Kamis, 17 Juni 2021

HUKUM TABUR-TUAI


 



Diantara Anda Pembaca mungkin pernah mendengar lirik lagu yang didendangkan oleh Broery Pesolima, yang berjudul "Aku Begini Engkau Begitu." Dalam salah satu baris lagunya ada kata-kata: "Di alam nyata, apa yang terjadi. Buah semangka berdaun sirih ... ." Sewaktu penulis mendengar lirik lagu itu untuk pertama kalinya – dan itu sudah lama sekali – penulis terbengong-bengong sambil menggumam, "lho, kok ada pohon semangka berdaun sirih?"

 

Siapa yang tidak kenal buah semangka? Buah yang berbentuk bulat atau bulat-telur, dengan ukuran yang cukup besar dan berat, diselubungi oleh kulit-buah yang keras berwarna hijau-muda dengan larik-larik hijau-tua. Daging buahnya berwarna merah-tua atau kuning, dengan biji-biji berwarna hitam di dalamnya. Semangka rasanya manis dan enak dimakan ketika kita sedang kehausan. Daging buahnya bisa diolah dengan cara dibentuk, menjadi campuran sup-buah atau di-jus. Pohon semangka serumpun dengan labu, melon, dan mentimun, adalah tanaman yang merambat di atas tanah; serta tumbuhan ini tidak dapat memanjat. Daunnya berlekuk-lekuk di tepinya, dengan bunga jantan dan bunga banci di setiap pohonnya, berwarna kuning. Kalau dipikir-pikir tanaman ini luar biasa, karena dilihat sepintas lalu sebagai tumbuhan biasa saja yang merambat, namun memiliki buah sebesar itu. Beberapa tahun belakangan ini para petani semangka di Jepang telah berhasil merekayasa pembentukan buah semangka di pohonnya. Mereka bisa menghasilkan buah semangka berbentuk kubus atau kotak. Tetapi jangan salah, buah semangka berbentuk ganjil ini tidak enak dimakan dan auzubillah mahalnya.

 

Pohon sirih adalah tanaman asli Indonesia dan memerlukan pohon lain untuk tempat merambatnya, tetapi tanaman ini bukan benalu. Sebagai tanaman rambat pohon sirih bisa bertumbuh hingga 15 meter tingginya, dengan batang bundar, beruas, berwarna cokelat-kehijauan, dan menjadi tempat keluarnya akar. Daun sirih berbentuk hati, berujung runcing namun lembut, dan mudah disusun satu di atas yang lain. Jika daunnya diremas akan mengeluarkan bau yang sedap. Bunganya majemuk berbentuk bulir, serta buahnya buah buni berbentuk bulat berwarna hijau keabu-abuan. Sewaktu penulis masih kanak-kanak kebiasaan mengunyah sirih masih banyak dilakukan oleh orang tua zaman itu. Mereka mencampurnya dengan pinang, gambir, dan tembakau. Konon dengan mengunyah sirih, gigi terawat dengan baik dan mulut akan berbau segar. Sekarang sirih dibudidayakan dan dimanfaatkan sebagai tanaman obat.

 

Kembali ke lirik lagu di atas, pada kenyataannya pohon semangka akan menumbuhkan daun semangka dan buah semangka, serta pohon sirih akan menghasilkan daun sirih dan buah buni, kendati pun keduanya tumbuh di petak kebun yang sama. Tidak pernah ada buah semangka berdaun sirih, seperti lagu yang dipopulerkan oleh Broery di tahun 1988 itu. Untung saja pada masa itu media sosial belum lahir. Jika sudah ada, kehebohan kabar 'semangka berdaun sirih' bisa digolongkan sebagai berita bohong atau hoax.

 

Mungkin ada dari Anda yang masih penasaran. Coba kita simak lirik lagunya lebih lanjut. "Di dalam tidur, didalam doa; Kita berjanji; Kita bersama, kita bersatu; Bergandeng tangan." Ini adalah ungkapan seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mereka telah membina hubungan sekian lama. Hanya saja kebersamaan yang didambakan oleh sang pria masih di dalam mimpi, hanya sebatas angan-angan. "Di alam nyata, apa yang terjadi; Buah semangka berdaun sirih; Aku begini, engkau begitu; Sama saja." Dalam kehidupan nyata kebersamaan si pria dan si wanita itu tidak bisa terjadi. Artinya tidak ada kecocokan diantara keduanya; yang mana ini setali tiga uang dengan 'semangka berdaun sirih', alias "tidak mungkin". Orang Arab bilang, "Mustahil!" Dan akhirnya: "Ibu bapaku, ayah bundaku; Entah kemana; Ingin bertanya, aku tak tahu; Pada siapa." Dalam keputusasaannya sang pria ingin mengadu, ingin mengungkapkan duka-nestapanya kepada orang tuanya yang entah ada dimana. Lagu yang diciptakan oleh Rinto Harahap, seorang maestro lagu Indonesia populer pada masa itu, sebenarnya ingin mengungkapkan bahasa satire tentang peliknya hubungan asmara.

 

Dari contoh di atas secara tidak langsung kita sebenarnya telah belajar mengenal hukum tabur-tuai. Jika kita hendak menikmati semangka, maka kita harus menabur bibit semangka terlebih dahulu. Namun jika kita ingin mendapatkan daun sirih, kita harus menanam pohon sirih sebelumnya. Tidak mungkin terjadi kita menanam bibit semangka lalu kita memanen daun sirih. Pertanyaannya sekarang, sejak kapan manusia mengenal cara bercocok tanam? Menurut ahli paleontologi, baru beberapa ribu tahun yang lalu manusia purba belajar bertani dan beternak. Sebelumnya nenek moyang kita adalah pengumpul hasil hutan dan pemburu. Mereka menggali umbi-umbian, memetik sayuran dan buah-buahan, berburu hewan liar, dan menangkap ikan, guna memenuhi kebutuhan makanan bagi kelompoknya. Sekali waktu mereka mengamati bahwa bagian-batang umbi dan biji-buah yang mereka buang begitu saja dekat pemukiman mereka, tumbuh menjadi tunas tanaman muda, dan beberapa lama kemudian pohon itu bertumbuh-kembang. Lama-kelamaan tanaman baru itu menghasilkan umbi dan buah yang serupa dengan apa yang mereka dulu peroleh. Sejak saat itu mereka mulai bereksperimen dalam bercocok tanam, dan ternyata mereka berhasil membudidayakan tanaman-tanaman tertentu.

 

Di zaman ini untuk memenuhi dan memuaskan kebutuhan perut kita, sesungguhnya kita semua berutang budi kepada para petani. Berkat jerih payah mereka, kita tidak perlu bersusah payah mendapatkan apa yang akan kita konsumsi sehari-hari. Merekalah orangnya yang tahu benar prinsip 'menabur dan menuai'. Seorang petani menabur benih, pasti dengan penuh keyakinan dan pengharapan, kelak akan mendapatkan panen yang baik dan melimpah. Dia sadar bahwa jika dia menabur benih pada waktu yang tepat, kemudian bekerja keras dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk merawat tanaman itu, di akhir musim-tanam dia akan menuai hasilnya.

 

Dalam kaidah 'tabur-tuai' ini berlaku paling tidak tiga prinsip. Prinsip pertama berbunyi: "menabur dulu baru menuai." ; adalah kaidah yang tidak dapat ditawar-tawar lagi. Tidak bisa dibalik menjadi: "menuai dulu baru menabur." Sungguh tepat ungkapan bahwa 'Hari ini adalah Bapak Masa Depan', bahwa apa yang engkau kerjakan hari ini akan membentuk masa depanmu. Prinsip kedua mengatakan bahwa "seseorang hanya menuai apa yang dia tabur". Seperti yang sudah dijelaskan pada contoh di atas, bahwa jika seorang petani menabur benih padi, dia kelak akan memanen bulir-padi, bukan bulir-gandum atau bulir-sorghum. Prinsip yang ketiga menyebutkan: "Orang yang menabur, dialah yang akan menuai hasilnya, bukan orang lain." Prinsip yang ketiga ini juga tidak dapat dibantah kebenarannya.

 

Anda pasti pernah mendengar ungkapan: "Apa yang engkau tabur, itulah yang akan engkau tuai" atau dalam bahasa Inggrisnya: "You reap what you sow." Sekarang kita tidak lagi membicarakan ilmu bercocok tanam. Ungkapan yang baru saya utarakan adalah sebuah pepatah, sebuah peribahasa; yang maknanya kurang lebih: "Jika engkau bertindak baik maka engkau akan menuai kebahagiaan, namun jika engkau menabur keburukan maka penderitaanlah yang akan engkau dapatkan." Dalam artikel ini kita akan menelusuri dari mana ajaran ini berasal, dan penulis akan menceritakannya dari perspektif filsafat India dan Tiongkok.

 

Pemikiran tentang filsafat dan agama terjadi di India selama akhir Zaman Veda, yang dimulai sekitar tahun 1000 seb.M., dan sering disebut sebagai era Brahmanisme, karena pemikiran mereka merupakan produk dari munculnya para pendeta Brahmana ke tampuk kekuasaan tertinggi mereka dalam masyarakat India. Gagasan-gagasan para brahmana itu tertuang dalam naskah yang belakangan dikenal sebagai Upanishad, dengan lebih dari 250 Upanishad disusun antara tahun 800 hingga 600 seb.M. Guru-guru India pertama ini mengembara di hutan sebagai petapa, tempat mereka bermeditasi dan mengajarkan ilmu yang mereka peroleh kepada siswa-siswa penerusnya. Adapun ajaran yang terkandung dalam Upanishad dapat diringkas sebagai berikut:

 

(1) Realitas fundamental atau yang sesungguhnya ada, yang merupakan substansi dari segala sesuatu bukanlah materi, melainkan sesuatu yang bersifat spiritual, yakni Jiwa Dunia. Jiwa Dunia dinamakan pula Brahman. (2) Masing-masing individu memiliki jiwa, yang merupakan bagian dari Jiwa Dunia. Jiwa Individu ini disebut pula Atman. (3) Alam material adalah ilusi atau maya, dan penyebab segala penderitaan. Selama orang masih mengejar tujuan duniawi seperti mencari kekayaan, kekuasaan, dan ketenaran, maka semuanya akan bermuara pada rasa sakit dan kesedihan. (4) Penyelamatan atau pembebasan dari belenggu penderitaan hanya bisa dicapai melalui re-absorbsi Jiwa Individu ke dalam Jiwa Dunia. Proses ini dinamakan pula menyatunya Atman ke dalam Brahman. (5) Pelepasan dari alam-maya menuju kebersatuan Atman dengan Brahman adalah bagian dari proses rumit reinkarnasi. Jiwa Individu harus menjalani serangkaian reinkarnasi duniawi dari satu tubuh ke tubuh lainnya. (6) Terjalin erat dengan proses reinkarnasi berlangsung pula Hukum Perbuatan, yang populer dinamakan Hukum Karma. Perbuatan individu akan menentukan masa depan seseorang, dan akibat perbuatannya bukan saja berdampak di kehidupan yang sekarang, tetapi juga akan membuahkan hasilnya pada kehidupan-kehidupan mendatang.

 

Seorang sarjana India modern pernah berkata: "Apa yang dapat dipersembahkan oleh India kepada Dunia tidak lain falsafah pemikirannya." Para pemikir India secara konsisten telah membangun pondasi kepercayaan tentang kesatuan kehidupan, yang tidak menarik garis pemisah antara kehidupan manusia dan kehidupan dewata. Keyakinan yang begitu dalam terhadap kesatuan kehidupan ini telah menjadikan asimilasi dan sintesis berbagai budaya asli maupun budaya asing. Jadi walaupun perpecahan politik terjadi terus-menerus di anak-benua, India telah mempertahankan satu dasar kesatuan budaya. Budaya khas India yang tidak didapatkan pada budaya lain misalnya kehidupan asketik atau pertapaan, dan juga yoga atau meditasi. Sementara perpecahan politik telah menjadi ciri India sepanjang sejarahnya, Tiongkok telah bersatu selama lebih dari 2000 tahun, menjadikannya satu-satunya negeri yang memiliki pemerintahan tunggal terlama. Selagi agama telah mendominasi adat dan perilaku orang India, orang Tionghoa jauh lebih humanis dan duniawi. Sikap dan perilaku orang Tionghoa terhadap kehidupan lebih tertuju pada bagaimana menciptakan seni pemerintahan yang baik, kiat merawat catatan-catatan historis yang berharga (bandingkan dengan tradisi menghafal ala India), dan perihal merumuskan standar etika yang lebih membumi.

 

Peradaban Tiongkok dimulai dari Dinasti yang pertama yakni Dinasti Xia (2070-1600 seb.M.), yang keberadaannya semula dianggap hanya seledar mitos, tetapi penggalian arkeologi di dekade 60 hingga 70-an membuktikan jejak peninggalannya. Dinasti Xia didirikan oleh Yu Yang Agung, orang yang berhasil mengatasi banjir-tahunan di Sungai Kuning dan kemudian ia mampu menaklukkan etnis Sanmiao. Yu memimpin kerajaan hingga wafatnya, dan penerusnya dipilih dari keturunannya, dan sejak itu tradisi-dinasti menjadi ciri khas penguasa Tiongkok. Pada masa itu orang Tionghoa telah menyembah banyak dewa dengan satu dewa tertinggi yang dikenal sebagai Shangdi (pola yang sama juga ditemukan pada peradaban lainnya). Shangdi dianggap sebagai 'leluhur agung' orang Tionghoa, pula tokoh yang memimpin kemenangan dalam peperangan, pelopor dalam ilmu bercocok tanam, dan suri tauladan dalam bidang pemerintahan. Karena Shangdi terlalu sibuk dan juga terlalu jauh, orang Tionghoa menyembah perantaranya yakni para dewa yang lain dan para leluhur. Shangdi sendiri menunjuk wakilnya di Bumi ini dan orang itu tidak lain Kaisar Tiongkok. Jadi Kaisar di dunia ini mendapat mandat dari Shangdi di Surga.

 

Walaupun terdapat banyak ragam pemikiran dan agama orang Tionghoa, kita dapat meringkasnya menjadi empat konsep spiritual, kosmologis, dan moral, yang akan diuraikan berikut ini. (1) Tian (天), biasanya dinamakan sebagai "Surga", tetapi terjemahan yang lebih tepat adalah "Yang Agung" atau "Keseluruhan Agung" dan belakangan disebut "Shangdi" ("Patriakh Paling Awal", "Leluhur Paling Awal", "Kaisar Tertinggi"). Tian atau Shangdi bukanlah satu pribadi. Tian adalah realitas mutlak, sumber makna moralitas, dan semua kreativitas yang melekat pada dunia. (2) Qi (气) adalah napas atau substansi yang mana segala sesuatu terbentuk, termasuk benda mati, makhluk hidup, dan dewa. Qi juga merupakan rangkaian materi-energi. (3) Konsep tentang shen (神) yang bermakna dewa atau roh, karena mereka merupakan esensi atau energi, yang membangkitkan fenomena yang berbeda. Manusia juga memiliki roh, yang jika dikembangkan hingga mencapai potensi yang tertinggi, setelah mereka meninggal dunia akan menjadi leluhur yang dimuliakan. Pemujaan dewa dan leluhur ini dinamakan jingzu (敬祖). (4) Konsep tentang bao-ying (报应) meliputi hukum timbal-balik, balas-jasa atau ganjaran, serta penghakiman yang adil. Pada si pelaku kebaikan, Surga akan menurunkan berkahnya; sedangkan pada si pelaku kejahatan, dia akan menjatuhkan bencana. Tian mengatur dengan adil apa yang akan diberikan terhadap masing-masing individu, sesuai dengan kualitas perbuatan mereka.

 

Setelah Anda membaca pemikiran filosofis di atas yang berasal dari India dan Tiongkok, semoga penjelasan ini tidak membuat Anda menjadi bingung. Dengan membaca penjelasan di atas berulang-ulang, kita akan memahami sedikit demi sedikit tentang apa yang dikandung dalam kebijaksanaan kuno tersebut.

 

Dengan demikian kita mendapatkan pijakan yang kokoh pada hukum tabur-tuai ini. Hukum tabur-tuai tidak lain Hukum Karma yang telah kita kenal selama ini. Hukum tabur-tuai bisa diartikan pula sebagai bao-ying atau Hukum Retribusi Kebaikan-Kejahatan yang diatur oleh Surga atau oleh Tian yang impersonal. Semakin kita percaya dan yakin bahwa hukum tabur-tuai ini sungguh-sungguh ada, semakin kita berhati-hati dalam setiap perbuatan dan tindakan yang akan kita lakukan. Semoga demikian.



Rabu, 02 Juni 2021

DUPA



Anāthapiṇḍika, seorang umat awam yang belakangan dikenal sebagai penyokong utama Sang Buddha, sekali waktu berpesan kepada puteranya, "Seorang Buddha telah lahir di dunia ini dan orang banyak pergi berbondong-bondong mengunjunginya. Mereka ingin menghormatinya sambil membawa bunga dan dupa. Mengapa engkau malahan acuh tak acuh dengan tidak mempedulikan anjuran ayahmu?"

 

Teguran yang diberikan oleh sang hartawan yang mungkin terbilang orang paling kaya, seorang crazy rich menurut istilah yang populer saat ini, tentu bukanlah ungkapan kosong yang ke luar dari mulutnya begitu saja. Anāthapiṇḍika menghadiahkan Sangha Bhikkhu sebuah kompleks vihara yang besar dan lengkap di kota kelahirannya Sāvatthī. Kompleks vihara itu dinamakan Taman Jeta, dikenal sebelumnya sebagai taman nan permai, yang kemudian direnovasi dan dilengkapi dengan berbagai sarana yang bisa menunjang kehidupan kepetapaan secara masal.

 

Anāthapiṇḍika sendiri dikenal amat dermawan dan murah hati. Jika Sang Buddha sedang bermukim di Taman Jeta, dia menyempatkan diri untuk berkunjung ke sana dua kali sehari. Dan setiap kali berkunjung ada saja barang yang dibawanya, yang semuanya itu dipersembahkan kepada Sang Buddha dan bhikkhu-bhikkhu lainnya.

 

Bukan hanya Anāthapiṇḍika, umat awam lainnya yang telah lama mengenal Sang Buddha atau pun mereka yang baru berkunjung ke sana, biasanya tidak datang dengan tangan kosong. Kebiasaan bertandang ke rumah orang dengan membawa satu barang persembahan, yang mungkin akan diterima dengan rasa syukur oleh tuan rumah, bukan hanya terjadi di zaman kuno saja. Katakanlah kita berkunjung ke rumah saudara, famili, atau kerabat kita, adalah lebih afdol jika kita membawa barang yang bisa bermanfaat untuk orang yang kita kunjungi. Persembahan itu seyogianya dilandasi oleh keinginan berbagi kepada sesama dan didasari pada ketulusan hati kita.

 

Sang Buddha sendiri tidak selalu tinggal di Sāvatthī, seperti yang kita ketahui dari kisah hidupnya, Beliau mengembara ke banyak negeri di India. Ketiadaan Sang Buddha di Taman Jeta membuat Anāthapiṇḍika merasa kehilangan peluang untuk menyatakan rasa bakti kepada gurunya. Pada satu hari dia menyatakan kepada Y.M. Ānanda, perihal keinginannya untuk membuat sebuah obyek pemujaan yang dapat mewakili keberadaan gurunya. Setelah keinginannya disampaikan kepada Sang Buddha; Yang Tercerahkan memberikan beberapa pilihan obyek pemujaan, antara lain sisa perabuan jenazahnya, barang yang pernah dipakai oleh beliau, dan tempat suci berkaitan dengan episode terpenting dalam kehidupan sang guru. Dari pilihan yang diberikan, yang paling cocok untuk dijadikan monumen-peringatan adalah pohon Bodhi, yang pernah berjasa melindungi Sang Bodhisattva hingga dia mencapai Pencerahan Agung. Dengan bantuan Y.M. Moggallāna, satu anakan-pohon Bodhi yang berasal dari pohon induk di Uruvela diambil dan dibawa untuk ditanam di Taman Jeta oleh Anāthapiṇḍika sendiri. Anakan-pohon itu tumbuh subur dan selanjutnya dijadikan sebagai obyek pengabdian bagi umat yang saleh.

 

Pohon itu kemudian dijadikan monumen suci yang dihormati umat. Jika Sang Guru tidak berada di tempat, barang persembahan seperti dupa dan bunga-bunga diletakkan di bawah pohon itu. Tentu menjadi pertanyaan bagi Anda sekalian, mengapa harus dupa dan bunga yang dibawa umat? Selain makanan, obat-obatan, dan sesekali kain untuk para bhikkhu, tidak terdapat barang yang pantas untuk dihadiahkan kepada tokoh atau guru spiritual yang dihormati oleh mereka, sesuai dengan adab kesopanan zaman itu. Bunga-bunga beraneka jenis yang dipilih dan dirangkai sedemikian elok, bukan saja pantas dijadikan hadiah bagi seseorang yang dihormati pada zaman kuno, tetapi tradisi itu juga berlanjut hingga ke masa kini yang ditandai dengan perkembangan teknologi dan penemuan baru yang tidak ada habis-habisnya. Kita semua tahu ungkapan rasa syukur dan terima kasih diwujudkan dalam bentuk rangkaian-bunga. Ulang tahun dan perkawinan lazim memanfaatkan bunga; ada orang yang meninggal dipakai bunga untuk mengungkapkan dukacita; pasangan yang sedang jatuh cinta menggunakan bunga untuk mengungkapkan perasaan mereka. Jika bunga dimanfaatkan sebagai benda persembahan, bagaimana halnya dengan dupa?

 

Persembahan dupa berasal dari kebiasaan manusia zaman kuno yang tersebar di berbagai tempat di muka bumi ini. Mempersembahkan dupa kemudian membakarnya mungkin merupakan ungkapan penghormatan dan pemujaan yang paling penting, yang dapat kita gambarkan. Penghormatan dan pemujaan kepada siapa? Kepada para Dewa dan Dewi, sebelumnya juga merupakan ungkapan pengabdian terhadap otoritas dan kesucian sosok penguasa alam. Mempersembahkan dupa pada masa itu juga bukan pekerjaan yang mudah, karena dibutuhkan persiapan yang memadai. Dupa yang digunakan masih berupa potongan, serpihan, atau bubuk yang berasal dari tanaman tertentu; serta tidak bisa terbakar dengan mudah. Agar bisa terbakar dan menghasilkan asap dan aroma yang wangi, dupa jenis ini dibakar di atas bara api. Jadi sebuah tempat pembakaran yakni sebuah anglo atau tungku kecil mutlak disediakan terlebih dahulu. Anglo ini biasanya terbuat dari tembikar atau logam. Lalu membuat api di zaman kuno juga bukan perkara mudah. Batu-api digesek, dipuntir, atau dipukulkan sehingga tercipta percikan api kecil, yang diumpankan pada serat-kapuk atau sejumput bulu yang mudah terbakar. Begitu api kecil menyala, daun-daun kering diumpankan lagi sehingga api mulai berkobar, lalu ranting-ranting kering ditambahkan sampai menjadi arang. Nah, setelah arang membara dengan stabil baru ditambahkan dupa di atasnya.

 

Membakar dupa memiliki pula dimensi keyakinan yang lain bagi mereka yang melakukannya. Dengan bantuan api ada nilai penyucian simbolik yang rumit, yang biasa dilakukan oleh praktik kepercayaan domestik. Menurut kepercayaan Veda di India, Yajñá yang bermakna kurban, atau persembahan, atau pemujaan, dilangsungkan melalui satu upacara di depan api suci, yang biasanya disertai pula dengan pembacaan mantra. Adapun yang menjadi barang persembahan antara lain ghee, susu, bijih-bijihan, dan penganan. Dalam tradisi orang Tionghoa, persembahan kertas-uang dan replika barang kebutuhan sehari-hari yang terbuat dari kertas, yang mana lazimnya persembahan ini dituntaskan dengan membakarnya pada akhir upacara.

 

Berbakti, bersembahyang, serta memuja dewa dan dewi adalah tradisi manusia yang sudah berlangsung sejak zaman prasejarah di berbagai belahan bumi. Ratusan tahun sebelum abad pertama Masehi, politheisme yang dianut oleh bangsa-bangsa di Eropa, menyerupai apa yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain di Dunia Timur. Ketika mereka bersembahyang kepada para dewa yang mereka yakini, orang-orang Viking misalnya memberikan persembahan berupa roti, daging, bawang, susu, madu, dan bir. Seorang kaisar Romawi bernama Numa, yang berkuasa pada masa awal kekaisaran yang terkenal karena kesalehannya, menetapkan apa saja yang pantas dipersembahkan kepada para dewata. Diantara persembahan yang disarankan antara lain roti, kue kurban yang disiapkan secara khusus dan dimaniskan dengan madu, anggur, susu, bunga, dan rempah-rempah lokal. Sebagai pelengkap orang melakukan persembahan dupa, dengan cara meletakkannya di atas arang yang terbakar, seperti yang biasa dilakukan untuk membakar dupa di dunia kuno.

 

Sekarang apa itu dupa yang dikenal sejak ribuan tahun yang lalu? Dupa wangi itu berasal dari frankincense dan myrrh. Frankincense menurut kamus bahasa Indonesia adalah "kemenyan", yang diperoleh dari getah tanaman Boswellia. Sedangkan myrrh diterjemahkan sebagai "mur", yang mirip dengan bunyi aslinya, berasal dari getah pohon Commiphora. Mur sudah dikenal sejak masa yang lebih tua, yakni dipergunakan untuk membalsem jenazah para firaun di zaman Mesir Kuno. Pohon boswellia dan commiphora merupakan tumbuhan yang bisa berkembang di ekosistem tandus di benua Afrika bagian timur dan Semenanjung Arab. Jejak kedua produk wewangian itu melekat erat pada kota kuno Petra di Yordania, dan referensi kota ini disebutkan pula dalam Alkitab. Sekarang bagaimana ceritanya, kemenyan dan mur bisa didapatkan di Eropa pada masa itu? Menurut Mclaughlin, Kekaisaran Romawi atau Imperium Romanum sejak mulai berkuasa, telah melakukan perdagangan lewat laut dengan para saudagar dari Semenanjung Arab (Rome and the Distant East: Trade Routes to the Ancient Lands of Arabia, India and China, Continuum Books), dan mereka membeli komoditi wewangian ini dari mereka.

 

Bagaimana mendapatkan kemenyan dari pohon boswellia? Tidak semua dari 550 spesies Burseraceae yang ada dapat dimanfaatkan untuk mendapatkan produk wewangian ini.  Hanya ada enam jenis yang bisa diambil getahnya pada pohon-pohon yang terdapat di Ethiopia. Untuk mengambil getahnya, bagian batang pohon ini dilukai, sama halnya dengan metode menyadap pohon karet. Setelah batang pohon terluka, pohon akan mengeluarkan getahnya, dan lama-kelamaan getah ini akan mengkristal. Kristal yang terjadi bisa dipanen lima-belas hari kemudian dan produk ini sekarang dinamakan sebagai resin. Resin yang berbentuk butiran ini kemudian disortir menurut mutunya, dengan kelas-A sebagai kemenyan yang terbaik, dengan kandungan ketidakmurnian yang paling sedikit. Pohon-pohon kemenyan ini sekarang dalam kondisi mengkhawatirkan. Pohon yang sudah tua mengalami eksploitasi-berlebihan dan anakan pohon susah didapatkan, karena spesies ini sulit untuk dibudidayakan.

 

Tidak hanya kemenyan dan mur yang bisa dijadikan dupa. Di daerah Ghat di India dan di kepulauan Nusa Tenggara banyak ditemukan pohon Cendana. Kayunya bisa dijadikan mebel yang keharumannya bisa bertahan hingga puluhan tahun, dan bagian kayu lainnya dimanfaatkan sebagai bahan dupa. Dengan semakin berkembangnya pengetahuan tentang cara mengolah produk wewangian, semakin banyak bahan yang dapat dicampur dalam pembuatan dupa. Selain cendana, digunakan pula kayu dan kulit-kayu aromatik lainnya, biji-bijian, akar, dan bunga. Rempah-rempah pun ikut dimanfaatkan seperti kapulaga, kayu manis, jahe, jintan, daun salam, rosemary, thyme, kunyit, dan lain-lain. Produk wewangian yang dihasilkan pun semakin besar hingga mencapai miliaran dolar per tahunnya. Sekarang bahan baku aromatik ini bukan saja memasok industri pembuatan dupa, tetapi juga industri minyak-wangi atau parfum, dan industri farmasi.

 

Lambat laun terjadi perkembangan dalam pembuatan dupa. Seperti yang disebutkan di atas, dupa zaman kuno berbentuk serpihan, butiran, atau bubuk yang harus dibakar di atas bara api. Agar dupa bisa menyala sendiri maka bahan utamanya mesti dicampur dengan serbuk kayu yang mudah terbakar, serta adonannya dicampur dengan resin yang berasal dari damar supaya bisa dicetak. Bahan utama terdiri dari beberapa bahan yang digiling dan dicampur, sehingga membentuk masala atau bubuk bahan dasar. Dupa di India dinamakan dhoop atau agarbatti, bisa diperoleh dalam berbagai bentuk dan ukuran. Ada yang dibentuk kerucut agar mudah disulut ujungnya dan diletakkan di atas altar; atau dibentuk memanjang dengan batang bambu, dan kita mengenalnya sebagai hio.

 

Sepanjang yang diketahui, pengetahuan tertua tentang dupa bisa dirunut dari Kitab Veda, khususnya, Atharva-Veda dan Rg-Veda, yang menetapkan dan mendorong metode pembuatan dupa yang seragam. Sedangkan pembuatan dupa yang terorganisir kemungkinan besar diciptakan oleh para brahmana, dengan berpegang pada sistem medis Ayurveda. Sekitar abad ke-3 M, sekelompok bhikshu Buddha yang mengembara sampai jauh ke Tiongkok, membawa contoh dupa dari India dan memperkenalkan cara pembuatannya. Sejak saat itu dupa atau hio mulai digunakan dalam upacara keagamaan, bukan saja untuk upacara agama Buddha tetapi juga untuk persembahyangan agama orang Tionghoa. Kayu cendana dan rempah-rempah untuk bahan dupa masih didatangkan dari India dan negara-negara lain.

 

Di Indonesia, penggunaan dupa untuk upacara keagamaan diyakini sudah mulai diperkenalkan sejak masa kerajaan Hindu-Buddha di Jawa dan Sumatera. Sedangkan dupa dalam bentuk hio diperkenalkan oleh migran Tionghoa yang datang ke Kepulauan Indonesia. Setelah menetap di Nusantara mereka mendirikan bio, dan sejak adanya rumah ibadah itu penggunaan hio menjadi semakin marak. Sekarang ini industri pembuatan hio di Tanah Air dikuasai oleh pabrikan yang sudah bergelut di industri ini sejak puluhan tahun yang lalu. Namun ada penguasa yang memproduksi hio secara musiman contohnya yang dilakukan di Tangerang, guna mengisi pasokan dupa menjelang sembahyang Tahun Baru Imlek atau Ceng Beng. Salah satu ciri yang membedakan hio buatan masa kini dengan hio zaman baheula, tidak lain harga jualnya yang semakin murah. Hal ini disebabkan hio zaman kita lebih banyak menggunakan bahan aromatik sintetis atau kimiawi, ketimbang bahan aromatik alami.

 

Penggunaan hio di rumah ibadah yang berlebihan kerap dikeluhkan, karena asap yang dikeluarkan mengandung gas yang bersifat karsinogenik, yang bisa memicu penyakit kanker. Anda yang terbiasa mengadakan pujabakti di rumah, sambil membaca paritta atau keng, atau berlatih meditasi tidak perlu khawatir. Pastikan cetiya atau ruang ibadah di tempat Anda memiliki ventilasi yang baik. Bakarlah dupa secukupnya saja, atau cukup satu buah atau satu batang saja. Pilihlah dupa yang berkualitas baik dan sudah dikenal mereknya meskipun harganya lebih mahal. Bagi yang suka menggunakan produk India, pilihlah Chandan Dhoop yang kandungan cendananya lebih banyak. Pemasangan dupa juga disarankan karena asapnya mampu mengusir nyamuk dan keharumannya mampu meningkatkan konsentrasi.

 

Tulisan ini kami tutup dengan menjawab pernyataan orang awam, yang menyebutkan penggunaan hio adalah keharusan dalam memanjatkan doa dan pengharapan, agar didengar oleh para dewa dan dewi. Menurut Carmelo Cannarella, peneliti kontemporer yang menekuni kepercayaan Dewa-dewa Romawi, menulis perihal praktik sembahyang dengan membakar dupa: "Asap dupa yang membumbung ke langit pada dasarnya adalah suatu peninggian, suatu tindakan transendensi, satu momen keterhubungan diantara matra Manusia dengan dimensi Dewa Surgawi: terkoneksinya Bumi dan Langit. Dalam esensinya, perbuatan membakar dupa dengan dihasilkannya tiang kecil asap-wangi, secara material menggambarkan sebuah "poros" yang mampu merealisasikan satu pergerakan ke atas. Spiral asap dupa ini mewakili satu pernyataan pendakian langsung ke surga, sama halnya dengan menaiki tangga-spiral. Dengan demikian spiral asap ini secara simbolis merupakan satu lorong yang menghubungkan hierarki berbagai alam kehidupan, atau mewakili derajat Eksistensi Semesta."

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210602


Kamis, 20 Mei 2021

KELAHIRAN SANG MANUSIA AGUNG

 

 


Hari menjelang senja namun suasana masih terang benderang dan sepasang suami-isteri, Suddodhana dan Mahā Māyā, nampak sumringah ketika mereka berdua sedang bersantai di beranda belakang istana. Māyā yang sedang hamil besar ditemani suaminya tampak amat berbahagia, mengingat sebentar lagi mereka akan mendapatkan seorang keturunan, yang kelak akan menjadi pewaris tahta dan meneruskan kejayaan bangsa dan negeri mereka. "Kakanda," kata Māyā kepada suaminya, "aku merasa kelahiran bayi kita sudah semakin dekat. Izinkanlah daku pulang ke rumah Ibunda untuk melahirkan anak kita di sana." "Apakah engkau perlu pulang sejauh itu, hanya untuk melahirkan anak kita?" tanya suaminya. "Adat istiadat kami turun-temurun menitahkan para ibu, untuk melahirkan anak pertamanya di rumah orang tuanya," jawab isterinya.

 

Melihat suaminya terdiam Māyā menambahkan, "Sesuai dengan tradisi, aku telah memohon kepada para Dewa : Vișņu, Prajāpati, Sinivālī, Sarasvatī, dan Aśvinī, untuk turut merawat perkembangan garbha (janin), agar anak kita tumbuh dengan baik. Dan sekarang usia sang janin telah mendekati sepuluh bulan. Ibuku, sang ibu suri, memahami bagaimana merapalkan doa, agar perempuan yang akan melakukan persalinan dapat dengan lancar menginduksi kontraksi dalam rahimnya. 'Laksana angin mengerutkan tanaman teratai di setiap sisinya pada sebuah kolam', dengan cara yang sama rahimnya akan dirangsang, sehingga jarāyu (selaput janin) akan keluar dengan mudah. Sedemikian sehingga sang janin yang telah beristirahat selama berbulan-bulan dalam rahim ibunya, kini dapat melihat dunia luar tanpa cidera. Sang jabang-bayi yang kelak akan serupa dengan ayah dan ibunya."

 

Māyā kemudian menambahkan, "selama proses persalinan sang calon ibu membutuhkan pendampingan para perempuan lainnya. Mereka akan memberikan nasihat bijaknya, mempertunjukkan kasih-sayangnya, dan meredakan segala bentuk kekhawatirannya. Tugas dari para wanita yang mendampingi ini juga memberikan perintah kepada sang calon ibu bagaimana dia harus memposisikan tubuhnya selagi melakukan persalinan; apakah dia harus duduk, berbaring, berjongkok, yang seiring dan sejalan dengan keluarnya sang bayi dari rahimnya. Mereka akan merapalkan mantra-mantra yang akan membawa kesehatan dan kesejahteraan bagi si jabang-bayi dan ibunya. Mereka akan memandikan si jabang-bayi, membersihkan mulut dan tenggorokannya, menutupi ubun-ubunnya 'dengan kasa yang telah dilembabkan dengan minyak', memotong tali-pusar dan mengikatnya di pusar si bayi. Selanjutnya para perempuan itu akan membimbingku, bagaimana menyusui sang jabang-bayi dengan benar. Dalam Sushruta Samhita disebutkan, 'Semoga empat samudera bumi berkontribusi pada pengeluaran susu di payudaramu, agar meningkatkan kekuatan tubuh si jabang-bayi. Wahai, dikau dengan wajahmu nan jelita. Semoga anak ini, yang dibesarkan dengan susu dikau, mencapai umur panjang; selayaknya dewa-dewa yang diciptakan abadi berkat minuman ambrosia yang mereka konsumsi'."

 

"Baiklah jika demikian," Suddodhana menjawab, "besok pagi adalah saat yang tepat untuk melakukan perjalanan ke Rāmagramā." "Benar, kakanda. Bepergian di bulan Vaishakha ini akan sangat menyenangkan. Udaranya hangat sepanjang hari, dan di malam hari bulan yang hampir bundar-sempurna akan menerangi waktu istirahat kami," jawab Māyā. Suddodhana, sang penguasa Shakya, segera memanggil sang patih, orang kepercayaannya. Ia memerintahkan, "Paman Patih, Permaisuri akan berangkat ke rumah orang tuanya besok pagi. Segera engkau siapkan tandu-kerajaan dan para prajurit yang akan mengusungnya. Siapkan pula pasukan berkuda untuk mengawalnya, dan jangan lupa prosesi ini harus menyertakan pula gajah istana. Beritahukan rakyat kita yang tinggal di sepanjang jalan raya, untuk menyambut iring-iringan kerajaan ini, serta perintahkan mereka agar memasang pula umbul-umbul di sisi jalan."

 

Kita tinggalkan dulu Suddodhana yang tengah menyiapkan kepergian isterinya. Selang lebih tiga hari setelah peristiwa itu, di Puncak-puncak Meru yang sejuk ada sekumpulan dewata yang sedang berkumpul. Mereka semua adalah Kawanan Tiga Puluh Dewa. Dengan berpakaian cerah dan anggun, mereka mengibarkan bendera-bendera dan panji-panji kebesaran. Diantara para dewa itu, ada yang sedang memainkan sitar dan kecapi, sedangkan yang lainnya bernyanyi-nyanyi dan menari-nari. Setelah itu mereka memekik dan bertepuk tangan. Demi mendengar suara ribut-ribut itu sang raja dewa, Sakka, tiba-tiba muncul di hadapan mereka, karena dirinya terganggu mendengar nyanyian dan teriakan yang gegap gempita. Dengan penuh hormat ia menyapa mereka dan bertanya: "Mengapa Kawanan Tiga Puluh Dewa ini begitu bergirang hati? Mengapa mereka membawa keluar bendera-bendera dan panji-panji kebesaran sambil melambai-lambaikannya? Tidak pernah ada peringatan seperti ini sebelumnya. Bahkan setelah usainya pertempuran dengan para raksasa, yang mana para dewa menang dan para raksasa kalah. Peristiwa ajaib apa lagi yang kalian dengar, hingga menggirangkan hati kalian semua?"

 

Sakka melanjutkan, "aku memohon, jangan tinggalkan aku dalam kebingungan, tuan-tuan yang baik." Kawanan Tiga Puluh Dewa itu pun menjawab: "Satu peristiwa yang luar biasa baru saja terjadi. Empat Raja Dewa, yang berkuasa di empat mata penjuru angin, sekonyong-konyong turun dari Gunung Sumeru ke Negeri Shakya di Tanah Lumbinī. Dhatarattha, Sang Penguasa Surga Timur yang mengenakan jubah putih-keperakan beserta pengiringnya para gandhabba, sambil membawa perisai mutiaranya. Virūḍhaka, Sang Penguasa Surga Selatan, diikuti oleh anak-buahnya para kumbhanda, memakai gaun biru lengkap dengan perisai safirnya. Virūpakkha, Sang Penguasa Surga Barat yang mengenakan jubah merah beserta pengiringnya para nāga, sambil membawa perisai koralnya. Vessarana, Sang Penguasa Surga Utara, diikuti oleh anak buahnya para yakkha, memakai gaun kuning lengkap dengan perisai emasnya. Ketika Sang Manusia Agung keluar dari rahim ibunya, ia tidak menyentuh bumi. Empat Raja Dewa itu menerimanya dan kemudian meletakkannya di samping ibunya, dengan berkata: "Bergembiralah, oh Ratu Agung. Seorang bayi laki-laki yang memiliki kekuasaan besar telah dilahirkan untuk Paduka."

 

Sakka, Sang Raja Dewa, dengan rasa penasaran bertanya lebih lanjut, "Wahai Kawanan Tiga Puluh Dewa, jelaskan padaku siapa itu gerangan Sang Manusia Agung?" Mereka serempak menjawab: Dia adalah Makhluk Yang Akan Tercerahkan, sebuah Permata Yang Tak-ternilai, yang telah lahir di dunia manusia untuk kesejahteraan dan kebaikan. Karena itu kami luar biasa girang. Makhluk Yang Tiada Duanya, sang Kepribadian Agung. Raja semua manusia, dan Yang Paling Terkemuka diantara umat manusia. Dia akan memutar Roda Dharma di Taman bermukimnya Yang Melihat dari Zaman Lampau. Dengan auman singa, di kerajaan para hewan buas."

 

Demikianlah, tidak sesuai dengan rencana semula, Sang Permaisuri telah melahirkan bayi mereka di Taman Lumbinī, sebuah kebun nan permai, belum sampai setengah-jarak antara Kapilavastu dengan Rāmagramā. Rombongan kerajaan pun kembali pulang disertai kebahagiaan yang luar biasa. Kabar mengenai kelahiran sang pewaris tahta beserta mukjizat-mukjizat yang menyertainya, telah menyebar dengan cepat ke seantero negeri Shakya, dan rakyat pun merayakan peristiwa ini dengan kegembiraan yang meluap-luap. Suddhodana pun tercengang-cengang dan tak habis pikir mendengar kisah kelahiran puteranya yang luar biasa itu. Alam pun seolah-olah ingin mengungkapkan kegembiraannya, dengan membuat bunga-bunga bermekaran di pohonnya, hingga harumnya kembang memenuhi atmosfer negeri Shakya.

 

Di kaki pegunungan Himalaya pada satu padepokan sederhana, hiduplah Sang Petapa Asita, seorang suciwan sepuh berambut abu-abu. Sang petapa yang telinganya telah lama tertutup untuk hal-hal duniawi, baru saja menangkap suara surgawi, bahwasanya Sang Manusia Agung telah lahir di lingkungan keluarga penguasa Shakya. Sang petapa sepuh, yang sesungguhnya masih kenalan Suddhodana dan Permaisuri, tergopoh-gopoh berangkat ke istana untuk menyaksikan sendiri sang bayi yang baru lahir. Melihat kedatangan sang petapa sepuh, Raja memberi hormat dan Permaisuri menyambutnya pula dengan ramah. Setelah sang petapa menanyakan keberadaan si bayi, kegembiraan yang bergelora membanjiri hati Asita. Memandang cemerlangnya si bayi, selayaknya sebuah cahaya nan murni. Melihat si bayi, laksana perhiasan emas di atas kain brokat. Dengan payung putih menaungi di atas kepalanya, sang petapa menimang sang bayi dengan penuh sukacita dan kebahagiaan. Segera setelah diterimanya si Raja Shakya Kecil, kemahirannya dalam menafsirkan marka dan tanda di tubuh bayi, diungkapkan dengan keyakinan hatinya tanpa ragu: "Diantara bangsa berkaki-dua, si bayi ini tidak ada duanya."

 

Kemudian ia teringat, memandang ke dalam dirinya sendiri. Dalam duka yang amat dalam, air mata keluar membanjir dari kedua matanya. Para ningrat Shakya melihatnya menangis, serta merta bertanya: "Adakah marabahaya yang kelak akan menimpa pangeran kami?" Namun kepada mereka yang gelisah ia cukup menjawab: "Selagi aku melihat ke depan, tak ada malapetaka yang akan menyentuh sang pangeran. Tidak juga ada marabahaya yang menantinya. Ingatlah bahwa dia bukan golongan kelas dua, karena dia akan mencapai puncak pengetahuan nan sejati. Dia pula Yang Mencapai Kesucian yang tiada taranya. Serta karena welas-asihnya pada orang banyak, ia akan memutar Roda Dharma dan menyebarkan kehidupan suci. Namun sedikit lagi waktu hidupku tersisa hari ini. Dan aku akan mati tidak lama lagi, jadi aku tidak akan mendengar Sang Pahlawan tanpa tanding mengajarkan Dharma yang Sejati. Itulah hal yang menyedihkanku, kehilangan itu membuatku merana."

 

Sebelum meninggalkan istana, sang petapa sepuh menyampaikan pesan kepada sang permaisuri. "Rahimmu engkau dedikasikan sepenuhnya untuk bayi ini, wahai Permaisuri yang mulia! Dikau, yang menjadi kesayangan para dewa dan manusia, terlalu sakral untuk terkena dukacita duniawi. Dan kehidupan di sini sesungguhnya duka. Maka dari itu dalam tujuh hari, dikau akan menuju akhir kesengsaraan." Tidak ada yang memperhatikan untaian kalimat terakhir ini, karena keluarga besar istana terhanyut oleh kesukacitaan yang meluap-luap, setelah mendengar penerawangan sang petapa sepuh.

 

Hari kelima sejak kelahiran sang bayi, Raja Suddhodana menyelenggarakan Upacara Nāmakaraṇa Saṁskāra, yakni pemberian nama kepada bayi yang baru lahir. Istana menyeleksi dan mengundang seratus-delapan orang brahmana terkemuka. Nama orang harus dimulai dengan huruf-mati atau huruf-semi-mati diikuti dengan huruf-hidup, dan membentuk satu suku-kata. Nama diri bisa terdiri dari dua, empat, atau enam suku kata. Setelah para brahmana berembuk dengan keluarga, dipilihlah nama diri "Savārthasiddh" yang bermakna, "Yang Maha Sejahtera," dan kemudian disingkat sebagai "Siddhārtha."

 

Dari semua brahmana yang hadir di istana, delapan orang diantaranya mahir dalam meneropong masa depan seseorang. Kedelapan brahmana itu adalah Rāma, Dhaja, Lakkhaṇa, Mantī, Yañña, Subhoja, Sudatta, dan Kondañña. Raja bertanya kepada para brahmana peramal: "Wahai kalian para bijak. Dengan penglihatan kedewaan kalian, seperti apakah perjalanan kerajaanku di bawah tampuk sang putera-mahkota kelak? Akankah dia akan membawa negeri ini pada kejayaan dan kegemilangan?" Setelah mendengar pertanyaan dan permintaan Sang Raja Junjungan mereka, delapan brahmana bijak itu duduk bersilang-kaki, memejamkan mata mereka, dan dalam selang waktu tidak berapa lama kemudian mereka semua berdiri dan dengan takzim menghadap Sang Raja. Ketujuh orang brahmana serempak mengacungkan dua jari ke atas, namun Kondañña, sang brahmana yang paling muda usianya, hanya mengacungkan satu jarinya.

 

Raja bertanya kepada kelompok tujuh brahmana, "Apa maksud kalian dengan menunjukkan dua jari?" Brahmana yang paling tua dari tujuh orang itu maju ke muka mewakili kawan-kawannya. "Sang Putera Mahkota adalah seorang Chakravartīn, Raja Diraja, yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun. Dia memiliki tujuh macam harta yang tak-ternilai. Chakra-ratna roda-dewata, Permata Mulia, Aswa-ratna kuda yang membanggakan, Hasti-ratna sang gajah seputih-salju, Menteri yang cakap dan terampil, Jenderal perkasa yang tak-terkalahkan, dan Isti-ratna sang isteri dengan berkah yang tak-ternilai. Namun jika dia tidak menjadi Penguasa Dunia dan meninggalkan istananya, dia akan menjadi seorang Buddha, yang akan menyelamatkan para dewa dan manusia." Giliran Kondañña yang ditanya; ia serta merta menjawabnya dengan penuh keyakinan, bahwa pangeran kecil kelak akan menjadi seorang Buddha. Kemudian Raja kembali menanyai kelompok tujuh brahmana itu, dengan cara apa pangeran sampai meninggalkan istananya. Mereka pun menjawab, "peristiwa itu akan terjadi jika Pangeran Mahkota melihat orang tua, orang sakit, sesosok jenazah, dan seorang petapa suci. Suddhodana pun memahami takdir yang akan dilakoni oleh sang penerus tahta, dan ia pun telah memikirkan apa yang terbaik untuk dirinya dan kerajaannya.

 

Setelah upacara pemberian nama puteranya usai, Suddhodana memanggil orang kepercayaannya. "Paman Patih, baru saja kita dengar penujuman yang dilakukan oleh para brahmana itu. Bagaimana sekarang menurut pendapatmu?" "Keluarga kerajaan pasti sepakat bahwasanya Sang Putera Mahkota akan membawa kebesaran dan kejayaan pada Negeri Shakya ini. Seperti Chakra (roda) yang menggelinding ke sana kemari dan menggilas apa saja yang ditemuinya, demikian pula Raja kita nanti akan menaklukkan dan menguasai negeri-negeri di sekitarnya seperti Gandhara, Kashi, Kamboja, Kosala, Magadha, Malla, dan Vajji. Demikian pula kota-raja mereka seperti Campā, Rājagaha, Sāvatthī, Sāketa, Kosambī, dan Benares, yang akan menyerukan puji-pujian kepada Sang Chakravartīn. Bahkan seluruh Jambudvipa ini akan bersatu dan berpadu di bawah kekuasaan penguasa dari Kapilavastu." Suddhodana mengomentari, "Benar, Paman Patih. Tugas kita sekarang tidak lain menjaga, agar Sang Putera Mahkota tidak sampai menyaksikan empat penampakan seperti yang dikatakan oleh para brahmana itu."

 

Dua hari berselang, hari masih pagi namun kepanikan dan kegemparan melanda istana Suddhodana. Para wanita dan dayang-dayang istana menangis dan meratap, lalu mereka melaporkan kejadian yang memilukan kepada sang penguasa. "Paduka Yang Mulia, Junjungan kami Permaisuri nan Mulia tidur sejak kemarin malam dan ia tidak bangun-bangun lagi!" Suddhodana bergegas ke kamar peraduan isterinya dan mendapatkan Māyā yang sedang tidur dengan wajah yang masih tersenyum. Tabib-tabib istana segera dipanggil dan semua akhirnya menyimpulkan bahwasanya Sang Permaisuri nan Mulia telah mangkat. Pajāpatī, adik kandung Māyā sekaligus masih merupakan isteri dari Suddhodana, menyeruak masuk dan memohon kepada suaminya, "izinkanlah daku untuk menyusui dan merawat pangeran kecil ini, duhai Junjunganku." Suddhodana tersadar dan ia pun langsung memberikan restunya.

 

Suddhodana terguncang dan bersedih. Ia lantas teringat kata-kata terakhir yang diucapkan oleh si Bijak Asita. Ramalannya terbukti tepat. Ia pun bimbang dan gundah gulana, akankah terwujud penujuman para brahmana itu mengenai takdir Sang Pangeran Mahkota?

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210519

 

Minggu, 09 Mei 2021

PENCIPTAAN ALAM SEMESTA

 



Sejak zaman purbakala ribuan tahun yang lampau manusia yang mendiami bumi ini kerap bertanya-tanya, bagaimana bumi dan alam semesta ini tercipta. Dari pengalaman mereka dunia ini begitu teratur, ada siang ada malam yang datang silih berganti dengan kepastian yang mengagumkan. Setiap pagi matahari terbit di timur dan di sore hari ia tenggelam di barat, serta siang dan malam menciptakan suasana alam yang sangat berbeda. Belum lagi musim-musim yang datang silih berganti sepanjang tahun, dan kejadian itu pun berlangsung secara ajeg dari tahun yang satu ke tahun yang berikutnya, serta kepastian itu berlangsung sepanjang masa hidup mereka. Orang-orang yang kritis akan bertanya, apakah keadaan bumi kita yang menakjubkan itu telah berlangsung sejak dulu kala? Atau barangkali baru terjadi setelah bumi dan alam semesta itu tercipta?

 

Nenek moyang kita yang sudah lama bertanya-tanya perihal permulaan dunia dan alam semesta, sedikit demi sedikit mendapatkan jawaban lewat cerita-cerita orang sezamannya yang begitu memikat dan mampu memuaskan rasa ingin tahu mereka. Cerita-cerita itu menggambarkan penciptaan alam semesta dan dunia, termasuk pula kisah manusia pertama yang mendiami dunia ini. Mitos penciptaan yang dikenal sebagai kosmogoni, mengekspresikan pemahaman leluhur kita tentang keberadaan umat manusia di dunia dan di alam semesta ini. Mitologi tentang penciptaan ini ternyata ditemukan di beberapa bangsa dan kebudayaan kuno, yang berasal dari zaman yang berbeda-beda. Sebagian kisah tentang penciptaan dunia dan alam semesta hanya dikisahkan lewat cerita lisan yang disampaikan secara turun-temurun, sedangkan sebagian lagi ditulis dalam naskah-naskah suci mereka dan terawetkan hingga masa kini. Salah satu kisah penciptaan alam semesta yang ditemukan secara kebetulan terjadi pada 1846, yakni tentang Enuma Elis. Mite yang bersumber dari kebudayaan Babilonia atau Mesopotamia ini diperkirakan ditulis sekitar tahun 1100 seb.M., diperoleh dari inskripsi yang tercetak di atas beberapa buah tablet tanah liat. Enuma Elis berisi epik yang mengisahkan kemenangan Marduk, yang kemudian menjadi pimpinan para dewa, atas rivalnya Tiamat, dan peristiwa tersebut sekaligus menjadi awal penciptaan dunia.

 

Dalam tulisan ini kita tidak ingin membanding-bandingkan antara satu mitos penciptaan dunia dan alam semesta yang berasal dari bangsa dan kebudayaan yang berbeda-beda, tetapi kita akan mengambil satu contoh yakni mitos penciptaan alam semesta yang berasal dari Tiongkok. Kemudian kita akan melihat sekilas kosmogoni dari pandangan sains. Tulisan ini akan ditutup dengan pertanyaan, apakah alam semesta kita ini akan berlangsung terus seperti saat ini atau akan berakhir pada satu titik tertentu.

 

Jika kita meneliti literatur Tiongkok Kuno ada kisah tentang sesosok makhluk bernama Pán Gǔ. Ia adalah leluhur yang paling awal dari segala sesuatu, tokoh yang membuka langit (atau surga) dan bumi dengan sekuat kemampuannya. Namun tragisnya, pada akhir hidupnya, ia harus mengorbankan nyawanya sendiri guna menjadi bagian dari alam semesta itu sendiri. Pan Gu (Pinyin: Pán Gǔ Shì; 盘古氏) bermakna "Pán" itu "cangkang telur", dan "Gǔ" berarti "mengamankan" atau "padat"; jadi secara harfiah Pan Gu tidak lain cangkang telur yang telah memadat atau mendekati saat menetasnya.

 

Selama ribuan tahun legenda Pán Gǔ yang secara menakjubkan membentuk alam semesta, disebarluaskan dari satu generasi ke generasi yang berikutnya. Tokoh ini senantiasa dikenang sebagai satu diantara mutiara dalam cerita rakyat Tiongkok. Narasi tentang Pan Gu sendiri memiliki banyak versi, tetapi pesan yang ingin disampaikan oleh yang empunya cerita tetaplah sama. Pada zaman dahulu kala, sebelum ada apa pun di alam semesta ini, ada entitas berbentuk telur yang berukuran sangat besar. Di dalam telur purba raksasa ini, dua kekuatan yang saling berlawanan, yang oleh orang Tionghoa dikenal sebagai Yin dan Yang belumlah ada alias masih bercampur-baur dalam keadaan kacau. Serta di luar telur raksasa tidak dapat ditemukan apa pun jua, semuanya benar-benar hampa dan gelap.

 

Sekarang apa itu Yin dan Yang?  Prinsip Yin dan Yang berbunyi: semua yang ada itu merupakan pertentangan atau perlawanan yang saling tidak terpisahkan. Sebagai contohnya antara lain: wanita-pria, gelap-terang, dan tua-muda. Dua kutub yang berlawanan Yin dan Yang saling tarik-menarik, saling melengkapi satu sama lain. Dalam pemahaman kita selama ini Yin adalah kutub negatif, sedangkan Yang tidak lain kutub positif. Kutub yang satu tidak lebih unggul dibandingkan kutub yang lain. Jika terjadi penambahan tenaga pada kutub yang satu, hal ini akan menambah kekuatan pula pada kutub yang lain; sehingga keseimbangan diantara kedua kutub tetap terjaga guna mencapai keharmonisan. Berikut ini disebutkan contoh Yin: feminin, hitam, gelap, utara, air (transformasi), pasif, bulan, bumi, dingin, tua, bilangan genap, lembah, miskin, lunak.

 

Konon selama delapan-belas ribu tahun, Pán Gǔ mendekam di dalam cangkang telurnya dan di sana ia tertidur sekaligus tumbuh menjadi besar. Sampailah pada satu hari yang ditunggu-tunggu, Pán Gǔ terbangun dari lelap panjangnya, dan dia mulai membuka matanya. Tetapi yang dilihatnya hanya kegelapan dan kehampaan belaka. Dia memasang kedua telinganya baik-baik tetapi yang didapat hanya keheningan yang tidak menyenangkan. Pán Gǔ menemukan lingkungannya suram dan ditandai oleh khaos atau kekacaubalauan.

 

Pán Gǔ saat terbangun dan sadar, sedang berada di tengah-tengah telur. Dalam kebingungannya ia menyulap untuk menciptakan sebuah palu ajaib di tangan kanannya dan sebuah pahat magis di tangan kirinya. Selanjutnya Pán Gǔ mulai bekerja, membagi telur raksasa itu menjadi dua bagian, dengan bantuan palu dan pahatnya. Akhirnya telur besar itu terbelah dua dengan diiringi suara retakan bergemuruh. Perlahan- lahan Yin dan Yang mulai berpisah. Semua yang gelap dan berat tenggelam serta mulai membentuk bumi. Dan sisanya yang terang dan jernih melayang-layang, serta sedikit demi sedikit membentuk langit atau surga.

 

Setelah telur raksasa terbelah menjadi dua Pán Gǔ gembira dengan hasil kerjanya, namun di sisi lain dia khawatir bahwa kedua bagian telur itu bakal bersatu kembali. Lalu dia mendapat akal, dengan berdiri diantara dua bagian telur itu, guna menjaga mereka tetap terpisah. Dengan begitu kepalanya mendorong langit agar bagian itu semakin membumbung ke atas, sementara telapak kakinya menekan bumi ke bawah agar semakin menjauh ke bawah. Hari demi hari berlalu dan tubuh Pán Gǔ tumbuh semakin lama semakin besar.  Setiap hari lewat, langit naik sepuluh kaki lebih jauh di atasnya, dan bersamaan dengan itu bumi menebal sepuluh kaki di bawahnya, serta Pan Gu sendiri berkembang dua-puluh kaki hanya demi mengimbangi hamparan yang tumbuh, dan juga untuk memaksanya bertahan.

 

Hari pun berlanjut hingga lewat delapan-belas ribu tahun berikutnya, dan jarak antara kedua belah telur raksasa sekarang telah mencapai tiga-puluh ribu mil. Setelah dia yakin sepenuhnya bahwa kedua potongan telur raksasa itu tidak akan bersatu kembali, Pán Gǔ yang kelelahan itu pun menghentikan usaha kerasnya. Tubuh raksasanya tumbang menghantam bumi dan Pán Gǔ pun tewas. Dengan kematian Pán Gǔ bukan berarti alam semesta berhenti berkembang, namun transformasi ajaib terjadi yang akan membentuk wajah langit dan bumi selanjutnya. Napas terakhirnya berubah menjadi angin dan awan, dan suaranya menjadi gemuruh halilintar. Salah satu matanya kemudian menjadi matahari dan mata lainnya berubah menjadi bulan. Rambut dan jenggotnya menjadi jutaan bintang Bima Sakti yang berkerlap-kerlip di langit malam. Anggota tubuhnya menjelma menjadi lima pegunungan yang paling besar di Tiongkok. Darahnya berubah wujud menjadi aliran sungai dan lautan. Daging tubuhnya menjadi lahan pertanian yang subur, tulang-tulangnya berubah menjadi permata dan mineral yang berharga; gigi dan kukunya menjadi logam berkilau.  Bulu dan kulitnya bersenyawa menjadi vegetasi tumbuh-tumbuhan yang subur. Keringat yang semula keluar dari tubuhnya sekarang jatuh sebagai air hujan yang menyuburkan bumi. Dan akhirnya makhluk-makhluk kecil yang selama ini hidup di tubuh Pán Gǔ pun menjadi hewan dan manusia yang tersebar memenuhi permukaan bumi.

 

Pán Gǔ sebagai tokoh mitologi kerap digambarkan sebagai seorang pria bertubuh kerdil yang mengenakan kulit beruang, atau hanya memakai celemek daun. Dia memiliki dua tanduk di kepalanya. Di tangan kanannya dia memegang palu dan di tangan kirinya pahat, yakni dua alat yang dia gunakan dalam menjalankan tugas besarnya. Penggambaran lain memperlihatkan Pán Gǔ ditemani oleh empat makhluk gaib, yakni kuda bertanduk-satu atau unicorn, burung-api atau phoenix, kura-kura, dan naga. Visualisasi Pán Gǔ lainnya menunjukkan dia sedang memegang matahari di satu tangan dan bulan di tangan lainnya.

 

Pán Gǔ sebagai tokoh legenda yang menciptakan langit dan bumi, dianggap sesosok dewa oleh para pemujanya. Bertempat di Provinsi Guangdong pada 1809 dibangun Kuil Raja Pan Gu dengan altar pemujaan utama Dewa Pán Gǔ. Letak kuil ini di sebelah utara Kota Shiling, barat laut Distrik Huadu, pada kaki Gunung Raja Pan Gu.

 

Kita sudah mengetahui penciptaan alam semesta dari cerita kuno Tiongkok. Sekarang kita akan melihat apa yang dikatakan oleh sains tentang asal-usul alam semesta. Ilmu pengetahuan tidak menyebutkan apa yang ada sebelum alam semesta kita ini tercipta, seperti yang akan penulis jelaskan nanti. Padahal menurut pemikiran Yunani, sebelum alam semesta ini tercipta, yang ada hanyalah khaos atau kekacaubalauan semata. Setelah khaos berakhir, barulah terjadi keteraturan dan terciptalah kosmos. Dengan demikian ada kesesuaian antara mitologi Tiongkok dengan mitologi Yunani.

 

Dalam perjalanan ilmu astronomi dan kosmologi selama seratus tahun terakhir ini, kebanyakan ahli setuju bahwa alam semesta dimulai oleh sebuah Dentuman Besar (dinamakan juga big bang) yang terjadi kurang lebih 12,7 milyar tahun yang lalu. Teori ini menjelaskan bahwa alam semesta berasal dari bakal-materi-dan-energi yang super-super masif dan sangat-sangat panas, yang membesar dengan menyebarkan segala isinya. Pengembangan alam semesta sehingga makin membesar, terjadi saat bermulanya dentuman besar dan berlangsung hingga sekarang ini. Menurut perhitungan, pada satu-per-sepuluh-ribu detik sejak ledakan besar terjadi, muncullah partikel-partikel kecil yang akan membangun atom, seperti proton, elektron, dan netron. Namun untuk membentuk inti atom yang sangat kecil diperlukan waktu tiga menit. Pada saat itu temperaturnya mencapai tujuh-puluh kali suhu matahari kita. Kemudian masih diperlukan waktu selama lima-ratus-ribu tahun untuk mendinginkannya, dan membuat atom berfungsi secara sempurna. Dengan terbentuknya atom disusul dengan molekul, dimulailah pembentukan materi dasar yang kelak membentuk alam semesta.

 

Molekul yang paling banyak tercipta adalah hidrogen, yakni unsur yang paling ringan. Molekul-molekul hidrogen membentuk awan hidrogen yang disebut nebula. Nebula yang sangat panas ini berangsur-angsur membentuk bintang, dan salah satunya adalah matahari kita. Berbarengan dengan terbentuknya bintang lahir pula planet-planet di sekitarnya, sehingga sistem bintang-planet ini dinamakan tata-surya. Kumpulan tata-surya ini berkumpul kembali dalam konstelasi yang lebih besar yang dinamakan galaksi (galaksi disebut juga: "pulau alam semesta"). Galaksi yang kita diami dinamakan "Bimasakti" atau "Jalan Susu". Sesungguhnya tidak terhitung banyaknya galaksi di alam semesta ini, sehingga sukar sekali membayangkan betapa luas dan besarnya jagat raya kita ini.

 

Sekarang kita coba membandingkan legenda tentang Pan Gu dengan terciptanya alam semesta menurut sains. Dalam mite Tiongkok itu, pembentukan jagat raya bermula dari keberadaan "telur-kosmik" raksasa, yang tumbuh dalam khaos. Sedangkan teori penciptaan menyebutkan bahwa alam semesta bermula dari bakal-materi-dan-energi, yang berada di satu titik. Kemudian konsep tentang khaos yang menjadi kondisi awal juga diambil oleh para ilmuwan, dengan gagasan bahwa jagat raya senantiasa mengembang, serta ide bahwa alam semesta itu telah sedemikian tuanya. Demikian pula dengan gagasan bahwa begitu kosmos itu terbentuk, terjadi pula prinsip dualitas atau Yin dan Yang. Sedangkan pada teori kosmologi, proton dan elektron baru tercipta selang beberapa saat setelah dentuman besar. Setelah kita membandingkan antara legenda dan ilmu pengetahuan terdapat persamaan. Apakah ini kebetulan belaka? Walahualam.

 

Teori Dentuman Besar kini makin diterima keabsahannya, karena bukti pengamatan dan studi yang didasarkan pada ilmu fisika dan astronomi mendukung kebenaran teori tersebut. Dengan demikian terbukti bahwa jagat raya kita sekarang dalam keadaan mengembang. Apakah alam semesta ini akan mengembang terus-menerus di masa yang akan datang? Sebagian ilmuwan memprediksi bahwa suatu saat pemuaian akan berhenti, dari alam semesta akan menyusut. Jika ini benar terjadi, jagat raya akan semakin mengecil, serta pada saatnya akan terjadi *Remukan Besar*. Remukan Besar akan disusul segera dengan Dentuman Besar yang berikutnya, dan alam semesta akan mulai tumbuh lagi dari nol dan proses yang sama akan berulang kembali. Jika ini benar, maka kita akan mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi sebelum big bang yang lampau. Namun sekali lagi jagat raya yang diperkirakan akan menyusut di masa depan itu hanyalah prediksi, karena tidak ada bukti hal itu akan terjadi.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210505