereka sehari-hari menghabiskan waktu bersama.

 

Pada suatu hari ketika Peri-Putih dan Peri-Hitam sedang bermain di atas dahan sebatang pohon di sebuah padang penggembalaan, keduanya tiba-tiba melihat seorang gadis yang sedang berjalan menggenggam dua ember-kayu yang penuh berisi susu di tangan kiri dan kanannya. Melihat pelayan yang membawa susu, satu gagasan nakal muncul di kepala Peri-Hitam. Ia lalu terbang ke bawah salah satu ember, mengeluarkan tongkat-sihirnya, mengucapkan sepatah mantra, dan tiba-tiba tangannya sudah menggenggam sebuah perkakas bor, yang lalu digunakan untuk melubangi salah satu ember. Pada saat yang bersamaan, Peri-Putih melihat ulah saudaranya, ia pun meluncur ke tempat itu, mengeluarkan tongkat sihirnya, mengucapkan kata-bertuah "sim-sala-bim", lalu di tangannya sudah muncul sebuah sumbat dari gabus, yang lalu dipakai untuk menambal ember yang bocor tadi. Dengan demikian gagallah upaya Peri-Hitam melakukan sabotase terhadap sang gadis pembawa susu tersebut. Peri-Hitam menggerutu yang ditujukan kepada saudaranya, "mengapa engkau selalu mencampuri urusan orang lain, dan merusak kesenangan yang aku lakukan?"

 

Peri-Putih dan Peri-Hitam yang baru diceritakan itu tentu hanya ada di Negeri Dongeng. Namun bagi sebagian orang Peri-Putih dan Peri-Hitam itu bersemayam di dalam batin kita. Peri-Putih adalah tokoh di dalam diri kita yang senantiasa membimbing kita ke arah yang baik atau bermanfaat. Ada sementara orang yang percaya bahwa Peri-Putih adalah Malaikat-Pelindung atau Guardian Angel dalam diri kita. Sebaliknya Peri-Hitam adalah tokoh yang berusaha menjerumuskan atau mengarahkan kita untuk berbuat yang jahat atau yang tidak-bermanfaat. Kita akan membahas lebih lanjut peran Peri-Hitam ini menurut kacamata Buddhisme.

 

Adanya Peri-Putih dan Peri-Hitam yang bercokol dalam diri seseorang tentu saja sulit diterima oleh mereka yang bersikap rasional. Penjelasan yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Sigmund Freud (1856 - 1939), seorang ilmuwan yang membidani teori Psiko Analisa. Freud menemukan bahwa perkembangan jiwa manusia dipengaruhi oleh tiga elemen, yang berpadu dalam membentuk karakter seseorang. Ketiga elemen itu adalah id, ego, dan superego.

 

Id sebagai energi psikis adalah komponen utama dari sifat manusia yang telah ada sejak seseorang dilahirkan. Aspek ini sepenuhnya terjadi tanpa disadari serta melibatkan perilaku primitif dan didasarkan pada insting. Id digerakkan oleh nafsu, keinginan, dan kebutuhan. Apabila id itu tidak segera terpenuhi, akan muncul rasa gelisah hingga marah. Contoh ketika seorang anak kehausan atau kelaparan, segera muncul rasa ingin minum dan makan. Elemen id ini sangat penting bagi makhluk hidup untuk menjamin kebutuhan dasarnya agar bisa terpenuhi. Elemen id yang bekerja berdasarkan insting tetap akan ada, walaupun orang tersebut telah menua sekali pun.

 

Elemen berikutnya dalam perkembangan diri manusia adalah munculnya ego. Dengan adanya elemen ego  keinginan atau nafsu yang muncul bisa terpenuhi lewat cara yang bisa diterima di dunia nyata. Elemen ego ini berlangsung pada pola pikir sadar, pra-sadar, dan bawah-sadar. Ketika seseorang melakukan sesuatu dengan mempertimbangkan ego, artinya ada hitungan tentang untung-rugi sebuah tindakan. Contohnya pada anak kecil tadi yang sekarang kelaparan ketika ia sedang menghadiri kelas di sekolahnya. Ego  membuat dirinya tetap bertahan dan tidak meninggalkan kelas secara tiba-tiba. Dengan bimbingan ego ia bisa mencari makan di waktu yang tepat, yakni menundanya hingga jam-istirahat tiba. Lebih jauh lagi, Freud membandingkan id sebagai seekor kuda, sementara ego adalah penunggangnya. Id memberikan tenaga dan kemampuan bergerak, sementara ego menjadi kendali ke mana kuda bergerak. Tanpa adanya ego, id bisa berkelana ke mana pun tanpa pertimbangan logis. Komponen ketiga pada pembentukan karakter manusia adalah superego. Menurut Freud,  superego muncul sejak usia sekitar 5 tahun. Akar dari superego ini adalah nilai moral dari orangtua dan lingkungan sekitarnya. Elemen superego inilah yang membentuk karakter manusia untuk memilih, mana tindakan yang benar dan mana yang salah.

 

Penulis tidak ingin berpanjang-panjang menceritakan tiga elemen yang membentuk karakter seseorang. Anda boleh saja tidak percaya pada bisikan nasihat Peri-baik atau rayuan Peri-jahat yang saling bertarung dalam diri Anda. Anda juga bebas untuk tidak meyakini teori Psiko Analisa Sigmund Freud di atas. Tetapi kita terkadang mengalami apa yang dinamakan pergulatan-batin. Contohnya ketika satu saat kita terpaksa berbohong. Di satu pihak id akan berargumentasi bahwa berdusta itu perlu dilakukan untuk kepentingan, keuntungan, atau demi harga diri kita. Tetapi di lain pihak superego mati-matian bersikeras bahwa berbohong itu melawan kaidah moral. Kita pun selama beberapa saat terombang-ambing dalam pertentangan batin, dan peristiwa itu adalah satu kenyataan yang tidak bisa dibantah.

 

Mereka yang pernah membaca riwayat hidup Sang Buddha pasti mengetahui, bahwa untuk merealisasikan cita-citanya yakni mencapai pencerahan, banyak rintangan yang harus Beliau hadapi. Setelah bersusah-payah meninggalkan istananya, pangeran kita ini bertekad untuk meninggalkan keduniawian dan menjadi seorang petapa. Peristiwa ini dikenal sebagai pelepasan agung. Baru saja petapa kita menyerahkan perlengkapan dan atribut kebesarannya, Māra membujuknya untuk kembali ke rumah. Māra dengan kelihaiannya membujuk, menggoda, dan merayu. Ia berjanji, jika sang petapa kembali menjadi pangeran-mahkota, dalam tempo tujuh hari dia akan menjadikannya seorang raja agung yang menguasai dunia ini (cakkavatti mahārāja). Menanggapi tawaran Māra yang menggiurkan itu, sang petapa tidak tertarik sedikit pun dan tidak menggubrisnya. Māra pun naik pitam, dan berjanji untuk mengikutinya ke mana pun si petapa pergi. Dan saat sang petapa lengah, dia akan kembali menggoda dan menjebaknya.

 

Anda tahu siapa itu Māra? Māra adalah tokoh yang menghalangi seseorang yang berusaha untuk menjadi orang suci. Māra adalah penggoda. Dia selalu ingin sang petapa menjadi seorang raja, seorang penguasa digdaya, menjalankan pemerintahannya, menaklukkan negeri-negeri lain, menjalankan bisnis, menghasilkan banyak uang, memupuk harta kekayaan, memiliki banyak wanita cantik, termasyhur hingga kemana-mana, dan apa pun lainnya yang ditawarkan oleh dunia ini. Itulah Māra.

 

Siapakah sesungguhnya Māra itu? Ananda Guruge dalam risalahnya The Buddha’s Encounters with Māra the Tempter, mengemukakan bahwa Māra dapat dilihat sebagai alegorisasi dengan personifikasi yang hampir seketika. Dia adalah kekuatan penggoda, pihak yang berkecenderungan ke arah kejahatan, dan pelaku yang menciptakan konflik moral. Māra mirip dengan Setan atau Syaitan dalam agama Wahyu. Māra digambarkan sebagai Pāpimā atau Si Jahat  (Ingg., The Evil One), juga sebagai Kanha atau Si Hitam.

 

Māra bukan saja personifikasi Si Jahat, tetapi dia sesungguhnya merupakan sosok dewa antropomorfik yang memerintah surga di alam indria atau kāmāvacara-devaloka di alam Paranimmita-Vasavatti. Jadi Māra dinamakan pula sebagai kāmadhāturāja atau raja alam inderia. Dalam posisi ini, dia sama pentingnya dan sepadan prestisiusnya dengan Sakka dan Mahābrahma, yang mana kedua tokoh ini sering disebut-sebut dalam literatur kanonik. Māra atau Māradevaputta ini bukan melulu dewa yang sangat kuat, tetapi juga bertekad mempersulit hidup orang suci. Jadi siapa sebenarnya Māra? Oleh Maha Moggallāna, siswa utama Sang Buddha, Māra berhasil diperdaya dan dibongkar kedoknya. Sang siswa yang memiliki kesaktian yang hebat bisa mengetahui, bahwa dalam kehidupan mereka yang terdahulu, Māra adalah sosok yang bernama Namuci. Pernah ada yang bertanya kepada penulis, apakah Māra itu sama dengan setan? Walaupun keduanya dikatakan sebagai Si Jahat, tetapi cara Buddhisme memandang kejahatan tidaklah sama dengan konsep yang ada dalam agama Wahyu. Perbedaan yang lain, Setan adalah Raja Neraka, padahal Raja Dunia Bawah dalam pandangan Buddhis dipegang oleh Dewa Yama. Sedangkan Māra adalah penguasa yang berasal dari alam dewa tingkat tinggi.

 

Kita lanjutkan cerita kita. Māra yang mengikuti petapa kita selama kurang lebih enam tahun, mendapat peluang untuk menggodanya kembali dalam beberapa kesempatan, tetapi dia gagal untuk membujuknya. Māra yang sudah amat murka sekarang menjelma menjadi Dewa Kematian atau Sang Pencabut Nyawa, dan ia akan beraksi pada saat sang petapa akan mencapai pencerahan agungnya. Māra menunggangi gajah yang dinamakan Girimekhalā dan sepuluh skuadron pasukannya, disiapkan untuk menyerang sang petapa. Ia mendekati sang petapa yang sedang duduk dalam meditasi yang khusuk di bawah pohon Bodhi. Māra sekali lagi mengulangi tawarannya, yang mana sang petapa akan memperoleh segala kejayaan dan kekuasaan atas dunia ini. Sang penantang menolak tawaran itu mentah-mentah : Ia sama sekali tidak tertarik pada ambisi-ambisi yang memikat itu.

 

Pertempuran pun tidak bisa dielakkan lagi. Māra segera memerintahkan bala tentaranya, kuasa-kuasa gelap alam, untuk menyerang Sang Pemberani. Seluruh kuasa gelap alam telah disiapkan dalam suasana hinggar-bingar. Halilintar berdentum menghantam bumi, petir berkilau-binar menyilaukan mata, gempa bumi mengamuk menggetarkan benua, hujan badai menumpahkan terjangan air bah yang mengancam menenggelamkan apa pun yang dilewatinya, angin puting-beliung siap merobohkan akar pohon yang paling kuat sekali pun, serta serpihan-serpihan batu gunung mendekat siap menerjang sang penantang. Sang Pemberani tetap tenang di tengah ancaman bahaya dan horor yang mengerikan itu, serta Ia tetap terlelap dalam meditasinya. Bahkan rasa takut pada kematian pun tak lagi mempan mengusiknya. Māra yang murkanya sudah sampai di ubun-ubun, terpaksa mengeluarkan senjata simpanan pamungkasnya, sebuah cakram pusaka yang dilemparkan ke arah si penantang. Namun dari langit muncul sebuah tirai tembus-pandang, yang melindungi Sang Pemberani ini dari amukan semua senjata itu, disertai turunnya kuntum-kuntum bunga surgawi di sekelilingnya. Melihat sang petapa berhasil mengalahkan senjata pamungkas itu, pertempuran telah berakhir. Dipenuhi rasa kecewa, Māra meninggalkan arena pertempuran: ia merasa takhtanya goyah. Sang Penantang telah menghempaskan dirinya ke jurang kekalahan.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210811

 


Kamis, 29 Juli 2021

TAKUT MATI



 

Alkisah di zaman dahulu kala di sebuah pulau yang bernama Aolai di lepas pesisir Benua Timur, seekor kera batu dilahirkan atas Kuasa Surga dan Bumi. Di pulau gunung yang ditempatinya si kera segera mampu berlari dan melompat, makan dari tetumbuhan dan pepohonan, minum dari anak sungai dan mata air, memetik bunga gunung dan mencari buah-buahan. Dia berkawan dengan serigala, bepergian dengan harimau dan macan tutul, bersahabat dengan rusa, dan berteman dengan sesama bangsa kera.

 

Pada satu hari si kera batu mendapatkan tantangan dari kawan-kawannya, yakni menemukan asal-muasal aliran air hingga bisa mencapai sungai tempat mereka mandi. Barang siapa yang bisa menemukan jawabannya, dia akan diangkat sebagai raja. Memang sudah jadi takdir si kera batu, yang dengan modal keberanian dan kecerdikannya, dia melompat dan berhasil menerobos guyuran-deras air terjun hingga ia mencapai sebuah goa misterius di dalamnya. Bukan saja goa tersembunyi yang ditemukannya, melainkan sebuah istana batu yang megah, lengkap dengan perabotannya. Tempat itu dinamakan "Goa Tirai Air di Gunung Bunga dan Buah."

 

Singkat cerita semua bangsa kera di pulau itu diajaknya menempati goa beserta istana batu yang baru ditemukannya. Di saat mereka masih dihinggapi eforia kegembiraan, si kera batu berseru, "mengapa kalian belum menjadikan aku raja?" Mendengar ucapan ini semua kera membungkuk dan bersujud, tak berani mereka melawan titahnya. Selanjutnya mereka berbaris rapi dalam kelompok juga dalam urutan umur, seperti layaknya dalam sebuah sidang resmi. Dengan rasa hormat mereka semua menobatkan si kera batu sebagai "Raja Agung Seribu Tahun". Dia kemudian mengambil mahkota, menetapkan kata "batu" sebagai tabu, dan menyebut dirinya sendiri "Raja Kera Tampan."

 

Mengendalikan seluruh kerajaan kera, monyet, gorila, siamang, beruk, lutung, makaka, dan lainnya. Si Raja Kera Tampan membagi mereka menjadi penguasa dan bawahan, pembantu dan pelaksana. Di pagi hari mereka berkelana di Gunung Bunga dan Buah, di sore hari mereka pulang dan melewatkan malamnya di Goa Tirai Air.  Mereka semua sepakat tidak bergabung lagi dengan kawanan burung atau bepergian dengan hewan buas. Mereka memiliki raja mereka sendiri, serta mereka menikmati dunianya sendiri.

 

Semangat si Raja Kera Tampan yang menggebu-gebu dengan polosnya ternyata tidak berlangsung lama. Pada suatu hari ia seketika merasa tertekan sewaktu melakukan perjamuan dengan segenap rakyatnya, dan ia mulai menangis tersedu-sedu. Para kera yang terkejut mengelilingi sang raja serta bertanya, "Ada apa Paduka?" "Walaupun aku sekarang ini bahagia," tukas Raja Kera, "Aku khawatir akan masa depan. Ini yang membuatku tertekan." Kera-kera yang lain tertawa dan berkata, "Paduka ini tamak. Kita semua berpesta-pora setiap hari; kita hidup dalam sebuah gunung-firdaus, dalam sebuah goa kuno di benua yang hebat. Kita dijauhkan dari penguasaan kaum kuda bertanduk satu, diluar dominasi para burung-api, dan tak terjangkau oleh pengekangan raja manusia. Kita bebas melakukan apa yang kita mau. Kita ini sungguh-sungguh beruntung. Mengapa membuat diri Paduka sendiri mengkhawatirkan masa depan?"

 

Menanggapi ini si Raja Kera mengutarakan,  "Ya, semua yang kalian katakan itu benar. Tetapi akan tiba waktunya ketika kita menjadi tua dan lemah, serta dunia-bawah dikuasai oleh si Raja Neraka. Pada saat waktunya kita mati, kita tidak hidup lagi diantara Yang Terberkahi, dan hidup kita semua akan sia-sia belaka." Semua kera menutup wajah mereka dan setiap kera menangis ketika memikirkan tentang kematian. Tiba-tiba seekor siamang menyeruak dari tempat duduknya dan berkata dengan lantang, "Jika Yang Mulia berpikir sedemikian jauh, inilah saatnya permulaan pencerahan. Sekarang dari Lima Makhluk Hidup, hanya ada tiga yang tidak berada dibawah penguasaan si Raja Neraka."

 

"Apakah engkau tahu siapa yang tiga itu?" tanya si Raja Kera. "Ya," jawab si siamang. "Yang tiga itu adalah para Buddha, kelompok Yang Kekal, dan para Suciwan (Yang Kekal atau 仙 xiān adalah orang yang telah mencapai "keabadian" menurut ajaran Tao).  Mereka semua bebas dari Roda Reinkarnasi. Mereka tidak dilahirkan dan mereka tidak akan mati. Mereka abadi seperti Surga dan Bumi, juga seperti gunung dan sungai." "Dimana mereka tinggal?" si Raja Kera bertanya. "Hanya di dunia manusia," si beruk menyahut, "di goa-goa kuno pada gunung-gunung ajaib." Si Raja Kera sangat senang mendengar kabar ini.

 

"Aku akan meninggalkan kalian besok," ia berkata "Jika demikian jalannya, aku akan berkelana hingga ke ujung lautan dan pergi ke tepi langit guna menemukan tiga jenis makhluk itu. Setelah itu akan kita dapatkan kemudaan abadi sekaligus mampu membebaskan kita dari ancaman sang Raja Neraka untuk selamanya." Inilah letak kebaikannya! Cukup dengan kata-kata ini, ia belajar bagaimana ia bisa bebas dari Roda Reinkarnasi dan menjadi Suciwan Agung Menyamai Surga.

 

Selanjutnya si Raja Kera selama bertahun-tahun setelah meninggalkan pulau kediamannya, mengembara di Benua Timur yang maha-luas itu. Tak peduli ia sedang sarapan pagi atau saat pergi tidur di malam hari ia selalu bertanya tentang Buddha, Yang Kekal, dan Suciwan, serta mencari rahasia kemudaan abadi. Ia mengamati bahwasanya orang-orang di dunia terlalu peduli dan sibuk pada kekayaan dan kemasyhuran, yang selalu mereka kejar.

 

 

Jadi kapan waktunya perjuangan bagi keberuntungan dan ketenaran akan berakhir?

Membanting tulang dari subuh hingga malam, tak akan menyenangkan hatimu.

Mereka yang menunggang keledai memimpikan mengendarai kuda jantan,

Sang perdana menteri selalu ingin menjadi pangeran.

Kegelisahan mereka untuk menghentikan pekerjaan hanya ketika mereka harus makan atau berpakaian;

Mereka tidak pernah takut bahwa si Raja Neraka akan menjemput mereka.

Ketika mereka berusaha memastikan anak atau cucu mereka mewarisi kekayaan dan kekuasaan mereka,

Mereka tidak punya waktu sedikit pun untuk berhenti dan berpikir.

 

 

Kita tinggalkan dulu si Raja Kera yang sedang mencari Tiga Makhluk Agung itu. Sekarang kita beralih pada dunia yang diperuntukkan bagi mereka yang sibuk mencari kekayaan dan kemasyhuran. Kita akan menuju Metropolis Tokyo, ibukota paling besar sedunia, rumah bagi tiga-puluh-dua juta orang. Di satu sudut Tokyo yang paling gemerlap, Ginza, kawasan perbelanjaan yang paling top, berjejer butik kelas atas, gerai perhiasan mewah, bar koktail dan kedai sushi yang menyediakan kudapan yang lezat. Pada akhir pekan, jalan utama Chuo Dori merupakan jalur pedestrian paling trendi, yang dipenuhi oleh pencari kesenangan dan turis mancanegara. Bukan saja di akhir pekan, ketika waktu sudah larut malam pun Ginza masih dipadati pekerja Jepang yang baru pulang dari kantor mereka, dan banyak diantara mereka enggan untuk pulang ke rumahnya.

 

Jika kita meninggalkan Tokyo menyeberangi samudera terluas di dunia sejauh hampir sebelas ribu kilometer ke timur, kita akan mencapai New York, metropolis terkemuka di dunia selain Tokyo. Di kota-mega yang tidak pernah tidur ini, ada lagi satu lokasi yang dapat dipertimbangkan untuk dikunjungi. Satu persimpangan komersial utama, tujuan favorit turis, yang merupakan perpotongan diantara Broadway dan Seventh Avenue, yang dikenal sebagai Times Square. Pada gedung-gedung yang tinggi menjulang, dindingnya dipenuhi papan billboard dan reklame raksasa. Saking terkenalnya, lokasi ini dinamakan pula "Crossroads of the World". Times Square tidak pernah sepi. Di hari biasa tiga-ratus hingga empat-ratus ribu orang singgah di sini. Di malam Tahun Baru lebih dari setengah juta orang berkumpul untuk merayakan malam pergantian tahun.

 

Ginza dan Times Square adalah ikon peradaban modern yang gemerlap, yang tidak akan dilupakan oleh para pelancong dan penikmat kesenangan. Perjalanan berikutnya, penulis akan mengajak para pembaca ke lokasi yang sangat berbeda. Jika kita sekarang meninggalkan New York ke arah timur hingga mencapai kira-kira dua-belas ribu kilometer, kita akan mencapai Varanasi di India. Ini adalah sebuah kota berukuran kecil yang luasnya hanya seperempat DKI Jakarta, serta tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan dua metropolis yang disebutkan di atas. Juga kalah jauh dibandingkan dengan Delhi, Mumbai, Bangalore, Chennai, Hyderabad, atau Kolkata. Varanasi bukanlah lokasi yang menyenangkan bagi turis mancanegara untuk berpesiar. Seperti yang terjadi di banyak kota di India, kesan semrawut dan kumuh tampak di sebagian area kotanya. Keadaannya bahkan lebih kotor daripada daerah slum di ibukota Indonesia. Sapi, hewan yang dianggap suci di India, bebas berkeliaran di jalan dan membuang hajat dimana saja. Di bulan April hingga Juni yang merupakan musim panas di India, suhu di siang hari bisa mencapai 45 derajat Celcius. Kita yang tinggal di Jakarta saja sudah amat gerah pada temperatur 30 derajat lebih di siang hari.

 

Jadi apa yang hendak ditonjolkan di sini? Ini bukanlah sembarang lokasi di muka bumi ini. Varanasi adalah kota suci bagi umat Hindu dan penganut Jainisme, yang setara dengan Mekkah bagi umat Islam. Sebagian kota ini terletak di bantaran utara Sungai Gangga. Varanasi adalah kota tua yang paling tidak telah berusia tiga ribu tahun dan merupakan kota budaya di India. Bukan itu saja, kurang lebih sepuluh kilometer di sebelah timur-laut pusat kota Varanasi terletak Sarnath, tempat Buddha Gautama memutar roda-dharma 2600 tahun yang lalu. Terlepas dari semua kelebihannya, yang paling istimewa adalah Varanasi menjadi tempat tujuan kematian, atau dengan kata lain menjadi tempat kematian idaman.

 

Tentu Anda bertanya, mengapa kota itu menjadi tempat kematian idaman? Bagi mereka yang percaya, mati di sini dan sesaat kemudian jasad mereka akan dibawa dan disemayamkan di Manikarnika Ghat atau Harishchandra Ghat. Kedua Ghat tersebut adalah undakan batu berbentuk anak-tangga yang berada persis di bantaran Sungai Gangga. Di sinilah jenazah mereka diberi tumpukan kayu bakar dan langsung dikremasikan. Seiring dengan melelehnya daging-manusia yang dimakan api, dengan diiringi doa dan pembacaan mantram suci oleh rohaniwan dan keluarganya, abu jenazahnya akan tertiup angin dan dibawa oleh arus Sungai Gangga. Tirta-suci akan membasuh sisa jasmani orang mati itu dan membebaskannya dari Roda Reinkarnasi, bahkan bagi orang yang jahat sekali pun. Agar bisa mati di Varanasi mereka harus menunggu kematian di rumah singgah, yang dinamakan bhawan. Ada beberapa bhawan yang disediakan dan bisa ditempati oleh mereka yang berniat menunggu kematiannya.

 

Demikianlah sedikit kisah tentang Varanasi sebagai tempat yang dipilih oleh mereka yang ingin bebas dari kelahiran-kembali dan moksa pun dicapai pada akhirnya. Bagi mereka yang masih tinggal di bhawan sambil menantikan momen penting itu, kematian bukanlah hal yang menakutkan. Mereka tidak lagi gentar pada Sang Raja Neraka yang akan menjemput mereka.

 

Demikianlah ketika segelintir orang bersiap-siap menanti ajal yang akan menjemput mereka, mayoritas manusia acuh tak acuh dan menganggap tabu membicarakan perihal kematian, yang tanpa ampun akan merenggut nyawa mereka. Berkaca dari pengalaman Si Raja Kera, yang melihat bahwasanya orang-orang di dunia ini terlalu peduli dan sibuk pada kekayaan dan kemasyhuran ...

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210728

 


Kamis, 15 Juli 2021

SHANGRI-LA


 

Kisah kita kali ini menceritakan Robert Conway, seorang mantan tentara, penulis, dan diplomat Kerajaan Inggris. Sebelum kembali ke Inggris, Conway berkewajiban menyelesaikan tugasnya yang terakhir di tahun 1931 di India, yakni mengungsikan 90 orang warga kulit putih yang disandera di kota Baskul ke kota Peshawar. Setelah mengantarkan para sandera ke tempat yang aman, dengan meminjam pesawat pribadi Maharaja Chandapore, Conway kembali ke tempatnya bertugas bersama dengan bawahannya seorang kadet bernama Mallinson, disertai dua orang lain yaitu Nona Brinklow, seorang misionaris, dan seorang Amerika bernama Barnard.

 

Selang beberapa lama setelah pesawat lepas landas mereka baru menyadari ada yang tidak beres. Ternyata pilot membawa mereka ke arah lain, bukan ke tempat yang seharusnya dituju. Hari menjelang malam ketika pesawat mendarat di bandara yang asing dan sekelompok orang dari suku setempat menambah bahan bakar ke badan pesawat. Mallinson berinisiatif menyergap sang pilot, namun pilot mengacungkan sepucuk revolver, yang memaksa ia mengurungkan niatnya dan kembali ke bangku penumpang. Pesawat segera mengudara kembali dan tampaknya mereka terbang di atas pegunungan bersalju. Pesawat tiba-tiba menukik kehilangan tenaga dan pilot terpaksa mendaratkan pesawatnya di lahan datar yang bersalju. Perdaratan darurat membuat pesawat rusak berat, namun keempat penumpangnya selamat, walaupun kedapatan sang pilot misterius itu telah tewas.

 

Mallinson dan Conway berupaya memperkirakan lokasi jatuhnya pesawat, dan memperkirakan mereka berada di pegunungan Karakoram. Conway berspekulasi mereka terbang di atas Tibet. Sebagai orang yang terbiasa mendaki gunung, Conway menyadari lokasi mereka lebih terpencil ketimbang Gunung Everest yang terkenal itu. Nona Brinklow mulai cemas ketika mengingat cerita temannya sesama misionaris, bahwa penduduk Tibet itu merupakan orang-orang aneh. Mereka percaya manusia itu keturunan dari bangsa kera. Tentu saja ini hanya folklore setempat, bukan ajaran teori evolusi Darwin. Keempat penumpang pesawat naas itu amat khawatir atas keselamatan mereka. Udara semakin dingin dan kegelapan malam segera menyergap. Mereka putus asa dan tidak tahu harus berbuat apa.

 

Menjelang tengah malam belasan orang mendekati lokasi jatuhnya pesawat. Mereka mengusung sebuah tandu yang dinaiki seorang yang lebih tua yang mengenakan pakaian berwarna biru. Sewaktu mereka mendekat, Conway melihat orang yang ditandu itu ternyata pimpinannya, dan ia seorang Tionghoa yang mengenakan gaun sutera bersulam. Orang itu fasih berbahasa Inggris. Namanya Chang. Conway memperkenalkan dirinya dan teman-temannya.

 

Chang menawarkan dirinya sebagai penunjuk jalan. Mallinson minta Chang agar mereka ditunjukkan jalan ke dunia yang beradab. Chang malah balik bertanya apakah ia dan teman-temannya datang dari dunia yang tak-beradab. Orang-orang Tibet mengenakan pakaian dari kulit domba, topi dari bulu anjing-gunung, dan sepatu bot dari kulit yak. Mereka menawarkan anggur dan buah-buahan kepada Conway dan teman-temannya. Sepanjang perjalanan Chang dan Conway dengan akrabnya bercakap-cakap. Mereka membicarakan gunung elok berbentuk kerucut sempurna, yang oleh orang Tibet dinamakan Karakal.

 

Melalui perjalanan yang panjang dan berat, Chang membawa mereka melintasi pegunungan yang dingin dan bersalju. Setelah berjalan cukup jauh, di pagi harinya saat mentari baru saja menyinari bumi, keempat tokoh kita ini dihadapkan pada suatu lokasi yang sulit dipercaya. “Bagi Conway, yang melihatnya untuk pertama kali mungkin ini hanya khayalan belaka … . Tempat ini sungguh-sungguh aneh dengan pemandangan luar biasa. Sekelompok rumah indah berwarna-warni bertebaran di sisi gunung dengan … eloknya bunga-bunga yang bermekaran bersemai dengan latar tebing batu yang terjal. Lanskapnya luar biasa dan sangat permai. Tak kuat kita menahan rasa haru sewaktu mata kita memandang atap biru di atas bukit batu kelabu … . Jauh di seberang sana tampak sebuah piramida yang mempesona, dengan selimut salju menutupi Karakal”. Itulah kesan pertama Conway ketika melihat lokasi yang menakjubkan itu. Itulah Shangri-La, surga yang hilang.

 

Shangri-La merupakan biara Tibet atau kediaman Lama (Lama berarti biarawan atau rahib), yang terletak di sisi gunung sempurna yang dinamakan Rembulan Biru. Di lembah di bawah biara itu terhampar ladang yang subur dan juga rumah-rumah kediaman penduduknya. Conway dan teman-temannya tinggal di biara yang berwarna-warni dan mereka semua terkesima melihat kelengkapan yang ada di dalamnya. Biara dilengkapi dengan peralatan modern seperti bathtub, sistem pemanas sentral, sebuah perpustakaan yang besar dan lengkap, barang-barang keramik dari porselen-cina, sebuah grand piano, alat musik harpa, serta berlimpahnya makanan dan minuman yang berasal dari lembah subur di bawah sana. Conway bahkan membaca label pada bathtub porselen yang dipakainya : “Akron, Ohio”. Chang menerangkan para penjelajah datang dan pergi ke Shangri-La sambil membawa barang-barang itu.

 

Keempat tamu tenggelam dalam kehidupan rutin. Mereka bersyukur pada hangatnya siang dan dinginnya malam, menikmati jalan-jalan di taman yang tertata indah, memanfaatkan waktu luang yang panjang, mencicipi makanan dan minuman pilihan, meminjam buku dari perpustakaan, dan menikmati alunan musik Mozart. Sewaktu makan malam Conway menanyakan Chang apakah masyarakat di sana menerima pengunjung dari luar. Chang menjawab mereka jarang melakukan hal itu. Masyarakat di sana dapat bertahan tanpa tercemar dari dunia luar. Nona Brinklow bertanya berapa banyak rahib yang ada dan apa kebangsaan mereka. Chang menjawab masyarakat mereka hanya terdiri dari lima puluh orang dari berbagai bangsa, tetapi kebanyakan orang Tionghoa dan Tibet.

 

Chang dan Conway mendiskusikan falsafah yang dianut oleh Shangri-La, yang dijawab oleh Chang mereka menerapkan sikap tidak berlebih-lebihan atau sikap jalan tengah dalam segala hal. "Kami memimpin dengan menerapkan aturan yang tidak berlebihan, dan sebaliknya kami puas atas kepatuhan dalam skala menengah. Kami tidak memiliki hal yang kaku, atau aturan yang tidak dapat ditawar lagi. Kami kerjakan apa yang kami anggap pantas, yang sedikit hikmahnya kami peroleh dari masa lalu, tetapi lebih banyak kami ambil dari kebijaksanaan saat ini, serta tidak lupa ditambah dengan kemampuan cenayang kami untuk meneropong masa depan”.

 

Lama kelamaan Conway mendapatkan dirnya terbenam dalam ketenangan dan kedamaian Shangri-La. Ia kehilangan segala yang berkaitan dengan ambisi dan nafsu duniawi. Barnard merasa kerasan tinggal di Shangri-La dan tidak ingin kembali. Sesungguhnya Barnard masih dikejar-kejar oleh polisi karena terlibat kasus penipuan yang dilakukannya. Barnard minta kepada Chang agar ia diizinkan tinggal di Shangri-La selamanya. Nona Brinklow juga ingin tetap tinggal di Shangri-La. Ia ingin mendidik masyarakat setempat agar memeluk agama Kristen. Sekarang tinggal Mallinson yang makin lama makin merasa jenuh dan menggerutu setiap hari.

 

Chang memperkenalkan Conway pada seorang wanita Manchu yang bernama Lo-Tsen. Lo-Tsen seorang gadis cantik dengan umur sekitar dua puluhan dan mahir sekali memainkan harpa. Ia sama sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Tertarik akan kepandaiannya memainkan musik dan kecantikannya, Conway jatuh cinta kepadanya. Chang menasehati Conway agar hubungan mereka berdua hendaknya bersifat spiritual. Chang agaknya pernah tersandung dengan kejadian serupa. Sejatinya Lo-Tsen sudah bermukim di Shangri-La dalam kurun waktu yang lama. Belakangan Mallinson pun jatuh cinta kepada perempuan Manchu ini.

 

Waktu terus berjalan, sampai tiba suatu saat Lama-Kepala berniat untuk bertemu dengan Conway. Melalui audiensi khusus, Lama-Kepala bercerita tentang sejarah Shangri-La. Beberapa ratus tahun yang lalu rahib Perrault datang dari Eropa ke Tibet dan kemudian mendirikan Shangri-La. Sang rahib sendiri dikabarkan menghilang sejak saat itu, dan Conway bisa menebak dengan jitu bahwa sesungguhnya Lama-Kepala tidak lain rahib Perrault sendiri. Lama-Kepala sendiri selama ini terbenam dalam meditasi yang khusuk. Ia sudah kehilangan gairah kemanusiaannya.

 

Chang terperanjat sewaktu Lama-Kepala minta bertemu dengan Conway untuk kedua kalinya. Chang sendiri hanya diizinkan untuk bertemu dengan Lama-Kepala paling tidak lima tahun sekali. Tidak seperti biasanya, Lama-Kepala meminta bertemu Conway tiga, empat, sampai lima kali. Lama-Kepala menjelaskan kedatangan Conway dan kawan-kawan bukanlah kebetulan belaka. Mereka berdua berdiskusi banyak hal tentang filsafat dan sejarah. Lama-Kepala yakin Conway memiliki kemampuan dan pengalaman yang mumpuni sampai ia dapat mengerti topik-topik ajaran yang sulit. Pada akhir pertemuan yang kelima Lama-Kepala menunjuk Conway sebagai penggantinya, dengan tugas melanjutkan kepemimpinan Shangri-La. Setelah pertemuan terakhir itu, Lama-Kepala wafat dengan tenang.

 

Conway menceritakan ikhwal pertemuannya dengan Lama-Kepala kepada ketiga temannya. Mallinson tidak mempercayai sejarah Shangri-La yang fantastik itu, juga berpendapat tidak mungkin orang dapat berusia ratusan tahun. Mallinson mengingatkan Conway -- atasannya yang lulusan Oxford yang begitu brilian, dan sekaligus dipuja sebagai pahlawan bagi korban penyanderaan di Baskul -- kini menjadi orang yang pasif dan nampak dungu. Ia berpendapat kondisi di sana begitu buruk, serta ia dan Lo-Tsen berencana untuk segera ke luar dari sana. Akhirnya keduanya mendapatkan beberapa pembawa barang yang kebetulan akan keluar dari Shangri-La. Conway diajak untuk mengikuti jejak mereka berdua. Setelah diliputi kebimbangan, akhirnya Conway memutuskan untuk menghantarkan kepergian mereka. Rencana Conway meninggalkan Shangri-La menimbulkan kegemparan masyarakat di sana. Hanya Chang yang berkata dengan penuh keyakinan bahwa Conway akan kembali.

 

Menyeberangi perbatasan ke dunia luar, angin kencang, udara dingin, dan alam yang ganas membuat Mallinson, Conway, Lo-Tsen dan para pengiringnya tertatih-tatih melewati pegunungan bersalju. Beberapa saat kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi. Lo-Tsen perlahan-lahan berubah wujud dari gadis cantik yang belia menjadi wanita dewasa, lalu menjelma menjadi wanita sepuh, dan akhirnya menjadi nenek tua-renta yang sekarat. Ternyata daya magis Shangri-La lenyap begitu mereka keluar dari firdaus itu. Daya magis yang selama ini membuat Lo-Tsen tampak belia, padahal sesungguhnya ia telah berusia ratusan tahun. Lo-Tsen jatuh ke tanah, mengerang, dan ajal segera menjemputnya. Mallinson begitu shock melihat orang yang menjadi kekasihnya berubah wujud dan meninggal mengenaskan. Dengan tubuh letih Mallinson pun jatuh di samping kekasihnya dan ia pun turut meregang nyawa. Conway terperanjat menyaksikan nasib kedua sahabatnya yang berakhir tragis.

 

Conway yang tertekan mendadak kehilangan ingatan. Ia meneruskan perjalanan sendirian sampai dirinya ditemukan regu penyelamat yang dikirim Pemerintah Inggris di India. Conway segera dirawat di sebuah rumah sakit di Chung-Kiang, sampai ia ditemukan Rutherford sahabat karibnya. Selama ditemani oleh Rutherford, Conway menceritakan seluruh kisah petualangannya di Shangri-La, dan Rutherford menuliskan menjadi manuskrip, hingga orang luar mengetahui keberadaan Shangri-La. Conway pun berangsur-angsur pulih, bersedia mengikuti sahabatnya yang akan berlayar ke Honolulu. Namun sesaat sebelum naik ke kapal, Conway membatalkan kepergiannya dan ia melanjutkan perjalanan seorang diri ke perbatasan Tibet. Otoritas setempat mencegah Conway yang akan melintasi pegunungan yang tidak bertuan itu, namun dia nekat melanjutkan perjalanannya. Sejak saat itu orang tidak tahu lagi ke mana Conway pergi. Konon kabarnya dia kembali ke Shangri-La guna menuntaskan takdirnya.

 

Mungkin Anda para pembaca mengira cerita di atas adalah sebuah kisah nyata. Fantastik memang, tetapi ini hanyalah kisah dalam sebuah novel laris yang dikarang oleh James Hilton pada tahun 1933. Judulnya: Lost Horizon, yang jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai "Surga yang Hilang." Dalam bahasa Tibet "Shangri-La" dinamakan pula "Shambala." Sebagai penutup, penulis mengajukan pertanyaan ini kepada pembaca sekalian, apakah Shangri-La tersembunyi ini sungguh-sungguh ada?

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210714