Tampilkan postingan dengan label Riwayat hidup Master Cheng Yen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Riwayat hidup Master Cheng Yen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Maret 2023

SHÌ ZHÈNG YÁN DAN TZU CHI


 

 

 

(Bagian Kedua dari Dua Tulisan)

 

 

Pada bagian terdahulu diceritakan bahwa pada awal musim semi atau permulaan tahun 1963, Jǐn Yún yang saat itu berusia 26 tahun resmi ditahbiskan oleh Master Yìn Shùn menjadi seorang bhiksuni, dengan nama Dharma Zhèng Yán (lebih sering ditulis 'Cheng Yen'). Mulai hari itu dan selanjutnya selama 32 hari dia tinggal di Vihara Lin Ji, untuk mempelajari sila-sila dasar bagi seorang bhiksuni yang sudah ditahbiskan.

 

Setelah itu Bhiksuni Zhèng Yán pulang ke pondok mungil yang telah dibangun oleh Bapak Xǔ Cōng Mǐn, yang terletak di belakang Vihara Pǔ Míng. Di sana sampai Oktober 1963 dia membaca dan mempelajari Sutra Bunga Teratai. Karena dia menolak persembahan makanan dan keperluan sehari-hari, penghidupannya menjadi tidak mudah. Pada Oktober di tahun yang sama Zhèng Yán mulai mengajarkan Sutra Ksitigarbha di Kuil Tzu Shan, Hualien, selama sekitar delapan bulan. Yang menonjol dalam pengajarannya, dia menggunakan bahasa yang sederhana untuk menjelaskan Dharma yang sangat dalam maknanya, serta mengaitkannya dengan contoh permasalahan yang biasa dihadapi orang awam dalam kehidupan sehari-harinya. Pengikutnya bertambah dengan cepat dan dia segera mendapat sebutan 'Suhu Zhèng Yán'.

 

Meskipun baru berusia 26 tahun banyak pendengarnya yang langsung terpukau, ketika dia mengungkapkan filosofi dari India yang sudah berusia lebih dari 2.500 tahun. Setelah dia selesai berceramah, orang-orang terkesima, dan banyak di antara mereka yang bersedia menjadi pengikutnya. Ajarannya kemudian menjadi sangat populer di kalangan penduduk setempat, dan beberapa perempuan muda terinspirasi untuk menjadi muridnya. Salah satu yang berjodoh menjadi siswa pertamanya adalah Shì Dé Cí (釋德慈), selanjutnya kita panggil Suhu Cí, seorang perempuan lajang yang telah bertahun-tahun bercita-cita menjadi seorang bhiksuni. Setelah menetap selama delapan bulan di Kuil Tzu Shan, pertengahan tahun 1964 Suhu Zhèng Yán kembali ke Vihara Pǔ Míng, dan dia telah menerima empat orang siswa lagi.

 

Suhu Cí menulis: "Setelah itu selama beberapa tahun, kami berenam tinggal di sebuah pondok kecil di puncak bukit di belakang Vihara Pǔ Míng. (Master Cheng Yen: Teladan ..., hal. 82-83). Ruangannya berukuran kurang lebih 12 meter persegi. Kami berenam harus berdesak-desakan di dalamnya, saling berbagi dua buah selimut katun tebal pada malam hari." Sesuai dengan prinsip yang dianut Suhu Zhèng Yán, dia sendiri dan para pengikutnya harus hidup mandiri dengan bekerja untuk mencari nafkah, dan mereka menolak persembahan atau melakukan pelayanan ritual keagamaan demi mendapatkan uang. Suhu mempunyai prinsip: "sehari tidak kerja, sehari tidak makan." Pada siang hari mereka menangani berbagai pekerjaan seperti menanam kacang tanah dan sayur mayur, membuat kantung pakan ternak dari karung semen, merajut sweater, membuat sepatu bayi, dan lain sebagainya. Lalu pada malam harinya Suhu memerintahkan mereka semua belajar, dengan membaca bukan hanya Sutra-sutra Buddhis saja, melainkan juga Empat Buku Klasik Konfusius, dan buku-buku lainnya. Para siswa juga diwajibkan menyalin tulisan dari Kanon dan Sutra, guna meningkatkan tingkat intelektualitas mereka.

 

Waktu berjalan terus dan pada awal tahun 1966 saat Suhu Zhèng Yán mendekati usia 29 tahun, ada kejadian yang penting. Sekali waktu Suhu pergi ke sebuah rumah sakit swasta di kota Fenglin , sebuah kota kecil di dekat Hualien, untuk menjenguk salah satu kenalannya yang baru saja dioperasi. Seperti kebanyakan rumah sakit di sepanjang wilayah pantai timur pada masa itu yang memprihatinkan, cara mereka memperlakukan pasien membuat Suhu merasa sedih, dan dia berharap pada satu hari nanti dia dapat menolong orang miskin yang sakit. Ketika hendak melangkah ke luar dari pintu gerbang rumah sakit Suhu melihat ada bercak darah di lantai, dan Suhu mendapat informasi bahwa beberapa saat sebelumnya ada wanita dari ras Polinesia yang mengalami pendarahan karena keguguran. Wanita itu terpaksa pulang kembali setelah ditolak untuk berobat, karena keluarganya tidak dapat menyerahkan uang jaminan sebesar NT $ 8.000 (sama dengan Rp 75 ribu, pada masa itu). Sambil memandangi bercak darah tersebut, hati Suhu merasa pilu karena nyawa manusia sebenarnya lebih berharga daripada uang sejumlah itu. Jadi bertambah kuat tekad dan keinginannya untuk membantu kaum papa.

 

Tidak lama setelah kejadian itu tiga orang suster Katolik datang mengunjungi Suhu di pondok belakang vihara. Mereka adalah Betty (貝蒂, Bèidì) yang berasal dari Belgia, Huángxuěwén ( 黃雪文), dan Gāolíngxiá (高凌霞) dari Sekolah Menengah Guru Hǎixīng (海星中學老師, Hǎixīng Zhōngxué Lǎoshī). Ketiganya telah mendengar cita-cita Suhu yang luhur, tetapi nampaknya dia berjalan di organisasi yang keliru. Terjadi diskusi yang panjang. Para suster itu berargumen bahwa umat Katolik telah mendirikan banyak rumah sakit, sekolah, dan organisasi amal; tetapi mereka tidak pernah mendengar ada upaya dari organisasi keagamaan umat Buddha yang pernah membangun usaha sosial seperti itu. Mereka menyebutkan bahwa umat Buddha hanyalah sekumpulan orang pasif, yang tidak berkontribusi apa pun terhadap masyarakat. Perkataan Suster Betty itu mengejutkan Suhu Zhèng Yán; dan kami kutip berikut ini: "Fójiào xìntú zhème duō, lìliàng zhème dà. Rúguǒ zuò shèhuì fúwù de gōngzuò, yǐngxiǎng huì gèng dà." ("佛教信徒這麼多, 力量這麼大. 如果做社會服務的工作, 影響會更大; Ada begitu banyak pemeluk Buddha, dan begitu banyak sumber daya. Jika Anda melakukan pekerjaan pelayanan sosial, dampaknya akan lebih besar lagi.") Suhu lalu merefleksikan apa yang telah dilakukannya selama dia menjadi rohaniwan, dan dia menyadari betapa pengabdiannya tidak berarti untuk menolong semua makhluk yang menderita. Kebetulan pada masa itu dia ditawari oleh Master Yìn Shùn untuk mengabdikan diri di sebuah vihara besar di Chiayi, di sebuah kota di selatan Pulau Formosa. Ketika penduduk Hualien mendengar bahwa Suhu akan meninggalkan kota mereka, orang-orang datang kepadanya dan memohon agar Suhu tetap tinggal di sana.

 

Suhu Zhèng Yán terinspirasi dengan sosok Bodhisattva Avalokitesvara, yang dalam satu perwujudannya menampakkan diri sebagai sosok yang memiliki seribu tangan dan seribu mata. Di hadapan para pengikutnya dia berkata: "Kitalah yang akan menjadi mata Bodhisattva Avalokitesvara yang penuh perhatian dan tangannya yang penuh manfaat. Lalu dunia tak akan pernah lagi menyebut kita sebagai kelompok Buddhis yang pasif." Selama Suhu tetap bersedia tinggal di Hualien, mereka akan melakukan apa saja untuk beliau. Namun Suhu tidak meminta banyak kepada para pengikutnya, yang kebanyakan terdiri dari ibu rumah tangga. Beliau menyarankan agar setiap orang menyisihkan NT $ 0,50 (Rp 125) dari uang belanja mereka, untuk dimasukkan ke dalam celengan bambu. Ketika ada yang mengusulkan, mengapa tidak menabung sekaligus NT $ 15 sebulan setiap awal atau akhir bulan. Suhu menjawab: "Karena berdana adalah suatu kebahagiaan. Dengan begitu Anda dapat berbuat kebajikan setiap hari, bukan hanya sebulan sekali." Pada mulanya upaya mengumpulkan lima-puluh sen setiap harinya hanya ditujukan kepada 30 orang ibu rumah tangga yang menjadi pengikut langsung Suhu, ditambah dengan enam orang yang tinggal di pondok belakang vihara. Lama kelamaan semakin banyak orang yang berpartisipasi dalam kegiatan menghimpun dana dalam celengan bambu ini.

 

Mengenai pondok mungil yang ada di belakang Vihara Pǔ Míng ada kisah unik tersendiri. Pada tahun-tahun awal pondok itu berdiri, tiba-tiba pada suatu hari tanpa ada alasan yang jelas, pihak Kepolisian Hualien memutuskan untuk membersihkan wilayah puncak bukit dan membongkar tempat tinggal mereka. Instalasi listrik dicabut dan petugas mulai menggali tanahnya. Kemudian saat para petugas melanjutkan pekerjaan mereka, sekonyong-konyong cuaca berubah drastis. Awan gelap menutupi sang mentari dan angin kencang menderu memecahkan keheningan. Suasana cerah mendadak menjadi gelap dan tak seorang pun bisa membuka mata mereka dan bernapas dengan lega. Penduduk dusun dan juga para petugas menjadi ketakutan. Para petugas meninggalkan bukit itu dengan segera, dan mereka menghadap mandor yang mengepalai mereka. Sang mandor yang keras kepala itu tetap memerintahkan agar mereka tetap melanjutkan pekerjaan, tetapi tidak ada yang menggubrisnya. Selanjutnya dia masih meminta seorang bawahannya mengendarai sebuah truk ke atas bukit. Namun ketika kendaraan itu menyusuri jalan pegunungan, truk dibelokkan oleh kekuatan yang tidak terlihat, lalu terguling dan hancur berantakan. Beruntunglah si sopir tidak mendapat cidera yang serius. Tim yang ditugaskan untuk membongkar pondok mulai menyadari bahwa perubahan cuaca yang mendadak dan hancurnya kendaraan mereka tidak bisa dijelaskan dengan alasan yang logis, dan mereka memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Malam harinya meskipun listrik sudah diputus, penduduk dusun bisa melihat cahaya terang menyinari sekeliling pondok itu. Mereka beranggapan Suhu dan para siswanya dianggap sebagai titisan Dewa.

 

Setelah mendapat komitmen dari 30 ibu rumah tangga, pada tanggal 24 bulan ketiga di tahun 1966 menurut penanggalan Imlek, Suhu Zhèng Yán mendirikan sebuah organisasi yang diberi nama 'Yayasan Buddha Tzu Chi'. 'Tzu' sendiri bermakna 'cinta-kasih dan kebajikan' dan 'Chi' berarti 'welas-asih'. Dalam bahasa Mandarin, yayasan ini dikenal dengan sebutan 佛教慈濟慈善事業基金會 (Fójiào cí jì císhàn shìyè jījīn huì). Sebelumnya Suhu berpegang pada aturan bahwasanya dia hanya akan menerima bhiksuni, dengan tidak menerima pengikut awam. Tetapi belakangan demi membantu perkembangan yayasan, beliau berubah pikiran. Lalu diterbitkanlah aturan, bahwa siapa pun yang memohon untuk menjadi pengikutnya, wajib menjadi anggota Tzu Chi. Dan sekali dia menjadi anggota, dia tidak hanya tercantum sebagai nama tok di organisasi tersebut, namun dia juga harus memberikan waktu, uang, dan tenaganya.

 

Karena kharisma Suhu yang luar biasa, keanggotaan Yayasan Buddha Tzu Chi meningkat pesat dengan kecepatan yang tidak dapat dipercaya. Pada akhir tahun 1967 jumlah anggota yang memberikan donasi secara teratur telah mencapai 300 orang, dan badan amal itu memerlukan tempat berkumpul yang lebih besar untuk menampung seluruh kegiatan mereka. Namun demikian Suhu dan lima siswa utamanya tetap bersahaja. Sejak awal dana yayasan selalu terpisah dengan dana operasional pondok kecil di belakang Vihara Pǔ Míng. Pada tahun 1967 ibunda Suhu, yakni Nyonya Wang, memberikan sejumlah uang agar yayasan bisa membeli tanah. Namun ternyata uang tersebut tidak memadai karena mereka masih perlu meminjam NT $ 31.000 di bank. Mereka lebih giat bekerja hingga membuka sawah, merajut, menjahit, membuat lilin, merangkai bunga plastik, semuanya ada 21 jenis pekerjaan yang dilakukan. Meskipun telah bekerja keras mereka masih terlilit utang, hingga Nyonya Wang turun tangan lagi dengan menyumbang NT $ 200.000. Setelah ada suntikan dana ini mereka pun mulai membangun markas besar Tzu Chi. Namun ternyata untuk membangun sebuah gedung yang layak, dana sebesar itu belum mencukupi. Akhirnya Kontraktor yang membangunnya – kebetulan dia juga merupakan pengikut Suhu – bersedia menalanginya. Gedung markas besar Tzu Chi dikenal sebagai Griya Jìng Sī ( 靜思精舍, Jìng Sī Jīng Shě), selesai dibangun pada 24 Maret 1969, tiga tahun setelah pendirian yayasan. Sampai sekarang Griya Jìng Sī di Hualien telah berkembang menjadi rumah spiritual bagi semua anggota Tzu Chi di seluruh dunia.

 

Seperti disebutkan di atas keanggotaan Buddha Tzu Chi meningkat dengan pesat. Pada tahun 1995 saja Yayasan Tzu Chi di Taiwan saja telah memiliki lebih dari tiga-juta donatur dan dari jumlah ini terdapat lima-ribu komite. Relawan komite merupakan figur sentral yang mengumpulkan dana amal, melakukan kunjungan kasih, serta membuat laporan kasus mengenai orang-orang miskin dan menderita yang perlu dibantu. Organisasi Tzu Chi memiliki motto: "Empat usaha, delapan jejak kaki" (四大志業, 八大腳印, Sì dàzhì yè, bādà jiǎoyìn). Empat fokus perhatian itu adalah amal sosial, kesehatan, pendidikan, dan budaya humanis. Setiap relawan bergabung dalam satu tim, menuju cita-cita yang sudah digariskan oleh Suhu, yakni "satu mata mengamati bagaikan seribu mata, dan satu tangan berbuat laksana seribu tangan."

 

Berikut ini penulis ceritakan kisah penuh perjuangan untuk membangun rumah sakit Tzu Chi yang pertama. Tersebutlah Dokter Wen-Ping Tseng yang bekerja sebagai Wakil Kepala Rumah Sakit di RS Universitas Nasional Taiwan yang berkedudukan di Taipei. Pada Mei 1979 Dokter Tseng dihubungi oleh Suhu Zhèng Yán, yang menyatakan bahwa beliau ingin membangun sebuah rumah sakit di Hualien. Dokter Tseng menanggapi, bahwa adalah tidak mudah membangun sebuah rumah sakit, dan meskipun sudah selesai didirikan, itu hanyalah bagian termudah dibandingkan kesulitan-kesulitan lain yang segera akan menghadangnya. Sampai tiga kali Suhu menemui Dokter, dan dia kagum pada tekad dan kegigihan bhiksuni bertubuh ringkih ini, yang beratnya tak lebih dari 45 kg dan tingginya kurang dari 150 cm. Kemudian selama empat tahun berikutnya, Suhu dan para relawan Tzu Chi bekerja tak kenal lelah menggalang dana, dan sang dokter menghubungi sebanyak mungkin koleganya untuk berpartisipasi.

 

Pada akhir tahun keempat Tzu Chi berhasil mengumpulkan pundi-pundinya sebanyak NT $ 700 juta atau setara Rp 680 milyar, dan sudah ada kalangan dokter yang siap membantu. Pada Februari 1983 dilakukan upacara peletakan batu pertama di atas sebidang tanah di lokasi yang bagus. Pembangunan sudah berjalan dua bulan, namun kemudian digugat oleh otoritas militer karena alasan keamanan. Hal itu hampir membuat mereka frustasi, tetapi Suhu tetap berpegang teguh pada keyakinannya. Lalu diperlukan satu tahun lagi untuk menemukan lokasi yang baru, dan pada April 1984 diselenggarakan peletakan batu pertama di lokasi tersebut. Master Yìn Shùn pun turut mendukung pembangunan rumah sakit tersebut, dan pada Agustus 1986 sebuah rumah sakit lima lantai dibuka untuk khalayak umum. Selama dua-belas hari pertama RS Tzu Chi menawarkan pengobatan medis gratis baik rawat-jalan maupun rawat-inap. Ratusan pasien berdatangan dan ada di antara mereka yang baru pertama kalinya bertemu dengan dokter dan paramedis. Semula hanya ada 20 orang dokter yang bertugas di sana dan jelas mereka keteteran. Suhu pun menjenguk para pasien di sana setiap harinya. Karena banyaknya orang yang berobat ke rumah sakit, dalam waktu singkat tempat ini sudah tidak memadai lagi, sehingga pada Desember 1987 pembangunan tahap kedua dimulai. Bangunan baru bertingkat sebelas dan memiliki luas 640 ribu kaki-persegi (hampir 60 ribu meter-persegi) ini, diresmikan pada bulan Mei tahun 1990. Fasilitas yang baru ini memiliki 24 departemen dan dilengkapi dengan 750 tempat tidur.

 

Untuk mengisi kebutuhan pelayanan rumah sakitnya, Suhu Zhèng Yán yang sekarang dipanggil Master Zhèng Yán, mendirikan Akademi Keperawatan Tzu Chi pada tanggal 17 September 1989. Dibuka dalam dua program, dengan yang pertama berupa pendidikan selama dua tahun bagi lulusan SMK, dan yang kedua program lima tahun untuk lulusan SMP. Bahkan pada tahun 1991 dibuka lagi program sekolah malam, baik untuk siswa reguler maupun untuk kelas karyawan. Selanjutnya pada Maret 1992 mulai dirintis Universitas Kedokteran Tzu Chi yang berada di sebuah bangunan yang megah dan berdiri di atas tanah seluas 15 hektar, yang kemudian diresmikan pada musim panas 1994. Lama pendidikan di sini adalah tujuh tahun dan mereka menerima mahasiswa dari lulusan sekolah menengah atas. Dua tahun pertama dihabiskan untuk pendidikan dasar kedokteran, dan dilanjutkan lagi selama lima tahun dengan spesialisasi kedokteran umum, kesehatan masyarakat, dan riset.

 

Salah satu aksi badan amal Tzu Chi yang cukup terkenal adalah tanggap bencana alam yang terjadi tahun 1991 di Tiongkok Timur. Saat itu dataran luas itu tergenang banjir bandang dan 220 juta penduduk terkena imbasnya. Ketika Tzu Chi berencana mengirim bantuan ke sana, Master mendapat kritik pedas dari beberapa orang di Taiwan. "Tiongkok adalah musuh kita! Mengapa menolong seteru, ketika saudara-saudara kita di Taiwan masih banyak yang membutuhkan bantuan?" Walaupun mendapat tantangan dari kalangan internal, akhirnya Master memutuskan untuk menyalurkan bantuan. Kelompok pertama relawan Tzu Chi hanya terdiri dari enam orang, dan mereka pergi menemui Pemerintah Tiongkok agar Tzu Chi diizinkan untuk menolong korban banjir. Setelah mengatasi segala rintangan mereka mulai melakukan survei, dan mendapatkan bahwa lebih dari 5.000 keluarga yang tinggal di 22 kota yang berbeda, berada dalam kondisi memprihatinkan dan memerlukan bantuan segera. Kelompok yang melakukan survei tersebut kemudian pulang dan melaporkan apa yang mereka saksikan kepada Master. Lalu sejak Agustus 1991 para relawan Tzu Chi mulai bekerja keras mengumpulkan dana. Para pengusaha tidak hanya menyumbang dana dalam jumlah besar, tetapi mereka juga turun ke jalan untuk mengumpulkan sumbangan dari orang-orang yang lewat. Para wanita kaya juga bersiaga di pusat keramaian, menjajakan bunga melati yang mereka tanam sendiri. Pada Februari 1992, hanya dalam waktu enam bulan, yayasan berhasil mengumpulkan dana NT $ 412 juta (setara dengan Rp 760 milyar). Setelah mereka membelanjakan uang tersebut dengan barang-barang yang dibutuhkan oleh korban bencana, para relawan dalam jumlah yang lebih besar berangkat ke Tiongkok untuk menyalurkan bantuan.

 

Apa yang menjadi filosofi kehidupan bagi seorang Master Zhèng Yán? Menurut beliau kehidupan tidak ada bedanya dengan sebuah perjalanan dengan menggunakan kereta api. Ketika kita lahir itu menandakan kita baru saja menaiki kereta, dan saat kita turun dari kereta itu sama dengan kematian kita. Sesungguhnya kehidupan manusia itu berlangsung singkat, jadi kita seolah-olah sedang menaiki kereta api ekspres. Satu-satunya hal yang bermakna selama kita dalam perjalanan, tidak lain menunjukkan kasih sayang dan berwelas-asih kepada semua penumpang, karena kita tidak tahu di stasiun mana kita akan turun. Ada satu lagu sederhana yang liriknya digubah oleh Master, yang berbunyi:

 

"Di dunia ini tiada yang tak kukasihi,

Di dunia ini tiada yang tak kupercaya,

Di dunia ini tiada yang tak kumaafkan,

Lepaskan risau gelisah, bergembiralah,

Kasih sayang tak terbatas dan abadi."

 

Setelah melakukan operasi tanggap bencana di Tiongkok pada tahun 1991, Tzu Chi terus-menerus terlibat dalam upaya bantuan bencana ke berbagai negara di dunia. Salah satu hal yang membedakan Tzu Chi dengan organisasi sejenis, adalah para relawannya tidak hanya memberikan bantuan jangka pendek, tetapi juga turut mengambil bagian dalam proyek jangka panjang untuk membangun kembali masyarakat terdampak. Tzu Chi sering membangun rumah, sekolah, rumah sakit, dan tempat ibadah baru (termasuk gereja dan masjid untuk non-Buddha) bagi para korban setelah kebencanaan usai. Hingga tahun 2015, Tzu Chi telah memberikan bantuan penanggulangan bencana ke lebih dari 85 negara di seluruh dunia. Mungkin dunia tidak akan menyangka sosok bhiksuni bertubuh kecil dan rapuh, yang telah menggerakan sebuah badan amal yang ikonik dalam tiga-puluh tahun terakhir ini. Zhèng Yán, dialah Sang Bodhisattva hidup yang hadir di zaman kita.

 

 

(Tamat)

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/230308




Kamis, 23 Februari 2023

SHÌ ZHÈNG YÁN DAN TZU CHI


 

(Bagian Pertama dari Dua Tulisan)

 

 

Dalam beberapa tahun belakangan ini kiprah Buddha Tzu Chi sebagai satu organisasi amal, berkembang pesat di berbagai kota besar di Indonesia. Selain sebagai sebuah badan amal yang bergerak di bidang kemanusiaan, Tzu Chi juga aktif membangun rumah sakit, sekolah, dan memiliki sebuah stasiun televisi. Dalam kesempatan kali ini penulis akan mencoba mengulas apa itu Tzu Chi dan siapa pendirinya. Sebagian besar tulisan ini didasarkan pada buku Master Cheng Yen : Teladan Cinta Kasih, yang ditulis oleh Yu-ing Ching, dengan penerbit PT Jing Si Mustika Abadi Indonesia, 2008.

 

Keberadaan Tzu Chi memang tidak bisa dilepaskan dari Master Cheng Yen itu sendiri dan Taiwan sebagai tempat kelahiran Tzu Chi. Master Cheng Yen atau 釋證嚴 (Shì Zhèng Yán), terlahir dengan nama 王錦雲 atau Wáng Jǐn Yún (atau Ông Kím Hûn, Hokkian) di 清水區 (Qīngshuǐ qū) atau Chingshui, Kota Taichung (臺中市, Táizhōng Shì) pada 14 Mei 1937. Tempat tinggal Master Cheng Yen yang sekarang adalah Griya Jing Si, di kota Hualien (花蓮市, Huā Lián Shì).

 

Taiwan di tahun 1937 berada di bawah kekuasaan Kekaisaran Jepang, yang menjajah kepulauan tersebut sejak tahun 1895. Selama dalam cengkeraman Jepang, Taiwan tidak diperkenankan untuk aktif secara politik, namun sebagai satu negara koloninya Penjajah ingin menjadikan wilayah itu sebagai percontohan. Taiwan pun relatif makmur selama kurun waktu itu. Beruntung pula karena Jepang merupakan negara Buddhis, mereka mendorong orang Taiwan untuk meyakini ajaran Buddha.

 

Ayah kandung Jǐn Yún adalah seorang penjahit, yang memiliki keahlian membuat kancing-kancing baju. Pada masa itu kancing pakaian bukan terbuat dari plastik, tetapi terbuat dari sutera atau kapas dan harus dibentuk dan dijahit; jadi kancing merupakan produk satu karya seni. Ibu kandungnya adalah seorang ibu rumah tangga yang baik hati. Sebelum Jǐn Yún lahir, ayah dan ibunya telah memiliki dua orang puteri, yang masing-masing dinamakan Jǐn Yuè (錦月), yang berarti 'bulan permai', dan Jǐn Yù (錦玉) yang bermakna 'kemala elok'. Jǐn Yún sendiri kurang lebih berarti 'awan yang sangat indah'.

 

Tersebutlah Tuan Wang yang merupakan adik bungsu ayah kandungnya, serta isterinya yang untuk selanjutnya kita namakan 'Nyonya Wang', yang tinggal dekat dengan rumah keluarga Jǐn Yún. Mereka berdua sudah menikah selama bertahun-tahun, namun belum memiliki keturunan. Tuan Wang bekerja mengelola sebuah teater kecil, yang secara teratur mementaskan opera taiwan. Nyonya Wang masih teringat saat Jǐn Yún dilahirkan, "Jǐn Yún terlahir cantik, tanpa adanya kerutan dan tidak ada tanda kemerahan pada tubuhnya. Matanya gelap dan bercahaya, seperti dua kolam air yang mengandung kebijaksanaan; yang diwarisinya dari kehidupan yang lampau. Saya jatuh hati kepadanya – keponakan  yang baru lahir – pada pandangan pertama."

 

Nyonya Wang sering berkunjung ke Vihara Zi Yun untuk bersembahyang dan memohon kepada Dewi Kwan Im, agar dia dan suaminya diberikan anak yang seperti Jǐn Yún. Dia dengan rajinnya terus pergi ke kuil dan berdoa dengan khusyuk, hingga kakak ipar laki-laki dan kakak ipar perempuannya tahu mengapa dia memohon seperti itu. Saat Jǐn Yún berusia sebelas bulan, ayah dan ibu kandungnya berkata bahwa Nyonya Wang dan suaminya boleh mengadopsi anak itu.

 

Jǐn Yún sudah dapat berjalan ketika dia dipungut anak oleh Tuan dan Nyonya Wang. Sebagai anak kecil yang baru tumbuh, sang bayi sudah tahu membalas cinta kasih orang tuanya yang baru. Dia banyak tertawa dan mulai belajar bicara, serta tawa riang dan celoteh polosnya mampu memberi kebahagiaan dan memperkaya kehidupan kedua orang tuanya. "Seperti yang dikatakan oleh orang tua dulu, jika ingin punya anak, maka haruslah dipancing dulu." Pepatah itu ada benarnya, buktinya setelah Jǐn Yún dipungut sebagai anak, Nyonya Wang mulai hamil dan setelah cukup umurnya dia pun melahirkan anak yang pertama. Bahkan bukan hanya satu anak, tetapi sampai empat orang. Walaupun mereka memiliki lima anak, Jǐn Yún adalah yang paling berharga dimata bapak dan ibunya, dan mereka lupa sepenuhnya bahwa dia hanya anak angkat. Jǐn Yún tidak hanya menyayangi kedua orang tuanya, tetapi juga adik-adik perempuan dan laki-lakinya. Saat usianya lima tahun, dia sudah membantu ibunya merawat bayi-bayi itu.

 

Setelah umurnya mencapai enam setengah tahun Jǐn Yún mulai bersekolah. Pendidikan dasar diisi dengan pelajaran Konfusianisme, ilmu pengetahuan, dan bahasa Jepang. Namun saat itu Perang Dunia ke-2 sedang berlangsung dan keadaan ekonomi rakyat semakin susah. Teater ayahnya tidak berjalan dengan baik dan hanya sedikit orang yang masih memiliki uang lebih untuk keperluan hiburan. Terpaksa ibunya mulai mencari uang dengan bekerja serabutan dari pagi hingga malam. Jǐn Yún turut membantu mengumpulkan kayu bakar, memasak, dan mengasuh adik-adiknya. Saat itulah ibunya sering sakit dan Jǐn Yún hanya punya waktu sedikit untuk belajar, karena dia harus turut merawat ibunya. Namun di sekolah para gurunya menyayanginya dan menjulukinya Oh-she (istilah Jepang, berarti 'menyenangkan').

 

Perang Pasifik semakin berkobar setelah tahun 1942 dan tahun berikutnya Sekutu mulai mendesak Jepang. Taiwan dijadikan pangkalan armada laut Jepang dan pulau ini ikut digempur oleh angkatan udara Amerika. Pengeboman yang dilakukan pesawat-pesawat Sekutu sampai juga di Chingshui. Jika sirene tanda bahaya dibunyikan, orang-orang bergegas memasuki lubang-lubang perlindungan di dalam tanah. Mereka akan bersembunyi di dalam lorong gelap sambil mendengarkan bom jatuh. Suasananya sangat mencekam dan menakutkan. Ketika bumi berguncang dan atap lubang perlindungan bergetar, tempat persembunyian itu pun masih bisa runtuh. Setelah keadaan aman mereka bisa keluar, lalu tampaklah pemandangan yang mengerikan. Segala-galanya telah porak poranda dan beberapa orang telah mati atau sekarat, demikian juga dengan hewan ternak. Di kota kecil itu semua orang saling mengenal, dan mereka pun sibuk menyelamatkan orang yang terluka dan menguburkan mereka yang tewas. Kendaraan, perabot rumah, dan pakaian meleleh dan terbakar, menyisakan puing-puing tak berguna. Orang-orang mengeluh tiada henti, sambil bergumam bahwa mereka telah menabung untuk membeli barang berharga, yang kemudian musnah hanya dalam beberapa menit saja.

 

Jǐn Yún kecil menyaksikan peperangan dan dampaknya yang mengerikan terhadap kemanusiaan. Bocah kecil kita ini telah belajar banyak, betapa rentannya kehidupan ini dan kepemilikan harta benda yang bisa musnah dalam sekejap. Pengalaman masa kanak-kanaknya akan membentuk kepribadiannya kelak.

 

Pada Agustus 1945 perang reda dan Jepang meninggalkan Taiwan. Pemerintahan dipegang lagi oleh Tiongkok setelah 50 tahun. Jǐn Yún mulai masuk Kelas 3 SD dan sekolah di Taiwan tidak lagi menggunakan bahasa Jepang. Antara tahun 1945-1947 perekonomian Taiwan membaik dan alhasil bisnis Tuan Wang pun berkembang. Sekarang dia membuka enam teater baru di berbagai kota, dan pertunjukan tidak hanya terbatas pada opera taiwan saja tetapi ditambah dengan pemutaran film. Tahun 1949 Partai Nasionalis memindahkan pemerintahan ke Taipei dan jumlah penduduk meningkat pesat. Penonton teater semakin banyak dan Keluarga Wang menjadi kaya. Mereka lalu pindah ke Fengyuan (豐原區, Fēng Yuán Qū). Pada saat itu Nyonya Wang mampu mempekerjakan pembantu rumah tangga, dan Jǐn Yún tidak perlu melakukan pekerjaan itu lagi. Setelah sekolah usai, Jǐn Yún tidak bermain-main seperti gadis seusianya, tetapi dia pergi membantu ayahnya di salah satu teater. Mulanya dia hanya menjual makanan ringan pada satu gerai khusus untuk para langganan, kemudian dalam waktu singkat dia mampu mengerjakan segalanya. Waktu luangnya banyak dihabiskan bersama ayahnya, dan dari sanalah dia mempelajari bisnis yang dijalankan oleh keluarganya.

 

Ketika Jǐn Yún memasuki masa remaja kecantikannya semakin bertambah. Dia memiliki wajah yang menyenangkan dan roman muka yang sempurna. Dia tidak pernah memakai kosmetik dan rambutnya dibiarkan panjang dan lurus. Sebagai gadis yang menarik dia banyak bergaul dengan kaum pria, baik dengan yang seumur atau yang lebih tua. Namun demikian dia tidak memiliki ketertarikan kepada mereka, dan dia pun tidak pernah punya pacar. Sekali waktu ketika Jǐn Yún berusia kurang lebih 17 tahun, seorang laki-laki muda keturunan Jepang yang tampan mengutus seorang mak comblang untuk menemui Tuan Wang. Keluarga lelaki itu minta agar Jǐn Yún mau menikah dengan pemuda itu. Tidak seperti ayah kebanyakan, Tuan Wang yang amat menyayangi puterinya, meminta pertimbangan dari anaknya. Jǐn Yún menolak lamaran pernikahan itu, dan dengan tegas berjanji, dia tidak akan pernah mau lagi menerima permohonan dari mak comblang mana pun.

 

Sesuatu kejadian yang luar biasa terjadi ketika Jǐn Yún berusia 15 tahun. Nyonya Wang agaknya sudah bertahun-tahun menderita sakit, dan puncaknya terjadi pada waktu itu. Dia terkena lambung akut parah. Jika dia mendapat serangan, bagian dalam perutnya seolah-olah dibakar oleh bara api. Penyakit itu pun semakin kritis dan semua orang berpikir, Nyonya Wang akan segera mati. Dokter menyarankan tindakan operasi, tetapi di tahun 1952 jarang ada pasien yang bisa selamat dari operasi perut. Nyonya Wang sudah mencoba berbagai pengobatan, dan dia sudah beberapa kali muntah darah. Jǐn Yún pun menunggui sang bunda siang dan malam, dan dia teringat banyak orang bersembahyang di Vihara Zi Yun. Mereka percaya jika orang berdoa dengan tulus dan tanpa pamrih, permohonannya akan dikabulkan.

 

Begitu sayang dan cintanya kepada ibundanya, Jǐn Yún akhirnya memohon kepada Sang Bodhisattva Avalokitesvara: "Asalkan Ibu dapat disembuhkan, umurku rela dikurangi 12 tahun, dan aku akan mulai menjalankan pola hidup vegetaris seumur hidup." Setelah beberapa lama, pada suatu malam Jǐn Yún bermimpi. Dia mendapati sebuah vihara kecil dengan tiga pintu, dan dia masuk ke dalamnya. Ada arca Buddha besar di tengah-tengah ruangan, dan di satu sisinya ada sebuah tempat tidur dari bambu. Terlihat Nyonya Wang terbaring di situ dan Jǐn Yún berlutut di sampingnya, menghadap ke sebuah kompor kayu dan memegang sebuah kipas. Gadis itu tahu isi panci yang sedang dimasak adalah obat-obatan herbal. Sekonyong-konyong angin lembut bertiup menguak pintu dan awan putih terbang rendah, laksana bunga yang turun dari surga. Di tengah awan muncul seorang wanita cantik yang pernah dilihatnya, serta dia membawa sebuah botol bersinar dan menuang ke luar sebuah bungkusan kecil. Setelah benda itu diserahkan kepada Jǐn Yún, wanita itu pun sirna. Masih di dalam mimpi, Jǐn Yún membuka bungkusan yang ternyata berisi serbuk obat, mencampurkannya dengan air, dan diminumkan kepada ibunya. Aneh!!  Tiga malam berturut-turut, Jǐn Yún mendapat mimpi yang sama. Setelah mendapatkan mimpi itu, Jǐn Yún terus merawat ibunya dengan ramuan herbal, dan secara berangsur-angsur penyakit ibunya pun lenyap. Para dokter yang merawatnya pun bingung mendapati pasien mereka sembuh secara misterius; dan Nyonya Wang tetap sehat lebih dari empat dekade kemudian. Sejak saat itu Jǐn Yún menepati sumpahnya dan dia menjadi seorang vegetarian sepanjang sisa usianya. Jǐn Yún hanya mengikuti suara hatinya, karena pada saat itu dia belum mengenal ajaran Buddha.

 

Perjalanan hidup manusia memang tidak selalu mulus. Tuan Wang yang selama ini sehat-sehat saja, tiba-tiba mendapat serangan jantung minor ketika Jǐn Yún hampir berusia 19 tahun. Dia sering merasakan dadanya nyeri dan napasnya pendek-pendek. Dokter keluarga yang merawatnya tidak memberikan peringatan tentang gawatnya kondisi sang pasien. Semakin lama kondisi kesehatannya semakin menurun, dan kurang lebih setahun kemudian dia mendapatkan serangan jantung untuk kedua kalinya. Saat itu Tuan Wang sedang berada di sebuah teater miliknya dan dia mengeluh kepalanya sakit sekali. Jǐn Yún pun segera memanggil dokter keluarga, yang langsung mendiagnosa tekanan darahnya ternyata tinggi sekali. Setelah disuntik obat, tekanan darahnya turun, dan dokter itu pergi tanpa memberi pesan apa pun. Jǐn Yún yang khawatir terhadap kondisi ayahnya segera membawanya pulang. Tindakan itu sebetulnya tidak diperbolehkan, dan membuat Tuan Wang tak sadarkan diri sesampainya di rumah. Keesokan harinya dia pun meninggal dunia.

 

Setelah mengetahui penyebab kematian ayahnya, Jǐn Yún berkata: "Semua ini kesalahanku. Jika aku tidak memindahkan Papa, dia akan tetap hidup. ... ." Lama setelah pemakaman ayahnya, Jǐn Yún mengurangi makan dan dia tidak bisa tidur. Tubuhnya tampak kurus dan wajahnya pucat pasi. Nyonya Wang yang khawatir berdiskusi dengan ibu kandungnya yang tinggal serumah. Nenek Jǐn Yún pun mengemukakan pendapat bahwa para bhiksu dan bhiksuni tua biasanya pandai dan bersedia membantu. Jadi mereka membawa Jǐn Yún untuk menemui seorang bhiksu di salah satu vihara setempat. Ketika dipertemukan sang bhiksu bertanya apa yang bisa ia bantu, dan Jǐn Yún bertanya, "tolong katakan, dimana roh ayah saya berada." Bhiksu itu bertanya kepada Nyonya Wang perihal nama almarhum dan laporan terinci tentang kematiannya. Jǐn Yún menambahkan apa yang telah dia lakukan dan perasaan bersalah yang menghantuinya. Setelah melakukan ritual menyalakan lilin, membakar dupa, dan bermeditasi sejenak, sang bhiksu pun membuka matanya dan berkata kepada Jǐn Yún. "Saya telah menemukan roh ayahmu yang malang. Dia menjadi tahanan di Wang Si Cheng, tempat yang menyedihkan." Jǐn Yún sangat kaget  dan perasaan bersalahnya berlipat ganda, dan kelak dibutuhkan waktu lama baginya untuk mengabaikan kata-kata bhiksu tersebut.

 

Beberapa waktu kemudian seorang bhiksu tua yang bernama Master Miao Guang (妙廣法師 atau Miào Guǎng Fǎ Shī) berkunjung ke Vihara Fengyuan, dan dia mulai mengajarkan Sutra Ksitigarbha. Jǐn Yún menemuinya dan kembali bertanya, "dimana roh ayah saya berada." Master memandangnya dengan ramah dan menasehatinya agar tidak terlalu memikirkan kata-kata yang mengganggu itu. Dia memberikan sebuah buku, "bacalah dan kamu akan memahami dimana roh ayahmu berada." Jǐn Yún buru-buru pulang dan mulai membaca. Ketika selesai, dia memahami bahwa semua makhluk hidup akan mati, serta selanjutnya akan dilahirkan-kembali.

 

Seorang teman baik Jǐn Yún prihatin melihat keadaan sahabatnya itu. Dia menasehati bahwa di Vihara Fengyuan ada seorang bhiksuni bijaksana yang berusia setengah baya. Kelak bhiksuni ini memainkan peranan penting dalam hidup Jǐn Yún. Dia sudah dipanggil "Suhu", yang dalam konteks kisah ini identik dengan guru yunior; sedangkan untuk guru senior dipanggil sebagai "Master". Tokoh ini seperti yang umum dalam kalangan monastik, dipanggil dengan nama-kuilnya, yakni Xiū Dào Fǎ Shī (修道法師, Siu Tō Hoat Su, Hokkian), selanjutnya disingkat Xiū Dào. Sejak awal bertemu Jǐn Yún sudah langsung menyukai gurunya ini, dan setelah menyelesaikan pekerjaan hariannya dia selalu menyempatkan diri berkunjung ke sana. Mereka berdua secara intens mempelajari ajaran agama Buddha.

 

Setelah berteman akrab dengan Suhu Xiū Dào, kesedihan Jǐn Yún atas kepergian ayahnya lama-kelamaan pun sirna, dan gagasan untuk menjadi seorang bhiksuni secara bertahap terbentuk di hati Jǐn Yún. Jǐn Yún pun kembali ke kehidupan normal dan dia menjadi sangat sibuk. Bangun pagi dia mengurus pekerjaan rumah tangga, kemudian membaca buku tentang ajaran Buddha, melafalkan "Namo Amitabha", dan bermeditasi. Selanjutnya Jǐn Yún pergi mengurus tujuh teaternya. Bisnis berjalan lancar dan beberapa waktu kemudian Jǐn Yún mengusulkan kepada ibunya, bahwa dia bermaksud menjual beberapa teater, dan ibunya setuju. Dari hasil penjualan dua teater keluarga Wang bisa mendepositokan uangnya, dan membeli emas batangan yang disimpan di tempat aman di rumahnya.

 

Setelah beberapa lama dia merasa yakin adik-adiknya bisa mengurus bisnis teater ayah mereka dengan baik, dan keluarga itu memiliki banyak uang. Wáng Jǐn Yún membulatkan tekadnya untuk menjadi bhiksuni dan berkarya melalui ajaran Buddha; satu cita-cita yang hanya dikerjakan oleh kaum pria di Tiongkok selama berabad-abad. Jǐn Yún terus mengunjungi Suhu Xiū Dào dan merengek agar bisa menjalani hidup sebagai seorang bhiksuni. Akhirnya Suhu tersentuh oleh keuletan dan kesungguhan Jǐn Yún, dan pada permulaan musim dingin tahun 1960 dia minggat dari rumahnya menuju ke Vihara Jing Xiu di Xizhi, kota kecil di pinggiran Taipei. Dia pergi dari rumah secara diam-diam karena ibunya pasti tidak mengizinkannya. Dua hari pertama dia berlatih mengikuti tradisi monastik di tempat itu dan merasa betah, namun di akhir hari ketiga Nyonya Wang datang untuk menjemput puterinya.

 

Bagaimana Nyonya Wang bisa tahu anaknya berada di sana? Jǐn Yún sendiri yang memberitahukan beberapa sahabat karibnya tentang tujuan kepergiannya, dan ada dari mereka yang membocorkannya. Hari pun berganti hari, dan Jǐn Yún tidak pernah melepaskan keinginannya menjadi seorang biarawati. Suatu hari di akhir musim gugur tahun 1961 bertepatan dengan panen raya di Vihara Fengyuan, secara mendadak Suhu Xiū Dào mengajaknya untuk pergi. Suhu sendiri bertujuan, kepergiannya untuk mengabdikan diri di vihara yang lain. Mereka pergi berdua saja dengan sembunyi-sembunyi, dan dengan menaiki kereta api keduanya terdampar di sebuah kuil yang terpencil di kota kecil Luye. Di sana mereka menghabiskan waktu hampir dua musim, dan hanya dengan persediaan bahan makanan yang terbatas keduanya bisa bertahan. Setelah itu mereka mengembara ke berbagai vihara, dan Jǐn Yún tidak pernah lama tinggal di satu tempat, karena aspirasinya tidak sejalan dengan kepala biara yang ditemuinya. Akhirnya pada Desember 1962 keduanya terdampar di Vihara Dong Jing di kota Hualien. Orang yang membangun vihara tersebut ternyata seorang bangsawan yang telah berumur, yang bernama 許聰敏 atau Xǔ Cōng Mǐn. Pak Xǔ adalah orang kaya, murah hati, dan seorang Buddhis yang soleh. Dia telah membiayai pembangunan sejumlah vihara dan akan membangun lebih banyak lagi. Keduanya bertemu dengan pak Xǔ dan mereka ternyata cocok.

 

Pak Xǔ mendengar bahwa mereka berdua sedang mencari sebuah vihara yang bisa dijadikan tempat tinggal. "Ada sebuah kuil kosong di Dusun Xiu Lin yang bernama Vihara Pǔ Míng (普明寺, Pǔ Míng Sì), yang artinya 'Yang Diliputi Cahaya', yang baru saja dibangun untuk kami persembahkan kepada Bodhisattva Ksitigarbha. Tidak ada ruangan untuk tinggal, tetapi kalian bisa melihatnya." Besoknya mereka tiba di depan Vihara Pǔ Míng. Setelah melihat sebuah vihara kecil dengan tiga pintu, Jǐn Yún berseru, "Saya tahu tempat ini! Saya pernah ke sini sebelumnya." "Mustahil, cucuku," pak Xǔ tertawa, "vihara ini masih baru dan belum lama ini diresmikan." Jǐn Yún bersikeras, "saya pernah berada di sini lebih dari satu kali! Saya tahu persis barang apa yang ada di dalamnya!" Sambil berdiri di depan vihara yang pintunya tertutup, dia mulai menggambarkan bagian dalamnya secara terinci. "Kamu sepenuhnya benar, tetapi bagaimana kamu bisa tahu?", tanya pak Xǔ. "Saya berada di sini saat saya baru berumur 15 tahun, dan tempat ini muncul dalam mimpi saya."

 

Selanjutnya di Vihara Pǔ Míng, Jǐn Yún dan Suhu Xiū Dào setiap hari mengajarkan Sutra kepada penduduk sekitar, dan malam harinya mereka menginap di rumah pak Xǔ yang besar itu. Keduanya secara tidak resmi sudah dianggap anak dan cucu oleh pak Xǔ. Kondisi kesehatan Suhu Xiū Dào semakin menurun dan dia sadar bahwa dia tidak bisa lagi berjuang bersama-sama dengan Jǐn Yún. Dia pun pulang ke Fengyuan dan menetap lagi di kuilnya yang dulu. Suhu Xiū Dào sendiri tetap berteman dengan Jǐn Yún dan beliau wafat pada 21 Maret 2016 dalam usia 95 tahun. Setelah kepergian teman seperjuangannya Jǐn Yún tetap tinggal di rumah pak Xǔ, karena dia belum ditahbiskan dan tidak pantas bagi seorang gadis tinggal sendirian. Ketika itu musim semi tahun 1963, Jǐn Yún menghadap pak Xǔ dengan wajah cerah, "akan ada upacara penahbisan di Vihara Lin Ji di Taipei. Saya akan pergi ke sana dan minta ditahbiskan. Setelah kembali ke Hualien saya akan resmi menjadi seorang bhiksuni." Pak Xǔ dengan mata berkaca-kaca berkata, "dan kamu akan meninggalkanku. Tetapi dimana kamu akan tinggal?" "Saya punya rencana," jawabnya sambil tersenyum. "Di belakang vihara ada sebidang tanah yang sangat kecil. Bisakah Anda membuatkan sebuah pondok yang sederhana? Karena kehidupan seorang bhiksuni haruslah sangat bersahaja." Pak Xǔ berjanji, "saya akan bicara dengan tukang hari ini dan mulai membangunnya besok."

 

Sesampainya di Vihara Lin Ji, dia harus menyimpan kekecewaannya, karena mereka tidak bisa menahbiskan orang yang tidak memiliki guru. Penahbisan bisa berlangsung jika orang itu menjadi samaneri dulu dan menjalankannya selama dua tahun di bawah bimbingan seorang guru. Tetapi Jǐn Yún tidak ingin pulang dengan tangan hampa. "Ada beberapa sutra yang tidak dapat saya peroleh di Hualien, tahukah Anda di mana saya dapat memperolehnya?" Bhiksuni itu lalu mengajaknya ke Vihara Hui Rui. Sesampainya di sana sang bhiksuni yang ringan tangan itu berkata, "sebelum membeli buku, kita sebaiknya memberi hormat kepada guru yang bertugas, Master Yìn Shùn." Master Yìn Shùn (印順, 5-Apr-1906 - 4-Jun-2005) adalah seorang guru besar berusia 57 tahun yang berasal dari Daratan Tiongkok, menjadi bhiksu selama puluhan tahun, dan meraih gelar doktor kehormatan dari sebuah universitas di Jepang. Mendengar bahwa Jǐn Yún datang dari Hualien, iseng-iseng beliau bertanya, "apakah kamu datang ke Taipei untuk ditahbiskan?” Jǐn Yún menjawab, "saya ingin, tetapi saya tidak punya guru." Sang bhiksuni yang sedari tadi menemaninya pun berkata bahwa gadis itu ingin diterima sebagai siswa Master Yìn Shùn. Master tertawa, "sepanjang hidupku aku hanya mengangkat 4 orang murid, dan sama sekali tidak bermaksud memiliki 5 murid." Jǐn Yún tidak berkata apa-apa namun terus memandangi Master dengan memohon. Master Yìn Shùn memalingkan muka dan hampir beranjak pergi. Kemudian, seolah-olah ditarik oleh tangan yang tak terlihat beliau berbalik. Memandangi Jǐn Yún sambil tersenyum, dia pun berkata, “sebuah suara yang kuat di hatiku berkata bahwa adalah jalinan jodohku untuk menjadi gurumu, dan jalinan jodohmu menjadi muridku." Mereka bertiga pun bergegas ke Vihara Lin Ji, karena waktu penahbisan hanya tinggal satu jam lagi. Akhirnya Master Yìn Shùn berkata: "Karena kamu sudah berlindung kepada Tiga Permata, maka saya harus memberimu sebuah nama Dharma." Beliau berhenti sebentar untuk berpikir. "Ah! ujar beliau setelah menemukan aksara yang tepat. "Nama Dharmamu adalah Zhèng Yán (證嚴)."

 

 

(Bersambung)

 

 

sdjn/dharmaprimapustaka/230222