Rabu, 24 Februari 2021

DICELA?, MENGAPA HARUS RISAU?

 

DICELA?, MENGAPA HARUS  RISAU?

 

 



Kejadian ini dialami oleh penulis sendiri. Tentu berlangsung jauh sebelum ada pandemi Covid-19, yang memporakporandakan kehidupan manusia di berbagai belahan dunia. Seorang kawan baik dari isteri penulis mengundang kami ke resepsi pernikahan anaknya yang dilangsungkan pada satu akhir pekan di Jakarta. Kawan yang mengundang kami sudah lama dikenal sebagai orang berada, seorang pengusaha yang telah lama berkecimpung di bisnis pertambangan.

 

Resepsi perkawinan diselenggarakan di sebuah ballroom hotel berbintang lima di kawasan Jakarta Pusat. Memasuki lokasi perhelatan, para tamu disambut oleh belasan gadis muda cantik yang mengenakan gaun pesta model-kemben berwarna merah-muda. Bersolek dengan menambahkan pupur di pipi, ditambah dengan alis dan bulu mata yang lentik, serta bibir dengan gincu nan merah merona, mereka bak bidadari yang turun dari kahyangan. Mereka dengan cekatan melayani para undangan, mempersilahkan agar buku-tamu diisi, dan tak lupa menerima angpao yang segera dimasukkan ke dalam kotak.

 

Begitu masuk ke ruangan resepsi yang lapang dan berhawa sejuk, barisan kerabat kedua mempelai berpakaian jas dan gaun pesta menyambut kedatangan kami untuk bersalaman. Kami semua terpesona melihat keasrian dan mewahnya dekorasi aula, baik itu panggung pelaminan, lorong setapak bagi prosesi kedua pengantin, maupun tatanan meja dan pondok tempat meletakkan berbagai hidangan. Seluruh dekorasi ditata dengan apik dan nyaris sempurna, dengan memakai ratusan bunga-petik asli yang masih segar dan bukan tersusun dari bunga-bunga plastik. Sebuah layar-LED raksasa terpasang di dinding dan kamera-mobile yang digerakkan di ketinggian, mampu merekam episode penting selama jalannya acara.

 

Para hadirin langsung berdiri dan bertepuk tangan ketika kedua mempelai melakukan prosesi memasuki aula resepsi menuju pelaminan. Tampak dua sejoli bak raja-sehari dengan wajah berseri-seri menebar senyum kepada para hadirin. Yang laki-laki berwajah tampan memakai setelan lengkap dengan jas berwarna gelap, sedangkan yang perempuan begitu rupawan dengan gaun pengantin berwarna putih dengan rok yang menjuntai menyapu lantai. Setelah ritual potong kue pengantin, bersulang minuman, ucapan terima kasih dari keluarga, dan doa syukur usai, pesta pun dimulai. Suasana menjadi semakin meriah, ketika seorang biduan wanita ternama beserta awak band mulai mendendangkan lagu-lagu Barat, Mandarin, dan Indonesia populer.

 

Sebagian undangan bergegas menuju pelaminan guna menghaturkan ucapan selamat kepada kedua mempelai dan orang tua mereka, sedangkan hadirin yang lain langsung menyerbu dan menyantap hidangan yang telah disediakan. Bukan main berlimpahnya makanan dan minuman yang disediakan oleh pengantin baru dan keluarganya itu untuk menjamu tamunya yang hampir berjumlah seribu orang. Mulai dari salad bar dan aneka sup, hidangan prasmanan, hingga buah-buahan dan hidangan-penutup; yang semuanya merupakan menu pilihan yang diolah dari bahan-bahan terbaik. Makanan dan minuman yang disediakan di berbagai pondok-saji pun tidak biasa ditemukan di acara resepsi kebanyakan. Ada udang-karang besar yang ditumis lengkap dengan kentang dan sayuran, iga sapi panggang impor, pie ikan salmon dengan sausnya, nasi hainam dengan bebek-peking, dan konter minuman keras. Rasanya? tidak usah ditanya, pokoknya semuanya maknyuz!

 

Para pembaca, itulah gambaran umum yang sekarang ini terjadi pada perhelatan kaum kaya sewaktu mereka menikahkan anak-anak mereka. Dalam tempo yang hanya berlangsung dua hingga tiga jam, semua kenikmatan duniawi seolah disuguhkan untuk memanjakan para tamu undangan. Para tamu dan tuan rumah yang semuanya berbusana necis dan wangi, suasana pesta dalam lingkungan yang mewah dan menawan, hiburan musik yang mewartakan kesukacitaan, dan pelbagai hidangan yang lezat dan istimewa. Tentu saja pesta mewah semacam itu menyesuaikan dengan kondisi zamannya. Dulu orang tua kita bercerita perhelatan perkawinan orang besar di zaman kolonial, paling tidak berlangsung selama tiga hari tiga malam.

 

Menarik untuk menyimak apa kesan para tamu undangan beberapa hari setelah perhelatan akbar itu usai. Sebagian besar memuji dan berterima kasih kepada keluarga pengantin. Namun ada segelintir dari mereka yang nyinyir atau berkomentar sinis. "Dasar orang kaya!", "Sok pamer!", dan sejumlah komentar negatif lainnya. Alih-alih bermudita-cita atau turut berbahagia terhadap kesuksesan keluarga yang mengundang, malah iri hati yang diungkapkan. "Mestinya pestanya diselenggarakan dengan sederhana!" komentar yang lain. Aneh juga mendengar orang yang memiliki jalan pikiran seperti itu. Orang kaya dan terpandang menyelenggarakan perhelatan yang sederhana dan biasa-biasa saja, tentu akan menjadi bahan olok-olokan dan gunjingan para kolega dan kerabatnya. Orang kaya yang berpura-pura miskin mungkin hanya ada di layar kaca Sinetron Indonesia atau Drama Korea.

 

Pernah juga penulis menghadiri resepsi perkawinan di tempat lain. Pada saat itu tetangga di kompleks tempat kami tinggal menyampaikan undangan pernikahan puteranya. Kami datang ke tempat pesta yang kebetulan diadakan di sebuah balai-pertemuan pada sebuah kompleks Kementerian. Kebetulan si bapak mempelai pria berdinas di Kementerian tersebut. Resepsi pernikahan berjalan lancar seperti lazimnya dan dihadiri kurang lebih tiga ratus lima puluh undangan. Ruang pesta berupa aula yang biasa dipakai untuk penyelenggaraan seminar, dan di sana ada panggung pelaminan yang didekor seadanya. Di tengah ruangan ada dua deret meja-panjang, tempat penyelenggara meletakkan pelbagai hidangan, dan di pojok masih ada sebuah meja besar tempat menaruh buah-buahan dingin.

 

Para tamu setelah menyampaikan ucapan selamat langsung menikmati hidangan prasmanan dan mengambil buah-potong yang disediakan. Setelah bersilaturahmi dengan para undangan yang kami kenal, dan mengambil foto bersama kedua mempelai, kami pun pulang. Nah, Anda pingin tahu komentar para tamu? Ya, sebagian besar oke-oke saja, tetapi ada juga yang tidak puas. "Payah, masa makan di kondangan cuma segitu. Tidak ada pondok-makanan sama sekali?" Kita yang sudah diundang untuk berbagi kebahagiaan – bukan untuk berwisata kuliner – hanya bisa geleng-geleng kepala saja. Bukankah tidak setiap orang mampu menyelenggarakan perhelatan dengan hidangan yang serba lengkap dan bervariasi?

 

Pengalaman lain didapat sewaktu kami menghadiri upacara perkawinan puteri seorang sahabat, yang dilangsungkan di sebuah vihara. Setelah rentetan upacara telah berlangsung menurut urut-urutan yang telah ditetapkan, pada bagian penghujung upacara, romo pandita yang bertugas memimpin upacara memberikan petuah-petuah kepada kedua mempelai. Petuah berupa wejangan bahwa perkawinan bukan saja merupakan keterikatan hukum antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan, melainkan satu ikatan-sakral antara suami dan isteri berdasarkan ajaran agama Buddha. Romo pandita juga menasehati agar kedua insan yang baru menikah ini dapat membentuk keluarga yang harmonis dan bahagia. Dalam ajaran Islam keluarga ideal ini, populer disebut sebagai "keluarga sakinah". Kita juga di lingkungan Buddhis punya istilah sendiri, yakni "keluarga hitta-sukhaya".

 

Demikianlah upacara perkawinan sahabat kami telah selesai dilangsungkan di vihara, dan resepsi perkawinan baru diadakan dua minggu kemudian. Kebahagiaan memancar dari wajah kedua pengantin baru dan keluarganya. Hanya karena ada halangan, pihak pengantin laki-laki hanya mengirimkan saksi sebagai pengganti kehadiran orang tuanya. Keduanya sejak hari itu sudah sah sebagai suami-isteri, hanya tinggal menunggu resepsi pernikahan, namun rumor iseng beredar di luaran. Gosip mengatakan: "Kayaknya orang tua mempelai pria tidak menyetujui perkawinan mereka!"  Memang desas-desus itu begitu kejam menghakimi seseorang, tanpa mau menyelidiki fakta di baliknya. Kami yang mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya hanya bisa mengelus dada. Faktanya, orang tua mempelai pria yang tinggal di luar pulau berhalangan hadir, semata-mata karena alasan kesehatan.

 

Demikianlah pembaca yang budiman. Dari ketiga contoh kasus di atas kita dapat melihat, betapa pun orang sudah begitu baik dan sempurna menyelenggarakan acara perkawinan, masih saja ada orang yang mengkritik dan mencela mereka. Sekarang bagaimana kejadiannya kalau seseorang tahu-tahu sudah menikah, tetapi temannya tidak diundang?

 

Beberapa belas tahun yang lalu sewaktu surat kabar masih berjaya dan banyak pembacanya, iklan-keluarga lazim ditempatkan di lembar tersendiri. Iklan-keluarga biasanya berupa berita duka cita dan ada kalanya memuat iklan "kawin-tamasya". Dengan "kawin-tamasya" sepasang pengantin yang baru berumah tangga mengumumkan kepada khalayak yang mereka kenal, bahwasanya mereka telah menikah. Jadi artinya perkawinan secara agama atau adat telah dilangsungkan, namun ritual itu hanya disaksikan oleh keluarga terdekat saja. Tidak ada keramaian atau pesta untuk merayakannya. Alasan utama mereka tidak menggelar resepsi tidak lain menghindari keluarnya biaya yang tidak sedikit. Dengan demikian dana yang sedianya ditujukan untuk mengadakan perhelatan dialihkan menjadi dana untuk bertamasya, baik untuk berbulan-madu di dalam negeri atau pun di luar negeri.

 

Sekarang di zaman yang dikuasai oleh media sosial, tidak perlu kita memasang iklan "kawin-tamasya" tentunya. Kita cukup mengabarkan pernikahan kita kepada teman-teman kita dengan mengubah status di akun media sosial yang kita miliki. Praktis dan tidak mengeluarkan biaya sepeser pun, bukankah begitu? Begitu status lajang Anda berubah menjadi "telah menikah", maka dapat dipastikan ucapan selamat akan membanjiri akun media sosial Anda. Namun seperti yang bisa diduga, masih ada orang di luar sana yang tetap nyinyir. Bahkan ada yang berkomentar: "Keduanya tidak mengundang kita, mungkin malu karena mempelai wanitanya sudah hamil duluan!" Tanggapan miring itu membuat kita menggumam, "Astagfirullah!", tapi Anda sadar beginilah kita melakoni hidup di dunia ini.

 

Ada kisah menarik yang patut kita simak untuk melengkapi cerita di atas itu, yang berasal dari masa ketika Buddha kita hidup. Alkisah seorang pengikut awam Beliau yang bernama Atula sekali waktu bersama dengan sekumpulan sahabatnya bermaksud menambah wawasan pengetahuan mereka tentang Dhamma. Di satu lokasi petapaan mereka menemui seorang bhikkhu senior yang bernama Bhikkhu Revata. Sang bhikkhu senior adalah siswa yang memiliki kepakaran dalam bidang meditasi, dan ia sehari-hari menghabiskan waktunya hanya untuk bermeditasi di tempat tinggalnya. Begitu mereka menemuinya Atula dan para sahabatnya langsung menanyakan satu subyek perihal ajaran Sang Guru. Namun sang bhikkhu yang ditanya hanya berdiam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Setelah melakukan penghormatan mereka pun undur diri dari sana.

 

Kecewa mendapatkan kenyataan ini, Atula dan para sahabatnya lalu menjumpai Yang Mulia Sariputta, siswa kepala Sang Buddha, bhikkhu yang paling pintar dalam hal penguasaan materi Dhamma. Sang bhikkhu kepala menerima mereka dengan gembira, dan selanjutnya ia membabarkan ajaran secara rinci dan panjang-lebar. Setelah pembabaran usai mereka pun lalu berpamitan. Mendengarkan pembabaran ajaran sambil terkantuk-kantuk mereka pun mencela, karena ajaran yang diberikan terlalu panjang dan bertele-tele.

 

Selanjutnya mereka menemui Bhikkhu Ananda, bhikkhu pengawal dan asisten pribadi Sang Guru. Yang Mulia Ananda menjawab pertanyaan yang sama itu dengan jawaban yang ringkas namun padat. Setelah mereka pamit pada sang bhikkhu, Atula dan para sahabatnya masih tetap kecewa dan mereka menyebut ajaran yang baru disampaikan itu terlalu ringkas dan tidak lengkap. Selanjutnya mereka menghadap Sang Guru dan menceritakan kejadian yang baru mereka alami.

 

Sang Guru menerima keluhan mereka, dan ia bersabda: "Wahai Atula, hal ini telah ada sejak zaman dahulu, bukan hanya terjadi pada masa sekarang. Mereka mencela orang yang duduk diam, mereka mencela orang yang banyak bicara, dan mereka juga mencela orang yang sedikit bicara.Tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak dicela." Dicela dan dipuji adalah dua sisi mata uang yang pasti dialami setiap manusia dalam hidupnya.

 

Jadi demikianlah kenyataannya, dicela dan dipuji menurut ajaran agama Buddha adalah dua dari delapan kondisi duniawi, yang pasti dialami seseorang. Jika keduanya tidak bisa dihindari, adalah bijak jika kita melatih diri dengan mengembangkan ketenangseimbangan, seperti yang ditorehkan oleh untaian kata di bawah ini:

 

"Dicela dan dicaci-maki tidak bakal menjadi kotoran;

Dipuji dan diagung-agungkan tak akan menjelma menjadi rembulan;

Tak usahlah meradang ketika kita menerima celaan;

Tak perlu pula melambung saat kita menuai pujian,"

 

Sewaktu kita menerima pujian kita dapat menerimanya dengan hati berbunga-bunga, tetapi saat kita dicela kita cenderung menjadi kecil hati. Namun saat kita dicela, seyogianya kita dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mencari kelemahan yang ada di dalam diri kita sendiri, yang selama ini tidak kita sadari. Sebagai penutup buah pena ini, penulis meminta Anda untuk merenungkan kutipan berikut ini, yang merupakan satu petuah dari Nabi Lao Zi: "Kata yang jujur tidaklah indah, kata yang indah tidaklah jujur."

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210224

 

Rabu, 10 Februari 2021

LELUHUR

 

LELUHUR

 



 

Peristiwanya terjadi beberapa tahun yang lalu. Saat itu penulis diminta untuk memberikan ceramah Dharma kepada umat vihara, yang mana mayoritas dari mereka adalah anak-anak yang masih menuntut ilmu di bangku sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Pembicaraan beralih pada keberadaan meja-abu leluhur kami dari garis keturunan bapa, yang sewaktu penulis masih kecil berada di rumah Tuape atau paman (kakak dari ayah). Pada dinding di bagian atas meja-abu terpasang potret hitam-putih leluhur keluarga kami, diantaranya engkong atau kakek dan ema atau nenek yang telah meninggal dunia.

 

Penulis iseng-iseng bertanya kepada para hadirin, "Kalian tentu semua memiliki kakek dan nenek. Coba hitung ada berapa kakek dan nenek?" Sebagian dari mereka masih keliru menjawabnya, dengan mengatakan hanya memiliki satu kakek dan satu nenek, padahal kenyataannya ada dua kakek dan dua nenek. Berikutnya penulis mengajukan pertanyaan lanjutan kepada mereka, "Sekarang coba hitung ada berapa kakek-buyut dan nenek-buyut yang kalian miliki?" Mulut anak-anak sebagian berkomat-kamit dan setelah diberi penjelasan, akhirnya mereka paham bahwa kakek-buyut adalah ayah dari kakek dan nenek mereka. Anak yang cerdas langsung menjawab dan berkata bahwa ia punya masing-masing empat orang kakek-buyut dan nenek-buyut.

 

Keberadaan empat pasang kakek-nenek-buyut mungkin di luar batas pemahaman kita sehari-hari, karena hanya sedikit dari kita yang masih sempat berjumpa dan memiliki kenangan tentang sosok kakek dan nenek kita sendiri. Jika kita pernah bertemu dengan salah satu dari nenek-buyut kita, peristiwa itu pasti merupakan kejadian langka yang terjadi sewaktu kita masih kanak-kanak.

 

Saya ingin mengajak Anda sekalian, para pembaca yang terhormat, untuk merenungkan sebentar mengenai keberadaan leluhur kita. Empat pasang kakek dan nenek buyut ada di generasi ketiga sebelum kita. Pernahkah kita menghitung ada berapa banyak leluhur kita pada generasi kesepuluh sebelum kita? Jika kita menghitungnya maka ada 512 pasangan suami-isteri nun jauh di masa silam yang merupakan leluhur kita langsung. Berarti ada seribu-dua-puluh-empat orang yang terlibat dalam keberadaan kita di masa kini. Jika ada satu saja diantara mereka itu tidak terlibat dalam perkawinan dan tidak mendapatkan keturunan, maka kita dan saudara-sekandung kita tidak akan pernah hadir di muka bumi ini.

 

Lalu ada pertanyaan seberapa jauhkah generasi kesepuluh sebelum kita ini. Dengan hitungan kasar, keberadaan mereka ada sekitar 250 hingga 300 tahun sebelum era kita, atau antara tahun 1720 hingga tahun 1770 (yakni pada abad ke-18!). Padahal kita mengetahui dari asal-usul manusia modern (yang dinamakan homo sapiens), keberadaan nenek moyang kita di bumi ini sudah berlangsung selama empat puluh ribu tahun. Jadi jika kita merunut leluhur-jauh kita, entah sudah berapa banyak orang yang terlibat, sehingga mereka beranak-pinak dan akhirnya memastikan eksistensi kita sebagai manusia.

 

Pentingnya leluhur dan jasa mereka bagi kita sekalian telah disadari oleh nenek moyang kita. Pada suku-suku primitif pemujaan pada leluhur menjadi ritual dan agama yang mereka anut dan mereka jalani selama hidup mereka. Di dunia ini, bangsa yang masih setia menjalankan ritual dan agama yang memuja peran leluhur tidak lain adalah bangsa Tionghoa, yang diakulturasikan dalam bentuk agama orang Tionghoa.

 

Setelah buyut, kakek-nenek, dan kedua orang tua kita telah tiada mereka tetap dihormati dan dipuja oleh keturunannya. Keberadaan meja-abu di rumah keturunan mereka menjadi sebuah medium, tempat yang masih hidup berinteraksi dengan yang telah mati. Meja-abu leluhur biasanya berfungsi sebagai altar, tempat meletakkan sebuah wadah-abu atau hiolau yang berisikan abu dupa sisa pembakaran, sepasang lilin atau pelita, dan sisanya yang masih luas untuk meletakkan barang sesajian. Di sekitar meja-abu yang masih dalam ruang-sembahyang, dipasang pula potret leluhur serta papan bertuliskan huruf kanji yang memuat nama leluhur, pesan harapan atau pujian.

 

Di rumah tempat meja-abu diletakkan merupakan ruang privat, yang mana para keturunan mereka yang masih hidup melaksanakan pujabakti terhadap arwah leluhur. Dalam setahun paling tidak ada empat kali sembahyang besar, tiga kali sembahyang kecil, dan sembahyang-reguler yang dilaksanakan setiap tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan bulan. Pada setiap perayaan altar akan dipenuhi dengan berbagai macam sesajian dan perlengkapan sembahyang, sesuai dengan tema pujabakti apa yang sedang dirayakan. Ruang sembahyang tempat interaksi dengan leluhur, adalah ruangan yang terbaik dalam sebuah rumah. Ruang sembahyang ini tidak lazim ditempatkan di ruang tamu, di kamar tidur, dekat WC, atau di sebelah dapur, melainkan di ruang keluarga sebelah dalam dan jika memungkinkan memiliki pintu di sisi kiri dan kanannya.

 

Menurut ajaran kuno yang jauh berakar di masa lalu dan kemudian diajarkan pula oleh Guru Kong (551-479 s.M.), yakni pendiri agama Konghucu, leluhur merupakan pihak yang paling dihormati. Kemudian semua orang yang lebih muda harus bersikap hormat terhadap orang yang lebih tua. Dan seorang anak wajib berbakti kepada orang tuanya. Pengertian yang cocok untuk menggambarkan bakti ini terdapat dalam istilah mandarin xiào, yang terpampang pada sisi kiri gambar yang menyertai artikel ini (lihat gambar di atas). Xiào ini dalam bahasa Hokian dilafalkan sebagai hàu. Xiào diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai filial piety dan dialihbahasakan sebagai "kesalehan-anak". Menarik untuk menyimak asal mula kata xiào ini, yang merupakan perpaduan antara aksara lao (tua) di atas aksara  zi (putera), yang bermakna orang tua dan leluhur ditopang oleh generasi yang lebih muda.

 

Di atas disebutkan bahwa di dunia ini hanya bangsa Tionghoa yang masih memuja leluhurnya dengan lebih intens dibandingkan bangsa-bangsa lainnya. Bagaimana tidak intens? Setiap bulan paling tidak dalam dua kesempatan ia menghampiri meja-abu leluhurnya, membersihkannya, menyediakan barang sesajian, menyalakan lilin dan mempersembahkan dupa, serta dari mulutnya dilantunkan doa-doa yang mengharapkan agar semua leluhurnya hidup sejahtera dan bahagia di alam sana. Sewaktu seorang Tionghoa yang masih muda lulus dalam ujian sekolah, maka yang pertama dilakukannya adalah membakar dupa di meja-abu dan bersujud-syukur di depan leluhurnya. Demikian laku yang sama dipertunjukkannya pula sewaktu ia mendapatkan kenaikan pangkat, mengikat janji sehidup-semati dengan pasangannya, dan memperoleh kesuksesan besar dalam hidupnya.

 

Inilah yang membedakan antara orang Tionghoa dengan katakanlah orang Barat atau orang bule. Orang Barat barangkali memiliki Tuhan di hatinya, tetapi melupakan dan tidak langsung melibatkan leluhurnya dalam penghayatan sehari-hari. Jadi dimana letak perbedaannya? Dapat ditegaskan dalam hati orang Tionghoa yang saleh, yakni ia yang masih berkiblat dan memuja leluhurnya, merasakan bahwa nenek moyangnya selalu hadir di dalam hatinya, dan dengan demikian dirinya pun tetap hidup dalam hati anak-anak dan keturunannya. "Tidak ada leluhur, tidak ada pula kita. Tidak ada kita, tidak ada anak-anak dan keturunan kita." Begitu polos dan sederhananya prinsip ini.

 

Dalam Sabrahmaka Sutta (Itivuttaka, 206), Sang Buddha bersabda: "Ayah dan ibu disebut Brahma, guru awal dan pantas dipuja, ... ." Siapa itu Brahma? Mungkin ada yang ingat pelajaran di sekolah dulu, bahwasanya dalam kepercayaan India Kuno ada tiga-serangkai, yakni Brahma-Vishnu-Shiva. Brahma dikenal sebagai Pencipta, Vishnu Sang Pemelihara, dan Shiva Sang Penghancur. Jadi jelas Brahma adalah pencipta manusia dan alam semesta. Tanpa ada Brahma tidak ada manusia. Jadi tanpa ada ibu dan ayah tidak akan ada kita sebagai anak-anaknya. Begitu tinggi kedudukan Brahma, yang membuat orang India menyembah dan memujanya.

 

Kesalehan-anak diuraikan Konfusius dalam bukunya Buku Klasik tentang Kesalehan-Anak atau Xiaojing, yang di dalamnya berisi dialog antara Konfusius dengan siswanya Zengzi. Buku panduan ini digunakan dalam pendidikan dasar sejak zaman Dinasti Han di Tiongkok untuk mata pelajaran etika. Ada sebuah kutipan yang cukup terkenal: "Ketika mereka melayani ayah mereka, pun mereka melayani ibu mereka, jadi anak-anak mencintai keduanya sama-rata. Dengan berbakti seperti itu, mereka melayani pimpinannya, dan menghormatinya dengan setara" (Legge, James, The Classic of Filial Piety). Dimulai dari lingkup keluarga, dan jika semua anak melakukan bakti terhadap kedua orang tuanya, berarti ia melayani dan menghormati pimpinannya, yang pada akhirnya akan mewujudkan keharmonisan dalam masyarakatnya.

 

Kesalehan anak adalah sebuah konsep yang di dalamnya termasuk mengasihi dan menghormati orang tuanya, yang diungkapkan dalam tingkah laku dan kebiasaan sehari-hari. Anda para pembaca yang aktif di media sosial mungkin pernah melihat sebuah video, yang menggambarkan bagaimana seorang anak mengungkapkan cinta dan rasa hormatnya kepada orang tuanya. Dalam video itu digambarkan suasana pedesaan di Thailand. Seorang pemuda yang berpakaian seragam layaknya seorang kadet di sebuah instansi pemerintah turun dari bus yang membawanya hingga ke depan rumahnya. Sang kadet yang mungkin baru mendapat cuti dari dinasnya, bergegas memasuki halaman rumahnya, tempat orang-orang sekampungnya sedang beraktivitas di luar ruangan. Pertama yang dilakukannya adalah mencari ibunya, mengambil air di baskom, lalu bersimpuh di hadapan ibundanya. Selanjutnya ia mencuci kedua kaki ibunya, lalu mengeringkannya dengan sepotong handuk. Sang ibu yang melihat putera kesayangannya, kemudian membangunkannya, memeluk, serta menciumnya. Setelah ibu mendapatkan ungkapan-cinta dan penghormatan dari puteranya, kemudian giliran sang ayah mendapatkan perlakuan yang sama pula.

 

Sebagian anak muda terutama mereka yang kini tinggal di perkotaan menilai apa yang dilakukan pemuda desa itu sebagai hal yang lebai alias berlebihan. Namun apa yang dilakukan pemuda itu adalah merupakan kebiasaan dan kearifan-lokal yang tidak dibuat-buat. Begitulah adat dan tradisi keluarganya. Kita boleh meniru dan mengajarkan anak-anak kita, agar paling tidak dalam kesempatan istimewa seperti Hari Ibu, Tahun Baru Imlek, atau ketika mereka menikah, untuk melakukan ritual cuci-kaki atau mempersembahkan minuman teh kepada kedua orang tuanya.

 

Ungkapan kasih sayang anak kepada orang tua juga dicontohkan pula dalam naskah-naskah kuno. Konon di zaman dahulu kala, semasa kekuasaan Dinasti Han Timur (Th 25-220), ada seorang anak laki-laki yang bernama Huang Xiang. Sungguh malang nasib Xiang karena ia telah ditinggal mati oleh ibunya sejak ia berusia sembilan tahun. Setelah ibunya meninggal dunia, ayahnya bekerja keras membanting tulang agar keluarganya bisa bertahan hidup. Pembaca harus paham bahwa cerita ini berlangsung di Tiongkok, yang musim dinginnya sangat menusuk tulang dan ketika musim panas udaranya membuat semua orang seperti terbakar. Nah, si Xiang ternyata seorang anak kecil yang memiliki hàu yang tinggi, yang senantiasa berupaya meringankan penderitaan ayahnya. Di musim panas, tanpa diketahui ayahnya, ia mengipasi kasur dan bantal tempat tidur, hingga ayahnya bisa langsung tertidur di atas pembaringan yang kini menjadi lebih sejuk. Di musim dingin saat kasur menjadi tempat yang sedingin es, Xiang tidur dulu di atasnya sambil menyelimuti dirinya, dan setelah tempat tidur itu menjadi hangat ia mempersilahkan ayahnya untuk tidur di sana. Kisah Xiang itu masih membekas di benak penulis, padahal cerita itu disampaikan oleh almarhumah Tuako (bibi dari pihak ayah) ketika penulis masih kanak-kanak. Kisah ini sendiri bisa dibaca pada naskah aslinya: Shàn Zhěn Wēn Qīn (Ia Mengipasi Kasur dan Menghangatkan Selimut).

 

Setelah kita membicarakan panjang lebar tentang leluhur dan ajaran xiào, pelajaran apa yang bisa kita ambil? Ajaran tentang rasa cinta, bakti, dan penghormatan merupakan warisan nenek moyang kita yang adiluhung, yang masih layak diteladani oleh kita sekalian, untuk diungkapkan kepada orang tua kita sendiri. Tentu tidak terbatas kepada orang tua kandung, tetapi juga terhadap mertua perempuan dan laki-laki, serta kerabat yang usianya lebih tua dari kita. Di samping itu perhatian yang sama patut pula kita tujukan kepada orang tua dan leluhur kita yang telah meninggal dunia. Lakukanlah pujabakti dan persembahyangan secara berkala, kemudian perbanyaklah perbuatan baik serta diikuti oleh ketulusan, agar jasa-jasa yang kita tanam melimpah kepada para leluhur. Setelah para leluhur memperoleh kebahagiaan, kita sebagai keturunannya akan dilindungi oleh mereka semua. Semoga hal itu terjadi sesuai hukum alam.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210210

 

Rabu, 27 Januari 2021

KELAHIRAN SANG BODHISATTVA - SEJARAH, MITE, DAN LEGENDA

 KELAHIRAN SANG BODHISATTVA - SEJARAH, MITE, DAN LEGENDA

 

 



Alkisah kira-kira lebih dari 2.700 tahun yang silam di Tanah Nepal pada anak benua India, yang sekarang ini dinamakan Distrik Terai, para sesepuh yang beranggotakan para petarung mulia dari kekerabatan Koliya memegang tampuk kekuasaan di kota raja mereka, yakni di Devadaha atau Ramagrama. Pada masa itu yang menjadi sang adipati adalah Añjana dan ia memiliki seorang permaisuri yang bernama Yasodharā. Mereka dikaruniai dua orang putera dan dua orang puteri.

 

Terai adalah kawasan yang subur dan permai. Di musim panas suhu tidak melonjak ekstrim seperti yang terjadi di sebagian besar Tanah India, dan di musim dingin hujan salju pun tidak terlalu lebat. Namun di musim penghujan, air terkadang turun dari langit tak henti-hentinya. Jika hari cerah tidak berawan, Himalaya, tempat tertinggi di dunia, bisa terlihat jelas dengan puncak-puncaknya yang putih keperakan diselimuti salju.

 

Puteri sulung Añjana bernama Mahā Māyā dan saudari perempuannya dipanggil Mahā Pajāpatī. Sedangkan saudara laki-laki Māyā bernama Dandapāni dan Suppabuddha. Setelah Māyā mencapai masa akil balig, penampakannya pun berubah menjadi wanita dewasa yang cantik rupawan. Kitab suci Lalitavistara Sutra menggambarkannya sebagai berikut: "Kecantikannya memancar laksana sebongkah emas murni. Ia memiliki rambut keriting yang wangi layaknya sekelompok kumbang besar hitam. Kedua matanya seperti kuntum bunga teratai. Giginya menyerupai bintang-bintang di langit."

 

Selain kualitas lahiriah yang dimilikinya, yang tidak bisa disamai oleh orang lain pada zamannya, Māyā mempunyai kualitas batin yang luar biasa pula. Sejak dilahirkan ia menghindari pantangan utama, yakni menahan diri dari membunuh, dari mengambil barang yang tak diberikan, dari perbuatan asusila, dari mengucapkan perkataan yang tidak benar, dan dari pemanjaan menikmati olahan-fermentasi anggur, tuak, dan minuman keras lainnya. Sumber-sumber yang belakangan menyebutkan pula bahwa dia telah melatih dirinya guna mengembangkan pāramī atau keutamaan selama seratus ribu kalpa,

 

Dalam usia belia ia telah dipersunting oleh Suddodhana, putera pamannya sendiri, yang mana sang paman merupakan pimpinan kaum ningrat Sakya. Bukan hanya dia yang dipersunting oleh putera pamannya itu, adiknya, Mahā Pajāpatī, juga turut menjadi isteri Suddodhana. Setelah tiba saatnya sang paman lengser dari tampuk kekuasaannya, Suddodhana pun mengambil alih pimpinan dan ia menjadi pengayom para ksatria kekerabatan Sakya. Namun sampai sekian lama kedua kakak beradik ini menikahi sang penguasa, mereka berdua belum juga memiliki keturunan. Para cerdik-pandai yang menjadi penasihat sang penguasa mengetahui, bahwa Māyā memiliki kualitas yang diperlukan untuk menjadi ibu seorang manusia agung. Manusia agung adalah makhluk yang amat langka, yang mana ia berpotensi untuk menjadi seorang penguasa dunia.

 

Kemudian kejadian yang ditunggu-tunggu oleh kalangan keluarganya pun terjadilah. Pada saat itu sedang berlangsung perayaan Uttarāsālhanakkhatta, yakni sebuah rangkaian upacara keagamaan yang berlangsung selama tujuh hari. Māyā turut serta dalam perayaan keagamaan ini, dan untuk bisa ikut dalam upacara itu ia mesti melakukan puasa penuh. Salah satu pantangannya adalah tidak berhubungan dengan suaminya. Pada malam harinya ternyata ia mulai mengandung janin yang nantinya akan menjadi manusia agung atau Bodhisattva yang kita kenal. Peristiwa ia mulai mengandung itu ditandai oleh sebuah mimpi dalam tidurnya,

 

Malam saat peristiwa penting itu, terjadi di musim panas ketika bulan purnama sedang berlangsung, Māyā setelah melakukan ritual keagamaan, pada malam harinya tidur di istananya. Dalam tidurnya ia bermimpi didatangi oleh Empat Raja Dewa. Mereka langsung menjemputnya ketika ia masih berada di atas pembaringannya, lalu ia dibawa terbang ke Himavā dan ditempatkan di bawah sebatang pohon sāla di Manosilātala. Kemudian para dewi, yakni isteri Empat Raja Dewa, datang dan memandikannya di Danau Anotatta yang berada di Pegunungan Himalaya. Setelah selesai memandikannya, para dewi mengenakan sepotong gaun surgawi ke tubuh Māyā dan mendandaninya dengan bunga-bunga dewata. Mereka kemudian membawanya ke sebuah istana emas dan membaringkannya pada sebuah tempat tidur surgawi. Di sana Sang Bodhisattva kita yang menjelma dalam rupa seekor gajah putih, datang menghampirinya sambil membawa sekuntum bunga teratai putih dengan belalainya yang berkilauan. Sang gajah putih lalu mengelilingi Māyā sebanyak tiga putaran, serta akhirnya memasuki rahimnya dari sisi sebelah kanan.

 

Sejak Sang Bodhisattva berada dalam kandungan ibunya ia selalu dijaga oleh Empat Raja Dewa. Sang ibundanya pun tidak memiliki keinginan terhadap laki-laki lain, seperti yang bisa kita baca dari kitab Majhhima Nikaya: "Ketika Sang Bodhisatta turun memasuki rahim ibunya, empat dewata agung datang guna melindunginya dari empat penjuru, sehingga tidak ada makhluk manusia atau makhluk bukan-manusia atau siapa pun yang dapat membahayakan Sang Bodhisatta atau ibunya. ... Ketika Sang Bodhisatta telah turun memasuki rahim ibunya, tidak ada pikiran seorang laki-laki yang bersentuhan dengan lima untaian keinginan inderawi datang menghampiri ibunya sedikit pun jua, dan ia juga tidak bisa dimasuki oleh laki-laki mana pun jua yang pikirannya penuh dengan nafsu indera." (M. 123).

 

Kurang lebih ratusan tahun setelah wafatnya Sang Buddha kita bisa membaca dalam kitab Mahāvastu satu pernyataan bahwa "tubuh Sang Bodhisattva itu suci sejak berada dalam kandungan ibunya" (na ca maithuna-sambhūtaṃ sugatasya samucchritaṃ) atau dengan kata lain bahwa Sang Bodhisattva mempunyai kelahiran yang perawan. Jika kita menelusuri asal mula gagasan ini pada naskah-naskah Kanonik Pali, kita temukan bahwasanya ibunda Sang Bodhisattva tidak memiliki pikiran apa pun tentang seks setelah ia mengandung jabang bayi Bodhisattva, yang secara historis hal ini mungkin terjadi. Apa yang dinyatakan pada kitab Mahāvastu itu memang sepenuhnya benar.

 

Anda pembaca mungkin menjadi bingung dengan pernyataan-pernyataan yang disebutkan di atas. Penulis mencoba menjelaskan apa yang dimaksud dengan kelahiran yang perawan itu. Seperti yang diterangkan di atas adalah benar bahwa Mahā Māyā telah menjadi isteri dari Suddodhana selama bertahun-tahun, namun sampai sedemikian lamanya mereka hidup bersama, keduanya tidak berhasil mendapatkan keturunan. Hingga beberapa hari sebelum ia mengandung, ia telah ikut serta dalam satu perayaan keagamaan yang mewajibkan dirinya untuk berpuasa. Berpuasa di sini bermakna ia melakukan selibat atau menjalankan delapan sila, yang mana ia berpantang untuk berhubungan dengan suaminya. Jadi bagaimana bisa ia sampai hamil, padahal selama ini otak kita sudah dijejali dengan pengetahuan bahwa janin-bayi tidak akan terbentuk jika ayah dan ibu tidak bertemu. Dengan demikian janin Sang Bodhisattva dikandung oleh ibunya tidak secara kodrati, melainkan secara adikodrati. Atau dia tidak dikandung secara natural, tetapi muncul dalam rahim ibunya secara supranatural.

 

Peristiwa sang gajah putih yang masuk ke sisi sebelah kanan rahim ibunya juga disebutkan dalam kitab Majhhima Nikaya: "Dengan penuh perhatian dan penuh kewaspadaan Sang Bodhisatta wafat dari Surga Kesukacitaan dan turun ke rahim ibunya." Lalu siapa gerangan Sang Bodhisatta atau Bodhisattva itu? Jelas ia bukan makhluk sembarangan, karena sebelumnya ia adalah sesosok dewata yang hidup di Surga Kesukacitaan. Dewata ini adalah makhluk yang istimewa, yang dalam berbagai penjelmaan selama kurun waktu yang tak-terhingga, telah secara konsisten berdedikasi untuk mencapai Pencerahan. Dewata atau Sang Bodhisattva ini, yang belakangan dikenal sebagai Buddha kita.

 

Di samping kelahirannya yang perawan, dikisahkan pula oleh kitab suci bahwa kehadiran Sang Bodhisattva di dunia ini ditandai dengan peristiwa-peristiwa yang menakjubkan, yang oleh orang awam dikenal sebagai mukjizat. Diceritakan bahwa selama kehamilannya Ibunda Sang Bodhisattva tidak menderita keletihan atau kesakitan, serta ia pun mampu melihat langsung ke dalam rahimnya, menatap tubuh mungil bayinya lengkap dengan semua anggota tubuhnya yang tengah mendekam sempurna. Ia melahirkan setelah mengandung bayinya genap sepuluh bulan, dan sang ibunda melahirkan bayinya selagi ia sedang dalam posisi berdiri. Segera setelah Sang Bodhisattva dilahirkan, ia langsung berdiri dengan kedua kakinya di atas tanah. Kemudian ia berjalan tujuh langkah ke utara, dan di tanah yang dipijak oleh telapak kakinya tumbuh masing-masing sebuah kuntum teratai.

 

Anda para pembaca yang terhormat, mungkin akan berkomentar bahwa kisah yang penulis utarakan itu semuanya bersumber dari mite dan legenda. Beberapa diantara kita mungkin merasa bahwa jika kita berada lebih dekat dengan zaman ketika Buddha hidup, kita akan memiliki kesempatan yang lebih baik dalam memahami fakta-fakta sejarah tentang diri beliau. Di samping fakta sejarah tentang kehidupan Sang Bodhisattva yang sesungguhnya, imajinasi para pengikutnya turut membentuk kisah kelahiran dan kehidupan beliau, bahwa Sang Guru adalah tokoh yang luar biasa yang tidak bisa disamakan dengan kita-kita ini. Imajinasi manusia agaknya bekerja dalam cara yang nyaris mirip dengan apa yang terjadi pada beberapa kisah tokoh pahlawan dalam sejarah dunia.

 

Kita akan mengambil beberapa contoh untuk melihatnya sebagai bahan pembanding. Rakyat Jepang lewat kepercayaan agama Shinto memiliki keyakinan bahwa Dewi Matahari merupakan Dewata (Kami) yang utama dalam sistem kepercayaan mereka. Dewi Matahari yang dikenal sebagai Amaterasu-Ōmikami dipercaya sebagai penguasa surga Takamagahara. Selanjutnya Amaterasu memiliki keturunan yang bernama Ninigi, yakni cucu laki-lakinya. Ninigi ini diyakini merupakan leluhur dari Kaisar Jepang. Dengan demikian Kaisar Jepang yang sekarang pun sesungguhnya masih keturunan dari Amaterasu-Ōmikami.

 

Di negara-negara Buddhis di Asia Tengah, sejak lebih dari seribu tahun yang lalu Avalokiteśvara Sang Bodhisattva yang maha welas-asih, telah memiliki relasi khusus dengan rakyat Tibet. Di Indonesia Bodhisattva Avalokiteśvara lebih populer dengan sebutan "Mak Kwan Im". Diperkenalkan sejak abad ketujuh Masehi, Avalokiteśvara menjadi tokoh dewata yang secara langsung mempengaruhi nasib rakyat Tibet. Sang Bodhisattva ber-reinkarnasi dalam diri seorang guru spiritual sekaligus pemimpin masyarakat Tibet. Menurut Buku Kadam, yang merupakan rujukan utama Sekte Kadampa, Dalai Lama yang pertama yakni Gendun Drup, diyakini merupakan reinkarnasi dari Bodhisattva Avalokiteśvara. Karena Dalai Lama yang kedua hingga yang keempat belas (Dalai Lama yang sekarang yang bernama Tenzin Gyatso), adalah tulku atau reinkarnasi dari Dalai Lama yang pertama, maka beliau tidak lain merupakan perwujudan dari Bodhisattva Avalokiteśvara.

 

Beberapa tahun yang lalu, penulis berkesempatan mengikuti pujabakti di sebuah vihara di Jakarta, yang menghadirkan sosok bhikkhu terkenal dari Negara Gajah Putih. Beliau adalah Luangpu Inthawai Santussako, seorang bhikkhu hutan yang terkemuka, murid senior dari Luangta Maha Bua Yanasampanno. Dalam kesempatan yang langka itu Bhante hanya berpesan agar umat menjalankan lima sila dengan sungguh-sungguh. Bhante juga menguraikan metode melaksanakan meditasi pernapasan dengan cara yang mudah, terutama ditujukan bagi para meditator pemula. Dengan penampilan yang kharismatik namun sederhana Luangpu merupakan figur yang sangat dihormati di negaranya.

 

Adalah menarik untuk mengikuti asal usulnya. Beliau dilahirkan dalam satu keluarga sederhana di pedesaan Thailand dan sejak masih kanak-kanak diangkat sebagai anak dari Mae Chee Kaew Sianglam. Siapa itu Mae Chee Kaew? Dia adalah biarawati yang sejak muda memiliki bakat bermeditasi hingga mencapai tingkatan yang tinggi. Walaupun mengalami tantangan hidup berkeluarga, ia kemudian memiliki kesempatan emas untuk menjadi biarawati, bertemu dan dibimbing langsung oleh Luangta Maha Bua. Konon dikisahkan sekali waktu ia mendapat wangsit akan melahirkan seorang putera dari Dewa Indra (dikenal juga sebagai Sakka, raja para dewa). Kaget mendengar berita itu dan sempat menolaknya karena ia telah menjadi biarawati, belakangan diketahui seorang kerabatnya melahirkan seorang anak laki-laki. Anak lelaki itu pun diangkat sebagai putera angkatnya dan sejak dini ia sudah menjadi samanera dan hidup di vihara. Ketika usianya genap dua-puluh tahun ia menjalani hidup kebhikkhuan dan dikenal kelak sebagai Luangpu Inthawai. Adapun Mae Chee Kaew sendiri diyakini orang telah mencapai tingkat Arahanta, dan beliau tutup usia pada 1991,

 

Setelah melihat beberapa contoh di atas, Anda bisa melihat bagaimana para pengikut satu agama atau satu sistem kepercayaan meyakini bahwa tokoh panutan, guru, dan pemimpin mereka adalah makhluk yang luar biasa. Luar biasa karena asal-usulnya, yang bukan berasal dari leluhur manusia kebanyakan, melainkan diyakini berasal dari dewa dan makhluk suci lainnya. Pandangan seperti ini bukan saja dimonopoli oleh agama Buddha, tetapi juga terjadi pada agama-agama besar lainnya.

 

Sebaliknya sebagian umat atau penganut yang kritis menganggap bahwa kita sebaiknya hanya berpegang pada kebenaran sejarah yang telah diverifikasikan. Dengan demikian kita tidak berkewajiban meyakini mite dan legenda tadi. Kebenaran-kebenaran dalam Buddha Dharma mampu bertahan atau justru runtuh, semata-mata bergantung pada Ajaran yang mengandung pernyataan-pernyataan. Pernyataan mana dapat diverifikasi sebagai benar serta itulah kebenaran Buddha Dharma, dan maka dari itu tidak tergantung pada apa yang diungkapkan dalam kepercayaan legendaris tentang kelahiran dan asal-usul Sang Buddha.

 

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210127

 

Rabu, 13 Januari 2021

UPOSATHA

 UPOSATHA

 



Seperti apakah penampakan bumi dilihat dari angkasa di malam hari? Anda yang suka naik pesawat bisa mengamatinya saat Anda akan lepas landas atau mendarat melalui jendela. Dari ketinggian tertentu tampak titik-titik cahaya di tengah gelap-gulitanya malam hari. Jauh di sekelilingnya yang ada hanyalah kegelapan belaka. Apa yang kita lihat itu boleh dikatakan setali tiga uang jika kita naik lebih tinggi lagi. Para astronot yang mengendarai wahana antariksa pun saat mengamati sisi permukaan bumi yang tidak diterangi oleh matahari, juga mendapatkan bagian bumi gelap gulita. Titik-titik cahaya berwarna putih-kekuningan pada daerah tertentu menandakan bahwa tempat itu adalah kota besar.

 

Titik-titik cahaya yang kita lihat dari angkasa bersumber dari lampu-lampu listrik yang menerangi kompleks perumahan, jalan raya, dan fasilitas publik. Pemandangan seperti itu pun baru berlangsung sekitar seratus dua puluh tahun terakhir ini. Sebelum tenaga listrik bisa dimanfaatkan secara masif untuk penerangan, pencahayaan di malam hari hanyalah berasal dari lampu minyak dan lilin. Jadi jika saat itu kita sudah mampu terbang tinggi ke angkasa, pada saat menatap ke bawah hanyalah hitam pekat kegelapan yang tampak sejauh mata memandang.

 

Bagaimana pemandangan yang akan nampak di bumi setelah sang surya telah sepenuhnya tenggelam? Anggaplah kita berada di zaman sebelum tenaga listrik bisa dimanfaatkan secara besar-besaran. Mereka yang suka camping di alam terbuka pasti ingat kiat manusia agar bisa bertahan dengan aman dan nyaman dalam situasi dan kondisi seperti itu. Saat senja mulai temaram, kemah atau pernaungan sementara harus sudah didirikan dan api unggun telah dinyalakan. Setelah hari semakin gelap obor atau pelita-minyak dipersiapkan agar kita mudah beraktivitas di sisa malam itu.

 

Demikianlah suasana malam hari yang dialami seorang petualang-alam sejak sang mentari telah sepenuhnya tenggelam di ufuk cakrawala hingga fajar mulai menyingsing. Malam penuh kegelapan persis sama dengan yang dialami oleh orang kebanyakan pada zaman kuno. Jika cuaca tak-berawan, langit malam akan dihiasi oleh jutaan bintang, yang beberapa konfigurasinya akan berpola seperti biduk, kalajengking, pencedok, atau tanda salib. Namun malam tidak selalu gelap gulita, karena berangsur-angsur suasana mulai sedikit terang karena sang rembulan mulai menampakkan diri di langit. Dan terangnya malam mencapai puncak kecerahannya pada hari keempat-belas atau kelima-belas. Pada saat itu di kubah-langit sang rembulan menciptakan penampilan dirinya yang terelok, bundar sempurna seperti piring yang bersinar keperakan.

 

Setelah mencapai puncaknya, penampilan sang pelita-malam pun dari hari ke hari mulai surut, dan setelah empat-belas hari kemudian ia tak tampak lagi. Namun tiga hari kemudian ia mulai menampakkan diri lagi dalam bentuk siluet sabit tipis di langit malam, serta siklus penampilannya kembali berulang. Nenek moyang kita belajar dengan mengamati siklus pasang-surutnya penampilan bulan. Mereka paham malam-malam gelap tidak ada bulan adalah saat yang terbaik untuk memancing ikan di laut maupun di sungai. Sedangkan saat bulan terang sempurna adalah masa ketika udang dan cumi-cumi melimpah memenuhi permukaan laut.

 

Dari ketiadaan malam tanpa bulan, disusul munculnya bulan sabit, terjadinya purnama raya, dilanjutkan dengan surutnya penampakan bulan, hingga sang pelita malam tidak kelihatan lagi, nenek moyang kita belajar bahwa kehidupan ini adalah sebuah siklus. Mircea Eliade dalam bukunya The Sacred and the Profane menyebutkan bahwa orang kuno telah mengenal lunar symbolism atau simbolisme bulan. Mereka sadar manusia muncul dari janin, kemudian terlahir sebagai bayi, bertumbuh kembang menjadi kanak-kanak dan remaja, lalu mencapai kedewasaan dan menikmati puncak hidupnya. Selanjutnya kehidupan manusia pun niscaya mengalami masa surutnya, ditandai dengan fisiknya yang semakin lemah dan menua, lalu diakhiri dengan kematian. Namun seperti halnya bulan mati yang akan muncul kembali, kematian bukanlah akhir dari segalanya, karena setelah kematian akan disusul dengan kebangkitan atau kelahiran-kembali.

 

Dari simbolisme bulan mereka juga menyadari bahwa bukan saja alam semesta beserta segenap isinya yang senantiasa berubah dan mengikuti siklus tertentu, tetapi hal yang sama terjadi pula pada kesuburan tanaman dan wanita. Dua hal itu memegang peranan penting dalam keberlangsungan hidup umat manusia. Kesuburan tanaman penting bagi ketersediaan pangan guna bertahan hidup, sedangkan kesuburan wanita harus senantiasa terjaga agar ras manusia tidak punah ditelan waktu. Entah kebetulan atau bukan kesuburan wanita pun mengikuti siklus bulanan, dan peristiwa menstruasi yang terjadi pada wanita digunakan sebagai tolak ukur untuk menghitung masa subur, yang berguna untuk merencanakan kelahiran keturunannya. Dalam kosakata kita kejadian itu dinamakan "datang bulan", karena ia hadir dalam siklus sebulan sekali,

 

Dari pasang-surutnya penampakan bulan di langit-malam, nenek moyang kita menyusun sistem penanggalan atau kalender. Mereka menamakan saat bulan sedang tenggelam total sebagai permulaan penanggalan atau tanggal "1". Sedangkan saat bulan purnama, mereka menamakannya sebagai tanggal "15". Karena peredaran bulan mengedari bumi setiap siklusnya berlangsung kurang lebih 29,5 hari, terkadang satu bulan akan berlangsung 30 hari, dan lain kali satu bulan hanya akan berlangsung 29 hari saja.

 

Di Tiongkok semenjak zaman kuno masyarakat di sana memaknai hari saat bulan gelap (tanggal 1) dan saat bulan terang (tanggal 15) sebagai hari dilakukannya persembahyangan. Sembahyang tanggal 1 dalam bahasa Hokian disebut "Ce It" sedangkan pada tanggal 15 dinamakan sebagai "Cap Go". Pada pagi dan sore hari orang terbiasa menyiapkan sesajian di meja abu leluhur. Sesajian yang lazim disediakan di meja abu atau altar keluarga antara lain tiga atau lima cangkir teh dan buah-buahan. Selain itu sepasang lampu pelita atau lilin dinyalakan sebelum persembahyangan dimulai.

 

Kepala keluarga memulai persembahyangan dengan membakar dupa atau hio dengan disertai harapan agar para leluhur mendapatkan keberkahan dan kebahagiaan di alam sana. Kemudian pembakaran dupa dilakukan pula oleh anggota keluarga lainnya. Selain persembahyangan yang dilakukan di meja abu leluhur, persembahyangan dilakukan pula di kuil. Di kuil yang dikenal pula sebagai kelenteng umat awam membawa sesajian dari rumah. Selain buah-buahan terkadang mereka membawa pula kue-kue yang akan dipersembahkan di sana. Tata cara persembahyangan di kuil ini pun sama, dengan ditandai persembahan sesajian dan pembakaran lilin dan dupa. Namun alih-alih persembahan ditujukan kepada para leluhur, di kuil persembahyangan ditujukan kepada para dewa. Setiap kuil memiliki dewa-dewa tertentu yang dipuja oleh umatnya, dan susunan dewa antara satu kuil dengan kuil yang lain tidaklah sama. Dengan bersembahyang di kuil setiap orang bisa berinteraksi dan bersosialisasi dengan umat lainnya.

 

Kita juga mengetahui posisi keberadaan bulan mempengaruhi pasang-surut air laut. Pada saat bulan mati dan bulan purnama pasang air laut di pantai akan mencapai ketinggian maksimum. Orang zaman kuno telah mengamati fenomena ini, dan mereka menengarai pergerakan bulan akan berpengaruh pada kondisi tubuh manusia. Sewaktu berlangsung bulan purnama (purnima), seseorang cenderung gelisah, mudah tersinggung, dan bersifat pemarah. Sejak ribuan tahun yang lampau kaum brahmana di India percaya bahwa adalah baik bagi rakyat untuk melakukan puasa selama sehari pada saat bulan gelap dan bulan purnama. Setelah berpuasa dianjurkan agar orang hanya mengkonsumsi makanan yang sifatnya ringan guna mengurangi keasaman pada sistem tubuh, yang akan mengurangi laju metabolisme dan meningkatkan ketahanan tubuh. Melaksanakan upacara persembahyangan pun diyakini membantu untuk menaklukkan emosi buruk dan mengendalikan amarah, yang pada sore harinya diikuti dengan berendam dan mandi di sungai.

 

Pada saat bulan baru atau Amavasya selain dilakukan puasa juga dilakukan persembahan makanan kepada para leluhur, yang diyakini akan datang kepada keturunan mereka. Pada saat Amavasya itu para leluhur akan mengambil bagian dalam upacara itu dan jika persembahan itu tidak tersedia mereka akan kecewa. Banyak hari perayaan, seperti Diwali, akan jatuh pada saat bulan gelap, karena Amavasya dianggap mewakili saat permulaan. Para penganut berjanji untuk memulai sesuatu yang baru dengan penuh rasa optimis, seperti halnya bulan baru memberikan fajar kehidupan yang baru pula.

 

Bagaimana masyarakat di zaman hidup Sang Buddha menyikapi saat terjadinya malam bulan-mati dan bulan purnama? Dari kitab Vinaya Pitaka (Vin.Mv. 2:1-2) diceritakan bahwa Seniya Bimbisara, Raja Magadha yang menjadi penganut dan penyokong Sang Buddha, sekali waktu memohon kepada Beliau, agar para bhikkhu memanfaatkan malam saat bulan-gelap dan bulan purnama untuk berkumpul. Raja mendapatkan gagasan itu setelah ia melihat para petapa pengembara berkumpul pada dua kesempatan ini di malam hari. Para petapa pengembara membabarkan ajaran mereka dan penduduk yang dikunjungi bisa mendengarkan dan menyimak pengajaran mereka. Masyarakat bertumbuh kegandrungannya mendengarkan ajaran-ajaran dari berbagai sekte, dan mereka percaya pada doktrin yang diajarkan oleh para petapa. Dengan begitu para petapa pengembara mendapat dukungan langsung dari umat.

 

Usulan dari sang raja disetujui oleh Sang Buddha dan ia menitahkan para siswanya untuk selalu berkumpul pada dua kesempatan itu. Pada mulanya mereka hanya duduk bermeditasi bersama tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Umat awam pun terheran-heran menyaksikan para bhikkhu duduk berdiam diri semalaman layaknya kumpulan sapi bisu. Setelah mereka memprotes, Sang Buddha mengizinkan mereka untuk membabarkan Dharma. Pada hari itu pun para bhikkhu akan melakukan pembacaan-ulang Patimokkha atau aturan kebhikkhuan. Sang Buddha pun menetapkan saat hari bulan-mati dan bulan purnama sebagai hari besar untuk para bhikkhu, dan kita mengenalnya sebagai hari Uposatha.

 

Peringatan hari Uposatha yang diadakan dalam siklus empat-belas hingga lima-belas hari sekali dirasakan terlalu lama bagi sebagian umat. Dalam masyarakat agraris tradisional, hari Uposatha juga dianggap sebagai hari besar atau hari melaksanakan peribadatan. Belakangan mereka menyelipkan hari Uposatha-tambahan, yakni satu hari di pertengahan antara hari bulan-mati dan bulan-sempurna. Hari Uposatha tambahan ditetapkan pada hari kedelapan atau plus tujuh hari setelah Uposatha bulan-gelap dan Uposatha bulan-sempurna. Dengan begitu umat dapat melaksanakan Uposatha kurang lebih seminggu sekali, sama seringnya seperti kita mengadakan puja bakti di rumah ibadah pada zaman sekarang.

 

Dalam menentukan kapan jatuhnya hari Uposatha, umat berpega
ng pada kalender Tionghoa atau kalender Buddhis. Sekarang apa relevansi hari Uposatha bagi kita umat awam di zaman sekarang ini? Bagi kita hari Uposatha seyogianya dijalankan berbeda dibandingkan saat kita melewatkan hari-hari biasa. Inilah saatnya kita melaksanakan lelaku-spiritual, yang tidak sama dengan menjalani rutinitas sehari-hari. Mulai dari menyediakan barang persembahan di altar pemujaan keluarga, bersembahyang dengan menyalakan pelita dan membakar dupa, berpuasa dengan tidak makan lagi setelah pukul dua-belas siang, berpantang makan daging, menambah porsi pembacaan paritta atau keng, berlatih meditasi dengan lebih intens, dan lain-lain. Sebagai penganut yang ingin melestarikan kebiasaan para pendahulu kita, marilah kita melaksanakan ibadah di hari-hari Uposatha berlandaskan tekad untuk memperbaiki diri, sesuai dengan kapasitas kita masing-masing.

 

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/210113