Jumat, 23 Februari 2024

KETUHANAN DALAM AGAMA BUDDHA


 

Konsep Ketuhanan dalam Agama Buddha sering menimbulkan ruang kontroversi dan perdebatan yang berkepanjangan. Hal ini berlangsung sepanjang sejarah kebangkitan kepercayaan ini di Indonesia. Seperti yang pernah kita bahas dalam artikel penulis yang sebelumnya, Buddhisme sebagai agama menganut doktrin nonteis. Mengapa penulis mengaitkan monoteisme, politeisme, dan nonteisme sewaktu kita membicarakan agama Buddha?

 

Jika kita berbicara Buddhisme sebagai satu agama, seperti yang terjadi di negara-negara Buddhis seperti Thailand, Myanmar, atau Sri Lanka, tentu tidak pernah terjadi kontroversi maupun perdebatan. Penduduk di sana tidak pernah mengaitkan kepercayaan mereka dengan paham teisme atau nonteisme, karena Buddhisme sudah dianggap sebagai agama, pandangan hidup, maupun filsafat kehidupan mereka selama berabad-abad. Demikian juga yang terjadi dengan agama Buddha di negara seperti Taiwan dan Jepang, Buddhisme telah diterima oleh masyarakat di sana.

 

Tetapi di Indonesia yang menganut ideologi Pancasila, pengakuan keyakinan atau kepercayaan kepada Tuhan menjadi sesuatu yang wajib ditaati oleh setiap warga negara, seperti yang akan penulis kemukakan berikut ini. Sila pertama Pancasila yaitu Ketuhanan yang Maha Esa. Nah, apakah Anda para pembaca memahami makna sila pertama Pancasila ini? Sebelumnya, kita perlu tahu dulu, apa itu makna kata 'maha' dan 'esa' dalam sila pertama Pancasila. Kata 'maha' berasal dari bahasa Sanskerta dan juga bahasa Pāli. Makna kata 'maha' itu mulia atau besar. Sedang kata 'esa' merupakan kata asli bahasa Indonesia, yang bermakna “satu” atau “tunggal” atau “tidak bersekutu”. Dengan demikian ‘maha esa’ berarti hanya satu yang besar dan mulia.

 

Soekarno pada 1 Juni 1945 membawakan pidato di hadapan peserta sidang Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai. Saat menyampaikan prinsip ke-5 yakni Ketuhanan, Soekarno mengatakan: "Bukan saja bangsa Indonesia ber-Tuhan, tetapi masing-masing orang Indonesia hendaknya ber-Tuhan, Tuhannya sendiri." Perspektif pertama yang merupakan relasi vertikal, pernyataan Soekarno tersebut jelas menunjukkan bangsa Indonesia yang akan memerdekakan diri adalah bangsa yang ber-Tuhan. Pada satu sisi Indonesia bukan sebuah bangsa yang sekular, suatu bangsa yang mengambil jarak dengan Tuhan. Namun pada sisi lain, Indonesia merdeka itu juga bukan sebuah negara yang dibangun di atas dasar agama. Indonesia bukan negara agama. Indonesia adalah negara yang ber-Tuhan.

 

Dengan penjelasan Soekarno ini jelas bahwa negara menuntut setiap warga negaranya untuk mengakui keberadaan Tuhan. Tentu saja sesuai hak azasi manusia, Anda bebas boleh tidak percaya adanya Tuhan. Anda bebas menjadi seorang ateis atau seorang agnostik. Yang tidak boleh dilakukan di negara Pancasila ini adalah menyebarkan ajaran ateisme kepada masyarakat umum. Kemudian yang menarik dari penjelasan sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini, negara menjamin kebebasan setiap warga negaranya untuk memeluk agama atau kepercayaan yang diyakininya. Bukan saja terbatas kepada lima agama yang kelak diakui oleh Pemerintah, tetapi juga agama-agama yang dianut oleh warga dunia. Kita sudah membahas dalam artikel yang lalu, bahwa Pemerintah Kolonial hanya mengakui tiga agama di Hindia Belanda, yakni: Islam, Katolik Roma, dan Protestan.


Lalu, perpektif kedua adalah relasi horizontal, relasi antara sesama warga negara. Soekarno mengatakan: "Masing-masing orang Indonesia hendaknya bertuhan Tuhannya sendiri. Yang Kristen menyembah Tuhan menurut petunjuk Isa Almasih, yang Islam bertuhan menurut petunjuk Nabi Muhammad SAW, orang Buddha menjalankan ibadatnya menurut kitab-kitab yang ada padanya. Tetapi marilah kita semua bertuhan. Hendaknya negara Indonesia menjadi negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa."

 

Dari pernyataan Soekarno sebelum Indonesia merdeka, kita dapat menyimpulkan bahwa Beliau tidak paham ajaran Buddha. Namun demikian Soekarno yakin bahwa agama Buddha mengajarkan ajaran Ketuhanan. Sampai Soekarno mengakhiri jabatannya sebagai Presiden pertama Republik ini, tidak ada orang yang mempersoalkan Ketuhanan di dalam agama Buddha. Situasi akan berubah setelah Soeharto menjadi Kepala Pemerintahan, yang akan kita tinjau nanti.

 

Sila Ketuhanan Yang Maha Esa ini dengan mudah diterima oleh politisi-politisi Islam dan Nasrani, walaupun kalangan ulama menginginkan frasa tambahan berupa: "dengan kewajiban melaksanakan syariat Islam bagi para pemeluknya". Ketuhanan Yang Maha Esa dimaksudkan pada Tuhan monoteistik dan Tuhan sebagai pribadi. Tentu saja ini kepercayaan umum yang dianut oleh sebagian besar penduduk, karena umat di luar Islam dan Nasrani hanya sedikit populasinya di Indonesia ini. Konsep Tuhan yang Esa adalah Tuhan yang transenden, Tuhan yang berpribadi, Tuhan yang maha kuasa, begitu seterusnya, yang dianut oleh masyarakat Indonesia hingga hari ini.

 

Sedangkan jika kita meninjau ajaran Buddhisme awal, kita diajarkan doktrin "Tiga Corak Umum" atau "Tiga Tanda Eksistensi". Rumusannya mungkin telah Anda kenal: Sabbe saṅkhārā aniccā, Sabbe saṅkhārā dukkhā, Sabbe dhammā anattā. Yang dimaksud dengan saṅkhārā adalah sesuatu yang bersyarat, contohnya makhluk hidup; sedangkan dhammā adalah sesuatu yang bersyarat dan tak-bersyarat. Sabbe berarti semua. Jadi terjemahan indonesianya adalah “Semua yang bersyarat adalah tidak kekal, semua yang bersyarat adalah tidak memuaskan, segala sesuatu adalah tanpa-diri.” Jika doktrin ini benar, lalu bagaimana mungkin ada sosok yang berpribadi dan kekal?

 

Jika Tuhan Yang Maha Esa disamakan dengan Yang Mutlak, mari kita periksa kutipan berikut ini: "Atthi, bhikkhave, ajātaṁ abhūtaṁ akataṁ asaṅkhataṁ. No cetaṁ, bhikkhave, abhavissa ajātaṁ abhūtaṁ akataṁ asaṅkhataṁ, nayidha jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṁ paññāyetha. Yasmā ca kho, bhikkhave, atthi ajātaṁ abhūtaṁ akataṁ asaṅkhataṁ, tasmā jātassa bhūtassa katassa saṅkhatassa nissaraṇaṁ paññāyatī."

 

Artinya: "Para bhikkhu, ada Yang-Tidak-Dilahirkan, Tidak-Menjelma, Tidak-Tercipta, Yang Mutlak. Para bhikkhu, bila tidak ada Yang-Tidak-Dilahirkan, Tidak-Menjelma, Tidak-Tercipta, Yang Mutlak, maka tak ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu. Tetapi, para bhikkhu, karena ada Yang-Tidak-Dilahirkan, Tidak-Menjelma, Tidak-Tercipta, Yang Mutlak, maka ada kemungkinan untuk bebas dari kelahiran, penjelmaan, pembentukan, pemunculan dari sebab yang lalu."

(Sutta Pitaka, Udana VIII : 3).

 

Menurut Corneles Wowor Alm., Ketuhanan Yang Maha Esa dalam agama Buddha tidak lain "Atthi Ajātaṁ Abhūtaṁ Akataṁ Asaṅkhataṁ", yang artinya "Sesuatu Yang-Tidak-Dilahirkan, Yang-Tidak-Dijelmakan, Yang Tidak-Diciptakan, dan Yang Mutlak". Dalam hal ini, Ketuhanan Yang Maha Esa adalah suatu yang tanpa-aku (anatta), yang tidak dapat dipersonifikasikan, dan yang tidak dapat digambarkan dalam bentuk apa pun. Tetapi dengan adanya Yang Mutlak, yang tidak berkondisi (asaṅkhataṁ) maka manusia yang berkondisi (saṅkhataṁ) dapat mencapai kebebasan dari lingkaran kehidupan ini (saṃsāra). Sayang pak Wowor sudah tiada. Jika beliau masih hidup kita bisa menanyakan, apakah konsep Ketuhanan Yang Maha Esa sama dengan nibbāna atau nirvāṇa?

 

Sekarang kita coba mendekati konsep yang mungkin mendekati dengan konsep Ketuhanan yang kita kenal selama ini. Jika ditanya kepada umat Buddha, siapa makhluk paling agung di alam semesta ini? Jawabannya jelas, dia adalah Sang Tathāgata, Sammā-Sambuddha di zaman kita. Kemunculan seorang Sammā-Sambuddha tidak hanya terjadi sekarang ini, tetapi juga telah berlangsung jauh di masa yang lampau. "Telah lewat sembilan puluh satu zaman yang lalu, wahai para bhikkhu, ketika Yang Terberkahi Vipassī, yang telah mencapai dan tercerahkan sempurna, muncul di dunia ini. Kemudian tiga puluh satu zaman sesudahnya Yang Terberkahi Sikhī, yang telah mencapai dan tercerahkan sempurna, muncul di dunia ini. … Pada zaman yang menguntungkan ini pula Yang Terberkahi Kassapa, yang telah mencapai dan tercerahkan sempurna, muncul di dunia ini. Pada zaman yang menguntungkan ini pula aku sekarang, yang telah mencapai dan tercerahkan sempurna, muncul di dunia ini." (Dīgha Nikāya 14). Pernyataan ini bisa diperluas, bahwa di zaman yang akan datang, Yang Terberkahi Metteyya, yang telah mencapai dan tercerahkan sempurna, akan muncul di dunia ini.

 

Walaupun kemunculan seorang Sammā-Sambuddha itu amat jarang terjadi, tetapi pola seperti ini selalu berulang. Jadi kita sekarang akan masuk ke doktrin Doktrin Trikāya (Sanskerta: त्रिकाय), atau dalam bahasa Mandarin disebut 三身 (Sān Shēn), harfiah: "Tiga Tubuh"; yang merupakan doktrin fundamental dalam Buddhisme Mahāyāna dan Vajrayāna. yang menggambarkan sifat multidimensional keberadaan seorang Buddha. Konsep ini menyebutkan bahwa seorang Buddha memiliki tiga tubuh atau tiga aspek yang berbeda, yang mana masing-masing mewakili aspek pencerahan yang berbeda pula.

 

Tubuh yang pertama, Nirmāṇakāya, disebut sebagai Tubuh Transformasi. Ini melambangkan penampakan fisik seorang Buddha di dunia. Buddha historis seperti Buddha Gautama, Buddha Kassapa, dan Buddha Metteyya adalah perwujudan Nirmanakāya, yang memungkinkan dia berinteraksi dan membimbing makhluk hidup dalam perjalanan menuju pencerahan. Perwujudan duniawi ini berfungsi sebagai jembatan antara yang ilahi dan yang manusia, membuat ajaran dan kasih sayang seorang Buddha dapat diakses oleh mereka yang mencari bimbingan dan kebijaksanaan.

 

Tubuh yang kedua, yang dikenal sebagai Saṃbhogakāya, adalah Tubuh Kenikmatan. Aspek ini mewakili para Buddha dewata di alam dewa dan dikaitkan dengan aspek Kebuddhaan yang membahagiakan dan bermanfaat. Hal ini dianggap sebagai manifestasi yang muncul sebagai akibat dari pemenuhan sumpah dan komitmen dalam perjalanan spiritual seorang bodhisattva. Sambhogakāya mewujudkan gagasan memetik manfaat dari latihan spiritual dan berdiam dalam kondisi realisasi yang luhur.

 

Tubuh yang ketiga adalah Dharmakāya, atau dalam bahasa Mandarin dinamakan 法身 (Fǎ Shēn), sering disebut sebagai Tubuh Dharma atau realitas tertinggi. Ini mewujudkan esensi pencerahan itu sendiri, yang mencakup konsep-konsep seperti kekosongan, sifat Buddha, dan keberadaan murni di luar bentuk material dan spiritual.

 

Tadi dikatakan bahwa ajaran Trikāya ini hanya dikenal dalam mazhab Buddhisme Mahāyāna dan Vajrayāna, dan pada mazhab Theravāda ajaran ini tidak ada. Namun dalam Kanon Pāli, Buddha Gautama memberi tahu Vasettha bahwa Tathāgata (Sang Buddha) adalah Dhammakaya, yakni "tubuh kebenaran" atau "perwujudan kebenaran", serta Dharmabhuta, "menjadi kebenaran". "Dia yang keyakinannya kepada Sang Tathāgata telah kokoh, berakar, mapan, teguh, tidak tergoyahkan oleh petapa atau brahmana mana pun, Dewa atau Māra atau Brahmā mana pun atau siapa pun di dunia, yang dapat dengan sesungguhnya mengatakan: 'Aku adalah putera sejati Sang Bhagawan, lahir dari mulutNya, lahir dari Sang Dhamma, diciptakan oleh Sang Dhamma, pewaris Sang Dhamma.' Mengapa demikian? Karena, Vasettha, ini menunjuk kepada Sang Tathāgata: 'Tubuh Dhamma,' yaitu, 'Badan Brahma,' atau 'Menjadi Dhamma'. (lihat: Walshe, Maurice (penerjemah), The Long Discourses of the Buddha, Wisdom Publications, Boston,1995, hal. 409)

 

Penulis ingin menambahkan bahwa dalam keyakinan Brahmanisme atau Hinduisme, Sang Buddha adalah salah satu Avatāra Vishnu. Beliau dikenal sebagai Avatāra yang kesembilan (dari 10, yang pernah lahir di dunia ini). Avatāra, harfiah berarti 'keturunan', menandakan penampakan material atau inkarnasi dari Vishnu. Siapa itu Vishnu? Dia boleh dikatakan sebagai makhluk tertinggi dalam Vaishnavisme, salah satu tradisi utama dalam agama Hindu kontemporer.

 

Sebagai kesimpulan kita sampai pada doktrin bahwa Dharmakāya adalah realitas tertinggi, yang dapat dianalogikan sebagai Ketuhanan itu sendiri. Para pembaca yang kritis, yang ingin lebih mendalami subyek ini, bisa mencarinya sendiri. Sebagai acuan, penulis menyarankan sebuah jurnal ilmiah yang berjudul: On Dharmakāya as Ultimate Reality: Prolegomenon for a Buddhist-Christian Dialogue, yang ditulis oleh Ruben L. F. Habito. (1985). Pembaca yang berminat bisa mencarinya sendiri di internet.

 

Di bagian akhir tulisan ini penulis ingin membahas secara singkat tentang kontroversi dan perdebatan tentang konsep Ketuhanan di kalangan sekte-sekte agama Buddha di Indonesia. Jujur, sesungguhnya penulis menghindari untuk memuat tulisan yang membuat ruang opini pribadi semacam ini. Demi netralitas artikel ini, penulis merujuk pada beberapa sumber di internet. Salah satu yang bisa dijadikan rujukan adalah tulisan Bapak Abdul Syukur, yang dimuat oleh HTS Journal pada tanggal 24 Januari 2022. Pembaca yang ingin membacanya lebih detil bisa mendapatkannya di mesin pencari, dengan kata kunci: "HTS Theological Studies, Vol 78, No. 4 (2022)". Judul makalah itu sendiri adalah Theological Debate Among Buddhist Sects in Indonesia.

 

Di atas telah dikatakan bahwa sampai Soekarno mengakhiri jabatannya sebagai Presiden pertama Republik ini, tidak ada orang yang mempersoalkan Ketuhanan di dalam agama Buddha. Namun situasi berubah seratus delapan puluh derajat pada tahun 1965 setelah Pemberontakan PKI pada tanggal 30 September. Kudeta yang dilancarkan oleh pihak Komunis menimbulkan perang saudara dan memakan banyak korban jiwa, antara akhir tahun 1965 hingga 1966. Pada saat itu sang penguasa rezim Orde Baru memberikan stigma negatif kepada Partai Komunis Indonesia (PKI). Di antara jargon ketidaksukaan rezim baru yang cukup ampuh, adalah tuduhan bahwa Komunis itu anti agama dan anti perikemanusiaan. Jadi jelas PKI itu tidak beragama dan tidak ber-Tuhan. Situasi semakin tidak menguntungkan bagi etnis Tionghoa yang sebagian besar memeluk Agama Buddha dan Agama Konghucu. Apalagi setelah Soeharto – pengganti Soekarno – menerbitkan aturan yang melarang diadakannya pertunjukan agama dan adat istiadat yang bercorak Cina di muka umum. Puncaknya pada tahun 1979 Pemerintah Orde Baru tidak lagi mengakui Konghucu sebagai agama.

 

Seiring dengan kebijakan tersebut Pemerintah semakin mengetatkan persyaratan agama yang diakui di Indonesia. Disebutkan bahwa semua agama yang sah dipeluk oleh rakyat Indonesia adalah yang: (1) mengakui Tuhan Yang Maha Esa, sebagaimana disebutkan dalam sila pertama Pancasila, (2) memiliki sosok nabi yang menjadi utusan Tuhan, dan (3) memiliki kitab suci yang diakui oleh umat beragama tersebut. Bagi umat Buddha tentu saja tidak ada masalah untuk butir 2 dan 3 di atas. Seluruh sekte agama Buddha di Indonesia yang ada pada waktu itu mengakui Buddha Gautama adalah Nabi dalam Agama Buddha, dan kitab sucinya Tipiṭaka atau Tripiṭaka.

 

Tentang butir 1 di atas umat Buddha boleh dikatakan mendapatkan kesulitan. Jika dalam agama lain, terutama agama Samawi, kata "Tuhan" selalu muncul dalam kitab suci mereka, karena Tuhan adalah obyek utama yang dipuja. Sedangkan untuk menjelaskan Tuhan sebagai "Yang Mutlak" atau "Tuhan”, hanya terdapat satu-satunya ayat dalam Udana VIII.3 di atas. Dalam Kanon Pāli yang tebal itu pun tidak ditemukan ayat-ayat yang menggambarkan sosok Tuhan itu. Absennya konsep Tuhan dalam agama Buddha membuat sebagian orang beranggapan bahwa agama Buddha tidak mengakui Tuhan atau Ketuhanan, seperti Horner (1989). Di sisi lain Conze (1975), menyatakan bahwa meskipun agama Buddha tidak mengenal Tuhan sebagai pribadi, namun yang dikenal dalam doktrin Buddhis adalah Ketuhanan itu sendiri; sehingga dengan demikian agama Buddha masih dapat digolongkan dalam kategori agama. Memang kenyataannya, sewaktu Buddha Sakyamuni masih hidup, Beliau sendiri lebih memilih diam ketika ditanya tentang permasalahan tersebut.

 

Berdasarkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia, hal pertama dan terpenting yang harus dimiliki oleh seluruh warga negara adalah Ketuhanan Yang Maha Esa. Menghadapi hal yang mendesak itu para pimpinan sekte agama Buddha mencoba merumuskan konsep Tuhan dalam agama Buddha, dan Tuhan itu mau diberi nama apa. Bhikkhu Ashin Jinarakkhita, terlahir The Boan An (23-Jan-1923 – 18-Apr-2002). Beliau dikenal dengan nama panggilan "Su Kong". Setelah melakukan pengkajian yang mendalam Bhikkhu Ashin mencetuskan bahwa Tuhan dalam agama Buddha dinamakan Sang Hyang Adi Buddha. Apa maknanya? "Adi Buddha" adalah Buddha yang pertama, jadi mengacu pada sosok Buddha purba di awal zaman. "Hyang” bisa diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai "Lord". Dalam Alkitab, kata "Lord" ini diterjemahkan sebagai "Tuhan". Bhikkhu Ashin mengambil Adi Buddha bukan dari kitab suci Tripiṭaka, melainkan dari kitab kuno beraksara Jawa yang berjudul Sang Hyang Kamahayanikan. Justru karena diambil dari pustaka selain Tripiṭaka, maka usulan ini sempat diprotes, terutama oleh pemuka agama dari Sekte Theravada dan Nichiren.

 

Untuk memperkuat argumentasinya seorang pengikut Bhikkhu Ashin yang bernama Dhammaviriya pada tahun 1965 menerbitkan artikel, yang berjudul The God in Buddhism. Dalam konteks sosiopolitik yang antikomunis pada masa itu, pendekatan Bhikkhu Ashin yang bersifat pragmatis ini, penulis nilai cukup beralasan. Lewat sektenya, Buddhayana, Beliau berhasil membebaskan umat Buddha dari stigma negatif, atau setidaknya tidak dianggap sebagai simpatisan PKI yang tidak ber-Tuhan. Namun bukan berarti penulis menyetujui langkah-langkah Bhikkhu Ashin dalam kiprahnya sebagai pemimpin Sekte Buddhayana, atau sebagai pimpinan Sangha Agung Indonesia.

 

Penulis beralasan bahwa umat Buddha Indonesia mesti memiliki sebutan untuk Tuhan Yang Maha Esa dalam bahasa Pāli atau Sanskerta. Terserah mau disebut sebagai Sang Hyang Adi Buddha atau pun dengan sebutan lainnya. Kita ambil contoh saat pejabat penting berpidato di depan hadirin, berikut ini: "Assalamu’alaikum Wr. Wb.; Shalom; Om Swastiastu; Namo Buddhaya; Salam Kebajikan." Meskipun belakangan ini dikritik oleh sementara kalangan Buddhis bahwa ucapan "Namo Buddhaya" tidak tepat untuk disampaikan di antara umat awam Buddhis, namun mayoritas orang Indonesia sekarang tahu bahwa salam keagamaan dalam agama Buddha adalah "Namo Buddhaya". Meskipun mereka tidak mengerti apa makna dibalik salam tersebut. Seperti juga masyarakat Indonesia mengetahui bahwa Tuhan dalam agama Hindu dinamakan "Sang Hyang Widhi Wasa". Jelas saudara-saudara kita umat Hindu Bali tentu lebih guyub, karena mereka disatukan sebagai penganut agama dan suku yang memiliki adat istiadat yang unik di Bumi Nusantara ini. Lain halnya dengan umat Buddha yang sangat plural dan tidak bisa bermusyawarah secara terbuka. Mau kembali memakai sebutan "Adi Buddha"? Jelas tidak mungkin, karena para pemimpin sekte berkonflik mempertahankan pendapatnya masing-masing. Kenangan pahit tentang tidak bisa bersatunya umat Buddha masih dirasakan hingga zaman kecerdasan-buatan ini. Padahal jika umat Buddha mau bersatu menyepakati nama Tuhan dalam agama Buddha, tentu para pendidik dan dharmaduta tidak lagi kesulitan untuk menyosialisasikan sebutan Tuhan khas Buddhis itu agar dikenal oleh masyarakat, seperti khalayak tahu bahwa jika mereka bertemu dengan umat Buddha mereka bisa menyapanya dengan sebutan: "Namo Buddhaya!".

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/240222

 


Kamis, 08 Februari 2024

MONOTEISME DAN POLITEISME



Judul di atas, Monoteisme dan Politeisme, bukanlah istilah asing bagi para pembaca sekalian. Kita semua sudah diajarkan di bangku sekolah dulu, bahwa Monoteisme tidak lain keyakinan atau kepercayaan yang mengakui adanya satu dan hanya satu tuhan atau dewa. Sedangkan Politeisme merupakan paham yang mengakui banyak tuhan atau banyak dewa. Kata “monoteisme” dan “politeisme” memiliki akar-kata yang sama, yang berasal dari kata Yunani: “theo”. “Theo” bermakna “tuhan”, dan akhiran -isme digunakan pada kata benda, yang mengacu pada doktrin atau kepercayaan tertentu. Perbedaannya terletak pada imbuhan-depannya: mono berarti “satu”, sedangkan poli berarti “banyak”.

 

Monoteisme maupun Politeisme bukan hanya paham atau ajaran belaka, tetapi juga dianut oleh orang yang meyakininya: dan jika hal ini yang terjadi, dikatakan bahwa orang tersebut beragama. Namun kedua istilah itu bebas digunakan oleh siapa pun juga. Misalnya, seseorang yang tidak menganut agama tertentu, tetapi meyakini adanya satu tuhan dapat dikatakan dia menganut doktrin monoteisme. Selanjutnya kata “tuhan” sering kali dituliskan dengan huruf kapital, yakni sebagai “Tuhan”, terutama dalam konteks agama monoteistik.

 

Agama monoteistik yang paling kita kenal adalah Agama Samawi atau Agama Wahyu. Agama Samawi bermula dari Agama Yahudi, kemudian Agama Nasrani atau Agama Kristen, dan terakhir Agama Islam. Berdasarkan keyakinan yang ditulis oleh Kitab Suci, Nabi Ibrahim merupakan founding father atau tokoh utama yang berjasa melahirkan agama-agama ini. Secara hipotetis dipercaya bahwa penganut tiga agama ini menyembah Tuhan yang sama. Inilah yang dinamakan sebagai Teori Satu Tuhan.

 

Tuhan dalam kepercayaan monoteistik dipahami sebagai pencipta alam semesta, termasuk umat manusia. Tuhan tidak hanya menciptakan alam dan tatanan yang ada di dalamnya, namun juga tatanan etis yang harus dipatuhi oleh umat manusia. Semuanya ada di tangan Tuhan. Tuhan itu kudus atau sakral, yang tertinggi di atas segalanya, dan unik dalam keberadaannya. Tuhan monoteisme, seperti yang dicontohkan oleh tiga agama besar itu, adalah Tuhan yang berpribadi. Dalam hal ini, ketuhanan monoteisme yang satu dilawankan dengan konsepsi dalam beberapa agama bukan-monoteistik, tentang keilahian impersonal atau kesatuan ketuhanan yang melingkupi seluruh dunia.

 

Agama Yahudi atau Judaisme dan Islam keduanya merupakan contoh monoteisme yang terkenal. Sedangkan orang Kristen percaya pada tiga bagian ketuhanan yang dikenal sebagai “Trinitas”. Trinitas ini meliputi Tuhan, Jesus, dan Roh Kudus. Mereka percaya bahwa Tuhan mengutus putera satu-satunya, Jesus, untuk turun ke dunia ini. Roh Kudus adalah tanda keberadaan Tuhan, serta dapat dirasakan kehadirannya oleh orang Kristen. Walaupun tampaknya doktrin Trinitas ini mirip dengan paham Politeisme, namun para penganut Kristiani percaya bahwa ini adalah perwujudan dari Tuhan yang satu. Jadi mereka berargumen bahwa mereka pun menyembah Tuhan yang sama.

 

Politeisme mencakup agama-agama yang menyembah beberapa atau banyak tuhan atau dewa. Contoh politeisme antara lain Hinduisme, agama Yunani Kuno, agama rakyat Afrika, dan agama rakyat Asia Timur. Penulis memberi contoh Hinduisme, yang mungkin telah dipahami oleh para pembaca sekalian. Dewa utama yang sering dijadikan obyek pemujaan adalah Brahma. Brahma adalah Sang Dewa Pencipta, yang bertugas menjadikan dunia ini dan segala makhluk hidup yang ada di sana. Dia digambarkan memiliki empat kepala dengan wajah keemasan, mempunyai janggut dan empat lengan. Empat kepala mewakili empat Veda, kitab suci agama Hindu. Selanjutnya ada Vishnu yang bertanggung jawab melindungi alam semesta ini. Dia kembali mengunjungi bumi ketika terjadi masalah, guna menegakkan kembali keseimbangan dan perdamaian. Dia digambarkan sebagai sesosok manusia dengan kulit biru dan empat lengan. Terakhir ada Shiva sebagai Sang Dewa Penghancur, yang membawa pada siklus kelahiran kembali pada bumi ini. Dia dilukiskan sebagai pria yang penuh gairah, dengan wajah biru, memiliki mata ketiga, serta ada seekor ular kobra yang melilit di lehernya.

 

Dari penjelasan singkat di atas dapat kita lihat perbedaan pertama antara paham monoteisme dengan ajaran politeisme. Dalam agama-agama Abrahamik atau Agama Wahyu, ada sosok Tuhan yang begitu berkuasa dan digdaya, yang bertanggung jawab mengatur segala sesuatu. Tuhan ini berkuasa di semua lapangan, bertugas menciptakan segala sesuatu, memelihara, dan melakukan pemusnahan dan regenerasi pada alam semesta. Sebagai contohnya, dalam agama Kristen, Tuhan menciptakan bumi, dan Dia bertugas menghakimi orang-orang yang sudah mati; serta memutuskan apakah mereka akan dikirim ke surga atau neraka. Dalam agama-agama politeistik, banyak dewa yang memiliki wilayah tertentu yang mereka kuasai dan peran khusus yang mereka jalani. Dalam Hinduisme, Brahma berperan dalam menciptakan alam semesta, Vishnu merawatnya, dan Shiva bertugas melakukan penghancuran dan regenerasi.

 

Selanjutnya dalam Monoteisme, Tuhan dipandang sebagai otoritas tertinggi, yang membimbing perilaku manusia dan menetapkan standar moralitas. Sistem kepercayaan ini sering kali menekankan pentingnya para penganutnya mematuhi serangkaian aturan dan prinsip tertentu, karena menyimpang dari aturan dan prinsip tersebut dapat mengakibatkan konsekuensi yang tidak diinginkan. Sebaliknya, Politeisme memiliki perspektif yang lebih beragam tentang ketuhanan. Di sini, para dewa dan dewi dipandang sebagai makhluk yang memiliki banyak segi, yang mana masing-masing memiliki kekuatan dan kelemahannya sendiri. Hal ini memungkinkan adanya pemahaman yang lebih mendalam mengenai sifat ketuhanan dan sifat manusia, karena ketidaksempurnaan tidak hanya diterima begitu saja, tetapi juga diterima sebagai bagian dari tatanan alam.

 

Sebuah agama hanya bisa dikategorikan atau digolongkan sebagai monoteistik atau politeistik. Tidak bisa agama itu mencakup kedua-duanya. Dalam pandangan monoteistik seseorang penganut diwajibkan hanya mengakui satu tuhan saja. Jika dia beriman kepada banyak tuhan, maka dia dikatakan musyrik. Demikian tegas dan ketatnya aturan yang ditetapkan oleh kepercayaan monoteistik ini. Jika ada orang yang menyembah tuhan yang lain, maka dikatakan bahwa yang dia puja adalah berhala.

 

Dalam agama monoteistik, sistem kepercayaan, sistem nilai, dan sistem tindakan ketiganya ditentukan secara signifikan oleh konsepsi tentang Tuhan, sebagai satu wujud yang berpribadi dan unik. Jika diaplikasikan secara negatif, keyakinan monoteistik menghasilkan penolakan terhadap semua sistem kepercayaan lain, dan agama-agama di luar itu dianggap sebagai agama yang “palsu” atau “sesat”. Penolakan ini bisa menjelaskan sikap agama-agama monoteistik yang sangat agresif dan tidak toleran dalam masa-masa tertentu dalam sejarah dunia. Konsepsi bahwa semua agama di luar kepercayaan yang diyakininya adalah keliru, dan mereka memandang orang asing sebagai “penyembahan berhala”. Sering kali pandangan itu menjadi pembenaran atas segala tindakan destruktif dan fanatik, yang didasarkan pada kepercayaannya, yang dianggap sebagai satu-satunya agama yang benar.

 

Di antara paham monoteisme dan politeisme, mungkin kita perlu mengenal paham henoteisme. Henoteisme adalah suatu ajaran yang mengatakan bahwa hanya ada satu tuhan atau dewa yang berkuasa di dunia, tanpa memungkiri akan keberadaan dewa-dewa lainnya. Banyak ahli yang mempelajari sejarah agama-agama di dunia yang menyebutkan bahwa, henoteisme berkembang menjadi sebuah tahap keagamaan, seiring berubahnya agama politeisme ke agama monoteisme. Tahap keagamaan tersebut adalah tahap transisi perubahan keyakinan, dari semula ada banyak dewa yang berkuasa (politeisme), sampai menuju pada kepercayaan bahwa hanya ada satu dewa berkuasa (monoteisme). Henoteisme memiliki sinonim, yakni monolatrisme.

 

Ada beberapa kata terkait yang digunakan dalam konteks keyakinan beragama. Kata teisme mengacu pada keyakinan atau kepercayaan,bahwa ada tuhan atau dewa tertentu. Sebaliknya ateisme adalah keyakinan bahwa tidak ada sosok tuhan di alam semesta ini. Awalan “a-“ berarti “tidak” atau “tanpa”. Selain ateisme, dikenal pula paham lain yang dinamakan agnostisisme. Gagasannya bisa dijabarkan sebagai berikut: Dengan cara apa pun jua, tidak bisa dibuktikan bahwa tuhan itu ada. Namun sebaliknya tiadanya tuhan juga tidak bisa dibuktikan. Jadi mereka yang menganut paham agnostik berpendapat bahwa tidak relevan membahas tuhan. Jadi orang agnostik tidak mau mempersoalkan tuhan itu ada atau tidak.

 

Selanjutnya kita bahas satu istilah lagi, yaitu panteisme. Panteisme adalah keyakinan bahwa alam semesta merupakan manifestasi dari tuhan. Bisa juga diartikan bahwa segala sesuatu merupakan tuhan, dewa, atau dewi imanen yang mencakup segalanya. Lawan dari imanen adalah transenden. Panteisme berkeyakinan bahwa tuhan bukanlah pribadi. Segala sesuatu merupakan kekuatan tuhan yang impersonal. Panteisme ini merupakan paham yang sudah tua, namun menganut keyakinan yang berlawanan dengan monoteisme. Monoteisme menekankan bahwa tuhan adalah pribadi dan dia tunggal, sedangkan panteisme menganggap tuhan itu bukan-pribadi dan ada di mana pun juga. Contoh tuhan yang bukan-pribadi bisa kita dapatkan dalam ajaran Upanishad, yang merupakan bagian dari kepustakaan Veda dalam agama Hindu. Tat twam asi, yang berasal dari bahasa Sanskerta. Artinya “Itu adalah engkau”, dengan “itu” mengacu pada realitas atau prinsip tunggal yang tertinggi. Jadi sang diri – dalam keadaan asli, murni, dan tulen – itu identik atau merupakan bagian dari kebenaran sejati, yang merupakan dasar atau asal-mula dari segala fenomena yang ada di dunia ini.

 

Contoh politeisme yang berasal dari zaman purba adalah animisme. Animisme berasal dari bahasa Latin yaitu anima atau animae, yang berarti pernapasan atau roh. Pengembangan konsep dari animisme ialah adanya jiwa atau roh pada tiap-tiap benda hidup maupun benda mati. Atas dasar keyakinan ini penganut animisme memuliakan benda-benda. Tujuan pemuliaan ini agar benda-benda tersebut tidak memberikan gangguan kepada manusia, melainkan memberikan keberuntungan. Dalam animisme, tiap benda diyakini mampu memberikan manfaat dan pertolongan.

 

Dalam sejumlah kebudayaan, pohon dipandang sebagai bentuk tumbuhan primordial dan memiliki hubungan simbolis dengan langit dan bumi. Bahkan terkadang pohon didiami oleh roh atau yaksha, seperti yang terjadi dalam tradisi India. Jenis pohon tertentu, seperti ashvattha dan pohon ara suci, dipuja secara khusus. Bahkan pohon beringin di Nusantara begitu dihormati oleh penduduk, karena pohon raksasa itu dipercaya didiami oleh roh penjaga. Namun, di antara dewa-dewa tumbuhan, mungkin yang paling penting adalah dewa-dewa yang berhubungan dengan tanaman budidaya, seperti jagung di Amerika Tengah dan tanaman anggur di kawasan Mediterania. Yang terakhir ini dinyatakan dalam pemujaan terhadap Dionysus, dewa anggur yang gembira, yang menjadi salah satu objek pemujaan paling berpengaruh pada zaman kuno. Pohon anggur itu sendiri melambangkan pertanian dan ekstasi. Dalam tradisi Jawa, padi adalah tanaman sakral, dan diyakini merupakan penjelmaan dari Dewi Sri.

 

Pada tingkat budaya paling awal, ketika pertanian, penggembalaan, dan perburuan merupakan aktivitas komunal yang penting, kepercayaan menunjukkan identifikasi ini dalam ritus-ritus yang berhubungan dengan kesuburan. Vitalitas matahari terlihat dalam efek siklus yang menyebabkan benda-benda tumbuh dan layu. Selain itu, karena dominasinya atas dunia, matahari sering dianggap sebagai dewa yang penting. Setelah itu muncullah pendewaan terhadap kekuatan alam yang tidak dipahami oleh manusia purba, seperti hujan, angin, guntur, dan halilintar. Peran para dewa langit dalam menyokong kegiatan bercocok tanam serta menyediakan cahaya dan kehangatan, melawan efek kegelapan yang kacau; merupakan tema dari berbagai mitos atas berlangsungnya drama kosmis, dan merupakan salah satu alasan utama adanya hubungan dalam pemikiran mitis antara penciptaan dan cahaya. Kepercayaan Zaman Veda mengakui bahwa Surya, dewa matahari, adalah makhluk surgawi. Indra yang diasosiasikan dengan badai, hujan, dan pertempuran (atau perang) bersifat atmosferik. Sedangkan Agni, dewa api, beroperasi terutama di tingkat duniawi.

 

Dewa langit menjadi sangat kuat ketika mereka mengambil wujud atmosfer. Keterhubungan dewa seperti Indra dengan badai, serta hujan yang membawa kesuburan, menjadikan hubungan mereka dengan peperangan cukup alami. Dengan demikian Indra adalah contoh bagaimana masyarakat Zaman Veda menempatkannya sebagai dewa perang. Dewa-dewa tertentu yang tidak terlalu penting dalam tradisi Veda mendominasi Brahmanisme atau agama Hindu Klasik, terutama Siwa dan Wisnu. Yang terakhir ini dikaitkan dengan kepercayaan pada avatar atau inkarnasi. Kebanyakan dewa (berjenis kelamin laki-laki) memiliki pendamping perempuan, seperti yang terjadi pada Siva (laki-laki) dengan Shakti (perempuan). Dalam kurun waktu ribuan tahun muncul banyak aliran dalam agama Hindu Klasik. Apalagi ketika kelompok-kelompok berbeda terserap ke dalam tatanan sosial yang sistematis, dan telah menghasilkan perkiraan adanya 33 juta dewa Hindu. Inilah contoh politeisme dengan jumlah dewa yang amat banyak. Sudah menjadi praktik umum bagi para penyembah untuk memilih bentuk pemujaan terhadap sesosok dewa, dan dewa seperti itu disebut istadevata. Kebanyakan umat Hindu cenderung menafsirkan banyaknya dewa sebagai simbol dari realitas ketuhanan yang satu.

 

Sekarang kita akan meninjau Buddhisme, dan juga termasuk Jainisme; dapatkah digolongkan sebagai ajaran yang monoteistik atau politeistik? Sang Buddha berkata bahwa dewa-dewa itu memang ada, tetapi dalam ajaran Buddhisme Awal, para dewa itu tidak dipuja atau disembah. Dengan demikian boleh dikatakan bahwa Buddhisme Awal bukanlah agama teistik, atau disebut agama nonteistik. Tetapi Anda para pembaca jangan mengacaukannya sebagai ateistik. Jika ateistik tidak percaya kepada tuhan atau dewa, sedangkan Buddhisme mengakui keberadaan banyak dewa. Nonteistik di sini bermakna keyakinan dan praktik keagamaannya tidak sejalan seratus persen dengan agama teistik pada umumnya, namun sebagiannya sejalan dengan keyakinan dan praktik teistik. Kita akan membicarakan Buddhisme dan Ketuhanan pada artikel yang akan datang.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/240208

 

 

Rabu, 24 Januari 2024

SILUMAN ULAR PUTIH



(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

 

 

Pada artikel yang lalu diceritakan Xǔxiān berada dalam keadaan tidak sadarkan diri untuk waktu yang lama. Kejadian ini memaksa Bái Sùzhēn untuk pergi mencari obat ajaib yang bisa menyadarkannya. Obat ajaib itu ternyata sejenis tanaman, yang hanya tumbuh di Gunung Kūnlún. Mengingat tidak ada cara lain untuk memulihkan kondisi suaminya, Bái Sùzhēn pun bersikeras untuk mendapatkannya. Dia pun mengambil pedang pusaka yang bermata dua, lalu dia berpamitan kepada Xiǎoqīng. "Adik, aku pergi dulu. Semua urusan rumah aku serahkan kepadamu."

 

Segera setelah meninggalkan Xiǎoqīng, Bái Sùzhēn kemudian menunggangi awan putihnya, dan dia terbang menuju Gunung Kūnlún. Gunung Kūnlún merupakan tempat terpencil di bumi dan hanya sedikit orang yang pernah datang mengunjunginya. Suasana di sana sangat mencekam. Tebing-tebingnya yang sangat terjal dipenuhi oleh semak belukar, dan angin dingin semilir seakan membekukan tubuh. Lengkingan auman harimau dan serigala membuat bulu kuduk kita berdiri. Setelah mencari-cari tempat tumbuhan ajaib itu berada, Bái Sùzhēn akhirnya menemukan tumbuhan yang mirip jamur, di depan sebuah goa. Dia sangat gembira setelah menemukan apa yang dicarinya.

 

Namun baru saja dia menundukkan tubuhnya dan tangannya hendak meraih tanaman berharga ini, tiba-tiba seekor kijang kencana menghampirinya dan berseru, "tahan!" Dalam sekejap sang kijang bersalin-rupa menjadi seorang ksatria, dan dengan segera dia menghunus pedangnya. Ksatria itu membentaknya: "Siluman dari mana kau! Berani-beraninya engkau datang kemari dan mau mencuri jamur ajaib milik kami." Dengan rendah hati dia pun menjawab: "Hamba bernama Bái Sùzhēn. Setelah bertapa ratusan tahun di Gunung Éméi, aku hidup bersama dengan seorang manusia biasa. Saat ini suami sedang tak sadarkan diri. Mohon tuan berikan aku tanaman ini barang segenggam." Sang ksatria menjawab: "Mana boleh barang berharga ini diserahkan kepadamu. Jamur ajaib ini adalah makhluk hidup." Segera setelah itu dia menyabetkan pedangnya ke arah Bái Sùzhēn. Keduanya pun kini saling serang dengan senjata masing-masing. Setelah bertarung beberapa jurus, sang ksatria terdesak dan Bái Sùzhēn pun segera memetik tanaman itu, dan segera setelah itu dia bersiap-siap untuk meninggalkan gunung itu.

 

Namun sekonyong-konyong terdengarlah lengkingan burung bangau. Terkejutlah Bái Sùzhēn mendengar suara yang merupakan ancaman baru baginya. Pepatah mengatakan: 'ular paling takut saat bertemu dengan burung bangau'. Tampaklah di hadapannya seekor burung bangau putih besar yang serta merta menjelma menjadi seorang pendekar. Dia mengeluarkan senjatanya dan berkata: "Berani benar engkau mencuri barang berharga kami!" Bái Sùzhēn segera menyimpan jamur ajaib yang baru dipetiknya ke dalam mulutnya. Keduanya pun terlibat dalam pertarungan yang seru. Selang beberapa lama, si rusa kencana membantu temannya, dan keduanya mengeroyok Bái Sùzhēn. Sang ular putih pun terdesak mundur. Dan tak lama kemudian, sebuah tendangan Burung Bangau ke arah perut Bái Sùzhēn membuatnya tersungkur. Kasihan si ular putih! Jamur ajaib yang berada di mulutnya terlontar ke luar, dan sia-sialah jerih payah Bái Sùzhēn mencari obat bagi suaminya. Pedang si bangau dengan derasnya mengarah ke arah lehernya.

 

Beruntunglah di saat yang kritis itu, seorang tua tiba-tiba ke luar dari balik gerbang goa, lalu dia berteriak: "Tahan!" Orang tua itu tidak lain Nánjí Xiān Wēng (南極仙翁) atau Sang Dewa Kutub Selatan, dikenal pula sebagai Sang Dewa Panjang Usia. Sang Dewa memerintahkan pengikutnya, "Bangau Putih, jangan gegabah." Sang Dewa yang welas asih memahami kehidupan manusia, dan dia tahu Bái Sùzhēn datang dari jauh hanya untuk mencari obat demi kesembuhan suaminya. Dia segera memerintahkan Bangau Putih agar mereka menghentikan perkelahian itu. Selanjutnya dia meminta agar Kijang Kencana menyerahkan segenggam jamur ajaib, untuk diberikan kepada Bái Sùzhēn. Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Bái Sùzhēn pun berlutut di hadapan Sang Dewa, dan dia menghaturkan banyak terima kasih.

 

Bái Sùzhēn kemudian pulang dan sesampainya di rumah, dia minta bantuan Xiǎoqīng untuk menggodok jamur ajaib yang dibawanya dari Gunung Kūnlún. Xiǎoqīng memperhatikan keadaan kakaknya yang baru selesai melakukan perjalanan jauh. Dipandanginya wajah Bái Sùzhēn yang nampak pucat, "mengapa rona wajah kakak tidak seperti biasa?" Kakaknya kemudian bercerita bahwa nyawanya hampir melayang setelah dia dikalahkan oleh si Bangau Putih. Xiǎoqīng pun terharu mendengar pengorbanan yang dilakukan kakaknya. Setelah ramuan obat godokan itu siap, Bái Sùzhēn merebahkan bagian atas tubuh suaminya di atas pangkuannya. Selanjutnya sedikit demi sedikit cairan obat itu berhasil ditelan oleh Xǔxiān. Sungguh mengagumkan! Perlahan-lahan Xǔxiān yang tadinya tidak sadarkan diri mulai menggerakkan mulut dan jari-jari tangannya. Akhirnya dia membuka matanya dan mulai mengenali siapa yang ada di hadapannya. Ya, Xǔxiān seolah-olah bangkit dari kematiannya.

 

Hari pun berlalu dengan cepatnya. Pasangan suami-isteri Xǔxiān dan Bái Sùzhēn kembali menjalani kehidupan mereka dengan normal. Hari itu tanggal 15 di bulan ketujuh. Sesuai dengan tradisi orang Tionghoa, Xǔxiān pun menyempatkan diri pergi ke kuil untuk mempersembahkan dupa. Dia pergi sendirian ke Kuil Jīnshān dan dengan bersembahyang, dia berharap keluarganya dikaruniai dengan keselamatan dan kesejahteraan. Baru saja kakinya melangkah menuju altar utama, tiba-tiba dia digelandang oleh seorang rahib yang pernah bertemu dengannya beberapa bulan yang lalu. Siapakah rahib itu gerangan? Ya, dia tak lain Bhiksu Fǎ Hǎi. Sang bhiksu bertanya: "Saat perayaan festival perahu naga yang lalu, bukankah engkau telah menyaksikan sendiri, bahwa isterimu itu jelmaan seekor ular putih?" Xǔxiān yang sebenarnya dalam keadaan tidak ngeh dan telah melupakan peristiwa yang mengerikan itu, mendadak kaget diingatkan atas kejadian yang tidak disadari sepenuhnya itu.

 

Saat Xǔxiān masih terbengong-bengong, Bhiksu Fǎ Hǎi yang telah memiliki agendanya sendiri, mulai mengeluarkan taktik liciknya. "Jika engkau membiarkan keadaan ini sampai berlarut-larut, suatu hari nanti engkau akan dimangsa oleh si ular keparat itu." Fǎ Hǎi lalu membujuk Xǔxiān untuk tidak kembali ke rumah, melainkan tinggal di kuil itu, dan dia akan ditahbiskan sebagai seorang calon rahib. Setelah lama mempertimbangkan usulan tersebut, Xǔxiān pun memberikan putusannya: "Rasa cintaku kepada isteriku lebih dalam daripada lautan. Aku menolak menjadi bhiksu dan aku akan tetap pulang, walaupun dia akan membunuhku." Fǎ Hǎi pun murka mendengar penolakan itu, dan dia memerintahkan agar anak buahnya mengurung Xǔxiān dalam sebuah ruangan di biaranya.

 

Telah beberapa hari lewat dan Xǔxiān belum pulang juga, dan hal ini membuat Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng menjadi khawatir. Keduanya pun menyusul ke Kuil Jīnshān. Sesampainya di sana Bái Sùzhēn menanyakan perihal Xǔxiān, yang beberapa hari sebelumnya berkunjung ke biara tersebut. Seorang rahib muda mengaku ada seseorang yang ditahan oleh kepala biara, karena khawatir orang itu akan dicelakai oleh isterinya sendiri, yang sebenarnya adalah sesosok siluman ular. Murkalah Xiǎoqīng mendengar pengakuan itu dan hampir saja dia membunuh rahib muda itu. Mendengar keributan di ruang depan, seketika para rahib di kuil itu segera berkumpul termasuk kepala biara. Setelah bertemu dengan Fǎ Hǎi, Bái Sùzhēn berkata kepadanya: " Wahai kepala biara. Biarkanlah Xǔxiān, suamiku, yang ditahan di kuil ini segera tuan bebaskan. Kami kehilangan dia, lagi pula aku sedang hamil." Fǎ Hǎi hanya memandang Bái Sùzhēn dengan sinis, seraya menjawab: "Xǔxiān telah sadar dan sudah bertobat. Lagi pula dia telah menjadi seorang rahib. Kalian berdua pulang sajalah." Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng merasa tidak puas dan mereka cekcok dengan Bhiksu Fǎ Hǎi.

 

Kedua belah pihak tidak mau saling mengalah, dan sekarang yang menentukan adalah pertarungan dengan senjata masing-masing. Fǎ Hǎi mengeluarkan senjata andalannya yakni Tongkat Dhyana, sementara Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng telah menghunus pedang mereka masing-masing. Segerombolan bhiksu muda berdatangan membantu atasan mereka, dan dengan bersenjatakan golok, tombak, toya, dan pedang pendek, mereka semua mengepung kedua perempuan muda itu. Bái Sùzhēn mengukur kekuatan mereka berdua, lalu dia bersama Xiǎoqīng mundur pelan-pelan menuju bantaran sungai. Dia mencabut sebuah tusuk konde emas dari gulungan rambutnya, dan dengan sebuah kibasan, benda kecil itu telah berubah menjadi sebuah sampan. Setelah keduanya mengapung di perairan sungai, Bái Sùzhēn mengeluarkan sebuah bendera kecil dari saku bajunya. Dimintanya Xiǎoqīng untuk melambai-lambaikan bendera tersebut di atas air. Seolah-olah mengetahui tanda bahaya darurat yang sedang dialami majikan mereka, sang naga penguasa sungai segera memerintahkan anak buahnya; yakni bala tentara udang dan kepiting untuk segera bersiap-siap, guna membantu junjungan mereka.

 

Fǎ Hǎi yang masih berada di depan kuilnya pun tidak mau kalah. Dia memanggil Skanda atau Sāi Jiàn Tuó (塞建陀), alias Sang Bodhisattva yang merupakan penjaga setia biara Buddha; juga para Sangharama atau Jìng Zhǔ (境主), yakni sekelompok dewa yang menjadi penjaga kuil Buddha. Namun keperkasaan sang naga sungai memang luar biasa. Dalam tempo sekejap saja, angin kencang menerpa permukaan sungai. Air bergolak membuat ombak datang bergulung-gulung. Terbawa oleh gelombang pasang itu muncullah selaksa bala tentara udang dan kepiting. Banjir bandang tak terelakkan dan mulai menggenangi Kuil Jīnshān. Fǎ Hǎi terperanjat dan dia memerintahkan anak buahnya menyingkir, menjauh dari biara. Tampaklah sang bhiksu kepala keteteran menghadapi serbuan air bah ini.

 

Di tengah banjir itu praktis perlawanan para rahib anak buah Fǎ Hǎi pun buyar, dan sang bhiksu kepala kini langsung berhadap-hadapan dengan Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng. Keduanya berhasil memojokkan dan menjatuhkan Fǎ Hǎi.  Namun tiba-tiba janin di dalam perut Bái Sùzhēn bergejolak, dan dia merasa sangat kesakitan. Pada saat yang kritis ini Fǎ Hǎi mendapat angin, dan sekarang dia yang berbalik mendesak lawan-lawannya. Bái Sùzhēn kemudian meminta Xiǎoqīng dan bala tentara naga sungai untuk mundur. Karena khawatir akan pembalasan Fǎ Hǎi, dia mengajak Xiǎoqīng agar mereka berdua meninggalkan Zhènjiāng, dan keduanya pun lantas mengungsi ke Hángzhōu.

 

Kita kembali pada Xǔxiān. Walaupun Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng telah mengacak-acak Kuil Jīnshān, Xǔxiān tidak menyadari atau diberitahu tentang kejadian itu. Saat itu dia sedang dikurung di kamar yang terletak di loteng atas, sehingga tidak mengetahui biara itu sempat kebanjiran. Xǔxiān yang malang itu sempat dipenjara di sana selama beberapa bulan. Setiap hari dia meratapi nasibnya yang malang, terpisah dari sang isteri yang amat dicintainya. Namun di satu malam dia sempat menyelinap ke luar, dan dengan secepat kilat dia pulang ke kedai obatnya. Tetapi sesampainya di sana, dia mendapatkan rumahnya telah lama tidak ditinggali orang. Tidak ada petunjuk isteri dan adik iparnya pergi kemana. Takut pelariannya akan membuat Fǎ Hǎi menyusul dan mencarinya, Xǔxiān segera meninggalkan Zhènjiāng, dan dia pun kembali ke rumahnya yang lama di Hángzhōu.

 

Di Hángzhōu Xǔxiān kemudian menetap bersama dengan kakak dan kakak iparnya. Menghabiskan hari-harinya yang lara, Xǔxiān kerap mengunjungi Jembatan Duàn dan Danau Barat. Ketika dipandanginya rerumputan, bunga-bungaan, dan pepohonan, yang masih seperti yang dulu; muncullah kembali rasa cinta dan kangen kepada isterinya. Tak sanggup lagi dia memendam dukacitanya. Kali ini Xǔxiān menjerit sekuat-kuatnya: "Isteriku, dimanakah engkau?" Tak disangka oleh siapa pun, jeritan hati Xǔxiān didengar oleh Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng. Keduanya ternyata saat itu bersalin rupa menjadi ular putih dan ular hijau, dan mereka berdua sedang memantapkan latihan bela diri di dasar Danau Xīhú. Keduanya pun lantas ke luar dari air, menjelma kembali menjadi manusia, dan mencari-cari sumber suara tadi. Di Jembatan Duàn, Xiǎoqīng terlebih dahulu melihat Xǔxiān. Diliputi oleh kegusarannya dia segera mengeluarkan dan menghunus pedangnya. "Xǔxiān, lupakah engkau akan cinta Bái Sùzhēn kepadamu. Engkau telah berkhianat dan malahan menjadi pengikut si Fǎ Hǎi keparat itu. Sekarang aku akan mencabut nyawamu!"

 

Xǔxiān ketakutan dan untunglah Bái Sùzhēn segera mencegah adiknya agar tidak bertindak gegabah. Dia bertanya lagi kepada Xǔxiān: "Engkau telah menjadi rahib di kuil Fǎ Hǎi. Mengapa masih datang ke Jembatan Duàn dan memanggil-manggil aku?" Xǔxiān membela diri dan menjawab: "Siapa bilang aku telah menjadi rahib? Aku waktu itu pergi bersembahyang ke kuil. Tak disangka si Botak Fǎ Hǎi menangkap dan memenjarakanku. Mujurlah aku ketika seorang bhiksu muda mau menolongku, dan aku bisa kabur dari sana. Aku sangat mengkhawatirkan keadaan kalian." Setelah mendengar penuturan Xǔxiān, keduanya memahami duduk persoalan yang sebenarnya. Bái Sùzhēn lalu mengaku bahwa dirinya sebetulnya adalah sesosok siluman ular, namun karena begitu besar cintanya kepada kekasihnya, dia mau menikahinya. Xǔxiān pun tulus mencintai isterinya karena telah melihat sendiri, begitu besar pengorbanan yang telah dilakukannya. Kedua insan yang sudah mengetahui rasa cinta dan ketergantungan yang besar di antara mereka, kemudian menguatkan ikrar mereka untuk tetap bersama di kehidupan ini. Tiba-tiba Bái Sùzhēn merasa perutnya sakit sekali. Xǔxiān pun segera membopong isterinya ke rumah kakaknya. Tak berapa lama kemudian Bái Sùzhēn melahirkan seorang anak laki-laki, yang diberi nama Xǔ Mèngjiāo (许梦蛟).

 

Hampir satu bulan waktu berlalu, Xǔxiān, Bái Sùzhēn, dan Xiǎoqīng, bersiap-siap merayakan peringatan satu bulan kelahiran Mèngjiāo. Namun tak disangka, musibah akan datang menimpa keluarga bahagia itu. Di pagi itu, tidak ada angin tidak ada hujan, tahu-tahu Bhiksu Fǎ Hǎi sudah berada di depan rumah mereka. Setelah Xǔxiān membuka pintu, dia menghardik: "Untuk apa kalian merayakan kelahiran bocah itu? Genap satu bulan setelah melahirkan anaknya, siluman ular itu akan memangsamu!" Bukan alang kepalang murkanya Xǔxiān melihat musuh bebuyutan mereka sudah berada di depan rumahnya. Bái Sùzhēn yang telah turun ke bawah pun memaki Fǎ Hǎi: "Engkau telah membuatku banyak menderita. Sekarang kita tuntaskan perseteruan ini."

 

Fǎ Hǎi berani menantang musuh besarnya karena dia telah membawa senjata pusakanya, yang dinamakan Mangkuk Sedekah Emas. Sewaktu kedua musuh bebuyutan ini berhadap-hadapan, Fǎ Hǎi segera melemparkan mangkuk itu ke atas kepala Bái Sùzhēn. Mangkuk Sedekah Emas itu pun berpusar di udara dan mengeluarkan cahaya aneh. Tubuh Bái Sùzhēn menjadi limbung dan dia pun tersungkur ke atas tanah. Xǔxiān berupaya membangkitkannya tetapi dia tidak berhasil. Xiǎoqīng segera menghunus pedangnya dan dia bersiap untuk menyerang Fǎ Hǎi. Tetapi khawatir adiknya akan ikut cidera, Bái Sùzhēn memerintahkan Xiǎoqīng untuk segera angkat kaki. "Cepat tinggalkan tempat ini. Lain kali engkau balaskan sakit hati kakakmu ini!" Xiǎoqīng pun segera mundur, menaiki awannya, dan seketika itu dia lenyap dari pandangan.

 

Fǎ Hǎi tertawa terbahak-bahak dan dia berkata kepada Xǔxiān: "Siluman ular ini akan aku kurung di dalam Pagoda Léi Fēng Tǎ (雷峰塔). Dia tidak akan bisa ke luar untuk selamanya." Xǔxiān membentak: "Hari ini aku baru sadar. Makhluk yang suka makan orang bukanlah isteriku, tetapi ternyata engkau. Dasar bhiksu botak sialan. Engkau pantas mati!" Bái Sùzhēn sudah sangat kesakitan. Di saat itu dia minta agar bisa dipertemukan sejenak dengan bayi kecilnya. Setelah itu Fǎ Hǎi berseru: " Mangkuk Sedekah Emas!" Ajaib!! Seketika itu juga, benda pusaka itu memancarkan sinar terangnya sekali lagi. Terlihat tubuh Bái Sùzhēn mengecil dan dia menjerit kesakitan. Sesaat kemudian tubuhnya lenyap tersedot oleh mangkuk ajaib itu. Xǔxiān sambil menggendong puteranya berusaha mengejar Fǎ Hǎi. Namun rahib itu sudah beranjak jauh, sambil membawa Mangkuk Sedekah Emas.

 

Xiǎoqīng yang kabur pada pertempuran terakhirnya mengungsi kembali ke Gunung Éméi. Di sana dia kembali bertapa dan menggembleng dirinya. Sepuluh tahun kemudian, kekuatan dan kesaktiannya telah bertambah berkali-kali lipat. Suatu hari setelah memberitahu Xǔxiān, dia kembali menyatroni Pagoda Léi Fēng Tǎ. Di sana Fǎ Hǎi yang sudah mengetahui kedatangannya telah mempersiapkan diri dengan berbekal jubah bhiksu kasaya-nya, Tongkat Dhyana, dan Mangkuk Sedekah Emas. Keduanya pun tidak berbasa-basi lagi. Fǎ Hǎi yang mengenakan jubah sakti mulai menyerang Xiǎoqīng dengan kedua senjata andalannya. Pertempuran berjalan seru dan kali ini Fǎ Hǎi keteteran. Kedua senjata pusakanya berhasil direbut oleh musuhnya. Dalam keadaan terdesak dia pun tidak dapat mempertahankan jubahnya. Akhirnya Fǎ Hǎi pun mengambil langkah seribu.

 

Xiǎoqīng meloloskan sabuk pinggang hijaunya, lalu terbang mengelilingi bagian atas pagoda itu. Lalu diikatnya bagian puncak menara itu erat-erat. Kemudian dengan satu sentakan kuat dan disertai perapalan mantra-ajaibnya, robohlah Pagoda Léi Fēng Tǎ. Tak lama kemudian, muncullah Bái Sùzhēn dari puing-puing menara itu. Kedua insan tersebut, kakak beradik, saling berpelukan merayakan kebebasan si ular putih. Xǔxiān pun datang sambil menggandeng Mèngjiāo, yang kini telah berumur sepuluh tahun. Ketiga orang ini, Bái Sùzhēn, Xǔxiān, dan Mèngjiāo, berlutut di hadapan Xiǎoqīng sambil mengucapkan terima kasih. Awan putih beriak-riak di langit, angin bertiup sepoi-sepoi, burung-burung berkicau berbalas-balasan. Alam semesta pun menyambut gembira bersatunya keluarga Xǔxiān dan Bái Sùzhēn. Ribuan tahun kemudian para pelancong yang mengunjungi Danau Xīhú dan Kuil Jīnshān di Zhènjiāng, selalu saling menceritakan kembali kisah cinta kedua sejoli itu.

 

 

(Tamat)

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/240125


Kamis, 11 Januari 2024

SILUMAN ULAR PUTIH

 

 

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

 

 

Di puncak Gunung Éméi (峨眉山,Éméi Shān) atau disebut juga Gunung Barat yang terletak di Provinsi Sìchuān (四川) bersemayamlah seekor ular putih dan seekor ular hijau. Setelah menjalani tapabrata selama ratusan tahun, berubahlah wujud mereka menjadi dua orang gadis cantik. Sang Ular Putih bersalin-rupa menjadi seorang gadis yang bernama Bái Sùzhēn (白素贞), sedangkan si Ular Hijau menjadi seorang gadis yang bernama Xiǎoqīng (小青).

 

Waktu itu Tiongkok memasuki musim semi dan di pagi hari yang cerah itu, Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng berdandan dan menyamar bak seorang wanita kaya yang didampingi oleh dayang perempuannya. Mereka turun dari gunung yang selama ini menjadi lokasi petapaannya menuju ke daerah Hángzhōu (杭州). Di sana keduanya bertamasya ke Jembatan Duan (段家桥, Duàn Jiā Qiáo), dan Danau Xīhú (西湖) atau Danau Barat. Saat berjalan-jalan menikmati pemandangan, keduanya berpapasan dengan seorang pemuda. Pria itu bernama Xǔxiān (许仙), yang bekerja sebagai seorang peramu di sebuah kedai obat. Kebetulan hari itu bertepatan dengan Hari Raya Qīngmíng (清明, Hk.: Cengbeng). Sesuai tradisi, Xǔxiān pun berziarah dan membersihkan makam orang tuanya. Sepulang berziarah dia melewati Jembatan Duàn, sekaligus dia bermaksud menikmati pemandangan permai di daerah itu.

 

Begitu berpapasan dan memandang ketampanan Xǔxiān, Bái Sùzhēn langsung terpesona dan jatuh hati kepadanya. Muncullah gagasan cemerlang di benaknya, ketika dia melihat Xǔxiān yang datang sedang membawa sebuah payung. Dikeluarkannya sebuah saputangan dari saku gaunnya, lalu benda itu dikibaskannya ke arah langit dan mulutnya merapalkan sebuah mantra. Sekonyong-konyong angin dingin menerpa mereka, awan hitam datang bergulung-gulung, dan langit pun menjadi gelap. Tidak menunggu lama, hujan pun turun dengan derasnya.

 

Seketika itu juga orang-orang yang sedang pelesiran berhamburan mencari tempat berteduh. Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng pun ikut berlari dan keduanya berteduh di bawah sebatang pohon. Xǔxiān segera membuka payungnya, dan seketika itu juga dilihatnya dua orang perempuan muda sedang terjebak hujan dan kedinginan. Dia amat terpana melihat kecantikan Sùzhēn dan Xiǎoqīng. Kemudian dia menghampiri dua nona itu, dan menawarkan agar payungnya bisa dipakai oleh mereka. Bái Sùzhēn menerima payung itu sambil mengungkapkan perasaan terima kasihnya. "Nona-nona sekalian, kalian hendak pergi ke mana?" Xiǎoqīng segera menanggapi, "Kami baru saja pulang berziarah ke makam majikanku, orang tua nonaku ini. Kami tidak mengira kalau akan turun hujan selebat ini, dan sekarang kami khawatir tidak bisa cepat-cepat pulang!"

 

Xǔxiān pun menawarkan jasanya untuk mencarikan perahu yang dapat membawa mereka pulang ke rumah. Beruntunglah mereka karena hujan lebat sudah reda. Dengan berhujan-hujan Xǔxiān pergi ke bantaran danau, dan tidak berapa lama kemudian sebuah perahu datang menghampirinya. Xǔxiān segera menjemput keduanya, lalu bersama Bái Sùzhēn, dan Xiǎoqīng mereka bertiga segera melangkah naik ke perahu itu. Xǔxiān berkata kepada tukang perahu itu, "Tolong Bapak antarkan dulu kedua Nona ini, setelah itu baru mengantar saya pulang. Saya yang membayar semua ongkos perahunya."

 

Setelah ketiga penumpangnya duduk dalam bilik kecil di atas perahu, tukang perahu itu mulai mengayunkan kedua dayungnya. Sambil mengeluarkan serulingnya, sesaat kemudian terdengar irama yang mendayu-dayu. Si tukang perahu pun bernyanyi: "… angin dan hujan di atas danau melaju bersama perahu, ke ujung dunia sekali pun kita selalu bersama sebantal seperaduan … ." Suasana di tengah danau itu menghadirkan romantisme, Sùzhēn dan Xǔxiān yang sedang terbuai mendengarkan nyanyian itu diam-diam saling mencuri pandang. Bái Sùzhēn memperhatikan Xǔxiān yang begitu ramah dan jujur terhadap orang lain, lalu bertanyalah dia tentang kisah hidupnya. Xǔxiān pun dengan senang hati menceritakannya. "Ayah dan ibuku meninggal dunia ketika aku masih kecil. Lalu kakak perempuankulah yang mengasuh aku hingga dewasa. Sekarang aku bekerja meramu obat di sebuah kedai obat."

 

Xiǎoqīng yang melihat kakaknya sudah jatuh hati kepada Xǔxiān segera mewakili kakaknya untuk menceritakan kisah hidupnya. "Nonaku berasal dari keluarga yang bermarga Bái. Dia dipanggil Sùzhēn. Orang tuanya sudah lama meninggal dunia, jadi tinggallah dia sebatang kara. Aku sendiri adalah pembantunya." Kisah duka riwayat hidup Bái Sùzhēn serta paras cantiknya membuat Xǔxiān jatuh hati. Jadi lengkaplah dua sejoli itu bertemu untuk pertama kalinya dan mereka saling jatuh cinta pada pandangan pertama.

 

Pendayung perahu telah mendekatkan perahunya di bantaran danau dekat rumah Bái Sùzhēn. Xiǎoqīng sudah mengembalikan payung yang masih dipegangnya kepada Xǔxiān, tetapi Bái Sùzhēn tak ingin membiarkan Xǔxiān pergi begitu saja. Dia segera melambaikan saputangannya kembali ke arah langit, dan hujan pun turun kembali. Xǔxiān lalu terburu-buru menyerahkan payungnya sekali lagi kepada Bái Sùzhēn, sambil berkata: "Nona, pakai dan bawa saja payungnya, besok saya akan datang kembali untuk mengambilnya." Bái Sùzhēn segera menangkap janji itu, seraya berkata: "Silakan Tuan datang kembali besok mengambil payung. Aku tinggal di rumah yang beratap merah itu di sebelah sana. Tidak jauh dari tepi danau ini."

 

Keesokan sorenya, Xǔxiān telah berada di pekarangan depan rumah Bái Sùzhēn yang beratap merah. Xiǎoqīng dengan tergopoh-gopoh membukakan pintu, lalu dia sibuk menyambut dan mempersilakannya duduk. Alangkah bahagianya hati Bái Sùzhēn begitu menyadari pemuda itu menepati janjinya untuk mengunjungi mereka. Dengan senyum gembira Bái Sùzhēn mempersilakan tamunya masuk ke ruang minum teh. Sambil menikmati hidangan yang lezat yang telah disediakan oleh Xiǎoqīng, Bái Sùzhēn dan Xǔxiān bercakap-cakap sambil makan kue dan menikmati teh yang baru diseduh. Keduanya sebetulnya ingin mengungkapkan isi hati masing-masing, tetapi rasa sungkan dan malu membuat mereka hanya mencuri pandang satu sama lain.

 

Xiǎoqīng yang menyaksikan sang pemuda dan gadis itu bersikap kaku segera masuk ke ruang perjamuan itu dan dia menghampiri Xǔxiān. Dengan polosnya dia langsung bertanya: "Tuan Xǔ, tahun ini berapakah usia Anda? Dan apakah Anda sudah menikah?" Xǔxiān pun dengan malu-malu menjawab: "Tahun ini usiaku dua-puluh-dua tahun, dan aku belum menikah." Xiǎoqīng pun tersenyum manis dan menimpalinya: "Jika demikian, Anda sungguh beruntung Tuan Xǔ! Nonaku dan Tuan ternyata seumur, dan dia juga belum menikah. Dia kemarin bercerita kepadaku, dia ingin sekali menikah dan menjadi isteri Tuan. Tetapi, apakah Tuan Xǔ setuju dengan keinginannya?"

 

Terbang melayang hati Xǔxiān mendengar bahwa Bái Sùzhēn ternyata masih lajang dan bahkan berkeinginan memilih dia sebagai suaminya. Ingin sekali dia langsung menyatakan persetujuannya, namun begitu menyadari bahwa dirinya hanya bisa mencukupi nafkahnya untuk menghidupi dirinya sendiri, dia pun merasa harus tahu diri. Dia lalu berkata kepada Xiǎoqīng: "Terima kasih atas kemurahan Nona Bái yang ingin memilihku sebagai suaminya, tetapi aku tidak memiliki cukup uang untuk menghidupi tiga orang sekaligus kelak."

 

Xiǎoqīng pun segera menjawab: "Hal seperti itu tidak perlu dikhawatirkan, Tuan. Mendiang orang tua Nonaku sebetulnya telah meninggalkan banyak warisan. Apalagi majikanku memiliki keterampilan mengobati orang. Jadi jika nanti kalian menjadi suami-isteri, Nonaku yang akan menjadi tabib-nya, sedangkan Tuan bisa meramu dan menjual obatnya. Nah jika keadaannya sudah memadai, bukankah kita tidak perlu lagi mengkhawatirkan soal uang?"

 

Xǔxiān pun merasa lega mendengar penuturan Xiǎoqīng, dan dia pun kemudian memutuskan: "Baiklah, aku terima permintaan kalian. Tetapi tunggulah barang dua atau tiga hari lagi. Aku datang hari ini tanpa membawa hadiah, apalagi menyiapkan mas-kawinnya." Xiǎoqīng menyela, "tak perlu Tuan membawa hadiah atau pun mas kawin lagi. Anggaplah payung ini yang menjadi mas kawin terbaik untuk pernikahan kalian. Hari ini aku sudah memeriksa buku-ramalan, dan ternyata hari ini merupakan hari baik untuk melangsungkan sebuah perkawinan. Aku akan segera menyiapkan perlengkapan untuk upacaranya."

 

Xiǎoqīng segera menuju ruang tamu yang terletak di bagian muka rumah. Hanya dengan mengibaskan tangannya, seketika itu pula meja-abu keluarga telah dipenuhi dengan barang sesajian, lengkap dengan sepasang lilin merah. Kibasan tangan berikutnya membuat keperluan perkawinan di ruangan itu lengkaplah sudah. Dan gerakan tangan yang Xiǎoqīng yang ketiga kalinya menghadirkan sebuah poster besar berwarna merah bertuliskan aksara "kebahagiaan" (喜, Xǐ).

 

Xiǎoqīng kemudian membimbing dan mengarahkan agar kedua mempelai bisa melakukan prosesi ke ruang tamu. Di sana keduanya mengambil dupa, membakarnya, dan mempersembahkannya ke pedupaan yang ada di atas altar. Setelah bersujud disertai doa untuk bersama-sama sehidup-semati di hadapan Langit dan Bumi, otomatis Bái Sùzhēn dan Xǔxiān telah resmi menjadi pasangan suami-isteri.

 

Beberapa waktu setelah pernikahannya, Xǔxiān, Bái Sùzhēn dan Xiǎoqīng meninggalkan Hángzhōu dan mereka pindah ke daerah Zhènjiāng (镇江). Ketiganya membuka toko obat di tempat tinggal mereka yang baru. Pada saat itu Zhenjiang sedang dilanda wabah penyakit yang sulit diatasi oleh Pemerintah setempat, dan banyak orang yang tertular kemudian tidak tertolong lagi. Guna membantu menyembuhkan banyak orang yang terserang penyakit ganas tersebut, Xǔxiān dan Bái Sùzhēn harus bekerja keras menangani pasien dan meramu obat dalam jumlah yang amat banyak. Dengan upaya yang tidak kenal lelah banyak pasien yang menderita ini berhasil disembuhkan. Sebagian besar pasien yang dibantu oleh pasangan suami-isteri ini ternyata berasal dari masyarakat kelas bawah. Untuk berobat pun mereka tidak memiliki uang yang cukup. Sebagai gantinya mereka berdua hanya menerima ucapan terima kasih yang tulus dari para penduduk dusun. Masyarakat pun mengeluk-elukan pasangan Xǔxiān dan Bái Sùzhēn, bagaikan dewa penolong yang menyembuhkan banyak orang dengan tulus dan tanpa pamrih.

 

Namun kemashyuran keduanya justru membawa masalah. Ada seorang bhiksu bernama Fǎ Hǎi (法海), tinggal di Kuil Jīnshān (金山寺, Jīnshān Sì), yang letaknya tidak jauh dari kediaman Xǔxiān dan Bái Sùzhēn. Fǎ Hǎi adalah rahib bertemperamen buruk dan pendendam, namun memiliki kesaktian yang tinggi. Fǎ Hǎi yang mampu meneropong kehidupannya yang lampau ternyata mengingat Bái Sùzhēn, yang masih dianggap sebagai musuh bebuyutan. Pada suatu hari Fǎ Hǎi datang ke kedai obat Xǔxiān. Setelah menemui sang pemilik kedai, tanpa basa basi Fǎ Hǎi memperingatkan Xǔxiān: "Apakah engkau tahu siapa itu isterimu yang sebenarnya? Dia adalah sesosok siluman ular. Suatu hari kelak dia akan memangsamu. Jadi cepatlah engkau kabur dari tempat ini sekarang juga."

 

Mendengar cerita rahib tersebut Xǔxiān menjadi tersinggung dan geram. Lalu dia berkata: "Janganlah paman ngomong sembarangan. Isteriku orang yang baik dan murah hati, dan dia pasti bukan siluman. Sekarang Anda cepat-cepat minggatlah dari kedai obatku!" Sang rahib pun melanjutkan ancamannya: "Nanti pada saat datangnya Hari Raya Perahu Naga (端午节, Duānwǔ Jié; diindonesiakan: hari raya "peh-cun") yang akan datang, kamu akan menyaksikannya sendiri, isterimu bersalin rupa menjadi seekor ular putih." Segera setelah itu, sang rahib pun berlalu. Xǔxiān sama sekali tidak menggubris peringatan bhiksu Fǎ Hǎi. Selama ini dia menganggap isterinya adalah perempuan baik-baik, dan dia mengira sang rahib sedang memfitnah isterinya.

 

Waktu berlalu dengan cepatnya dan esok hari akan tibalah Hari Raya Perahu Naga. Seperti yang menjadi tradisi masyarakat Tionghoa, Xǔxiān turut memperingatinya dengan cara menghias rumah dengan daun jeringau (菖蒲, Chāngpú) dan mugwort (艾蒿, àihāo) serta tidak ketinggalan dia telah membeli anggur Xiónghuáng (雄黄酒, Xiónghuáng Jiǔ). Dipercaya anggur jenis ini ampuh untuk mengusir roh jahat. Sementara itu Bái Sùzhēn memanggil Xiǎoqīng dan mereka secara diam-diam berdiskusi satu sama lain. "Besok adalah Hari Perayaan Perahu Naga, dan saat itulah puncak kelemahan dalam hidup kita. Cepatlah engkau pergi bersembunyi ke puncak gunung!" Xiǎoqīng balik bertanya, "kakak sendiri juga akan ikut aku?" Sùzhēn menjawab: "Jika kita pergi bersama, aku khawatir Xǔxiān akan curiga terhadap kita berdua." Setelah memikirkan dengan berbagai risiko yang ada, Xiǎoqīng masih tetap membujuk kakaknya. "Bukankah lebih baik kita pergi menghindar bersama-sama?" Bái Sùzhēn akhirnya memutuskan: "Cepatlah engkau pergi, aku akan tetap berhati-hati dan aku bisa menjaga diri." Tanpa banyak omong lagi, Xiǎoqīng pun merapalkan mantra dan dalam sekejap dia menjelma menjadi seberkas asap hijau, yang serta merta menerobos jendela, dan akhirnya dia ke luar melayang menuju puncak gunung.

 

Bagi bangsa siluman saat peh-cun adalah saat yang paling genting dalam hidup mereka. Orang banyak tahu bahwa pada tengah hari energi semesta begitu besar, sehingga mereka dengan mudahnya memberdirikan telur di atas tanah. Kejadian itu tidak akan terjadi di saat lainnya. Bagi para siluman inilah saatnya mereka bersembunyi ke tempat yang aman, dan mereka bisa kembali setelah tengah-hari peh-cun telah berakhir.

 

Benar saja kekhawatiran Xiǎoqīng akan mendekati kenyataan. Keesokan paginya setelah dia mengungsi ke puncak gunung, Xǔxiān memanggil isterinya. Dia mengajak Bái Sùzhēn untuk bertamasya, dan menjelang tengah hari biasanya banyak orang pergi ke sungai untuk menyaksikan lomba perahu naga. Bái Sùzhēn dengan sopan menolaknya, dan memberitahu suaminya bahwa dia sedang hamil. Xǔxiān yang baru mendengar kabar istrinya sedang mengandung, hatinya pun berbunga-bunga, dan dia berkata: "Jika demikian, kita wajib merayakan berita baik ini dengan sedikit pesta di rumah sendiri.” Xǔxiān pun sibuk menyediakan hidangan istimewa untuk merayakan hari besar itu, dan tidak lupa dia sudah menuangkan anggur Xiónghuáng ke dalam dua buah cangkir. Setelah mereka menyantap bakcang yakni hidangan khas hari itu, Xǔxiān pun mengajak isterinya bersulang. Bái Sùzhēn menolak untuk minum anggur, karena menyadari jika sampai dia menenggak minuman terkutuk itu, pasti hal yang mengerikan akan terjadi. Xǔxiān tetap memaksanya, "Hari ini adalah hari Perayaan Perahu Naga. Tidak baik jika kita tidak minum arak. Semua orang harus minum anggur walaupun hanya seteguk." Sùzhēn menjawab: "Aku sedang hamil, arak Xiónghuáng ini tidak baik untuk janin yang ada di dalam rahimku." Xǔxiān tertawa terbahak-bahak mendengar alasan isterinya. "Di rumah ini kita bertiga adalah peramu obat. Ahli obat paham kalau arak Xiónghuáng bermanfaat mengusir pengaruh roh jahat, dan pula memperkuat janin. Jika engkau minum hingga dua cangkir pasti akan terasa khasiatnya!"

 

Takut mengecewakan suaminya, Bái Sùzhēn meyakinkan dirinya, bahwa setelah bertapa ratusan tahun pastilah dia sudah kebal meminum anggur itu. Dia pun memaksa untuk minum seteguk. Betapa terperanjatnya dia, baru saja arak itu melewati kerongkongannya, tiba-tiba kepalanya menjadi pening, tubuhnya limbung, dan dia terjatuh ke lantai lalu pingsan. Terkejut melihat kejadian itu, Xǔxiān pun segera membopong isterinya yang sudah tak sadarkan diri itu ke tempat tidur. Dia pun tergopoh-gopoh menuju ruang depan untuk mencari obat guna menyadarkan isterinya. Begitu mendapatkan obatnya, dia segera kembali ke kamar tidur. Sesampainya di tepi ranjang, dia menyibakkan tirai kelambu yang menutupi peraduan mereka. Isterinya telah lenyap, dan betapa kagetnya ketika dia menyaksikan makhluk yang ada di atas tempat tidur. Seekor ular besar berwarna putih yang tampak sedang mabuk tengah melingkarkan tubuhnya di atas ranjang! Xǔxiān pun terguncang jiwanya dan disertai teriakan "Auw!!!" dia pun jatuh pingsan, dan tubuhnya menggelosor ke lantai.

 

Petang harinya Xiǎoqīng kembali ke rumah. Begitu mendapatkan Xǔxiān sedang tidak sadarkan diri di dalam kamar tidurnya sendiri, dia pun menjerit-jerit histeris. Teriakannya segera menyadarkan Bái Sùzhēn dari pingsannya. Setelah mengetahui bahwa tidak sadarnya Xǔxiān karena akibat perbuatannya, Bái Sùzhēn pun menangis tersedu-sedu. Keduanya mencoba membangunkan Xǔxiān dari pingsannya, namun setelah mencekokkan berbagai ramuan obat yang mereka miliki, upaya mereka berakhir sia-sia. Bái Sùzhēn tahu jika orang tidak siuman dari pingsannya, dia harus mencari semacam tanaman obat ajaib yang bisa membangunkan kembali orang yang sedang semaput. Tanaman obat ajaib itu hanya ada di Gunung Kūnlún (昆仑山, Kūnlún Shān).

 

Dia segera memutuskan untuk mencari tanaman obat ajaib itu, namun perjalanan ke sana amat berbahaya. Xiǎoqīng mengingatkan kakaknya: "Yang memiliki tanaman obat ajaib itu adalah Sang Bangau Putih, yang merupakan musuh bebuyutan kita. Jika dia tidak mau memberikannya, engkau harus menang bertempur melawannya." Dinasehati seperti itu, tekad Bái Sùzhēn tetap tidak tergoyahkan. "Demi menyelamatkan nyawa suamiku, gunung pun akan ku-daki, lautan api pun ku-seberangi. Dan jika aku harus tewas di tangan Bangau Putih serta Xǔxiān tidak sampai tertolong, engkau harus membawa jenazah Xǔxiān ke Gunung Barat."

 

Kita akan melanjutkan kisah ini pada artikel yang akan datang.

 

 

(Bersambung)

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/240111