Tampilkan postingan dengan label Ibadat dan Kebiasaan Buddhis. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibadat dan Kebiasaan Buddhis. Tampilkan semua postingan

Jumat, 03 Januari 2020

MENGENAL SITUS-SITUS PEZIARAHAN UMAT BUDDHA


MENGENAL SITUS-SITUS PEZIARAHAN UMAT BUDDHA


Seperti yang diamanatkan oleh Sang Buddha sendiri menjelang kemangkatannya, ada empat situs yang direkomendasikan oleh Beliau untuk diziarahi. Empat Situs itu adalah Lumbini, Buddhagaya, Isipatana, dan Kusinara. Dalam booklet ini sang pengarang, Ven. Piyadassi Thera, menguraikan bangunan apa saja yang bisa kita lihat dan kunjungi bila kita mengunjungi empat situs peziarahan tersebut. Booklet ini yang berjudul “Empat Tempat Suci Agama Buddha” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Dharma Prima Niaga pada tahun 2019. Dan sejak tanggal 31 Desember 2019, buku ini secara resmi telah diluncurkan dan dijual di situs e-dagang (atau e-commerce). Ke depan buku ini bisa pula diperoleh di beberapa bursa vihara di Indonesia.








PARITTA BUKANLAH DOA BUDDHIS


PARITTA BUKANLAH DOA BUDDHIS


Masyarakat umum yang menyaksikan upacara agama Buddha di vihara atau cetiya sering menganggap paritta yang berbahasa Pali sebagai doa buddhis. Jadi kalau umat beragama lain melantunkan doa-doa selagi mereka beribadat, maka umat Buddha juga dikatakan sedang berdoa sewaktu mereka melakukan puja bakti. Kebiasaan memanjatkan dan mendengarkan paritta sutta bermula seiring dengan lahirnya Buddha Dhamma. Adalah hal yang pasti bahwa pengulangan paritta sutta mampu menghasilkan kesejahteraan mental bagi mereka yang mendengarkannya dengan kepandaian dan keyakinan terhadap kebenaran kata-kata Sang Buddha. Dengan demikian paritta jelas bukan doa dalam agama Buddha, yang lewat pembacaannya umat memohon sesuatu kepada sesosok mahkluk adikuasa. Dalam esai ringkasnya Ven. Piyadasi Thera menjelaskan berbagai hal mengenai Paritta dalam bukunya Buddhist Observances and Practises yang terbit pertama kali pada tahun 1970. Booklet ini yang berjudul “Ibadat dan Kebiasaan Buddhis” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Dharma Prima Niaga pada tahun 2019. Dan sejak tanggal 31 Desember 2019, buku ini secara resmi telah diluncurkan dan dijual di situs e-dagang (atau e-commerce). Ke depan buku ini bisa pula diperoleh di beberapa bursa vihara di Indonesia.









Sabtu, 30 November 2019

MEMPERKENALKAN TRADISI PERIBADATAN AGAMA BUDDHA


MEMPERKENALKAN TRADISI PERIBADATAN AGAMA BUDDHA




Judul Buku: Ibadat dan Kebiasaan Buddhis
Pengarang : Piyadassi Thera
Penerbit : Dharma Prima Niaga
Tahun Terbit : 2019
Tebal Halaman : 44 halaman


Ibadat dan kebiasaan yang dilakukan oleh masyarakat di satu negara atau satu daerah bisa berbeda jauh dengan negara atau daerah lainnya. Demikian juga dalam agama Buddha yang memiliki tiga mazhab besar dan banyak sekte, ibadat dan kebiasaan yang dilakukan oleh para pengikutnya sangatlah beragam. Di sini Piyadassi Thera selaku pengarang esai singkat ini, mengupas tradisi khas Buddhis yang lazim dilangsungkan di negaranya yakni Sri Lanka.

Dalam bagian pembukaan pengarang telah mewanti-wanti bahwa Buddha bukanlah sesosok dewa pencipta, satu reinkarnasi dewa, atau makhluk adibiasa lainnya, melainkan seorang manusia yang telah mencapai tingkat mental dan intelektual yang tertinggi. Dengan demikian bukan pada tempatnya jika seorang pengikutnya melakukan doa atau permohonan kepadanya. Demikian juga rahib Buddhis bukanlah penengah atau perantara yang menjembatani umat yang memohon sesuatu, untuk diteruskan kepada ia yang memiliki "kekuasaan adiduniawi".

Sekarang jika ada orang yang bertanya mengapa umat menyembah patung Buddha, bukankah sama saja jika ia memohon kepada Buddha. Bisa juga orang berpendapat bahwa umat Buddha adalah penyembah berhala, karena patung pun ikut disembah. Menurut penulis, sesungguhnya tidak ada persembahyangan atau pemujaan kepada obyek mati seperti itu. Di hadapan patung, benda itu hanya membantu mengingatkan umat tentang keagungan Sang Guru, yang diwakili oleh patung itu. Kalau pun ada unsur pemujaan, tindakan itu hanya sebentuk rasa terima kasih dan kekaguman kepada sang pembabar kebenaran.

Perihal upacara perkawinan yang diselenggarakan di vihara, orang luar juga sering salah memahaminya. Mereka mengira pasangan pengantin disahkan dalam satu ikatan perkawinan, dengan pengesahan oleh rahib Buddhis atau bhikkhu. Padahal menurut pandangan agama Buddha, bukanlah tugas seorang bhikkhu untuk mengurusi perkara duniawi umat awam. Seperti yang dicontohkan dalam esai ringkas ini, pasangan pengantin di Sri Lanka biasanya mengundang beberapa orang bhikkhu untuk menerima undangan makan siang beberapa hari sebelum dilakukan upacara perkawinan. Dengan begitu pasangan pengantin ini memperoleh peluang untuk melakukan kebajikan. Setelah makan siang, para bhikkhu yang diundang akan mendaraskan paritta suci dan memberikan khotbah singkat tentang perkawinan yang bahagia.

Perihal kematian, orang luar mengira jika seorang Buddhis meninggal dunia, jenazahnya pasti dikremasikan. Padahal penulis menegaskan bahwa umat Buddha yang meninggal dunia bisa dikremasikan atau dikuburkan. Pilihan mana yang akan diambil tergantung pada keputusan keluarganya. Melihat kondisi perkotaan dewasa ini, yang mana lahan pemakaman kian langka dan terbatas, maka kremasi dinilai memberikan solusi yang lebih baik.

Yang perlu diperhatikan di sini adalah jika salah seorang anggota keluarga kita sedang menghadapi kematian atau baru saja meninggal dunia, maka yang harus diupayakan adalah membuat kedamaian atau ketenangan pada batin orang yang akan atau baru meninggal dunia itu. Caranya tidak lain membacakan paritta di samping pembaringannya. Adalah lebih baik jika anggota Sangha turut membacakan paritta-paritta suci. Dengan begitu akan mengkondisikan agar sanak saudara kita itu dapat terlahir-kembali di alam yang menyenangkan.

Esai ini ditutup dengan pembahasan tentang manfaat paritta-sutta juga mengenai pentingnya umat memiliki buku paritta (yang disebut juga sebagai buku perlindungan) di rumah mereka. Dengan mendengarkan atau membacakan paritta disertai keyakinan yang mendalam dapat membuahkan kesejahteraan batin, yang selanjutnya akan membawa pada kesembuhan dan pencegahan dari marabahaya. Tentu saja untuk mendapatkan kesembuhan ada syarat-syarat lainnya yang mesti dipenuhi.

Booklet ini baik dibaca untuk mereka yang baru mengenal agama Buddha. Juga direkomendasikan pada mereka yang ingin memahami tradisi peribadatan agama Buddha lebih lanjut.


resensibuku/ibadatdankebiasaanbuddhis-piyadassi/sdjn/191130