Rabu, 15 Juni 2022

MAHAKASSAPA



Beberapa tahun sebelum Buddha kita lahir, di Negeri Magadha pada sebuah dusun yang bernama Mahātittha, lahirlah seorang anak lak-laki yang bernama Pipphali. Ayahnya adalah seorang brahmana yang dipanggil Kapila dan ibunya bernama Sumanādevī. Sebagai brahmana terpandang Kapila mendapat mandat untuk berkuasa di enam belas dusun, dan dia memerintah sebagai raja kecil. Pipphali sebagai anak kesayangan mereka berdua, tumbuh di lingkungan yang serba berkecukupan, bahkan berlimpah kemewahan.

 

Bertolak belakang dengan kebanyakan anak muda zaman sekarang yang memiliki orang tua kaya raya, Pipphali justru tidak menggubris harta duniawi yang akan diwarisinya, dan aspirasinya sejak muda dicurahkan untuk menjalani hidup-pertapaan dan pencarian spiritual. Setelah umurnya cukup kedua orang tuanya mendesaknya untuk segera mengambil seorang isteri, tetapi Pipphali berdalih tidak ingin hidup berkeluarga, dan dia berjanji akan menjaga ayah dan ibunya hingga akhir hayat mereka. Namun keduanya bersikeras bahwa dia harus mengambil seorang isteri. Akhirnya demi membalas jasa kebaikan keduanya terutama ibunya, Pipphali setuju untuk menikah, asalkan dia bisa mendapatkan seorang gadis yang sesuai dengan gambaran wanita yang menjadi idolanya.

 

Pipphali kemudian menugaskan beberapa pandai emas untuk membuatkan sebuah patung, yang menggambarkan sosok wanita sempurna sesuai imajinasinya. Setelah diberi pakaian boneka dan aksesori, patung emas kecil itu pun diperlihatkan kepada orang tuanya. "Jika ayah dan ibu dapat menemukan seorang gadis seperti ini untukku, aku akan tetap tinggal di rumah." Pipphali merasa menang, tetapi ibunya adalah seorang yang cerdas. Dia berpikir: "Pasti puteraku telah membuat jasa kebajikan di kehidupannya yang lampau, dan perempuan dalam gambaran-patung itu adalah orang yang dulu menjadi pasangannya, dan sekarang mungkin wanita ini pula yang akan menjadi jodohnya." Segera diutusnya delapan orang brahmana kepercayaannya, dan mereka diminta mencari perempuan muda yang sosoknya menyerupai patung emas itu. Mereka lalu pergi ke Daerah Madda yang menjadi gudang wanita cantik, dan di Sāgala para brahmana itu menemukan seorang gadis rupawan yang mirip dengan citra pada patung itu. Dia adalah Bhaddā Kapilānī, puteri seorang brahmana kaya yang berumur enam-belas tahun, empat tahun lebih muda dari Pipphali. Seolah-olah segalanya sudah diatur oleh semesta, orang tua gadis itu pun menyetujui lamaran yang diajukan oleh keluarga Kapila.

 

Menjelang Bhaddā Kapilānī dipertemukan dengan Pipphali, si gadis pun sebenarnya tidak ingin menikah. Si gadis bercita-cita menempuh kehidupan religius dan dia bertekad menjadi petapa wanita. Sekarang kedua orang muda itu berupaya menggagalkan kelanjutan hubungan mereka, tetapi upaya keduanya gagal. Keluarga Pipphali berhasil membawa Bhaddā ke Magadha, dan kedua mempelai itu segera dinikahkan di rumah Brahmana Kapila. Namun keduanya tetap bersepakat untuk mempertahankan kehidupan selibat. Untuk melaksanakan komitmen itu, setiap malam sebelum tidur keduanya akan meletakkan karangan bunga di tengah ranjang. Mereka bersumpah: "Jika salah satu sisi bunga itu layu, kita akan tahu bahwa orang yang berada di dekatnya, sudah dihinggapi oleh pikiran yang penuh nafsu." Akibatnya keduanya sering berbaring sambil terjaga sepanjang malam, karena takut melakukan kontak tubuh. Dan pada siang hari mereka bahkan tidak saling tersenyum. Kita mungkin heran kepura-puraan itu berjalan entah hingga hitungan tahun.

 

Selama orang tua mereka hidup, keduanya tetap menjauhkan diri mereka dari kesenangan duniawi, dan pasangan muda itu bahkan tidak perlu mengurus pertanian dan perkebunan yang dimiliki oleh orang tua mereka. Ketika orang tua Pipphali meninggal, pasangan itu mewarisi harta kekayaan yang luar biasa. Saat itulah keduanya merasakan dorongan untuk segera melakukan pelepasan keduniawian. Mereka pun meninggalkan rumah Brahmana Kapila, dengan masing-masing mengenakan jubah safron, membawa mangkuk tanah liat, lalu mencukur rambut di kepala satu sama lain. Dengan demikian mereka nampak seperti petapa pengelana, dan keduanya mengutarakan satu aspirasi: "Kami mendedikasikan kepergian kami kepada para Arahanta di dunia!" Ikrar itu agak janggal karena mereka bahkan belum pernah bertemu dengan Buddha atau pun mengenal ajarannya.

 

Saat mereka mengembara, Pipphali berjalan di depan sementara Bhaddā mengikuti di belakangnya. Kemudian Pipphali berpikir: "Sekarang Bhaddā mengikutiku dari belakang, dan dia adalah seorang wanita yang sangat cantik. Sementara orang mungkin akan berpendapat: 'Meskipun keduanya adalah pertapa, mereka tetap tidak dapat hidup terpisah satu sama lain! Apa yang mereka lakukan sungguh tidak pantas!' Jika ada orang yang berpikiran seperti itu lalu menyebarkan desas-desus miring, maka hal itu akan menyebabkan kerugian besar bagi orang tersebut. Jadi lebih baik kita berpisah." Selanjutnya ketika mereka tiba di perempatan jalan, Pipphali memberitahunya apa yang telah dia pikirkan dan berkata kepadanya: “Bhaddā, kamu ambil salah satu jalan ini, dan aku akan pergi ke arah yang lain." Anehnya Bhaddā pun dihinggapi pikiran serupa, dan sebagai isteri dia memberi hormat kepada suaminya dengan mengelilinginya tiga kali, bersimpuh pada kakinya, dan dengan telapak tangan tertangkup di depan dada dia berkata: "Persatuan dan persahabatan kita yang telah berlangsung selama masa lalu yang tak-terhitung berakhir hari ini. Silahkan ambil jalan ke kanan dan saya akan mengambil jalan lain." Demikianlah mereka berpisah dan menempuh jalan masing-masing, demi mencapai sasaran akhir kehidupan suci. Dikatakan bahwa bumi berguncang, guntur di langit bergemuruh, dan pegunungan di tepi sistem dunia bergema, karena kekuatan kebajikan keduanya.

 

Sepertinya kekuatan kebajikan itu langsung menghasilkan buahnya. Sang Buddha yang kebetulan berada tidak jauh dari tempat itu merasakan getaran bumi, dan dia memahami bahwa seorang murid yang luar biasa sedang dalam perjalanan menemuinya. Tanpa memberi tahu siapa pun, dia berangkat sendirian, menempuh jarak lima mil untuk menemui calon siswanya. Pipphali atau yang kemudian dipanggil sebagai Kassapa, belakangan hari menceritakan kisah berikut ini: "Sewaktu aku memulai kehidupan tanpa-rumah, ketika aku sedang melintasi jalan raya, aku melihat Yang Terberkahi diantara Rājagaha dan Nalanda sedang duduk di tempat pemujaan Bahuputta. Ketika aku melihatnya aku berpikir: 'Jika aku pernah mengakui seorang Guru, hendaklah aku hanya mengakui Yang Terberkahi. Jika aku pernah mengakui Yang Luhur, hendaklah aku hanya mengakui Yang Terberkahi. Jika aku pernah mengakui Yang Tercerahkan Sempurna, hendaklah aku hanya mengakui Yang Terberkahi.' ... Maka dari itu, wahai Kassapa, engkau harus berlatih sebagai berikut: "Dorongan kata hati dan rasa malu yang kuat seharusnya dimapankan dalam dirimu, dalam berhubungan dengan bhikkhu-bhikkhu sesepuh ..." Serta engkau seharusnya melatihnya sedemikian: "Aku akan mendengar Dhamma dengan telinga yang telah siap, dengan mendengarkannya dan menghadirinya dan mencurahkan seluruh batinku atas apa pun yang mendukung pada hal-hal yang bermanfaat." Serta engkau seharusnya melatihnya sedemikian: "Aku tidak akan pernah gagal untuk mempraktikkan kewaspadaan terhadap tubuh dengan sukacita." Engkau seharusnya melatih semuanya sedemikian.' Maka setelah Yang Terberkahi memberikan nasihatnya kepadaku, ia bangkit dari duduknya dan segera meninggalkan tempat itu."

 

"Aku menyantap dana makanan yang kuperoleh dari sedekah orang-orang selama tujuh hari sebagai utangku kepada mereka. Pada hari kedelapan pencerahan akhir muncul dalam diriku." Praktik kewaspadaan terhadap tubuh secara ketat dinamakan  dhutaṅga, yakni melakukan praktik pertapaan keras: hanya menggunakan tiga set jubah (dan menolak menggunakan jubah tambahan); hanya mengenakan jubah kain (dan menolak jubah yang ditawarkan oleh perumah tangga); hidup hanya dari makanan yang dikumpulkan dari sedekah (dan menolak undangan makan); hanya tinggal di hutan (dan menolak tinggal di biara kota); serta Kassapa menjalani praktik itu seumur hidupnya. Dalam kitab komentar – seperti dalam Visuddhimagga –  daftar praktik keras diperluas menjadi tiga belas aturan. Sekarang praktik dhutaṅga ini dijadikan tradisi bhikkhu-hutan di pedalaman Thailand.

 

"Kemudian Yang Terberkahi meninggalkan jalan raya dan pergi menuju sebuah akar pohon. Aku melipat jubah luarku yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai menjadi empat lapis, dan aku berkata kepadanya: 'Yang Mulia, sudilah Yang Terberkahi duduk di atas kain ini, sehingga kelak akan membuahkan kesejahteraan dan kebahagiaan kepadaku untuk kurun waktu yang lama.' Yang Terberkahi lalu duduk di tempat yang telah disediakan. Kemudian ia berkata: 'Jubah luarmu yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai ini lembut, Kassapa.' – 'Sudilah Yang Terberkahi menerima jubah luar yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai ini dari aku, Yang Mulia, demi welas-asihnya kepadaku' – 'Tetapi maukah engkau memakai jubah-rami yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai ini yang ingin aku singkirkan, wahai Kassapa?' " – " 'Yang Mulia, aku akan mengenakan jubah-rami yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai milik Yang Terberkahi yang hendak dia singkirkan.' Demikianlah aku mempersembahkan kepada Yang Terberkahi jubah luarku yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai, dan sebagai penukarnya aku menerima jubah-rami yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai ini yang ingin dia singkirkan. Jika dapat dikatakan oleh seseorang: 'Dia adalah putera Yang Terberkahi sendiri, terlahir dari mulutnya, terlahir dari Dhamma, diciptakan oleh Dhamma, seorang ahli waris Dhamma, seorang penerima jubah-rami yang berasal dari sepotong kain yang tak-terpakai yang ingin ia singkirkan,' itulah aku sesungguhnya."

 

Peristiwa pertukaran jubah antara Sang Buddha dengan Kassapa inilah yang belakangan ditafsirkan orang sebagai isyarat bahwa Sang Guru menunjuk siswanya yang istimewa ini sebagai penerusnya. Pada kenyataannya selama hidupnya Sang Buddha hanya sekali melakukan kehormatan seperti itu. Walaupun sebelum kemangkatannya, Sang Buddha menolak untuk menunjuk seorang pengganti pribadi. Justru dia mendesak para bhikkhu untuk memandang Dhamma dan Vinaya – doktrin dan disiplin – sebagai pengganti dirinya.

 

Pada saat wafatnya Sang Buddha, hanya dua dari lima siswa paling terkemuka yang hadir, Ānanda dan Anuruddha. Sāriputta dan Mahāmoggallāna telah wafat pada awal tahun itu, dan Kassapa dengan sekelompok besar bhikkhu, sedang dalam perjalanan dari Pāvā ke Kusinārā. Saat berada di tengah perjalanan, dia melihat seorang petapa telanjang melewati jalan itu sambil memegang bunga pohon karang (mandarava), yang konon hanya tumbuh di alam para dewa. Ketika Kassapa melihat bunga karang itu, dia tahu bahwa sesuatu yang luar biasa telah terjadi. Dia bertanya kepada petapa itu apakah dia telah mendengar berita tentang gurunya, Sang Buddha. Petapa itu mengatakan kepadanya, "Petapa Gotama memasuki Nibbāna-akhir seminggu yang lalu. Bunga pohon karang ini aku ambil dari tempat kematiannya."

 

Mendengar kabar duka ini hanya mereka yang telah menjadi suciwan yang tetap tenang, yang lainnya menangis tersedu-sedu dan bergulingan ke tanah. Akan tetapi, ada seorang bhikkhu yang bernama Subhadda, yang ditahbiskan di usia tuanya, yang berkata: "Cukup, teman-teman! Jangan bersedih, jangan meratap. Kini kita sudah terbebas dari Sang Rahib Agung. Kita selama ini telah dibuat frustrasi dengan perkataannya: 'Hal ini tidak pantas bagi kalian, hal itu tidak diperbolehkan untuk kalian.' Namun sejak sekarang kita bisa melakukan apa yang kita suka, dan kita tidak perlu melaksanakan apa yang tidak kita inginkan." Sungguh kata-kata yang kurang ajar dan tidak berperasaan, mengingat jasad Sang Guru Agung pun belum selesai diperabukan. Tetapi Kassapa tidak menanggapinya, malahan dia berpikir bahwa inilah momen yang mendesak untuk melestarikan ajaran yang sejati.

 

Sementara itu para tetua dusun di Kusinārā belum berhasil menyulutkan api pada tumpukan kayu pemakaman Sang Buddha. Yang Mulia Anuruddha menjelaskan bahwa para dewa yang tidak-terlihat namun semuanya hadir, ingin menunda proses itu sampai Yang Mulia Kassapa datang dan memberikan penghormatan terakhirnya kepada jenazah Sang Guru. Ketika rombongan itu tiba, dia berjalan mengelilingi tumpukan kayu itu sebanyak tiga putaran, dengan takzim, dengan tangan tertangkup di depan dada, dan kemudian dengan kepala tertunduk melakukan sembah-sujud di kaki Yang Terberkahi. Setelah semua pengikutnya melakukan hal yang sama, tumpukan kayu itu terbakar dengan sendirinya. Jadi seolah-olah Sang Guru menunggu sampai siswa utamanya tiba di sana.

 

Tiga bulan setelah wafatnya Sang Buddha, Pasamuan Agung atau Konsili yang pertama diadakan di Rājagaha, atas prakarsa Yang Mulia Kassapa dengan disponsori oleh Raja Ajātasattu. Pada kesempatan itu Yang Mulia Ānanda membacakan semua wejangan yang sekarang ini termuat dalam Sutta Pitaka, sedangkan Yang Mulia Upāli mengulangi semua kode disiplin monastik yang kini tertuang dalam Vinaya Pitaka. Kassapa sendiri bertindak sebagai pimpinan, pengarah, dan moderator dalam sidang agung yang bersejarah itu. Setelah diadakannya Konsili Pertama, penghormatan yang tinggi terhadap Yang Mulia Mahākassapa semakin meningkat, dan dia dipandang sebagai pimpinan Saṅgha secara de fakto. Kita namakan dia Mahākassapa (Pāli) atau Mahākāśyapa (Sanskerta), maknanya 'Kassapa Agung', untuk membedakannya dari Kassapa lainnya.

 

Tidak ada laporan dalam literatur Pāli tentang wafatnya Mahākassapa, tetapi sebuah kronik Sansekerta tentang 'Para Ahli Hukum' mewartakan kita catatan yang aneh tentang akhir sang sesepuh agung menurut tradisi Buddhis Utara. Menurut catatan ini, setelah Konsili Pertama Mahākassapa menyadari bahwa dia telah memenuhi misinya dan memutuskan untuk mencapai Nibbāna-akhir. Sang Sesepuh memberikan penghormatan terakhirnya dengan berziarah ke tempat-tempat suci, lalu menemui Ānanda untuk menyerahkan mangkuk-sedekah milik Sang Buddha sebagai simbol pelestarian Dharma. Demikianlah Mahākassapa, yang secara umum telah diakui sebagai  pimpinan Sangha, memilih Ānanda sebagai yang paling berharga untuk menjadi penerusnya.

 

Selanjutnya Mahākassapa memasuki Rājagaha. Dia bermaksud memberi tahu Raja Ajātasattu tentang rencana kematiannya yang akan datang, tetapi raja sedang tidur dan dia tidak ingin membangunkannya. Demikianlah Mahākassapa mendaki puncak Gunung Kukkaṭapāda sendirian, duduk bersila di sebuah goa, dan mengumandangkan tekad-agung bahwa tubuhnya akan tetap utuh sampai kedatangan Buddha masa depan, Metteyya atau Maitreya. Kepada Maitreya-lah dia harus menyerahkan jubah Buddha Gotama, jubah kain yang sama dengan yang diberikan Yang Terberkahi kepadanya pada pertemuan pertama mereka. Tak lama kemudian Mahākassapa mencapai Nibbāna-akhir. Bumi pun berguncang, para dewa lalu menaburkan bunga-bunga di tubuhnya, dan gunung itu menutup-kembali.

 

Dalam banyak naskah Sanskerta India dan Asia Timur, sejak abad kedua Masehi, Mahākassapa dianggap sebagai Sang Patriakh Pertama dari garis keturunan yang mentransmisikan ajaran Sang Buddha, dengan Ānanda sebagai yang kedua. Tradisi Chán (禪) atau Zen di Tiongkok dan Jepang juga menganggap Mahākassapa sebagai Sang Patriakh Pertama di India selepas kemangkatan Sang Buddha, dan dia dipanggil 摩訶迦葉 (Mó Hē Jiāyè). Sang Patriakh Pertama di Tiongkok adalah Bodhidharma (atau Dá Mó, 達摩,  440 - 528), dan Patriakh Keenam atau terakhir adalah Huì Néng (atau 惠能, 638–713).

 

Mungkin ada pembaca yang bertanya-tanya, bagaimana jalan hidup Bhaddā Kapilānī, mantan isteri dari Pipphali? Setelah perpisahan dengan suaminya, dia mengembara ke Sāvatthī, tempat dia mendengarkan khotbah Sang Buddha di Vihara Jetavana. Karena saat itu belum terbentuk Sangha Bhikkhunī, dia tinggal di sebuah biara petapa wanita non-buddhis tidak jauh dari sana. Di kota ini dia tinggal selama lima tahun sampai dia ditahbiskan sebagai bhikkhunī. Tidak lama kemudian dia pun mencapai tingkat Arahant.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220615

 

Rabu, 01 Juni 2022

SAMAKAH KARMA DENGAN UTANG-PIUTANG?





Alkisah di zaman dahulu ada seorang tukang kayu yang hidup bersama isterinya di sebuah rumah sederhana di tepi rimba. Walaupun mereka sudah lama menikah, namun mereka belum mendapatkan keturunan. Pasangan itu sebenarnya sudah lama mendambakan kehadiran seorang anak.

 

Pada suatu hari, seperti yang biasa dilakukannya, si tukang kayu setelah menyiapkan peralatan kerjanya berangkat ke hutan. Dia mencari pohon kayu yang sudah cukup tua, merobohkan pohon yang dipilihnya dengan kapaknya, membuang ranting dan daun yang tidak terpakai, memotong-motong kayunya, menyusun dan mengikatnya lalu membawanya pulang. Sewaktu dia sedang memotong-motong dahan pohon yang besar itu, lamat-lamat didengarnya ada suara orang bercakap-cakap. Menilik dari nada bicaranya, bisa dipastikan suara-suara itu berasal dari percakapan dua anak kecil.

 

Coba kita dengarkan perbincangan dua anak kecil itu. Anak yang satu bertanya kepada kawannya, "hei, mau kemana engkau?" Anak yang lain menjawab, "saya mau ke rumah tukang kayu itu. Saya bermaksud untuk menagih karma. Kamu sendiri hendak pergi kemana?" Anak yang pertama tadi menjawab, "jika demikian tujuan kita sama. Saya juga mau pergi ke rumah tukang kayu itu. Tetapi tujuan saya ke sana bukan untuk menagih, justru saya akan membayar karma." Anak yang kedua pun berseru, "oh kalau begitu kita bisa pergi bersama-sama ke sana. Ayo kita bergandengan tangan."

 

Di siang bolong itu si tukang kayu terheran-heran, bagaimana bisa dia mampu menguping pembicaraan dua anak kecil itu yang tidak kasat mata itu, walaupun dia celingukan berusaha mencari asal-usul suara itu. Si tukang kayu melanjutkan pekerjaaannya dan setelah mengikat sejumlah kayu bakar, dia kemudian mengambil pikulannya, menyimpan kapak dan peralatan kerja lainnya, dan langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah diceritakan pengalaman ganjilnya kepada isterinya, dan pasangan itu pun menebak apa makna di balik percakapan dua anak kecil yang misterius itu.

 

Hanya selang beberapa minggu setelah kejadian aneh itu, isteri si tukang kayu mendapati dirinya dalam keadaan hamil. Dan setelah mengandung selama sembilan bulan sepuluh hari, isteri tukang kayu itu pun melahirkan dua anak kembar laki-laki. Mereka berdua sangat bersyukur karena pasangan itu tidak muda lagi, dan mereka merasa mujur memperoleh dua anak lelaki sekaligus.

 

Waktu pun berjalan dengan cepat dan dua anak kembar itu pun tumbuh dengan sehat dan kuat. Sejak keduanya masih balita sudah tampak perbedaan yang mencolok di antara keduanya. Yang besar kita namakan si sulung tumbuh menjadi anak yang nakal dan pemalas, sedangkan adiknya atau si bungsu penurut dan rajin. Semakin tumbuh besar dan menjadi remaja, si sulung menjadi anak muda begajulan, yang sering membuat masalah dan kesusahan bagi keluarganya. Kedua orang tuanya pun lalu mengaitkan dengan pertanda ganjil yang muncul sebelum keluarga tukang kayu itu mendapatkan anak. Ayah dan ibunya berpendapat, "pasti si sulung ini anak yang datang untuk menagih karma, karena dia terus-menerus membuat masalah dan menyusahkan orang tuanya." Sampai satu ketika si sulung membuat lagi ulah yang memalukan, dan di mata ayahnya kali ini tak-termaafkan. Segera diusirnya anak itu dari rumah.

 

Sepeninggal si sulung sekarang di rumah itu hanya tersisa ayah, ibu, dan si bungsu. Keluarga itu pun hidup dengan tenang, tenteram, dan damai; tak ada lagi si pembuat onar. Ayah dan ibu sekarang mencurahkan kasih sayangnya kepada si bungsu, dan hanya kepada dia mereka akan menggantungkan hidup di hari tua. Tahun berganti tahun dan seiring dengan itu rasa sayang dan ketergantungan keduanya semakin besar. Namun malang tak dapat ditolak dan mujur tak dapat diraih, tiba-tiba si bungsu jatuh sakit. Tabib pun dipanggil, tetapi bukannya sembuh, sakit yang dideritanya bertambah parah. Sudah tak terhitung berapa banyak ahli pengobatan yang didatangkan, tetapi mereka semua tidak berdaya. Bukan itu saja harta mereka berupa ladang dan ternak sudah habis dijual, dan akhirnya si bungsu pun tidak terselamatkan.

 

Kesedihan dan keterpurukan melanda si tukang kayu dan isterinya. Sudah jatuh ditimpa tangga pula. Anak kesayangan sudah tiada dan mereka pun jatuh miskin. Mereka terhenyak dan baru menyadari, bahwa si bungsu ini ternyata anak yang menagih karma, dan itu bukan si sulung seperti yang mereka anggap sebelumnya. Setelah teringat pada anaknya yang lain, sang ayah merasa sangat menyesal.

 

Sementara itu si sulung setelah diusir oleh ayahnya, dia pergi meninggalkan dusunnya dan mengembara sampai jauh ke negeri orang. Dia sadar bahwa sekarang hidup dan masa depannya tergantung dari dirinya sendiri. Si sulung pun berubah, meninggalkan kebiasaan buruknya sewaktu dia masih tinggal di rumah orang tuanya. Sekarang dia bekerja dengan rajin dan mendapat kepercayaan dari majikannya. Bahkan setelah beberapa lama dia bisa menekuni usaha itu secara mandiri. Setelah mempunyai modal yang cukup dia berhenti dari pekerjaannya, dan bermaksud memulai usahanya di tempat yang baru. Dia teringat pada ayah dan ibunya dan dia merindukannya. Meskipun pernah diusir dari rumah, dia tidak menaruh dendam serta dia bermaksud pulang. Si sulung akhirnya pulang ke kampung halamannya, dan dia menyokong kehidupan orang tuanya, hingga mereka bertiga bisa berkumpul kembali. Ayah dan ibunya baru menyadari bahwa si sulunglah anak yang hadir untuk membayar karma.

 

 

Anda, para pembaca, mungkin pernah mengetahui cerita di atas. Sebelum kita membahas apa yang dimaksud dengan menagih karma dan membayar karma, marilah kita ikuti cerita kedua berikut ini.

 

 

Alkisah, pada suatu masa ada seorang pemuda yang amat frustrasi dan dia sudah sampai pada keinginan untuk bunuh diri. Anda mungkin bisa menebaknya. Ya, sang pemuda kita ini baru saja putus cinta. Kekasihnya, calon isterinya, tiba-tiba meninggalkan dirinya begitu saja tanpa alasan yang jelas. Padahal dia dan pacarnya sudah membina hubungan asmara selama lebih dari tiga tahun, dan mereka berdua telah sepakat untuk segera memasuki gerbang perkawinan.

 

Di tengah keputusasaannya dia bertemu dengan seorang rahib Buddhis alias bhikshu di sebuah biara. Rohaniwan ini bukan sembarang guru, tetapi si bhikshu telah mencapai tataran kemampuan batin yang tinggi. Sang pemuda yang sedang dilanda lara menghadap sang bhikshu untuk meminta petunjuk, dengan menyimpan keingintahuannya yang besar, mengapa cintanya bisa kandas di saat dia sudah sedikit lagi mengenyam kebahagiaan berumah tangga. Setelah mengetahui permasalahan yang dihadapi oleh si pemuda, sang rohaniwan berdiam diri, berkonsentrasi memusatkan pikirannya, batinnya menerawang menuju kehidupan lampau sang pemuda dan kekasihnya, dan setelah beberapa saat dia telah menemukan jawabannya.

 

Dalam penerawangan itu sang bhikshu nan waskita melihat seorang wanita muda yang telah meninggal dunia sedang terbaring di atas tanah di dekat pantai laut yang berombak tenang. Seorang pemuda yang kebetulan lewat di sana hanya memandang tanpa-empati ke arah jenazah itu, serta dia berlalu begitu saja meninggalkan tempat itu. Beberapa saat kemudian, datang lagi pemuda yang kedua. Berbeda dengan orang yang datang duluan, pemuda ini memandang tubuh tak-berdaya itu dengan perasaan iba, lalu dia melepaskan jaket yang sedang dikenakannya dan menutupi tubuh wanita yang malang itu. Segera setelah itu, dia pun melanjutkan perjalanannya. Kemudian setelah beberapa waktu, seorang pemuda lain seorang diri juga lewat di situ. Melihat ada mayat perempuan yang ditutupi jaket dan terlantar begitu saja, muncul rasa welas-asihnya. Dengan peralatan seadanya dia menggali sebuah lubang, memakaikan jaket itu ke tubuh jenazah itu, menyeretnya ke dalam lubang, menimbunnya dengan tanah, dan meletakkan sebuah batu besar di atasnya sebagai penanda. Sebelum meninggalkan tempat itu, si pria ketiga ini masih sempat mendoakan mendiang yang tidak dikenalnya itu.

 

Sang bhikshu setelah melihat kejadian yang berlangsung jauh di masa lalu, dia pun paham atas apa yang telah terjadi. Setelah itu diceritakanlah apa yang telah dilihatnya dalam penerawangan itu kepada sang pemuda. Sang bhikshu melanjutkan: "Wanita dalam kisah itu adalah kekasihmu, yang batal menikah denganmu. Pria yang pertama dalam kisah itu adalah salah satu teman wanita itu. Temannya ini pernah naksir perempuan itu, tetapi cintanya bertepuk sebelah tangan. Pria kedua yang menyerahkan jaketnya kepada wanita itu adalah engkau. Karena jasa baikmu, dia menemanimu selama tiga tahun untuk bersenang-senang denganmu. Tetapi pria ketiga yang telah mengubur jasadnya, dialah yang kini menjadi suami wanita itu." Sang pemuda pun manggut-manggut mendengar penjelasan sang bhikshu. Dia sekarang sadar dan menerima dengan sepenuh hati, bahwa mantan kekasihnya itu memang bukan jodohnya.

 

 

Dua cerita di atas menyingkapkan, betapa besar kekuatan perbuatan kita di masa kehidupan sebelumnya, guna menentukan siapa yang akan menjadi orang terdekat kita dalam kehidupan yang sekarang. Orang terdekat itu bisa suami atau isteri kita, ayah dan ibu kita, atau anak-anak kita. Bahkan orang terdekat itu bisa melebar kepada siapa pun yang akan menjadi famili kita, seperti saudara sekandung, kakek-nenek, cucu, mertua dan menantu, serta ikatan kekerabatan lainnya. Kekuatan perbuatan di masa lalu sering dikaitkan dengan utang-piutang karma. Ajaran ini populer dalam Buddhisme Tiongkok, namun tidak terasa gaungnya dalam Buddhisme Theravada.

 

Apa yang dimaksud dengan utang karma itu? Dalam kehidupan sehari-hari kita dikatakan berutang kepada seseorang, jika kita telah menerima satu barang atau jasa dari orang lain dan kita belum membayarnya. Pada saat kita membayarnya – biasanya dengan menyerahkan sejumlah uang – dikatakan kita sudah membayar utang atau utang itu telah dilunasi. Pada saat pelunasan utang sudah tidak ada lagi urusan gugat-menggugat, dan transaksi itu dinyatakan sudah selesai. Lalu apa itu piutang? Piutang adalah kita yang memberikan satu barang atau jasa dan orang yang menerimanya belum membayar atau melunasinya. Selanjutnya apa itu utang karma? Pada kisah yang kedua, wanita yang mati dikubur oleh pria ketiga itulah yang berutang karma. Dia melunasinya dengan mengawini pria itu dalam kehidupan yang sekarang. Jadi kalau begitu apakah utang karma berarti utang budi? Ya, bisa pula disebut demikian.

 

Dalam ajaran Buddhis hukum karma adalah salah satu dari hukum sebab-akibat. Apa artinya itu? Azas hukum ini berbunyi: 'dengan adanya ini, maka muncullah itu', atau dua kejadian yang berbeda secara waktu itu saling kait-mengait. Apa implikasi hukum sebab-akibat ini? Dengan adanya hukum ini segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini bukanlah bersifat kebetulan atau untung-untungan belaka.

 

Pernahkah Anda para pembaca memikirkan atau merenungkan, mengapa kita memiliki ayah dan ibu seperti yang kita kenal selama ini. Jika kita boleh memilih, mengapa kita tidak dilahirkan dari bapak dan ibu yang merupakan tokoh terkenal di republik ini, atau dari keluarga hartawan yang kaya raya? Kita dilahirkan oleh orang tua kita yang sekarang adalah sebuah takdir, sebuah keniscayaan, karena kita tidak bisa memilih orang yang akan menjadi orang tua kita. Orang sering mengaitkan keniscayaan ini dengan mengatakan, itu bisa terjadi karena kebetulan, atau terjadi secara acak begitu saja. Apakah Anda masih meyakini pendapat ini sebagai suatu kebenaran?

 

Lalu pernahkah Anda yang telah mempunyai pasangan berpikir, mengapa si A ini bisa menjadi suami atau isteri kita, dan bukan si B atau si C yang kita pernah bergaul dan mengenalnya lebih dekat? Dalam perjalanan hidup kita sejak kita masih kanak-kanak hingga seumur ini, entah sudah berapa banyak orang yang kita temui, namun mengapa si A yang akhirnya menjadi pasangan hidup kita? Ada sebuah petikan kuno yang mengatakan: "Dalam pertemuan sekilas antara dua insan berlainan jenis, hanya setelah seratus generasi kita dapat menyeberangi perahu bersama-sama, dan hanya setelah seribu kehidupan kita dapat tidur bersama. Pernikahan adalah kejadian yang sangat langka, yang bisa menyatukan dua orang." Mungkin sebelum Anda kawin dengan si A, Anda punya mantan – maksudnya mantan kekasih – tetapi mengapa hubungan kalian bisa kandas di tengah jalan? Seperti yang kita pelajari dari cerita yang kedua, bukan karena Anda berdua tidak cocok sehingga hubungan kalian putus, tetapi karena utang-piutang karma Anda dengan si A itu lebih kuat dibandingkan ikatan karma Anda dengan sang mantan. Logis bukan?

 

Selanjutnya kita lihat hubungan orang tua dengan anak. Orang tua berkorban untuk anak-anaknya; mulai dari melahirkan, membesarkan, menafkahi, dan mendidik mereka. Jasa orang tua terhadap anaknya tidak akan dan tidak bisa terbalaskan, seperti yang sering dikatakan orang: 'kasih anak sepanjang galah, kasih ibu sepanjang jalan.' Dengan demikian jika kita percaya adanya ikatan karma masa lalu, orang tua membayar utang karma kepada anak-anaknya, atau anak-anak memiliki piutang karma terhadap orang tuanya dan mereka menagihnya dalam kehidupan yang sekarang ini. Dalam kisah kita yang pertama, suami-isteri tukang kayu itu berutang karma sangat banyak kepada si bungsu, terbukti dia adalah anak yang menguras harta orang tuanya hingga ludes. Sebaliknya si sulung meskipun sudah menagih karma, dengan menjadi anak keluarga itu, tetapi dia mampu pula membayar utang karma masa lalunya kepada mereka berdua.

 

Ikatan karma masa lalu antara manusia satu dengan manusia lainnya tidaklah sesederhana itu. Tali temali utang piutang karma yang terjadi pada masa kehidupan lalu amatlah banyak, sehingga meninggalkan hubungan yang kompleks. Kita mungkin pernah menyaksikan video pendek tentang ikatan karma masa lampau, seperti kisah seorang ayah yang amat mencintai anak perempuannya. Bisa saja anak perempuan itu dulu adalah kekasihnya, dan sekarang mereka bisa mengungkapkan dan menuntaskan rasa cinta mereka. Jadi jika kita menilai apakah teori ini benar, kita boleh percaya bahwa hukum karma itu benar adanya.

 

Hidup sebagai suami atau isteri, menjadi anak, atau menjadi orang tua, haruslah kita jalani selama hidup di dunia ini. Kepada mereka yang telah memiliki pasangan hidup, apa pun yang telah terjadi seyogianya dijalani dengan penuh tanggung jawab. Banyak suami atau isteri yang mengeluh dan kecewa bahwa setelah membina rumah tangga hingga belasan atau puluhan tahun, mereka mendapatkan pasangan hidup mereka tidak seperti yang diimpikan atau dicita-citakan, seperti yang mereka harapkan sewaktu masa pacaran dulu. Namun haruslah diingat prinsip Tiongkok kuno berikut ini: 无债不来, 無緣不緊 (Wú zhài bù lái, Wú yuán bù jǐn), yang maknanya 'tidak ada utang-piutang, tidak ada pula takdir-hubungan'. Jadi walaupun Anda merasa tidak puas, tetaplah utang atau piutang harus diselesaikan hingga lunas. Tidak perlu ada penyesalan, bersabarlah, dan tunaikan apa yang menjadi kewajiban Anda sekarang, hingga semuanya terbayar lunas. Kapan utang-piutang itu lunas? Umumnya setelah satu pihak sudah meninggal dunia, utang-piutang karma ikut lunas, karena jarang terjadi orang yang menjadi isteri atau suami Anda sekarang akan terus menjadi pasangan hidup Anda lagi di kehidupan yang akan datang.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220601


Rabu, 18 Mei 2022

GUAN GONG




Tiongkok menjelang akhir abad kedua setelah Masehi. Kekaisaran Tiongkok yang fenomenal di bawah Dinasti Han sedang mendekati masa surutnya. Setelah berjaya selama hampir empat ratus tahun, periode panjang itu kerap dikenang sebagai masa keemasan bagi peradaban Tiongkok. Kelompok etnis mayoritas Tionghoa modern menamakan diri mereka sebagai 'Orang Han' atau 'Bangsa Han', bahasa resmi mereka disebut 'Bahasa Han', dan tulisan mereka dinamakan pula 'Aksara Han'. Dimulai dari pemerintahan Kaisar Líng (atau 漢靈帝, Hàn Líng Dì, 168-189 M), kemunduran mesin birokrasi imperium tersebut semakin nyata. Urusan negara banyak diserahkan kepada pimpinan orang kasim, di antaranya kepada Zhào Zhōng (趙忠) dan Zhāng Ràng (張讓), sedangkan Sang Kaisar sendiri lebih sibuk mengurusi selir-selirnya dan mengikuti parade militer.

 

Dengan berkuasanya dewan orang kasim yang terkenal korup, mereka juga menentang pembentukan partisan atau kelompok birokrasi yang terdiri dari orang-orang terpelajar. Pada tahun 184 M terjadi Pemberontakan Serban Kuning dan Pemberontakan Lima Takar Padi, yang dipelopori oleh kelompok keagamaan Daois. Masa itu ditandai pula oleh munculnya para Jūnfá (军阀) atau panglima perang (atau warlord, Inggr.). Seorang panglima perang dapat berkuasa karena memiliki banyak tentara pribadi, yang mana para tentara ini memiliki kesetiaan kepada atasannya. Seorang panglima juga harus mempunyai kepribadian yang kuat, berani, serta juga bakat untuk memimpin. Para serdadu ini biasanya direkrut dari pemuda-pemuda setempat, yang karena terbentur pada situasi buruk saat itu, terpaksa penduduk dusun yang malang itu memilih hidup sebagai tentara. Selain itu adalah lazim bagi seorang panglima perang, setelah dia mengalahkan musuhnya dan memiliki banyak tawanan, dia akan memasukkan orang taklukkan itu ke dalam korps tentara mereka.

 

Seorang panglima perang yang berkuasa dapat menarik pajak di daerah yang dikuasainya. Dengan begitu dia bisa menambah pundi-pundi kekayaannya, serta uang pajak itu digunakan pula untuk membiayai tentara-tentaranya. Panglima perang adalah produk dari melemahnya pemerintah pusat dan sentralisasi suatu negara. Panglima perang umumnya mengabaikan keberadaan pemerintah pusat, bahkan ada yang bersaing dengan pemerintah pusat.

 

Tokoh kita kali ini bernama Guān Yǔ atau 關羽,yang berasal dari Jiě Xiàn (解縣) atau Kadipaten Xie. Nama kehormatan aslinya adalah Cháng Shēng (長生). Tidak diketahui secara pasti kapan Guān Yǔ dilahirkan, tetapi berdasarkan perkiraan dia kelahiran tahun 160 atau 164. Guān Yǔ sangat rajin belajar dan dia tertarik pada buku sejarah kuno Zuo Zhuan, serta setelah mempelajarinya beberapa lama dia mampu melafalkan baris-baris dalam kitab itu dengan lancar. Dia melarikan diri dari kampung halamannya untuk alasan yang tidak diketahui dan pergi untuk mengabdikan diri ke seorang panglima perang di Kadipaten Zhuō.

 

Guān Yǔ dikenal sebagai sosok pria yang besar tubuhnya dan kuat, yang membuatnya berbakat menjadi petarung dan prajurit handal. Tidak ada lukisan-diri atau deskripsi tentang penampilan fisik Guān Yǔ dalam catatan sejarah, namun Sānguózhì (atau 三國志 yakni 'Catatan Tiga Kerajaan', sebagai dokumen resmi Sejarah Tiongkok yang ditulis oleh 陳壽 / Chén Shòu) mencatat bahwa Zhūgé Liàng pernah menyebut Guān Yǔ memiliki "jenggot tak tertandingi", bagaikan serumpun buah anggur. Secara tradisional, Guān Yǔ digambarkan sebagai prajurit berwajah merah dengan janggut panjang dan lebat. Gagasan tentang wajah merahnya mungkin berasal dari deskripsi dirinya dalam Bab 1 dari novel sejarah abad ke-14 'Romansa Tiga Kerajaan' (Sānguó Yǎnyì atau 三國演義), pada frasa berikut ini: "Xuande melihat ke arah pria itu, yang memiliki wajah dengan tinggi sembilan chi, dan memiliki janggut panjang dua chi. Wajahnya berwarna zao gelap, dengan bibir yang merah dan montok. Matanya seperti burung-api merah tua, dan alisnya mirip ulat sutra yang sedang berbaring. Dia memiliki penampilan yang bermartabat dan terlihat sangat anggun." Wajah yang berwarna merah mungkin dipinjam dari penampilan opera Tiongkok Kuno, yang mana wajah merah mewakili kesetiaan dan kebenaran. Dalam ilustrasi novel terkenal itu Guān Yǔ secara tradisional digambarkan mengenakan jubah hijau di luar baju zirahnya. Konon, senjata Guān Yǔ yang sangat diandalkannya adalah guan dao bernama 'Pedang Bulan Sabit Naga Hijau' dan dikatakan memiliki berat 82 kati (sekitar 49,2 kg).

 

Kisah pertemuan antara Guān Yǔ dengan dua orang yang kelak menjadi saudara angkatnya diceritakan pada Bab 1 'Romansa Tiga Kerajaan', yang bercerita tentang kisah perebutan kekuasaan oleh Sepuluh Orang Kasim dan Pemberontakan Serban Kuning, yang selanjutnya mengacaukan Kekaisaran Han. Ketika pemberontak Serban Kuning menyerbu Provinsi Yōu Zhōu (幽州), Gubernur setempat memasang pemberitahuan wajib-militer di wilayahnya. Melihat pemberitahuan itu, Liú Bèi atau 劉備 (28 tahun), keturunan jauh dari rumah penguasa kekaisaran, menghela nafas panjang. Dia kemudian dimarahi oleh Zhāng Fēi (張飛), yang bekerja sebagai penjual daging, karena tidak melayani negara. Liú Bèi kemudian berbagi aspirasi untuk menyelamatkan negara dan rakyat, dan Zhāng Fēi menyarankan agar mereka bersama-sama merekrut milisi sukarela untuk memerangi Pemberontakan Serban Kuning. Saat minum di sebuah kedai-arak, mereka bertemu Guān Yǔ, yang sedang dalam perjalanan untuk bergabung dengan milisi. Liú Bèi memberitahu rencana mereka dan ketiga pria itu pergi ke rumah Zhāng Fēi untuk berdiskusi.

 

Zhāng Fēi menyarankan mereka harus melakukan upacara pengorbanan ke langit dan bumi, serta mengambil sumpah sebagai saudara di bawah pohon persik yang mekar di tamannya, yang disetujui Liú Bèi dan Guān Yǔ. Sumpah itu begitu terkenal dan Penulis akan kembali menyitirnya: "Ketika menyebut nama Liú Bèi, Guān Yǔ, dan Zhāng Fēi; meskipun nama-marganya berbeda, namun kami telah bersatu sebagai saudara. Mulai hari ini kami akan bergabung untuk tujuan bersama: 'menyelamatkan yang bermasalah dan membantu yang terancam punah.' Di atas kami akan membalaskan dendam bangsa, dan di bawah kami akan memenangkan warga. Kami memang tidak dilahirkan pada hari yang sama, di bulan yang sama, atau pada tahun yang sama. Semoga para Dewa, Langit, dan Bumi membuktikan apa pun yang ada di hati kami. Jika kami harus melakukan sesuatu untuk mengkhianati persahabatan kami, semoga Surga dan orang-orang di Bumi bersama-sama akan membunuh kami." Setelah melakukan sumpah, Liú Bèi dinyatakan sebagai kakak tertua, diikuti oleh Guān Yǔ, dan Zhāng Fēi sebagai yang bungsu. Liú Bèi memerintahkan seorang pengrajin untuk menempa sepasang senjata; Guān Yǔ memperoleh 'Pedang Bulan Sabit Naga Hijau', dan Zhāng Fēi mendapatkan 'Tombak Ular'. Khusus untuk Zhāng Fēi, publik di Indonesia di masa lalu lebih mengenalnya dengan nama Tio Hoei, berdasarkan kisah yang diambil dari 'Romansa Tiga Kerajaan'. Segera setelah persiapan mereka rampung, ketiganya bergabung dengan milisi sukarelawan untuk membantu seorang kolonel, Zōu Jìng (鄒靖), seorang petinggi militer dari Kekaisaran Han Timur, yang ditugaskan untuk meredam pemberontakan itu.

 

Di atas telah dijelaskan bahwa Pemberontakan Serban Kuning mulai berkecamuk pada tahun 184, serta perpecahan di pusat pemerintahan makin menjadi-jadi antara faksi orang kasim melawan para partisan. Puncaknya terjadi pada tahun 189 dengan terjadinya kekacauan di kotaraja dan terbunuhnya Kaisar Líng. Pada saat itu ada seorang negarawan bernama Dǒng Zhuō (董卓) yang menguasai kota Luoyang. Dǒng Zhuō segera mengambil alih tahta dan mengangkat 'Kaisar Muda' (劉辯, Liú Biàn) sebagai penggantinya, dengan dirinya sendiri bertindak sebagai perdana menteri. Tidak sampai di situ, pada tahun 190 Dǒng Zhuō memberhentikan 'Kaisar Muda' dan digantikan oleh Kaisar Xiàn (漢獻帝, Hàn Xiàn Dì), yang merupakan kaisar boneka, dan serta merta dia sendiri berubah menjadi seorang diktator. 'Catatan Tiga Kerajaan' mencatat insiden ketika Dǒng Zhuō memimpin pasukannya ke Yáng Chéng (阳城), dia menyuruh anak buahnya memenggal semua penduduk laki-laki. Para serdadu merampok kota dan membawa pergi para perempuan, sapi, dan semua harta berharga; dengan mengklaim bahwa mereka telah menaklukan pasukan pemberontak. Kebejatan Dǒng Zhuō tidak sampai di situ, dia juga tidur dengan para wanita istana bahkan dengan sang permaisuri. Namun kekejamannya menimbulkan kemarahan rakyat di mana-mana. Para panglima perang di seluruh kekaisaran segera membentuk koalisi guna melawannya, seperti Yuán Shù (袁术), Cáo Cāo (曹操), Liú Bèi, dan Sūn Jiān (孫堅), sehingga Dǒng Zhuō terpaksa memindahkan ibukota ke Chang'an. Kekuasaan Dǒng Zhuō pun berakhir setelah dia dikhianati dan dibunuh oleh anak angkatnya sendiri, Lǚ Bù (呂布), pada tahun 192.

 

Keterampilan Guān Yǔ dalam bertarung dan berperang bisa dilihat pada saat dia dan kedua saudaranya bergabung dalam angkatan perang Gōngsūnzàn (公孫瓚),yang mana Gōng saat itu berada dalam satu koalisi yang menentang Dǒng Zhuō. Dǒng menempatkan petarung andalannya, Huá Xióng (華雄)untuk menjaga Sishu. Huá Xióng seakan tidak terkalahkan setelah membunuh empat perwira pasukan koalisi, yaitu Bao Zhong, Zu Mao, Yu Shen, dan Pan Feng. Saat itu tak ada pemimpin koalisi yang percaya saat Guān Yǔ menawarkan diri untuk menghabisi Huá, serta dia mempertaruhkan untuk memberikan kepalanya apabila upayanya gagal. Guān Yǔ kemudian beraksi seorang diri, menerobos pertahanan Huá Xióng, dan lewat pertarungan singkat berhasil memenggal kepala lawannya. Dia kembali dengan kepala Huá Xióng yang berada dalam genggaman tangannya, saat anggur merah yang dituang Cáo Cāo masih terasa hangat, padahal minuman itu baru dituang sebelum Guān Yǔ pergi.

 

Ketika Liú Bèi diangkat sebagai Menteri, Guān Yǔ dan Zhāng Fēi mendapatkan jabatan mayor dengan  masing-masing memimpin detasemen tentara di bawah Liú Bèi. Liú Bèi menyayangi mereka seolah-olah mereka adalah saudaranya sendiri, dan mereka bertiga berbagi kebersamaan ini sampai-sampai menempati kamar yang sama; tidur di tikar yang sama dan makan dari panci yang sama. Guān Yǔ dan Zhāng Fēi juga terus berjaga di samping Liú Bèi saat dia sedang menghadiri pertemuan. Mereka mengikutinya pula dalam petualangan militernya, dan melindunginya dari segala ancaman bahaya. Guān Yǔ terkenal karena kebaikannya terhadap anak buahnya yang mana mereka diperlakukan sebagai keluarganya sendiri, tetapi dia kurang menjaga tata krama ketika bertemu dengan para bangsawan.

 

Persekutuan antara panglima perang tidak berlangsung lama, karena mereka saling gontok-gontokan satu sama lain. Pada tahun 200, Cáo Cāo memimpin pasukannya untuk menyerang Liú Bèi, mengalahkannya dan merebut kembali Provinsi Xu. Liú Bèi melarikan diri ke Tiongkok Utara dan mencari perlindungan di bawah Yuán Shào (袁紹), seorang saingan Cáo Cāo, sementara Guān Yǔ ditangkap oleh pasukan Cáo Cāo dan dibawa kembali ke Xu. Cáo Cāo memperlakukan Guān Yǔ dengan hormat dan meminta Kaisar Xiàn untuk mengangkat Guān Yǔ sebagai Letnan Jenderal (偏將軍 atau Piān Jiāngjūn). Belakangan tahun itu, Yuán Shào mengirim jenderalnya Yán Liáng (顔良) untuk memimpin pasukan guna menyerang garnisun Cáo Cāo di Báimǎ (白馬) dekat Kabupaten Hua, sekarang Henan, yang dipertahankan oleh Liu Yan (劉延). Cáo Cāo mengirim Zhāng Liáo (張遼) dan Guān Yǔ untuk memimpin barisan depan guna menyerang musuh. Di tengah pertempuran, Guān Yǔ mengenali payung Yán Liáng sehingga dia menyerang jenderal musuhnya itu, memenggal kepalanya, dan membawa kepala itu. Anak buah Yán Liáng tidak bisa menghentikannya. Dengan kematian Yán Liáng, pengepungan terhadap Báimǎ dicabut. Atas rekomendasi Cáo Cāo, Kaisar Xiàn memberikan Guān Yǔ gelar bangsawan 'Marquis dari Dusun Hàn Shòu' (漢壽亭侯, Hàn Shòu Tíng Hóu).

 

Meskipun Cáo Cāo mengagumi karakter Guān Yǔ, dia juga merasakan bahwa Guān Yǔ tidak berniat untuk mengabdi di bawahnya untuk waktu yang lama. Dia berkata kepada Zhāng Liáo, "Mengapa kamu tidak menggunakan persahabatanmu dengan Guān Yǔ untuk mencari tahu apa yang dia inginkan?" Ketika Zhāng Liáo menanyainya, Guān Yǔ menjawab, "Saya sadar bahwa Tuan Cáo memperlakukan saya dengan sangat murah hati. Namun saya juga telah menerima banyak bantuan dari Jenderal Liú, dan saya telah bersumpah untuk mengikutinya sampai saya mati. Saya tidak dapat melanggar sumpah saya. Saya akan pergi pada akhirnya, jadi mungkin Anda bisa membantu saya menyampaikan pesan saya kepada Tuan Cáo." Zhāng Liáo melakukannya, dan Cáo Cāo bahkan lebih terkesan terhadap Guān Yǔ.

 

Nasib malang menimpa Guān Yǔ di penghujung tahun 219. Saat itu Guān Yǔ mundur dari Fancheng karena pasukan Sūn Quán (孫權) telah menduduki Jiangling dan menangkap pengawal keluarga Guān Yǔ. Sebagian besar tentara Guān Yǔ telah kehilangan semangat juang, dan mereka melakukan desersi dengan kembali ke Provinsi Jing untuk bersatu kembali dengan keluarga mereka. Guān Yǔ tahu bahwa dia telah diisolasi sehingga dia mengungsi ke Distrik Zhāng Xiān (漳鄉), tempat anak buahnya yang tersisa meninggalkannya dan menyerah kepada musuh. Guān Yǔ, bersama puteranya Guān Píng (關平) ditangkap hidup-hidup oleh musuh dalam sebuah penyergapan. Guān Yǔ dan Guān Píng kemudian dieksekusi oleh pasukan Sūn Quán di Lín Jǔ (臨沮), sekarang Nanzhang, Hubei. Kematian Guān Yǔ diperkirakan terjadi pada Januari atau Februari 220.

 

 

Kehidupan Guān Yǔ diagungkan dan prestasinya dimuliakan sedemikian rupa setelah kematiannya, sehingga ia didewakan pada zaman Dinasti Sui. Melalui cerita yang diturunkan dari generasi ke generasi, yang berpuncak pada novel sejarah abad ke-14 'Romansa Tiga Kerajaan'; suri tauladan dan kualitas moralnya mendapat perhatian besar, menjadikan Guān Yǔ salah satu paradigma kesetiaan dan kebenaran paling populer di Asia Timur. Sosok ini masih dipuja oleh banyak orang Tionghoa baik di Tiongkok Daratan maupun di manca negara, hingga saat ini. Dalam agama orang Tionghoa, Guān Yǔ dimuliakan dan dipanggil sebagai 'Kaisar Guān' (關帝; Guān Dì), menyiratkan status kedewaannya, serta 'Tuan Guān' atau Guān Gōng (關公) atau istilah Hokkian-nya 'Kwan Kong'. Sedangkan gelar Tao-nya adalah 'Kaisar Suci Tuan Guan' (關聖帝君, Guān Shèng Dì Jūn). Dalam aliran Buddha Mahāyāna, sosok Guān Yǔ dikenal pula dengan sebutan 'Bodhisattva Saṅgharama'.

 

Di Indonesia kuil yang mendedikasikan dirinya untuk dijadikan pemujaan Guān Gōng adalah Kelenteng Kwan Sing Bio, artinya 'Rumah Pemujaan Dewa Kwan Kong'. Seperti namanya kelenteng ini memang dipersembahkan bagi Guān Gōng, dewa pelindung utama yang sosoknya digambarkan sebagai panglima perang zaman Dinasti Han. Setiap tahun, tepatnya tanggal 24 bulan keenam pada penanggalan Tionghoa, banyak peziarah yang datang ke Tuban untuk memperingati ulang tahunnya. Kelenteng Kwan Sing Bio berada di pinggir Jalan Raya Pantura, tepatnya di Jalan Martadinata No.1, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Kota Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Kelenteng ini merupakan satu-satunya bio yang menghadap langsung ke arah laut.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220518


 

Rabu, 04 Mei 2022

TIGA PENAMPAKAN



Siang hari di musim gugur adalah saat yang menyenangkan dengan cuacanya yang cerah, karena hawa udara tidak terlalu dingin, pun tidak kelewat panas. Pepohonan meranggaskan daun-daunnya yang tadinya berwarna kuning-jingga, kemudian mendadak mengubah sisanya menjadi merah-merona, menyala-nyala bagaikan bara api. Berharap untuk mendapatkan buahnya, mereka membiarkan tudung hijaunya berguguran. Dalam puncak mekarnya, pohon-pohon akan membuat hati siapa pun yang menyaksikannya bersenandung riang, seraya menghembuskan aroma wanginya ke empat penjuru. Namun eloknya siang hari itu tak mampu meneduhkan hati Śuddhodana, sang penguasa Shakya, yang sedang gundah gulana memikirkan takdir sang penerus tahtanya. Masih terbayang dalam ingatannya peristiwa beberapa belas tahun lalu, saat para brahmana-peramal mengemukakan peneropongan mereka, ikhwal masa depan sang putera mahkota.

 

Saat sang pewaris tahta yang baru berumur lima hari ditunjukkan kepada mereka, tujuh ahli nujum itu tanpa ragu berkata, "Sang Putera Mahkota adalah seorang Chakravartīn, sesosok calon Raja Diraja, yang hanya muncul sekali dalam ribuan tahun. Namun jika dia tidak menjadi Penguasa Dunia dan meninggalkan istananya, dia akan menjadi seorang Buddha, yang akan menyelamatkan para dewa dan manusia." Bahkan Sang Petapa Asita, seorang suciwan sepuh yang mampu menguping pembicaraan para dewata, telah memberi tahu bahwa putera mahkota tidak lain Sang Manusia Agung yang telah lahir di lingkungan keluarga penguasa Shakya. Ketika Śuddhodana menanyai kelompok tujuh brahmana itu, dengan cara apa pangeran sampai meninggalkan istananya; mereka pun menjawab, "peristiwa itu akan terjadi jika Pangeran Mahkota melihat orang tua, orang sakit, sesosok jenazah, dan seorang petapa suci." Peristiwa itu dikenal dengan sebutan "empat pertanda" atau "empat penampakan".

 

Sekarang Siddhārtha, sang putera mahkota, telah mencapai masa akil-balig dan tahun depan dia akan berusia enam-belas tahun. Ayahnya memerintahkan para bawahannya untuk membangun istana yang khusus diperuntukkan bagi putera kesayangannya. Tiga bangunan megah yang masing-masing memiliki sembilan lantai dibangun; satu paviliun sejuk untuk digunakan pada musim panas, kediaman kedap-air yang cocok ditinggali pada musim hujan, dan kastil hangat yang nyaman dihuni ketika berlangsungnya musim dingin. Istana-istana ini dibangun di atas lanskap yang permai, dengan taman dan kebun bunga dan buah yang terawat dengan apiknya. Tiga buah kolam buatan pun begitu sedap dipandang mata, lengkap dengan lotus dan teratai seukuran roda dengan bunganya yang berwarna merah, biru, dan putih. Semuanya terjaga dan terawat dengan baik, sehingga tidak ada nyamuk, lalat, serangga pengganggu, atau ular yang dapat masuk ke dalamnya. Kawanan burung datang ke istana dari pegunungan Himalaya, sang raja pegunungan. Ada pattragupta, beo, mynas, cuckoo, angsa liar, burung gajahan, merak, flamingo, burung bulbul, burung pegar, dan banyak lainnya. Burung-burung itu memiliki sayap yang elok dalam berbagai warna dan mereka bernyanyi dengan suaranya yang merdu. Mereka bertengger di beranda, menara, pintu masuk, paviliun, dan teras atas kediaman agung Raja Śuddhodana.

 

Di tiga istana ini semua perbekalan seperti beras-nasi, beras-ketan, bulir gandum, milet, barley, sorghum, mentega, ghee, minyak wijen, madu, gula mentah, dan air tebu tidak pernah habis dan tampak penuh meskipun digunakan secara melimpah. Di dalam kamar-kamar tersedia jubah atas, jubah bawah, gaun, saree, selendang, serban, sabuk pinggang, sandal, dan sepatu; semuanya indah dan berkualitas baik. Di dalam kamar penyimpanan pusaka penuh dengan barang kerajinan dan karya seni yang luar biasa. Belum lagi khazanah yang dipenuhi berbagai barang berharga, seperti emas, perak, permata, mutiara, beril, kerang, kristal, dan koral; yang jika dibuka tutupnya akan menunjukkan kesempurnaan dan kelimpahannya yang tanpa cela. Di ruang-hiburan tersedia piranti musik, seperti gendang besar, gendang tanah-liat, seruling, kecapi, pipa-buluh, kecapi tiga senar, genta, dan simbal; yang jika dimainkan dengan benar mampu mengeluarkan musik yang merdu. Dan ini yang paling penting, aura murni dan tak bernoda, yang jauh lebih cemerlang daripada cahaya matahari dan bulan, muncul dalam komplek istana dan mampu memberikan kesenangan jiwa dan raga bagi semua penghuninya.

 

Pada tahun itu juga Siddhārtha dinikahkan dengan Yasodhara yang cantik rupawan, yang masih merupakan saudara sepupunya, puteri dari Raja Suppabuddha dan Permaisuri Amita. Pesta perkawinan keduanya bertepatan pula dengan ulang tahun ke-delapan-puluh-enam era pemerintahan kakeknya dari pihak ayah. Pada kesempatan itu sang putera mahkota dikuduskan, dengan cara menuangkan air yang diberkati ke atas kepalanya.

 

Setelah ketiga istana itu rampung dan sang putera menikah, kegundahan Śuddhodana pun berkurang. Dia pun memerintahkan agar gadis-gadis penghibur, yang pandai bernyanyi dan terampil memainkan alat musik serta mereka yang piawai dalam sendratari, selalu hadir di hadapan sang pangeran. Mereka semua ditantang untuk tampil mempesona dalam setiap momen, dengan tarian dan musik yang tiada henti. Siddhārtha muncul di tengah mereka dengan ketampanan dan martabat sesosok dewa, dikelilingi oleh rombongan besar para dewi. Selaras dengan pergantian musim, dia berpindah dari satu istana ke istana lain, bergerak seolah-olah dalam lingkaran kesenangan dan hiburan yang selalu diperbaharui. Raja Śuddhodana, yang sangat ingin melihat puteranya menjadi raja-dunia, yang kekuasaannya akan meluas hingga ke empat pulau besar dan dua ribu pulau yang lebih kecil; memberikan perintah yang paling tegas bahwa tidak satu pun dari empat pertanda itu, yang boleh dilihat oleh sang pangeran mahkota. Penjaga-penjaga ditempatkan di segala arah pada jarak setiap seratus kaki, dibebankan hanya dengan satu tingkat kewaspadaan, yaitu menjaga agar tidak terlihat oleh Siddhārtha munculnya penampakan fatal ini.

 

Dikurung dalam tiga istananya yang megah, apakah sang pangeran hidup bahagia? Kehidupan dalam istana memang nyaman dan terlindung-penuh. Pangeran kita pun tumbuh menjadi pribadi yang suka merenung. Mungkinkah pangeran selalu diusik oleh bayangan gelap yang berasal dari kehidupan sebelum yang sekarang ini?  Apakah dia curiga dunia di luar lingkungan istana tidak sebahagia, tidak seelok, tidak sebagus dunia yang diciptakan secara buatan khusus untuk dirinya?  Atau apakah dia memiliki pengetahuan bawah-sadar bahwa kehidupannya akan diabdikan untuk sesuatu yang sama sekali berbeda dengan apa yang dilakoninya sekarang, serta adakah misi yang lebih agung yang sesuai dengan kata hatinya yang perlu diembannya? Para kerabat Raja Śuddhodana mengeluh kepada Raja tentang perilaku sang putera mahkota. Mereka mempertanyakan apakah Siddhārtha mampu mengambil-alih tahta ketika tiba waktunya kelak. Sadar akan celaan ini, Śuddhodana memanggil puteranya, yang kepadanya dia sampaikan keluhan yang ditujukan kepadanya oleh kerabatnya. Tanpa menunjukkan emosi apa pun, pangeran mahkota itu menjawab, "Biarlah diumumkan melalui suara genderang di seluruh negeri, bahwa satu minggu dari sekarang aku akan menunjukkan kepada para kerabatku di hadapan para guru dan pakar terbaik. Silahkan dilakukan penilaian secara obyektif, apakah aku sepenuhnya fasih dalam delapan-belas seni beladiri, kemampuan berperang, dan penguasaan ilmu pengetahuan." Pada hari yang ditentukan, dia menunjukkan kepada mereka semuanya betapa cekatannya dia memperagakan seni beladiri, betapa terampilnya dia memainkan berbagai jenis senjata, serta betapa luas wawasan pengetahuannya. Mereka pun puas, dan keraguan serta kecemasan mereka atas dirinya sepenuhnya sirna.

 

 

Kita tinggalkan dulu Siddhārtha, dan kita menuju Tuṣita, satu istana kahyangan yang dikenal sebagai "Surga Kesukacitaan". Di sana para kerabat Siddhārtha dalam kehidupan sebelumnya sedang berbincang-bincang. Mari kita dengarkan pembicaraan mereka. "Saudara-saudaraku, dulu sewaktu Svetaketu baru saja wafat dan meninggalkan kita, kita pernah berjanji: 'Siapa di antara kita yang memiliki keberanian untuk melayani Bodhisattva terus-menerus dan tanpa henti, saat dia melakukan perjalanan ke rahim ibunya? Siapa yang akan melayaninya saat dia berada di dalam kandungan, saat dia lahir, saat dia tumbuh dan bermain sebagai anak kecil? Siapa yang akan melayaninya ketika dia berada di istananya, ketika dia dihibur oleh para gadis yang pandai bermain musik, menyanyi, dan menari? Siapa yang akan melayaninya ketika dia meninggalkan rumahnya dan melatih tapa-brata? Siapa yang akan melayaninya saat dia melanjutkan ke takhta pencerahan, menjinakkan siluman, mencapai pencerahan sempurna? Siapa yang akan melayaninya saat dia memutar Roda-Dharma? Siapa yang akan melayaninya menjelang dia menuju ke Parinirvāṇa yang agung?' "

 

"Sekarang Svetaketu sudah mendekati usia yang ketiga-puluh dan belum ada tanda-tanda dia akan melakukan pelepasan-agung untuk melakukan pencaharian guna mencapai pencerahan." Sesosok dewa lain berkomentar, "bagaimana mungkin Svetaketu bisa meninggalkan istananya, jikalau ayahnya menjaganya sedemikian ketatnya?" Dewa yang lain menanggapi, "Svetaketu baru akan tergerak melakukan pelepasan-agung setelah dia melihat empat penampakan." Dewa yang pertama kali bicara lalu berkata, "oleh karena itu kita harus campur tangan agar Bodhisattva dapat segera melanjutkan misinya ke tahap selanjutnya."

 

 

Hingga tibalah saatnya Sang Pangeran Mahkota dan isterinya melakukan kunjungan ke kotaraja. Seluruh kotaraja telah didekorasi dengan indah, dengan taman-kota dihiasi dengan kanopi-kain dalam berbagai warna, serta payung, bendera, dan umbul-umbul. Jalan yang akan dilalui sang pangeran telah disapu bersih, disemprot dengan air wangi, dan ditaburi kelopak bunga segar. Pembakar dupa mengeluarkan asap harumnya, dan di sepanjang jalan jambangan bunga ditempatkan, serta pohon pisang raja ditanam. Jalan itu dinaungi oleh kanopi sutra dalam berbagai warna, dan dihiasi jaring-jaring lonceng permata kecil serta karangan bunga dan jumbai dekoratif. Empat divisi tentara juga telah mengambil posisi di sepanjang rute, dan anggota rombongan sibuk mendandani permaisuri pangeran muda. Di tengah semua kesibukan ini, rombongan pangeran ke luar melalui gerbang-timur kota dalam perjalanannya ke taman. Sesosok dewa dari Surga Tuṣita yang telah turun ke bumi, menggunakan kemampuan magisnya dengan menyalin-rupa menjadi sesosok manusia. Beginilah penampakannya :

 

Seorang kakek, tua-renta, dengan tubuh yang sangat kurus,

Satu wajah yang dipenuhi oleh kisut dan keriput;

Serta sepasang mata yang hampir buta,

Mulutnya tak dapat menahan angin karena gigi-giginya sudah tanggal.

Punggungnya bengkok seperti kasau-pelana, dan otot-ototnya pun kaku.

Lemah dan lunglai, digunakannya tongkat agar dirinya tidak jatuh,

Sekujur tubuhnya gemetar kesakitan;

Dan vitalitasnya telah lama hilang.

 

Penampakan dewa dalam bentuk manusia hanya bisa dilihat oleh sang pangeran dan ajudan atau kusirnya. Orang-orang lain di luar keduanya terlena dalam urusan mereka masing-masing. Siddhārtha dalam keheranannya berkata kepada kusirnya Channa, makhluk apa gerangan yang muncul di hadapannya. Channa menjawabnya dengan menyebut, itulah 'orang tua'. "Apakah ia dilahirkan dalam keadaan seperti itu?", demikian tanya sang pangeran. "Tidak, Tuanku. Dia dulunya muda dan gagah seperti Paduka." "Masih bisakah kita temukan orang tua lain yang seperti dia?", tanya sang pangeran dengan raut wajah yang semakin bingung. "Amat banyak, Yang Mulia." "Dan bagaimana ia bisa tiba pada kondisi yang menyedihkan itu?" "Kondisi itu berasal dari hakikat kehidupan, bahwasanya  semua manusia bertumbuh-kembang sampai menjadi tua dan lemah, bila manusia itu tidak mati muda" "Jadi aku juga akan menjadi tua juga, Channa?" "Paduka sendiri juga tidak terkecuali. Begitulah kenyataannya, Yang Mulia." Penampakan singkat itu membuat sang pangeran begitu berduka dan dia minta diantar pulang. Hilang juga rasa senangnya meskipun semua yang ada di lingkungannya tampak begitu indah bagi orang lain.

 

Śuddhodana merasa heran mengapa rombongan kerajaan melakukan perjalanan ke kota dalam tempo yang singkat. Para peserta lain yang menyertai rombongan itu pun tidak mengetahui, apa alasan pangeran memperpendek lawatannya itu. Barulah setelah mendengar pengakuan Channa, sang raja pun maklum, tetapi dia pun kebingungan karena tidak ada orang lain yang menyaksikan pertanda yang pertama ini.

 

Waktu pun berjalan terus dan selang beberapa lama kemudian, ketika Siddhārtha sedang menuju taman-kota melalui gerbang selatan dengan disertai dengan rombongan besar, kejadian serupa berulang kembali. Sesosok dewa Tuṣita menyamar sebagai manusia. Beginilah penampakannya :

 

Laki-laki setengah baya itu terbaring lemah di tepi jalan,

Dia terbatuk-batuk dengan dahak dan air liurnya ke luar dari mulutnya;

Napasnya tersengal-sengal dan kedua matanya berputar-putar,

Sambil memegang dadanya yang nyeri, dia pun merintih-rintih.

Pada wajah dan tubuhnya tampak bercak-bercak ungu,

Kulit badannya pun menghitam di beberapa tempat;

Tak ada lagi orang yang peduli padanya,

Dan orang malang itu semakin menderita dalam kubangan kotorannya sendiri.

 

Sang pangeran dikenal sebagai orang yang welas-asih, dengan cepat menghampiri orang itu, mengangkatnya, meletakkan kepalanya di atas pangkuannya, dan dengan suara menghibur dia bertanya, "mengapa engkau seperti ini, wahai sahabat." Orang sakit itu sudah tidak dapat menjawab dan dia menangis tersedu-sedu. "Channa, katakanlah, mengapa orang ini? Adakah yang salah dengan napasnya? Mengapa dia tidak bicara?" "Oh, Tuanku, jangan menyentuh orang itu lebih lama lagi. Orang itu sakit dan darahnya beracun. Dia diserang demam sampar dan seluruh badannya terasa terbakar. Oleh karena itulah dia merintih-rintih dan tidak lagi dapat bicara lagi." "Tetapi masih adakah orang lain yang seperti dia?" "Ada, dan Paduka mungkin orangnya kalau Tuanku memegangnya seperti itu. Mohon dengan sangat agar Paduka meletakkannya kembali di tanah, dan jangan menyentuhnya lagi karena sampar itu sangat menular." "Channa, masih banyakkah hal-hal buruk seperti ini selain penyakit sampar?" "Sesungguhnya, Paduka, ada puluhan penyakit lainnya yang sama hebatnya seperti sakit sampar." "Apakah semua orang dapat diserang penyakit? Apakah penyakit datang secara mendadak?" "Betul, Tuanku, semua orang di dunia ini dapat terserang penyakit. Tidak ada orang yang dapat mencegahnya, dan itu dapat terjadi setiap saat." Mendengar penjelasan ini, pangeran pun menjadi semakin sedih dan dia pun segera pulang ke istananya.

 

Śuddhodana, semakin terganggu dengan berita yang disampaikan kepadanya. "Apa? Bagaimana bisa pangeran melihat pertanda buruk itu sekali lagi? Raja kemudian melipatgandakan kesenangan dan kenikmatan untuk puteranya, dan dia juga menambahkan jumlah penjaga yang harus mengawasinya.

 

Waktu pun berjalan terus dan selang beberapa lama kemudian, ketika Siddhārtha sedang menuju taman-kota melalui gerbang barat dengan disertai dengan rombongan besar, kejadian serupa berulang kembali. Sekelompok dewa Tuṣita menyamar sebagai sekumpulan orang. Beginilah penampakan mereka :

 

Sesosok tubuh tak berdaya diusung di atas tandu,

Dengan badan yang kurus kering dan dibungkus kain kafan;

Tubuh yang sudah kaku itu pun tak mampu bergerak lagi,

Orang-orang yang mengiringinya tenggelam dalam sedu sedan.

Di bantaran sungai rombongan itu berhenti,

Mereka semua menyiapkan tumpukan kayu bakar;

Jenazah pun diletakkan di atasnya, dan api pun segera disulut,

Si mati tetap diam walaupun si jago merah melahapnya hingga musnah.

 

Dalam keterkejutannya Siddhārtha berteriak ketakutan. "Channa! Mengapa orang itu terbaring di sana dan membiarkan orang lain membakar dirinya?" "Dia sudah tidak tahu apa-apa lagi, Tuanku. Orang itu sudah mati." "Mati! Channa! Apakah ini yang dinamakan mati? Dan apakah aku suatu waktu akan mati juga?" "Betul, Paduka, semua makhluk hidup pada suatu waktu akan mati. Tidak ada seorang pun yang dapat mencegahnya. Dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan orang tua, isteri, atau anak-anaknya. Dia harus meninggalkan harta miliknya, rumahnya, teman-temannya, dan kerabatnya. Setelah mati dia akan melanjutkan hidupnya ke dunia berikutnya, tempat dia tidak akan pernah bertemu lagi dengan mereka semua." Pangeran heran dan kaget sekali, sehingga tidak dapat mengucapkan sepatah kata pun. Dia berpikir bahwa sangat mengerikan keadaan yang disebut 'mati' itu, yang mesti dialami oleh setiap orang, tak peduli ia seorang raja atau anak dari seorang raja.

 

Sekali lagi Channa melaporkan kejadian ini kepada Śuddhodana, yang langsung membuatnya terhenyak lemas di kursinya. Para peramal istana dipanggil kembali untuk mengetahui takdir Siddhārtha. Mereka semua mengatakan: "Pangeran muda akan pergi melalui 'Gerbang Keberuntungan'." Jadi sang raja memasang panel pintu besar di 'Gerbang Keberuntungan'. Begitu besarnya sehingga dibutuhkan lima ratus orang untuk membuka atau menutupnya.

 

Sekeliling tembok-pembatas kotaraja dibangun semakin tinggi,

Parit pembatas-kota pun telah diperlebar:

Demikian juga lebih banyak pengawas ditempatkan di menara,

Di gerbang-kota sudah bersiaga pasukan berbaju zirah.

 

Semua warga Kapilavastu khawatir dan berjaga siang-malam,

Kota dilingkupi kebisingan besar, para tentara berpatroli di mana-mana;

"Semoga sang pangeran tercinta tidak akan pergi,

Jika pemegang silsilah Shakya pergi, kerajaan ini akan hancur!"

 

Para gadis-penghibur dipanggil dan perintah pun diterbitkan,

"Keluarkan kebisaan kalian disertai segenap naluri kewanitaan;

Buatlah sang pangeran gembira agar dia melupakan penderitaan duniawi,

Awasi dan ciptakan pula penghalang agar Sang Manusia Agung tidak jadi pergi!"

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220504

 

 

Rabu, 20 April 2022

KORUPSI


 

Anda yang sering mendengar dan melihat berita di televisi atau media lainnya, pasti sering mendapatkan kabar tentang kasus korupsi yang menimpa para pejabat negara. Tidak asing lagi di telinga kita bahwa kepala daerah anu ditangkap oleh KPK (Komite Pemberantasan Korupsi), karena kedapatan menerima uang tunai dari seorang pemberi suap. Atau sering kita baca pula, seorang mantan pejabat divonis sekian tahun penjara, karena terbukti melakukan tindakan korupsi yang merugikan negara sebesar puluhan milyar rupiah.

 

Sebenarnya, apa yang dimaksud dengan korupsi itu? Korupsi diambil dari kata Latin corruptio sebagai kata benda, yang berasal dari kata kerja corrumpere yang bermakna membusuk, menggoyahkan, memutarbalikkan, menyogok, mencuri. Jadi korupsi kurang lebih berarti pembusukan, penggoyahan, pemutarbalikan, penyogokan, atau pencurian. Korupsi dikenal pula sebagai "rasuah", berkonotasi negatif, kriminal, dan merupakan tindak kejahatan.

 

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi diartikan perbuatan melawan hukum sekaligus penyalahgunaan kewenangan, kesempatan, atau sarana. Tujuannya adalah memperkaya diri sendiri atau orang lain, dan merugikan keuangan negara atau perekonomian negara. Tentu saja korupsi bisa terjadi dalam lingkup lembaga swasta, dan tidak selalu berakhir pada tuntutan hukum. Supaya lebih mudah bagi kita untuk memahaminya, korupsi itu tidak lain penyalahgunaan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada seseorang, untuk mendapatkan keuntungan sepihak. Sejak Masa Reformasi korupsi lebih populer disebut KKN atau Korupsi-Kolusi-Nepotisme. Kolusi adalah kerja sama atau pemufakatan antar penyelenggara negara yang melawan hukum, sedangkan nepotisme tidak lain tindakan melawan hukum yang dilakukan oleh penyelenggara negara untuk kepentingan keluarga atau kroninya di atas kepentingan umum.

 

Sejak runtuhnya rezim Orde Baru, mahasiswa dan kaum reformis telah menyadari, bahwa Indonesia terpuruk lantaran para pejabat negara melakukan praktik KKN. Namun setelah pergantian rezim, dan pimpinan pemerintahan berganti beberapa kali, setiap kali dilakukan berbagai upaya agar penyakit KKN bisa dibasmi hingga tuntas. Namun lewat dua dekade kemudian, upaya itu belum menghasilkan perubahan yang signifikan.

 

Dengan berbagai bonus geografis, yang kemudian ditunjang dengan sumber daya alam yang melimpah, penduduk dan luas wilayah yang sungguh besar, sudah seharusnya Indonesia tumbuh menjadi negara yang maju. Namun apa daya, jangankan maju; beranjak untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik saja, dirasa masih sangat sulit. Pengamat politik dan pertahanan, Salim Said, mengungkapkan alasan mengapa Indonesia tak menjadi negara maju dibanding negara-negara lain di dunia.

 

Dalam ceramahnya di Gedung Pusat Dakwah PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat malam 6-Oktober-2017, pakar politik dan pertahanan itu mengemukakan pendapatnya. Indonesia tidak bisa maju lantaran mentalitas pejabatnya yang rendah. Kata Salim, para pejabatnya banyak yang ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena 'makan duit negara'. "Nah, sekarang di Indonesia, semua pejabat pemerintah, anggota parlemen, dan para pemangku kekuasaan yudikatif itu disumpah secara agama. Tetapi kemudian melanggar sumpah, karena tidak takut pada Tuhan," kata Salim. Karenanya, kata Salim, Indonesia tidak akan bisa menjadi negara maju, selama Tuhan tak lagi ditakuti oleh para pejabat di negeri ini.

"Jadi, negeri ini tidak maju karena tidak ada apa pun yang ditakuti. Dosen dan penulis itu lalu beralih dengan membandingkan Indonesia dan negara lainnya, seperti Korea Selatan (Korsel), Taiwan, hingga Israel. "Mengapa sekarang orang Indonesia banyak membeli telepon dan kulkas dari Korsel. Kenapa Korsel maju dan kita tidak maju? Orang Korsel takut sama Korea Utara, jadi dia harus unggul," kata Salim. "Taiwan, pulau kecil, takut kalau dicaplok Tiongkok. Makanya banyak produk yang kita beli berasal dari Taiwan. Israel, Yahudi di tengah lautan Arab, kalau tidak hebat di-kremus dia," tambahnya. "Korea Selatan, Taiwan, Singapura semuanya maju karena ada yang mereka takuti. Taiwan takut sama Tiongkok Daratan, Korea Selatan takut sama Korea Utara, Singapura takut karena dia mayoritas masyarakat Tionghoa di tengah lautan Melayu. Israel takut karena berada di tengah negara-negara Arab. Keadaannya lain dengan Indonesia. Di sini kondisinya berbeda; jangankan KPK, Tuhan pun tidak ditakuti," kata Salim, yang disambut tawa terbahak-bahak dari para peserta diskusi.

Semua orang yang jadi pegawai negeri – termasuk semua pejabat negara – wajib mengucapkan sumpah atau janji sebelum mereka memangku sebuah jabatan. Namun setelah mereka mendapatkan jabatan itu, sebagian dari mereka melanggar sumpah atau janji dengan melakukan korupsi dan perbuatan tercela lainnya. Dari penulusuran mereka yang bersalah dan dihukum, ternyata tidak hanya orang yang beragama X atau Y saja yang melakukan korupsi, melainkan orang-orang dari semua agama pernah melakukannya. Jadi, apakah kita setuju dengan sinyalemen di atas bahwa pejabat-pejabat di Indonesia – tidak peduli apa agamanya – benar-benar tidak takut kepada Tuhan?

 

Lalu apa yang dimaksud dengan takut terhadap Tuhan? Menurut ajaran Islam, takut atau khasyyah kepada Allah SWT artinya dia berupaya untuk menaati semua yang diperintahkan, serta menjauhkan segala yang dilarang oleh Allah SWT, dengan berpedoman pada Al Qur'an dan sabda Nabi Muhammad SAW. Menurut ajaran Kristen, orang yang takut akan Tuhan tahu mana dosa mana tidak, mana yang boleh dilakukan dan mana yang dilarang. Orang yang takut akan Tuhan tidak mau berbuat dosa dan Alkitab memberi tahu semuanya. Melakukan korupsi sama dengan mencuri alias mendapatkan harta dengan cara yang tidak halal, juga dikategorikan masuk dalam perbuatan dosa.

 

Bagaimana dengan pandangan agama Buddha tentang takut terhadap Tuhan? Jika korupsi sama dengan mencuri atau mengambil barang (baca : uang) yang tidak diberikan kepadanya, ini jelas tindakan yang melanggar sila kedua. Dalam pengertian Buddhis dikenal istilah yang dinamakan Ottappa, yang bermakna "takut melakukan perbuatan jahat". Lebih jauh Ottappa sebenarnya adalah sikap batin yang enggan melakukan perbuatan salah, keliru, atau tidak bermanfaat; dengan kata lain tidak berani melanggar sila.

 

Pengertian Ottappa sering disandingkan dengan pasangannya, yakni Hiri yang bermakna "malu berbuat jahat". Jadi Hiri dan Ottappa itu sama dengan malu berbuat jahat dan takut akibat perbuatan jahat. Tanpa perlu dijelaskan panjang lebar penulis yakin, Anda para pembaca sekalian pasti sudah paham makna kedua istilah Pali di atas. Coba saja kalau misalnya saya ini seorang pejabat negara yang tertangkap-tangan melakukan korupsi. Pasti teman-teman sekantor begitu mengetahuinya akan mengatakan, "oh, tidak nyangka ya. Atasan kita ternyata korupsi, padahal selama ini kita mengenal Bapak kita orangnya jujur dan lurus-lurus saja." Belum lagi begitu tertangkap saya harus mengenakan rompi oranye dengan kedua tangan diborgol. Selanjutnya saya digiring ke mobil-tahanan dan muka saya disorot kamera televisi. Seketika itu juga nama saya disiarkan oleh media massa dan mendadak saya jadi terkenal. Tapi buat apa terkenal kalau itu karena keburukannya! Jika saya kemudian dinyatakan bersalah mungkin setelah bebas dari hukuman saya akan mengisolasi diri, tidak berani ke luar rumah untuk menampakkan diri. Inilah yang namanya malu melakukan kejahatan.

 

Jika saya sebagai pejabat didakwa melakukan korupsi maka dimulailah proses hukum yang membuat saya tidak nyaman. Ruang kantor dan rumah saya digeledah. Selama berjam-jam dan berhari-hari saya dihujani puluhan pertanyaan oleh penyidik. Saya harus menjawabnya dengan hati-hati. Salah jawab bisa membuat hukuman menjadi lebih berat. Saya juga harus menyewa pengacara yang bayarannya sangat menguras kantong itu. Selanjutnya harus menjalani persidangan yang bertele-tele dan melelahkan. Tibalah harinya saya mendengarkan putusan hakim, yang mana saya divonis sekian tahun penjara. Belum lagi hukuman lainnya, yakni harta benda saya disita untuk membayar kerugian negara, dan saya pun dimiskinkan. Kemudian saya menjadi penghuni hotel-prodeo. Meskipun kita bisa tinggal di sana secara gratis, tetapi hati ini sengsara karena kita dikurung bak ayam peliharaan. Tidak cukup itu saja guys! Dengan dijebloskan ke penjara kita sedang menjalani hukuman yang dijatuhkan oleh manusia. Padahal menurut hukum karma, pasti perbuatan buruk akan membuahkan penderitaan. Entah itu berupa kita kelak menjadi orang yang tidak berkecukupan, sering kehilangan barang, atau terlahir-kembali di alam rendah.

 

Jadi jelas kita berusaha untuk tidak melakukan korupsi, karena kita takut akan akibat perbuatan terkutuk itu. Dengan memiliki Hiri dan Ottappa, bukan berarti kita tertekan karena selalu ketakutan. Takut di sini bermakna positif, meskipun orang salah menterjemahkannya sebagai sikap pengecut. Penulis akan memberi contoh lain. Misalnya kita takut terhadap polisi lalu-lintas. Kita takut jika tidak mengenakan helm atau memakai sabuk pengaman saat mengendarai kendaraan. Takut terhadap kehadiran polisi atau takut ditilang itu adalah hal yang positif bukan negatif, karena ada dasarnya. Coba jika Anda tidak mengenakan helm atau memakai sabuk pengaman, walaupun pada saat itu tidak ada polisi yang berjaga, tiba-tiba Anda mengalami kecelakaan fatal. Dengan tetap mengenakan helm atau sabuk pengaman, Anda mungkin hanya menderita cidera ringan, dan Anda tidak jadi mati.

 

Bisa kita bayangkan jika setiap orang tidak memiliki rasa malu dan takut, dunia ini akan menjadi kacau balau. Seandainya setiap pejabat negara takut kepada Tuhan, maka korupsi akan lenyap dari Bumi Pertiwi ini. Lembaga seperti KPK tidak diperlukan lagi, dan Indonesia akan menjelma menjadi sebuah negara yang maju. Semoga demikian.

 

Sebagai penutup, penulis akan menceritakan kembali sebuah kisah nyata tentang orang berintegritas, yang melakukan kebajikan yang buahnya dinikmati oleh keturunannya. Anda mungkin pernah membacanya, dan kami menganggap kisah ini masih relevan untuk tulisan kita kali ini.

 

Menjelang akhir hayatnya, Tom Smith, seorang pensiunan pegawai negeri di satu Kementerian, masih sempat berpesan kepada puteri semata-wayangnya. Dia menasehati keturunannya agar mengikuti jejaknya dalam meniti karier. Tahun-tahun yang panjang dihabiskan dalam kerja yang tulus dan jujur di Kantor Pemerintahan hingga dia pensiun dari sana. Semuanya dibekali oleh keyakinan agar mereka sekeluarga memiliki ketenangan batin selama hidup. Dia sendiri hanya bisa hidup sewajarnya dengan membesarkan anaknya hingga dewasa. Isterinya sudah mendahuluinya beberapa tahun sebelumnya.

 

Puterinya, Sarah Smith, mengungkapkan ketidaksetujuannya meskipun hanya diucapkan dalam hati: "Ayah, aku kecewa, karena ayah tidak meninggalkan kami warisan yang memadai. Para orang tua lain, yang ayah katakan sebagai koruptor dan pencuri dana masyarakat bisa mewariskan simpanan deposito yang cukup besar jumlahnya di Bank, atau meninggalkan sebuah rumah tinggal untuk keturunannya. Aku anakmu satu-satunya hanya bisa tinggal di sebuah apartemen sewa. Maafkan aku, ayah. Aku tidak akan mengikuti jejak hidupmu." Tom Smith mungkin kecewa di saat dia hendak menutup mata.

 

Beberapa bulan kemudian, Sarah melamar posisi di sebuah korporasi besar. Saat dia diwawancarai, ketua panitia penerimaan pegawai bertanya, "apa nama lengkap Anda?" Dia menjawab, "Sarah Smith." "Apa nama ayah Anda?" Dia menjawab, "Tom Smith." "Apa yang dia kerjakan sekarang?" Sarah pun menjelaskan, "ayahku telah tiada. Dulu dia bekerja di Kantor Kementerian, yang ditugaskan untuk perekrutan pegawai negeri dan dia banyak menangani pekerjaan kesekretariatan. Dia kerap diminta sarannya dalam menerima pegawai baru oleh atasannya."

 

Air muka sang pewawancara berubah, dan sikapnya berubah menjadi baik. "Apakah Anda adalah puteri dari Tom Smith yang bekerja di Kementerian Anu?" Sarah menjawab, "benar." "Anda pasti tidak tahu. Tuan Smith ini yang bertanggung jawab sehingga aku bisa duduk di sini sekarang. Dia yang menandatangani surat penunjukanku tanpa meminta imbal jasa apa pun, pula tanpa bertanya lebih lanjut. Dia hanya melihat daftar riwayat pekerjaanku yang sebelumnya beserta referensinya, lalu dia menyatakan persetujuannya. Hari ini aku bisa duduk di sini itu juga berkat dia."

 

"Nona muda, dengan pertimbangan itu Anda diterima. Kembalilah esok pagi dan bawalah dokumen lain yang diperlukan." "Luar biasa," kata Sarah dalam hatinya, "tidak ada pertanyaan lagi, tidak ada pula wawancara lanjutan, dan aku diterima begitu saja." Sekonyong-konyong hatinya teriris pedih, "ya Tuhan! Ayahku dulu bersusah payah mencari uang hingga dia tidak bisa menabung. Dia bukan orang kaya. Dia berpulang dengan tidak meninggalkan harta, tetapi kekayaannya masih tersisa. Dan inilah warisannya. Aku mendapatkan pekerjaan itu berkat nama baiknya." Penyesalan pun muncul belakangan.


Setelah bertahun-tahun bekerja dengan giat dan jujur, Sarah Smith menjadi Corporate Affairs Manager korporasi tersebut dengan dua mobil dan sopirnya. Apartmen dua lantai disediakan merangkap kantor pribadinya, dan gaji besar di luar tunjangan, ditambah fasilitas lainnya. Setelah beberapa tahun waktu berlalu, pimpinan perusahaan datang dari Amerika mengumumkan niatnya untuk mengundurkan diri dan mencari penggantinya. Orang dengan kepribadian dan integritas tinggi yang dicari. Para konsultan korporasi menominasikan Sarah Smith, dan dalam selang waktu tidak berapa lama Sarah sudah menduduki jabatan puncak.

 

Dalam sebuah wawancara, Sarah Smith ditanya rahasia kesuksesannya. Dengan air mata berlinang, dia menjawab, "ayahku telah membuka jalan bagiku." "Lalu mengapa Anda menangis?" Dia menjawab, "pada saat kematiannya aku diam-diam menghina ayah, karena menjadi orang jujur dan berintegritas tinggi. Aku menyesali perbuatanku itu, dan justru setelah itu aku meniru teladan yang dia berikan. Semoga dalam kuburnya dia mau memaafkan diriku ini."

Demikianlah wahai para pembaca. Kisah Sara Smith ini menutup tulisan ini. Kita belajar bagaimana Tom Smith bekerja keras membangun sebuah nama baik seumur hidupnya. Buahnya tidak dipetik dengan cepat, tetapi justru belakangan dinikmati oleh keturunannya. Semoga kisah ini memberikan inspirasi kepada kita untuk turut meneladaninya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220420