Kamis, 23 September 2021
KEHIDUPAN ZAMAN DAHULU DAN SEKARANG
Jumat, 10 September 2021
KEN AROK DAN KEN DEDES
Mereka yang pernah belajar Sejarah Nusantara
di bangku sekolah pasti mengenal riwayat Kerajaan Majapahit, yang pada masa
jayanya pernah menguasai sebagian wilayah yang kelak menjadi cikal bakal
Indonesia. Tetapi apakah Anda tahu bahwa raja atau ratu Majapahit memiliki
leluhur dari dinasti sebelumnya? Ya benar, Dinasti Tumapel (atau Singasari) yang merupakan
pendahulunya akan menurunkan penguasa Dinasti Majapahit. Agama rakyat pada masa
itu adalah Sinkretisme Hindu-Buddha, dengan penekanan pada pemujaan terhadap
Shiva dan banyak dipengaruhi oleh ajaran Buddha-Tantrayana.
Dinasti Tumapel didirikan oleh
Ken Arok atau Ranggah Rajasa, mungkin juga pernah didengar oleh Anda sekalian.
Riwayat hidup Ken Arok atau Ken Angrok didapat dari Serat Pararaton, satu
kepustakaan berbahasa Jawa Kawi, dan diperkirakan ditulis antara tahun 1481
hingga 1600. Tidak diketahui siapa penulis Pararaton, tetapi dari sub-judul
kitab ini yang bertuliskan "Serat Pararaton atawa Katuturanira Ken Angrok"
(artinya "Kitab Raja-raja atau Cerita Mengenai Ken Angrok"),
penekanan atas pentingnya kisah Ken Arok mendominasi naskah kuno ini. Atas jasa
Jan Laurens Brandes, naskah ini diterjemahkan ke dalam bahasa Belanda pada
1897, dengan judul Pararaton (Ken Arok)
Het Boek Der Koningen van Tumapel en van Madjapahit, Uitgegeven en Toegelicht.
Kitab Pararaton dibuka dengan menceritakan
tokoh kita ini dalam satu kehidupannya yang lampau. Dikisahkan bagaimana orang
ini berlaku tidak baik sampai ia bertemu dengan seorang petapa yang bernama Pu Tapawangkeng.
Tokoh kita ini bertekad untuk dilahirkan-kembali menjadi orang yang terkemuka
kelak. Demi mencapai cita-citanya ia rela dijadikan kurban persembahan (yadnya) sang petapa, kepada
Yamadipati atau dewa penjaga pintu dunia bawah.
Demikianlah ketika tekad itu sudah saatnya
membuahkan pahala, Batara Brahma mencari seorang perempuan muda yang subur. Di
desa Pangkur ada sepasang pengantin baru, dengan yang lelaki bernama Gajah Para
dan yang perempuan dipanggil Ken Endok (sebutan "Gajah",
"Lembu", atau "Kebo" pada zaman itu adalah panggilan
kehormatan, bahwa orang itu berasal dari strata atas atau kaum bangsawan).
Batara Brahma yang tak-terlihat melakukan perkawinan dengan Ken Endok, dan
berpesan pada perempuan itu bahwa anak yang akan dilahirkan kelak adalah
puteranya. Segera setelah kejadian gaib itu suami isteri itu bercerai, dan
Gajah Para pulang ke Campara. Belum sampai lima hari kemudian ia telah
meninggal. Berkomentarlah orang banyak: "Alangkah panasnya anak yang
berada di dalam kandungan itu. Belum sampai lima hari ayahnya telah meninggal
dunia."
Setelah usia kandungannya cukup, Ken Endok
melahirkan seorang bayi laki-laki yang dinamakan Ken Arok. Tidak mampu
memelihara anak karena miskin, bayi yang masih merah itu dibuang oleh ibunya ke
kuburan. Adalah seorang pencuri, yang bernama Lembong, yang kebetulan melewati
kuburan itu. Dia melihat seberkas cahaya dan memdengar suara anak kecil
menangis. maka didekatimya tempat itu, dan didapatinya bayi itu. Lalu bayi
lelaki itu digendong, dibawanya pulang, dan diangkat sebagai anaknya sendiri.
Karena diangkat anak oleh Lembong, Ken Arok
pun sejak kecil tumbuh menjadi berandalan. Sesudah tumbuh besar Ken Arok
meninggalkan Lembong dan ia diangkat anak oleh Bango Samparan, seorang penjudi
di Karuman, setelah sang penjudi mendapat wangsit dari para dewa. Pada saat
menemukan Ken Arok, Bango Samparan sudah bangkrut karena kalah terus, tetapi
nasib berubah seratus delapan puluh derajat sejak ia membawa anak angkatnya ke
tempat perjudian. Sekarang seluruh harta kekayaannya telah kembali dan ia
bertambah sayang kepada Ken Arok. Belakangan Ken Arok belajar baca-tulis bahasa
Jawa Kuno dan juga tentang candra-sangkala di padepokan seorang pandita di
Sagenggang. Tidak itu saja, Ken Arok sempat dipungut anak oleh Pu Palot,
seorang pandai emas, yang menurunkan ilmunya kepada anak angkatnya.
Karena wataknya yang tidak baik, Ken Arok
sering berseteru dengan penduduk setempat ketika ia melakukan pengembaraan.
Dalam Pararaton disebutkan dua sampai tiga kali dia diselamatkan dari bahaya
yang mengancam nyawanya. Seperti yang terjadi di Gunung Kryar Lejar, tempat
para dewa berkumpul dan Batara Guru mengatakan bahwa Ken Arok adalah puteranya,
dan dia telah ditetapkan akan membawa kestabilan dan kekuasaan di Jawa.
Jauh di Jambudvipa atau di Tanah India ada
seorang brahmana yang dipanggil Danghyang Lohgawe, yang biasa memuja Dewa
Vishnu. Pada satu kesempatan dalam penerawangannya, ia mendengar bisikan:
"Wahai brahmana, hentikanlah pemujaan kepada arca dewa. Aku tak ada di
sini, aku menjelma jadi manusia di Tanah Jawa. Adalah anak yang bertangan
panjang, lututnya besar, telapak tangan kanannya bergambar roda, yang kiri
bergambar kerang, yang bernama Ken Arok. Carilah dia di tempat perjudian.
Singkat cerita sampailah Sang Brahmana di Desa Taloka dan di sana pada satu
tempat orang mencari peruntungan, nampak seseorang yang mirip dalam petunjuk
yang diberikan oleh dewa. Lalu berkatalah Lohgawe, "agaknya engkaulah Ken
Arok, seperti yang muncul dalam penerawangan saya." Ken Arok menjawab,
"benar, Tuan. ananda bernama Ken Arok." Dipeluklah pemuda itu oleh
Sang Brahmana. "Saya angkat engkau sebagai anakku, saya bantu dalam
kesukaran, saya pelihara kemana pun engkau pergi."
Selanjutnya Ken Arok dan ayah angkatnya pergi
dari Taloka ke Tumapel, sebuah wilayah otonom yang berada di bawah Kerajaan
Daha. Sesampainya di sana keduanya berkesempatan untuk bertemu dengan Akuwu
dari Tumapel yang bernama Tunggul Ametung. Sang Brahmana disambut dengan baik
oleh Sang Akuwu dan diminta agar ayah dan anak angkat tinggal di Tumapel, serta
permintaan agar Ken Arok dapat menghamba kepada Sang Akuwu juga diterima dengan
senang hati. Mulai hari itu Ken Arok menjadi pengawal Tunggul Ametung dan
mengabdikan diri cukup lama.
Tersebutlah ada seorang pandita bernama Pu
Purwa yang memeluk agama Buddha Mahayana di Desa Panawijen, dan di sebidang
lahan pertanian di sana ia membangun sebuah tempat pertapaan. Sebelum menjadi
pandita ia memiliki seorang puteri, dan anak gadis ini sekarang sudah dewasa
bernama Ken Dedes. Anak ini sangat cantik, tidak ada yang bisa menandinginya,
sehingga ia terkenal dari timur Gunung Kawi hingga ke Tumapel. Terdengarlah
kabar tentang keistimewaan gadis itu, lalu Tunggul Ametung berkunjung ke
Panawijen, dan sangat tertariklah sang akuwu kepadanya. Karena saat itu ayahnya
sedang berada di hutan, Ken Dedes meminta Tunggul Ametung supaya
sabar menunggu. Namun sang akuwu tidak kuasa menahan diri, Ken Dedes pun
dibawanya pulang dengan paksa ke Tumapel untuk dinikahi.
Ketika Pu Purwa pulang ia murka mendapati puterinya telah dilarikan
orang dan ia pun mengutuk: "Hai orang yang melarikan anakku, semoga tidak
mengenyam kenikmatan, matilah dia dibunuh dengan keris ... Sedangkan anakku
yang telah mempelajari ilmu untuk menerangi dunia, harapanku semoga dia selamat
dan besar kebahagiaannya."
Sesampainya di Tumapel, Ken Dedes langsung
diperisteri oleh Tunggul Ametung. Semakin besarlah kasih sang akuwu ketika
mendapati tanda-tanda isterinya telah hamil. Pada suatu hari Tunggul
Ametung dan Ken Dedes pergi bertamasya ke Hutan Baboji. Setibanya di taman
Ken Dedes turun dari kereta, kebetulan dengan perkenan dewa, kain Ken Dedes
tersingkap, sehingga auratnya yang bersinar terlihat oleh Ken Arok yang
sedang bertugas mengawalnya. Melihat kecantikannya yang luar biasa, jatuh
cintalah Ken Arok, hingga tak tahu harus berbuat apa.
Sepulangnya dari sana Ken Arok menemui ayah
angkatnya dan bertanya, "Bapak, adalah seorang wanita yang pusatnya
mengeluarkan cahaya. Apakah itu penanda baik atau buruk?" "Anakku,
jika ada wanita seperti itu, namanya Stri
Nariçwari, wanita paling utama. Meskipun orang hina yang mengambil dia
sebagai isterinya, maka orang itu akan jadi raja besar. Siapakah dia,
anakku?" "Dia adalah isteri dari Akuwu Tumapel. Saya akan membunuhnya
dengan keris, pasti matilah dia, jika Bapak mengizinkan." Ayahnya
menjawab, "memang Tunggul Ametung akan mati olehmu. Tetapi saya tidak baik
jika mengizinkan kehendakmu, bukan perbuatan brahmana, tetapi
sekehendakmulah."
Gagal mendapat restu dari ayah
angkatnya, Ken Arok mengunjungi ayah angkatnya yang lain Bango Samparan di
Karuman, dan meminta pendapatnya. Bango Samparan berkata, "saya menyetujui
jika engkau mau membunuh sang akuwu dengan keris. Tetapi, anakku, dia itu
sakti, mungkin tidak akan terluka ditusuk oleh sembarang keris. Adalah seorang teman saya pandai besi di Lulumbang, bernama Pu
Gandring. Keris buatannya sangat ampuh, tak ada orang yang dapat
menangkalnya." Setelah mendapat nasihat itu, pergilah Ken Arok ke pandai
besi itu. Setelah menemui Pu Gandring, Ken Arok berkata, "buatkanlah saya
sebilah keris, hendaknya selesai dalam lima bulan, karena akan segera saya
pakai." Si pandai besi menjawab, "janganlah lima bulan kalau ingin
baik, sebaiknya satu tahun agar tempaannya bagus." Ken Arok berpesan,
"terserah bagaimana tempaannya, asal selesai dalam lima bulan."
Demikianlah Ken Arok lama menunggu di
Tumapel. Setelah genap lima bulan, teringatlah akan barang pesanannya, dan
pergilah ia ke Lulumbang. Ternyata sesampainya di sana keris pesanannya masih
ditempa oleh Pu Gandring. Marahlah Ken Arok, direbutnyalah senjata itu dari
tangan si pandai besi, dan ditusukkan ke ulu hatinya. Selagi meregang nyawa Pu
Gandring mengutuk bahwa Ken Arok dan anak cucunya akan mati terbunuh oleh keris
itu pula. Setelah itu matilah Pu Gandring dan jelas Ken Arok sangat menyesali
perbuatannya. Selanjutnya Ken Arok kembali ke Tumapel berbekal keris barunya.
Tersebutlah Kebo Hidjo, pengawal kesayangan Tunggul Ametung juga sahabat baik
Ken Arok, orang yang suka pamer. Melihat sahabatnya mengenakan keris baru,
hatinya terpincut, dan keris itu langsung dipinjamnya dan diselipkan di
pinggangnya. Kemana pun ia pergi Kebo Hidjo selalu membawa barang itu, dan
orang Tumapel tahu bahwa ia memiliki keris baru. Kemudian keris itu dicuri
secara diam-diam oleh Ken Arok, lalu pada satu malam dia mengendap-endap ke
kamar tidur sang akuwu, ketika semua orang telah terlelap. Atas pertolongan
para dewa, Ken Arok menghampiri Tunggul Ametung yang sedang tidur, lalu
ditusuknya sang akuwu tepat di jantungnya oleh keris buatan Pu Gandring. Matilah
seketika Tunggul Ametung dan keris itu dibiarkan pada
lukanya.
Keesokan paginya gemparlah orang-orang
Tumapel mendapatkan bahwa sang akuwu telah tewas oleh sebilah keris. Semua
orang tahu bahwa keris itu kepunyaan Kebo Hidjo. Lalu Kebo Hidjo ditangkap oleh
sanak keluarga dari Tunggul Ametung, dihukum mati dengan ditusuk pula oleh
keris Pu Gandring. Selanjutnya dewa-dewa mengatur agar Ken Arok dapat kawin
dengan Ken Dedes, dan tidak ada orang Tumapel yang berani menentangnya. Ketika
mereka kawin, Ken Dedes sedang hamil anak dari Tunggul Ametung. Kelak setelah
kelahirannya, anaknya diberi nama Anusapati.
Lalu pelajaran apa yang kita dapatkan
dari kisah Ken Arok dan Ken Dedes ini? Bahwasanya untuk menjadi orang besar
bukanlah didapat dari untung-untungan dan nasib baik belaka. Diperlukan tekad
kuat atau Adhiṭṭhāna yang dirintis dari kehidupan
sebelumnya. Selanjutnya keistimewaan merupakan syarat mutlak yang didambakan masyarakat Jawa,
yang harus ada dalam diri seorang pemimpin atau
leluhurnya. Filsafat Jawa meyakini seorang raja atau permaisuri adalah
pilihan Dewa. Pilihan
itu ada dalam diri Ken Arok dan
Ken Dedes. Marka dan
penanda-lahir seperti gambar roda pada telapak tangan serta aurat yang
bersinar, sebenarnya mengambil inspirasi marka dan tanda manusia agung seperti yang dimiliki seorang Calon Buddha dan tujuh pusakanya. Dan terakhir hukum
tabur-tuai berlaku bagi si pembuat kejahatan: "Barang siapa menabur angin,
dia sendiri yang akan menuai badai."
sdjn/dharmaprimapustaka/210908
Jumat, 13 Agustus 2021
PERI-BAIK DAN PERI-JAHAT
Pada suatu ketika di Negeri-Peri yang
letaknya nun jauh di sana, hiduplah dua sosok peri, yang diberi nama Peri-Putih
dan Peri-Hitam. Mereka berdua adalah dua bersaudara kakak beradik. Peri-Putih
bertabiat baik dan selalu memikirkan apa yang bisa dilakukannya demi menolong
orang lain. Sebaliknya Peri-Hitam adalah sosok yang usil, nakal, dan gemar
membuat orang lain susah. Namanya juga saudara, mereka sehari-hari menghabiskan
waktu bersama.
Pada suatu hari ketika Peri-Putih dan
Peri-Hitam sedang bermain di atas dahan sebatang pohon di sebuah padang
penggembalaan, keduanya tiba-tiba melihat seorang gadis yang sedang berjalan
menggenggam dua ember-kayu yang penuh berisi susu di tangan kiri dan kanannya.
Melihat pelayan yang membawa susu, satu gagasan nakal muncul di kepala
Peri-Hitam. Ia lalu terbang ke bawah salah satu ember, mengeluarkan
tongkat-sihirnya, mengucapkan sepatah mantra, dan tiba-tiba tangannya sudah
menggenggam sebuah perkakas bor, yang lalu digunakan untuk melubangi salah satu
ember. Pada saat yang bersamaan, Peri-Putih melihat ulah saudaranya, ia pun
meluncur ke tempat itu, mengeluarkan tongkat sihirnya, mengucapkan kata-bertuah
"sim-sala-bim", lalu di tangannya sudah muncul sebuah sumbat dari
gabus, yang lalu dipakai untuk menambal ember yang bocor tadi. Dengan demikian
gagallah upaya Peri-Hitam melakukan sabotase terhadap sang gadis pembawa susu
tersebut. Peri-Hitam menggerutu yang ditujukan kepada saudaranya, "mengapa
engkau selalu mencampuri urusan orang lain, dan merusak kesenangan yang aku
lakukan?"
Peri-Putih dan Peri-Hitam yang baru
diceritakan itu tentu hanya ada di Negeri Dongeng. Namun bagi sebagian orang
Peri-Putih dan Peri-Hitam itu bersemayam di dalam batin kita. Peri-Putih adalah
tokoh di dalam diri kita yang senantiasa membimbing kita ke arah yang baik atau
bermanfaat. Ada sementara orang yang percaya bahwa Peri-Putih adalah
Malaikat-Pelindung atau Guardian Angel
dalam diri kita. Sebaliknya Peri-Hitam adalah tokoh yang berusaha menjerumuskan
atau mengarahkan kita untuk berbuat yang jahat atau yang tidak-bermanfaat. Kita
akan membahas lebih lanjut peran Peri-Hitam ini menurut kacamata Buddhisme.
Adanya Peri-Putih dan Peri-Hitam yang
bercokol dalam diri seseorang tentu saja sulit diterima oleh mereka yang
bersikap rasional. Penjelasan yang lebih masuk akal dikemukakan oleh Sigmund
Freud (1856 - 1939), seorang ilmuwan yang membidani teori Psiko Analisa. Freud
menemukan bahwa perkembangan jiwa manusia dipengaruhi oleh tiga elemen, yang
berpadu dalam membentuk karakter seseorang. Ketiga elemen itu adalah id, ego,
dan superego.
Id sebagai energi psikis adalah komponen utama dari sifat
manusia yang telah ada sejak seseorang dilahirkan. Aspek ini sepenuhnya terjadi
tanpa disadari serta melibatkan perilaku primitif dan didasarkan pada insting. Id digerakkan oleh nafsu, keinginan, dan
kebutuhan. Apabila id itu tidak
segera terpenuhi, akan muncul rasa gelisah hingga marah. Contoh ketika seorang
anak kehausan atau kelaparan, segera muncul rasa ingin minum dan makan. Elemen id ini sangat penting bagi makhluk hidup
untuk menjamin kebutuhan dasarnya agar bisa terpenuhi. Elemen id yang bekerja berdasarkan insting
tetap akan ada, walaupun orang tersebut telah menua sekali pun.
Elemen berikutnya dalam perkembangan
diri manusia adalah munculnya ego.
Dengan adanya elemen ego keinginan atau nafsu yang muncul bisa
terpenuhi lewat cara yang bisa diterima di dunia nyata. Elemen ego ini berlangsung pada pola pikir
sadar, pra-sadar, dan bawah-sadar. Ketika seseorang melakukan sesuatu dengan
mempertimbangkan ego, artinya ada
hitungan tentang untung-rugi sebuah tindakan. Contohnya pada anak kecil tadi
yang sekarang kelaparan ketika ia sedang menghadiri kelas di sekolahnya. Ego
membuat dirinya tetap bertahan dan tidak meninggalkan kelas secara
tiba-tiba. Dengan bimbingan ego ia
bisa mencari makan di waktu yang tepat, yakni menundanya hingga jam-istirahat
tiba. Lebih jauh lagi, Freud membandingkan id
sebagai seekor kuda, sementara ego
adalah penunggangnya. Id memberikan
tenaga dan kemampuan bergerak, sementara ego
menjadi kendali ke mana kuda bergerak. Tanpa adanya ego, id bisa berkelana ke
mana pun tanpa pertimbangan logis. Komponen ketiga pada pembentukan karakter
manusia adalah superego. Menurut
Freud, superego muncul sejak usia sekitar 5 tahun. Akar dari superego ini adalah nilai moral dari orangtua
dan lingkungan sekitarnya. Elemen superego
inilah yang membentuk karakter manusia untuk memilih, mana tindakan yang benar
dan mana yang salah.
Penulis tidak ingin berpanjang-panjang
menceritakan tiga elemen yang membentuk karakter seseorang. Anda boleh saja
tidak percaya pada bisikan nasihat Peri-baik atau rayuan Peri-jahat yang saling
bertarung dalam diri Anda. Anda juga bebas untuk tidak meyakini teori Psiko Analisa
Sigmund Freud di atas. Tetapi kita terkadang mengalami apa yang dinamakan
pergulatan-batin. Contohnya ketika satu saat kita terpaksa berbohong. Di satu
pihak id akan berargumentasi bahwa
berdusta itu perlu dilakukan untuk kepentingan, keuntungan, atau demi harga
diri kita. Tetapi di lain pihak superego
mati-matian bersikeras bahwa berbohong itu melawan kaidah moral. Kita pun
selama beberapa saat terombang-ambing dalam pertentangan batin, dan peristiwa
itu adalah satu kenyataan yang tidak bisa dibantah.
Mereka yang pernah membaca riwayat
hidup Sang Buddha pasti mengetahui, bahwa untuk merealisasikan cita-citanya
yakni mencapai pencerahan, banyak rintangan yang harus Beliau hadapi. Setelah
bersusah-payah meninggalkan istananya, pangeran kita ini bertekad untuk
meninggalkan keduniawian dan menjadi seorang petapa. Peristiwa ini dikenal
sebagai pelepasan agung. Baru saja petapa kita menyerahkan perlengkapan dan
atribut kebesarannya, Māra membujuknya untuk kembali ke rumah. Māra dengan
kelihaiannya membujuk, menggoda, dan merayu. Ia berjanji, jika sang petapa
kembali menjadi pangeran-mahkota, dalam tempo tujuh hari dia akan menjadikannya
seorang raja agung yang menguasai dunia ini (cakkavatti mahārāja).
Menanggapi tawaran Māra yang menggiurkan itu, sang petapa tidak tertarik
sedikit pun dan tidak menggubrisnya. Māra pun naik pitam, dan berjanji untuk
mengikutinya ke mana pun si petapa pergi. Dan saat sang petapa lengah, dia akan
kembali menggoda dan menjebaknya.
Anda tahu siapa itu Māra? Māra adalah
tokoh yang menghalangi seseorang yang berusaha untuk menjadi orang suci. Māra
adalah penggoda. Dia selalu ingin sang petapa menjadi seorang raja, seorang
penguasa digdaya, menjalankan pemerintahannya, menaklukkan negeri-negeri lain,
menjalankan bisnis, menghasilkan banyak uang, memupuk harta kekayaan, memiliki
banyak wanita cantik, termasyhur hingga kemana-mana, dan apa pun lainnya yang
ditawarkan oleh dunia ini. Itulah Māra.
Siapakah sesungguhnya Māra itu? Ananda
Guruge dalam risalahnya The Buddha’s
Encounters with Māra the Tempter, mengemukakan bahwa Māra dapat dilihat
sebagai alegorisasi dengan personifikasi yang hampir seketika. Dia adalah
kekuatan penggoda, pihak yang berkecenderungan ke arah kejahatan, dan pelaku
yang menciptakan konflik moral. Māra mirip dengan Setan atau Syaitan dalam
agama Wahyu. Māra digambarkan sebagai Pāpimā
atau Si Jahat (Ingg., The Evil One), juga sebagai Kanha atau Si Hitam.
Māra bukan saja personifikasi Si Jahat,
tetapi dia sesungguhnya merupakan sosok dewa antropomorfik yang memerintah
surga di alam indria atau kāmāvacara-devaloka
di alam Paranimmita-Vasavatti. Jadi Māra dinamakan pula sebagai kāmadhāturāja atau raja alam inderia.
Dalam posisi ini, dia sama pentingnya dan sepadan prestisiusnya dengan Sakka
dan Mahābrahma, yang mana kedua tokoh ini sering disebut-sebut dalam literatur
kanonik. Māra atau Māradevaputta ini bukan melulu dewa yang sangat kuat, tetapi
juga bertekad mempersulit hidup orang suci. Jadi siapa sebenarnya Māra? Oleh
Maha Moggallāna, siswa utama Sang Buddha, Māra berhasil diperdaya dan dibongkar
kedoknya. Sang siswa yang memiliki kesaktian yang hebat bisa mengetahui, bahwa
dalam kehidupan mereka yang terdahulu, Māra adalah sosok yang bernama Namuci.
Pernah ada yang bertanya kepada penulis, apakah Māra itu sama dengan setan?
Walaupun keduanya dikatakan sebagai Si Jahat, tetapi cara Buddhisme memandang
kejahatan tidaklah sama dengan konsep yang ada dalam agama Wahyu. Perbedaan
yang lain, Setan adalah Raja Neraka, padahal Raja Dunia Bawah dalam pandangan
Buddhis dipegang oleh Dewa Yama. Sedangkan Māra adalah penguasa yang berasal
dari alam dewa tingkat tinggi.
Kita lanjutkan cerita kita. Māra yang
mengikuti petapa kita selama kurang lebih enam tahun, mendapat peluang untuk
menggodanya kembali dalam beberapa kesempatan, tetapi dia gagal untuk
membujuknya. Māra yang sudah amat murka sekarang menjelma menjadi Dewa Kematian
atau Sang Pencabut Nyawa, dan ia akan beraksi pada saat sang petapa akan
mencapai pencerahan agungnya. Māra menunggangi gajah yang dinamakan Girimekhalā dan sepuluh skuadron pasukannya, disiapkan untuk menyerang
sang petapa. Ia mendekati sang petapa yang sedang duduk dalam meditasi yang
khusuk di bawah pohon Bodhi. Māra sekali lagi mengulangi tawarannya, yang mana
sang petapa akan memperoleh segala kejayaan dan kekuasaan atas dunia ini. Sang
penantang menolak tawaran itu mentah-mentah : Ia sama sekali tidak tertarik
pada ambisi-ambisi yang memikat itu.
Pertempuran pun tidak bisa dielakkan
lagi. Māra segera memerintahkan bala tentaranya, kuasa-kuasa gelap alam, untuk
menyerang Sang Pemberani. Seluruh kuasa gelap alam telah disiapkan dalam
suasana hinggar-bingar. Halilintar berdentum menghantam bumi, petir
berkilau-binar menyilaukan mata, gempa bumi mengamuk menggetarkan benua, hujan
badai menumpahkan terjangan air bah yang mengancam menenggelamkan apa pun yang
dilewatinya, angin puting-beliung siap merobohkan akar pohon yang paling kuat
sekali pun, serta serpihan-serpihan batu gunung mendekat siap menerjang sang
penantang. Sang Pemberani tetap tenang di tengah ancaman bahaya dan horor yang
mengerikan itu, serta Ia tetap terlelap dalam meditasinya. Bahkan rasa takut
pada kematian pun tak lagi mempan mengusiknya. Māra yang murkanya sudah sampai
di ubun-ubun, terpaksa mengeluarkan senjata simpanan pamungkasnya, sebuah
cakram pusaka yang dilemparkan ke arah si penantang. Namun dari langit muncul
sebuah tirai tembus-pandang, yang melindungi Sang Pemberani ini dari amukan
semua senjata itu, disertai turunnya kuntum-kuntum bunga surgawi di sekelilingnya.
Melihat sang petapa berhasil mengalahkan senjata pamungkas itu, pertempuran
telah berakhir. Dipenuhi rasa kecewa, Māra meninggalkan arena pertempuran: ia
merasa takhtanya goyah. Sang Penantang telah menghempaskan dirinya ke jurang
kekalahan.
sdjn/dharmaprimapustaka/210811
Kamis, 29 Juli 2021
TAKUT MATI
Alkisah di zaman dahulu kala di sebuah pulau
yang bernama Aolai di lepas pesisir Benua Timur, seekor kera batu dilahirkan
atas Kuasa Surga dan Bumi. Di pulau gunung yang ditempatinya si
kera segera mampu berlari dan melompat, makan dari tetumbuhan dan pepohonan,
minum dari anak sungai dan mata air, memetik bunga gunung dan mencari
buah-buahan. Dia berkawan dengan serigala, bepergian dengan harimau dan macan
tutul, bersahabat dengan rusa, dan berteman dengan sesama bangsa kera.
Pada satu hari si kera batu
mendapatkan tantangan dari kawan-kawannya, yakni menemukan asal-muasal aliran
air hingga bisa mencapai sungai tempat mereka mandi. Barang siapa yang bisa
menemukan jawabannya, dia akan diangkat sebagai raja. Memang sudah jadi takdir
si kera batu, yang dengan modal keberanian dan kecerdikannya, dia melompat dan
berhasil menerobos guyuran-deras air terjun hingga ia mencapai sebuah goa
misterius di dalamnya. Bukan saja goa tersembunyi yang ditemukannya, melainkan
sebuah istana batu yang megah, lengkap dengan perabotannya. Tempat itu
dinamakan "Goa Tirai Air di Gunung Bunga dan Buah."
Singkat cerita semua bangsa kera di
pulau itu diajaknya menempati goa beserta istana batu yang baru ditemukannya.
Di saat mereka masih dihinggapi eforia kegembiraan, si kera batu berseru, "mengapa
kalian belum menjadikan aku raja?" Mendengar ucapan ini semua kera
membungkuk dan bersujud, tak berani mereka melawan titahnya. Selanjutnya mereka
berbaris rapi dalam kelompok juga dalam urutan umur, seperti layaknya dalam
sebuah sidang resmi. Dengan rasa hormat mereka semua menobatkan si kera batu
sebagai "Raja Agung Seribu Tahun". Dia kemudian mengambil mahkota,
menetapkan kata "batu" sebagai tabu, dan menyebut dirinya sendiri
"Raja Kera Tampan."
Mengendalikan seluruh kerajaan kera,
monyet, gorila, siamang, beruk, lutung, makaka, dan lainnya. Si Raja Kera
Tampan membagi mereka menjadi penguasa dan bawahan, pembantu dan pelaksana. Di
pagi hari mereka berkelana di Gunung Bunga dan Buah, di sore hari mereka pulang
dan melewatkan malamnya di Goa Tirai Air.
Mereka semua sepakat tidak bergabung lagi dengan kawanan burung atau
bepergian dengan hewan buas. Mereka memiliki raja mereka sendiri, serta mereka
menikmati dunianya sendiri.
Semangat si Raja Kera Tampan yang
menggebu-gebu dengan polosnya ternyata tidak berlangsung lama. Pada suatu hari
ia seketika merasa tertekan sewaktu melakukan perjamuan dengan segenap
rakyatnya, dan ia mulai menangis tersedu-sedu. Para kera yang terkejut
mengelilingi sang raja serta bertanya, "Ada apa Paduka?" "Walaupun
aku sekarang ini bahagia," tukas Raja Kera, "Aku khawatir akan masa
depan. Ini yang membuatku tertekan." Kera-kera yang lain tertawa dan berkata,
"Paduka ini tamak. Kita semua berpesta-pora setiap hari; kita hidup dalam
sebuah gunung-firdaus, dalam sebuah goa kuno di benua yang hebat. Kita
dijauhkan dari penguasaan kaum kuda bertanduk satu, diluar dominasi para
burung-api, dan tak terjangkau oleh pengekangan raja manusia. Kita bebas
melakukan apa yang kita mau. Kita ini sungguh-sungguh beruntung. Mengapa
membuat diri Paduka sendiri mengkhawatirkan masa depan?"
Menanggapi ini si Raja Kera
mengutarakan, "Ya, semua yang
kalian katakan itu benar. Tetapi akan tiba waktunya ketika kita menjadi tua dan
lemah, serta dunia-bawah dikuasai oleh si Raja Neraka. Pada saat waktunya kita
mati, kita tidak hidup lagi diantara Yang Terberkahi, dan hidup kita semua akan
sia-sia belaka." Semua kera menutup wajah mereka dan setiap kera menangis
ketika memikirkan tentang kematian. Tiba-tiba seekor siamang menyeruak dari
tempat duduknya dan berkata dengan lantang, "Jika Yang Mulia berpikir
sedemikian jauh, inilah saatnya permulaan pencerahan. Sekarang dari Lima
Makhluk Hidup, hanya ada tiga yang tidak berada dibawah penguasaan si Raja
Neraka."
"Apakah engkau tahu siapa yang
tiga itu?" tanya si Raja Kera. "Ya," jawab si siamang.
"Yang tiga itu adalah para Buddha, kelompok Yang Kekal, dan para Suciwan
(Yang Kekal atau 仙 xiān adalah orang
yang telah mencapai "keabadian" menurut ajaran Tao). Mereka semua bebas dari Roda Reinkarnasi.
Mereka tidak dilahirkan dan mereka tidak akan mati. Mereka abadi seperti Surga
dan Bumi, juga seperti gunung dan sungai." "Dimana mereka tinggal?"
si Raja Kera bertanya. "Hanya di dunia manusia," si beruk menyahut,
"di goa-goa kuno pada gunung-gunung ajaib." Si Raja Kera sangat
senang mendengar kabar ini.
"Aku akan meninggalkan kalian
besok," ia berkata "Jika demikian jalannya, aku akan berkelana hingga
ke ujung lautan dan pergi ke tepi langit guna menemukan tiga jenis makhluk itu.
Setelah itu akan kita dapatkan kemudaan abadi sekaligus mampu membebaskan kita
dari ancaman sang Raja Neraka untuk selamanya." Inilah letak kebaikannya!
Cukup dengan kata-kata ini, ia belajar bagaimana ia bisa bebas dari Roda
Reinkarnasi dan menjadi Suciwan Agung Menyamai Surga.
Selanjutnya si Raja Kera selama
bertahun-tahun setelah meninggalkan pulau kediamannya, mengembara di Benua
Timur yang maha-luas itu. Tak peduli ia sedang sarapan pagi atau saat pergi
tidur di malam hari ia selalu bertanya tentang Buddha, Yang Kekal, dan Suciwan,
serta mencari rahasia kemudaan abadi. Ia mengamati bahwasanya orang-orang di
dunia terlalu peduli dan sibuk pada kekayaan dan kemasyhuran, yang selalu
mereka kejar.
Jadi kapan waktunya perjuangan bagi
keberuntungan dan ketenaran akan berakhir?
Membanting tulang dari subuh hingga
malam, tak akan menyenangkan hatimu.
Mereka yang menunggang keledai
memimpikan mengendarai kuda jantan,
Sang perdana menteri selalu ingin
menjadi pangeran.
Kegelisahan mereka untuk
menghentikan pekerjaan hanya ketika mereka harus makan atau berpakaian;
Mereka tidak pernah takut bahwa si
Raja Neraka akan menjemput mereka.
Ketika mereka berusaha memastikan
anak atau cucu mereka mewarisi kekayaan dan kekuasaan mereka,
Mereka tidak punya waktu sedikit pun
untuk berhenti dan berpikir.
Kita tinggalkan dulu si Raja Kera
yang sedang mencari Tiga Makhluk Agung itu. Sekarang kita beralih pada dunia
yang diperuntukkan bagi mereka yang sibuk mencari kekayaan dan kemasyhuran.
Kita akan menuju Metropolis Tokyo, ibukota paling besar sedunia, rumah bagi
tiga-puluh-dua juta orang. Di satu sudut Tokyo yang paling gemerlap, Ginza,
kawasan perbelanjaan yang paling top, berjejer butik kelas atas, gerai
perhiasan mewah, bar koktail dan kedai sushi yang menyediakan kudapan yang
lezat. Pada akhir pekan, jalan utama Chuo Dori merupakan jalur pedestrian
paling trendi, yang dipenuhi oleh pencari kesenangan dan turis mancanegara. Bukan
saja di akhir pekan, ketika waktu sudah larut malam pun Ginza masih dipadati
pekerja Jepang yang baru pulang dari kantor mereka, dan banyak diantara mereka
enggan untuk pulang ke rumahnya.
Jika kita meninggalkan Tokyo
menyeberangi samudera terluas di dunia sejauh hampir sebelas ribu kilometer ke
timur, kita akan mencapai New York, metropolis terkemuka di dunia selain Tokyo.
Di kota-mega yang tidak pernah tidur ini, ada lagi satu lokasi yang dapat
dipertimbangkan untuk dikunjungi. Satu persimpangan komersial utama, tujuan
favorit turis, yang merupakan perpotongan diantara Broadway dan Seventh Avenue,
yang dikenal sebagai Times Square. Pada gedung-gedung yang tinggi menjulang,
dindingnya dipenuhi papan billboard
dan reklame raksasa. Saking terkenalnya, lokasi ini dinamakan pula
"Crossroads of the World". Times Square tidak pernah sepi. Di hari
biasa tiga-ratus hingga empat-ratus ribu orang singgah di sini. Di malam Tahun
Baru lebih dari setengah juta orang berkumpul untuk merayakan malam pergantian
tahun.
Ginza dan Times Square adalah ikon
peradaban modern yang gemerlap, yang tidak akan dilupakan oleh para pelancong
dan penikmat kesenangan. Perjalanan berikutnya, penulis akan mengajak para
pembaca ke lokasi yang sangat berbeda. Jika kita sekarang meninggalkan New York
ke arah timur hingga mencapai kira-kira dua-belas ribu kilometer, kita akan
mencapai Varanasi di India. Ini adalah sebuah kota berukuran kecil yang luasnya
hanya seperempat DKI Jakarta, serta tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan
dua metropolis yang disebutkan di atas. Juga kalah jauh dibandingkan dengan
Delhi, Mumbai, Bangalore, Chennai, Hyderabad, atau Kolkata. Varanasi bukanlah
lokasi yang menyenangkan bagi turis mancanegara untuk berpesiar. Seperti yang
terjadi di banyak kota di India, kesan semrawut dan kumuh tampak di sebagian
area kotanya. Keadaannya bahkan lebih kotor daripada daerah slum di ibukota Indonesia. Sapi, hewan
yang dianggap suci di India, bebas berkeliaran di jalan dan membuang hajat dimana saja. Di bulan April hingga Juni yang merupakan musim panas di India,
suhu di siang hari bisa mencapai 45 derajat Celcius. Kita yang tinggal di
Jakarta saja sudah amat gerah pada temperatur 30 derajat lebih di siang hari.
Jadi apa yang hendak ditonjolkan di
sini? Ini bukanlah sembarang lokasi di muka bumi ini. Varanasi adalah kota suci
bagi umat Hindu dan penganut Jainisme, yang setara dengan Mekkah bagi umat
Islam. Sebagian kota ini terletak di bantaran utara Sungai Gangga. Varanasi
adalah kota tua yang paling tidak telah berusia tiga ribu tahun dan merupakan
kota budaya di India. Bukan itu saja, kurang lebih sepuluh kilometer di sebelah
timur-laut pusat kota Varanasi terletak Sarnath, tempat Buddha Gautama memutar
roda-dharma 2600 tahun yang lalu. Terlepas dari semua kelebihannya, yang paling
istimewa adalah Varanasi menjadi tempat tujuan kematian, atau dengan kata lain
menjadi tempat kematian idaman.
Tentu Anda bertanya, mengapa kota
itu menjadi tempat kematian idaman? Bagi mereka yang percaya, mati di
sini dan sesaat kemudian jasad mereka akan dibawa dan disemayamkan di
Manikarnika Ghat atau Harishchandra Ghat. Kedua Ghat tersebut adalah undakan
batu berbentuk anak-tangga yang berada persis di bantaran Sungai Gangga. Di
sinilah jenazah mereka diberi tumpukan kayu bakar dan langsung dikremasikan.
Seiring dengan melelehnya daging-manusia yang dimakan api, dengan diiringi doa
dan pembacaan mantram suci oleh rohaniwan dan keluarganya, abu jenazahnya akan
tertiup angin dan dibawa oleh arus Sungai Gangga. Tirta-suci akan
membasuh sisa jasmani orang mati itu dan membebaskannya dari Roda Reinkarnasi,
bahkan bagi orang yang jahat sekali pun. Agar bisa mati di Varanasi mereka
harus menunggu kematian di rumah singgah, yang dinamakan bhawan. Ada beberapa bhawan
yang disediakan dan bisa ditempati oleh mereka yang berniat menunggu
kematiannya.
Demikianlah sedikit kisah tentang
Varanasi sebagai tempat yang dipilih oleh mereka yang ingin bebas dari
kelahiran-kembali dan moksa pun
dicapai pada akhirnya. Bagi mereka yang masih tinggal di bhawan sambil menantikan momen penting itu, kematian bukanlah hal yang menakutkan. Mereka tidak
lagi gentar pada Sang Raja Neraka yang akan menjemput mereka.
Demikianlah
ketika segelintir orang bersiap-siap menanti ajal yang akan menjemput mereka,
mayoritas manusia acuh tak acuh dan menganggap tabu membicarakan perihal
kematian, yang tanpa ampun akan merenggut nyawa mereka. Berkaca dari pengalaman
Si Raja Kera, yang melihat bahwasanya orang-orang di dunia
ini terlalu peduli dan sibuk pada kekayaan dan kemasyhuran ...
sdjn/dharmaprimapustaka/210728
Kamis, 15 Juli 2021
SHANGRI-LA
Kisah kita kali ini menceritakan Robert Conway, seorang mantan tentara,
penulis, dan diplomat Kerajaan Inggris. Sebelum kembali ke Inggris, Conway
berkewajiban menyelesaikan tugasnya yang terakhir di tahun 1931 di India, yakni
mengungsikan 90 orang warga kulit putih yang disandera di kota
Baskul ke kota Peshawar. Setelah mengantarkan para sandera ke tempat yang aman,
dengan meminjam pesawat pribadi Maharaja Chandapore, Conway kembali ke
tempatnya bertugas bersama dengan bawahannya seorang kadet
bernama Mallinson, disertai dua orang lain yaitu Nona Brinklow, seorang
misionaris, dan seorang Amerika bernama Barnard.
Selang beberapa lama
setelah pesawat lepas landas mereka baru menyadari ada yang tidak beres. Ternyata pilot membawa mereka ke arah lain, bukan ke
tempat yang seharusnya dituju. Hari menjelang malam ketika pesawat mendarat di bandara
yang asing dan sekelompok orang dari suku setempat menambah bahan bakar ke
badan pesawat. Mallinson berinisiatif menyergap sang pilot, namun pilot mengacungkan
sepucuk revolver, yang memaksa ia
mengurungkan niatnya dan kembali ke bangku penumpang. Pesawat
segera mengudara kembali dan tampaknya mereka terbang di atas pegunungan
bersalju. Pesawat tiba-tiba menukik kehilangan tenaga dan pilot terpaksa
mendaratkan pesawatnya di lahan datar yang bersalju. Perdaratan darurat
membuat pesawat rusak berat, namun
keempat penumpangnya selamat, walaupun
kedapatan sang
pilot misterius itu telah tewas.
Mallinson dan Conway
berupaya memperkirakan lokasi jatuhnya pesawat, dan
memperkirakan mereka berada di
pegunungan Karakoram. Conway berspekulasi mereka terbang di atas Tibet. Sebagai
orang yang terbiasa mendaki gunung, Conway menyadari
lokasi mereka lebih terpencil ketimbang Gunung Everest yang
terkenal itu. Nona Brinklow mulai cemas ketika
mengingat cerita temannya sesama misionaris, bahwa penduduk Tibet itu merupakan
orang-orang aneh. Mereka percaya manusia itu keturunan dari bangsa kera. Tentu
saja ini hanya folklore setempat,
bukan ajaran teori evolusi Darwin. Keempat penumpang pesawat naas itu amat
khawatir atas keselamatan mereka. Udara semakin
dingin dan kegelapan malam segera menyergap. Mereka putus asa dan
tidak tahu harus berbuat apa.
Menjelang tengah malam
belasan orang mendekati lokasi jatuhnya pesawat. Mereka mengusung sebuah tandu
yang dinaiki seorang yang lebih tua yang mengenakan pakaian berwarna biru.
Sewaktu mereka mendekat, Conway melihat orang yang ditandu itu
ternyata pimpinannya, dan
ia seorang
Tionghoa
yang mengenakan gaun sutera bersulam. Orang itu fasih
berbahasa Inggris. Namanya Chang. Conway memperkenalkan dirinya dan
teman-temannya.
Chang menawarkan dirinya
sebagai penunjuk jalan. Mallinson minta Chang agar mereka ditunjukkan jalan ke
dunia yang beradab. Chang malah balik bertanya apakah ia dan
teman-temannya datang dari dunia yang tak-beradab. Orang-orang Tibet
mengenakan pakaian dari kulit domba, topi dari bulu anjing-gunung, dan sepatu
bot dari kulit yak. Mereka menawarkan anggur dan buah-buahan kepada Conway dan
teman-temannya. Sepanjang perjalanan Chang dan Conway dengan akrabnya
bercakap-cakap. Mereka membicarakan gunung elok berbentuk kerucut sempurna, yang
oleh orang Tibet dinamakan Karakal.
Melalui perjalanan yang
panjang dan berat, Chang membawa mereka melintasi pegunungan yang
dingin dan bersalju. Setelah berjalan cukup jauh,
di pagi harinya saat mentari baru saja menyinari
bumi, keempat tokoh kita ini dihadapkan pada suatu lokasi yang sulit dipercaya.
“Bagi Conway, yang melihatnya untuk pertama kali mungkin ini hanya khayalan
belaka … . Tempat ini sungguh-sungguh aneh dengan pemandangan luar biasa.
Sekelompok rumah indah berwarna-warni bertebaran di sisi gunung dengan … eloknya
bunga-bunga yang bermekaran bersemai dengan latar tebing batu yang terjal. Lanskapnya
luar biasa dan sangat permai. Tak kuat kita menahan rasa haru
sewaktu mata kita memandang atap biru di atas bukit batu kelabu … . Jauh di
seberang sana tampak sebuah piramida yang mempesona, dengan selimut salju
menutupi Karakal”. Itulah kesan pertama Conway ketika melihat lokasi yang
menakjubkan itu. Itulah Shangri-La, surga yang hilang.
Shangri-La merupakan biara
Tibet atau kediaman Lama (Lama berarti biarawan
atau rahib), yang terletak di sisi gunung sempurna yang dinamakan Rembulan
Biru. Di lembah di bawah biara itu terhampar ladang yang subur dan juga
rumah-rumah kediaman penduduknya. Conway dan teman-temannya tinggal di biara yang
berwarna-warni dan mereka semua terkesima melihat kelengkapan yang ada di
dalamnya. Biara dilengkapi dengan peralatan modern seperti bathtub, sistem pemanas sentral, sebuah perpustakaan yang besar dan
lengkap, barang-barang keramik dari porselen-cina,
sebuah grand piano, alat musik harpa,
serta berlimpahnya makanan dan minuman yang berasal dari lembah subur di bawah
sana. Conway bahkan membaca label pada bathtub
porselen yang dipakainya : “Akron, Ohio”. Chang menerangkan para penjelajah
datang dan pergi ke Shangri-La sambil membawa barang-barang itu.
Keempat tamu tenggelam
dalam kehidupan rutin. Mereka bersyukur pada hangatnya siang dan dinginnya
malam, menikmati jalan-jalan di taman yang tertata indah, memanfaatkan waktu
luang yang panjang, mencicipi makanan dan minuman pilihan, meminjam buku dari
perpustakaan, dan menikmati alunan musik Mozart. Sewaktu makan malam Conway
menanyakan Chang apakah masyarakat di sana menerima pengunjung dari luar. Chang
menjawab mereka jarang melakukan hal itu. Masyarakat di sana dapat bertahan
tanpa tercemar dari dunia luar. Nona Brinklow bertanya berapa banyak rahib yang
ada dan apa kebangsaan mereka. Chang menjawab masyarakat mereka hanya terdiri
dari lima puluh orang dari berbagai bangsa, tetapi kebanyakan orang Tionghoa
dan Tibet.
Chang dan Conway
mendiskusikan falsafah yang dianut oleh Shangri-La, yang dijawab oleh Chang
mereka menerapkan sikap tidak berlebih-lebihan atau sikap jalan tengah dalam segala hal. "Kami memimpin dengan menerapkan aturan
yang tidak berlebihan, dan sebaliknya kami puas atas kepatuhan dalam skala
menengah. Kami
tidak memiliki hal yang kaku, atau aturan yang tidak dapat ditawar lagi. Kami
kerjakan apa yang kami anggap pantas, yang sedikit hikmahnya kami peroleh dari
masa lalu, tetapi lebih banyak kami ambil dari kebijaksanaan saat ini, serta
tidak lupa ditambah dengan kemampuan cenayang kami untuk meneropong masa
depan”.
Lama
kelamaan Conway mendapatkan dirnya terbenam dalam ketenangan dan kedamaian
Shangri-La. Ia kehilangan segala yang berkaitan dengan ambisi dan nafsu
duniawi. Barnard merasa kerasan tinggal di
Shangri-La dan tidak ingin kembali. Sesungguhnya Barnard masih dikejar-kejar
oleh polisi karena terlibat kasus penipuan yang dilakukannya. Barnard minta kepada
Chang agar ia diizinkan tinggal di Shangri-La selamanya. Nona Brinklow juga
ingin tetap tinggal di Shangri-La. Ia ingin mendidik masyarakat setempat
agar memeluk agama Kristen. Sekarang tinggal Mallinson yang makin lama makin
merasa jenuh dan menggerutu setiap hari.
Chang memperkenalkan Conway
pada seorang wanita Manchu yang bernama Lo-Tsen. Lo-Tsen seorang gadis cantik
dengan umur sekitar dua puluhan dan mahir sekali memainkan harpa. Ia sama
sekali tidak mengerti bahasa Inggris. Tertarik akan kepandaiannya memainkan
musik dan kecantikannya, Conway jatuh cinta kepadanya. Chang menasehati Conway
agar hubungan mereka berdua hendaknya bersifat spiritual. Chang agaknya
pernah tersandung dengan kejadian
serupa. Sejatinya Lo-Tsen sudah bermukim di Shangri-La dalam kurun waktu yang
lama. Belakangan Mallinson pun jatuh cinta kepada perempuan Manchu
ini.
Waktu terus berjalan,
sampai tiba suatu saat Lama-Kepala berniat untuk bertemu dengan
Conway. Melalui audiensi khusus, Lama-Kepala bercerita tentang
sejarah Shangri-La. Beberapa ratus tahun yang lalu rahib Perrault datang dari
Eropa ke Tibet dan kemudian mendirikan Shangri-La. Sang rahib sendiri
dikabarkan menghilang sejak saat itu, dan Conway bisa
menebak dengan jitu bahwa sesungguhnya Lama-Kepala
tidak lain rahib Perrault sendiri. Lama-Kepala
sendiri selama ini terbenam dalam meditasi yang khusuk. Ia sudah kehilangan gairah
kemanusiaannya.
Chang terperanjat sewaktu
Lama-Kepala
minta bertemu dengan Conway untuk kedua kalinya. Chang sendiri hanya diizinkan
untuk bertemu dengan Lama-Kepala paling tidak lima tahun sekali.
Tidak seperti biasanya, Lama-Kepala
meminta bertemu Conway tiga, empat, sampai lima kali. Lama-Kepala
menjelaskan kedatangan Conway dan kawan-kawan bukanlah kebetulan belaka. Mereka
berdua berdiskusi banyak hal tentang filsafat dan sejarah. Lama-Kepala
yakin Conway memiliki kemampuan dan pengalaman yang mumpuni
sampai ia dapat mengerti topik-topik ajaran yang sulit. Pada akhir
pertemuan yang kelima Lama-Kepala menunjuk Conway sebagai
penggantinya, dengan tugas melanjutkan kepemimpinan Shangri-La. Setelah
pertemuan terakhir itu, Lama-Kepala wafat dengan tenang.
Conway menceritakan
ikhwal
pertemuannya dengan Lama-Kepala kepada ketiga temannya.
Mallinson tidak mempercayai sejarah Shangri-La yang fantastik itu, juga
berpendapat tidak mungkin orang dapat berusia ratusan tahun. Mallinson mengingatkan
Conway -- atasannya yang lulusan Oxford yang
begitu brilian, dan sekaligus dipuja sebagai pahlawan
bagi
korban
penyanderaan
di Baskul -- kini menjadi orang yang pasif dan nampak
dungu.
Ia
berpendapat kondisi di sana begitu buruk, serta ia dan Lo-Tsen
berencana untuk segera ke luar dari sana. Akhirnya
keduanya
mendapatkan beberapa pembawa barang yang kebetulan akan keluar dari Shangri-La.
Conway diajak untuk mengikuti jejak mereka berdua. Setelah diliputi kebimbangan, akhirnya Conway memutuskan untuk menghantarkan kepergian
mereka. Rencana Conway meninggalkan Shangri-La menimbulkan kegemparan masyarakat
di sana. Hanya Chang yang berkata dengan penuh keyakinan bahwa Conway akan
kembali.
Menyeberangi
perbatasan ke dunia luar, angin kencang, udara
dingin, dan alam yang ganas membuat Mallinson, Conway, Lo-Tsen dan para
pengiringnya tertatih-tatih melewati pegunungan bersalju. Beberapa saat kemudian sesuatu yang menakjubkan terjadi.
Lo-Tsen perlahan-lahan berubah wujud dari gadis cantik yang belia menjadi
wanita dewasa, lalu menjelma menjadi wanita sepuh, dan akhirnya menjadi nenek
tua-renta yang sekarat. Ternyata daya magis Shangri-La lenyap begitu mereka
keluar dari firdaus itu. Daya magis yang selama ini membuat Lo-Tsen tampak
belia, padahal sesungguhnya ia telah berusia ratusan tahun. Lo-Tsen
jatuh ke tanah, mengerang, dan ajal segera menjemputnya. Mallinson begitu shock melihat orang yang menjadi
kekasihnya berubah wujud dan meninggal mengenaskan. Dengan tubuh letih
Mallinson pun jatuh di samping kekasihnya dan ia pun
turut meregang nyawa. Conway terperanjat menyaksikan nasib kedua sahabatnya yang berakhir tragis.
Conway yang tertekan mendadak
kehilangan ingatan. Ia meneruskan perjalanan sendirian sampai
dirinya
ditemukan regu penyelamat yang dikirim Pemerintah Inggris di India. Conway
segera
dirawat di sebuah rumah sakit di Chung-Kiang, sampai ia ditemukan Rutherford sahabat
karibnya. Selama ditemani oleh Rutherford, Conway menceritakan seluruh kisah
petualangannya di Shangri-La, dan Rutherford menuliskan menjadi manuskrip,
hingga
orang luar mengetahui keberadaan Shangri-La. Conway pun
berangsur-angsur pulih, bersedia mengikuti sahabatnya
yang akan berlayar ke Honolulu. Namun sesaat sebelum
naik ke kapal, Conway membatalkan kepergiannya dan ia melanjutkan
perjalanan seorang diri ke perbatasan Tibet. Otoritas
setempat mencegah Conway yang akan melintasi pegunungan yang tidak bertuan itu,
namun dia nekat melanjutkan perjalanannya. Sejak
saat itu orang tidak tahu lagi ke mana Conway pergi. Konon kabarnya dia
kembali ke Shangri-La guna menuntaskan
takdirnya.
Mungkin Anda para pembaca mengira cerita di atas adalah
sebuah kisah nyata. Fantastik memang, tetapi ini hanyalah kisah dalam sebuah
novel laris yang dikarang oleh James Hilton pada tahun 1933. Judulnya: Lost Horizon, yang jika diterjemahkan ke
dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai "Surga yang Hilang." Dalam bahasa Tibet
"Shangri-La" dinamakan pula "Shambala."
Sebagai penutup, penulis mengajukan pertanyaan ini kepada
pembaca sekalian, apakah Shangri-La tersembunyi ini sungguh-sungguh ada?
sdjn/dharmaprimapustaka/210714




