Rabu, 10 Agustus 2022

AMBEDKAR


 

Pada kesempatan ini penulis akan mengajak para pembaca mengikuti kisah hidup seorang reformis sosial dan pemimpin politik India yang lahir menjelang pergantian abad ke-20 yang lampau. Tokoh kita ini dikatakan oleh sementara orang sebagai sosok yang sangat kontroversial di negara asalnya, meskipun kenyataannya tidak demikian. Kontribusinya di bidang ekonomi luar biasa dan dia akan dikenang oleh orang India untuk selamanya.

 

Bhimrao lahir pada 14 April 1891 di kota dan markas militer Mhow di Negara Bagian Madhya Pradesh. Dia adalah anak ke-14 dan terakhir dari Ramji Maloji Sakpal, seorang perwira tentara berpangkat Subedar, dan ibu yang bernama Bhimabai Sakpal, putri Laxman Murbadkar. Keluarganya berlatar belakang Marathi dari kota Ambadawe di distrik Ratnagiri, sekarang berada di Maharashtra modern. Bhimrao lahir dalam lingkungan kasta Mahar atau golongan Dalit, yang diperlakukan sebagai The Untouchable atau kelompok orang yang tidak-boleh-disentuh, serta mereka mengalami diskriminasi sosial-ekonomi yang keji. Tempat kelahiran Bhimrao kelak dinamakan sebagai Dr. Ambedkar Nagar.

 

Nenek moyang Bhimrao telah lama bekerja untuk kepentingan Korps British East India Company (Firma Dagang Hindia-Timur Britania, serupa dengan Firma Dagang Hindia-Timur Belanda atau VOC di Indonesia yang termasyhur itu), dan ayahnya bertugas di Angkatan Darat India-Inggris di Garnisun Militer Mhow. Meskipun mereka bersekolah formal, Bhimrao dan anak-anak golongan The Untouchable lainnya dipisahkan dan hanya diberi sedikit perhatian atau bantuan oleh guru-guru mereka. Mereka tidak diperbolehkan duduk di dalam kelas. Ketika mereka perlu minum air, seseorang dari kasta yang lebih tinggi harus menuangkan air minum dari ketinggian tertentu, karena mereka tidak boleh menyentuh air atau bejana yang berisi air itu. Tugas ini biasanya dilakukan oleh seorang petugas sekolah, dan jika petugas tidak berada di tempat maka mereka semua terpaksa menahan dahaga, sampai ada seseorang yang memberikan mereka air.

 

Apa itu yang disebut sebagai The Untouchable itu? Pengertian untouchable atau  'yang tak-boleh disentuh', memiliki makna lain yakni Kaum Hina-Dina, sampah masyarakat, orang di luar kasta, atau disebut 'Paria'. Adanya kasta membentuk struktur dan hierarki dalam masyarakat India sejak zaman kuno. Khusus untuk Paria, mereka adalah kaum yang paling terintimidasi, dibandingkan dengan Kasta Sudra, yakni golongan terendah dari empat kasta yang ada di India. Diskriminasi itu begitu kuatnya sehingga haram hukumnya jika ada seorang dari kasta tinggi melakukan kontak-tubuh dengan seorang paria. Di zaman dahulu, seorang brahmana (yaitu orang dari kasta tertinggi) jika ingin bepergian di tengah keramaian, harus menunggu hingga waktu menjelang tengah hari. Anda tahu apa sebabnya? Itu karena di saat tengah hari matahari terletak di atas kepala, jadi tidak timbul bayangan di tanah. Sang brahmana itu takut sekali jika sampai ada bayangan tubuh seorang paria menyentuh tubuhnya. Jadi dia bukan hanya takut tersentuh tubuhnya, tetapi juga tidak mau terkena bayangannya. Aneh sekali, tapi nyata!

 

Ramji Sakpal pensiun pada tahun 1894 atau saat Bhimrao berusia tiga tahun, dan keluarganya pindah ke Satara dua tahun kemudian. Tak lama setelah mereka pindah, ibunda Bhimrao meninggal dunia. Anak-anak diasuh oleh bibi dari pihak ayah mereka dan mereka semua hidup dalam keadaan sulit. Tiga putera – Balaram, Anandrao dan Bhimrao – serta dua puteri – Manjula dan Tulasa – bisa selamat dari kesulitan hidup yang mereka jalani. Dari saudara-saudaranya, hanya Bhimrao yang lulus ujian sekolah dasar dan melanjutkannya ke sekolah menengah. Ketika Bhimrao bersekolah di sana nama keluarga aslinya adalah Sakpal, tetapi ayahnya mendaftarkan nama anaknya sebagai Ambadawekar, yang berarti dia berasal dari desa asalnya 'Ambadawe' di distrik Ratnagiri. Guru Brahmana Marathi-nya, Krishnaji Keshav Ambedkar, mengubah nama keluarganya dari 'Ambadawekar' menjadi nama keluarganya sendiri 'Ambedkar', dan nama ini resmi dicantumkan dalam ijazah sekolahnya. Dengan demikian Bhimrao sekarang kita panggil dengan sebutan Ambedkar, dengan nama lengkap: Bhīmrāo Rāmjī Āmbēḍkar.

 

Pada tahun 1897, keluarga Ambedkar pindah ke Mumbai (dahulu: Bombay) tempat Ambedkar menjadi satu-satunya warga Dalit yang terdaftar di Elphinstone High School. Pada tahun 1906, ketika dia berusia sekitar 15 tahun, Ambedkar menikahi seorang gadis berusia sembilan tahun, Ramabai. Perkawinan itu sesuai dengan adat yang berlaku saat itu, dan diatur oleh orang tua pasangan masing-masing.

 

Pada tahun 1907, Ambedkar lulus ujian matrikulasi dan pada tahun berikutnya dia masuk Elphinstone College, yang berafiliasi dengan Universitas Bombay, menjadi mahasiswa pertama dari kasta Mahar yang pernah menuntut ilmu di sana. Ketika dia lulus ujian standar bahasa Inggris tingkat keempat, orang-orang di komunitasnya ingin merayakannya karena mereka menganggap bahwa dia telah mencapai 'ketinggian yang luar biasa'; yang menurut mereka 'hampir tidak dapat dibandingkan dengan keadaan pendidikan di komunitas lain'. Sebuah upacara publik diadakan oleh komunitasnya, untuk merayakan keberhasilannya, dan pada kesempatan inilah dia diberikan buku biografi Sang Buddha oleh Dada Keluskar, penulis dan seorang teman keluarga. Di tahun 1912, dia memperoleh gelar sarjana di bidang ekonomi dan ilmu politik dari Universitas Bombay, dan bersiap untuk bekerja di pemerintah negara bagian Baroda. Istrinya baru saja memindahkan keluarga mudanya dan mulai bekerja ketika dia harus segera kembali ke Mumbai untuk menemui ayahnya yang sakit, yang kemudian meninggal pada 2 Februari 1913.

 

Pada tahun 1913, pada usia 22 tahun, Ambedkar dianugerahi Beasiswa Negara Baroda sebesar £11,50 per bulan selama tiga tahun di bawah skema yang didirikan oleh Sayajirao Gaekwad III, yang dimaksudkan untuk memberikan kesempatan bagi pendidikan pascasarjana di Universitas Columbia di Kota New York. Dia lulus ujian MA pada Juni 1915, jurusan ekonomi, dan mata pelajaran lain dari Sosiologi, Sejarah, Filsafat, dan Antropologi. Dia mempresentasikan tesis: "Perdagangan India Kuno". Pada tahun 1916, dia menyelesaikan tesis master keduanya, "Dividen Nasional India – Sebuah Studi Sejarah dan Analitis", untuk gelar MA kedua. Pada tanggal 9 Mei, ia mempresentasikan makalah Kasta di India: "Mekanisme, Kejadian dan Perkembangannya" Ambedkar menerima gelar Ph.D. bidang ekonomi di Columbia University pada tahun 1927.

 

Karena Ambedkar didukung oleh beasiswa Negara Bagian Baroda, dia terikat untuk melayaninya. Dia diangkat sebagai Sekretaris Militer untuk Gaikwad tetapi harus berhenti dalam waktu singkat. Setelah itu, dia mencoba mencari cara untuk mencari nafkah bagi keluarganya yang terus berkembang. Dia bekerja sebagai guru privat, sebagai akuntan, dan mendirikan bisnis konsultasi investasi, tetapi usaha-usahanya itu gagal ketika kliennya mengetahui bahwa dia berasal dari golongan paria. Pada tahun 1918, ia sudah diangkat menjadi Profesor Ekonomi Politik di Sydenham College of Commerce and Economics di Mumbai. Meskipun ia berhasil mendidik mahasiswanya dengan baik, profesor lain keberatan untuk berbagi kendi air minum dengan dia. Jadi walaupun dia ditunjuk sebagai dosen di perguruan tinggi terkemuka, diskriminasi mayoritas golongan Hindu terhadap kaum Dalit tetaplah dominan.

 

Ambedkar juga piawai dalam bidang hukum. Pada 1926, ia berhasil membela tiga pemimpin bukan-brahmana yang menuduh komunitas Brahmana merusak India, dan kemudian tiga pemimpin itu dituntut atas pencemaran nama baik. Kemenangan di pengadilan itu turut membesarkan nama Ambedkar. Saat berpraktik hukum di Pengadilan Tinggi Bombay, ia mencoba mempromosikan pendidikan kepada kalangan the untouchable. Upaya terorganisir pertamanya adalah pendirian lembaga pusat Bahishkrit Hitakarini Sabha, yang dimaksudkan untuk mempromosikan pendidikan dan peningkatan sosial-ekonomi, serta kesejahteraan bagi "orang buangan". Untuk membela hak-hak Dalit, ia menerbitkan sejumlah majalah seperti 'Mook Nayak', 'Bahishkrit Bharat', dan 'Equality Janta'.

 

Pada tahap perjuangan selanjutnya, Ambedkar menulis serangkaian rekomendasi terpisah bagi Konstitusi India masa depan. Pada tahun 1927, Ambedkar telah memutuskan untuk meluncurkan gerakan aktif melawan keterasingan kaumnya. Dia mulai dengan gerakan publik dan pawai untuk membuka sumber air minum publik. Dia juga memperjuangkan hak golongan Dalit untuk memasuki kuil-kuil Hindu. Dia memimpin satyagraha di Mahad untuk memperjuangkan hak komunitas the untouchable untuk mengambil air dari tangki utama di kota itu. Dalam sebuah konferensi di akhir tahun 1927, Ambedkar secara terbuka mengutuk teks klasik Hindu Manusmriti atau 'Hukum Manu', karena secara ideologis membenarkan diskriminasi kasta dan mencampakkan golongan paria; dan dia secara seremonial membakar salinan teks kuno tersebut. Setiap tanggal 25 Desember dia memimpin ribuan pengikutnya untuk membakar salinan Manusmriti, dan peristiwa ini diperingati sebagai Manusmriti Dahan Din. Pada tahun 1930, Ambedkar meluncurkan gerakan Candi Kalaram setelah tiga bulan melakukan persiapan. Sekitar 15.000 relawan berkumpul di Satygraha Kuil Kalaram demi mengadakan salah satu prosesi terbesar. Arak-arakan itu dipimpin oleh sebuah band militer dan sekelompok pramuka; laki-laki dan perempuan berjalan dengan disiplin dan tertib, lalu bertekad melihat dewa yang dipuja di kuil itu untuk pertama kalinya. Ketika mereka sampai di gerbang, pintu masuk kuil ditutup oleh otoritas Brahmana. Perjuangan di bidang politik untuk kemajuan kaumnya diperoleh sewaktu Ambedkar bergabung dengan Southborough Committee, yang menghasilkan Government of India Act 1919; dan belakangan setelah berbeda pendapat dengan Gandhi, komite menelurkan Poona Pact 1932.

 

Ambedkar dilatih sebagai pakar ekonomi, dan menjadi ekonom profesional hingga 1921, sewaktu dia menjadi pemimpin politik. Istri pertama Ambedkar, Ramabai, meninggal pada tahun 1935 setelah lama menderita sakit. Setelah menyelesaikan rancangan konstitusi India pada akhir 1940-an, Ambedkar menderita kurang tidur, mengalami nyeri neuropatik di kakinya, dan harus mengonsumsi insulin dan obat-obatan homoeopati. Dia pergi ke Bombay untuk berobat, dan di sana dia bertemu dengan Sharada Kabir, yang dinikahinya pada 15 April 1948 di rumahnya di New Delhi. Para dokter merekomendasikan seorang pendamping yang pandai memasak dan memiliki pengetahuan medis untuk merawatnya. Isteri keduanya mengadopsi nama Savita Ambedkar dan merawat suaminya sepanjang hidupnya. Savita Ambedkar, yang juga dipanggil 'Mai', meninggal pada 29 Mei 2003 dalam usia 93 tahun di Mumbai.

 

Undang-Undang Dasar India dan proses penyusunannya sering dilihat sebagai karya Ambedkar. Dia dianggap sebagai 'Bapak Konstitusi India', dan barangkali yang paling dikenal dalam seluruh anggota komitenya. Ambedkar menjadi figur kunci dalam proses penulisan konstitusi tersebut, karena keterlibatan langsungnya dalam pengetikan, pengungkapan, dan campur tangannya dalam badan itu. Dia juga aktif berdebat dengan pihak-pihak yang tidak setuju sewaktu dilakukan perumusan naskah konstitusi itu. Sebelum India meraih kemerdekaannya, Ambedkar ditunjuk menjadi Menteri Hukum dan Kehakiman India yang pertama di kabinet Dewan Konstituante PM Nehru pada 1947. Adalah juga gagasan-gagasan Ambedkar, yang melandasi pembentukan Bank Sentral India, setelah Pemerintah India yang independen efektif memerintah negara besar tersebut.

 

Sumbangsih Ambedkar yang lain adalah menetapkan bendera nasional India. Puluhan tahun pimpinan India tidak mencapai kesepakatan atas bendera nasionalnya. Sedianya bendera nasional diadopsi dari bendera negara-bagian yang sudah ada, dan ada juga yang menginginkan menyelipkan simbol Union Jack yang merupakan lambang Britania Raya. Akhirnya diputuskan bendera India berukuran 3 berbanding 2, dengan tiga warna horizontal: Kunyit-safron di sisi atas, putih di tengah, dan hijau-india di bawah. Mahatma Gandhi mengusulkan ada gambar mesin-pintal di tengah-tengah bendera. Belakangan usulan itu dimentahkan, dan diganti dengan 'Cakra Asoka' berwarna biru, yang melambangkan 'Roda-Dhamma' dari Buddhisme. Menurut Sarvepalli Radhakrishnan, cakra melambangkan Dharma atau Hukum Kebenaran.

 

Ambedkar yang dari lahirnya mengikuti tradisi Hindu, mempertimbangkan untuk menganut agama Sikh, yang saat itu turut menyuarakan suara oposisi terhadap penindasan dan diskriminasi kasta. Tapi setelah bertemu dengan para pemimpin Sikh, dia menyimpulkan bahwa dia mungkin hanya akan mendapatkan status Sikh 'kelas dua'. Sebaliknya, sekitar tahun 1950, dia mulai mencurahkan perhatiannya pada Buddhisme dan pergi ke Sri Lanka untuk menghadiri pertemuan World Fellowship of Buddhists. Saat mendedikasikan sebuah vihara Buddhis baru di dekat Pune, Ambedkar mengumumkan bahwa dia sedang menulis sebuah buku tentang Buddhisme, dan setelah bukunya rampung dia akan secara resmi ditahbiskan sebagai penganut Buddha. Ambedkar sempat pula mengunjungi Burma pada tahun 1954, dengan ikut menghadiri konperensi ketiga Persekutuan Buddhis Sedunia di Rangoon. Pada tahun 1955, dia mendirikan Bharatiya Bauddha Mahasabha, atau Masyarakat Buddhis India. Setelah pertemuan dengan bhikkhu Sri Lanka, Hammalawa Saddhatissa, Ambedkar menyelenggarakan upacara publik resmi untuk dirinya dan para pendukungnya di Nagpur pada 14 Oktober 1956. Dengan membacakan paritta Tiga Perlindungan dan Lima Sila di hadapan seorang bhikkhu, Ambedkar bersama isterinya resmi menjadi Buddhis. Dia kemudian melanjutkan upacara untuk membuddhiskan sekitar 500.000 pendukungnya, yang pada saat itu sedang berkumpul di sekelilingnya. Mungkin inilah satu-satunya kejadian yang melibatkan begitu banyak orang, yang memilih beragama Buddha pada hari yang sama. Peristiwa itu dikenal pula sebagai 'Pergerakan Buddhis Dalit' atau Navayana atau Neo Buddhisme.

 

Sejak 1948, Ambedkar menderita diabetes, dan semenjak itu kondisi kesehatannya semakin memburuk. Tiga hari setelah menyelesaikan naskah terakhirnya: The Buddha and His Dhamma, Ambedkar meninggal dalam tidurnya pada tanggal 6 Desember 1956 di rumahnya di Delhi. Sebuah kremasi Buddhis diselenggarakan di pantai Dadar Chowpatty pada tanggal 7 Desember, dihadiri oleh setengah juta orang yang berduka. Perjuangan Ambedkar kelak akan dilanjutkan oleh puteranya Yashwant Ambedkar dan kemudian oleh cucu tertuanya, Prakash Yashwant Ambedkar.

 

Atas jasa-jasanya terhadap perjuangan kemanusiaan hingga berdirinya negara India, hari jadinya dinamakan Ambedkar Jayanthi, dan diperingati sebagai hari libur nasional. Dia dianugerahi pula bintang Bharat Ratna (tanda kehormatan sipil tertinggi), secara anumerta oleh Pemerintah India pada tahun 1990. Ada beberapa lembaga publik yang dinamai 'Ambedkar' sebagai penghormatan kepadanya, antara lain Bandara Internasional Dr. Babasaheb Ambedkar di Nagpur, atau dikenal sebagai Bandara Sonegaon; Institut Teknologi Nasional Dr. B. R. Ambedkar, Jalandhar; dan Universitas Ambedkar Delhi. Barangkali bagi kita, perjuangannya memperkenalkan agama Buddha kepada kaum Dalit, memiliki andil membangkitkan kembali kehadiran Buddhisme di Tanah Kelahirannya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220810



Rabu, 27 Juli 2022

PAWANG HUJAN DAN NAGA


 

Saat itu hari Minggu siang, 20 Maret 2022. Sirkuit Mandalika Lombok diguyur hujan deras, yang membuat arena balap di sekeliling lapangan tergenang air, serta membuat jalannya lomba balap menjadi tertunda. Siang menjelang senja adalah saat-saat yang ditunggu-tunggu oleh para pembalap dan penonton, karena akan terpilih juara ajang balap sepeda motor paling bergengsi di dunia ini. Hujan deras dan terciptanya genangan air di atas sirkuit bisa membuat perhelatan kejuaraan itu bisa ditunda entah hingga kapan, dan hal ini tidak diharapkan oleh siapa pun yang hadir di sana.

 

Panitia penyelenggara agaknya telah mengantisipasi kejadian tak terduga yang bisa terjadi di sirkuit teranyar ini. Sekonyong-konyong di arena muncul seorang perempuan yang mengenakan helm berwarna putih. Dia berjalan mengelilingi lapangan sambil membawa sebuah canang, tongkat-pemukul kecil, dan tiga batang hio yang sedang menyala. Sambil berjalan mulut perempuan itu berkomat-kamit mengucapkan doa-doa tertentu, sementara tangan kanannya yang memegang tongkat-pemukul kecil, digerakkan memutar menyapu bibir-atas canang dan sekali-kali tongkat itu dipukulkan ke badan canang. Setelah beberapa lama menjalankan aksinya, hujan deras pun reda, air yang menggenangi sirkuit juga surut, dan sesi balap berikutnya bisa langsung dilaksanakan.

 

Perempuan itu dipanggil Rara Istiati Wulandari, atau disingkat mbak Rara. Sejak umur sembilan tahun dia telah menjadi seorang pawang hujan. Dia memulainya sewaktu di dusunnya diadakan acara pagelaran wayang. "Umur sembilan tahun saya sudah cari uang sendiri dari acara wayangan dan waktu itu saya belum menggunakan kemenyan untuk menjadi pawang hujan. Saya bilang ke dalangnya kalau saya bisa bantu agar hujan tidak turun," kata Rara. Sebagai pawang hujan, Rara juga pernah menjadi pawang hujan di beberapa acara besar dan pernikahan tokoh publik. Selain bisa mencegah turunnya hujan, mbak Rara pun bisa mendatangkan hujan; terbukti setelah sirkuit baru diaspal beberapa minggu sebelumnya dan cuaca di sekitarnya amat terik, panitia penyelenggara meminta mbak Rara mendatangkan hujan gerimis agar pelapisan aspal berjalan dengan baik.

 

Rara menjelaskan bahwa ritual yang dilakukannya hanya membutuhkan es batu dan kayu abu. "Ini harus diawali sembahyang. Sewaktu memanggil panas, es batunya mencair; yang ini untuk memanggil dingin, es batunya ditaruh sudah lama tidak cair-cair," ungkap Rara (Kompas.com, 20/03/2022). Untuk melancarkan kegiatannya, Rara diberi sebuah tempat pribadi di area Sirkuit Mandalika. Lokasi tenda pawang hujan ada di dekat pintu masuk utama, sedikit di belakang pagar. Dalam tenda tersebut diketahui ada sesaji yang digunakan untuk melakukan ritual memanipulasi hujan. Sesaji itu sendiri terdiri dari hio besar dan kecil serta persembahan yang biasanya ada dalam sembahyang orang Tionghoa.

Pawang hujan adalah profesi yang makin langka di zaman kita ini, namun keahlian ini telah berkembang sejak ribuan tahun yang lalu. Kita akan meninjau pada apa yang disebut sebagai Shamanisme. Apa itu? Shamanisme adalah praktik keagamaan yang melibatkan seorang praktisi, yang diyakini mampu berinteraksi dengan dunia roh melalui tingkat kesadaran tertentu, seperti misalnya dalam kondisi 'kesurupan'. Tujuannya utamanya, mengarahkan roh atau energi spiritual ini ke dunia fisik, guna keperluan penyembuhan atau tujuan lainnya. Berkaitan dengan pembahasan Agama Ru tempo hari, kita akan menelusuri Shamanisme ini dari tradisi Tiongkok Kuno. Praktik Shamanisme di sana berkembang sejak masa Dinasti Shang (商朝,Shāng Cháo), dinamakan Wuisme yang berasal dari kata wū jiào (巫教), yang bermakna 'Agama Wū' atau 'Kepercayaan Wū'. Wū (巫) artinya penyihir atau dukun. Selain itu dikenal pula kata 童乩 (tóng jī) yang berarti 'peramal muda', yang membedakannya dari kata 薩滿 (sàmǎn atau 'dukun siberia'), dan dari istilah India 'Shramana', atau 'rahib pengembara', atau 'petapa', atau 喪門 (sàngmén).

 

Kita tidak akan membahas bagaimana para penyihir atau dukun itu, dikatakan mampu meminta para naga atau Kuí (夔) yang menguasai gunung dan sungai, untuk terlibat dalam pengendalian fenomena meteorologi. Penulis di sini hanya ingin menggambarkan apa yang diyakini oleh nenek moyang kita tentang terjadinya hujan dan fenomena yang berkaitan dengan cuaca, berdasarkan kepercayaan dan keyakinan mereka, bahwa apa pun yang terjadi dalam fenomena meteorologi semuanya dikendalikan oleh kekuatan supranatural.

 

Tiongkok Kuno adalah sebuah negeri tempat para dewa, naga, dan manusia hidup berdampingan membentuk ekosistem yang amat berbeda dengan yang dikenal oleh manusia zaman kita ini. Naga memiliki kemampuan supranatural yang amat beragam; mereka mampu mengendalikan air, api, angin, maupun es; hidup di tiga alam dan mampu terbang ke langit tertinggi atau menyelam hingga ke dasar samudera. Setiap tetes air – dari lautan mahaluas, sungai besar dan kecil, hingga mata air atau sumur – berada di bawah kekuasaan sesosok naga atau raja naga. Selain dari itu mereka bisa berubah-wujud menjadi makhluk setengah manusia, setengah ular yang tinggal di dunia-bawah, dan kadang-kadang dapat mengambil bentuk manusia atau tubuh-manusia-sebagian. Bukan hanya itu, konon raja naga memiliki istana kristal yang berada di bawah air, yang serupa dengan istana raja manusia, lengkap dengan fitur-fiturnya yang megah dan mewah.

 

Kisah ini berasal dari masa Dinasti Táng (唐代,Táng Dài), ketika sesosok yaksha (sejenis makhluk halus, yakkha istilah Pali-nya) yang sedang berpatroli, menguping percakapan seorang nelayan yang baru pulang dari menangkap ikan. Nelayan itu dengan bangganya bercerita kepada sahabatnya bahwa dia selalu berhasil menangkap ikan dalam jumlah banyak. Terkejut mendengar isi percakapan itu, sang yaksha bergegas kembali ke istana kristal guna memberikan laporan penting tentang potensi bencana kepada sang raja naga. "Bencana macam apa itu?" tanya sang raja naga, dan sang yaksha menjawab, "Hambamu sedang berpatroli di air dekat dengan tepi sungai, ketika aku mendengar seorang nelayan dan seorang pemotong kayu berbincang-bincang. Ada isi pembicaraan yang kedengerannya cukup menyeramkan. Sang nelayan berkata bahwa ada seorang peramal yang tinggal di Jalan Gerbang Barat di kotaraja Chang'an, yang hasil ramalannya sangat tepat. Sang nelayan setiap hari menghadiahkan si peramal seekor gurami emas, dan peramal itu menyerahkan secarik kertas yang menginformasikan lokasi perburuan yang akurat, bahwa dia pasti akan mendapatkan tangkapan ikan dalam jumlah besar setiap kali dia menebarkan jaringnya atau kailnya. Jika perhitungannya begitu cermat, akankah kita sebagai warga masyarakat-air ini bakal disapu bersih? Bukankah seharusnya kita memperkuat istana air, atau kita ciptakan gelombang besar untuk menyapu sang peramal keparat itu dari sana?"

 

Sang raja naga menghunus pedangnya dengan sangat murka. Dia ingin segera melabrak dan membinasakan sang ahli nujum. Namun para bawahannya mengingatkannya: "Kami minta Paduka Yang Mulia tidak bertindak gegabah sewaktu sedang gusar. Seperti pepatah mengatakan 'kata-kata yang didapat lewat menguping tidak bisa dipercaya.' Jika Paduka akan pergi, engkau bisa memilih untuk ditemani oleh awan dan dibantu oleh hujan. Namun berhati-hatilah, tindakan ini bisa membuat penduduk Chang'an menjadi ketakutan, dan sebagai konsekuensinya Surga akan memberikan perlawanan. Paduka sebetulnya mampu membuat banyak ubah-wujud, seperti seketika muncul dan lenyap tanpa bisa diduga-duga. Jika jurus ini yang dipilih, engkau dapat mengubah-wujudmu sebagai seorang sarjana yang sedang mengunjungi Chang'an. Jika engkau mendapatkan bahwa omongan si yaksha itu benar, engkau dapat menghukum sang peramal itu. Tetapi jika perkiraanmu ternyata keliru, engkau nyaris melakukan pembunuhan terhadap seorang yang tidak-bersalah."

 

Menuruti nasihat mereka, sang raja naga menyingkirkan pedangnya, dan dia tidak jadi pula menunggang awan atau hujan. Dia memilih ke luar dari dalam sungai, menggoyang-goyangkan tubuhnya, dan berubah-wujud menjadi seorang sarjana. Sang raja naga sekarang telah menjelma menjadi sesosok sarjana yang tampan dan mulia, serta dengan mengenakan sepotong jubah sutera hijau dan sehelai selendang kasual, dia melangkah dengan anggunnya ke arah kota. Setelah mencapai jalan di daerah perkotaan dia langsung melangkahkan kakinya ke Jalan Gerbang Barat di kota Chang'an, tempat dia melihat kerumunan orang yang saling mendorong dan berteriak dengan riuhnya. Satu dari mereka menyerukan pernyataan yang memukau, "Dia yang lahir di bawah shio Naga akan berselisih dengan mereka yang berada di bawah shio Harimau. Walaupun watak-watak yang bersiklus cocok satu sama lain, aku khawatir bahwasanya Sang Planet-Tahun dapat bertentangan dengan Sang Matahari." Segera setelah mendengar ucapan tersebut sang raja naga langsung menyadari bahwa di tempat inilah keberuntungan seseorang diungkapkan.

 

Dia pun merangsek ke depan. Di hadapannya tampak sebuah kamar yang dihiasi sutera bersulam. Asap dupa wangi membumbung dari sebuah anglo, dan di sampingnya ada air jernih dalam pot porselen. Di atas sebuah meja ada sebuah batu-tinta dari Kota Duanxi, dan di dalamnya bersandar kuas besar. Keahlian sang ahli nujum terletak pada penafsiran enam baris diagram, dan dia merupakan pakar agung untuk Delapan-Trigram. Konon dia paham betul prinsip Surga dan Bumi; serta mampu menembus perasaan para dewa dan siluman. Dia mengetahui pula semuanya tentang bilangan siklik, serta mampu menafsirkan gambar rasi bintang. Si ahli nujum pun mampu meneropong kejadian-kejadian di masa depan, juga rangkaian peristiwa di masa silam, laksana memandangnya ke dalam sebuah cermin.

 

Jadi siapakah gerangan yang dimaksud dengan sang peramal itu? Di atas dinding tertulis pada sebuah papan nama: "Guru Kedewaan Yuan Shoucheng". Sang ahli nujum merupakan paman dari Yuan Tiang Ang, Sang Astrolog Kekaisaran. Namanya termasyhur di seluruh negeri, dan dia adalah anggota trerkemuka perhimpunan profesi ahli nujum yang berkedudukan di Chang'an.

 

Sang raja naga datang menghampirinya dan ketika pembicaraan pembuka usai, tuan rumah mempersilahkan tamunya duduk, sementara seorang pelayan membawakan teh untuk mereka. "Engkau telah datang dari jauh, jadi apa yang engkau ingin tuan tanyakan?" tanya si peramal, dan sang raja naga menjawab, "Aku meminta engkau menyingkapkan rahasia langit untukku." Sang peramal mengeluarkan secarik kertas dari saku jubahnya dan di sana tertulis, "Awan menutupi puncak gunung, kabut menghalangi kanopi pohon. Jika hujan berkehendak turun, maka itu pasti datang esok hari." - "Kapan hujan akan turun esok hari?" tanya si raja naga, "dan berapa inci air hujan akan jatuh?"

 

"Esok hari awan akan berkumpul di pertengahan-pagi; pada saat berakhirnya pagi, halilintar akan menyambar-nyambar; persis tengah hari hujan mulai turun; dan menjelang sore hujan akan reda. Akan ada 3 kaki dan 3,48 inci air hujan yang jatuh," jawab sang peramal. - "Aku yakin bahwa engkau tidak membual," kata sang raja naga. "Jika hujan turun esok hari pada jam-jam yang engkau sebutkan dan besarnya ketinggian-air persis seperti yang engkau ramalkan, aku akan membayarmu sebagai imbal-jasa nujum ini lima puluh ons emas. Namun jika hari tidak hujan, atau jika hujan berlangsung tidak dalam ritme seperti yang engkau sebutkan, atau jika ketinggian airnya tidak persis seperti yang engkau ramalkan; maka aku berterus terang kepadamu. Aku akan meluluhlantakan etalase tempat praktikmu, mencopot papan nama kebesaranmu, dan mengusirmu ke luar dari kota ini. Dengan begitu selanjutnya engkau tidak akan bisa lagi mengelabui orang-orang di kota ini." - "Semuanya terserah kepadamu," jawab lawan bicaranya dengan riang. "Kita akan berjumpa lagi besok setelah hujan." Sang raja naga lalu pamit dan ia kembali ke istana airnya.

 

Penghuni-penghuni air besar maupun kecil menyambutnya dengan pertanyaan, "Bagaimana pertemuan antara Paduka Yang Mulia tadi dengan sang peramal?" - "Semuanya berjalan lancar," dia menjawab. "Namun ternyata dia adalah seorang ahli nujum yang fasih. Sewaktu aku menanyakan kepadanya kapan akan hujan, dia langsung mengatakan esok hari. Ketika aku menanyakan jam berapa hujan akan turun, dia mengatakan bahwa pada pertengahan-pagi awan akan berkumpul, pada tengah hari hujan mulai turun, dan pada saat menjelang sore hujan akan reda. ... ." Seluruh anggota masyarakat-air tertawa  dan berkata: "Paduka Yang Mulia adalah Kepala Pengawas dari Empat Sungai dan Dewa-Hujan Naga Agung, sehingga hanya engkau yang dapat mengetahui apakah hari akan hujan. Betapa beraninya dia membual seperti itu? Si ahli nujum ini bakal kalah bertaruh, dia pasti kalah bertaruh."

 

Sewaktu semua anggota keluarga raja naga beserta para pejabat di istana air itu tertawa terbahak-bahak dan membicarakan kejadian yang baru dialami oleh raja mereka, sebuah teriakan terdengar dari langit: "Wahai Raja Naga dari Sungai Jing, bersiaplah menerima sebuah Maklumat Kekaisaran." Mereka semua melihat ke atas dan segera tampak sesosok ksatria yang mengenakan jubah keemasan mendatangi istana air. Tangannya memegang sebuah maklumat dari Kaisar Kemala atau Kaisar Langit. Kejadian ini memperingatkan sang raja naga, yang segera merapikan pakaiannya, berdiri dengan khidmat, membakar dupa wangi, dan menerima maklumat itu dengan penuh hormat. Setelah mengucapkan terima kasih atas berkah kekaisaran, sang ksatria berjubah emas pun terbang kembali ke langit.

 

Selanjutnya sang raja naga membuka surat itu dan membacanya: "Kami memerintahkan Pengawas dari Delapan Sungai untuk bepergian dengan petir dan kilat serta mendatangkan hujan bagi kota Chang'an." Waktu pelaksanaan turunnya hujan dan jumlah air yang turun pada maklumat sama persis dengan yang diramalkan oleh sang peramal; hal mana membuat sang raja naga tersentak kaget begitu dia selesai membaca surat itu. Sesaat kemudian dia berkata kepada masyarakat-air, "Bagaimana mungkin ada seseorang di sana yang memiliki kekuatan sebesar itu padahal dia hidup di dunia fana? Dia sungguh-sungguh seseorang yang mengetahui segala rahasia tentang Surga dan Bumi. Aku telah kalah bertaruh dengannya."

 

"Paduka tidak perlu cemas," demikian usulan Jenderal Hering, salah satu bawahannya. "Tidak ada kesukaran untuk mengalahkan dia. Hambamu mempunyai rencana yang sederhana yang aku jamin bisa menutup mulut si bajingan itu." Ketika sang raja naga bertanya tentang rencana itu, sang jenderal mengemukakan, "Buatlah hujan pada waktu yang keliru dan jumlahnya sedikit dikurangi. Dengan demikian ramalannya akan keliru, dan engkau pasti akan mengalahkannya. Tidak ada yang bisa menghentikanmu untuk menghancurkan papan namanya hingga berkeping-keping dan mengusirnya ke luar kota." Sang raja naga menerima saran itu dan berhenti mencemaskan dirinya.

 

Hari berikutnya sang raja naga memerintahkan Baron Angin, Adipati Petir, Pemuda Awan, dan Ibu Kilat untuk pergi ke langit di atas kota Chang'an. Dia menunggu hingga saat pagi hampir berakhir sebelum menyebarkan awannya, melepaskan kilatnya pada waktu tengah hari, memulai hujan pada awal-sore, serta menghentikannya di akhir-sore. Selanjutnya dia mengatur hanya 3 kaki dan 3,40 inci air hujan yang turun. Dengan demikian dia telah mengubah rencana semula, dengan menunda proses jatuhnya hujan dua jam ke belakang dan mengurangi jumlah air yang dijatuhkan sebanyak 0,08 inci. Setelah hujan reda dia membubarkan para jenderal dan pembantunya serta menyingkirkan awannya. Selanjutnya dia mengubah wujudnya kembali menjadi seorang sarjana berpakaian putih, lalu bergegas menuju tempat ahli nujum Yuan Shoucheng di Jalan Gerbang Barat. Setibanya di sana tanpa memberikan penjelasan apa-apa dia menghantam papan nama Yuan, melempar kuas-tulisnya, menjatuhkan batu-tinta, dan barang-barang lainnya, sementara si peramal tetap tenang duduk di kursinya tanpa bergerak sedikit pun juga.

 

Sang raja naga mengayun-ayunkan daun pintu yang dicopotnya dari tempat praktik si peramal, siap untuk dihantamkan padanya, dan dia mulai melancarkan serangan kata-kata terhadapnya: "Engkau orang jahat, dengan bicaramu yang sembrono tentang keberkahan dan malapetaka. Engkau tidak lebih dari penipu tengik, yang dengan muslihatmu membodohi orang-orang di kota ini. Ramalanmu telah melenceng dan engkau hanya bicara omong kosong. Sekarang engkau baru mengetahuinya, bahwa ramalanmu tentang saat berlangsungnya hujan dan banyaknya air yang jatuh dari langit ternyata keliru. Tetapi engkau masih duduk di situ dengan penuh wibawa dan berkuasa. Enyahlah segera dari kota ini jika engkau masih ingin aku menyelamatkan nyawamu." Yuan Shoucheng, tetap duduk seperti sediakala dengan tenang tanpa merasa takut sedikit pun juga, dan dia memandang ke langit dengan sungging senyum yang mengejek.

 

"Aku tidak takut sama sekali," dia berkata. "Aku tidak takut, karena aku tidak melakukan kejahatan yang serius, namun aku khawatir engkau sendiri yang baru saja melakukannya. Engkau bisa saja mengelabui orang lain, tetapi engkau tidak dapat membohongiku. Aku tahu siapa engkau sebenarnya. Engkau bukanlah seorang sarjana. Engkau adalah Raja Naga dari Sungai Jing. Engkau telah melecehkan maklumat dari Kaisar Kemala, dengan mengubah waktu pelaksanaan hujan dan mengurangi jumlah air yang turun, yang sama saja dengan melakukan kejahatan terhadap hukum Surga. Aku khawatir hidupmu akan berakhir pada tajamnya pedang sang algojo di Panggung Pengiris-Naga. Apakah engkau masih akan mempertahankan penyalahgunaan wewenangmu, demi memenangkan taruhan yang engkau tentukan sendiri?"

 

Mendengar kata-kata ini sang raja naga gemetar karena takut dan bulu kuduknya berdiri. Segera diturunkan daun pintu yang tadinya hendak dihempaskan ke tubuh si peramal. Dia lalu merapikan pakaiannya dan dari bahasa tubuhnya terlihat dia telah takluk sepenuhnya. Lalu dia berlutut di hadapan sang peramal dan berkata, "Mohon jangan marah padaku, tuan. Aku tadi hanya bercanda. Aku tidak pernah berpikir itu akan ditanggapi dengan serius. Apa saja yang harus aku lakukan jika aku melanggar hukum Surga? Aku mohon engkau dapat menyelamatkanku, tuan. Jika tidak, aku akan terus menghantuimu setelah aku mati." - "Aku tidak dapat menyelamatkanmu," jawab Yuan Shoucheng, "tetapi aku dapat menyarankan satu jalan, yang dengan mengikutinya mungkin dapat menyelamatkan jiwamu."

 

 

Dari kisah di atas kita dapat belajar bahwa betapa pun berkuasanya seseorang dia tetap harus tunduk kepada hukum kebenaran. Segala penyimpangan atau kejahatan akan dicatat oleh Surga, dan pada gilirannya Surga akan memberikan ganjarannya. Kita sudah belajar di bangku sekolah bahwa turunnya hujan beserta fenomena cuaca lainnya, ditentukan oleh efek penyinaran matahari terhadap bumi beserta gerak orbit bumi mengelilingi matahari. Namun apakah seluruh kejadian meteorologi di dunia ini sepenuhnya hanya digerakkan secara an sich oleh kekuatan alam itu sendiri? Jika manusia modern dapat merekayasa hujan buatan di satu daerah – dengan cara menaburkan butiran garam di angkasa – berarti manusia bisa mencampuri kekuatan alam. Bukankah demikian? Bagaimana dengan para naga yang perkasa, bukankah mereka juga lebih piawai daripada manusia, berkat kekuatan supranatural yang mereka miliki? Lalu jika ada sosok manusia yang bisa berkomunikasi dengan para naga – katakanlah sang pawang hujan – bukankah cuaca bisa ikut pula diatur untuk kepentingan manusia? Silahkan para pembaca menganalisanya sendiri.

 

Kembali pada cerita di atas tentu ada pembaca yang penasaran, bagaimana nasib Sang Raja Naga Sungai Jing. Apakah dia sampai dipenggal kepalanya karena kesalahannya? Penulis mengambil kisah itu dari novel terkenal abad ke-16 yang berjudul 西遊記 (Xī Yóu Jì) atau Perjalanan ke Barat karya Wú Chéng’ēn, pada Bab ke-10. Anda bisa mencari kelanjutan ceritanya di novel tersebut.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220727

 



Rabu, 13 Juli 2022

BUDDHIS KTP


 

Cerita berikut ini mencoba memberi gambaran tentang apa persepsi mayoritas masyarakat Indonesia terhadap kaum minoritas Tionghoa. Fakta ini didapat setelah penulis berbincang-bincang dengan beberapa sahabat yang berasal dari kalangan yang mengaku sebagai orang pribumi Indonesia. Menurut pandangan mereka, orang Tionghoa di Tanah Air yang memiliki kewarganegaraan Indonesia, kebanyakan beragama Buddha, atau  Kristen, atau Katolik; dan hanya segelintir yang memeluk agama Islam. Mereka juga menganggap bahwa semua orang Tionghoa itu kaya atau berkecukupan, serta mayoritas merupakan bagian dari kelas menengah dalam masyarakat Indonesia.

 

Penulis mengiyakan bahwa adalah benar bahwa sebagian besar etnis Tionghoa memeluk agama Kristen, Katolik, dan Buddha; tetapi tidak setuju dengan pendapat bahwa hampir semua orang Tionghoa di Indonesia adalah orang kaya atau termasuk kelas menengah. Masih banyak orang Tionghoa – terutama di daerah tertentu – yang hidup dalam kondisi kekurangan bahkan berada di bawah garis kemiskinan. Penulis katakan pula kepada mereka, masih banyak warga Tionghoa yang hidupnya susah, dan ini bisa dilihat pada masyarakat Cina Benteng di Tangerang dan etnis Tionghoa di Propinsi Kalimantan Barat. Bahkan tidak usah jauh-jauh, di Jakarta Barat saja banyak warga keturunan yang masih menghuni kawasan kumuh, dan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari pun mereka masih kesulitan.

 

Pembicaraan kami terus berlanjut. Mereka juga memiliki persepsi bahwa umat Buddha yang berasal dari etnis Tionghoa – bukan seperti orang Jawa yang beragama Buddha – bersembahyang di kelenteng dengan cara memasang hio atau dupa. Penulis menjelaskan kepada mereka, adalah umum masyarakat Indonesia menganggap bahwasanya umat Buddha dari etnis Tionghoa itu hanya terdiri dari satu golongan dan mereka semuanya dianggap sama, tetapi dalam kenyataannya praktik ibadah di antara umat itu berbeda.

 

Seperti yang Anda para pembaca ketahui, umat Buddha tidaklah bersifat homogen. Ada banyak mazhab dan sekte yang dianut oleh pengikut Buddhis di Indonesia ini. Bukan maksud penulis untuk menceritakan keberagaman kepercayaan mereka dalam tulisan ini. Penulis kali ini ingin menyoroti umat Buddha di Indonesia, yang bisa disederhanakan menjadi dua golongan saja. Lho koq bisa?

 

Mereka yang memeluk keyakinan Buddhis bisa digolongkan menjadi dua bagian besar, berdasarkan tingkat pemahaman mereka dalam menghayati agamanya. Perlu kita pahami bahwa menjadi Buddhis bukanlah sekedar beragama, karena Buddhis adalah sebuah Pola Pikir, yakni 'Pola Pikir Buddhis'. Orang yang sejak dari kecil rutin ke vihara, beranjak remaja tetap rajin ke vihara, dan sudah kerja juga masih ke vihara; tetapi secara tiba-tiba dia berpindah agama; mengapa bisa demikian? Sebenarnya orang tersebut tidak memiliki 'Pola Pikir Buddhis', tetapi hanyalah umat tradisional yang mengaku sebagai Buddhis. Di kalangan internal kami, mereka sering pula disebut 'Umat Buddha KTP'. Apa maksudnya? Ini berkaitan dengan sejarah kelam Republik kita ini. Pada tahun 1965 terjadi Pemberontakan G 30 S, yang dilakukan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI). Kudeta itu berhasil digagalkan namun mengorbankan nyawa rakyat Indonesia dalam jumlah yang amat besar. PKI pun ditumpas, dibubarkan, dan eksistensinya pun ditiadakan. Pemerintah yang berkuasa pada saat itu yakni Rezim Orde Baru, membuat stigma bahwa Komunis itu jahat dan anti-agama. Orang Indonesia sejak itu takut dicap sebagai pengikut 'Komunis' dan mereka pun ingin disebut sebagai orang beragama. Jadi setiap penduduk Indonesia, wajib mencantumkan agama di kolom KTP-nya. Sekedar perbandingan, yang namanya identity card (semacam KTP) di negara lain, tidak pernah mencantumkan agama si pemegang kartu.

 

Nah, setelah peristiwa pemberontakan G 30 S yang tragis bagi bangsa kita, ternyata membawa implikasi yang serius dalam kehidupan beragama etnis Tionghoa di Indonesia. Terutama ini berdampak pada mereka yang selama itu mengikuti agama leluhur mereka, yang disebut 'Agama Orang Tionghoa'. Di tahun 1965 itu hanya ada lima agama yang diakui di Indonesia, yakni Islam, Kristen, Katolik, Hindu, dan Buddha. Jadi mereka yang merasa memeluk 'Agama Orang Tionghoa' mau tidak mau akan mencantumkan 'Buddha' di kolom KTP mereka. Dari sinilah muncul istilah 'Umat Buddha KTP'. Jadi apa itu 'Agama Orang Tionghoa'? Bagi mereka itu adalah apa yang disebut sebagai _Sān Jiào_ (三教) atau Sam Kauw (Hokkian), atau diindonesiakan sebagai Tridharma. Tridharma artinya 'Tiga Ajaran', merupakan sinkretisme dari tiga agama, yakni ajaran Taoisme, ajaran agama Buddha Mahayana, dan ajaran agama Ru yakni yang bersumber dari Konghucu. Belakangan pada tahun 2000 pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, agama Konghucu resmi menjadi salah satu agama yang diakui di Indonesia. Dengan demikian mereka yang menganut Agama Orang Tionghoa atau mengaku sebagai pemeluk Tridharma, bisa memilih mencantumkan 'Buddha' atau 'Konghucu' pada kolom agama di KTP-nya.

 

Sekarang kita akan membahas lebih lanjut apa yang dinamakan 'Umat Buddha KTP' itu. Agar lebih mudah dipahami, penulis ingin menceritakan pengalaman pribadi penulis sendiri. Penulis lahir dari keturunan etnis Tionghoa suku Hokkian, yang entah sudah berapa generasi bermukim di bumi Nusantara ini. Kami satu keluarga besar, baik dari garis keturunan laki-laki maupun perempuan, adalah penganut agama orang Tionghoa yang taat. Setiap tanggal 1 dan 15 menurut penanggalan lunar, di meja-abu leluhur dari garis keturunan laki-laki, kami biasa mempersembahkan dupa, lampu-minyak, dan air teh dengan melakukan persembahyangan. Meja-abu yang di atasnya terpampang potret hitam-putih para leluhur kami tersebut, tidaklah berada di rumah orang tua penulis, tetapi ditempatkan di rumah tua peninggalan kakek dan nenek yang berlokasi di kawasan pecinan. Pada saat-saat tertentu sesuai dengan tradisi, seperti perayaan dewa dapur naik ke kahyangan, sembahyang Thian, sembahyang Tahun Baru Imlek, dan sembahyang arwah; ritual akan berlangsung lebih lama dan sesajian yang dipersembahkan di meja-abu lebih banyak dan bervariasi. Menyambut persembahyangan istimewa ini, kami sekeluarga telah menyiapkannya jauh-jauh hari sebelumnya.

 

Acara persembahyangan yang dilakukan secara rutin mengikuti petunjuk penanggalan lunar adalah peristiwa yang membekas kuat dalam memori penulis hingga saat ini. Adalah sosok Jie-kou sebutan bagi kakak-perempuan-kedua papa kami, yang begitu sabar dan telaten, yang mengajarkan kami untuk melakukan persembahyangan di depan altar dengan hikmat. Lewat tutur katanya yang lemah lembut dan tangan halusnya, kami diajarkan bagaimana mengambil hio atau batang-dupa, menyalakannya, memegang dan menggerak-gerakannya di depan dada, sambil mulut-mulut kecil kami berkomat-kamit melantunkan doa dan permohonan kepada para leluhur yang telah tiada. Dia nampak bahagia melihat Sudjana Kecil dan adiknya sudah pintar pai-pai. Sewaktu kami bertanya kepadanya, apa makna di balik barang persembahan dan ritual persembahyangan ini, dia tidak mampu menjelaskannya. Jie-kou almarhumah hanyalah sosok wanita paruh baya yang sederhana, tidak banyak menuntut, dan dia menyiapkan dan melaksanakan ritual persembahyangan dengan tulus dan penuh rasa bakti terhadap agama dan keyakinannya.

 

Mungkin teman-teman dari generasi yang seangkatan dengan penulis banyak juga yang memiliki pengalaman masa kecil yang serupa. Di permulaan dekade 60-an pendidikan dan pengetahuan orang tua kita tentang Agama Orang Tionghoa amatlah minim. Mereka rata-rata tidak memahami apa makna bersembahyang, apa tujuannya meletakkan sesajian di atas altar, apalagi mengerti pesan simbolik dalam upacara yang diadakan di rumah atau tempat ibadah. Segala tata-laku yang dikerjakannya dalam bersembahyang ditiru mentah-mentah dari orang tua atau kakek-nenek mereka. Adalah sosok Tua-kou, yakni kakak-perempuan-tertua dari papa, yang sering mengajak penulis ke bio atau kelenteng tua yang terdapat di kawasan pecinan tersebut. Saat berkunjung ke sana terutama pada hari keagamaan, banyak umat yang bersembahyang dengan dibekali lilin merah, hio, dan 'kertas-uang'. Adalah suatu kenyataan bahwa banyak dari mereka yang memasang lilin di altar, menyulut hio, kemudian melakukan pai-pai di hadapan patung dewa/dewi atau bodhisattva layaknya sesosok robot. Memang ada doa dan harapan yang tercetus di bibirnya agar permohonan atau permintaannya dikabulkan. Inilah yang disindir oleh sementara kalangan internal sebagai umat dung dung cep. Entah dari mana datangnya istilah ini – mungkin saja karena mereka yang melakukannya dua kali bersujud, maka dinamakan dung dung, lalu batang hio itu ditancapkan pada wadah-abu dengan suara cep – satu sebutan yang merendahkan terhadap orang yang melakukannya. Dengan demikian, hingga meningkat remaja penulis bisa digolongkan sebagai salah satu dari 'Umat Buddha KTP' atau golongan dung dung cep ini.

 

Setelah cukup umur penulis memasuki sekolah dasar di perguruan yang berciri khas Katolik, yang berlanjut di SMP yang sama. Kemudian dilanjutkan ke SMA yang dikelola oleh Yayasan Katolik yang berbeda. Jadi selama dua belas tahun penulis tidak pernah mengenal ajaran tentang apa itu agama orang Tionghoa. Di lingkungan pendidikan formal ini penulis diajarkan pengalaman berinteraksi dengan penganut agama lain. Jika biasanya kami sembahyang dengan membakar hio, maka di sekolah ini kami diajarkan untuk berdoa dengan cara memejamkan mata sambil melipat tangan. Di lingkungan ini penulis mulai mengenal sosok Yesus Kristus dan nabi-nabi seperti yang diceritakan dalam Alkitab. Selama menuntut ilmu di sana terkadang kami mendapatkan pelajaran agama Katolik dari frater, bruder, atau suster, dan mereka tidak pernah mempermasalahkan agama yang penulis anut. Bahkan mereka terkesan sangat toleran kepada kami, termasuk kepada beberapa teman yang beragama Islam.

 

Selama ini ada beberapa rekan kerja yang baru mengenal penulis, dengan terheran-heran sempat bertanya : "Sebenarnya you punya agama itu apa sih? Katanya Buddhis, tapi koq tahu banget soal agama Katolik dan Kristen?" "Ya, iyalah. Saya kan dulu sejak kecil bersekolah di perguruan Katolik. Masa nggak tahu?" jawab penulis. Lalu sempat pula ada salah seorang yang bertanya, "Kenapa nggak masuk Katolik sekalian?" Menanggapi pertanyaan itu, penulis hanya menjawab bahwa itu adalah masalah keyakinan yang tidak dapat dipaksakan. Sampai saat ini pun penulis tidak berniat untuk berpaling dari agama leluhur yang telah dianut oleh sekian banyak generasi penulis terdahulu.

 

Kita lanjutkan cerita perjalanan penulis setelah lulus dari sekolah menengah atas. Memasuki perguruan tinggi, di tahun kedua ada mata kuliah dasar umum (MKDU) bernama mata kuliah agama. Universitas tempat penulis menuntut ilmu menyediakan beberapa kuliah agama yang bisa dipilih oleh para mahasiswa. Penulis memilih 'Agama Buddha', dan setelah mengikuti kuliah di kelas, pada akhirnya penulis mengerti doktrin-doktrin utama agama Buddha. Tidak puas sampai di situ di akhir tahun itu penulis mulai berkunjung ke vihara untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ritual agama Buddha. Kebetulan di kota kelahiran penulis ada sebuah vihara milik sekte Buddhayana yang menyelenggarakan puja bakti keagamaan secara teratur, dan di vihara ada perpustakaan tempat kita bisa meminjam buku-buku Dharma. Lewat bertanya, berdiskusi, dan belajar lewat buku, penulis bisa memperluas pengetahuan tentang agama Buddha. Belakangan di kota itu didirikan vihara baru yang beraliran Mahayana, dan demi memuaskan rasa ingin tahu, penulis berkunjung ke sana dan mencoba mempelajari apa yang ditekankan dalam mazhab Mahayana. Beberapa tahun belakangan ini penulis mulai melakukan studi mandiri terhadap Tridharma.

 

Mungkin ada pembaca yang bertanya, apakah setelah itu penulis sudah berhasil bertransformasi dari 'Umat Buddha KTP' menjadi umat Buddha sesungguhnya? Atau apakah penulis sudah memiliki pola pikir Buddhis yang tidak tergoyahkan? Penulis tidak berbangga-hati mendapat sebutan demikian. Bukan hanya pola pikir Buddhis atau pola pikir Tridharma yang membuat seorang menjadi pemeluk agama yang sesungguhnya, namun ada aspek lain yang juga menentukan. Cerita berikut ini mungkin pernah ditemui oleh para pembaca di media sosial dan akan penulis hadirkan sekali lagi.

 

Engko Acong, demikian orang memanggilnya, adalah seorang pedagang kelontong di sebuah pasar tradisional. Di dekat pasar itu yang kebetulan dekat daerah pecinan, ada sebuah kelenteng kecil yang biasanya dikunjungi oleh orang-orang yang tinggal di sekitar daerah itu. Acong adalah orang yang sederhana dan hanya berpendidikan sekolah menengah pertama dan itu pun juga tidak sampai lulus. Setiap hari sebelum berangkat ke tokonya Acong mampir di kelenteng. Dia terbiasa mengawalinya dengan mengambil sebatang hio, menyulutnya hingga menyala, lalu pergi ke altar dewa utama yang ada di rumah ibadah itu. Seperti orang yang biasa bersembahyang di sana, Acong pun mengayun-ayunkan batang hio di atas kepalanya, dan berkata dengan suara lirih, "Kongco, ini owe, Acong." Hanya kata-kata itu dan selanjutnya hio ditancapkan ke wadah-abu, dan Acong memberi hormat Kongco sekali lagi, kemudian dia melanjutkan perjalanan ke tokonya. Kebiasaan Acong yang sebelum kerja selalu mampir di kelenteng pun sudah dipahami oleh Bio-kong alias 'Juru Kunci' kelenteng tersebut, bahkan kata-katanya "Kongco, ini owe, Acong," sudah menjadi trade mark si orang lugu ini. Demikianlah bertahun-tahun Acong melakukan ibadah rutin ini sebelum dia pergi membuka tokonya. Sekali waktu Acong jatuh sakit dan dia dibawa ke IGD sebuah rumah sakit oleh isterinya. Setelah dirawat beberapa hari penyakit Acong tidak kunjung sembuh bahkan bertambah parah. Terpaksa dia dirawat di ruang ICU (intensive care unit). Di tengah malam saat Acong yang sudah sekarat dan nampaknya tidak tertolong lagi, sekonyong-konyong sambil mengigau dalam tidurnya Acong berkata: "Kongco, ini owe, Acong," Ajaib!! Tiba-tiba dalam penglihatan Acong tampak seorang tua berjubah putih datang menghampirinya; lalu serta-merta orang tua itu mengusap wajah Acong. Tidak berapa lama kemudian Acong pun mendusin, lalu disadarinya bahwa masih ada jarum-infus tertempel di tangannya, ada pula kabel-kabel instrumen-medis terhubung di beberapa bagian tubuhnya, dan di hidung dan mulutnya masih ditutup oleh masker-oksigen. Acong yang merasa sudah sembuh heran mengapa dia berada di tempat itu. Dia pun segera mencopot jarum-infus, plester-kabel, dan masker-oksigen, yang selama ini membelenggunya. Setelah itu dia turun dari tempat tidurnya, mencari pintu ke luar, dan segera pulang ke rumahnya. Tinggal si perawat-jaga di ICU yang kebingungan, melihat pasiennya tiba-tiba bisa bangun dan berjalan sendiri, lalu minggat.

 

Tentu Anda para pembaca bertanya-tanya, bagaimana mungkin Acong seorang Buddhis-KTP atau umat dung dung cep bisa mendapat pertolongan dari Kongco di saat kritis. Kisah mirip si Acong pun terkadang kita baca atau kita tonton di layar TV dalam lintasan peristiwa di dunia ini, meskipun dalam konteks yang berbeda. Intinya hanya dengan bermodalkan keyakinan yang teguh, seorang bisa terselamatkan. Dalam kosakata Buddhis, keyakinan ini dinamakan saddhā (Pali) atau śraddhā (Sans.).

 

Pengalaman penulis sewaktu masih duduk di bangku pendidikan dasar dan menengah semoga tidak terjadi lagi pada umat kita sekarang ini. Kondisi sekarang pasti berbeda dibandingkan enam-puluh atau lima-puluh tahun yang lalu. Pihak vihara, cetiya, kelenteng, bio, litang, dan taokwan pun sudah berbenah dan siap membina umatnya. Mereka sudah bersiaga menghadapi tantangan zaman dalam membina umatnya. Puja bakti mingguan sudah jadi agenda mereka, dan sekolah-minggu pun diadakan secara rutin untuk membina anak-anak dan muda-mudi. Juru-dakwah dalam agama Buddha dan Tridharma alias dharmaduta, pun sudah siap mendidik dan membina umat. Dengan demikian yang namanya umat Buddha KTP pun lama-lama sudah tidak ada lagi.

 

Menutup tulisan ini penulis ingin menyitir ucapan Tenzin Gyatso, Dalai Lama ke-14. Sekali waktu pemimpin spiritual rakyat Tibet itu ditanya apakah agama terbaik itu. Dalai Lama menjawab: "Agama terbaik adalah agama yang membuat Anda menjadi orang yang lebih baik." Dan apa itu menjadi lebih baik? Jawabnya: "Menjadi lebih baik berarti membuat Anda lebih berwelas-asih, lebih berpikiran sehat, lebih obyektif dan adil, lebih menyayangi, lebih punya rasa tanggung jawab, dan milikilah kualitas-kualitas seperti itu." Sebagai penutup, tentu penulis berpesan, Lets become a better Buddhist, atau Lets become a better Confucianist, atau Lets become a better Taoist, atau Lets become a better Tridharmaist.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220713

 



Rabu, 29 Juni 2022

KONG ZI DAN RUISME



Anda para pembaca dan masyarakat Indonesia pada umumnya pasti mengenal Konghucu. Dia dikenal sebagai tokoh bijak, filsuf, atau nabi dari masa Tiongkok Kuno. Konghucu pun merupakan nama salah satu agama yang diakui di Indonesia. Tetapi siapakah Konghucu itu gerangan? Dalam tulisan perdana tentang Konghucu ini, penulis akan mencoba memperkenalkan tokoh yang dikenal oleh masyarakat dunia sejak ribuan tahun yang lampau.

 

Kǒng Fū Zǐ  atau 孔夫子, maknanya 'Guru Kǒng'; biasa dipanggil Kǒng Zǐ atau 孔子 (Khóng-chú, Hokkian) atau Confucius (Ingg.), diperkirakan hidup antara  551 - 479 seb.M. Masa itu dalam sejarah Tiongkok diperiodisasi dari tahun 770 hingga 476 seb.M. termasuk era 'Musim Semi dan Musim Gugur', yakni nama sebuah kronik pada Negara Bagian Lǔ (魯國 atau Lǔ Guó, 722 - 479 seb. M.). Dinasti Zhōu (周) sendiri adalah dinasti yang paling lama memerintah di Tiongkok, yakni antara 1067 - 221 seb.M., dan setelah itu akan dilanjutkan oleh Qín Shǐ Huáng. Selama periode ini, otoritas Kekaisaran Zhōu atas berbagai negara-bagian yang bercorak feodal semakin terkikis, karena banyak adipati dan marquise yang memperoleh otonomi daerah, dan mereka menentang kuasa kaisar di kotaraja Luò Yì (洛邑), serta mengobarkan perang di antara mereka sendiri.

 

Kǒng Zǐ diperkirakan lahir pada 28 September 551 seb.M. di Zōu atau 鄒, sekarang berada di Propinsi Shandong modern. Daerah itu secara langsung dikendalikan oleh Kaisar Zhōu tetapi secara efektif independen di bawah penguasa lokal Lǔ, yang memerintah dari kota terdekat Qūfù. Ayahnya Kǒng Hé (孔紇) juga dikenal sebagai Shūliáng Hé (叔梁紇, 622 - 548 seb.M.), adalah seorang sarjana dan pejabat militer dari garnisun Lǔ setempat. Nenek moyangnya dapat ditelusuri kembali melalui Adipati Sòng (宋) pada masa Dinasti Shāng (商朝, Shāng Cháo), yakni pendahulu Dinasti Zhōu. Isteri Kǒng Hé, yakni Nyonya Besar Shi, melahirkan sembilan anak dan semuanya perempuan. Di usia lanjut Kǒng Hé mengambil seorang selir dan mendapatkan seorang putera yang diberi nama Kǒng Pí (孔皮). Namun, karena ibu Kǒng Pí adalah seorang selir dan Pí sendiri memiliki cacat di kakinya, dia tidak bisa menjadi penerus ayahnya. Dengan demikian, Kǒng yang berusia lanjut tidak memiliki ahli waris, sampai dia mendekati dan berhasil membujuk Yán Xiāng (顏襄), ayah dari keluarga Yán untuk menikah dengan salah satu puterinya. Akhirnya dia menikahi Yán Zhǐ Zài (顏徵在), sang puteri ketiga dan bungsu. Ketika Shūliáng Hé menikah dengan Yán Zhǐ Zài, dia berusia 70 tahun sementara Yán baru berusia 18 tahun. Lewat perkawinannya dengan puteri bungsu Yán, lahirlah Kǒng Zǐ.

 

Kǒng Zǐ diberi nama Qiū (丘, yang berarti bukit) karena ibunya sering bersembahyang di Ní Qiūshān (尼丘山) dan dia juga dipanggil Zhòng Ní (仲尼),yang bermakna 'Putera Kedua dari Bukit Ní'. Pada saat Kǒng Qiū berusia tiga tahun ayahnya Kǒng Hé meninggal karena sakit. Setelah kematian ayahnya, Yán Zhǐ Zài diusir oleh Nyonya Besar Shi, jadi dia membawa Kǒng Pí dan Kǒng Zǐ ke Qūfù Quē Lǐ (曲阜阙里) dan di sana mereka hidup dalam kemiskinan. Kǒng Zǐ dididik di sekolah untuk rakyat biasa, tempat dia belajar enam cabang ilmu pengetahuan. Dilihat dari keturunan ayahnya, dalam tatanan masyarakat zaman itu dia masuk dalam golongan Shì (士), yakni jenjang antara golongan aristokrat dan rakyat jelata. Di usia enam tahun, Kǒng Zǐ telah menunjukkan kelebihannya; dia senang mengajak dan memimpin kawan-kawannya menirukan orang melakukan ibadah dan sembahyang. Setelah tumbuh menjadi remaja, meskipun Kǒng Zǐ baru berusia lima-belas tahun dia telah memiliki semangat belajar yang luar biasa. Pada saat usianya menginjak enam-belas tahun ibunda Kǒng Zǐ, Yán Zhǐ Zài, meninggal dunia dan dia melakukan perkabungan orang tuanya hingga tiga tahun. Setelah masa berkabung berakhir dan Kǒng Zǐ berusia 19 tahun, dia menikahi Qí Guān Shì (亓官氏), seorang puteri pejabat Kadipaten Sòng. Dengan demikian dia dapat sering kembali ke kampung halamannya untuk menyembah leluhurnya. Setahun setelah mereka menikah, isterinya melahirkan seorang putera yang diberi nama Kǒng Lǐ (孔鯉).

 

Setelah memiliki putera, Kǒng Qiū sangat peduli dengan peristiwa besar di dunia dan dia sering memikirkan berbagai masalah pemerintahan, serta sering mengungkapkan pendapat pribadinya. Pada usianya yang kedua-puluh, Kǒng Qiū mulai menjabat sebagai komisaris dengan mengelola gudang. Karena kondisi hidup semakin berat dia pun terlibat dalam pekerjaan kasar seperti mengelola ternak. Pada tahun 525 seb. M., dia membuka sebuah sekolah swasta dan mengajarkan siswa-siswanya secara langsung. Nama Kǒng Qiū sudah agak dikenal di usianya yang ketiga-puluh.

 

Tentu Anda bertanya-tanya, seperti apa sosok Kǒng Qiū ini?  Dikatakan oleh orang sezamannya, Kǒng Qiū adalah orang yang sangat baik, penyayang, suka menolong, tulus, dan murah hati. Dia juga dikagumi karena penguasaan ilmu dan kebijaksanaannya. "己所不欲,勿施于人" (Jǐ suǒ bù yù, Wù shī yú rén) atau diindonesiakan, "Jangan lakukan kepada orang lain, apa yang Anda tidak ingin lakukan pada diri Anda sendiri." Kata-kata ini merupakan 'Aturan Emas' dari Kǒng Zǐ. Seperti yang disebutkan di atas Kǒng Qiū adalah orang yang memiliki semangat belajar yang menggebu-gebu. Dia telah membaca dan mempelajari lima Naskah Klasik Tiongkok; dia juga turut bersumbangsih dengan menulis dan menyunting tulisan-tulisan klasik lainnya. Peninggalan Kǒng Zǐ yang banyak mengungkapkan pemikirannya sendiri dapat dibaca dalam kitab Analek atau Lúnyǔ (論語).

 

Kebajikan menurut pemikian Kǒng Zǐ adalah mewujudkan semangat kemanusiaan. Teori ritual Konfusius mewujudkan semangat etiket dan etika, yaitu ketertiban sistem dalam pengertian modern. Prinsip Kǒng Zǐ memiliki kesamaan dengan tradisi dan kepercayaan Tionghoa. Dengan berbakti, ia memperjuangkan kesetiaan keluarga yang kuat, pemujaan leluhur, penghormatan orang tua oleh anak-anak mereka, dan suami oleh isteri mereka; merekomendasikan keluarga sebagai dasar pemerintahan yang ideal. Kemanusiaan adalah tema abadi umat manusia, yang berlaku untuk setiap masyarakat, setiap era, dan setiap pemerintahan, serta melingkupi pula tatanan dan kelembagaan masyarakat. Semuanya adalah persyaratan dasar untuk pembentukan masyarakat umat manusia yang beradab. Semangat kemanusiaan dan ketertiban Kǒng Zǐ ini adalah inti dari pemikiran sosial dan politik Tiongkok Kuno.

 

Pemikiran politik Kǒng Zǐ didasarkan pada pemikiran etisnya. Dia berargumen bahwa pemerintah terbaik adalah yang memerintah melalui 'ritus' atau lǐ dan moralitas alami masyarakat, dan bukan dengan menggunakan suap dan paksaan. Dia menjelaskan bahwa ini adalah salah satu analogi yang paling penting: "Jika orang-orang dipimpin oleh hukum, dan keseragaman berusaha diberikan kepada mereka dengan hukuman, mereka akan mencoba untuk menghindari hukuman, tetapi tidak memiliki rasa malu. Jika mereka dipimpin dengan kebajikan, dan berusaha diberikan keseragaman kepada mereka dengan aturan kepatutan, mereka akan memiliki rasa malu, dan terlebih lagi akan menjadi baik." (Analek 2.3. terjm. Legge). 'Rasa malu' ini merupakan proses internalisasi-kewajiban, yang mana hukuman mendahului perbuatan jahat, bukan mengikutinya dalam bentuk undang-undang seperti yang dianut paham Legalisme. 'Rasa malu' ini mirip dengan ajaran Hiri dalam Buddhisme, yakni malu untuk berbuat jahat.

 

Nasib Kǒng Zǐ cukup mencengangkan. Pengetahuan moralnya sangat dihargai oleh orang-orang pada saat itu; ambisinya untuk berguna di dunia tidak pernah dilepaskannya. Setelah semua kegagalannya, Kǒng Zǐ juga tampaknya tidak berkecil hati tentang karir politiknya. Namun, dia tidak pernah ragu untuk mematuhi dan mewarisi apa yang diyakininya. Kǒng Zǐ tidak berhasil dalam menggapai jabatan publik yang mungkin masih diidamkannya, dan bahkan di usia tuanya, dia masih pergi ke mana-mana untuk mengkhotbahkan aturan moralitasnya. Pada usia lima puluh satu, dia mulai melayani masyarakat sebagai pejabat di Negara Bagian Lǔ, dan pada puncaknya dia mendapat jabatan Dà Sīkòu (大司寇) yakni menteri besar kehakiman yang menjadi atasan semua hakim dan perangkat peradilan, dan berada dalam puncak hirarki untuk urusan hukum di negeri tersebut. Tetapi sayangnya, saat-saat indah itu hanya berumur pendek dan dia tidak dipekerjakan kembali. Dari usia lima puluh empat hingga enam puluh delapan tahun, dia mengembara ke negeri-negeri lainnya selama empat belas tahun lagi. Kemudian, dia kembali ke negara bagian Lǔ. "Tapi Lǔ tidak bisa 'menggunakan Kǒng Zǐ pada akhirnya,' karena persyaratan tidak cocok, serta Kǒng Zǐ juga tidak mencari posisi resmi.". (Jika Anda ingin tahu pendapat sejarawan ini, lihatlah lebih jauh pada http://www.xinhuanet.com).

 

Kǒng Zǐ mulai mengajar di tingkat pendidikan tinggi setelah dia berusia 30 tahun, dan dia mendidik lebih dari 3.000 siswa sepanjang hidupnya. Dari jumlah besar itu, sekitar 70 di antaranya dianggap istimewa atau luar biasa. Kǒng Zǐ tidak memungut biaya apa pun, dan hanya meminta hadiah simbolis berupa seikat daging kering dari calon siswa. Menurut muridnya Zigòng (子貢), gurunya memperlakukan murid-muridnya seperti dokter merawat pasien dan tidak menolak siapa pun. Kebanyakan dari mereka berasal dari Lǔ, negara asal Kǒng Zǐ, sebanyak 43 orang. Dia pun menerima siswa dari seluruh Tiongkok, dan di antara siswa istimewa itu ada enam dari negara bagian Wèi (衞), tiga dari Qín (秦), masing-masing dua dari Chén Guó (陳國) dan Qí (齊), serta satu orang masing-masing dari Cài (蔡), Chǔ (楚), dan Sòng (宋). Kǒng Zǐ menganggap latar belakang pribadi murid-muridnya tidak relevan, dan dia menerima mereka yang berasal dari kalangan bangsawan, rakyat jelata, dan bahkan mantan penjahat seperti Gōng Yě Zhǎng (公冶長). Siswa-siswanya dari keluarga kaya akan membayar jumlah yang sepadan dengan kekayaan mereka, yang dianggap sebagai sumbangan ritual. Kelak siswa-siswanya dari komunitas Kǒng Zǐ awal yang dia lahirkan, akan menjadi kekuatan intelektual yang paling berpengaruh pada masa selanjutnya, yaitu pada periode Negara-negara Berperang (475 - 221 seb.M.).

 

Murid favorit Kǒng Zǐ adalah Yán Huí (顏回, kira-kira  521 - 481 seb.M.), kemungkinan besar dia salah satu yang paling miskin dari mereka semua. Di bawah ajaran Kǒng Zǐ, para murid menjadi terpelajar dalam prinsip dan metode pemerintahan. Dia sering terlibat dalam diskusi dan debat dengan murid-muridnya dan sangat mementingkan studi mereka dalam pengetahuan sejarah, puisi, musik, dan ritual. Kǒng Zǐ menganjurkan kesetiaan terhadap prinsip daripada kecerdasan individu, di mana reformasi harus dicapai dengan persuasi, alih-alih dilakukan dengan kekerasan. Meskipun Kǒng Zǐ mencela mereka karena praktik mereka yang terkadang melenceng dari ajarannya, para bangsawan selaku atasan mereka kemungkinan tertarik pada gagasan memiliki pejabat yang dapat dipercaya, yang karena keadaan zaman itu menuntut mereka untuk bertindak demikian.

 

Jika Kǒng Zǐ berhasil mendidik orang-orang hebat yang akan menjadi pengikut dan penerusnya di zaman yang sesudahnya, layakkah ajarannya disebut sebagai agama? Bukankah warisannya hanya menjadi satu pemikiran filsafat dan etika? Kǒng Zǐ sendiri menganggap dirinya sebagai pemancar untuk nilai-nilai periode sebelumnya yang dia klaim telah ditinggalkan pada masanya. Ajaran filosofisnya, yang disebut Ruisme, menekankan moralitas pribadi dan pemerintahan, keharmonisan hubungan sosial, keadilan, kebaikan, dan ketulusan.

 

Apakah itu Ruisme? Jika Anda mencari kata ini dalam mesin-pencari Google, selalu akan dirujuk pada Confusianism (Konfusianisme, Ind.). 儒家主义 atau Rújiā Zhǔyì adalah Ruisme; atau 儒教 Rú Jiào, bermakna Agama Rú; 儒家信仰 atau Rújiā Xìnyǎng, berarti Keyakinan Rú. Jadi apa itu Rú? Rú, menurut Xú Zhōngshū (徐中舒) dalam  'Kamus Naskah Tulang Orakel atau 'Oracle Bone Script Dictionary' (甲骨文字典 atau Jiǎgǔwén Zìdiǎn) seperti seorang pria yang memandikan dirinya sendiri. Dalam agama primitif kuno sebelum pemuka agama mengadakan upacara kurban, para rohaniwan harus berpuasa dan mandi untuk menunjukkan kesungguhan mereka. Ini tidak hanya membuktikan argumen Húshì (胡适), bahwa Ruisme pada awalnya dijalankan oleh pendeta Yīn-Shāng (殷商), tetapi juga menemukan bukti bahwa Ruisme berfungsi sebagai agama kuno.

 

Lǐ Zéhòu (李泽厚,13-Jun-1930 - 2-Nov-2021), seorang filsuf modern, juga percaya bahwa Ruisme berkembang dari kalangan penyihir. Kǒng Zǐ sendiri pernah berkata, "Aku serta Shǐ (史 atau sejarah) dan Wū (巫,atau penyihir) dilukis bersama namun kembali secara terpisah." Tetapi pada saat yang sama, dia juga menunjukkan bahwa dia berbeda dari penyihir yang berspesialisasi dalam berkomunikasi dengan hantu dan dewa, "Saya hanya meminta kebajikan." Dimulai dengan Kǒng Zǐ, konsep "Ruisme" telah berubah, dan secara bertahap telah keluar dari ruang lingkup perdukunan dan ilmu sihir. Kǒng Zǐ adalah pendidik pertama dalam sejarah Tiongkok yang membuka sekolah swasta. Dia dikenal sebagai 'guru dari tiga ribu murid dan tujuh puluh dua orang bijak'. Dia dan murid-muridnya menyebarkan etika, ritual, dan berbagai pengetahuan yang selama itu telah dimonopoli oleh para aristokrat dari zaman kuno selama berabad-abad, dan secara bertahap membentuk sekolah Ruisme. Oleh karena itu, Ruisme telah mewarisi budaya sejarah ilmu sihir sejak zaman Dinasti Shāng, dan mengembangkan tradisi ritual dan musik pada masa Dinasti Zhōu Barat.

 

Setelah berusia 68 tahun Kǒng Zǐ  pulang ke kampung halamannya setelah menyelesaikan pengembaraan panjangnya. Pada tahun 483 seb.M. Kǒng Lǐ, putera semata wayangnya, meninggal dunia. Puteranya ini memang tidak secemerlang ayahnya. Beruntunglah Kǒng Zǐ bahwa putera Kǒng Lǐ yang bernama Kǒng Jí (孔伋) memiliki bakat seperti kakeknya, dan kelak dia berjasa meneruskan dan mengembangkan ajaran Kǒng Zǐ. Dua tahun setelah kematian puteranya, kembali Kǒng Zǐ ditimpa musibah. Yán Huí siswa favoritnya meninggal pada 481 seb.M. pada usia muda (40 tahun); padahal Yán Huí yang berbeda usia 30 tahun dari Kǒng Zǐ, dan dia diharapkan oleh sang guru untuk menjadi penerusnya. Akhirnya pada 479 seb.M. Kǒng Zǐ meninggal pada usia 71 atau 72 tahun karena sebab alami. Dia pun dimakamkan di Pemakaman Kǒng Lín (孔林) yang terletak di tempat bersejarah Qūfù di Propinsi Shandong. Makam asli yang didirikan di sana untuk mengenang Kǒng Zǐ di tepi Sungai Sìshuǐ (泗水) berbentuk kapak. Sampai sekarang banyak pengikutnya yang masih melakukan ziarah ke tempat persemayamannya.

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/220629