Rabu, 26 Januari 2022

QIN SHI HUANG



Ketika itu tahun 260 sebelum Masehi. Tiongkok berada pada zaman Negara-negara berperang (475-221 seb.M.), setelah melemahnya Dinasti Zhou sejak abad kedelapan sebelum Masehi. Jika kita melihat kondisi dunia pada saat itu, populasi manusia pada pertengahan abad ketiga sebelum Masehi diperkirakan hanya sekitar 200 juta orang. Pada saat yang bersamaan di belahan dunia lain, pasukan Romawi terlibat Perang Punik melawan kekuatan Kartago di Sisilia; sedangkan di anak benua India Kaisar Ashoka dari Dinasti Maurya berhasil menaklukkan Kalinga.

 

Pada tahun 259 seb.M. tokoh yang akan dikisahkan di sini lahir di negara bagian Qin sebagai Yíng Zhèng (嬴政) atau Zhào Zhèng (趙政). Ayahnya adalah Pangeran Yiren yang berasal dari negara Qin. Penulis menceritakan terlebih dahulu siapa itu Pangeran Yiren. Seperti yang disebutkan di atas tujuh negara yang ada saat itu dalam status sedang berperang, termasuk negara Qin dan negara Zhou. Pangeran Yiren yang masuk dalam daftar pewaris takhta Qin pada waktu itu tinggal di istana Zhào. Ia dijadikan sandera untuk menjamin gencatan senjata yang telah disepakati antara kedua negara tersebut.

 

Tersebutlah seorang saudagar dan politikus yang bernama Lü Buwei (291-235 seb.M.) yang berasal dari negara Wei. Dia adalah seorang pedagang yang sukses dan berniaga lintas-negara. Pada usia muda dia berhasil mengumpulkan "ribuan emas lantakan". Sebelum memutuskan untuk menjadi politikus, ayahnya menasehati: "Jika kekayaan itu diinvestasikan di sawah atau ladang nilainya akan berlipat ganda menjadi sepuluh kali. Jika dimanfaatkan dalam bisnis mutiara dan batu permata, nilainya kelak bertambah seratus kali lipat. Namun jika dipakai untuk mengantarkan seseorang menjadi pemimpin dan mengamankan negaranya, nilai yang didapatkan tidak-terbilang. Lü yang cerdas membulatkan tekadnya untuk menginvestasikan kekayaannya demi mendapatkan kemaslahatan bagi generasi yang akan datang. Dia pun mendekati Pangeran Yiren. Dengan bermodalkan kekayaan yang begitu besar, Lü sebentar saja masuk ke lingkar dalam istana negara Zhào.

 

Dalam waktu singkat Lü dan Pangeran Yiren bersahabat akrab. Kebetulan pada saat itu Lu baru mengambil seorang selir cantik yang pintar menari. Pangeran Yiren jatuh cinta pada pandangan pertama dengan selir Lü Buwei. Lü kemudian menyetujui selir itu untuk menjadi isteri Pangeran Yiren, yang di kemudian hari perempuan ini dikenal sebagai Nyonya Zhao (Zhao Ji). Setelah mengalami masa kehamilan yang panjang Nyonya Zhao melahirkan seorang putera di Handan yang bernama Yíng Zhèng atau Zhào Zhèng tadi. Di sini kontroversi terjadi. Menurut Sima Qian, Sejarawan Agung dari zaman Dinasti Han, mengklaim bahwa Yíng Zhèng bukanlah putera Pangeran Yiren yang sebenarnya, melainkan putera Lü Buwei. Hal ini masuk akal karena Nyonya Zhao semula adalah selir Lü Buwei.

 

Kejadian yang berikutnya adalah kelihaian dan kekuatan uang yang dimiliki oleh Lü Buwei. Pangeran Yiren yang semula seorang sandera berhasil diboyong kembali ke negeri Qin. Sang pangeran yang tadinya hanya merupakan salah satu dari sekitar dua puluh anak raja Xiaowen dari Qin (303-251 seb.M.), berhasil dijadikan putera mahkota. Setelah sang raja mangkat, Pangeran Yiren naik tahta dengan gelar Raja Zhungxiang dari Qin dan Nyonya Zhao menjadi permaisuri. Raja yang baru kemudian mengangkat Lü Buwei sebagai kanselir atau perdana menteri dengan gelar "Adipati Wenxin".

 

Namun baru tiga tahun menjadi raja, Zhungxiang mangkat dan Yíng Zhèng yang belum dewasa tidak mungkin menjadi penggantinya. Terpaksa Nyonya Zhao yang kini menjabat sebagai Ibu Suri memerintah Kerajaan Qin atas nama puteranya. Lü Buwei yang masih menjabat sebagai kanselir tentu merasa tidak enak hati karena Ibu Suri pernah menjadi isterinya, dan hal ini bisa memancing skandal baru di lingkungan istana. Belakangan dia memperkenalkan seorang pria bernama Lao Ai dan selanjutnya Ibu Suri jatuh cinta kepadanya. Bagaimana hubungan keduanya bisa berlangsung? Lao Ai berpura-pura menjadi pelayan dan menyamar sebagai orang kasim di lingkungan istana. Hubungan gelap keduanya berlangsung bertahun-tahun dan pasangan ini sampai memiliki dua anak.

 

Waktu berjalan terus dan kini pangeran mahkota, Yíng Zhèng, beranjak dewasa dan semakin dilibatkan dalam urusan-urusan kerajaan. Kekasih Ibu Suri, Lao Ai yang saat itu telah mendapatkan kehormatan dan menjadi "Adipati Changxin", berambisi besar agar salah satu anaknya bisa menjadi putera mahkota. Kemudian pada tahun 238 seb.M. – ketika Yíng Zhèng berusia 21 tahun – Lao Ai membuat blunder dengan melakukan kudeta yang didukung oleh Ibu Suri. Karena Lao Ai hanya mengandalkan orang-dalam istana dan tidak mendapat dukungan kekuatan militer, kudeta itu pun dengan mudah digagalkan. Akibatnya sungguh dahsyat. Yíng Zhèng menangkap Lao Ai dan dia segera dihukum mati. Demikian pula hukuman yang sama dijatuhkan kepada dua orang anak hasil hubungan gelap beserta kerabat dekat Lao Ai. Ibu Suri Nyonya Zhao, ibu kandung Yíng Zhèng, tidak sampai dibunuh tetapi dibuang ke tempat yang jauh. Lü Buwei pun dicopot jabatannya dan dikembalikan ke kampung halamannya.

 

Yíng Zhèng kemudian naik tahta dan mengendalikan Negara Qin sepenuhnya. Inilah sosok raja yang pernah dikhianati oleh lingkungan terdekatnya, yang kelak membentuknya menjadi seorang tiran yang kejam dan tangannya pun berlumuran darah. Sejarah mencatat selama menduduki singgasana, tiga kali upaya pembunuhan terhadap dirinya dilakukan oleh musuh-musuhnya, namun semuanya berakhir dengan kegagalan.

 

Dalam menjalankan pemerintahan Yíng Zhèng menganut ajaran Legalisme-Tiongkok, yang ajarannya terkadang menyerupai doktrin Niccolò Machiavelli yang dikembangkan belakangan di Eropa. Adalah Han Fei (c. 280-233 seb.M.) yang mensintesekan gagasan pemikir pendahulunya, dan dia menulis buku legendaris aliran pemikiran para Legalis, yang diberi judul Han Feizi. Aksioma Legalisme ini bertolak belakang dengan Konfusianisme yang berasal dari Nabi Kongzi, yang sudah berurat-akar di masyarakat Tionghoa. Konfusius mengemukakan bahwa manusia pada dasarnya adalah baik, sedangkan para Legalis berpendapat bahwa manusia itu sesungguhnya jahat. Maka dari itu, Konfusianisme mendorong agar manusia itu bertanggung jawab. Sebaliknya Legalisme menekankan perlunya pemberlakuan aturan yang keras dan hukuman yang setimpal.

 

Sebelum Yíng Zhèng naik tahta, masa itu dianggap sebagai zaman keemasan pemikiran bebas. Setelah naik tahta, dia menghilangkan sekitar seratus aliran pemikiran, yang mencakup Konfusianisme, Taoisme, dan sistem filosofi lainnya. Yang boleh dipelajari dan dikembangkan hanya Legalisme yang menjadi ideologi negara. Dimulai tahun 213 seb.M., atas dorongan Kanselir Li Si (pengganti Lü Buwei), Raja Zhèng memerintahkan sebagian besar buku yang ada di kerajaannya dibakar; dengan pengecualian buku-buku tentang astrologi, pertanian, kedokteran, ramalan, dan sejarah. Kebrutalannya tidak sampai di situ saja. Sebanyak 460 orang sarjana Konfusian dikubur hidup-hidup. Kekejamannya dilukiskan dalam empat aksara Mandarin: 焚書坑儒 fénshū kēngrú : "Dia membakar buku-buku dan mengubur sarjana Konfusian hidup-hidup."

 

Ambisi Raja Zhèng untuk memperluas kerajaannya dimulai pada tahun 230 seb.M. yakni ketika dia menginjak usia ke-29. Negara pertama yang jatuh adalah Hán (terkadang disebut Hànn untuk membedakannya dari Dinasti Han), pada 230 seb.M. Kemudian Qin memanfaatkan bencana alam yang terjadi pada tahun 229 seb.M. untuk menyerang dan menaklukkan Zhào, yakni negeri tempat lahirnya Yíng Zhèng. Ke sana dia datang untuk membalas perlakuan buruknya sewaktu dia menjadi sandera anak, dan semua musuhnya dihabiskan tak-bersisa. Tentara Qin menaklukkan seluruh negara Zhào pada 228 seb.M., negara utara Yan pada 226 seb.M., negara kecil Wei pada 225 seb.M., dan negara besar Chu yang paling banyak tantangannya, pada 223 seb.M. Pada tahun 222 seb.M., sisa-sisa terakhir laskar dan keluarga kerajaan Yan ditangkap di Liaodong di timur laut. Satu-satunya negara merdeka yang tersisa sekarang adalah negara Qi, di timur jauh, yang sekarang terletak di Semenanjung Shandong. Ketakutan, raja muda Qi mengirim 200 ribu orang untuk mempertahankan perbatasan baratnya. Tetapi pada 221 seb.M., bala tentara Qin menyerbu dari utara, menangkap raja, dan mencaplok Qi.

 

Apa yang membuat bala tentara Qin berhasil mendapatkan kemenangan yang gilang gemilang dalam waktu kurang dari sepuluh tahun? Semuanya itu kembali pada gaya kepemimpinan Raja Zhèng dan para jenderal perangnya yang keras dan tidak kenal kompromi. Selain itu pada zaman itu sudah dikenal pemakaian busur-silang – yakni busur panah yang berbentuk senapan dengan sistem pegas yang bisa membidik sasaran lebih cepat dan lebih tepat – yang membantu Raja Zhèng bisa menjalankan mesin perangnya dengan lebih efektif. Kemenangan Raja Zhèng dengan menyatukan tujuh negara di Tiongkok Kuno ke dalam satu negara besar adalah prestasi besar yang baru dicapai di zamannya. Selama beberapa abad sebelumnya tidak ada satu pun raja yang berhasil menyatukan Tiongkok.

 

Raja Zhèng kemudian menobatkan dirinya sendiri sebagai Qín Shǐ Huáng (秦始皇) harfiah bermakna "Kaisar Pertama Qín". Kata 皇帝(Huángdì) adalah kosakata baru yang berarti maharaja, padahal pimpinan kerajaan sebelumnya disebut sebagai 王(wáng) atau "raja". Seperti doktrin yang dikenal pada masa sebelumnya Qín Shǐ Huáng pun memiliki keyakinan dia mendapat mandat dari Kaisar Langit untuk memerintah di bumi. Sebagai buktinya dia memiliki harta pusaka yang dikenal sebagai 傳國璽 atau chuán guó xǐ. Diterjemahkan ke bahasa Inggris sebagai Heirloom Seal of the Realm atau "Segel Pusaka Dunia". Benda itu disebut 和氏璧 atau Hé shì bì, terbuat dari batu giok seremonial berwarna hijau-muda, yang dianggap sebagai tanda kebesaran dan memiliki peran penting dalam sejarah Tiongkok. Muncul pada pertengahan abad ke-8 seb.M., pusaka itu dipotong menjadi dua dengan lubang bundar di tengah dan diakui sebagai harta kekaisaran. Pusaka itu adalah simbol Amanat Surga dan diwariskan secara bergilir ke dinasti yang memerintah Tiongkok. Pusaka yang sebelumnya milik negara Zhào itu kemudian diserahkan ke tangannya dan dia memerintahkan agar harta karun itu menjadi segel kekaisarannya. Kanselir Li Si menuliskan kata-kata, "Setelah menerima Amanat dari Surga, semoga Kaisar panjang umur dan sejahtera." Anda para pembaca pasti ingin tahu dimana harta karun itu disimpan sekarang? Benda yang sangat berharga di kolong langit itu hilang tak tentu rimbanya sejak sebelum Dinasti Ming berdiri. Menurut para kolektor barang purbakala, nilai harta pusaka itu bisa mencapai satu triliun dolar. Konon sampai sekarang Segel Pusaka Dunia masih dicari-cari oleh Pemerintah Beijing dan Pemerintah Taipei.

 

Selain mempersatukan Tiongkok menjadi satu negara besar, Qín Shǐ Huáng juga menghapuskan feodalisme. Kekaisaran dibagi menjadi 36 propinsi. Seluruh Tiongkok dengan demikian dibagi menjadi unit-unit administratif: komando pertama, kemudian kabupaten, kotapraja, dan unit seratus keluarga yang kira-kira sesuai dengan subdistrik dalam komunitas modern. Dalam bidang ekonomi Qín Shǐ Huáng menyatukan Tiongkok dengan menstandardisasi satuan pengukuran Tiongkok seperti berat dan takaran, mata uang, dan panjang as roda gerobak untuk memfasilitasi transportasi di sistem jalan raya. Kaisar juga mengembangkan jaringan jalan dan kanal yang luas yang menghubungkan propinsi-propinsi untuk meningkatkan perdagangan dan pergerakan orang. Mata uang negara-negara sebelumnya yang berbeda juga distandarisasi ke koin Ban Liang. Mungkin yang paling penting, aksara Mandarin disatukan. Aksara standar yang baru ini kemudian diresmikan di seluruh wilayah taklukan, sehingga menghapus semua aksara daerah, demi untuk membentuk satu bahasa, satu sistem komunikasi untuk seluruh rakyat Tiongkok.

 

Setelah berhasil mewujudkan semua ambisinya tibalah saatnya dia mengalahkan musuh yang berikutnya, yakni kematian. Dia mengenang, kakeknya meninggal tiga hari setelah dinobatkan sebagai raja, kemudian ayahnya wafat tiga tahun setelah diangkat menjadi pimpinan negara Qin. Menjelang akhir hidupnya, Qín Shǐ Huáng menjadi orang yang takut mati dan dia berusaha keras mencari ramuan-keabadian, yang konon akan membuat dia hidup selamanya.

 

Dalam satu misi dia mengutus Xu Fu, seorang penduduk pulau Zhifu, melakukan perjalanan dengan kapal yang membawa ratusan pria dan wanita muda untuk mencari Gunung Penglai yang mitis. Mereka diutus untuk menemukan Anqi Sheng di sana, yakni seorang penyihir yang katanya telah berusia 1.000 tahun; yang diduga pernah ditemui Qín Shǐ Huáng dalam salah satu perjalanannya, dan pernah pula mengundang Sang Kaisar untuk mencarinya di sana. Orang-orang yang disuruh mencari gunung mitis ini tidak pernah kembali; mungkin karena mereka tahu, jika mereka kembali tanpa ramuan yang dijanjikan, mereka pasti akan dieksekusi. Legenda mengisahkan bahwa para penjelajah itu mencapai Kepulauan Jepang dan kemudian mereka menetap di sana.

 

Selama perjalanan kelimanya di Tiongkok Timur, Kaisar menderita sakit parah. Dan setelah dia tiba di Pingyuanjin (di Kabupaten Pingyuan, Shandong) Sang Kaisar Pertama mangkat antara bulan Juli - Agustus 210 seb.M. di istananya di prefektur Shaqiu. Penyebab kematian Qín Shǐ Huáng tidak diketahui dengan pasti, tetapi diduga karena dia meminum ramuan-keabadian. Obat-keabadian yang sedianya mampu membuatnya hidup-kekal, sebenarnya mengandung unsur merkuri yang malahan memperpendek hidupnya. Kaisar mangkat dalam usia 49 tahun dan penggantinya masih meneruskan kelangsungan Dinasti Qín selama tiga tahun berikutnya. Setelah itu Dinasti yang didirikannya pun runtuh dan Tiongkok sekali lagi memasuki zaman pergolakan. Mungkin Kaisar Langit tidak berkenan dengan apa yang dilakukan oleh Qín Shǐ Huáng di dunia ini.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220126 

 


Rabu, 12 Januari 2022

NANDA DAN BIDADARI


 

Kisah ini terjadi setelah Guru kita, Sang Buddha, kembali ke negeri kelahirannya yakni pada tahun ketujuh setelah Beliau mencapai Pencerahan Agung. Pada hari ketiga kepulangannnya, Mahāpajāpati sang permaisuri, setelah mendengarkan ajaran Beliau berhasil  merealisasikan tingkat kesucian yang pertama. Pada hari yang istimewa itu, di istana bertepatan pula dengan perayaan pertunangan putera kandungnya, Pangeran Nanda. 

 

Pangeran Nanda Shakya tidak lain merupakan adik tiri dari Sang Buddha. Mereka berdua berayahkan Raja Suddhodana tetapi berlainan ibu. Pangeran Nanda juga dikenal sebagai Sundarananda Shakya, artinya "Nanda yang tampan". Kedua kakak-beradik itu memang memiliki wajah yang mirip, juga postur perawakan tubuhnya serupa, hanya saja Yang Terberkahi lebih tinggi sekitar selebar empat-jari-telunjuk. 

 

Demikianlah hari itu menjelang tengah hari, Sang Guru beserta rombongan besar pengikutnya diundang untuk menerima persembahan dana makanan di istana Raja Suddhodana. Selesai menyantap hidangan yang disajikan, Guru bangkit dari duduknya dan mencuci mangkuk-sedekahnya, lalu menyerahkan mangkuk yang sudah bersih itu kepada Pangeran Nanda sambil mengucapkan 'Semoga sukses!'. Adalah kebiasaan yang dianut oleh Sang Buddha, bahwa Beliau selalu menitipkan barang pribadinya – termasuk mangkuk-sedekahnya – kepada seorang bhikkhu-pengiring, yang berfungsi sebagai ajudannya. 

 

Mengapa mangkuk-sedekah itu diserahkan kepada adiknya, alih-alih diberikan kepada sang bhikkhu-pengiring? Sang Guru mahatahu dengan kemampuan cenayangnya yang hebat, sudah mampu menebak takdir apa yang akan dijalani oleh adik tirinya itu, pula takdir tunangannya! 

 

Pangeran Nanda kaget dan tidak menyangka mangkuk-sedekah itu diserahkan kepadanya. Karena rasa hormatnya kepada Sang Tathāgata, Sang Pangeran tidak berani berkata, "Bhante, terimalah kembali mangkuk-sedekah ini," tetapi dia berharap seperti ini: "Dia akan mengambil mangkuknya di ujung tangga." Namun bahkan ketika Guru mencapai ujung tangga, dia tidak mengambil mangkuknya. Nanda berpikir, "Dia akan mengambil mangkuknya di kaki tangga." Tetapi Sang Guru bahkan terus saja berjalan. Pikir Nanda, "Dia akan mengambil mangkuknya di pelataran istana." Tidak sesuai dengan harapannya, Sang Guru terus melangkah maju dan tidak mempedulikan mangkuknya sama sekali. Sampai di sini kegelisahan Nanda memuncak, karena dia sangat ingin kembali pulang demi mendampingi tunangannya.

 

Benar saja, sekonyong-konyong seorang perempuan muda yang mengenakan sari dengan tergopoh-gopoh mengejarnya. Perempuan muda itu bernama Janapada Kalyāṇi. Makna harfiahnya: "Berkah Kerajaan", atau arti lainnya, "gadis yang paling cantik di negeri itu". Demi melihat kekasihnya sedang membawa mangkuk dan membuntuti Sang Guru, perempuan itu berseru: "Pangeran, jangan pergi terlalu lama. Cepatlah pulang!" 

 

Kata-kata perempuan itu menimbulkan getaran di hati Nanda. Pangeran Nanda pun semakin gundah dan kata-kata ini semakin mengiang-ngiang di telinganya: “Dia akan mengambil mangkuknya di sini. Dia akan menerima mangkuknya di sana!" Setelah berjalan kaki melewati pagar istana, sampailah rombongan besar itu di Taman Nigrodha, tempat kediaman Sang Buddha di Kapilavatthu. Sesampainya di sana Sang Guru mengambil kembali mangkuk-sedekahnya dan berkata kepadanya, “Nanda, apakah kamu ingin menjadi seorang bhikkhu?” Begitu besar penghormatan Pangeran Nanda kepada Sang Buddha dibandingkan dengan kecondongan hatinya, sehingga dia menahan diri untuk tidak mengatakan, “Aku tidak ingin menjadi seorang bhikkhu,” Sebaliknya malahan dia kelepasan omong, "ya, aku ingin menjadi seorang bhikkhu." Sang Guru berkata, “Kalau begitu, Sāriputta, tahbiskanlah dia menjadi seorang bhikkhu." Demikianlah terjadi bahwa pada hari ketiga setelah kedatangan Sang Guru ke Kapilavatthu, Nanda resmi dilantik sebagai seorang bhikkhu.

 

Ketika Yang Terberkahi telah memenuhi misinya di negeri yang membesarkannya, dia kembali lagi ke Rājagaha dengan ditemani oleh rombongan besar para bhikkhu. Selang beberapa lama kemudian Yang Terberkahi melanjutkan perjalanannya ke Sāvatthī dan di sana Beliau bermukim di Hutan Jeta pada Taman Anāthapiṇḍika. Sekarang yang mulia Nanda, adik tiri Yang Terberkahi, mengenakan jubah yang telah digosok dan diseterika serta dia meminyaki kedua matanya, lalu dia mengambil sebuah mangkuk-sedekah berglasir. Kemudian dia pergi menghadap Yang Terberkahi, dan setelah memberikan penghormatan kepadanya, dia duduk di satu sisi. Setelah itu Yang Terberkahi berkata kepadanya: “Nanda, adalah tidak pantas bagimu, seorang pemuka suku yang dengan keyakinannya telah pergi dari kehidupan-berumah menuju kehidupan tanpa-rumah, untuk mengenakan jubah yang telah digosok dan diseterika, meminyaki kedua mata, serta menggunakan sebuah mangkuk berglasir. Apa yang sesungguhnya pantas bagimu ... adalah menjadi seorang pemukim-hutan, makan hanya diperoleh dari sedekah orang, seorang pemakai jubah dari kain-bekas, serta berdiam tanpa pamrih terhadap keinginan inderawi." 

 

Demikianlah setelah menjalani kehidupan-kebhikkhuan selama beberapa waktu, Nanda merasa tidak puas dan dia berkeluh-kesah kepada sesama bhikkhu. "Para sahabat, aku menjalani kehidupan suci dengan perasaan tidak puas. Ada terlalu banyak aturan! Terlalu sedikit kesenangan! Aku akan melepaskan latihan ini, serta aku akan kembali pada apa yang telah aku tinggalkan selama ini." Salah satu bhikkhu teman baik Nanda, yang khawatir sahabatnya akan mengalami depresi, lantas pergi menemui Sang Buddha untuk meminta nasihatnya. Sang Buddha hanya tersenyum dan memberi tahu bhikkhu muda itu, "pergi dan carilah Nanda, dan katakan kepadanya 'Guru memanggilmu'."

 

Nanda pun pergi menemui Sang Guru, yang lalu bertanya: "Nanda, apakah benar, agaknya, bahwa engkau menjalani kehidupan suci dengan perasaan tidak puas. Bahwa engkau tidak mampu lagi melaksanakan kehidupan suci ini. Bahwa engkau akan melepaskan latihan ini, serta engkau akan kembali pada apa yang telah engkau tinggalkan selama ini?"   "Ya, benar, Yang Mulia."   "Tetapi, Nanda, mengapa engkau akan melakukan hal itu?"

 

"Yang Mulia, ketika aku meninggalkan kehidupan-berumah, sang primadona Sakya yang jelita, Janapada Kalyāṇi, memandang sendu kepadaku dengan rambutnya yang sebagian bergelung ke belakang, seraya dia berkata: 'Pangeran, jangan pergi terlalu lama. Cepatlah pulang!'. Sekarang setiap kali aku duduk bermeditasi, yang muncul dalam benakku tidak lain sang primadona dengan rambutnya yang setengah acak-acakan. Setiap kali aku memikirkannya, aku mereka sangat berduka. Sewaktu aku mengingatnya, aku menjalani kehidupan suci ini dengan perasaan tidak puas."

 

Sang Buddha memegang lengan Nanda dengan lembut dan Beliau berkata kepadanya, "biarkan aku menunjukkan sesuatu kepadamu. Segera setelah itu laksana seorang yang perkasa, Beliau merentangkan kedua lengannya yang tertekuk atau menekukkan lengannya yang terentang. Keduanya segera menghilang dari Hutan Jeta dan meluncur dengan derasnya menuju Alam Dewa-dewa. Di tengah perjalanan Sang Guru menunjukkan kepada Nanda satu bidang ladang yang sedang terbakar. Di sana keduanya melihat seekor kera betina yang menderita. Hewan malang itu duduk di atas sebatang tunggul yang terbakar, dan dia kehilangan telinga, hidung, dan ekornya karena dilalap oleh si jago merah. Akhirnya keduanya tiba di Surga Tavatimsa atau Trāyastriṃśa. Di Surga Loka yang permai itu Nanda menyaksikan para bidadari surgawi dengan kaki gemulai berwarna merah-muda layaknya burung merpati, sedang bersiap-siap menunggu dan memberikan segala kesenangan kepada Sakka, raja para dewa. Sesungguhnya:

 

Accharā atau Apsara para penghuni Surga Tiga-puluh-tiga,

Dengan pinggul bulat yang elok dan pinggang yang ramping

Sambil menggoyangkan dada mereka yang indah, disertai kerling-pandang memikat siapa pun di dekatnya,

Mata besarnya laksana bunga teratai, menatap sang deva dalam wajah nan memikat.

 

Para bidadari itu memiliki tubuh yang simetris-sempurna dan amat rupawan,

Kulitnya bersih ibarat bulan sabit dan di kala diam nampak seperti patung emas;

Mereka mudah bersenang-senang, menghibur, memainkan musik, dan menari

Semuanya menggairahkan dan menginspirasi cinta di bumi maupun di surga.

 

Sang Guru bertanya, "Nanda, apakah engkau menyaksikan para bidadari dengan kaki gemulai berwarna merah-muda layaknya burung merpati?"   "Tentu, Yang Mulia."   "Bagaimana menurut pendapatmu, Nanda. Yang mana yang lebih elok, lebih cantik, lebih memikat, sang primadona Sakya yang jelita, Janapada Kalyāṇi, atau para bidadari dengan kaki gemulai berwarna merah-muda layaknya burung merpati?"   "Yang Mulia. Sang primadona Sakya, Janapada Kalyāṇi, layaknya seperti seekor kera betina yang hidung dan telinganya melepuh terkelupas, dibandingkan para bidadari dengan kaki gemulai berwarna merah-muda layaknya burung merpati. Tidak ada cara untuk memperbandingkan di antara keduanya. Para bidadari ini jauh lebih elok, jauh lebih cantik, dan jauh lebih memikat."   "Oleh karena itu, jalani kehidupan suci, Nanda. Nikmati kehidupan suci dan aku memberikan jaminan engkau bisa mendapatkan para bidadari dengan dengan kaki gemulai berwarna merah-muda layaknya burung merpati."   "Yang Mulia, jika Yang Terberkahi menjamin aku bisa mendapatkan para bidadari dengan kaki gemulai berwarna merah-muda layaknya burung merpati, maka aku akan menikmati kehidupan suci."  Kemudian Yang Terberkahi memegang lengan Nanda dan melakukannya seperti sebelumnya. Mereka lenyap dari Surga Tavatimsa dan muncul kembali di Hutan Jeta.

 

Sang lelaki sekali waktu merantau di negeri orang,

Ketika melihat anak orang lain, dia teringat anak sendiri,

Namun saat menyaksikan perempuan lain, dia lupa isterinya sendiri.

 

Pangeran Nanda diajak Sang Guru ke Swarga Loka,

Di kahyangan nan permai dirinya terpesona bidadari berkaki segemulai burung merpati,

Dan melupakan sang primadona Sakya, Janapada Kalyāṇi.

 

Para bhikkhu mendengar: "Agaknya yang mulia Nanda menjalani kehidupan suci demi memperoleh bidadari. Karena agaknya Yang Terberkahi telah menjamin untuk memperoleh para bidadari dengan dengan kaki gemulai berwarna merah-muda layaknya burung merpati." Kemudian para sahabatnya diantara para bhikkhu di sana memperlakukannya sebagai orang sewaan yang menjual dirinya sendiri: "Yang mulia Nanda adalah orang sewaan, agaknya, yang menjual dirinya sendiri, karena dia menjalani kehidupan suci demi mendapatkan bidadari."

 

Ia lalu dihina, dipermalukan, dan direndahkan dengan kata-kata cemoohan oleh kelompoknya. Sehingga dia pergi mengasingkan dan tinggal menyendiri; lalu dengan rajin, bersemangat, dan berpengendalin-diri, dia akhirnya merealisasikan dirinya dengan pengetahuan langsung. Sekarang dan di sini pula ia memasuki dan berdiam pada sasaran agung kehidupan suci, yang sesungguhnya menjadi dambaan seorang pemuka suku. Ia langsung mengetahui: "Kelahiran telah dilenyapkan, kehidupan suci telah dijalankan, apa yang harus dikerjakan telah dikerjakan, tidak akan ada lagi penjelmaan berikutnya." Dan yang mulia Nanda menjadi salah satu dari para Arahanta.

 

Demikianlah Nanda kemudian menarik kembali permintaan untuk mendapatkan bidadari dari Sang Guru. Bagaimana nasib Janapada Kalyāṇi yang pernah menjadi tunangan Pangeran Nanda? Perlu para pembaca ketahui, bahwa di belakang hari Janapada Kalyāṇi pun menjadi seorang bhikkhuni yang terkemuka, mencapai tingkat kesucian tertinggi, dan ia juga merupakan bagian dari para Arahanta.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220112 

 


Kamis, 30 Desember 2021

LOTERE



"Aku sengsara karena judi; Aku melarat karena judi; Banyak utangku karena judi; Judi yang membawaku mati. Mati akal dan fikiranku; Tak dapat berfikir tenang; Anak istriku jadi korban; Menanggung malu pada orang; Mungkinkah insaf terlambat?; Uang dan harta tertambat; Anak, istriku melarat. Karena judi keparat; Ya Allah, aku bertobat; Tak akan perbuat lagi." Inilah sebuah lirik lagu dangdut yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh H. Rhoma Irama pada tahun 1987, yang berjudul "Karena Judi". Lagu itu menurut pencipta dan penyanyinya sengaja diluncurkan, sebagai kritik sosial terhadap kegilaan masyarakat terhadap judi yang semakin menjadi-jadi yang berlangsung sejak akhir dekade 70-an.

 

Apa itu judi, atau gambling dalam sebutan bahasa Inggrisnya? Judi atau kerap dinamakan "taruhan" adalah mempertaruhkan sesuatu yang bernilai, yang mengacu pada satu peristiwa di masa depan dengan hasil yang tidak pasti, dengan tujuan untuk memenangkannya. Sesuatu yang bernilai itu dinamakan "taruhannya". Perjudian dengan demikian memiliki tiga unsur yang mutlak harus ada, yakni: (1) pertimbangan atas harta milik sendiri yang bisa hilang, (2) peluang dan sekaligus risikonya, dan (3) taruhannya atau hadiah yang bakal diperolehnya. Contoh perjudian yang hasilnya bisa segera diketahui antara lain, melakukan satu lemparan dadu, menjatuhkan sebuah bola pada piringan roulette, atau menjatuhkan pilihan nomor pada sekelompok penunggang kuda yang sedang berlaga dalam sebuah arena pacuan.

 

Benda yang dipakai untuk dijadikan tebak-tebakan adalah dadu. Dadu cukup dilempar dan setelah mendarat di lantai atau meja dapat langsung diketahui angka berapa yang ditunjukkan. Dari penggalian arkeologi didapatkan dadu yang paling tua diperkirakan berumur 8000 tahun, sedangkan dadu pertama dibuat oleh orang Mesopotamia kira-kira tujuh ribu tahun yang lalu. Mereka memodifikasi astragali dan menjadikan wujudnya berbentuk kubus. Dadu pertama dipahat dan diukir dari batu, gading gajah, atau tulang ikan paus; serta dimanfaatkan pertama kali oleh para dukun atau paranormal untuk meramalkan masa depan. Sekitar tiga ribu tahun yang lalu dadu mulai diperkenalkan ke Yunani, India, dan Tiongkok. Dadu modern umumnya terbuat dari bahan plastik, dan hampir serupa dengan dadu pada zaman kuno. Dengan adanya enam sisi pada sebuah dadu, masing-masing sisi ditulisi dengan angka 1 hingga angka 6. Sisi angka 1 biasanya berhadapan dengan sisi angka 6, sisi angka 2 dengan angka 5, dan sisi angka 3 dengan angka 4.

 

Permainan judi dengan melemparkan dadu dan menebak angka yang akan ke luar adalah bentuk taruhan yang sudah berusia ribuan tahun. Dengan melempar sebuah dadu ada peluang salah satu antara angka 1 sampai angka 6 yang muncul. Untuk memperbanyak peluang, orang biasanya menggunakan dua buah dadu sekaligus dalam satu kali lemparan, dan menjumlahkan dua angka yang ditunjukkan oleh kedua dadu tersebut. Dalam kitab Mahabharata dikisahkan Duryodana mengundang Yudistira untuk main dadu. Yudistira yang gemar main dadu tidak menolak undangan tersebut dan bersedia datang ke Hastinapura. Duryodana diwakili oleh Sangkuni sebagai bandar-dadu, yang memiliki kesaktian untuk mengendalikan angka dadu yang ke luar sesuai dengan kehendaknya. Jelas Yudistira yang lugu dapat diperdaya dengan mudah, yang pada kesempatan pertama dia kalah dalam mempertaruhkan segala harta yang dimilikinya. Pada kesempatan kedua kembali Yudistira kalah telak. Dia beserta empat saudara kandungnya mendapatkan hukuman, yakni dibuang selama dua-belas tahun ke pengasingan.

 

Di zaman Sang Buddha permainan tebak-tebakan dengan melempar dadu sudah dikenal secara luas oleh masyarakat India. Dalam Brahmajāla Sutta yakni salah satu sutta dalam Dīgha Nikāya disebutkan: "Atau dia akan berkata: 'Ketika beberapa petapa dan brahmana yang terhormat, yang menjalani penghidupan dengan mendapatkan makanan yang dipersembahkan oleh perumah tangga yang berbakti, mereka masih saja melempar dadu (khalika) untuk bermain tebak-tebakan demi kesenangan dan memanjakan dirinya.' Tetapi petapa Gotama telah terbebas dari permainan dan hiburan semacam itu."

 

Permainan melempar dadu baik untuk mengisi waktu luang atau pun berjudi lama kelamaan digantikan dengan permainan lain yang lebih menarik. Penemuan Kartu Remi atau disebut pula playing cards, yang juga amat populer di Indonesia. Kartu Remi memiliki empat seri kartu yang masing-masing terdiri dari 13 buah kartu dan dua kartu Joker. Dengan berbekal kartu Remi kita bisa membuat 1001 permainan, yang bisa dimainkan sendirian, berdua, bertiga, bahkan lebih dari empat orang. Setiap negara memiliki permainan tradisionalnya masing-masing. Sebenarnya melemparkan dadu untuk menjalankan permainan "Ular-tangga" atau memanfaatkan kartu Remi untuk main "Bridge" guna mengisi waktu luang tentu boleh-boleh saja, tetapi menggunakan keduanya untuk bertaruh dengan bertukar barang berharga atau uang, itulah yang dikecam oleh agama dan dilarang oleh negara.

 

Jika taruhan itu melibatkan orang banyak maka mesti dipilih satu cara yang membuat taruhan itu bisa diterima oleh para peserta. Cara itu tidak lain menyelenggarakan lotere. Berbeda dengan taruhan yang menggunakan lemparan dadu atau kartu Remi, lotere memiliki peluang menang amat kecil tetapi hadiahnya sangat besar. Lho bagaimana ini, katanya judi dilarang oleh negara tetapi bisa diselenggarakan? Begini kisahnya. Ada satu masa ketika Indonesia membutuhkan dana besar untuk penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) yang pada waktu itu akan digelar di tahun 1969. Dalam keadaan keuangan yang cekak Pemda Jawa Timur yang bertindak sebagai tuan rumah wajib membiayai pesta olahraga itu, terpaksa mencari dana dari masyarakat. Caranya dengan menyelenggarakan "Lotto" alias "Lotere Totalisator". Walaupun banyak mendapat kritik "Lotto" tetap dijalankan, dan akhirnya Pemda bisa mendirikan stadion, membangun jalan protokol, dan menyelenggarakan PON dengan sukses. Selesai dengan "Lotto", Pemerintah Pusat tidak menghentikannya, malahan menggantinya dengan "Nalo" alias "Nasional Lotere" dengan penyelenggara Kementerian Sosial.

 

Setelah "Nalo" ada lagi "SDSB" yang merupakan kependekan dari "Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah". Menilik namanya para pembaca jangan sampai terkecoh. Kata "Sumbangan" dipakai untuk menghilangkan kesan taruhan atau judi. Lalu ada "Dermawan". Janganlah diartikan seperti Anda sekalian yang sering memberikan dana ke rumah ibadah atau menyelenggarakan baksos. Mana ada dermawan yang masih mengharapkan iming-iming hadiah? Baik "Lotto", "Nalo", atau pun "SDSB" diperjualbelikan dalam bentuk kupon. Kupon-kupon ini adalah unik dan masing-masing memiliki nomor yang paling tidak berisi enam digit angka. Pengumuman pemenang lotere dilakukan seminggu sekali dengan cara diundi. Misalnya pada minggu ini nomor yang ke luar adalah "654321". Hadiah utama atau jackpot adalah kupon yang bernomor persis sama seperti di atas. Penyelenggara pintar, untuk memperbesar kemungkinan menang maka pemilik kupon-kupon yang bernomor "X54321", "XX4321", "XXX321", dan"XXXX21", juga mendapatkan hadiah namun besarannya makin lama makin kecil.

 

"Lotto", "Nalo", atau pun "SDSB" diselenggarakan oleh Menteri Sosial, namun untuk pelaksanaannya diserahkan kepada swasta yakni Pengusaha Toto. Belakangan ada penawaran lain bagi penggemar lotere, yaitu undian yang dinamakan "Togel" kependekan dari "Toto Gelap". "Togel" ini seperti namanya adalah ilegal dan diselenggarakan oleh bandar judi setempat. Jika kupon lotere resmi harganya standar dan sudah tercetak nomornya pada lembar kupon, pada "Togel" nomor atau rangkaian angka bisa dipilih sesuka hati oleh peserta, dan besar taruhannya juga demikian. Biasanya tebakan yang dipilih adalah dua digit terakhir atau tiga digit terakhir. Inilah yang membuat "Togel" disebut judi-buntut, yakni peserta menebak dua digit angka terakhir yang akan ke luar. Dua angka terakhir ini ditentukan berdasarkan nomor lotere resmi yang diundi setiap minggunya.

 

Para pembaca tentu ingin mengetahui berapa harga sebuah kupon undian. Kupon SDSB dijual dalam dua seri, yaitu Seri A dengan nominal Rp 5.000,00 dan Seri B dihargai Rp1.000,00. Seri A diterbitkan sebanyak 1 juta lembar dan Seri B 29 juta lembar. Tentu saja Seri B dijual lebih banyak karena diperuntukkan bagi golongan menengah ke bawah. Harga beras pada saat itu sekitar Rp 500,00 per kilo, jadi mereka yang hendak membeli selembar kupon harus merelakan nilai uang setara dua kilogram beras. Bagi masyarakat kelas bawah program SDSB tampaknya merupakan harapan atas belas kasih Pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan. Contohnya, seorang tukang becak yang menarik becak-sewaan menyisihkan sedikit dari penghasilan mingguannya untuk membeli sehelai Kupon Seri B, dengan harapan bisa tembus empat angka buntut dan mendapatkan hadiah Rp 2,5 juta. Dengan uang hadiah itu dia berharap bisa memiliki becak sendiri. Tetapi harapan tetaplah harapan, karena masih jauh panggang dari api. Andaikata dia sanggup membeli 100 kupon per minggu seumur hidupnya, peluang untuk mendapatkan hadiah yang diimpikan itu masih terlampau kecil.

 

Karena diiming-imingi dengan imbal-hasil yang besar banyak orang terbuai dan kecanduan "Togel" pada masa itu. Tebak buntut dua angka, yakni menebak dua digit terakhir pada nomor undian yang akan ke luar setiap minggunya, adalah momen yang ditunggu-tunggu oleh mereka. Jika tebakan mereka tepat, peserta akan mendapatkan imbal-hasil atau hadiah 70 kali lipat. Jadi jika Anda membeli (istilahnya "memasang") nomor keberuntungan itu sebesar Rp 10 ribu, bandar akan membayar Rp 700 ribu rupiah. Dengan mengorbankan 10 ribu namun akan memperoleh 700 ribu, tentu hadiah ini amat menggoda dan menggiurkan bagi mereka. Tetapi masalahnya sekarang, bagaimana menebak angka atau nomor keberuntungan itu. Pada tebakan dua nomor buntut ada 100 kemungkinan, yaitu mulai dari angka "00" hingga "99". Untuk meningkatkan peluang menang taruhan, para pembeli "Togel" tidak hanya memasang satu nomor saja, tetapi beberapa nomor. Semakin banyak nomor dipasang, tentu peluang menang bertambah, tetapi uang yang dikeluarkan juga semakin banyak.

 

Menyiasati mendapatkan nomor keberuntungan perlu perjuangan ekstra. Para agen penjual "Togel" akan membantu para petaruh dengan membagikan "Kode Togel" pada hari pertama penjualan kupon. Di atas selembar kertas Kode ada kumpulan angka, gambar, dan kalimat tertentu. Namanya juga Kode, jadi tidak akan diberikan nomor keberuntungan begitu saja. Para peserta harus mengolah sendiri kumpulan angka itu, entah mau ditambah, dikurangi, dikali, atau dibagi. Hasilnya dijadikan nomor keberuntungan dan akan ditulis di atas kupon. Cara lain adalah mengingat mimpi yang baru dialami semalam. Misalnya kita bermimpi bertemu dengan orang buta. Nah selanjutnya kita membuka "Buku Tafsir Mimpi" (bisa beli di Toko Buku), dan dicocokkan. Ternyata "orang buta" ada di nomor "34", berarti kita harus memasang "34" sebagai angka keberuntungan. Kreativitas para petaruh tidak sampai di situ saja. Jika ada selebriti atau tokoh masyarakat yang meninggal pasti ditanya umur berapa dia tutup usia. Misalnya tokoh tersebut tutup usia pada 81 tahun, maka nomor keberuntungan menjadi "81". Untuk jaga-jaga perlu "dibalik", sehingga perlu ditambahkan satu lagi, yakni nomor "18". Dalam aritmetika para petaruh ada lagi satu operasi yang dinamakan "di-mistik", yaitu angka "0" menjadi "1" ("2" <> "5", "3" <> "8", "4" <> "7", dan "6" <> "9"). Jadi "81" di-mistik jadi "30", dan jika dibalik, yaitu "18" di-mistik menjadi "03". Sekarang hasil akhir angka keberuntungan kita menjadi empat nomor, yakni "81", "18", "30", dan "03". Empat nomor itu wajib dipasang.

 

Menebak Kode-buntut rupanya bukan saja merupakan monopoli bagi masyarakat Indonesia di zaman Orde Baru, tetapi juga terjadi di masyarakat Thailand yang notabene merupakan satu negara Buddhis. Bedanya mereka mencari nomor keberuntungan dengan menanyakannya langsung kepada para bhikkhu.

 

Demikianlah para pembaca, cerita mengenai lotere di masa lampau di negara kita. Alih-alih mendapatkan rejeki nomplok dengan memasang angka-angka keberuntungan pada kupon "Togel", kehidupan para petaruh justru semakin terpuruk. Karena terbuai oleh keinginan untuk menjadi kaya secara mendadak, mereka lupa menjalani kehidupan yang benar dengan cara bekerja keras. Jadi bagaimana kita bisa mendapatkan keuntungan dari lotere? Penulis akan memberikan advis yang jitu kepada mereka yang masih berminat. Mau untung dalam bisnis lotere? Itu mudah. Jadilah bandar lotere!!!  Itu pun jika kita masih mau menikmati rejeki di atas kesusahan dan penderitaan orang lain.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/211229

 


Kamis, 16 Desember 2021

TRINITAS


 

Akhir tahun 2016 silam warganet di Tanah Air dihebohkan oleh satu tayangan video yang diunggah ke media sosial lewat salah satu akun Twitter dan lainnya melalui akun Instagram. Tayangan itu memperlihatkan Habib Rizieq, Imam besar Front Pembela Islam (FPI), dalam salah satu ceramah keagamaan di hadapan umatnya mengeluarkan pernyataan: "Kalau Tuhan beranak, yang jadi bidannya siapa?" Ucapan Rizieq sontak mendapat kecaman keras dari kalangan Kristiani. Dengan pernyataannya dia diduga melecehkan umat Kristen, dan buntut dari postingan di media sosial itu, Rizieq dilaporkan ke polisi.

 

Kita bahas dulu konteks pemuka agama mengisi khotbahnya dengan materi bahasan perbandingan ajaran yang dianutnya dengan doktrin agama lain. Adalah hal biasa dalam diskursus keagamaan seorang ahli agama menjelaskan ajaran agamanya, dengan mencari padanan atau kesamaan yang terdapat pada ajaran agama lain. Ada kalanya umatnya sendiri yang mengajukan pertanyaan, mengapa pada Agama "X" ada doktrin yang mirip dengan ajaran yang dianutnya. Kita tahu ajaran agama-agama besar berbeda satu sama lain. Jangankan antar agama, antar mazhab juga berbeda. Satu mazhab tapi lain sekte, juga terdapat perbedaan. Satu sekte namun dari garis tradisi yang lain, juga terdapat penekanan atau prioritas yang berbeda. Jadi dalam menjalankan tugas membimbing umatnya, pemuka agama sedikit banyak mesti memiliki pengetahuan yang memadai tentang perbedaan-perbedaan tersebut.

 

Sewaktu kita membandingkan agama lain dengan agama yang kita anut, pertama-tama yang kita lakukan adalah meninggalkan perspektif agama kita. Seperti contoh di atas seorang muslim yang hendak memahami agama Kristen, seyogianya menanggalkan dahulu perspektif keislamannya, tetapi bukan berarti meninggalkan keyakinan agamanya. Kemudian setelah menerima pengetahuan tentang ajaran agama lain, terimalah hal itu sebagai fakta dan bukan menilai apakah doktrin itu benar atau salah. Mempelajari ilmu perbandingan agama harus didasari rasa ingin tahu yang jujur, bukan dengan rasa kebencian, sehingga kita dapat mengetahui inti dari ajaran tersebut.

 

Kembali kepada subyek yang dibicarakan oleh Rizieq dalam ceramahnya, yang dimaksud dengan anak dari Tuhan itu tidak lain Yesus Kristus. Dalam iman atau kepercayaan seorang Kristen atau Nasrani, Yesus adalah Putera Allah. Dari perspektif Agama Kristen Tuhan itu Maha Kuasa, sehingga tiada yang mustahil bagiNya.  Jadi Tuhan bisa menjelma menjadi apa pun, termasuk menjadi manusia. Menyangkal bahwa Tuhan bisa menjelma menjadi manusia, berarti tidak mengakui Kemahakuasaan Tuhan. Untuk memahami Yesus itu Putera Allah kita bisa meninjau doktrin Kristiani tentang "Trinitas" atau diindonesiakan sebagai Tritunggal. Trinitas berasal dari kata Latin "trinus" yang artinya tiga serangkai atau rangkap tiga. Tiga serangkai itu adalah Allah Bapa, Allah Putera, dan Allah Roh Kudus. Namun bukan berarti Tuhan itu ada tiga. Tuhan itu tetap hanya satu.

 

Jika dalam agama Kristen ada konsep Tritunggal atau Trinitas, pada keyakinan Buddha Mahāyāna ada pula doktrin Trikaya. Istilah ini berasal dari bahasa Sanskerta, yang maknanya "Tiga Tubuh" atau "Tiga Raga". Tetapi sebenarnya Trikaya lebih tepat dikatakan sebagai "Tiga Modus Keberadaan". Tiga  modus keberadaan itu adalah: (1) Dharmakaya atau Tubuh Esensi; (2) Sambhogakaya  atau Tubuh Kenikmatan, yakni modus surgawi; dan (3) Nirmanakaya atau Tubuh Transformasi, yakni modus duniawi, saat Buddha muncul di bumi. Tubuh Kenikmatan dianggap sebagai antarmuka atau interface yang menjembatani Tubuh Esensi dengan Tubuh Transformasi.

 

Dengan cara pandang ini seorang Buddha menampilkan diri dalam tiga cara yang berbeda. Melalui tiga tubuh ini seorang Buddha secara berbarengan menjadi satu dengan Yang Mutlak, selagi dia muncul dalam dunia yang relatif atau bersyarat untuk kepentingan makhluk-makhluk yang menderita. Dalam pengertian ini, yakni "mutlak" dan "relatif" menyentuh doktrin Dua Kebenaran pada Buddhisme Mahāyāna, yang akan dijelaskan secara ringkas berikut ini. Kebenaran Relatif atau Kebenaran Konvensional adalah dunia yang kita alami sehari-hari, sebuah tempat yang penuh dengan keberagaman dan perbedaan-perbedaan. Sebaliknya pada Kebenaran Mutlak tidak ada itu keberagaman dan perbedaan-perbedaan.

 

Kebenaran Mutlak itu adalah Dharmakaya. Dharmakaya berarti "tubuh sejati". Dharmakaya berada di luar keberadaan maupun ketiadaan, dan di luar konsep. Almarhum Chogyam Trungpa menyebut Dharmakaya sebagai "dasar dari ketidaklahiran yang sesungguhnya." Dharmakaya bukanlah tempat khusus di mana hanya Buddha yang pergi. Dharmakaya kadang-kadang diidentikkan dengan Sifat Buddha, yang dalam Buddhisme Mahayana merupakan sifat dasar semua makhluk. Dalam Dharmakaya, tidak ada perbedaan antara Buddha dan orang lain. Dharmakaya identik dengan pencerahan sempurna, melampaui semua bentuk persepsi. Karena itu juga kadang-kadang identik dengan sunyata, atau "kekosongan".

 

Sampai di sini para pembaca, semoga Anda tidak menjadi bingung. Uraian mengenai Trikaya ini memang harus dibaca berulang-ulang untuk dipahami.

 

Adalah menarik bahwa konsep Dharmakaya pernah dicoba untuk dijadikan konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha. Adalah Y.A. Mahawiku Dharma-aji Uggadhammo (10-Feb-1918 – 19-Mei-1987) dari Sangha Agung Indonesia, yang pernah memformulasikan Ketuhanan YME dalam agama Buddha. Kejadiannya sudah lama sekali yakni akhir dekade 70-an hingga awal 80-an. Penulis kenal secara pribadi dengan Bhante Uggadhammo, dan bahkan sering berdiskusi di dalam kuti kediamannya di Vihara Dhanagun, Bogor. Meskipun tidak selalu sependapat dengan beliau, Bhante kerap kali membagikan karyanya berupa tulisan beliau sendiri. Sayang sekali tulisan beliau tidak dapat ditemukan lagi dalam koleksi buku pribadi penulis. Jika ada Pembaca yang tertarik untuk membaca dan mengkaji buah penanya, mungkin bisa mencarinya di Perpustakaan Sangha Agung Indonesia.

 

Doktrin Trikaya sendiri pernah penulis tanyakan dan diskusikan dengan Bapak Cornelis Wowor, M.A. (5-Des-1948 – 1-Mar-2018), seorang mantan bhikkhu Theravāda, dosen ilmu perbandingan agama, dan pernah menjabat sebagai Direktur Urusan Agama Buddha Departemen Agama RI. Ketika itu antara tahun 2013-2014, penulis mengikuti acara Kelas-Dhamma di Vihara Buddha Sasana, Kelapa Gading. Cornelis Wowor, biasa kami sapa dengan sebutan pak Wowor, sudah dianggap sebagai guru oleh penulis sendiri. Nah, apa pendapat pak Wowor tentang doktrin Trikaya ini? Menurut beliau, konsep Trikaya berasal dari kitab Saddharma Puṇḍarīka Stra, yang dikenal dalam bahasa Indonesia sebagai Sutra Bunga Teratai. Uraian tentang Trikaya tidak tercantum pada Sutra itu sendiri, tetapi dicantumkan dalam catatan kaki, atau pada Komentar tentang Sutra tersebut. Menurut pak Wowor, jika konsep Trikaya bukan didapat pada naskah utama Sutra, layakkah ajaran ini dijadikan sebagai acuan?

 

Konsep Trinitas ini tidak hanya dikenal dalam Agama Kristen dan Agama Buddha Mahāyāna saja, tetapi dianut pula oleh ajaran Agama Tao. Tiga Yang Suci atau  三清 dibaca Sānqīng (The Three Pure Ones, Ingg), adalah Trinitas Tao, tiga dewa tertinggi dalam jajaran Tao. Mereka dianggap sebagai manifestasi murni dari Tao dan asal mula semua makhluk hidup. Dari Kitab Tao Te Ching, dinyatakan bahwa: "Tao menghasilkan Satu; Satu menghasilkan Dua; Dua menghasilkan Tiga; Tiga menghasilkan Segala sesuatu." Secara umum disepakati oleh para cendekiawan Tao bahwa Tao menghasilkan Satu berarti Wuji menghasilkan Taiji, dan Satu menghasilkan Dua berarti Taiji menghasilkan Yin dan Yang. Namun, subjek tentang bagaimana Dua menghasilkan Tiga tetap menjadi perdebatan populer di kalangan Cendekiawan Tao. Kebanyakan sarjana percaya bahwa itu mengacu pada Interaksi antara Yin dan Yang, dengan kehadiran Chi, atau energi-kehidupan.

 

Yang pertama dari Tiga Yang Suci adalah 元始天尊 atau Yuánshǐ Tīanzūn, diterjemahkan sebagai "Yang Mulia Surgawi dari Awal Primordial" atau "Penguasa Langit Purba", adalah salah satu dewa tertinggi Taoisme. Dia adalah yang tertinggi dari Tiga Yang Suci, dan dikenal pula sebagai 玉清 atau Yùqīng ,artinya "Yang Suci Kemala". Diyakini bahwa dia muncul di awal alam semesta sebagai hasil dari penggabungan napas murni. Dia kemudian menciptakan Langit (Surga) dan Bumi.

 

Yuanshi Tianzun sebenarnya tanpa-awal dan tanpa-akhir, serta yang paling tinggi dari semua makhluk. Dia sebenarnya adalah representasi dari prinsip semua makhluk. Dari dia segala sesuatu muncul. Dia abadi, tidak terbatas, dan tanpa bentuk. Penting untuk dicatat bahwa pada awalnya Yuanshi Tianzun tidak pernah diwakili dengan gambar atau patung. Belakangan, di bangunan tengah Kuil Surga, dalam sebuah struktur yang disebut "Kubah Kekaisaran Surga", sebuah papan-arwah bertuliskan nama Yuanshi Tianzun disimpan di atas takhta.

 

Yang kedua dari Tiga Yang Suci adalah 靈寶天尊 atau Língbǎo Tiānzūn, diterjemahkan sebagai "Yang Mulia Kahyangan dari Harta Terhormat",  juga dikenal sebagai 上清 atau Shàngqīng , artinya "Yang Suci Agung". Lingbao Tianzun dikaitkan dengan Yin dan Yang , dan dengan munculnya Shàngqīng juga menandakan ekspansi besar ciptaan, sehingga membentuk alam semesta seperti yang terlihat sekarang.

 

Yang ketiga dari Tiga Yang Suci adalah 道德天尊 atau Dàodé Tiānzūn, diterjemahkan sebagai "Penguasa Jalan dan Kebajikannya", juga dikenal sebagai 太清 atau Tàiqīng yakni  "Yang Agung Murni", atau dikenal pula sebagai 太上老君 atau Tàishàng Lǎojūn  yakni "Tuan Penatua Tertinggi". Diyakini bahwa Daode Tianzun memanifestasikan dirinya dalam wujud Nabi Lao Zi. Daode Tianzun juga merupakan “Bendahara Roh”, yang dikenal sebagai Penguasa Manusia yang merupakan pendiri Taoisme. Dia adalah yang paling terkemuka, seorang penguasa sepuh. Itulah sebabnya dia adalah satu-satunya dari Tiga Yang Suci yang  digambarkan dengan rambut putih-bersih dan berjanggut putih pula.

 

Setelah kita mempelajari konsep Trinitas dalam beberapa agama, kita bisa melihat benang merah dari ajaran-ajaran agama besar yang ada di dunia pada saat ini. Jika kita membandingkan antara Buddhisme Mahāyāna dengan Taoisme, Anda bisa melakukan perbandingan dan pengkajian antara Dharmakaya dengan Yuanshi Tianzun, pula antara Sambhogakaya dengan Lingbao Tianzun, dan Nirmanakaya dengan Daode Tianzun. Memang menarik untuk mempelajari ilmu perbandingan agama. Jadi apakah Anda para pembaca berniat untuk mendalaminya juga?

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/211215

 


Kamis, 02 Desember 2021

FANGSHENG


 

Sekali waktu penulis berkunjung ke sebuah rumah ibadah umat Buddha dan Konghucu yang sedang menyelenggarakan persembahyangan akbar tahunan. Saat itu tinggal beberapa hari menjelang peringatan Tahun Baru Imlek. Lilin-lilin merah berukuran setinggi orang dewasa sedang dipersiapkan di depan altar utama. Sebagian umat sedang mencuci buah-buahan yang baru mereka beli, yang lalu ditata dengan rapi di atas piring untuk dipersembahkan di meja sembahyang. Asap dupa berkepul-kepul memenuhi ruangan dan membuat mata kita terasa pedih, sementara umat yang lain sambil memegang hio berdoa di hadapan rupang-rupang dewa yang ada di sana. Ada ritual lain yang menarik di vihara ini setelah puja-bakti perseorangan usai, terutama bagi mereka yang mau melakukannya. Ritual itu berupa melepas burung ke alam bebas.

 

Penulis melihat di sekeliling pekarangan rumah ibadah itu sudah diisi oleh beberapa pedagang burung. Burung pipit yang berukuran kecil bercicit di dalam sangkar-sangkar ukuran besar dan sedang. Pada setiap sangkar besar mungkin ada lebih dari dua ratus ekor yang dijejalkan di dalamnya. Burung-burung itu dijual seharga dua ribu sampai tiga ribu rupiah per ekor. Ada umat yang membeli lima ekor, dua puluh ekor, bahkan lebih dari seratus ekor. Setelah burung dibeli dan berpindah tangan, burung-burung itu dilepaskan oleh si pembeli dengan cara membuka pintu kandang disertai doa dan harapan pembelinya. Iseng-iseng penulis menghampiri seorang wanita paruh baya yang sedang memegang sebuah kandang burung kecil dan bersiap-siap untuk melaksanakan ritual tersebut. Dia baru saja membeli 20 ekor seharga Rp 50 ribu rupiah. "Apa maksudnya Ibu sampai melepas burung?" sapa penulis. Wanita itu menjawab, "saya melaksanakan ajaran agama. Kasihan makhluk-makhluk kecil ini. Ketimbang dikurung, bukankah lebih baik jika mereka dibiarkan bebas?" Seorang anak muda laki-laki di dekatnya baru saja selesai melepaskan burung yang dibelinya. Dia bercerita baru saja menebus 50 ekor burung seharga Rp 100 ribu. Pemuda itu memiliki alasan tersendiri, "melepas burung itu dimaksudkan untuk 'membuang sial', apalagi sebentar lagi sudah ganti tahun."

 

Seorang rekan penulis yang beragama lain dan pernah menyaksikan acara pelepasan burung bertanya kepada penulis. "Saya heran melihat orang di tempat ibadah itu yang melepaskan burung-burung ke angkasa. Hewan tersebut sebetulnya merupakan hasil tangkapan dari alam, yang kemudian oleh pemburu dan pengepulnya dijual kembali di vihara. Saya pikir ini merupakan praktik yang absurd." Penulis hanya bisa termanggu-manggu, tidak bisa menjawab pertanyaan itu dengan didasari argumentasi yang masuk akal. Adalah memang benar ada pemburu burung di desa, yang menangkap burung dengan memakai perekat dan umpan, atau dengan menggunakan jaring halus. Selanjutnya ada pengepul burung yang tugasnya membeli hasil buruan dari masing-masing penangkap individu dengan harga murah, dan selanjutnya dikumpulkan menjadi banyak dalam sejumlah kandang besar. Setelah terkumpul burung dalam jumlah besar, sang pengepul menjualnya kepada juragan-burung di kota besar. Juragan lalu mengupah orang – biasanya para pekerja serabutan – untuk menjajakan burung di vihara. Juragan-burung paham benar kapan sebaiknya dia menjajakan barang dagangannya di rumah ibadah, agar jualannya laku laris manis. Dalam proses yang bermula sejak burung ditangkap sampai hewan yang malang itu dijajakan di halaman vihara, entah sudah berapa banyak burung yang tewas karena stress, terluka, berdesak-desakan, kelaparan, terguncang-guncang dalam perjalanan, dan oleh sebab-sebab lainnya.

 

Praktik melepas burung atau makhluk hidup lainnya dikenal sebagai fangsheng. Istilah ini berasal dari bahasa Mandarin 放生 atau fàngshēng dengan makna literalnya "membebaskan makhluk yang terancam hidupnya" (life release dalam bahasa Inggris). Fangsheng merupakan sebuah tradisi kuno yang berasal dari Buddhisme Tiongkok sekitar abad keenam Masehi. Konon menurut asal-usulnya di satu vihara para bhikshu memprakarsai, agar pada waktu tertentu umat diminta melepaskan ikan dan kura-kura ke kolam yang ada di halaman rumah ibadah tersebut. Ikan dan kura-kura yang dibebaskan tersebut sebelumnya merupakan hewan tangkapan yang hendak disembelih guna dikonsumsi oleh manusia. Namun praktik melepaskan makhluk hidup di Tiongkok sudah berlangsung lebih dari 2300 tahun yang lalu, artinya jauh sebelum ajaran Buddha masuk ke Tiongkok. Pada masa Dinasti Han (206 seb.M – 220 M) ada ritual minta hujan dengan cara melepaskan anak katak diiringi doa-doa tertentu, dan upaya ini ternyata manjur mendatangkan hujan. Jadi sejak zaman kuno diyakini membebaskan makhluk hidup yang terancam akan menghasilkan berkah bagi mereka yang melakukannya.

 

Jika kita meneliti Kanon Pali, sepengetahuan penulis, tidak pernah ada anjuran dari Sang Buddha kepada para pengikutnya untuk melakukan ritual pelepasan makhluk hidup. Di negara-negara Buddhis yang menganut paham Theravada, praktik fangsheng tidaklah populer, tetapi anehnya ada vihara Theravada di Indonesia yang secara reguler mengajak umatnya melakukan ritual fangsheng. Di Tiongkok Daratan pun praktik ini mengalami pasang surutnya. Selama Revolusi Kebudayaan antara tahun 1960-an sampai 70-an Tiongkok di bawah kepemimpinan Mao Zedong, praktik fangsheng sempat dilarang, karena dianggap sebagai takhyul yang sudah ketinggalan zaman. Namun, tradisi fangsheng masih banyak dipercayai dan dipraktikkan oleh Diaspora Tionghoa di mancanegara.

 

Kita kembali pada kasus fangsheng dengan cara membebaskan burung di halaman vihara atau kelenteng, yang menurut pandangan sebagian orang merupakan tindakan blunder, yang awalnya dipandang mendatangkan karma-baik alih-alih kemudian menciptakan lahan bisnis bagi segelintir orang untuk mengeksploitasi hewan-hewan yang tidak berdaya. Ternyata tidak hanya burung yang menjadi obyek fangsheng, tetapi ada juga ikan, penyu, ular, bahkan serangga (serangga misalnya jengkerik, yang biasanya dijual untuk pakan burung atau ikan). Salah satu praktik fangsheng yang berujung pada tuntutan hukum terjadi di tahun 2017 silam, akan penulis ceritakan kembali kepada pembaca sekalian terutama ditujukan kepada para praktisi fangsheng. Dari kisah ini kita belajar bahwa niat baik saja tidaklah cukup, tetapi harus dibekali oleh pengetahuan dan dalam eksekusinya diperhitungkan dengan saksama, agar tujuan praktik fangsheng yang mulia bisa tercapai dengan baik.

 

Berawal dari imbauan Guru Hai Tao yang mengunjungi sebuah komunitas Buddhis binaannya pada tahun 2015 di Inggris, lebih dari seratus orang pengikutnya, berniat menghormati ajaran pimpinan mereka dengan mempraktikkan fangsheng. Hai Tao sendiri dikenal sebagai pendiri Compassion for Life Organization, satu yayasan yang mempromosikan kesejahteraan hewan. Di tahun 2017 kelompok itu membeli krustasea dalam berbagai jenis di pasar hewan laut setempat. Sesampainya di Marina Brighton mereka menyewa tiga perahu, kemudian setelah perahu menempuh jarak sejauh satu mil dari lepas pantai, mereka melepaskan semua hewan yang diangkutnya ke dalam laut. Mereka kembali ke pantai dengan perasaan lega dan terhibur karena telah melakukan karma baik.

 

Namun ritual pelepasan hewan yang di Indonesia mungkin dianggap sebagai perkara yang sepele, berakibat fatal jika dilakukan di negara maju yang kesadaran pada pelestarian lingkungan sangatlah tinggi. Pelepasan ratusan lobster dan kepiting asing ke laut lepas Brighton telah membawa petaka pada fauna lokal di sana. Pelepasan hewan asing ke area yang bukan merupakan habitat asalnya membawa lebih banyak bahaya ketimbang kemaslahatannya. Praktik fangsheng yang dilakukan oleh komunitas Buddhis dari London ini diketahui oleh masyarakat dan kasus ini berujung ke ranah hukum. Dua orang yang bertanggung jawab pada kegiatan tersebut, yakni Zhixiong Li, 30, dan Ni Li, 33, didakwa oleh Pengadilan Brighton karena melanggar Undang-Undang Margasatwa dan Pedesaan 1981. Tuduhannya melepaskan spesies non-asli ke alam liar dan menyebabkan “kerusakan yang tak terhitung” pada kehidupan laut. Keduanya diperintahkan untuk membayar denda dan kompensasi total lebih dari £28.000 (sekitar Rp 535 juta).

 

Para pemrakarsa fangsheng adalah orang yang berpikir sederhana. "Ayo kita lepas burung!" Lalu burung-burung beterbangan di angkasa. Urusan pun beres. Lain kali mereka mencoba pada hewan lain, "ayo, kita lepas ikan air tawar di Danau Sunter!" Ikan-ikan pun dibebaskan dan berenang di perairan umum. Urusan pun beres. Namun apakah segalanya beres? Nyatanya tidak. Kita tinjau kasus burung yang dijajakan di pekarangan vihara. Anda tahu burung pipit yang imut-imut itu adalah burung yang hidup di areal persawahan. Makanannya adalah bijih-bijihan dan mereka hidup bergerombol pada pohon yang tumbuh dekat pematang sawah. Sekarang burung malang itu dilepas di tengah hutan beton di Jakarta. Mereka kebingungan harus mencari makan dimana, karena sawah tidak dapat lagi ditemukan di kota metropolitan ini. Masih beruntung jika hewan ini menemukan tempat sampah untuk mencari remah-remah sisa makanan manusia. Di tempat lain umat Buddha yang sedang melakukan fangsheng di Danau Sunter menarik perhatian beberapa pemancing ikan, yang sedang memasang umpan di kail pancingan mereka. "Wah, ini sudah menjadi rejeki kita. Besok saja kita kembali ke sini dan ajak teman-teman lain untuk memancing. Pasti ikannya sudah bertambah banyak." Memang naas nian ikan yang baru di-fangsheng. Baru keluar dari mulut harimau, sekarang malah masuk ke mulut buaya.

 

Dari penuturan di atas sebagian dari Anda mungkin berpikir penulis adalah orang yang tidak suka atau anti terhadap praktik fangsheng. Anda keliru, penulis setuju fangsheng tetap dilakukan oleh umat Buddha atau Konghucu, namun pelepasan makhluk ini dilakukan dengan cerdas agar tujuan mulia kita tercapai. Kita harus berpikir jauh dengan mengkaji: (1) Apakah hewan yang kita lepas memiliki masa depan yang baik di tempat tinggalnya yang baru? (2) Apakah kehadiran binatang ini tidak mengancam kehidupan satwa asli di sana, atau apakah mereka kelak justru menjadi predator di lingkungannya yang baru? Jadi pemrakarsa fangsheng haruslah orang yang memiliki wawasan yang luas dan dibekali pengetahuan biologi dan ekologi yang memadai.

 

Penulis kenal sekelompok aktivis vihara yang secara reguler melakukan kegiatan fangsheng. Dalam setiap kegiatannya mereka mengajak anak-anak dan remaja. Pada kesempatan itu anak-anak melepas sendiri ikan dan bulus (kura-kura bercangkang lunak) ke danau atau sungai. Kegiatan ini selain menghibur juga menanamkan cinta kasih kepada hewan. Anak-anak kita tidak mudah lagi terpengaruh oleh temannya yang suka menganiaya satwa.

 

Sebelum menutup tulisan ini, penulis ingin membagikan kisah pelepasliaran tukik alias anak penyu yang dilakukan di pinggir Pantai Ketapang Indah, Banyuwangi, yang diadakan pada bulan Juli 2019 yang lalu. Kegiatan ini diprakarsai oleh umat Tridharma Banyuwangi dengan Banyuwangi Sea Turtle Foundation (BSTF), sebuah yayasan nirlaba yang peduli dengan konservasi penyu endemik Selat Bali. Kita mungkin pernah menyaksikan film dokumenter tentang bagaimana berat dan berbahayanya induk penyu yang hendak bertelur di pantai berpasir. Setelah telur-telur itu menetas, kita saksikan ratusan tukik bergegas dan berpacu dari sarang mereka menuju laut lepas. Selama perjalanan tidak sedikit tukik yang dimangsa oleh burung, reptilia, dan mamalia yang berkeliaran di pantai. Sekarang berkat campur tangan manusia, induk penyu bisa bertelur dengan aman di pantai, telur-telurnya dijaga sebelum menetas, dan semua tukik diantarkan dengan selamat ke tepi samudera.

 

Sebagai yayasan nirlaba BSTF memerlukan dana dari masyarakat. Sekarang bagaimana jika umat yang ingin melakukan fangsheng menyumbangkan uangnya ke yayasan ini, lalu pimpinan mengorganisir umatnya untuk menghadiri dan ikut-serta sewaktu tukik dilepaskan ke laut? Bukankah dengan demikian umat bisa melakukan fangsheng dengan cara yang cerdas? Semoga apa yang dilakukan oleh umat Tridharma Banyuwangi bisa dijadikan model pelaksanaan ritual fangsheng di masa mendatang.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/211201