Tampilkan postingan dengan label Bhikkhu Bodhi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bhikkhu Bodhi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Januari 2020

MEMAHAMI LEBIH JAUH DHAMMAPADA


MEMAHAMI LEBIH JAUH DHAMMAPADA


Buku ini Dhammapada – Pesan dari Zaman Kuno yang Tetap Membumi, yang disusun oleh Bhikkhu Bodhi. Seperti dikatakan oleh pengarangnya, dengan penetapan-penetapan ini dalam kerangka pemikiran, kita akan menguji Dhammapada untuk menemukan apa yang dipandang oleh kitab kebijaksanaan kuno ini sebagai masalah-masalah spiritual kehidupan manusia yang fundamental dan abadi, serta mempelajari solusi-solusi yang ditawarkannya yang masih relevan bagi kita sekarang.  Dengan cara ini kita akan menyingkap pesan Dhammapada yang hidup: pesan yang berdengung kencang melalui abad demi abad serta berbicara kepada kita dalam kondisi saat ini dalam segenap kemanusiaan kita. Booklet ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Dharma Prima Niaga pada tahun 2019. Dan sejak tanggal 31 Desember 2019, buku ini secara resmi telah diluncurkan dan dijual di situs e-dagang (atau e-commerce). Ke depan buku ini bisa pula diperoleh di beberapa bursa vihara di Indonesia.










Kamis, 02 Januari 2020

KISAH HIDUP BUDDHA DAN PESANNYA MELEBUR MENJADI SATU


KISAH HIDUP BUDDHA DAN PESANNYA MELEBUR MENJADI SATU



Sebagai umat Buddha, kita pasti tahu dan mengingat kisah hidup Sang Buddha yang mengagumkan. Setiap orang yang mengaku buddhis pasti akan berbangga hati dan bersukacita jika membaca atau mendengar jalinan kisah hidupnya, sejak ia dilahirkan sebagai pangeran Siddhartha, melakukan pencarian hukum-hukum kesunyataan, mencapai keBuddhaaan, melakukan perjalanan misionaris dalam waktu yang panjang, dan akhirnya mangkat setelah banyak melakukan kesejahteraan dan kebaikan bagi umat manusia dan para dewa. Namun tidak banyak yang mengetahui bahwa kisah hidupnya tidak lain merupakan suatu rangkaian pelajaran, yang membentuk dan membawa kita kepada butir-butir ajarannya yang esensial. Jadi dalam kehidupan pribadinya, orang dan pesannya melebur bersama dalam satu kesatuan yang tak-terpisahkan. Hanya dalam buku kecil ini dibahas kesatuan yang menakjubkan ini. Dikarang oleh Bhikkhu Bodhi pada tahun 1999, esai singkat ini dengan judul "Sang Buddha dan Ajarannya, Dua Pelajaran Buddha Dhamma" telah diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia dan diterbitkan oleh Dharma Prima Niaga pada tahun 2019. Dan sejak tanggal 31 Desember 2019, buku ini secara resmi telah diluncurkan dan dijual di situs e-dagang (atau e-commerce). Ke depan buku ini bisa pula diperoleh di beberapa bursa vihara di Indonesia.








Jumat, 29 November 2019

MEMBEDAH DHAMMAPADA


MEMBEDAH DHAMMAPADA




Judul Buku: Dhammapada Pesan Dari Zaman Kuno Yang Tetap Membumi
Pengarang : Bhikkhu Bodhi
Penerbit : Dharma Prima Niaga
Tahun Terbit : 2019
Tebal Halaman : 44 halaman


Kitab suci Tipitaka yang jika dituangkan dalam bentuk buku akan memuat jumlah halaman yang banyak sekali. Maka ada pikiran dari orang yang berpandangan praktis, bagaimana kalau kita membaca ringkasannya saja. Ringkasan itu ada pada Dhammapada, yang merupakan kumpulan 423 syair yang elok. Tentu saja pendapat ini berlebihan, tetapi seperti yang dikemukakan oleh Bhikkhu Bodhi, pengarang esai ini, terdapat keberagaman ajaran yang sedemikian luasnya di dalam Dhammapada.

Keberagaman ajaran dalam syair-syair Dhammapada yang bernas dan intuitif, menurut pengarang, juga diikuti oleh ketidakkonsistenan yang dapat membingungkan pembaca yang pengertiannya masih dangkal. Misalnya ada banyak syair yang memberikan kiat agar praktik-praktik tertentu dijalankan, yang mampu membawa mereka ke surga. Sementara di syair yang lain, Sang Buddha mencela para siswanya yang mendambakan surga serta sebaliknya memuji mereka yang tidak berselera terhadap surga. Bagi pembaca yang bersangkutan mungkin mereka berpendapat bahwa ajaran Sang Buddha penuh dengan kontradiksi.

Guna mengatasi kesalahan persepsi seperti itu Bhikkhu Bodhi memberikan satu kutipan yang berasal dari kitab Udana: "Seperti samudera luas yang hanya memiliki satu rasa, yakni rasa asin; demikian juga Dhamma dan Vinaya hanya memiliki satu rasa, yakni rasa kebebasan." Jadi meskipun ada keberagaman dalam makna dan perumusannya, ajaran Buddha semuanya cocok bersama-sama membentuk sistem yang koheren sempurna, yakni seluruhnya merupakan satu kesatuan dari sasaran terakhirnya. Sasaran terakhir itu adalah kebebasan atau vimutti.

Untuk memahami bagaimana Dhammapada secara keseluruhan berkontribusi pada sasaran tertingginya, pengarang memberikan satu skematisme yang terdiri dari empat tingkat instruksi. Keempat tingkat instruksi ini terbagi menjadi dua tingkat perintah yang bersifat duniawi. Sedangkan dua tingkat perintah berkaitan dengan transendensi, yang terbagi lagi menjadi tingkat jalan dan tingkat buah.

Tingkat pertama dinamakan "Kebaikan Manusia Sekarang dan Disini", ditujukan pada kebutuhan untuk menetapkan kesejahteraan umat manusia serta kebahagiaan dalam ranah hubungan pribadi yang langsung terlihat. Patut digarisbawahi pengarang mengemukakan kebahagiaan itu diantaranya menghilangkan konflik, yang mana konflik membawa pada penderitaan yang masif pada individu, masyarakat, dan dunia secara keseluruhan.

Tingkat kedua adalah "Kebaikan Dalam Kehidupan-kehidupan Yang Akan Datang". Kebaikan pada tingkat kedua ini serupa dengan kebaikan tingkat pertama, dengan kebahagiaan yang akan menyertainya tidak terbatas di alam kehidupan yang kelihatan, namun jauh ke masa depan yang tak terbayangkan dalam perjalanan lanjutan individu yang bersangkutan mengarungi samsara.

Selanjutnya tingkat yang ketiga tidak lain "Jalan Menuju Kebaikan Akhir", menjelaskan kerangka teori bagi cita-cita untuk menggapai kebebasan akhir. Kebaikan akhir ini berkaitan dengan disiplin praktik yang dapat membawa cita-cita ini pada realisasinya, yakni pelaksanaan Jalan Mulia Beruas Delapan.

Kemudian pada tingkat yang keempat adalah "Sasaran yang Tertinggi" merupakan buah yang akan diperoleh setelah merampungkan tingkat yang ketiga. Tingkat keempat adalah perayaan dan sambutan kegembiraan dari mereka yang telah memperoleh buah sang jalan dan memenangkan sasaran yang terakhir.

Esai dalam booklet ini patut dibaca oleh mereka yang ingin mengkaji lebih jauh pelajaran apa yang bisa kita peroleh dari Dhammapada, dipandang dari kerangka ajaran Sang Buddha secara keseluruhan. Walaupun esai ini tidak mengeksplorasi seluruh ayat-ayat yang terdapat dalam Dhammapada, pembaca yang ingin melakukan penelitian yang lebih mendalam dapat memulainya dengan memanfaatkan pedoman yang diberikan oleh Bhikkhu Bodhi.


resensibuku/dhammapadapesandarizamankunoyangtetapmembumi-bhikkhubodhi/sdjn/191129


Rabu, 27 November 2019

MENGAPA AJARAN BUDDHA BISA MENJADI AGAMA BESAR DI DUNIA?

MENGAPA AJARAN BUDDHA BISA MENJADI AGAMA BESAR DI DUNIA?




Judul Buku: Sang Buddha dan Ajarannya, Dua Pelajaran Buddha Dhamma
Pengarang : Bhikkhu Bodhi
Penerbit : Dharma Prima Niaga
Tahun Terbit : 2019
Tebal Halaman : 56 halaman


Jika kita mencoba untuk merenungkan bagaimana satu ajaran yang diperkenalkan oleh seorang guru kepada orang-orang di lingkungannya, lalu seiring berjalannya waktu, ajaran itu mampu mempengaruhi pola pikir dan pandangan hidup masyarakatnya; maka patut dipertanyakan guru dengan model seperti apa dan atau ajaran apa yang membuatnya sukses. Demikian juga jika kita mau mencari tahu kesuksesan agama-agama besar yang dianut oleh umat manusia selama berabad-abad, kita mesti mempelajari dan menyelidikinya lebih lanjut.

Demikianlah satu pendekatan untuk memahami mengapa agama Buddha mampu menjadi satu agama besar di dunia, telah dicoba untuk dijabarkan oleh Bhikkhu Bodhi dalam booklet ini. Seperti yang diutarakan oleh pengarang dalam pembukaannya, walaupun sekarang Buddha Dhamma telah kehilangan banyak penganutnya di dunia Timur, Dhamma tumbuh subur di dunia Barat dan sedang mencari akar yang kokoh di beberapa negera di bumi belahan Barat.

Dalam perjalanan sejarahnya yang panjang, dengan karakternya yang damai, non-dogmatik, dan toleran, Dhamma begitu mudahnya beradaptasi dengan budaya asli dan praktik keagamaan yang masih tertanam erat dalam keseharian penduduk lokal. Selanjutnya berangsur-angsur Dhamma pada gilirannya menghidupi budaya baharu dan menjadi pandangan dunia.

Orang awam yang baru mengenal agama Buddha dengan keragaman sekte-sektenya, dibikin bingung jika mereka mengamati kulit luar agama ini, yang sungguh berbeda satu dengan yang lain. Dalam esai kali ini, Bhikkhu Bodhi mampu menggambarkan secara ringkas tiga aliran besar agama Buddha yang ada sekarang ini, yakni Theravada, Mahayana, dan Vajrayana. Dikatakannya Buddhisme Theravada bersifat seremonial dan ramah, sedangkan Buddhisme Mahayana ditandai dengan bhakti dan bersifat kontemplatif, serta Buddhisme Vajrayana penuh dengan ritualisme dan bersifat misterius. Jika kita hanya melihat kulit luarnya, kita sulit mencari benang merah yang mengikat praktik-praktik keagamaan diantara sekte-sekte buddhis tersebut. Walaupun demikian, jika ajaran-ajaran itu digali lebih dalam semuanya sesungguhnya berasal dari sumber yang sama.

Lebih jauh dikatakan oleh pengarang, daya tarik Dhamma bukanlah semata-mata karena ajarannya saja atau karena semata ada pada sosok pendirinya. Kisah hidup Buddha tidak lain suatu rangkaian pelajaran yang membentuk dan membawa kita kepada butir-butir ajarannya yang esensial. Jadi dalam kehidupan pribadinya, orang dan pesannya melebur bersama dalam satu kesatuan yang tak-terpisahkan. Refleksi kehidupan Buddha dijelaskan dengan eloknya dalam buku ini, yang sekaligus menunjukkan keterampilan pengarang untuk menguraikan dan menyajikannya kepada para pembacanya.

Pada bagian selanjutnya pengarang menceritakan misi Sang Buddha, yang di tanah kelahirannya terbukti memikat banyak pengikutnya. Setelah ditelaah, pengarang yakin bahwa keberhasilan Buddha Dhamma sejalan dengan seruan masa kini, yang dapat dipahami secara prinsipil oleh dua faktor. Yang pertama adalah sasaran ajarannya dan yang kedua adalah fitur-fitur karakteristik ajarannya.

Booklet ini mampu memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan bagi mereka yang telah memiliki pengertian yang memadai tentang agama Buddha. Bagus sebagai bahan bacaan tambahan bagi para guru agama Buddha, mahasiswa sekolah tinggi agama Buddha, dan para dharmaduta.

Satu hal yang patut kami pertanyakan ada pada bagian akhir esai ini. Pengarang menambahkan dua kisah dalam kehidupan Buddha, yang bercerita tentang Angulimala dan Kisagotami. Jika melihat alur pembahasan tentang Sang Buddha dan Ajarannya, penambahan dua kisah ini terasa janggal. Dengan menghilangkan kedua kisah tersebut, seharusnya anak judul "Dua Pelajaran Buddha Dhamma" pada judul booklet ini sebetulnya bisa dihilangkan.


resensibuku/sangbuddhadanajarannya-bhikkhubodhi/sdjn/191127